Is Vietnam about to become Southeast Asia’s next economic giant — and what does that mean for Indonesia’s labour-intensive jobs? In Proxemics 005, the Full House crew — Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia, Adwi Yudiansyah and Sofyan Herbowo — deliver an unfiltered May recap.
They open with dispatches from Hanoi and Da Nang: ‘brutal’ traffic, a strong coffee culture, and a city that feels like ‘Jatinegara in the ’90s’ but is quietly climbing — a live contrast to Indonesia’s policy direction, right down to the odd observation that Hanoi has no visible homeless.
The heart of the episode is job-market anxiety. A viral job-fair video from President University becomes a lens on whether unemployment is a real crisis or something subtler — middle-class anxiety, skills that don’t match industry needs, and a shifting future of work that rewards a sense of ownership.
Then the debates sharpen: the rumoured Grab–Gojek merger and its risk of a 91% market monopoly; the ‘ormas’ problem and Indonesia’s tough business climate; Traveloka’s rumoured HQ move to Singapore; and the Rp 9.9 trillion Chromebook procurement scandal at Kemendikbud.
A lighter beat celebrates the record-breaking animated film Jumbo, whose word-of-mouth success sets a new bar for local creative work and proves audiences will show up for homegrown stories. A sharp, unfiltered listen for anyone tracking Indonesian business, regional competition, and the future of work. Worth the full watch.




YouTube is this exact episode; Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
[Musik] Hei. Hai. Gimana nih everybody? Welcome to another episode of Proxemix di mana kita ngobrol-ngobrol aja ya kan. Ketawa-kettiwi.
Eh about people. Enggak lah. Enggak sih enggak lah. Kita kita mencarikan solusi buat orang-orang our collective wisdom. Tapi kalaupun ngomongin orang itu ee tujuannya supaya konstruktif banget.
Selalu ya kan as it sounds selalu kita konstruktif komentarnya berbasis data dan fakta. Berbasis data. But let me introduce everybody in the room. Ada gua Mercy. Sebelah gua ada Sofan.
Di sebelah sana ada awi. Eh, kameranya yang mana gua ya? Asik. Coba lu tebak. Ayo ke kamera di sebelah sana ada step.
Right. Oke. Eh, ini e full house episode. Jadinya kita berusaha spend time at least 1 bulan sekali ini untuk talk things through e apa aja eh make comments on events yang terjadi selama bulan Mei kemarin. So, anybody wants to start?
Oke, recap aja L ya. Paling recap eh dari gua e biasalah ya kita agency live eh day to day activity-nya eh serving clients, help them communicate with stakeholders. Eh tapi on top of that kita juga have fun. Eh eh bulan lalu kita outing eh ke Vietnam. Eh kebetulan gua dua kali jadinya ke Vietnam.
Awal bulan gua ke Vietnam. Kris kalau bisa di zoom zoom zoom gua awal bulan enggak gini kita ee bisa siapin ee waktu untuk lihat klip lah nanti diedit lu mau apa, lu mau nunjukin apa, kita tampilin di sini. Jangan lupa tunjukin berenang di lu, lu coba coba lu sambil ngomong nanti videonya diputar C. Oke, oke. Boleh boleh lu voice over jadinya gimana?
Eh, jadi eh outing praksis eh eh Pracna and the Geng itu ke Hanoi. Hanoy. Heeh. Ke Hanoi. Eh eh serulah pasti ya.
Pastilah seru kalau ee kita yang outing ee hampir ketinggalan pesawat pas berangkatnya cuy. Pas berangkatnya STF karena satu dan lain hal. Tapi Stef lah yang yang yang benar-benar di pintunya pas sudah mau ditutup tuh dia tarik-tarikan sama. Last call, Saudara-saudara. Last call, ya.
Crazy call. Karena kita transit di Singapura. He eh ini ada alasan enggak sih kenapa Hanoy you guys involved in the discussion? Enggak, enggak. Kayaknya salah satu yang within the beberapa hal yang jadi dasar ketika milestinasikan tentunya selain budget jarak tempuh.
H karena walaupun walaupun kita outing kita tetap put needs at first. So we need to be able to be contact at least lah eh on certain period of time. Karena traveling time ke Hano kan gak terlalu jauh ya. Kalau direct pun cuma 4 seteng jam. Terus relatively new destination juga for tourist dan mungkin maybe half of the office enggak beraksana if not all.
Terus a lot of coffee drinker I think in the company. So very excited ke Vietnam. Was it good? Ya, coffee. Good, strong, punchy, cokolati.
Gila serius gua kan kopi deskriptif. Deskriptif banget enggak? Pada dasarnya tuh kan kopi tuh gua gua main kopi ini udah kayak 8 tahun lah. Main kopi, Guys. Yang naruh mesin kopi di kantor pertama kali itu kan gua.
Lu trail Blazer enggak sih? Ye. Jadi, gua agak-agak ngerti lah. Cuma ee kopi pada dasarnya dibagi dua lah, fruy sama ey. H.
Nah, Vietnam itu extreme ey. Oke. Jadi benar-benar apa strong apa coklat apa kuat itu gitulah. Tapi gua lihat di sana lu minum kopi luak juga. Kagan jauh-jauh.
Hampir. Enggak, enggak. Gua di toko kopi itu gua tanya ini kopi luak ya? Ini dari mana? Gue Indonesia terus ngapain gua jauh-jauh sih?
Tapi interestingly kopi luak itu di paling atas ya. Maksudnya kita kan enggak beberapa toko kopi yang jual topi kopi biji kopi dan di urutan harga di urutan popularitas tuh nomor satu for some reason dibandingin Vietnam kan banyak banget pilihan kopinya tapi yang pertama tuh kopi luak h jadi per 100 gam kalau enggak salah R00.000 dong kalau enggak salah ingat atau 400.000 dong ya. Somewhere around that number lah. As e pembanding yang lain berapa emang? Ada yang as low asp.000 dong.
Oke. Jadi bisa tiga kali empat kali lipatnya dan banyak banget ee satu toko kecil aja mungkin ada 20-an macam different beans. Oke. Gua bawa pulang sih yang e asli sana lah. Wizley, right?
Iya. Wasley sama satu lagi apalah itu. Eh, tapi sorum kita beralih ke topik lain, what do you think about Vietnam? Kan sekarang lagi gombar apa digembar-gembor tuh ada finvas lah di sini. Di sana ada juga kan sis berangkat dari sana terus apa situasinya katanya Vietnam lebih investor friendly lah apalah segala macam.
Eh nanti yang lain mungkin nambahin. Tapi my first thought itu kalau ingat Jatinegara tahun 90-an. Jatinegara Indones. Jatinegara master master ya. tahun '90.
Iya. Gua jalan-jalan di Han gua berasa begitu sih. tantin-tantin kayak semua brutal lu kayak kalau lu mau jalan ya gua bilang sama step kan kiri kanan lu harus jalan di mana arah mobil apa arus kendaraannya bisa kita lihat karena apa paling enggak kita bisa antisipasi kita tahu apa yang akan datang gitu misalnya terus dia agak terkejut di mana gua nyebrang terus dia teriak-teriak enggak gini ini lu jangan menunjukkan sifat asli lu gituak first apa ya rule nomor satu ketika bert traffic di Vietnam eh di Hano ya specifically ya itu harus kecepatannya konstan. Jangan accelerate, jangan diselerate. Iya.
Jadi lu harus konstan ketika lu nyebrang jalan, lu konstan. Kalau peduli setan itu tin pokoknya lu konstan aja. Ketika lu accelerate ah lu berpotensi tabrak diselerate juga begitu. Makanya lu harus jalan lurus. Lu harus very lu harus keep your composure.
Lu tahu lu ma tabrak lu jalan aja. Iya. Jadinya lu memberikan kepercayaan kepada si pemotor itu untuk bisa ngerem untuk enggak nabrak lu lah. Atak. Karena gua ingat gua pernah di pernah diremind sama rekan kerja orang Vietnam pada saat dulu gua masih megang Asia Tenggara untuk dia bilang kan gua dulu gua sering kochimin.
