Episode 019 · Guest · Danang Aradian · 8 Dec 2025

The bitter reality of EVs: 'charge anxiety' and Indonesia's SPKLU drama

78 min · Indonesian · Proxemics Podcast

Would a Rp250 million electric SUV break the market? In Proxemics 019, returning guest Danang Arradian (Cak Dan) dissects the electric-versus-hybrid war, the aggressive rise of Chinese brands, and the very real ‘Charge Anxiety’ facing Indonesian EV owners.

The debate starts at GJAW, where a flood of new brands and a sub-Rp250 million electric SUV rattle the pricing order. Cak Dan contrasts two mentalities: China chasing world domination through feature overload, while Japan — Honda in particular — perfects the hybrid and tries to give EVs a ‘soul’ with touches like fake manual gears and engine sound.

He also weighs whether EV tax incentives are actually fair, and argues that PHEV may be the genuinely ideal fit for Indonesian conditions.

On tech, the talk pivots to why the iPhone keeps selling despite thin innovation — Apple selling experience and prestige over specs — and how Gemini Live already feels like a companion to talk to in traffic, straight out of the film Her.

Then the sting in the tail: not range anxiety but Charge Anxiety — the drama of full, broken and queued-up SPKLU stations that turns ownership into a test of patience.

Cak Dan also touches the future of media surviving in a shifting equilibrium, and why smartphone innovation has stalled even as Apple’s market share keeps climbing on the strength of user experience alone.

For anyone torn between a Chinese EV and a fun-to-drive Japanese hybrid, this one settles the argument. Press play.

Jump to

  1. 00:00 The Rp250 million SUV
  2. 01:12 Cak Dan returns
  3. 02:54 GJAW: flood of new brands
  4. 05:40 ‘J5’: EV SUV at LCGC price
  5. 11:39 EV tax incentive debate
  6. 16:05 Honda’s hybrid strategy
  7. 21:55 Japan vs China: perfection vs dominance
  8. 29:43 Smartphone stagnation & Apple
  9. 42:20 Talking to Gemini Live
  10. 54:00 Reality of EVs: Charge Anxiety
  11. 1:07:40 Why PHEV suits Indonesia

On the mic

Quick facts

FAQ

What is ‘charge anxiety’?
Beyond ‘range anxiety’ — the frustration of Indonesia’s public chargers (SPKLU) being full, broken, or backed up with queues.
Are EV tax incentives fair?
The panel debates whether the incentives mostly benefit wealthier buyers, a thread the show returns to later in the catalogue.

Listen & watch

YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.

Transcript

Show full transcript

Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.

Kenapa J5 itu e menjadi viral banget? Karena dia bawa SUV di harga Rp250 juta start-nya. Pajak tahunan mobil Denza yang harganya Rp1 miliar 143.000 lebih mahal lebih murah dari pajak motor. Ini kan apa gimana nih buat kita? It's not fair gitu.

Iya EV itu boring ya. EV itu membosankan. EV itu soulless tidak bernyawa. Iya kan? EV itu boring.

Itu tidak tidak bernyawa. kencang ya emang kencang pasti. Nah, Honda berusaha kayak menghembuskan nyawa di EV. Oke, antrian ketiga. Antrian ketiga.

Ngapain? Ngapain lu ngantri orang ngecas? Kan enggak tahu dia selesainya setengah jam sejam lu antrian ketiga. Bro, 3 jam, Bro. Makanya itu belum mobil lu ngecas loh.

Lu masih nunggu orang ngecas. Kenapa enggak nyari yang lain sih? [Musik] Hello everybody. Welcome to another episode of Proxemics. Jarang banget.

Enggak pernah. Bahkan gua memulai podcast tuh dengan permintaan maaf. Asik. Singkat cerita, episode ini tuh harusnya udah terjadi 2 3 bulan lalu lah. September.

September ya kan? 2 3 bulan lalu. Tapi karena technical difficulties itu kita akhirnya enggak tayang. Jadi gua mesti minta maaf sama tamu kita yang hadir lagi di episode kali ini. Anyway, eh gua consider tamu kita hari ini tuh as a friend.

Gua kenal udah lama eh dari sejak dia muda dan gua juga muda. Asik. Ee sejak itu udah makin canggih lah. Gua udah enggak ngerti lagi ya kan. udah udah terlalu banyak ee hal-hal positif yang nanti mungkin kita bisa bahas.

Anyway, dia jurnalis, content creator, influencer, trainer. Crazy man. Anyway, tanpa kita buang-buang waktu lagi, welcome dulu to the program Danang Arradian. Terima kasih. Terima kasih.

Terima kasih, Bro. Welcome ya kan untuk kedua kalinya. Kedua kalinya. Walaupun waktu itu enggak tayang. Gimana gimana nih?

Minggu ini lagi ribet GJAW. Betul. Betul. Lu lihat apa yang menarik? Nah, ini pertanyaannya itu kan harus kan biar wajib pertanyaan wajib.

Heeh. Ya, banyak ya. Jadi tiap tahun ternyata pameran otomotif tuh ada selalu ada yang baru. Sekarang itu lebih seru ya ngelihatnya ya. Lebih seru.

Karena dulu mungkin pameran kita tunggu beberapa model baru okelah. Tapi kalau sekarang itu sudah kayak brand baru gitu. Bukan hanya model baru, tapi ada brand baru yang masuk yang membawa mobil-mobil yang macam-macam juga. Hm. Jadi makin banyak.

