Can a ‘cowboy’ be an effective communicator for a finance ministry? Proxemics 017 opens by dissecting Finance Minister Purbaya’s blunt, straight-shooter style — is it refreshing accountability, or hype without follow-through? — before moving through a full anatomy of high-stakes public and corporate communication.
The hosts weigh the Whoosh high-speed rail as both a civilisational statement, echoing the Syailendra dynasty, and a debt risk, debating governance fixes like BOT schemes and technology transfer over pure economic return.
Then a classic crisis case: Aqua, whose branding built over decades was rattled by a viral sidak video. The lesson is unglamorous but vital — onsite PR readiness, and real investment in PR people, before framing spirals out of control.
The counterpoint is Apple, a brand so insulated by prestige that hardware criticism barely dents it, because the product is left to speak for itself. It is a study in how earned reputation absorbs shock.
Finally, the show heads to SXSW Sydney, where Jessica reports on Neuromarketing with Sarah from 22 Digital — how novelty detection and the mere exposure effect can be combined into campaigns that actually stick.
The Apple thread pulls in a wider question the hosts keep circling: which matters more in communication, networking or critical thinking — and how brands like Xiaomi chase specs while Apple sells belief and lets buyers do the arguing.
Purbaya, Whoosh, Aqua and Apple in one sitting: a masterclass in why framing beats fire-fighting. Press play.


YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
Ya, hype. Artinya kan ini gaya baru orang suka [musik] terus kemudian artinya itu kan hype kan. Hype cannot be own cuma bisa list. Y [musik] sebagai simbol kemajuan ada fungsi prestis sebagai negara dinasti [musik] Selendra. Gayanya koboy gitu kan.
Macam-macam ketembak lu d kayak pentingnya orang PR juga berarti dong. [musik] Onside onside. [musik] [musik] Welcome to another episode of Proxemix everybody. Hari ini langsung kita topik pertama itu kita pengen ngobrolin Pak Purbaya ya. Gimana?
Gimana? Apa? Apa? Apa? Siapa?
Siapa? What's good? What's not good? Apaak bulan lalu kan kita cuma kayak a very quick observation ya kan ada style baru karena jam apa the jump between eh mainq sebelumnya dengan Pak Purbaya Ibu Sri ini sama Pak e Pak Purbaya tuh kontradikory banget gayanya waktu itu bulan lalu kita ngobrolnya baru sampai sana baru itu doang ini kan udah 5 en minggu nih em dari segi komunikasi gayanya adaptasi eh to the em to the government gimana nih kira-kira yang membuat dia berbeda gitu. Iya.
Lebih bahasa yang dipakai terutama itu lebih sederhana ya. Jadi mungkin bisa diterima terus apa lebih terbuka. Hm. Lebih terbuka artinya. Oh dia tahu bahkan ada samuan di Kementerian Keuangan sendiri yang cerita sama gua.
Gua baru tahu tuh ada 600 triliun di di BI punyanya Menteri Keuangan gitu. Itu itu hal-hal yang punya negara. Heeh. punya negara under Kemenke under iya bendahara negara kayak duit kita kan ada di juga [tertawa] dia kan Menteri Keuangan Praksis iya makanya nah itu itu juga artinya kan apa yang gua highlight di situ ada transparency di situ sudah mulai ada transparan kita pengin lihat ada dua poin lagi nih governance-nya h governancenya coba ee buka-buka nih ada duit ini pemda ini ditaruh di sini apa enggak jalan mandek apa segala macam. Dia ngomong governance tuh ee oh ada uang ini kalau enggak kepakai saya tarik.
Waktu itu dia ngomong BGN kalau enggak salah apa enggak jalan gitu sekali. Nah, berikutnya kita harus ngomong accountability-nya nih. Transparencynya udah, governance-nya udah. Accountability. Countability itu buat gua enggak bukan sesuatu yang cuma bisa diomongin ya.
Kita percaya lah selama ini metode yang kita pakai kalau kita ngerjain apa project ya atau diminta bantu klien gitu kan selalu dual track ya. Enggak bisa PR-nya doang kerjaannya produknya enggak bagus gitu karena harus both ways. Ee produknya bagus, PR-nya bagus dan we can make things happen lah kira-kira gitu. H. Nah, accountability ini yang yang menurut gua pertama dia butuh waktu.
Eh, yang kedua dia harus proven gitu, result harus ada hasilnya. Itu yang gua belum lihat. Misalnya gini, dia bilang 200T taruh di bank-bank. Lah, bank-bank aja banyak pengamat ekonomi ya. Bukan kata gua nih bilang kita enggak likuiditas bank tuh enggak pernah bermasalah.
Cuma memang mereka kesulitan menyalurkan karena problem pertama industrinya enggak jalan, ekonominya lesu, daya belinya kurang. Artinya orang mau invest pun enggak ada gunanya. Maksudnya lu create produk tapi enggak ada yang beli juga. Ee bukan soal beredar, uang beredar di masyarakat. Itu yang menurut gua yang terus yang kedua, yang berikutnya yang menurut gua agak apa namanya?
H di mulai misalnya kayak komunikasinya itu not about himself atau kerjanya dia. Tapi misalnya oh pemda ini ada uang ini ada di segala macam jadi mulai attacking yang lain. Gua enggak bilang yang lain ya. His pears atau siapalah yang aktor-aktor negara lain lah kira-kira kelembagaan yang seharusnya ee komunikasinya harusnya bisa diperbaikilah buat kami ya. buat kita yang lihat nih rakyat biasa nih kalau bisa enggak publik gitu maksudnya lu masa harus dipublik sih ya ada beberapa hal yang publik kalau misalnya enggak bisa didobrak gitu ya cuma ini kan harusnya koordinasi biasa yang ee seharusnya bisa di komunikasikan secara internal artinya ada kita bisa membacanya adalah kalau omongan ini sudah ke publik berarti lu ada punya problem komunikasi internal kan itu yang yang prinsipnya itu ya prinsip yang kita selama ini apa alami kan gitu.
Dan terakhir yang gua lihat adalah statement dia yang menarik buat gua. Pertama dia bilang bahwa ada pihak yang tidak menghendaki Indonesia tumbuh di atas 5%. beberapa medianya kayaknya satu du hari terakhir ini ada statement kayak gitu dia dia statementnya kira-kira gini mungkin enggak tepat ya bukan enggak enggak exact apa dia ngomong tapi kira-kira gini bahwa kalau Indonesia sudah mau tumbuh 6% kok tiba-tiba diturunin lagi ada yang enggak lah kita pengalaman ekonomi yang lain semua ya maksud gua kayak lembaga-lembaga ekonomi sudah pernah bilang bahwa kita tuh akan sulit tumbuh di atas 5% karena dengan banyak persoalan lah soal manufaktur, so apalah apalah segala macam yang itu yang menurut gua udah mulai blaming OTK kalau bahasa kita ya zaman Orde Baru itu otk itu orang tak dikenalnya. [tertawa] Jadi itu buat gua agak ya agak mengkhawatirkan bisa diusit ini. Iya kira-kira itu.