Dia bilang, "You need to be very careful when you cross the street. Do not stop. What do you mean do not stop? Just walk through. Karena kalau lu ngerem, lu membahayakan pengendara motor.
Heeh. Jadi lu nyebrang, lu jalan aja, pokoknya dia menghindar dari lu udah pasti dibandingkan lu ngerem. Itulah prinsip gua kemarin di Hanoi. Iya. Iya.
Itu nyebrang aja pokoknya. Tapi agak brutal sih itu satu. E ini nih intinya it's very counterintuitive ya. Right. Lu insting lu berhenti atau you know.
Tapi ini lu dipaksa untuk melawan intuisi lu jalan terus gitu walaupun lu tahu lu jalan terus. Mempercayakan nyawa lu ke orang lain. Random orang red light whatever light doesn't matter. Ada sih meter cuma very little lah. Iya iya ya.
Maksudnya don't put your hopes into the traffic light. I kira-kira gitulah. Oke. Tapi eh yang lain Vietnam gua ya setuju dengan observasi Sofan. Soan persis tuh akurat ya.
Observasi akurat. Akurat. Maksudnya dalam 1 bulan itu gua ke dua kota ya kan. Danang itu di timur. He.
Ee dan Hanoi itu di utara. Hm. sama aja ee walaupun Danang Danang itu kota pesisir ee ee bayangkan Bali gitu sepanjang sepanjang jalan itu ada pantainya coastal. Heeh. Nah, tapi memang lebih bersih sih harus diakui ee pantainya lebih bersih, lebih teratur.
Yang membedakan cuman ee pengguna jalan aja, pemotor ee bahkan yang naik mobil ya. Eh, Bali masih lebih ramah gua rasa pengguna motor dan mobilnya. Walaupun ada bule-bule yang sembarangan ee nyetir motor ya, tapi ini ee brutal sih. Memang brutal. Tapi seru sih fan gua sih.
Ee khususnya Danang ya, gua pengin lagi sih ke sana. Ee Hanoi. Hanoi biasalah ya karena kita ee menginap ee di daerah ee kota tua. Iya. Eh, jadi mungkin kata seperti kata Sofyan tadi ee mengingatkan dia pada jatinara.
Wis gila waktu itu dia 97 dia iya dia lari-lari enggak pakai celana. Untung dia enggak kayak gitu kemarin ya. Eh, tahun 90 gua udah SMA C. Tapi, tapi I I agree with observation from you guys. Lebih ke potensinya Vietnam sih.
Karena gua pertama kali gua ke Vietnam tuh ke Hochimin itu juga sama. Gua merasa gua di transported back to Jakarta 80 90-an lah. Gua masih kecil gitu. the vibe and the feels kayak begitu. Jadi ekspektasi gua terhadap Hano itu mirip lah.
Tapi ternyata walaupun Hano itu ibu kota negara, tapi for some reason mungkin karakter di old quarter jadi the vibe and feel tuh benar-benar jadul. Hm. Tapi one thing to note adalah kotanya tuh sangat-sangat driving. Jam 11.00 malam orang makan, orang duduk pinggir jalan nongkrong-nongkrong. Itu hal-hal yang gua udah enggak pernah lihat even di Bali, even di Jogja.
So, potensi mengaitkan dengan em investor friendly dan lain-lain itu nunjukin bahwa kemampuan mereka untuk spending, untuk em apa namanya? Berinteraksi sama yang lain tuh lebih lebih tinggi lah dari dari Jakarta ya setidaknya yang kota-kota besar yang gua lihat di Indonesia. Jadi in five years gua enggak tahu sih apakah kita bakal ketinggalan dari Vietnam atau enggak. Iya. Eh, itu dulu sama hal yang gua lihat antara KL sama Jakarta.
Back in the 90s. Justru lu ngelihat KL tuh oh my god like they're living in the 70s 80s gitu. Tapi itu pentingnya policy, regulations, arahan dari pemerintah, vision, right? Yang ditentukan pada saat itu, itu beneran mengubah the trajectory of the country, gitu. Ngerti enggak loh?
Tiba-tiba gua balik lagi 20 tahun kemudian, hah, udah kayak gini. Sedangkan Jakarta masih gitu-gitu aja, you know. Ah, itu tuh kayak sekarang let's say mereka masih tertinggal, tapi kalau mereka mengambil policy-polisy, arahan-arahan yang tepat, ya let's see aja lah 5 tahun lagi, 10 tahun lagi. One thing to note very quick. Gua enggak ketemu homeless people sih.
Kotanya kotor, banyak sampah. He. Tapi gua enggak gua enggak ran into homeless people at all. I bentar ini ada e producer kita. Can you bring chair dari situ?
Jadi lu bisa duduk sini? Ya, itu yang gua rasa lumayan inilah untuk kota besar terus juga daerah turis yang typically let's just say San Francisco ya. Lu certain area lu bakal ketemu homeless people yang banyak banget gitu dan itu kota negara maju. Hle. Tapi is there like a fascination lu sama homeless people?
No no no. It's more like it shows how your government take care of your people lah. Like ya kan like gua gak tahu pemda kah atau orang government apa namanya eh pemerintah pusat. Tapi it shows that lu ngejagain masyarakat lu sampai enggak ada homeless man. Ditangkep-tangkepin kali.
Ditangkep-tangkepin dikarungin. Masuk juga ya. ambilin nginjalnya lu. Jual-jual kayak cuy. Pantasi enggak bener orang-orangnya.
Oke. Enggak, enggak, enggak, enggak. Itu agak itu sih. Lu lihat kucing enggak di Vietnam? Anjing atau anjing?
Anjing ada sih. Itu piaran orang lah. Maksudnya I piaran orang. Kucing liar something yang liar gitu. Enggak tahu enggak aku tanya supirnya kenapa ditangkap-tangkapin dimakan cuy yang bener loh?
Ditangkap terus dimakan kucing anjing. Kucing dan anjing. Orang enggak dong. Maksud lu orang bisa jadi dikarungin bisa jadi gitu kan. Tapi ojok side mungkin juga sih karena lu kan punya optics untuk dijaga ya kan.
Mungkin juga tapi anyway itu kayak gua merasa eh lucu juga ya. Hm. Ya ya ya menarik menarik menarik. Oke, anyway kita topik yang kemarin gua lihat bersikulasi di sosial media itu Jab Fair yang ada di President University or something I kan presiden gila itu ribuan orang I mean eh jobless angka pengangguran itu katanya 5% tapi maybe it's more extreme di daerah-daerah tertentu ya kayak kemarin itu di Jabo Detabek kali ya at least yang apply nyari kerja di kesempatan itu tuh kayak I've never seen anything like that before gitu. Ini menurut lo any take on what's going on with this joblessness?
What contributes to it? Anything lah. Eh kalau dari sisi gua ya, gua itu ee oh mohon maaf sebelumnya gua enggak bisa menampung terlalu banyak tenaga kerja. Lu berasa menteri tenaga kerja sih dia. SDM dia SDM.
Enggak, enggak, enggak. Gua, gua ee ee ee ini yang membuat gua agak bingung nih ya. Kemarin gua ngebahas sama Airin. Airin, halo Airin. Ini ada Airin.
Heeh. Kemarin kita lagi diskusi tentang middle class anxiety. Hm. Ee kegelisahan kelas menengah. ee karena justru ee ee yang banyak kehilangan pekerjaan belakangan ini katanya kelas menengah juga kena gitu.
Ee ee ee banyak kelas menengah ini kan unik ya, mereka tuh terjepit di situasi di mana mereka enggak mau jatuh ke bawah garis kemiskinan, tapi ee kalau melihat ke sosial media yang di atas mereka tuh terlalu jauh. ya kan ee ee biasanya kan orang scrolling-srolling jalan-jalan ke sini, makan di sini segala macam. Nah, ee ee gua ngelihat ada ada kaitannya ee Jab Fair itu ee yang gua tangkap bukan cuman orang-orang yang kehilangan pekerjaan atau enggak punya pekerjaan sama sekali, tapi ada juga yang pengin pindah kerja, upgrade, upgrade. Nah, ini ini yang yang yang bagian dari ee e middle class anxiety itu gua ngelihatnya dari sudut pandang itu loh ee bahwa belum tentu ee jumlah ya jumlah lapangan pekerjaan memang sangat-sangat terbatas pasti cuman belum tentu semuanya jobbless. Iya.