Ada beberapa hal sih yang bisa disampaikan. Asik. Asik. Satu. Dua.

Oke. Satu ya. Ada brand baru yang masuk dan kayak misalnya ee yang baru ini adalah ee Changan. Changan. Changan.

Changan atau mobil. Dia bawa tiga model langsung ya. Ada model SUV, ada model yang ee mobil listrik kecil. Oke, ya. Macam-macam.

Kemudian yang kedua ee beberapa model eh Leapmotor juga ada. Leapmotor Leapmotor bacanya Leapmotor. Leapmotor Leapmotor bukan bukan lepas. Heeh. Gua kan kalau belum dengar orang ngomong nih bacanya apa ya?

Kita insting kan langsung lepas kan. Leapmotor karena diawali dari leopard. Leopard. Leopardnya mereka gitu. Oh, gitu.

Leapmotor. Jadi ada ada Changan, ada Leapmotor. Kemudian yang baru lagi ee mobil-mobil listrik harga yang terjangkau itu semakin banyak. Sadis ya pilihannya. Heeh.

Dan ee apa-apa Kak yang yang stand out banget. Stand out banget. Ee gua udah tahu jawabannya lagi. Yang paling stand out. Yang paling stand out.

Gua udah tahu lagi jawabannya. Tadi lu bilang banyak yang harga-harga terjangkau kan. Yang mana yang paling stand out? Yang mana Stef? Coba kadang lu tahu jawabannya.

Coba lu jawab dulu. Kalau gua enggak salah ya, dia pasti akan menjawab yang pertama itu J5. J5. Terus yang kedua apa? Dari gua cuma tahu satu sih.

Lu cuma tahu salah satu jawab J5 ya. J5 ini yang berapa? 250 sama 49 sama 299. 299. Hm.

Itu gokil. Itu gokil. Apalagi? Ada lagi yang selain itu yang mobil listrik agar terjangkau. Eh, Changan bawa Lumin.

Kemudian ada Geely EX5. Kemudian ada lagi beberapa ya GWM yang kecil. Ora, Ora masih agak ee tinggi sih harganya, tapi yang tunggu tinggi ini berapa nih di Ora tuh di atas 300 kalau enggak salah ya. Itu aja udah tinggi tuh. Ya udah tinggi asli.

Jadi sekarang trennya di 200-an. Eh, ini ya ada ya maksudnya mobil EV yang mungil itu start dari 100-an. Tapi kenapa J5 itu ee menjadi viral banget? Karena dia bawa SUV di harga Rp250 juta start-nya. I.

Jadi makanya e viral banget. Listrik full elek full EV SUV dan ee fiturnya banyak dan ee dia bisa buat offroad offroad tipis-tipis. Jadi eh semacam ini ya versi mini dari Chery J6. Eh ya betul J6 nih yang banyak yang sudah ada di Jakarta itu kan. Iya yang sudah banyak di jalanan menambah satu versi lagi jadi J J J J J J J J J6T J60 namanya yang warna merah itu.

Jadi versi kayak Pro Max-nya lah premiumnya versi tingginya gitu. N model kalau Hyundai ya. Yes betul. Oke, jadi itu terus ya ini dengan harga 250 itu J6 itu kan mahal ya cukup mahal ya di harga 500-an gitu yaan. Nah, ini lu bisa dapat E J6 versi mini itu di harga R50 juta gitu dan itu SUV EV 250 juta itu udah kayak wow banget sih kayak ini best choice aja gitu kan enggak ada gede banget enggak ada yang bisa main seperti itu kayak gitu terus ada ada frunk ada I ada ada frunk bagasi belakangnya spacious heeh kayak it's incomparable sih kalau menurut gua Nah kan pas GIIAS yang kemarin itu apa?

AION Y Plus AION Y Plus? Iya. Nyesel enggak sih menurut lu? Ya kalau kalau maksudnya kita fair-firean aja lah. Kalau orang yang beli kan ramai banget tu berapa?

Berapa ribu ee dia sekarang sudah sampai.000an sekarang waktu itu waktu itu enggak tahu ya. Tapi sekarang sudah sampai 9.000 kemarin. Oke. Nah, AION Y Plus-nya juga menarik juga nih. Ee kenapa?

Iya. ketika J5 itu keluar itu viral tuh ramai kan sampai ada e yang di-upload di media sosial kayak oh gua batalin SPK gua yang di AION Y Plus terus kita pindah ke J5 gitu sampai kayak gitu kan. Ben beneran tuh ada tuh ya ada ada karena belum banyak delivery. Iya betul betul. He kan masih udah ada tapi belum banyaklah.

Iya karena kanu stoknya masuk segala macam. Waktu presentasi pun si Chery-nya eh si Jaecoo-nya juga memamerkan itu juga sih ewa wah ini eh apa namanya respon kita di media sosial itu luar biasa dengan adanya J5 ini karena wah ini baru nih yang beneran harga pas ini yang harga yang diinginkan konsumen R50 juta SUV sementara ee yang AION Y Plus ee R00 juta gitu. Iya. Nah, tapi ya kita lihat ee baru pengiriman sekarang yang AION Y Plus sudah banyak di jalan, sudah mulai banyak di jalan gitu. Terus bahkan sekarang ee harganya naik juga naik R juta.