Hm. He. Yang lain kalau dari gua ya, gua sih ngelihatnya dia memang lebih lugas lah ya, lebih direct gitu, lebih langsung, lebih ceplas-ceplos dibandingkan menteri sebelumnya ya kan. Mungkin ada sebagian pihak yang kaget dulu Menteri Keuangannya tenang ee ee apa ee fokus ee kerja ee ee apa mengeluarkan kebijakan-kebijakan ini lebih banyak ngomongnya gitu. Dan gua udah ketemu nih sama beberapa ee ee redaktur terkemuka dari media-media besar gitu kan.
Gua nanya mereka pandangannya sambil ngobrol-ngobrol, eh gimana nih Menteri Keuangan Baru gitu. Mix reaction. Ada yang setuju banget, ada yang suka banget mungkin karena kedekatan sudah lama, ada juga yang kritis banget nih. Enggak setuju nih. Mungkin kayak Sofyan gitulah tipenya.
Gua bukan yang enggak setuju nih. Kritis. Iya kritis. Kritis lah. Kritis.
Tapi yang bisa gua simpulkan dari dari banyak liputan media itu ee ee bahwa pendekatan komunikasi yang dia ee terapkan itu apa? Gayanya koboy gitu kan. Gaya koboy itu gimana? Iya. Lu macam-macam ketembak lu.
Dor. Straight shooter ya. Straight shooter. Asik. Nah, ee ee gaya koboy ini ee ee ya interpretasi masing-masing lah ya koboy itu kayak gimana gitu.
Ee ada koboy yang bekerja benar di pegunungan backb [tertawa] brokb itu itu yang benar filmnya [tertawa] all time favorite. Itu kalau Sofyan jadi kobo itu dia cita-citanya gitu ya. Heeh. [tertawa] udah gitu di Brock Back Mountain. Anyway, terlepas dari ee ee ee tapi gini, kelebihan dari pendekatan koboy ini itu adalah apa yang dia sampaikan tuh mudah dipahami oleh orang-orang.
Ee bahasanya sederhana untuk ee ee masyarakat kelas menengah itu ee gampang dimengerti. He ee memberikan ee image, kesan, citra bahwa pemerintah melalui departemen keuangan itu sekarang lebih terbuka kepada publik. Ee ee sampai batasan itu kalau dari gua orang yang sudah lebih dari 25 tahun bergelut di dunia komunikasi ini asik fine-fine aja. Iya, gua setuju. Gua setujulah dengan dengan gaya komunikasinya itu koboy enggak koboy.
Ee ee ee ee gua gua lebih gua lebih yang gua suka dengan gaya ini. Mungkin karena gua enggak begitu ee ee apa suka dengan gaya sebelumnya. Bukan bukan enggak suka dengan orangnya atau kebijakannya ya, tapi ini gaya komunikasinya. Eh, itu aja sih kalau dari sudut pandang aing aing. Tapi sebenarnya kayaknya gua soto-satuan aja sih.
Cuman kayaknya Pak Purbaya ini kan punya a big shoes to feel juga ya. He. Jadi kayaknya strategi juga sih make loud karena pasti suka enggak suka orang akan membandingkan kan sama previous eh ministry dan Ibu Sri Mulyani juga reputasinya dan segala macam kebijakan yang dibuat tuh selama 15 tahun terakhir tuh very inilah eh meninggalkan jejak yang cukup ini bagi Indonesia. Jadi kayaknya memang ya one of one of his wayos itu supaya enggak dianggap membandingkan yang enggak itu dia beginilah gayanya. Iya ya kan?
Iya cuma gua ingat omongannya Mercy sih ya. Hype artinya kan ini gaya baru orang suka terus kemudian artinya itu kan hype kan dan kita tahu rumusnya bahwa hype cannot be own cuma bisa list. Yap, itu yang harus hati-hati sih. Makanya accountability tiga parameter itu harus karena still tusun toel kan kalau sekarang. Iya, tusun toel.
Kemarin itu udah lumayan banyak sih. Kemarin tuh gua lupa deh itu kemarin tuh meeting di DPR kalau enggak salah tuh ada video He. Yang ee beredar kayak dia tuh enggak diajak ngobrol gitu loh sama menteri-menteri lain. Oh iya. itu begitu kayak ada framing itu dan waktu preskon itu ya ditinggal seperti framing itu tapi gua rasa sih ya itu bumbu-bumbu aja lah kita lihat aja kalau kita gua pengin lihat substansi ya maksudnya kalau itu gimik-gimiknya biarin aja dulu lah jangan kebanyakan gimik lah ujung-ujungnya nanti kayak kemarin terakhir gimiknya lari-lari dia telating sama Pak Prabowo benar itu jadi gimik jadi gimik dan gua agak trauma ya dengan gimik-gimik itu ya [tertawa] kenapa kenapa Kenapa ya presiden sebelumnya?
Oke. [tertawa] Lumayan traumatis. Iya. Ee looking back mungkin ada beberapa yang kelihatannya ini ternyata lebih ke gimik gitu. I itu aja sih.
Hal yang kita lihat sekarang pas kemarin eh kok beda ya. Pas dulu gini sekarang gini gitu ya. Iya itulah kira-kira agak traumatis jadinya. [tertawa] Oke yuk. Eh, kalau dari gua itu ada intercultural communication dimensions.
Jadinya ada salah satu dimension-nya itu tentang the way we communicate itu specifically tentang masculinity sama femininity, right? Jadinya ini bukan masalah cowok ke ceweknya ya, tapi each culture itu the way we communicate tuh intinya ada yang lebih direct he ada yang lebih enggak direct. Nah, menteri yang sebelumnya Ibu Sri Mulyani itu lebih feminim menurut gua karena kalau feminim itu tendensinya communicate untuk maintain relationship. Hm. Nah, kalau si Pak Purbaya yang baru ini little bit different.
Dia menurut gua lebih maskulin. Jadinya dia communicate itu to get things done. Right? E kalau kita sebagai culture itu di Indonesia obviously kita lebih feminim dibanding misalnya western, right? Mereka bisa trek-terakan di meja meeting, habis itu keluar eh ketawa-ketawa gitu kan.
Sedangkan kita kalau ada trek-terkan di dalam meja meeting tuh ada yang sakit hati, ada yang ini. Itu tuh baru Indonesia as a country ya. Tapi lu bayangin lagi ee irisannya. Kayak lu bandingin orang Jawa sama orang Batak. Of course yang Batak lebih feminim.
Eh, jangan. Eh, enggak boleh ngomong kayak gitu. Yang Jawa kali lebih. Yang Jawa. Yang Jawa tadi ngomong Batak Balik.
Sor marah orang Batak gua [tertawa] bilangin ee lebih feminim kan yang Jawa. Lu walaupun niat lu baik, lu enggak boleh ngomong kayak gitu. It's too direct. Ya kan? Itu bisa mengganggu relationship.
Sedangkan kalau yang batok tembak terus, Bro. Ya kan lu lu lu jelek lu bilang jelek. Bagus lu bilang bagus. Tapi nanti kita e di belakang relationship. nomor dua pada akhirnya eh it's about getting things done.
Nah, gua sendiri gua gua gak ada preference mungkin gua tendensinya lebih ke A atau B lah. It doesn't matter tapi intinya it's a different style. bisa orang kayak tadi Adwi bilang mi ya kan ngobrol sama group of people tuh enggak semuanya kiri atau kanan which is menurut gua ketika teman-teman jurnalis itu mix itu menunjukkan bahwa jurnalisme kita masih sehat enggak itu aja si seragam enggak seragam nah yang berikutnya ini ada kereta cepat asikat setat set gila kereta kereta cepat nih nih lucu juga sih ini nih menunjukkan juga eh the power of media ya. H framing dan lain-lain gitu. Pertanyaannya round the room nih gimana nih konsepnya nih?