Ada juga yang yang pengin pengin ee mencari kesempatan baru aja ya. Ini nih just to sebenarnya angkanya sih enggak jauh-jauh banget ya. Right. if I'm not mistaken ada peningkatan tapi mincule gitu dari year on year ya jadinya enggak itu tapi nah makanya tadi gua kasih eh qualifier apakah di specific area yang terimpact banyak jadinya kelihatannya shocking gitu instead of di seluruh Indonesia you know I'm saying that's one thing right terus berikutnya terkait yang tadi awi udah brought up mungkin gua juga nambahin terkait optics ya maksudnya angkanya juga enggak terlalu tinggi memang kan tapi kalau dibilang exposure to that situation Maybe in three years ago. Enggak kayak gitu juga karena belum banyak tuh orang-orang yang intentionally take that video making news out of it.
Karena dari dulu ngyari pekerjaan ketika jover ya akan selalu ramai akan selalu banyak gitu maksudnya mau antara dia cari pekerjaan baru atau memang orang yang mencari pekerjaan. Tapi at this optics or angle terkait jumlah pengangguran meningkat. All of this information tuh kayaknya dulu tuh tidak dipakai serelevan hari ini gitu. H ya itu salah satu gua ngelihatnya juga sih maksudnya of course there a lot of people yang impacted by the macroeconomic. Yes.
But at the same time apakah itu menggambarkan the entire Indonesia society? Ya not necessarily sih. Hm. Lu ada gue ya? Alah.
Jadi gini, 5% ya katanya tertinggi di Asia Tenggara ya. Nomor tiga di Asia lah. Yes. Mm. Lu tahu enggak kalau job plus itu tinggi banget itu indikatornya apa?
Apa? Rusuh cuy. Oh iya ya. Udah enggak punya makan gitu after depresi itu setelah perang dunia pertama itu tingkat pengangguran tinggi banget atas 10%. Wah, itu orang masuk S rusuh sana sini semua kota enggak ter itu yang mendeskripsikan enggak adanya pekerjaan.
H. Terus yang kedua enggak maksudnya situasi ini analisa goblok-goblokan lah kira-kira gitulah. Tapi the logical steps-nya tuh pas ini lewat dari dari certain trold ya itu bisa next stepnya gitu. Bis. Oke.
Tip of the iceberg-nya itulah. Iya. Iya. Bukan kemudian kita anggap ini enteng. Enggak juga.
Kalau gua lihat persoalan pengangguran tuh kan aspeknya ini analisa gubluk-gublukan ya. Ee lu tahu enggak sih angka pendidikan kita, tingkat pendidikan kita kayak mana proporsinya? 30% SMA yang lulus S1 cuma 10%. Itu pun mix and matching kita ngalamin kan maksudnya IPK tinggi gini pas diinterview kok kayak enggak ngerti apa yang mereka pelajarin itu itu terjadi. Mm dan waktu itu gua ingat banget di kuliah susah banget IPK susah banget naikinnya.
sekarang kok kayak gampang satu. Terus berikutnya ada mixed match ya artinya ya. Terus juga ada beberapa diskusi di beberapa project yang kita handle. Kita nemukan bahwa misalnya ada problem struktur. Problem strukturnya tuh gini ee karena tadi tingkat pendidikan rasionya agak aneh ya enggak ideal.
Terus tiba-tiba kita mau bicara digitalisasi, kita mau bicara teknik enggak nyambunglah. Maksudnya SDM-nya aja enggak mumpuni gitu. Terus siapa yang nampung pekerja lulusan SMP, SMA-nya itu selama ini yang sekarang lagi ramai itu kan soal industri tekstil tutup semua cuy. Hedang sedangkan ituak salah satu industri koreksi koreksi bukan semua sebagian besar karena tertekan misalnya produk impor itu sudah clear ya kita sudah sepakat ya soal itu maksudnya tahulah itu faktual lah maksudnya beli di Shopee kan rada-rada gila celana dalam harga Rp5.000 celana panjang harga Rp30.000 itu kan enggak masuk akal gitu. Tapi berarti selama ini berarti lu pakai celana dalam R5.000ak Enggak, gua pakai R juta.
Xiaomi anjir. Jangan segitunya lah. Sok. Tapi berarti sebenarnya bisa dibilang, bukan bisa dibilang sih, salah satunya karena ketergantungan pada satu jenis industri tadi. Enggak, enggak.
banyak cuma kan karena sebagian besar tutup yang selama ini mereka tuh jadi buffer artinya menampung pekerjaan pekerja-pekerja berpendidikan e menengah menengah ke bawah itu sampai Indonesia bisa bertransisi ke industri yang lebih hightech lah, advance lah yang berdasar sumber manusia. Nah, kalau soal middle class itu ya jelaslah kita ini ya bangun praksis ya industri ini ya kita ngadapi disrupsi berapa sih 3 4 5 tahun sekali gila dari media cetak ke online ke media sosial terus ke AI ya semua industri akan ngalami itu termasuk mid class-nya mid manajemen mid level-nya juga akan ter apa ee terpengimas lah pasti cuma tinggal kita sebagai bangsa nih mau adaptif atau enggak gua sih itu aja ya iya kalau kalau dari gua itu it's about man kalau lu masih ada pekerjaan sekarang, take care of it, right? L lu kerjakan pekerjaan lu dengan baik, do eh do it with pride. Kadang-kadang gitu ya orang Indonesia maksudnya gua pernah udah terlalu sering lah gua melihat di mana orang-orang kerja tuh kayak kayak lu enggak ngerti eh what's going on gitu. Bahwa your actions itu literally bisa lead to the closure of your business.
itu tuh orang Indonesia itu masih sangat i kayak antara enggak ada sense of ownership sama sekali. I iya mungkin itu juga level education maybe. Tapi ya now that we are here menurut gua itulah kita-kita konsultant lu punya client account we have to take care of it. Iya sebaik-baiknya. Heeh sebik kemarin gua juga sempat ngobrol sama Mona, shoutout to Mona di BS sama barusan sama Iqes gitu.
Even globally, originally itu emang udah ada arahan-arahan yang memang gimana apa namanya mengencangkan ikat pinggang gitu. So, we expect to see eh dinamika, eh gejolak, movement, whatever it should be expected dan eh lu jangan kaget-kaget. Kemarin kita juga WIP, one of the things yang gua bilang, the impact of this, you know, economic whatever lah ya. Gua gak mau ngomong slow down, tapi whatever call it semakin dekat, cuy. Yang tadinya lu cuman lihat di sosial media, tiba-tiba saudara lu, tiba-tiba teman lo.
Exactly. Ini udah mulai masuk ke e your own circles gitu. Jadinya lebih real lagi the situations dan I ya kita lihat aja nanti temp optimis aja lah. Kalau menurut pasti gua ya maksudnya enggak enggak. Dan balik lagi ini kalau menurut gua semua lapisan kena akhirnya bahkan yang atas pun e over education under employment terjadi juga saat ini.
So, so ya gua cuman mau menegaskan poin Mercy aja tadi apa yang lu punya you need to understand that you need to make sure everything that you do tuh udah at the very best gitu. Iya. Heh. He. Half bak.
Eh, you know. Ya udahlah minimum capek ini itu. Tapi theation bahwa the reality itu tuh it's a lot harsher lah intinya gitu kan. Dan be more appreciative towards thing that you have apalagi pekerjaan. And if you don't love what you do ya susah juga ya.