Oh, gitu. Jadi ini dia naikin dikit malah naik dikit karena fluktuasi dolar katanya. Jadi dari 195 ke 199 gitu. Oke. Tapi kemarin BYD bilang ini gimana nih ada J5 dan lain-lain ya.

kita tidak terpengaruh. Kita justru pesanan masih banyak di daerah-daerah segala macam itu menarik juga tuh. Jadi pesanan juga banyak tetap dan menurut ee Luther ee Panjaitan nih eh my bestie juga dia kan. Oke. Dan dia bilang bahwa bukan bukan bukan bukan ini direktur marketingnya ya.

Oke. Dia bilang mobil yang udah ada di jalan itu menjadi campaign juga secara ini untuk membuat orang jadi makin pengin beli gitu. Oh, gitu ya. Mak sense juga sih. Masuk akal ya?

Masuk akal kan? Iya. Jadi kayak kemarin gua ee ee ngecas juga mobil listrik. Gua pinjam mobil listrik di e mobil brand Indonesia. Terus gua ngecas udah ada itu namanya si AION Y Plus gitu.

Kayak wah ternyata ada juga AION Y Plus ya. Ud yang pakai ternyata. He di Bogor itu. Di Bogor. Di Bogor itu.

Jadi kayak wow keren banget ternyata. Jadi emang itu juga membuat orang kayak wah sudah selweran di jalan ini oke gitu untuk orang mau pengin beli gitu sih. Itu yang terjadi. Luar biasa ya laporan dari Bapak Dandang ya. Heeh.

Tapi proof point juga maksudnya menurut gua 249 buat harga SUV tuh menggoncang pasar. Heeh. Tapi it's in the grand scheme of thing tuh kayak short term enggak sih? Maksudnya in terms of reputation, in terms of yang tadi orang-orang pakai endorser secara tidak langsung ya, masih banyak orang-orang pasti yang enggak sepede itu beli brand yang relatively new buat Indonesia. Hmm.

Pasti mikirin macam-macam ya. Mikirin eh after sales, mikirin spare part. maksudnya secara brand BYD of dia for mobil dan semua mobil yang udah di Indonesia dan terbukti berapa tahun. Sedangkan yang satu lagi kan cenderung baru ya. Gua mau ngelihat dari angle lain nih.

Ini kan insentif pemerintah kan di schedule selesai 31 Desember 2025 ya tahun ini. Kita enggak tahu tahun depan bakal kayak apa in terms of insentif pajak mobil listrik. Kalau seandainya udah enggak ada insentif normal, menurut lu orang akan pindah atau kayaknya entar dulu deh. Hm. Kan ee insentif itu kan buat yang CBU ya, yang ee impor langsung ya.

I. Tapi kan ee rata-rata mereka di sekarang ini udah bikin pabrik sendiri sih. Jadi ee enggak tahu nih ee untuk insentif ini aku masih harus pelajarin lebih lanjut impactnya seperti apa. Tapi kayaknya masing-masing merek juga sudah siap dengan membangun pabrik atau ee mereka melokalisasi produksi karena ya itu kalau misalnya enggak bangun di sini emang enggak bisa keep up sih sama harga dan inisiatif dan lain-lain gitu. Tapi gua kemarin nih lupa gua baca di discussion netizen di mana gua lupa.

Ini kayaknya orang yang discus nih orang yang anti mobil listrik. Heeh. He. Jadi intinya menggunakan analogi bahwa enggak fair dong nih ini pajak salah sasaran. He.

Pajak tahunan mobil Denza yang harganya Rp1 miliar 143.000 lebih mahal lebih murah dari pajak motor. Heeh. Ini kan apa gimana nih buat kita? It's not fair gitu. Iya.

Iya. Kalau misalnya dipukul maksudnya dibandingin Apple to Apple gimana ya? Kok orang yang mampu beli mobil R miliar dikasih insentif sedangkan orang yang cuma bisa beli motor enggak dapat insentif kan gitu ya. Betul. Jadi ini insentif pajak tempat sasaran atau enggak nih?

Kenapa enggak dipikirin tiring bahwa misalnya mobil listrik di bawah R00 juta arrangement-nya beda. Di atas R00 juta sampai R miliar beda. Kalau enggak kalau enggak dilakukan itu kan berarti pajaknya sebenarnya enggak tepat sasaran. Lu mampu beli mobil R1 miliar. Hm.

I. Ya, ini seru seru aja sih gua baca perdebatan itu ya. Iya. Ya, itu ada benar juga. Iya.

Kegelesaan seperti itu fair juga. Ee regulasi sekarang ini hanya untuk ee mobil-mobil yang ee objektifnya adalah ramah lingkungan. Gimana caranya supaya orang beralih ya dengan salah satunya dengan instit pajak itu supaya ee orang beli karena oh pajaknya murah dan lain-lain gitu. Harapannya tuh orang pindah ke mobil listrik gitu ya. Jadi ya kan pabrikan kan tergantung regulasi aturan yang ngikutin regulasi ya pemain atau e stakeholder itu selalu mengikuti regulasi dari pemerintah.