Eh ada yang kalian notice dari all these things mungkin dari sisi komunikasinya apa yang salah? Apa yang bisa di-improve? Kalau gua sih ee ee gua teringat pada abad ke-8 Masehi. [tertawa] Gila, belum ada cuy keretanya. Belum ada.
Ketika Samara Tungga dari Dinasti Salendra membangun Borobudur ya kan. ini projek besar ya kan ee ee ee mencerminkan bahwa teknologi sudah tumbuh pada masa itu arsitektur ya kan segala macam and so on and so forth apa ee pembagian kerja segala macam modernisasi kalau dalam konteks Wush sekarang bahwa Indonesia itu sudah modern bahwa kita bisa memiliki ee ee ee aset-aset fasilitas yang bisa membantu masyarakat untuk tumbuh dan berkembang. Borobudur terbukti sangat bermanfaat, sangat berguna sebagai tempat ibadah sampai ke sekarang sudah berapa abad kemudian masih berfungsi, masih menjadi monumen kebanggaan ee Indonesia dan gua rasa hal yang salah untuk ini [tertawa] saya kerajaannya udah bubar, Bro. Tapi kan orang selalu mengingat Samara Tungga, Geng. Orang akan mengingat Joko Widodo, mantan Presiden Republik Indonesia maksud.
[tertawa] Nah, iya kan jadinya ee ee ee ini menunjukkan kepada dunia peradaban. Heeh. Ini ini perkara peradabanasyas itu dia poin yang mau gua sampaikan. Terlepas [tertawa] terlepas dari kerajannya bubar bukan kerajannya bubar perjalanan wush-nya banyak sandungan sana sini utang segala macam. Dari sisi gua ya gua pernah naik wush.
Wi senang banget gua berapa minggu yang lalu gua ke Bromo ee naik kereta ya kan. Ih KAI itu keren banget gitu. Ee layanannya bagus, nyaman, kerenlah. ee ee terlepas bahwa KAI-nya menanggung kerugian, subsidi silang gitu-gitu. Itu hal yang mereka pikirkanlah gimana cara mengat.
[tertawa] Kalau dari gua sih gua cukup bangga lah dengan dengan keberadaan Wush ini. Apalagi kalau nanti dilanjutkan sampai Surabaya misalnya ee ee it's good lah gitu. ini ngomongin di luar aspek-aspek ee potensi kriminalitas dan lain-lain ya. Gua [tertawa] enggak mau ngomongin itu ya enggak enggak kriminalitas karena udah mulai keluar macam-macam nih ya kan itu di luar itulah. Tapi to eh reiterate what I say ini kan W ini eh satu per km 300 eh 100 sekian km/jam gitu kan.
Enggak lebih 3 200-an 300. Itu kan sesuatu yang luar bias lah karena enggak enggak enggak enggak semua orang Indonesia mungkin punya kesempatan buat ke luar negeri dan mengal meng mengikansen gitu kan. Ham itu jadi menurut itu isolated thing lah. Tapi the same time eh kalau ngelihat em apa namanya motif kenapa harus ada wush untuk start a short distance Jakarta Bandung tuh memang perlu dipertanyakan sih. He biasanya itu lu shinkansen kan Tokyo ke Kyoto, Osaka gitu yang jumlah des yang di travel tuh panjang jadi lu butuh kereta cepat.
He. Sedangkan Jakarta, Bandung tuh MBZ aja commute with 3 jam tuudah nyampai gitu. Less lah. Jadi what's the point ya kan purpose-nya itu apa? Tapi kalau purpose-nya untuk legasi orang tertentu ya dapatlah poinnya.
Nah, Sofyan nih gimana? Gua rasa ini beyond legacy lah maksud gua. Gua tanya di Amerika ada kereta cepat enggak lu yang lama tinggal di Amerik? Enggak ada. Kenapa coba?
Karena emang enggak untung, Bro. H kalau cara bisnis enggak enggak untungak untung gua ya di Amerika itu kan everything about number kan lu invest lu harus untung return sekian tahun sekian tahun sedangkan kereta cepat tuh adanya di mana negara-negara yang butuh transportasi apa transportasi publik di Eropa ada dong banyak tapi kan negara welfare state di sana ada negara itu melakukan fungsi sosial benar kata Pak Jokowi bilang dia melakukan fungsi sosial ada artinya harus disubsidi oleh negara negara atau whatever lah whatever lah. Nah, Cina ada dong karena dia yang bikin kan segala macam dan kita tahu bahkan dulunya negara komunis. Gua enggak mau mengakui sekarang Cina negara [tertawa] komunis dulunya negara don't go there ya misalnya gitu. Ee artinya apa?
Hitung-hitungan ekonominya sudah enggak masuk. Clear. Itu dulu yang kita sepakati bahwa kita butuh kereta cepat atau apa sebagai simbol kemajuan. ada fungsi sosialnya, prestara dinasti Selendra. [tertawa] Oke, gua terima itu.
Terus juga Dinasti inense. Sebetulnya kita terlambat bangun itu. He. Seharusnya kayak misalnya Subway, MRT apa segala macam kan udah kayak 10 20 tahun kita terlambat lah. Implikasi dari terlambat itu apa?
Mahal kalau kita terlambat membangun. Kenapa? kotanya udah kadung kacau, kusut, kadung udah ditempati jalur-jalur yang tadinya kosong itu sudah ditempati manusia, ada apa ada segala macam yang jadinya kan untuk bangun infrastruktur tuh jadi mahal. H ee mekanisme lepas dari soal persoalan tata kelola lah biar ahli-ahli hukum aja deh yang ngomong soal itu ya. Tapi betul bahwa memang harus ada negara hadir.
Kereta api dulu juga kan enggak sepenuhnya swasta. H artinya ada di subsidi gitu sama kayak listrik karena memang ada tujuan tertentu untuk jadi katalis pembangunan lah. Kita tahu kalau apa mobilitas itu tinggi otomatis nanti ekonomi juga akan ikut naik lal gitu misalnya. Nah, soal tata kelolanya biarinlah. Cuma maksud gue memang perlu diperhatikan.
Jadi kalau banding-bandingin ini beberapa yang gua baca nih mbanding-bandingin. Oh kita biaya 17 juta per km juta USD ya maksudnya. Di mana kemarin? Di Cina eh sori di Cina 17 juta km 17 juta per km. Di Arab juga 17 kita 52 itu angkanya hampir 3 emp kali lipat lebih mahal.