If you don't give all I la sampai the way we spend juga itu udah eh terbiasa dengan eh good economy eh pertumbuhan apa dan sebagainya. Jadinya itu juga kemarin e topic of discussions itu ya walaupun situasinya enggak sama, the way we spend masih sama which is dangerous lah for for certain group of people ya. Nah, itu juga one of the things yang mungkin bisa problematic moving forward. But lagi-lagi seperti yang gua bilang kemarin di internally, bukan berarti kita enggak optimistic. With that being said, sebenarnya kita we have several team members baru termasuk yang ada di sebelah gua, producer Irin.
Asik yang baru bergabung. Eh, but ya e walaupun situasinya kayak gitu, we're hopeful we continuing to expand, getting more people on board and serve, you know, more client. Inilah eh better. ya. Oke, e lanjut ke berikutnya itu berita tentang Grab Grabs Gojek.
Di mana Grab mau mengambil Gojek nih? Ini take on this enggak akan sih kalau gua sih. Iya harusnya around the table nih kita harusnya sepakat lah. Eh, kalau dari gua gua gua mulai gantian ya. He man, ini like a disaster.
waiting to happen aja sih menurut gue ya kalau dibolehkan, right? I don't know if it's gna be allowed. Tapi intinya services yang selama ini tuh selama at least the past decade ya udah semakin eh intertwine dengan gaya hidup kita ya. the way we order food, eh get to places, get eh medicine, whatever lah. Lu udah sampai segitunya tiba-tiba sekarang mau ada eh merger or acquisition jadinya udah enggak ada almost enggak ada kompetisi gitu.
Pas lu enggak ada kompetisi ini kan connection-nya juga sama yang demo-demo itu kan. Lu lu bayangin demo ini sekarang at least ada dua gitu. Jadinya kalau satu ngikut lu bisa ke kiri atau ke kanan gitu. Kalau misalnya nanti sudah tinggal satu, yo ini lu, lu enggak ada suka-suka men monopoli. Iya, maksudnya ee dominasi pasar kan pada akhirnya ee ee kalau misalnya Grabs itu mengakuisisi ee Gojek itu mereka akan punya 85% lebih kurang pasar Asia Tenggara, 91% pasar Indonesia, cuy.
Gua rasa sih Komisi Persaingan Usaha. Iya. KPPU, Komisi Pengawas Persaingan Usaha enggak bakal mau izin sih 91% itu iya monopoli udah fix monopoli. Ini bisa one of the things yang beneran eh gua gua enggak ngelihat langsung sih, tapi at least masih dekat lah gitu. Itu pas Walmart mulai expanding di Amerika gitu kan.
Jadinya mereka selalu enggak through merger acquisition, tapi dampaknya nanti mirip. Lu masuk harga lu serendah-rendahnya, cuy. Modal paling gede. Benar. It undercuts the businesses, local businesses.
Yang sebelumnya itu mati semua. Pas sudah mati semua, lu tinggal sendiri, lu naikin harganya. E lu enggak enggak bisa ngapain, cuy. Lu lu makan itu harus opion. Lu enggak punya opsi lain karena monopoli itu.
Heh. Sampai datang Amazon baru perang lagi. Hii. Ya, buat kita. Tapi of course lu senang.
I kan iya itu manfaat dampak positif dari persaingan kan. Lu dapat harga yang terbaik, right? Dapat services yang terbaik. Tapi without those competition there is no innovation man. Misalnya why would you innovate?
For what? Lu udah dapat semuanya you know enggak enggak ada reason gitu untuk improve. And that's the most dangerous thing lah dalam at least eh pasar terbuka ekonomi yang kita mengerti ini enggak ada yang setuju nih. Gua enggak setujuak enggak lah. Dan dan gua enggak ada hubungannya dengan nasionalis.
Okelah kalau gua it's too big to fail juga sebenarnya maksudnya Gojek has been like a Indonesia unicorn deat whatever faces for for a while sama itu nasionalistik tuh kalau apa if you looking from that from that angle semua tapi at the same time as a customer lu kalau lu cuma satu ya lu gak ada pilihan kalau tiba-tiba Grab one 1 kmnya dikasih R.000 Ibu gitu. You like it you take it. Lu naik Maksim atau lu jalan kaki lah. Oh iya gua sih bisa. Oh enggak balik lagi cuy.
Ada Gojek-Gojek. Ada ojek ojek bukan Gojek. Tapi belum lagi pack on the drivers ya. Makudnya kita ngomongin perkaitannya sama e apa namanya? lapangan pekerjaan juga itu kan the number of people who will be affected by that juga pasti ada reduced drivers meaning that people lost their jobs it's just a domino effect aja sih nah ini nih tapi gua enggak tahu if I'm contradicting myself or not tapi ini beda nih gua kalau stens-nya gini gua enggak ngerti kenapa lu maksudnya government gitu ya kenapa mesti bisa masuk ke situ gitu itu urusan perusahaan maksud gua gini nih tarif, bonus, whatever itu menurut gua itu urusannya dia hubungannya perusahaan dengan driver.
Maksud gua gini, logically di di the other industries lu enggak suka ya lu keluar ya lu jangan ngojek lu inilah ee operator judi online misalnya ke Kamboja, Kamboja diculik ya kan. I'm kidding obviously. Tapi eh in everywhere lu enggak suka sama pekerjaan lu, lu move, man. Lu enggak suka dengan industrinya, lu movement, man. Lah ini lu harus mengubah industrinya untuk air to liking gitu.
Gua kayak ya, it's another thing yang menurut gua eh buat businesses, what lu bisa digituin di Indonesia, man. Eh, gua ya iya maksudnya maybe it's too extreme, tapi ada komponen itu yang gua tunggu dulu lu sebagai lu ya kalau lu enggak mau lu kerja yang lain lah. Lu kerja di kantor pos whatever man lu mau ngurir JNE whatever you pick lah. Tapi lu enggak mungkin eh jadi wah elah sampai pemerintah campur tangan ini itu demo ya. It's just menunjukkan berapa unik Indonesia kali ya.
At least itulah takeaway-nya. It's very unique take away-nya. Yang pentingnya itu kalau misalnya mau mencari peluang pekerjaan ke Kamboja silakan hubungi hubungi. Ada Kris the producer. Dia kebetulan ada beberapa dia multievel marketingnya.
Iya iya Kris nih diam-diam dia ini penyalur penyalur makelar. Makelar makelar judulaga kerja penadnya ada di sana. Dia sudah kena kalau butuh organ tubuh juga susah. Heeh. ya kan mau partisipasi dalam research-research berbahaya, vaksin-vaksin baru, vaksin baru bisa banget tuh.
Ada tuh bayarannya gede. Enggak, enggak, gua mau jelasin dulu soal Mercy ini kan memang lulusan Amrik ya, jadi liberal bangetlah kapitalismenya. Kapitalisme klasik gitu. Klasik ya klasik. Tramom tramnom dia enggaklah enggak jelas.
Jadi gimana kalau misalnya negara enggak ikut campur, kalau bisnis e problem kapitalisme itu kan overproduksi, eksploitatif segala macam. itu terjadi zaman industri apa industrialisasi di Inggris tuh revolusi industri itu anak kecil kerja time working hour enggak jelas apa itu kan karena enggak ada pemerintah enggak ikut campuran nah waker stat bahasa itunya negara penjaga malam itu bahasa Mandarinnya ya iya bahasa Mandarinnya gitu nak wakerstat nah makanya pemerintah harus itu lindungi yang enggak punya kemampuan untuk negotiate sama pemilik modal kan jadi gimana cara ngelawannya ya udah bikin serikat pekerja kerja diakomodir gitu. Ini problem nanti enggak gua akan cerita sesuatu yang secara tab MPR-nya enggak boleh diceritain. Jadi mending kita enggak usah sampai ke sana. Jadi kira-kira itu perspektifnya agak kiri.
E dan cuma, nah ini dia nih. Cuma gua ada sepakatnya sama lu. Kadang memang tuntutan-tuntutannya itu sepihak gitu. Heeh. Enggak apa to the point kalau lu paksakan itu, oh enggak usah bisnis sekalian.