Pemerintah kasih regulasi ini ya kita cari yang terbaik dari kita untuk menyiasati regulasinya gitu loh atau bergerak atau menyusun strategi berdasarkan regulasi dari pemerintah itu. He benar gitu. Jadi ya tergantung dari sudut pandang melihatnya kayak gimana ya. He gitu. Tapi memang banyak sih yang kayak masih banyak yang soal ee anti dengan mobilistik itu masih banyak banget gitu.

Banyak banget ya. Kalau menurut aku gini ya. Asik. Asik. Gimana?

Gimana, Pak? Gimana analisanya sebagai pengamat? Iya, anak lu sebagai ekt ya kan? Iya. Iya.

Bukan bukan ekspert lah, cuman penonton aja. Iya. Pengamat. Pemerhati aja. Pemerhati aja.

Pemerhati sebagai wartawan mungkin punya ee informasi lebih dikitlah. Lebih dikit aja. Pasti. Makanya kita undang lu bisa bagikan ke pendengar. Asik.

Oke. Jadi yang pertama yang anti mobil listrik mungkin e belum pernah nyobain mobil listrik sih gitu. Jadi harus cobain dulu baru kayak bolehlah kalau misalnya setelah nyobain kayak oh gua enggak suka enggak apa-apa gitu. Tapi kalau belum belum pernah nyobain ah kayak oh best gimana sih? Cobain dulu aja, cobain dulu aja.

Itu satu. Yang kedua nih kalau menurut gua ya mm ICE atau mobil bensin itu akan menjadi masa lalu. Asik. I kan itu akan jadi masa lalu. Tapi masa depan itu tidak selalu harus listrik karena ada hybrid.

Nah, itu dia faktanya. ee orang mau teriak gimana-gimana soal mobil Cina segala macam. Toyota itu penjualan setahun Rp300.000, Bos. Jadi lu diam aja semuanya sama Toyota enggak ada apa-apanya ya. Toyota Daihatsu itu udah dominan market.

Jadi, iya kan ya jadi Toyota santai-santai aja ya. Enggak santai sih, tapi ee penjualan masih sangat-sangat gede dan itu jauh banget dibandingkan dengan brand-brand nomor dua, nomor 3, nomor 4 jauh banget gitu si Toyota ya gitu loh. Nah, growing iya growing. Ee ini fakta nih. Tadi ada data dari Nissan Nusantara TV ini.

Ini bagus juga nih datanya ini. Ternyata dia ngumpulin data bahwa ee brandbrand Jepang turun semuanya nih. Brand-brand Jepang turun tapi brand China naik. Oke semuanya gitu. Jadi ini wajar karena ya produk Cina baru dan e mulai dari 0 sampai 100 kan ya tumbuh banget gitu berapa ratus% karena mereka baru pasti akan tumbuh dan produk-produknya juga mereka bawa ke sini dengan banyak produk baru ya pasti akan ee growing gitu.

Kalau seementar raksasa Jepang ini juga emang ee enggak banyak yang punya produk baru dan penjualan mereka juga ee mau enggak mau akan ee tergerus juga dengan e markaser dari si brand-band China ini. Gitu sih yang terjadi. Kenapa gua insist mendatangkan tamu kita hari ini? Bisa aja kan si A aja si B enggak mau. Gua pengin yang ini gitu kan.

Kenapa? Karena permainan internasional Bung ya kan. Kalau sekarang lu bisa ngebahas GJAW, berikutnya kita ngomongin Japan Mobility Show. Asik. Gimana, Bro?

Dari tadi kita ngomongin Chinese brand, tiba-tiba seway dikit ke Toyota, ke Jepang lah. Kita apa yang lu lihat di sana? Anything yang Oh, oke. Gua gua ngelihat juga nih arahnya ke mana nih di Jepang ya kan. I I banget banget banget.

Cuman gua enggak bisa bicara untuk semua merek ya. Waktu itu kemarin gua diundang sama Honda. Jadi paling enggak gua bisa bicara soal Honda aja lah gitu. Kalau semua merek gua enggak bisa mengapain karena waktu itu enggak sempat jalan-jalan ke tempat-tempat lain juga secara menyeluruh gitu loh. Iya.

Enggak adil juga lu untuk mengomentari. Iya tanpa mengalami. Iya gua enggak experience langsung gitu. Iya, itu juga menjadikan rasa penasaran gua tuh, Pak, bahwa dengan adanya perkembangan Chinese yang kar yang Chinese brand yang luar biasa ini, apa sebenarnya yang dilakukan oleh Jepang gitu. Apa gitu?

Ternyata iya maksudnya gua ketemu CEO-nya langsung dan gua nanya langsung jadi first hand information gitu. Iya. Iya. Jadi pengin tahu gitu apa sih plan lu sebagai CEO tuh? apa gitu planningnya brand Jepang ini apa.

Jadi jawabannya adalah ternyata ee mereka itu jadi kayak Honda ini. Honda itu punya ee lini produk EV tapi itu masih diemb ee udah ada mobilnya sudah siap-siap diproduksi gitu ya. Tapi itu masih setahun 2 tahun 3 tahun lagi mungkin baru bisa sampai produksi. sekarang lagi persiapan dan lain-lain, mereka akan tetap update ke EV, ke elektrifikasi, mereka akan tetap update. Tapi yang difokusin sekarang adalah ke hybrid, Pak.