He ya itu tadi karena kita lewat ke jalur yang apa-a salah satunya itu lewat jalur-jalur itu ya pembebasan lahan segala macam kan costnya lebih besar daripada lu bebasin gurun dari kalajengking ya kira-kira gitulah kalajengking enggak perlu apa namanya uang karahimananya [tertawa] Scorpion King nih Sofyan nih mengingatkan gua pada Scorpion King iya ya tapi berbisa [tertawa] dia dan sejarahnya itu kan sudah dimulai pembahasannya sudah dari 2013 bahkan sebelum pemerintahan Jokowi dari zaman apa masih PSBY waktu itu udah nego sama Jepang segala macam tapi prosesnya nego sama Jepang itu enggak enggak transparan kayaknya maksudnya dari 2013 sudah ada tuh enggak pernah diunikasikan terus dia jadi presiden, Pak Jokowi jadi presiden. Terus tanda tangan apalah MOU dengan ee Presiden Cina bilang e salah satu poinnya adalah itu. Kita enggak tahu artinya apa. Kenapa gua enggak mempersoalkan tata kelolanya itu. Gua yang persoalan artinya ini kan hubungan G to G, government to government.
Government to government. Apakah karena kita memilih Cina hubungan diplomasi sama Jepang jadi buruk? Karena tadinya Jepang sudah counter proposal juga segala macam. Itu keputusan yang diambil oleh Presiden saat itu. Artinya dia aware dengan segala risiko politik, ekonomi, geopolitik, dan lain-lainnya ya.
Tapi faktanya kereta cepat nih ada sekarang dan kita menanggung hutang yang lumayan besar kan kira-kira gitu kan faktanya dan itu yang masalahnya lah. Iya itu sekarang sekarang yang fakta yang harus dihadapi. Angka yang paling banyak digaung-gaungkan itu kan si triliun itu kan. Iya 118 triliun. Oke.
He. Nah kalau carah gua itu itu kan enggak sepenuhnya uang negara sebetulnya utang itu kan utangnya kereta api ee dengan segala macam mekanismenya. Ada yang bilang bahwa itu ditaruh di kereta api, ada yang ada jaminan dari negara atau whatever lah, ada berapa juga yang muncul bahwa kita memberikan jaminan atau apa. Nah, orang yang takut itu adalah supaya kita enggak jadi kayak Sri Lanka yang enggak sanggup gagal bayar, defult, terus pelabuhannya diambil segala macam. Simpel kalau penyelesaiannya menurut gua ya, ada beberapa opsi.
pertama ee ambil alih utangnya sama pemerintah karena kita sudah sadar bahwa secara bisnis ini enggak menguntungkan karena ada fungsi sosialnya. Atau ketika mau diambil secara bisnis mungkin Pak Menteri Purbaya eh sudah bilang bahwa diambil alih dan antaranya aja misalnya yaitu restruk lah. Restroke terus dibenahin secara bisnis ya kan. Ada satu lagi sebetulnya solusi ketiga. Botin aja kayak selama ini BOT build, operate and transfer itu biasa dilakukan untuk projek-projek yang punya kepentingan publik kayak jalan tol.
Heeh. Beberapa ruas area kita tuh sistemnya BOT. 15 tahun, 20 tahun, 30 tahun. Lu bangun pakai duit swasta ee apa namanya? Mereka kelola sendiri, mereka dapat keuntungan dari situ.
Mereka bayar pajak, negara tetap untung. Pajak, negara tetap untung. bayar pajak kan. Nah, nanti kalau sudah 30 kembaliin ke pemerintah. Tapi BOT itu harus ada syaratnya.
Bangun sampai Surabaya. H. Tapi pakai J bukan pakai duit BOT. Gua kasih BOT konsesi. Oke, ini selesaiin ee buat restrak ee tambahin ee apa jalurnya sampai Surabaya BOT 30 tahun.
Enggak pakai duit negara, enggak pakai duit dan antara pakai duit entah dari manah. Pasti kan pakai duit dari Arab. Bukan dong, itu kan duit Cina sudah pasti. Karena kan apa namanya infrastrukturnya sekarang infrastrukturnya Cina sudah pasti. Ya udahlah silakan aja.
Kalau itu banyak dipermasalahkan juga sih terkait serapan TKAitu loh. Jadi maksudnya makin keluar ke mana-mana jadi domino effect itu loh. Kemarundul mundul. Jadi isu ini kan isu ini kan kayak fungsi sosialnya debatable nih. Kalau lu nonton review crawing di mana-mana nih fungsi sosialnya debatable.
Kalau rutenya Jakarta Bandung, terus TKA yang diserap dari proyek KC KCIC ini dikompar komparasi sama Jepang tuh jauh banget. Heeh. He kayak berapa belas sama berapa ratus gitu. Banyaklah perdebatan-perdebatan yang ada di luar sana. Makan itu gua enggak mau kita ingat enggak sih itu dibangun kan 2019 18 17 terus 2019 2020 ada COVID ada segala macam.
J itu enggak bukan persoalan Indonesia aja itu persoalan dunia maksud gua ya. Pasti itu akan ada penyesuaian pembengkakan jalur logistik. Kita ingatlah dulu sampai ada klien kita yang kesulitan dia jualan barang di sini kan dia kesulitan punya barang stok kan. Heeh. Artinya itu kancing dan orang kadang lupa bahwa kita pernah ngalami itu sekarang terus baru ribut-ribut sekarang soal itu gitu.
Buat gua kalau soal tadi soal harga ya udah kasih aja konsesi misalnya emang kita punya kemampuan secara teknologi secara sumber daya untuk bangun itu kan enggak. Hm. Jadi menurut gua ya udah bangun sampai Surabaya BOT tapi ada transfer of technology-nya karena nanti di 30 tahun itu teknologi sudah offsolid kok. Udah obsolid. Jadi ya udah kasih aja gratis gitu ke Indonesia apa susahnya gitu.
Tinggal negotiate lah presiden yang sekarang. Jadi kebijakan tuh jangan separuh-separuh gitu. Nanti perganti presiden ininya berhenti apa cuma ya enggak gitulah maksudnya kita berpikirnya sebagai bangsa nih bukan bukan apa rezim ke rezim gitu. Kalau enggak ya mandek-mandek aja terus. Jadi itu my two sense lah.
Oh iya iya. Nanti tolong disampaikan ke Pak Menteri Keuangan. Oh iya ya ya mudah-mudah ini ide Sofyan ini akan mendorong ekonomi tumbuh sampai 8% [tertawa] apa sih gua enggak tahu hubungannya apa. Engak tahu [tertawa] pokoknya sampai sana-sana kayak naik kuda dia back mountain lagi ya. [tertawa] Film favoritnya Adwi dionton berulang-ulang.
Eh, kalau dari gua itu sebenarnya solusinya it's part of it, a big part of it. Heeh. Tapi mekanismenya yang gua mekanisme pembuat pengambilan keputusan itu yang pengin gua soroti karena gini, oh iya okelah ee solusinya ini, gitu. Tapi kita kalau misalnya kita enggak benar-benar teliti kenapa it becomes a problem in the first place, lu akan ngulang-ulang terus, cuy. As a country ya.
It's one mistake after another after another. Maksud gua, gimana caranya yang kemarin itu bisa geser dari Jepang ke Cina, right? Whatever the decision making itu, itu yang mesti apakah perlu dilibatkan eh pihak lainnya? enggak bisa cuman eksekutif doang misalnya, right? Ee supaya e atau mungkin bisa lebih transparan.
Nah, yang itu menurut gua yang probably moving forward yang perlu diperhatikan gitu bahwa sekarang solusinya ya menurut gue yang tadi lu sebutin makes a lot of sense gitu kan. Kayaknya iteviates a lot of problem from a lot of parties lah. Iya. Tapi kan lucu kalau misalnya masalah ini selesai and then we make another one and then we make another one. Jadinya eh I'm not the guy untuk mikirin gimana caranya.