Ngerti enggak lu? Nah, jangan sampai ke situ ya. Sama dengan ee ya serikat buru apa dan sebagainya gitu ya. Pada saat lu nuntut hal-hal yang udah night and day, terang-terangan, jauh lebih menguntungkan, gua naruh uang di Vietnam, what happens? Lu enggak dapat kerjaan juga.
Dan yang paling jahatnya itu kan lu kalau misalnya ketua-ketua serikatnya enggak kerja ya, yang cuman ngemeng-ngemeng doang, tiba-tiba 2000 orang layof, pabriknya tutup, lu, lu ngasih kerjaan? Kaget, cuy. Iya, iya. I itu yang kayak gitu-gitunya menurut gua iya balance lah at least i at least balance antara kepentingan bisnisnya toh kan butuh ekonomi, butuh kapital untuk perputaran ekonomi segala macam ya serikat pekerjanya juga harus paham kondisi perusahaan gitu. Tapi serikat pekerja juga bisa bertransformasi He.
Menjadi ormas. Asik. Jadi lebih sekarang banyak ormas. Jadi jadi lebih legit ya kalau ormas gitu ya. Aduh.
Iya. Kemarin juga ada yang ormas-ormas itu ya. He. Yang di Cilegon ya. Aduh.
Banyak itu bukan ormas cuy. Kadin. Eh, sorin cuy. Gua sampai salah. Gila lu asosiasinya kan ormasanya Kadim cuy.
Enggak enggak udah oknub katanya itu disanksi sudah yang pabrik ya. Dia minta yang minta proyek tanpa tender gila. Wah, luar biasa. Iya. sevulgar itu maksudnya man semakin memperburuk image dan banyak juga kan ini isu yang mencuat gitu ee beberapa waktu terakhir termasuk yang itulah e buka pabrik lu harus bayar iuran sama ormas ya ya itu gua rasa perlu diadress lah men lu dari level pabrik sampai toko kelontong kali ya semuanya kena palek jadi kanak lu enggak lucu aja sebagai perusahaan perusahaan ketika lu mau berinvestasi itu kan jadi lu enggak bisa hitung gitu seberapa yang harus gua spendin The end of the day dengan gua buka perusahaan buka pabrik di Indonesia karena ada accidental charge gitu yang iya yang kayak konstan you know apa coba accident eh accidental yang konstan kan lu bingung ini dari kantong mana gitu ngeluarinnya just the PNL right every year lu PNL every quarter tapi selalu ada hal-hal yang lu enggak bisa anticipate karena hal-hal kayak begini jadi dari segi bisnis of course doesn't make a lot of sense.
Oke. Tapi dengan banyaknya kejadian-kejadian ini justru bisa dianticipate. Jadinya gua rekomen ke perusahaan-perusahaan yang mau invest ke Indonesia ee ee penting untuk menyiapkan dana untuk ormas. Kenapa? He ya daripada jadi kos enggak juga enggak gila lu ngomong gila enggak ada ada perusahaan-perusahaan juga yang memang secara eh rules and regulations di kampungnya mereka sana enggak boleh cuy take part of those stuff jadinya boleh nah nah ini nih menurut gua pada akhirnya ada peluang buat negara-negara atau perusahaan-perusahaan dari negara-negara yang enggak peduli tentang itu dibanding negara-negara yang peduli tentang itu.
H h. Oh, enggak ada aturannya. Eh, ada ininya, ada apa namanya? Bribery, ada ini, ada mesti bayar ini. Oke, lakukan aja.
Sedangkan ada perusahaan-perusahaan yang legit yang mungkin lebih baik, mereka enggak bisa melakukan itu. Jadinya enggak bisa bermain di Indonesia atau kalah bersaing di Indonesia. Kalah bersaing di Indonesia itu kita ngalamin lah beberapa klien yang kayak gitu-gituah yang mainnya rusuh, enggak pakai aturan. Di pusatnya juga they don't care, you know. Bisa ada gitu-gitunya.
Heeh. Itu itu banyaklah. Oke. Yang kita ini. Terus apa lagi nih kita cerita sekarang?
Ee intinya gua mau kasih pesan dulu buat Indonesia. Coba Indonesia lu perlu PR yang baik, Men, di luar sana. Karena kayaknya image sama eh messaging whatever yang tampil di dunia luar sana, I don't think it's the best right now. I eh persepsi Indonesia di luar sana, I don't know. But if I were to guess, if I were a betting man, go bet pasti enggak bagus, right?
Eh apalagi sekarang dengan zaman social media where everything bisa nyebar segampang itu ya. orang buat for people to see ya gimana kita mau berkompetisi sama ya tadilah misalnya Vietnam gitu dengan yang ya lebih lebih tertib lebih ini ya kemarin juga kemarin gua sempat meeting sama orang Malaysia gitu h apa teman senegara lu lah Sofan i kan last Monday right mas Monday eh Friday Friday or Monday lupa gua Friday Friday morning gitu gua ketemu sama orang Malaysia ya kan ya the same Maksudnya di Malaysia ini juga walaupun enggak separah Indonesia, tapi ada arah-arah di mana lu lu terlalu gimana ya, linion apa enggak terlalu ya. Pokoknya lu ujung-ujungnya lu ketinggalan lah sama negara-negara seperti Vietnam yang mungkin lebih hardwing aja, cuy. Intinya ini kayak liburnya banyak, dikit-dikit libur ini enggak boleh, itu enggak boleh. Oh, ya udahlah gua enggak usah usaha di sini.
Gimana enggak ada yang mau kerja. To be fair, Vietnam not entirely begitu juga sih in the sense of manusianya ya maksudnya ngomongin bribery lain lain itu sebenarnya mereka juga miriplah sama kita. Hm. Konteksnya tuh ya kadang-kadang bahkan untuk datang ke acara untuk bikin berita itu pun mereka menerima gitu. Dan it's a it's a apa namanya?
Culture. Iya. Justru perusahaan yang enggak bisa melakukan itu ya di sana juga jadi malah enggak ditulis tentang PR media ngundang di sana. Dan itu kan reflex juga kan on their resources on their human resources gitu loh. Jadi in terms of regulation, in terms of bribery begitu-begitu ya Vietnam sama sama juga sama kita.
Dia falsy fallacy ya. Oke, maafkan gitu. Ah, jelasin Jatinegarau. Sama-sama juga begitu-begitu juga. Karena gua enggak pernah ke sana jadinya gua gua persepsinya berbeda enggak?
Udahlah bangga Indonesia ya. Gini gini gini. Kenapa Vietnam lebih itu? Karena peraturannya itu konsisten dari tahun 90-an sampai sekarang dia enggak banyak perubahan. Indonesia tiap 5 tahun, 10 tahun itu ada berapa perubahan.
He cuma itu sebetulnya adalah untuk melindungi kepentingan. Pertama kita marketnya gede, terus yang kedua kita punya resources gede banget. Tung dulu ulang. Pertama untuk melindungi siapa? Kepentingan siapa?
Market Indonesia. Ya, okelah buat podcast ini bolehlah jawabannya itu. Ormas, ormas. Ormas lagi. Ormas itu tapi bodoknya sama juga sih orang Vietnam sebenarnya.
Coba mungkin secara umum ituak tapi gimana ya kayak lu ya diarahkannya walaupun lu bodoh-bodoh tapi eh lu kayak gini ya gitu. Kalau di sini tuh eh rusuh gitu. Tapi mungkin itu nilai added value dari komunisme ya. Enggak tahu gua. Pasti pasti cuy.
Lu kerja lah. Iya kan. Dan mindsetnya tuh beda. Mindsetnya beda. Kalau kayak kekeluargaannya tuh lebih luas gitu.
Lebih lebar cuy. Lu lu kayak lu enggak kerja. Bodok, bodok aja sih. Kalau bodok, bodok aja. Enggak, enggak, enggak.