Hybrid banget ya. Hybrid, Pak. Tetap jadi tetap ee strategi mereka tetap adalah memperkuat ee sisi-sisi hybridnya. Jadi, mereka kemarin di Jepang kita tes itu ee satu mobil EV listrik. Nah, ini ini entar kita ngomongin yang satu lagi.

Tapi kita tes mesin hybrid yang lebih bagus lagi. Oke, kita sempurnakan nih mesin hybridnya 1,5 eh hybrid yang sekarang ini sudah ada di HR-V. Kalau Honda nyebutnya strong hybrid. Asik. Not every hybrid equal out created equal.

Every hybrid created equal. Jadi strong hybrid bahwa hybrid ini bisa nambah power tapi tetap irit, tetap fun to drive gitu. Oke, itu disempurnakan lagi dengan mesin yang baru ini. Itu lebih enak lagi, lebih tenaganya lebih oke lagi. Itu yang akan jadi ee senjata Honda nanti di setahun, 2 tahun ke depan ini.

Oke. Enggak tahu entar platformanya apa, tapi 1,5 hybrid yang lebih baik lagi. Satu. Yang kedua mereka punya yang namanya kemarin adalah Super One. Nah, Honda Super One yang kemarin juga kita tes.

Super jadi ee mereka butuh gimmik ya. Butuh gimmik bahwa EV itu boring ya. EV itu membosankan. EV itu soulless, tidak bernyawa. Hm.

Iya kan? EV itu boring. Itu tidak tidak bernyawa. Kencang. Iya.

Emang kencang pasti. Nah, Honda berusaha kayak menghembuskan nyawa di EV. Oke. Mantap ya Honda ya. Iya.

Jadi mereka berusaha membuat bahwa EV gimana caranya kita bikin EV itu supaya fun to drive. H. Satu di Super One itu adalah sebuah mobil kompact kayak semacam mirip Honda Brio gitu ya. Itu dia bikin satu yang namanya ee gear shift. Jadi ada perpindahan gigi kayak kita nyetir e mobil Heeh.

mobil ICE ada teng gitu. Jadi ada ee perpindahan kita rasakan sendiri. Kemudian ada sound-nya. Jadi ada ee waktu kita gas itu ada ee sound artifisialnya. W w w itu masih ada.

Nah, dan ee mobilnya sendiri dibuat sangat sporty dan ee kayak lu bawa mobil EV mini, tapi enak disetirinnya gitu. Lu cobain tuh. Cobain. Luar biasa. Enak, Pak, mobilnya.

Jadi kayak Oh, ini jadi kayak ee kayak ngerasain engineer-nya tuh sebenarnya apa sih yang lu maksud gitu. Oh, ini yang lu maksud ngerti gitu gitu. Jadi ada ee rasanya ya EV yang ala Honda jadinya. EV ala Honda. EV ala Honda bahwa EV-nya yang fun to drive tetap gitu.

Ini ya EV kencang. Yes. Heeh. Tapi fun to drive itu bukan 0 sampai 100 berapa detik, Pak menurut gua ya. Bukan itu doang.

Bukan itu doang lah. Heeh. Bukan. Fun to drive itu adalah ketika lu nikung. Hm.

Heeh. Makanya F1 itu tidak diciptakan untuk sebagai yang tercepat 0 sampai 100 dan lain-lain. F1 itu kan dicepat diciptakan untuk paling cepat nikungnya. Benar enggak? H i kan betul.

Jadi ya itu gimana kita supaya bisa nikung itu dengan nyaman, dengan seru gitu, confident dan senang sebenarnya fun aja gitu. Jadi waktu kemarin gua bawa si Honda Super One ini ya gua fun gitu kayak ngerasa seru ya ternyata mobil listrik itu gitu. Nah, itu gimik Hood Unhot yang dibawa Honda lewat Super One. Jadi, itu kayak EV ala Honda lah gitu. Itu pendekatan yang unik menurut gua sih.

Oke, itu satu hal. Yang dua hal lagi kita ngomongin market seluruh Jepang nih gua ngelihat ya ini sudah sering dibahas ya Jepang dulu meng perusahaan-perusahaannya menguasai dunia dan lain-lain ya. Sekarang masih tapi tidak seagresif China, Pak. Maksudnya gini, kayak ee ambisi untuk jadi yang menguasa dunia itu tuh udah udah enggak seperti dulu lagi gitu. Oke.

Jadi makanya kayak marketnya kenapa sih di Jepang EV-nya kok rendah banget? Adopsi EV-nya itu rendah banget. Setelah gua datang-datang ke pelosok, ke tempat-tempat pedesaan dan lain-lain tuh kayak kita nih enggak ada EV enggak baik-baik aja kok. kita happy-happy aja gitu. Kita dengan hybrid, bensin irit, mobil enak, itu udah udah happy gitu loh.

Orang Jepang itu udah kayak gitu, Pak. Beda banget kalau lu ke Cina itu udah kayak semuanya harus EV, semuanya harus enggak ada suaranya, semuanya harus mindsetnya tuh udah kayak different banget antara Jepang dan Cina gitu. Dan lu enggak akan bisa masakan Jepang harus bisa compete sama Cina, harus seimbang. Enggak, ternyata enggak. Mereka enggak ke sana arahnya.

Manusianya beda. Manusianya beda. Manusianya beda. The drive is different. Iya.