Tapi at least kita bisa highlight di sini gimana ya caranya ke depannya supaya those type of mistakes itu kita bisa eh evade. Jangan sampailah avoidable lah ini sebenarnya. Enggak. Yang gua khawatir adalah ini kan dihadapkan tiga opsi tadi itu nanti dipersoalkan lagi di rezim berikutnya kan lu ngoper ke belakang. Iya kayak gimana sih maksud gua?
Iya ini nih kalau ditarik lebih mundur lagi Samara Tungga di Salendra [tertawa] mundur ke abad 8 sebelum Masehi. Abad 8 Masehi ya kan. Jauh juga nariknya nih yang ya gua gua ee yang tentang Surabaya itu gua cuman I wish ada data yang jelas aja sih ya Surabaya, Jogja, whatever lah diperlukan apa enggak gitu. Kalau misalnya tiba-tiba enggak diperlukan what are we doing man? Kayak Heeh we repearing gitu.
Kalau emang lu kan datanya ada Kementerian Perhubungan ini traffic manusia dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya ini per hari berapa? Benar. Benar benar. Dan kalau lu bikin ini lu absorb berapa? Right.
Terus apa impactnya ke penerbangan, right? Yang kayak gitu-gitu kereta yang biasa. Iya, right. Kalau misalnya lu menggantikan itu yang lama terus ngapain? Jalur kapal pelni.
Jalur kapal pelni. Adwi kan mau berlabu nih. Mau naik kapal dia. Dia sambil berenang soaliler. Dia kan ocean manen [tertawa] kapal jalan duduk diikut.
Iya dia ikut dari belakang. Lumba-lumba Aquam. Lumba-lumba [tertawa] lempar koin nyelemen bang. Aquamen memang dia masa kecil itu. Heeh.
Masuk ke berikutnya. Eng dari Aquaman ke brand Aqua masuk kan [tertawa] tuh. Makanya gua enggak tahu apa yang terjadi dengan brand Aqua ini. Itu ya katanya dipakai air tanah. Hm.
Ya, gua enggak tahu ya maksud gue. Tapi kan air asli dari apa tagline-nya? Air asli pegunungan. Pegunungan. Eh, pegunungan mana?
Asik. [tertawa] Heeh. Itu yang dimasalah dipertanyakan sama netizen kan. Coba coba recap-nya lu kayaknya ngikutin enggak? Jadi intinya adalah ada sidak ke pabrik oleh Oh, KDM.
KDM. Heeh. Sidak kepabrik. KDM itu Gubernur Jawa Barat. I ada sidak sama dia biasalah ya kalau ngikutin konten-konten dia kan begitu ya.
Iya. Dia sidak terus ke sana itu dia ngobrol sama salah satu pekerja lah, pekerja pabrik. He. Yang for sure mungkin enggak pernah di media train, enggak pernah enggak pernah tahu gitu apa yang do and don't ketika ngomong di ranah publik. Jujur aja.
Jujur jujur aja gitu. Nah, intinya adalah ee yang dipermasalahkan itu air yang diambil itu bukan air dari gunung perse gitu loh. Karena mereka punya sistem air permukaan namanya. Dia ada ada Aqua tuh danun mengeluarkan statement setelah itu tuh mereka punya sistem lupa gua namanya apa. Mereka ada sistem yang dia tuh sebenarnya enggak ngambil air yang terkontaminasi oleh manusia gitu.
Memang benar-benar air dari pegunungan quot unquote tapi enggak harap dari gunung. Hm. He. Cuma di framing seperti lu ngebor air tanah ini mah gitu. Iya iya iya iya.
Ada istilah teknisnya sih waktu itu. Ada istilah teknisnya gua waktu ee apa bantu Kementerian PUPR dulu di SDA. Dia memang air tuh diatur tata kelolanya. Ada air tanah namanya terus air apa lagi segala macam. Nada.
Memang air air air yang bawah itu harus di air zam-zam bukan air di bawah tanah itu memang ada ketentuannya ada licens-nya untuk itu yang which gua yakin ee apa perusahaan sebesar Danon Aqua itu apa comply lah dengan regulasi tersebut. I. Nah, cuma persoalannya kan menerjemahkan ini ke publik luas gitu. Artinya apa yang kemarin dilakukan karena benar kata si apa ee Stef tadi mungkin enggak belum media training atau apa. Jadi statement yang keluar itu seolah-olah h ee eksploitatif kan begitu kan eksploitatif yang wit sebetulnya kalau memang enggak diregulate penggunaan air tanah itu itu ganggu macam-macam bisa ganggu struktur tanah lah bisa ngurangi apa ngurangi ketersediaan air lah kan air tanah orang sekitar kesulitan segala macam kesulit kalau lu nariknya in that amount of kuantitasnya segitu ya of course lah I kan iya ya.
Itu yang menurut gua, buat gua sekarang sesederhana bahwa ini problemnya komunikasi sih. Komunikasi asli ini jadinya kasarnya sekarang Aqua menghadapi krisis gitu dan I tanya step lah yang gua enggak gua baru cuma baca satu lembar apa Instagram ya. Asik. Jadinya inosense kayak gitu. Insense kayak gitu.
Jadi ee sidak itu dari video viral itu tuh ya jadinya ke mana-mana ya. Jadi kayak ngomongin soal tadi mengganggu struktur tanah. Nah, terus kebetulan di daerah situ ada longsor pula yang enggak tahu directly orly karena sekarang jadi dikait-kaitin bisa. Oh, lu ngambilnya dari tanah. Pantesan gua longsor tuntut.
Betul. Jadi ini local community NGO sudah mulai bersuara karena dianggap ya tadi ee lu menyalahi tata kelola air dan lain-lain dan lain-lain lah. Intinya intinya begitu. Dan orang yang di ee interview sama Bapak ini adalah orang yang basically enggak pernah media tren. You can tell," gitu.
Jawaban dia literal aja. Ditanya apa, jawab apa, ditanya apa, jawab apa? Karena ya lu nanya gua jawab karena gua punya jawabannya gitu. [tertawa] Terus bapaknya juga menggiring. Iya.
I jatuhnya menurut gua jatuhnya jadi kayak attacking aja sih. Konfrontatif banget lah ke orang yang di pabrik. Oke. Namanya sidak sih. Kaget juga kali itu orang ya.
Iya. Tapi ini juga I guess from all these things yang gua eh dengar itu kayak pentingnya orang PR juga berarti dong. Onside. Onside. Iya.
Right. Lu ya gimana ya? You need to invest man. Right? di manapun lu ini kita juga for clients bukan clients whoever lah buat bisnisnya sekarang karena style-nya sekarang nih banyak eh leaders pemimpin tuh yang datang tuh bawa kamera, right?
Yang social followings-nya besar jadinya things can get viral very easy, right? Jadinya kalau lu enggak supply the right answers eh di momen-momen seperti itu, ei man ya ini contohnya you can get seconds within seconds eh you can get in trouble gitu jadinya eh invest di PR people right itu kayaknya moving forward semakin penting lagi considering yang kayak gini nah bukan hanya eh kepala daerah anggota DPR eh whoever lah they can bring their own team gitu social media team yang bisa ee you know kalau lu jawab dengan baik, ei good PR. Iya dong. Iya dong yang nonton banyak. Heeh.