Tapi one thing yang gua ngobrol sama lu off offline lah terkait kalau lu ke Anoy lu tinggal di Jakarta, at least Jakarta-Jarta yang ini ya, eh center ya, bukan outcore of Jakarta, you feel like Jakarta nih better ya walaupun lu faly ya, lu make one conclusion based on just one fact. Tapi dan lu merasa Jakarta kayaknya lebih maju deh dari Vietnam dari kalau lu ngelihat that point momen itu, detik itu. Iya. Kalau lu ngambil foto tuh di situ doang. I Jakarta seems to be a bit more advance ya kan terlihat lebih modern lebih kota besar ibu kota dan lain-lain.
Tapi at the same time ketika lu menelusuri faktor-faktor kita bahas tadi ya we see tapi gini ya pada akhirnya lu naruh uang gitu satu lu ngelihat masa lalu. Du lu ngelihat masa depan right pada akhirnya i masa depannya ini arahannya ke mana. Itu yang mereka beli lah ya kan. Ee uang-uang orang berinvestasi. Tunggu dulu.
Iya. Masa lalu lu kayak gini, tapi masa depan lu kayak gimana? Dari decisions yang dibuat hari ini, itulah yang menentukan masa depannya. Ya. Ya, itu aja gua ngomong cukup sampai situ ya.
Gua enggak tahu apa yang membedakan di Indonesia sama di sana, tapi for now jauh lebih menarik daripada di sini. That's it. Itu itu faktanya lah. Reasoning-nya we can speculate. I lain-lainnya mungkin macam-macamlah.
Pasti faktornya banyak. Oke, eh berikutnya kita ngomongin film animasi yang menurut gua probably at least dari jauh ya gua observasi the most successful can I say that I untuk Indonesia ya eh selama ini yang gua pernah lihat gitu jumbo. Ada yang lu nonton? Gua nonton sama anak-anak gua. Nah gimana?
Bagus. Tunggu dulu. Bagusnya nih out of kayak kindness atau beneran bagus gitu storynya. Oke. Nilai-nilai yang ya lu lu jadi ini dong apa namanya?
Kritikus film dong. ee value yang diusung itu sangat membumi. Jadi enggak cerita soalembumi imajinasi tinggi tinggi lah. Tapi misalnya ada anak enggak yatim, enggak punya bapak everyday life kan. Terus anaknya juga anak biasa-biasa main-main di pinggir jalan apa seperti biasa layaknya hidup sama neneknya terus tangkap hantu gak enggak usah dengerin terus habis itu ada tunggu dulu jangan spoiler ini do intinya tap oh iya ada value-nya ada valu valya bagus membum terus value-nya juga berhadapan sama apa ya ee masalah sehari-hari nih yang isu-isu terkini gitu itu oke kayak misalnya soal mafia tanah, soal ini gitu-gitu loh.
Itu suatu yang agak nyentil-nyentil ada yang bersinggungan sama realitas. Terus yang kedua dari apa teknologi yang dipakai ya, animasi apa segala macam. Oke. Enggak kelihatan artificial, natural aja. Sama seperti kalau kita nonton secara standar ya dari kualitas warna, karakter apa itu komposisilah sama pergerakan atau apalah.
Gua bukan orang film jadi enggak ngerti. itu kayak mirip film-film yang enggak walaupun enggak enggak Hollywood juga tapi paling enggak kalah ya enggak Pixar jugaah beda. Tapi oke itu aja sih poin a good start lah. Good start. Heeh maksudnya ee semoga kita bisa build on that gitu setah setelah ketinggalan oleh Upin dan Ipin ya kan.
Setelah ketinggalan Bobo Boy Malaysia. Sor emang ketinggalan sama Upin-Ipin Boboy? Enggak juga. Iya. Sebelumnya sebelumnya kita enggak punya selevel itu.
Bahkan kita konsumsi gitu kan kayak kita istilahnya apa namanya ngimpor Ipin-Upin cuy. Asik. Sampai ke standing karakter di lampu merah tuh ada Upin-Ipin kadang-kadang gil. Oke ya next. Gua sih enggak nonton ya tapi gua gua baca review-nya pro kontra banyaklah ya.
He. Tapi eh dari sudut pandang gua sih e it sales lah ya. penjualannya tinggi betul sales-nya besar nyontek dia. Oh iya, enggak orang gua cuma nulis itell sini itu pun baru gua ketikatan pribadi itu enggak lebih ke ini sih lebih ke fenomena fenomena film animasi buatan Indonesianya sendiri yang menurut gua menarik diperhatikan dan menarik dilihat nih trennya karena relevansi ya kan. Terus orang-orang yang nonton nih, apakah karena memang terekspose oleh review, terekspose sama karena gua pribadi gua tuh enggak terekspose sama iklannya dia sama ya lu bukan target ya.
Probably right. Probably tapi karena orang sekitar gua everybody talks about it di timeline gua semua ngomongin itu. Ini tuh apakah memang sebagus itu atau orang vomo-fomo aja gitu. Oke, I wonder from PR marketing advertising perspective, did they do anything to reach? Maksudnya ada stand kah apa cuma naturally aja.
I wonder if they have budget gitu untuk kualitas produknya emang bagus. Oke. Jadi, PR itself jadinya produknya Iya, PR itself. Oke. Imagine kalau misalnya dipasangin dengan you know budget yang lebih banyak sedikit, right?
Untuk PR untuk you know apakah pada saat apakah mereka yang buat filmnya itu apakah memang punya ekspektasi sebesar ini di plan atau memang it is happen organically gitu? Ih ternyata kayak begini jumlah kalau gua enggak salah kemarin gua baca terakhir tuh jumlah penonton penontonnya sudah hampir terbanyak loh sepanjang berapa lama gitu. H pal hampir nyalip kay kan kakakn lumayan lama tuh di posisi posisi satu berapa juta gitu. Nah, dia ini udah dekat. Ayo, Rin.
Coba sambil kita ngobrol dicek apakah sudah terlewat. Udah. Apakah sudah melewati sih Jumbo. Melewati KKN per today. Udah, udah lewat.
Oh, tuh berapa juta? Dalam berapa lama itu? R juta. Tapi enggak gua ingat kalau itu sebulan kayaknya. Gua ingat kayak last month.
He. Yo, that's a lot man. 10 juta you need to. H ini sih R juta banyak geng. That's a lot of H banyak ya.
populasi Indonesia 270 juta. Terus usia produktif, usia yang punya akses ke bioskop, lu hitungnya sendiri deh proporsi statistiknya itu berapa banyak. Banyak sih semak nganggur. Nganggur. Oke, that ball moga-moga nanjak terus.
Amin. Lanjut. Tapi kudus. Terus ini ada agak-agak start up juga Traveloka gosip-gosipnya berusaha keras untuk pindah ke Singapura. H.
Right. Iya. Ini nih another slap in the face enggak sih? Hm. Hah?
Emang lu kira cuma ya maksud gua berapa sih size-nya Traveloka? Tunggu dulu, tunggu dulu, tunggu dulu. Tapi kan ini sesuatu yang bahkan dibangga-banggakan sama Indonesia gitu, cuy. Indonesian price emang mereka bukan tiket.com ya? Asik.
Agenda pastilah bagi gua tiket.com. Tetap tiket itu lebih bagus. Harusnya Indonesian PR kan banyak, enggak harus satu. Iya benar. Semakin banyak kan semakin bagus bukan.
Tapi gua clarify dulu deh. Ini mereka benar mereka yang mau pindah ke soalnya gua enggak liihat ada pernyataan resminya bahwa mereka mau pindah ke Singapura loh. The gramblings itu udah kayak gitu. The Gramblings, The apa namanya? The rumor.
Heeh. Heeh. The whatever lah. Kayaknya ada arah-arah ke sana gitu. Mereka emang udah set up office di sana setahu gue untuk overseeing regional.
Iya. Market expansion biasalah. Iya. Englingnya sih begitu ya. Makan fashion, original hub.
Anglingnya begitu. Talent pool gitu kan di Singapura. Jangan ngomong random word random password gitu. Nah, ini maksudnya bagus buat SEO terus diciate banget kan lempu biar ketrack sama enggak enggak kita seperti kita tahulah kalau di Singapura kan buat manajemen tuh bagus apalah buat headquarters apa pemerintahnya juga akomodatif. Terus teman-teman soal pajak-pajak gitu.