Jadi itu yang ee gua rasain, Pak. Nah, makanya kemarin itu di Japan Mobil Dis itu yang salah satu yang highlight yang utamanya itu adalah mereka start EV itu dari Kei car. Kei car. Dari Kei car, Pak. Ya.

Jadi mereka enggak butuh mobil-mobil yang high end yang EV. Enggak. Mereka start dari Kei car. Kei car mobil kecil yang irit ramaling lingkung ee yang ramaling lingkungan praktikal dan mereka startnya dari situ. Makanya mobil-mobil Keinya mereka itu ada yang konsep, ada yang sudah ee launching itu divikan.

Hm. Diffikan gitu. Mobil kecil, mobil kotak yang ee kota-kota aja penggunaannya. Range-nya enggak jauh di bawah 300 km. Ya emang itu kayak mereka Jepang itu kayak JDM aja yang gua peduliin sekarang.

Gua fokusnya ke market Jepang aja. H gitu. Beda banget sama market, mindsetnya Cina gitu. Cina tuh marketnya kita harus menguasai dunia. H ambisinya begitu.

Ambisinya gitu. Heeh. Kayak ee contoh ini ee Jetour gitu ya, dia pengin menguasai market Timur Tengah gitu. Oke. Siapa yang paling gede di sana marketnya?

Timur Tengah terkenal dengan SUV bermesin gede, berotot dan lain-lain. Ada Nissan Patrol, ada Land Cruiser dan lain-lain. Kita bikin produk yang harus bisa mengalahkan SUVSUV itu tapi dengan harga yang kompetitif. Dibuatlah yang namanya ee G700 itu yang bisa ngambang, yang bisa Iya. Iya, iya.

Jalan di air, yang bisa wah luar bias lah. Overpek lah pokoknya. He. Jadi mereka tuh tujuannya itu kita bikin produk yang bisa mengalahkan diciptakan untuk merusak pasar yang sudah ada. Mereka ingin menguasai dunia aja, Pak.

Intinya gitu. Mindsetnya tuh kayak gitu. Kalau gua ngelihatnya kayaknya yang Jepang-Jepang nih benar-benar dia fokus untuk menyempurnakan produk-produk mereka atau teknologi-teknologi yang udah ada mereka rapiin terus, sempurnakan terus. Maksudnya eventually ee mungkin ujung-ujungnya bisa sama tapi at least fokusnya berbeda. Kalau lu fokusnya pengin mendominasi pasar, gua menyempurnakan produk gua.

ujung-ujungnya nanti kita ketemu di sana karena kita dagangnya di pasar-pasar yang sama gitu. Tapi le mindsetnya eh man kalau gua fokus sama produk gua dan bagus nanti juga jualan laku gitu ya kan instead of gua pengin lihat di oh di sana gua bikin ini buat di sana gitu enggak dia bikin yang di sini gitulah i itu setuju jadi ee gua diundang ke Cina berapa kali ya ke Jepang juga perbedaan antara presentasi Jepang dan Cina tuh sangat beda banget Pak kalau Jepang itu kayak kita ubah nih ee suspensinya nya kita tuning dikit supaya hasilnya kayak gini. Kita tambahin dikit kita kerasin dikit bodinya supaya gini detail banget. Sementara ketika kita di Cina 0 sampai 100 3 detik langsung bisa ini langsung bisa ono heboh banget gitu ditabrak enggak rusak. Iya iya iya iya.

Jadi different aja gitu loh. Style juga different ya. Kayaknya mentality the human juga beda ya. Maksudnya Jepang itu pasti sih itu they've been through that. Maybe the phases dalam society mereka tuh udah enggak di tahap itu gitu ya.

Iya enggak sih. He. Jadi I'm not saying mana lebih pintar dan mana lebih hebat, tapi lebih kayak udah lewat fase itu dan gua sekarang udah sampai phase untuk instead of gua compete to be the fastest whatever gua menyempurnakan teknologi yang gua punya. Iya ya. ya kan?

Karena kayaknya 10 tahun lalu 10 tahun lalu mungkin Jepang kayak udah hidup di 20 tahun in the future kan bareng-bareng mereka sampai saat jadi kayak emang udah kayak hidup di waktu yang berbeda gitu loh. Iya iya iya iya iya iya. Jadi unik sih jadinya menarik menarik. Jadi Honda ini punya tempat spesial di hati gua, Bro. Jadi shoutout dulu buat Honda ya.

Heeh. Honda jadi asik Honda? Iya. Ya, Honda Isma. Nah, ee satu dulu gua sempat di Amerika itu kakak beradik gua sama kakak gua.

Heh, kakak gua pakai Honda Prelude, cuy. Ini elo bukan bukan bukan. Itu adik gua kakak gua. Jadi kakak gua pakai Prelude, cuy. yang baru keluar itu gua gua suka banget sih yang baru tuh gua ngelihat orang, "Wah, terserah lu." Maksudnya gini, lucu deh.

Padahal kemarin-kemarin gua tuh agak-agak komplain sama Honda, masa lu jualan mobil Accord harganya segini apa namanya bagasinya enggak otomatic sih. Yang bener aja loh gitu. Tapi pas gua ngelihat kemarin Prelude enggak utomatic. I don't care man, emang keren aja ya kan gua gua fans e Prelude lah. Jadi kakak gua gua dulu pakai ini mobil pertama kita nih ya.