Nonton banyak. Heeh. Kita menyerap sebagai e berapa besar apa tenaga kerja dari sekitar gini. Kita punya program ini aman semuanya lah. Itu dia.
Kalau lu salah jawab eh beginilah. [tertawa] I right simple as. Kalau lu taruh orang PR pada saat itu. Iya. dia bisa ngerti, right, apa yang di-highlight, apa yang bisa difokus bridging dari A B ke C ini kan lebih ee inilah lebih lebih flow apa flawless atau lebih I itu yang kita lakukan kan kalau misalnya oh nanti kalau misalnya ketemu ini ini ada kalau media yang nanya jawabannya begini, kalau pemerintah yang nanya jawabannya begini, kalau stakeholders lain yang nanya jawabannya begini.
Kan i kita biasanya sudah bikinin skenario terburuk. He nih skenarionya. Habis itu kita latih ketika skenario ini terjadi apa yang dilakukan? Ketika skenario yang itu terjadi apa yang perlu dilakukan? Eh eh preparation stage-nya tuh memang panjang.
Iya tapi wajib dilakukan ya kan untuk mencegah hal-hal yang seperti ini. Nah tapi pertanyaan gua itu adalah sini gua jawab. Apakah [tertawa] krisis ini tanda petik mempengaruhi bisnis Aqua? Nah itu good question. H itu kita gimana gua tahu [tertawa] harus lihat dulu datanya yang punya Aqua kali bukan kita juga tapi ini industri air mineral nih lumayan ini ya lumayan cutroad lah ya karena beberapa waktu lalu juga sempat ada campaign gua enggak tahu deh campaign atau enggak bahasanya tapi ya itu isu terkait Aqua galonnya BPA mengandung BPA mengandung ini mengandung itu.
Jadi this is an industry yang very prone to crisis. Heeh. Jadi secara bisnis apakah berpengaruh atau enggak pasti ada L ya efeknya. Secara branding itu kan enggak enggak enggak mudah dan dibangun berpuluh-puluh tahun oleh Aqua dan jadi gradually tuh brandingnya ter ini loh ter apa namanya? Terusiklah dengan isu-isu yang dibangun.
Iya. I ya ya kalau jangka pendeknya tuh Kementerian ESDM katanya sudahudah mulai akan melakukan peninjauan review terhadap izin SDM ya. Iya, Idm bukan PUPR SDA ya. Enggak tahu gua. ISDM nih di berita.
Okelah. Heeh. Lembaga pengawasan konsumen juga. Padahal sebenarnya secara secara proses harus tata kelolanya sudah baik gitu kan. Mereka ada sistemnya harusnya ya sekelas itu loh ya.
Pastilah enggak mungkin dia ngambil dan nonal gitu. They have [tertawa] e standard pasti dia respon dia social responsibility-nya, good governance-nya pasti sudah dilakukan dengan baik. Tapi ini adalah bentuk crisis yang mungkin they don't expect it to happen ya. Eh, karena disidak website ee dari informasi yang tersedia online ya, slogan iklan dia dari tahun 6 sampai 2024 itu enggak ada claiming bahwa itu air dari gunung. Ada air enggak ada.
Enggak ada. Terakhir itu 100% murni. Sebelumnya murni dan terlindungi. Aqua dulu terlindungi untuk melindungimu. Kebaikan hidup.
So, everything just e revolve around hidup dan murni. Heeh. He. Tapi yang jadi ee netizen ini berdebat tuh kayaknya karena visualnya adalah gunung. Oke.
E man like sending lah. Itu dia enggak bohong. Emang dari gunung kan memang dari gunung enggak ada bohong. Gua rasa udah dipikirin juga jangan [tertawa] sampai salah. Maksudnya companies as big ason ya maksudnya masa beginian enggak dipikirin gitu.
Iya. Terus netizen tuh banyak yang bilang, "Oke, tagline lu nih, rekomendasi dari netizen adalah Aqua Air Tanah [tertawa] ya, netizen ya, bukan gua ya. Gua cuman merangkum aja nih, gua baca-baca tuh jadinya tagline, tagline versi netizen sekarang Aqua air tanah." Oke. Eh, iPhone 17 ya yang baru launch kemarin. E, it's just interesting.
Banyak banget gua gua ngelihat itu banyak orang kayak eh jangan beli karena ini apa? Scratch gate or whatever, right? Gampang lecet ini. Tapi pas lu jualan laku-laku aja. Gua enggak ngerti sih how they do it.
Jadi maksudnya yang menarik tuh justru aspek itu. Maksudnya dari tahun ke tahun harga juga enggak pernah turun. He. Ee kritik juga enggak pernah berkurang malah nambah. Tapi yang gua bingung memang animonya enggak pernah habis.
He. Iya. Jadi kalau dari segi komunikasi, I think this is a different game of branding ya, different game of PR juga ya buat Apple ya. Iya. Jadi sekarang ini shoutout buat Data is beautiful.
It's a YouTube channel. E gua gua nge-fans aja kayak progres gitu. True time. Cek cek dia naik gua gua play ya. A promosi enggak sih?
Kayak dia naik turun. Nah ini gua pengin ngelihat nih yang bagian OS. Oke. Nah OS ini kalau enggak salah Windows sama Mac. Heeh.
He baru keluar tuh untuk Apple tuh kalau enggak salah di baru masuk top 10 ya karena dia ngelihatnya top 10 2000 Maret 2010 itu baru 1,5% H apa namanya untuk market share market share OS ya ini nih beda sama Mac beda sama Windows. Android belum ada bahkan kan pada saat Blackberry 1,5%. He iOS 1,5% juga 154. Ini 153. Ini snapshot eh April 2010 ya.
Fast forward ke sekarang itu gua kayak very surprised 18,5% man Apple OS. Oke intinya eh it's very surprising gimana dari tahun ke tahun dengan all the criticism. Ah kameranya bagusan ini, bagusan ini. Ah ini gampang lecet. Tapi lebih ke fenomena ini ya, Mas sebagai orang yang di industri smartphone cukup lama ya.
It's hard man to stay relevant. Susah cuy. Hard. It's very hard to stay relevant. It's very hard to leave up to the hype juga tuh susah.
Jadi dengan apa yang Apple lakukan itu it's not dan itu tuh proses lah. Maksudnya dulu tuh pasti mereka sudah melakukan a lot of the right thing sampai bisa di titik ini di mana orang tuh melihat itu tuh sebagai prestige, regardless of the critic dan lain-lain. Jadi yang perlu di ee apresiasi adalah dari segi komunikasi, dari segi branding, dari segi produk. Itulah. Cuma ada satu yang menarik relevan yang gua pengin lihat gimana dia handle campaign-nya Xiaomi ini yang dia bikin produk sama persis sama Apple.
Bahkan dia skip skip the numbering-nya. I biasa harusnya kan nyamain. Gua kan kemarin pengin yang 11 itu kan senya kan dia 11 kalau enggak salah ya sekarang 10 11 11 harus harusnya kan setelah itu kan Mi ini Mi ya eh 13 sor sori sori dia harusnya Mi 13 Xiaomi sori Mi 13 15 harusnya eh 15 harusnya 15 langsung harusnya 15 harusnya yang gua tungguin harusnya 16 kan gitu yang setelah ini dia langsung skip langsung ke 17 oke dengan penamaan yang sama 17 Pro Xiaomi 17 Pro Max 17 Pro 17 Pro Max dengan tampilan yang sama persis. Hm. Enggak ada gitu, bahkan lebih canggih.