Iya. I tapi maksud gua gini, of course they're still gonna be in Indonesia. Of course, man. They're not abandoning the market. Tapi maksudnya eh the act apakah untuk mindahin HQ dari Jakarta ke Singapura itu kan simbolik ya.
What it means eh dari tindakan itu kan speaks louder lah. It seems to be impact eh economic whatever kagak ada kali ya. Tapi, tapi the fact bahwa mereka memilih lebih strategis buat mereka untuk berHQ di Singapura, it says something juga gitu terhadap eh our apa namanya? Eh ya economic atmosphere, whatever you wanna to call it lah. Sama ini apalagi startup-startup ini ya.
tadi Grab Gojek Gojek mau diakuisi. Oke, hilang lagi satu unicorn or decaorn, whatever gua lupa statusnya. Sekarang Traveloka, right? I dan ini nih eh on the side note, ada juga beberapa eh unicorn lain yang gua tahu persis gua ngomong sama founder-foundernya, cuy, bahwa ada arahan ke situ juga, tapi ya belum pernah di-announce. Tapi it seems buat mereka next-nya tuh itu gitu.
Ya, itulah kurang lebih. Tapi apa tadi lu ngomong? Oh, ya. Enggak, enggak, enggak. Gue cuman ee baca gitu berita Traveloka di sosial media Instagram kalau enggak salah.
He. Terus kan gua suka baca komen kan, scrolling scrolling komen. I itu seru sih bacain komen. Lebih seru baca komennya daripada beritanya. Terus itu tuh enggak satu dua ya yang ee pindah aja gua delete aplikasi gitu tuh ya kan.
Tandanya tandanya alah ee ee orang Indonesia yang banyaklah di luar sana yang berharap bahwa ya lu stay lah ngapain sih kalau lu mau expans ya lu expans lu bikin hub lu bikin hub tapi bukan berarti lu pindah headquarters ke sana lu pindah headquarters ke sana gua delete aplikasi l h straight forward aja di ya kan tapi gua lebih gua lebih menarik ke sebenarnya fokus bisnis mereka tuh apa. Gua tuh bingung ya karena kalian kita ngomongin traveloka tiket.com lah ya kan eh competitor nature-nya gitu. Tapi at the same time mereka tuh diversifikasi ke mana-mana ya. Ada travel its lah, ada traveloka something. Traveloka something.
I jadi sebenarnya mereka tuh mau ngapain sih? Mau jadi super app, mau jadi kayaknya kayaknya. It's very em apa ya? A little bit confusing sih to consumer. H karena bahkan ketika customer journey gua ketika gua nyari tiket gitu, gua mau compare, gua search ya mereka semuanya enggak pernah muncul natural SEO-nya.
Mereka muncul banyakan karena sponsored sponsored mungkin karena diversifikasi yang I don't know what else that they trying to do malah enggak fokus. Distracting from the apa? Key service. Iya. The key service-nya kan dulu banget kan core service-nya kan cuma ya udah jualan tiket.
H orang nyari either Traveloka, tiket pesawat, tiket kereta, tiket kapal, whatever nyarinya either Travel or tiket.com ya kan. Komparasi aja enggak gua mau klarifikasi tiket kereta tuh enggak ada Traveloka dulu pertama kali itu tiket.com. Asik. Sip. Siap.
Tapi intinya itulah ya. Ya. Eh, tapi kalau mau ngomongin running the business or whatever ya, you gotta give it up to this jarum people lah. Heeh. L lu pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pelan, steady ya kan.
Enggak. Ini produknya juga very calculated kayak very exact gitu. Langkah-langkah yang diambil jadinya let see lah yang satu lebih agresif, yang satu lebih konservatif gitu kan tumbuhnya. Tapi ujung-ujungnya di mana ya interesting to see I dan pastinya bergantung sama kegiatan-kegiatan komunikasi kan. Enggak sih, Sok advokasi.
Lu gimana permainan di situnya? Mesti bermain, Guys. Kalau belum invest, coba deh tambahin investment. Asik. Kalau sekarang lu bayar Rp1 juta, coba jadi 500 lah.
Itu akan mendapatkan impact yang sangat bagus. Oke. Anything else? Enggak tahu. Halo.
Enggak. Enggak. Udah ya. Travel. Oh, korupsi.
Korupsi. Liga. Liga korupsi nih. Udah kita bulan. kayaknya ada Liga korupsi.
Titiap bulan liga korupsi beda-beda. Beda. Heeh. I kan sekarang terupdate terupdate laptop. Laptop.
Laptop ini dekat juga nih dengan ekosistem. Hah? Ee apa startup ya? Karena Indonesia mantan yang kita tadi ngomongin kan bosnya goto. Mantan Gojek.
Menterinya kesebut-sebut. Iya. Heeh. Ya enggak tahulah apa kan. Ada yang bisa kasih gua breakd what happening mungkin Sofan atau anybody apa yang terjadi yang setahu gua ya gua punya contekan nih jadinya tunggu dulu tunggu dulu tunggu dulu kok lu enggak pakai kacamata hitam sih karena katanya enggak fokus kata kris jadi oh iya ngejarnya garfi terus sih matanya kelihatan i jangan dong jadi ini terbukti ini fokus ya pada tahun anggaran periode 2019-2023 itu ada spesifik dia ee ee ee ee ee total pengeluaran sebesar 9,9 triliun.
Oke. Oh, itu enggak satu periode ya? Itu satu period 2019 satu periode dong. Periode enggak dong. 2019 3 tahun 3 tahun anggaran.
3 tahun anggaran. periode anggaran 12 4 tahun bahkan. Heeh. Satu periode itu kan empat dong bukan presiden. Gua kalau bicara periode itu tahun anggaran 1 tahun.
Oh i ya ya. Oke. Jadinya tahun 2019 sampai tahun 2023 itu ada pengadaan laptop berbasis Chromebook ya. Itu apa ya? Chromebook itu Chromebook itu kan operating system operating Google punya Google Chrome itu komputernya katanya produk dalam negeri.
Oh gitu. Heeh. Bukan Chromebook HP itu ya enggak ya? HP bikin Chromebook. Maksudnya Chromebook tuh OS-nya cuy.
Oh OS kan bilang tadi. Nah ee instead of Windows ini yang Google cuy. Nah, jadinya kebijakan Kementerian Pendidikan apa kementerian apa nama lengkapnya panjang banget Nasb Risti Risti Riset dan pendidikan teknologi pendidikan tinggi dan ya gituah. Nah, itulah jadinya ee ee ee belilah tuh h pengadaannya 9,9 triliun. He.
Padahal ICW sudah bilang bahwa ini ada potensi masalah nih proyek pengadaan ini. Tunggu dulu keluarnya tuh kapan tuh mereka ngomongnya? I cewek-nya ngomongnya 2021. Oke. Udah lewat udah udah berjalanlah tahun.
Ee kenapa ee kenapa di dianggap sebagai korupsi ya? Karena pembeliannya masif. Jumlah harganya itu disebutkan katanya harganya 1 unitnya R juta. Hm. Tapi ada ee yang bilang juga satu unitnya R10 juta, habis itu dibeli dan disebar di seluruh Indonesia.
ee ee itu ee pengadaannya kalau kalau dari sudut pandang kementeriannya dibutuhkan saat itu karena kan periode pandemi ee Chrom itu tuh Google Classroom itu sangat relevan dengan ini cukup compatibility segala macam walaupun proponents lagi bilang ini Chromebook bekerja efektif dan efisien ketika dia punya jaringan internet. Hm. He. Kalau sinyal jelek, banyak function yang enggak bisa digunakan di sini. Ah, itulah jadinya ee polemiknya polemik-polemik yang terjadi.
Tapi tetap berjalan dan tetap dijalankan sampai menghabiskan dana sekitar 9,9 triliun gitu juga ya. Oke. Buset. Lalu lalu korupsinya di mana nih? Pengadaan lah.