Jadi dia pakai Prelude. Gua pakai Acura Integra. Asik. Zaman dulu tuh ya kan. Jadi oke banget sih dua-duanya ee apa two doors kan kan satu e putih satu hitam cuy.

Asik maksudnya top. Ini nih bekas ya. Due gua enggak mampu beli mobil baru waktu itu. Ini mobil bekas. Tapi maksudnya kebetulan aja pas kakak gua pakai ee Prelude pada saat itu gua pakai Acura Integra dan iya di sini eh lu di sana tuh enggak ini sama Acura ya?

Enggak enggak terpapar sama brand Acura pas lagi jalan-jalan gitu turouring. Enggak ada Acura lebih banyak di Amerika soalnya. Heeh. Tapi jadi kalau lu ke sana tuh enggak diiniin ya, Men. Acura tuh menurut gua mobilnya keren-keren men.

H maksudnya gua gua dari zaman dulu tuh ngelihat ee yang beneran kok Honda enggak ada di sini. Ada, cuy. Tapi namanya Acura gitu. Lexus-nya Honda itu. Lexusnya by the way kalau enggak ngikutin ee Acura itu Lexusnya Honda lah ya.

Dari sedannya, dari eh SUV-nya keren-keren cuy. Pas terakhir gua juga ke Amerika ngelihat Acura. Wow. Enggak enggak skip a bit gitu dari dulu. Keren menurut gua pas gua datang lagi mereka masih punya produk-produk yang keren.

Jadinya shoutout buat Honda ya. Asik. Jadi lu wajib ee ambil Prelude sih nanti kalau masuk sini. Terbaik itu sudah terbaik. Terbaik Prelude cuy.

Kalau gua ada uang ekstra kayaknya gua l uang seekstra pasti. Kita cari dulu lah. Kita cari uangnya. Tapi kalau Honda Prelude tuh nostalgic soalnya buat gua. Apalagi sekarang yang baru ini.

Ah, terbaik dia ee silangan antara Civic dan juga ee Type R ya, Civic biasa sama Type R gitu. Jadi mesinnya mesin hybrid tapi ee suspensinya itu sama rangkanya itu dari Type R. Hm. Gitu. Jadi itu mobil enak buat nikung-nikung di sirkuit, tapi buat harian pun nyaman.

Aduh, itu terbaik. Terbaiklah itu Prelude itu wajib. Ah, dan lu kalau di Jakarta tuh masih appropriate gitu, Bu. Bukan, bukannya ngayal gitu. Ngerti enggak lu?

Type R enggak bisa ya? Bisa sih, tapi kayak malas banget lu manualan di Jakarta kan yang baru kan. Kalau Prelude matic pak aman aja. Asik cuy. Top Prelude lu harus belah satu.

Gua ngelihat gua suka. Menurut lu apa masa depan eh tech companies, smartphone makers? Eh, at least di Indonesia lah. Hm. Sekarang yang pertama itu eh form factor tetap ya HP-HP lipat itu sekarang ada lipat dua nanti akan tren jadi lipat gulung mungkin dilinting dilinting cuy mungkin nantinya akan digulung dan dilinting bisa bug gulung kalau handphone linting iya jadi ee form factor itu yang ke depannya mungkin akan ee berubah men-drive gitu mungkin nanti ee HP lipat juga harganya makin turun makin terjangkau itu He.

Yang kedua, aku masih belum ngelihat ee ada teknologi yang akan drastis mengubah dari industri kecuali AI gitu. Jadi, AI ya tetap ya tiap tahun tuh perusahaan smartphone berusaha untuk mencari gimik seperti yang bisa dijual ke konsumen ya. Karena seperti yang lu bilang karena perkembangannya juga stagnan gitu-gitu aja. Enggak ada tiap relatif stagnan. Relatif staknan.

Jadi enggak ada yang ee baru, benar-benar baru gitu kayak iPhone yang sekarang udah ganti desain doang aja ada orang ah heboh banget. Kayak apaan wahnya cuma ganti desain doang gitu. Tapi karena enggak ada yang fundamental yang mengubah cara kita menggunakan handphone tuh enggak ada gitu. Sama aja kamera. Iya belum ada.

Belum ada kamera lebih bagus dikit proses lebih kencang ya itu tiap tahun sama aja gitu. Tapi ya kalau Apple masih banyak PR karena dia masih perlu utilize AI-nya kanya belum masih jelek banget masih buruk banget belum sempurna ya. Masih buruk, bukan belum sempurna. Buruk, buruk-nya di Apple itu masih buruk. Kalau ulangan berapa nilainya tuh?

Aduh, enggak tahulah. Jangan. Tapi edit editing tools-nya memang kalau dicompare sama beberapa model Android ya kurang sih. Iya. I need to catch up ya.

I on edit kayaknya emang sengaja untuk ditahan di eh next ga-nya iPhone ya. Jadi kan mereka selalu tahan-tahan supaya orang tetap beli gitu. Orang diganti desain doang aja orang masih beli. Ngapain kita ituin juga gitu? Kita sempat ngobrol gitu, sempat bahas gua soal ini juga kayak eh scratch gate semua kriticism gitu kan cuy.

Laku-laku aja tapi sampai ada konten-konten luntur lah yang orange gitu. Tapi kata di lap luntur. Asik gua trauma sih pakai gitu. Tetap tetap tetap aja pada saat lu preorder lu per sale second sale habis-habis aja barangnya. Bukan bukan hanya laku bro nambah terus.