Ada layarnya, ada layarnya bisa diituin gitu-gitu. Gua pengin tahu dan ini kan kempin yang soal ini kan udah agak lama kemarin yang dibikin apa iklan di koran terus yang dipersoalkan sama iPhone kalau enggak salah. Gua pengin tahu sebetulnya gimana sih Apple tuh meng-gandle campaign. Gua gua enggak yakin bahwa produk Xiaomi kemudian bisa nyamain compete sama Apple juga walaupun secara tchnikal ya. Udah ada gua nonton kemarin review-nya dari Amrik, YouTube-YouTube Amrik lah, youtuber-youtuber Amrik lah yang mengkomparasi.
Teknically secara teknis semua tuh apa lewatlah Apple. H ini Apple tapi better dia bilang gitu. He he. Kayak misalnya soal gua kasih contoh soal baterainya pindah ke Android lagi. Soal baterainya nih.
Baterainya Apple tuh kalau enggak salah cuma 5.000 misalnya. Iya kan? Si Xiaomi yang sama sih Pro itu 7.500 cuy. Si youtubernya bilang kalau lu mau ngecas ini iPhone dari 0 sampai 100 pakai headphone Xiaomi bisa. Dia bilang secara secara teknis on paper emang selalu begitu.
10 tahun terakhir itu selalu begitu. Iya. paper. Jadi secara teknis perbandingan itu tuh dilakukan the past 10 years dan Apple tuh enggak pernah menang. In all of our lunches dulu tuh enggak pernah menang.
He. Tapi Heeh. Just a full disclosure setelah gua pakai sebab gua pengguna Apple dari 2000 he 10 juga sih ya. He. Jadi gua mengkomparasilah pasti kan secara experience itu tetap beda sih.
Heeh. Gua gua gua enggak bisa bilang lebih baik lebih buruk ya. Tapi tetap lebih beda. Itu kan Miui kan. MIUI Xiaomi iPhone tadi kan iOS kan jadinya sekarang pertarungannya itu bukan lagi di hardware dong kalau berdasarkan yang San bilangara user experience itu tetap beda tetap bed gua pengin mendalami itu ya makanya gua gua pengguna Android T land lah tulen to artinya gua sama sekali kayak the past 20 tapi harus beli iPhone kenapa coba jelasin entar dulu [tertawa] the past 20 years gitu gua enggak pernah ganti HP H artinya Android ganti HP untuk memperbaruin lah Android Android teruslah ganti-ganti HP cuma mutu memperbar pakai Android dari 2007 tadi ya sebelum [tertawa] Android ada dia udah pakai 2006 dia 2017 kali maksud dia enggak mungkin juga ada ini mengingatkan gua pada sama [tertawa] ya tahun ini gua memutuskan beli HP Apple H ee gua beli apa 16 lah pro macam kenapa atau gua kasih nomor sendiri gitu.
Gua pengin ngerasain aja apa namanya ee experience-nya. Hm. Yang gua merasa enak sih, nyaman gitu. Cuma gua belum dum phone ya. Heeh.
Gua orang kan dumpone g. Iya. Gua enggak mau transisi ke iPhone juga tapi gua ngerasa ini oke. Gua pakai buat foto, gua pakai untuk simple things lah. Maksudnya yang gampang-gampang gitu kayak connect ke mobil.
Akhirnya gua pakai Apple CarPlay yang gitu-gitu aja. di bawah ini di kagak enggak gua cukup pengin cuma pengin tahu aja untuk merespon Sofan tadi gimana caranya Apple handled dan lain-lain yang gua rasakan selama ini tuh dia enggak peduli cuy i you handle it by not handling it jadi lu mau compare lu mau bikin apa-nya diam aja maksudnya soalnya thank you for the mention as much as I want to be attacking them personally ya dari dulu kan kita kan selalu tuh kiblatnya tuh ya Udah compare aja ini, ini Apple-nya enggak pernah bereaksi. Never. Iya. At the end of the day, margin mereka selalu lebih tinggi.
Iya. Secara revenue tetap lebih tinggi. Mau market share turun, revenue naik. Jadi lebih ke user experience sih. User yang lu bayar dari iPhone tandanya adalah user experience ya kan.
Sofyan. H. Imitation is the sincerest form of letter. Yes. Wis gila keluar kata-kata mutiara.
[tertawa] Asik. Jadi semakin dicopy, oh ya kan. Iya. I tapi ya mereka prinsipnya ee yang yang secara kita juga kayak gitu kan konsepnya. We make originals man, we don't make copies.
Iya kan lu lu mau mengcopy kita terserah lu. Tapi how we do think we do it originally. Ini kita banyak ada beberapa kritik ya kalau kita propose apa bos-bos jangan dikasih itu presentasinya jangan dikasih itu kita kasih [tertawa] banyak bro lu ambillah ambil suka-suka entah soal bisa ngerjain atau enggak itu beda-beda [tertawa] cerita iya itu kan balik lagi ke prinsip ide itu murah iya benar eksekusi eksekusi yang mahal tapi eksekusinya gimana kita enggak pernah tuh ngumpet-ngumpetin apa [tertawa] strategi lah apal dulu dulu when I was younger you know kayak kadang-kadang eh jangan dong gitu tapi semakin dewasa semakin tua gitu who cares man lu bisa ng [tertawa] you know lu bisa ngambil satu masih ada 1000 lagi sini iya i either lu dapat yang ini atau lu dapat itu terserah lu lah lu mau ng kita enggak pernah it jadi yang menjawab tadi kalau apa the way handle things they never respond loh waktu itu enggak enggak ya adaak Ada cuy respon. Oh kita iniak enggak deh. Bodoh amat.
Don't that's how they do the PR aja. The product speak for itself. Ya. Heeh. Iya.
Kayak praksis lah. Enggak jauh-jauh beda ya. Coba coba sebagai presiden direktur. Jelas. [tertawa] It's how we are.
I kan. I gua sampai situ [tertawa] thank you everybody untuk e tune in terus sampai all the way to the end walaupun ini bukan akhir ya. Actually, we have another session uncore sama Jessica. Tapi at least untuk bagian ini kita tutup dulu. Eh, that's it.
Gua Mercy, [musik] Stef, ada Sofan, ada Adwi, ada Chris. [tertawa] Thank you everybody. Thank you. J, welcome back. Jadinya e kita ada beberapa pertanyaan.
Maybe Step can start with first question. Dek, kita kayaknya udah sempat ngobrol nih kemarin ya, pas actually lu di Sydney. Gua nanya tuh, lu kali ketiga kalau gak salah waktu itu kan, gimana? How are how's the trip so far? lu happy enggak lu apa yang lu lakukan dan lain-lain.
Nah, pulang nih eh you have gone through the whole week of festival eh South by Southway di Sydney. Pada saat sebelum lu go kan you actually bikin deck, you you research, you read a lot about different things. Nah, pasti ada ekspektasi dari sana kan? Like after you go and after you join all of the session, did you did you think your expectation and the reality mean? Hm.