Enggak enggak korupsinya korupsi spesifik enggak? Gini gini gini gini gua pengin tahu korupsinya ada yang terima enggak? Oke. Gini gini gini gini ee ee ee bukan itu aja jadinya ada kecenderungan bahwa keputusan ini diambil. Tadinya ee udah dilakukan uji coba terhadap 1000 unit Chromebook di tahun 2019.
Hasilnya dikatakan bahwa perangkat tersebut kurang efektif karena yang tadi ya. Karena enggak ada. Heeh. Heeh. karena dia butuh ketergantungan pada koneksi internet ee yang stabil, terus infrastruktur internet di daerah khususnya itu masih belum belum merata.
Nah, tiba-tiba walaupun ada ee ee uji hasil uji coba itu enggak merekomendasikan untuk menggunakan Chromebook, he tetap keluar, kemudian tetap keluar, dijalankan dan dijalankan. Makanya tung yang mengkaci yang mengkaji siapa nih yang eh ini kurang oke nih itu siapa tuh? Ee lah tuh siapa gua enggak tahu ya. Whoever tim teknis lah. Tim teknis Kemendikbud.
Heeh. Bukan ada lembaganya gua ada lembaganya. yang yang terseret-seret nih sekarang adalah staf khusus menteri yang dikatakan berperan serta dalam menetapkan kebijakan itu. Menterinya belum ditanya, belum diiniin sih. Nunggu waktu aja kur rasa ya.
Hah? Iya. Iya. Mungkin pasti ditanyalah namanya yang terlibat stafsus. Enggak.
Pertanyaan gua adalah jadi yang diper biasanya kan korupsi itu kan ada penyalahgunaan wewenang tuh dalam kaitan misalnya nerima uang betul inchange inchange sama anu apa apakah harganya harusnya berapa dijual berapa gitu itu masuk ke kantong siapa itu kan termasuk itu maksudnya enggak enggak itu audit itu misalnya harga kemahalan lah misalnya kecuali ada bukti kan follow the money lah misalnya siapa yang atau memperkaya orang lain kayak mark up yang signifikan pasti ada selisihnya tuh ke siapa kan pas memperkaya orang lain jadi Aku enggak tahu nanti lihat aja kejaksaan bisa buktikan sampai sejauh mana ya. Cuma agak agak bingung aja dengan statement soal kok kebijakan menteri gitu misalnya ya kita berasumsi ya menteri ngambil kebijakan ya atau DIIKB lah ngambil kebijakan toh enggak mungkin menterinya enggak tahu juga kan dia yang tanda tangan segala macam juga maksudnya. Dan ada stafsusnya semua orang berasumsi menterinya tahu kan begitu kan. Heeh. Kok ada kebijakan yang diambil menteri tapi dipersoalkan gitu aja.
Walaupun ada basis-basis yang bilang lembaga ini menolak n tapi kan tetap di final size-nya kan menteri dong. Kecuali ada korupsinya. Misalnya si laptopnya tadi dia bilang 6 juta, ternyata belinya cuma R juta. Nah, sisa R jutanya itu ke mana gitu misalnya enggak sesuai dengan harga pasar misalnya. Ee intinya kurang lebih ya, gua enggak tahu kita seirama atau enggak, tapi intinya kalau based on decisions untuk ke kiri atau ke kanan dan lu dipermasalahkan penjara, that's crazy, man.
Kalau gua ya. Iya. Maksudnya oke lah gua ngerti tag misalnya ya, kalau gue jadi menteri gitu, gua ngerti tag. Iya, gua tahu lu siapa gitu. Tapi kajian gua bilang ini yang bagus.
He. Walaupun kajian lu bilang itu yang bagus loh gua ngikut yang ini dong. Karena gua tahu ini barang cocok nih sama kebutuhan gua gitu kan. Terus kondisinya gua enggak ngambil seperak pun, gua enggak memperkaya siapapun. Maksudnya sengaja gitu ya.
Terus gua dipenjara. Oh lu lu gila siapa yang mau jadi menteri cuy? Gua jadi gembel aja lah. Resikonya ngambil kebijakan bisa di ini gua ngambil kebijakan kecuali memperkaya diri sendiri. That's different ada terima kickback terbukti.
Ya udahlah lu masuklah masuk kantong lu berapa miliar gitu. Enggak kalau triliun ratusan miliar kali cuy. Jadi tulisannya kejagung menduga adanya pemufakatan jahat dalam pengadaan ini. Pemufakatan jahat gua enggak tahulah ya. Ini tugas ke jagung nanti membuktikan bahwa pemuafakatan jahatnya adalah 1 2 3 4 5 misalnya cari menstrea itu namanya niat buruk covid bodygu guys oh real quick lah eh rising covid ini gua baru kena covid guys maksudnya confirm gitu wellak to confirm tapi gua 3 minggu gua pilek dan every everyone in the household kena I think it's COVID hm rasanya did you ever get COVID Enggak pernah.
Oh, lu enggak pernah sebelumnya. Jadi, gua enggak tahu juga. I don't have comparasi. Tapi secara taste BS gua mulai sedikit hilang, penciuman gua sedikit hilang. Tapi gua memang enggak confirm tes untuk confirm.
Apa namanya? Dia udah dilindungi sama apa namanya dulu kita istilahnya kalau sebagian udah immunity. Ah, itulah apalah hard immunity guys. Tapi lucin gua gua gua vaccinated tiga dosis kalau gua enggak salah. Udah aman lah deh.
Heeh. Tapi anyway gua tiga kali cuy. Tapi tujuh dosis kena tiga kali tu varian tu dosis kagak tiga. Gua gua mati anjir. Mutasi lu gua cuma jadi semua varian COVID tuh gua kena dulu.
Oh iya kan kolektor dia ada gitu. Asik Covid-nya berkumpul di badan Sofyan. Oh, lu juga ya waktu itu ya? Gua sekali doang itu pun udah lewat periode. Enggak, enggak.
Sebelum Oh, bukan itu. Dia dilindungi oleh orang-orang kayak gua yang terjangkit duluan lagi. Heart immunity. Tapi ya yang di Thailand ya, Thailand, Hong sekolah, Hong, Hongkong, Singapura, It shows. Mereka mulai nunjukin grafik yang meningkat dahsyat.
Udah kay cuy, jangan sampai get out of hand terus kita mesti enggak enggak udah tinggal di gunung lagi. Enggak sih kita ini? Enggak. Gua lebih pengin ini aja. Kayaknya mungkin enggak kita kembali ke 2020?
Enggak. K dulu. Kenapa lu secara saintifik? Apa lu enggak mau? Gua dari awal udah disclaimer nih analisa bodoh-bodohan aja.
[Musik] Mungkin mungkin mungkinlah maksudnya itu kan tinggal kebijakan pemerintah aja bilang bahwa hei WFH semuanya udah simpel WFA-nya WFA masih mungkin tapi lebih ke lockdown-nya itu yang mengerikan kan. Oh lockdown enggak lah lockdown enggak sekarang tuh levelnya apa-apa duit kita yang habis buat COVID itu ya belum keganti sekarang. Beli vaksin ya. Beli vaksin. Beli vaksin segala macam.
Itu enggak deh. Udah jangan duluah. Entarlah 20 tahun lagi enggak apa-apalah. Oke. Anyway, let's try something new.
Jadinya kita eh send apa namanya? Send us an email mungkin, right? If you want us to talk about certain things, email-email. Anyway, kalau ada pertanyaan, let us know. E things for us to comment, curhat.
Mungkin kadang-kadang kita kan ada orang-orang di agency apa-apa yang pengin bertukar pikiran, e man, eh we welcome you to do that lah. Anyway, eh this has been Proxemix full house edition buat ngrecap bulan Mei. May gua Mercy, sebelah gua ada Sofyan, di situ ada Adwi Stff over there, ada Chris the producer di balik layar sama Ain di sini. And that is it. Thank you.
Thank you. Thank you. Thank you. [Musik]