Eh, definitely. Oke, sebenarnya ada dua ya yang mau aku highlight. Yang pertama itu aku sempat mention di call kita pas kemarin itu tentang AI. Oke, kayaknya sekarang semua orang ngomongin tentang AI. Emm, gimana cara mengaplikasikannya di kantor masing-masing, di industri masing-masing.
Tapi kadang kita lupa untuk belajar gimana sih ng-treat ini secara bijak gitu ya. Oke, itu yang aku belajar dari ada salah satu session dari Cyber CX, dia IT Management Company di eh Singapura. Salah satu principal consultantnya kalau enggak salah dia yang ngasih insight bahwa sebenarnya data kita itu exist on a spectrum. Jadi, ada yang public, ada yang private, ada yang agregated, ada yang intimate. Oke, gitu.
Misalkan contohnya kayak social media itu our personal data tapi dia made gitu ya. Karena kita yang secara sadar nge-share sendiri. Tapi ada juga data-data tentang mungkin kesehatan kita atau psychological e behavior itu yang eh private dan orang enggak ada yang tahu gitu mungkin. Oke. Kayak gitu.
Makanya perlu AI ini perlu kita hadapin secara bijak, menggunakannya secara bijak supaya ee enggak salah terutama when it comes to data security gitu. Karena dia bilang juga AI itu punya beberapa kelemahan. He. Dia bisa bocor, dia punya bias terutama kadang tentang SARA pun dia punya bias gitu ya. Terus dia kadang bisa berhalusinasi juga gitu.
Oke, benar lagi ya kan kadang AI juga suffer from human failings yaitu misunderstanding context dan not adapting gitu. Makanya setelah dia menceritakan soal itu, dia kasih tahu juga gimana caranya kita bisa tetap menggunakan AI tapi use it safely and wisely gitu. Yang pertama, avoid sharing personal work information, terutama pagi kita bekerja dengan klien gitu ya. Terus eh pakai bukan cuman passwords, tapi past phrases yang lebih kuat gitu, including eh multifactor authentication. Terus kita harus stay updated sama platform policies.
Walaupun si terms and conditions itu mungkin 50 halaman ya, tapi kita baca pakai AI. [tertawa] dimasukin AI lagi. Tapi sebetulnya itu penting untuk tahu sebenarnya data kita nih dipakai untuk apa dan dioper ke mana gitu. Terus always verify. Kayaknya itu yang kita juga selalu tekanin di praksis gitu ya.
Dan stay informed karena eh mau enggak mau kita akan menggunakan in some ways gitu ya di pekerjaan di kehidupan pribadi. Tapi ya best that we can do adalah use it wisely and keep ourselves educated. gitu. H itu yang untuk aku sendiri ya itu si eh neurarketing itu gimana mengombinasikan the scientific aspect in our brain dengan psychological terus mengubah itu jadi insights eh untuk memahami ee cara berpikir kemudian pola customer dalam membeli kayak gitu sebenarnya ee ini yang ngomong by the way namanya Sarah dia owner dari 22 digital eh a marketing agency in Brband kalau enggak salah. Oke.
Jadi cara orang memproses informasi itu ada dua. Ada human emotion, ada brain function. He. Kalau human eh emotion itu eh setiap orang beda-beda. Aku sama KF sama Mas Mercy cara melihat satu benda mungkin beda.
Tergantung upbringing, tergantung ee pendidikan mungkin dan lain-lain. Tergantung emosi kita di hari itu. Ya, itu yang mungkin berbeda. Tapi when it comes to brain function sebenarnya mirip-mirip. Oke, kita perceive, kita interpret dan kemudian kita merespon.
Semua orang eh pada umumnya kayak gitu cara mengolah informasinya gitu. Nah, si universality-nya itulah yang memungkinkan si neurarketing jadi possible karena ada shared itu yang bikin neurarketing possible gitu. Nah, kemudian dia ngomongin juga sebenarnya ada beberapa quks di otak kita yang ee mempengaruhi eh pola pembelian gitu. Ada novelty detection itu ketika kita ngelihat sesuatu yang baru ee kita eh kasih attention ke barang itu. Kemudian mere exposure effect.
Semakin sering kita dengar sesuatu semakin sering lihat billboard-nya di jalan, ngelihat iklan di TV. melihat di handphone semakin familiar dan semakin likable, semakin pengin makin. Kemudian semantic saiation itu repeating a word too many times sampai dia lose meaning. Nah, si kadang kita gitu ya, kayak ngelihat satu kata mikirin dan ngucapin itu terus sampai kata itu udah enggak ada artinya lagi. I sama yang terakhir itu habituation.
ketika ee stimulus itu diberikan terus-menerus sampai otak itu jadinya eh itse for us. Nah, sweet spot yang ideally ada di marketing itu adalah di novelty detection sama mere exposure effect. Jadi orang familiar enough dengan brand kita untuk suka dan percaya tapi tetap ada sesuatu yang baru. Noveltyah itu setiap selalu ada yang baru untuk tetap eh keep us engagedulah kurang lebih. Nah, menurut aku ini relevan juga untuk ee kita sebagai PR consultant karena ketika kita sudah mengerti how it works up here, hm.
kita jadi bisa design campaign or message yang bisa better engage our audience gitu. itu sih I think very interesting way of doing marketing ya karena yang tadi J bilang juga bahwa ada dua aspek yang penting gitu and one is really kayak not cannot predict kan karena everyone has a different history, bringing education eh dan lain-lain lah. Tapi yang satu ini it does seems like it has a pattern that you can track. It has a it it respond to the same thing lah. Jadi ini bisa dipelajari gitu.
Dan in the future bukan jadi hal yang impossible untuk orang actually doing this more neuromarketing ya. H h. Anyway, eh moving forward you you think people should go right now that you experience kan nanti tahun depan harusnya kita send to go over there and experience kind of the same thing that you did. Tapi not only for us lah itu that's that has been decided we're sending. Tapi yang lainnya gitu.
You think more people should go and see what it's all about atau apa? H iya sih karena menurut aku it's a very good learning experience. He. Dan definitely ketika datang ke sana harus dengan mindset I'm not the smartest person in the room. Y absolutely I'm maybe the dumbest.
He gitu ee ya itu datang dengan mindset mau belajar, mau menyerap, mau kenalan dengan orang baru ya gitu sih. Jadi dan itu tadi karena berangkat cuman sendiri jadi semakin banyak I'm not much of a planner when it comes to traveling. Mungkin kalau di pekerjaan iya, tapi di traveling I'm more of a go with the flow flow type of person. Oke. He ya.
Ketika sendiri beneran itu tadi karena cuman bergantung sama diri sendiri kan harus plan out the day dari bangun sampai tidur ya ke conference yang mana aja mau sambil makan apa dan lain-lain itu pengalaman yang berharga banget sih kalau buat aku. Oke, I think lah ya maksudnya expectation juga internally dan harapannya itu berikut-berikutnya the next batch they will learn more they will expect more and will be bringing a lot more creativity lah into the into the group ya ya ok I think that's about it thank you J for dropping by nanti kita obviously will look out for the sharing session internally. Sayangnya [musik] dibagikan di YouTube or in this podcast. But ya, that's about it. Thanks everybody.
Yeah.