Ini nih yang gua gua enggak tahu lu tahu apa enggak. Jadi ada eh YouTube channel namanya Data is Beautiful. Lu follow enggak? Enggak. Dia tuh jadi misalnya eh market share handphone dari tahun '82 sampai sekarang kayak timelapse gitu.

Tahun '82 berapa naik turun naik turun gitu. Ini kemarin gua ngelihat yang mereka bikin tentang OS. iOS bos global 20%. H make sense enggak menurut lu iOS ya bukan Mac bukan ini ya dan diadunya tuh sama Windows, Macos, sama Android 20% bos. I maksud gua, gua pas ngelihat itu kaget banget sih.

Gua kayak kok bukannya gue gua pikir tuh ee enggak akan tumbuh secepat itulah. H tapi realitanya Apple gua gua gua enggak tahu juga sih mesti ngomong apa ya. H tapi makin banyak orang yang belilah terbukti dengan jumlah OS yang bertambah gitu. Kalau misalnya mereka enggak jual especially enggak merangkul orang baru ya harusnya stuck dong OS-nya ya kan karena oke gua beli baru tapi kan gua udah pengguna OS berarti gua enggak dihitung gitu. Sedangkan ini nambah terus kan berarti nambah orang.

Iya. Dan 20% tuh menurut gua lumayan ee gua enggak nyangka sih menurut lu gimana apa yang Apple lakukan sampai mereka bisa menambah pengguna jaya terus, Bro. Nambah terus malah ya. Karena ee kalau kita ngelihat dari produk-produknya Apple, iPhone, e iPad, ee MacBook dan lain-lain, jarak antara penjualan iPhone sama nomor duanya tuh jauh banget. iPhone itu adah penyumbang terbesar penjualan mereka, gitu.

Jadi yang mereka lakukan tuh adalah tahun depan ini kita jualan growth-nya berapa. Udah kayak gitu sebenarnya. Kalau growth-nya turun ya berarti kita harus ubah gitu kayak gitu loh. Jadi tiap tahun akan selalu gede penjualan iPhone gitu gitu. Dan dan in a sense kayak makin gede gitu gua kayak dan tahun ini gede dan tahun ini growing.

Mereka growing banget. Harganya ngeri bro. Heeh. Iya enggak sih? Berapa dijual di Indonesia?

Berapa yang paling mahal? Yang paling mahal itu bisa juta ya kayaknya. Udah mendekati R juta kayak gua. Berapa, Mas? 40 yang yang 2 tera ini ada yang beli, Mas.

Pro Max 2 habis. Buset kayak orang gua enggak ngerti juga sih. Dicicil 24 bulan kita enggak tahu juga sih. Cuma ya tetap aja ada enggak masalah. Cicil enggak cicil enggak ada yang tahu lah.

Iya yang tahu. Yang tahu lu nenteng warna orange itu tahu. Oh 17 either Pro atau Pro Max. Promex itu itu yang paling penting adalah sebuah statement. Statement ya.

Iya. Jadinya tapi in a way ya Apple tuh sebenarnya enggak jualan handphone lebih ke jualan itu aja prestige user experience. Kemarin kita ngobrolin lu spek udah udah sering banget dikalahin sama Android. Heeh. Kameranya kalah sama ini, videonya kalah sama itu, ee e prosesornya kalah sama whatever lah.

Tapi pada akhirnya pas lu gabungin semuanya ya udah kita enggak usah ini banyak-banyak lah. Intinya begitu. I kadang ee aku ngelihat Apple tuh kadangnya sampai berani ngpush ee seberapa powerful brand mereka itu udah kayak Balensiaga gitu loh ya. Asli Valenciaga itu kan udah kayak lu jualan kaos apa baju robek itu orang beli kayak gila ya Apple tuh kayak kemarin ngeluarin kaos kaki gitu harga ee Rp1.200 200 apa harganya ber yang paling mahal R juta apa berapa gitu dan itu kolaborasi dengan ee salah satu brand fashion gitu dan itu orang ngeritik segala macam tapi YouTuber dengan eh influencer dengan beli dan dengan bangganya ini unboxing-nya, ini packaging-nya itu ya orang laris, Pak. Kaos kaki bukan kaos kaki ya sebenarnya ya ini kayak ee Oh itu bentuknya kaos kaki buat buat apa cuman cantolan aja.

K gitu. Iya sli yang dicantolan gitu sih. Iya dan itu gila mak gua tadi. Hah? Kaos kaki apaan sih?

Mirip mirip kaos kaki bentuknya. Kaos kaki. Bentuknya kaos kaki. Jadi kayak aneh banget gitu dan orang masih beli dan ya itu maksudnya kadang-kadang mereka tuh suka ngepus kadang jual lap lah yang harganya mahal banget. Itu kayak terlalu gede brand Apple itu untuk ee orang tidak membeli gitu.

Hm. Iya. Jadi jangan dihakimi. Orang beli Apple tuh serah mereka. Itu emang jangan dihakimi.

Iya jangan dihakimi. Orang beli Apple enggak masalah lu spek lu lebih kencang. Enggak. Udah peduli lu lebih kencing dari gua. Sekarang lu mau kencang-kencangan apa sih sebenarnya?

Ya kan? Mau kenceng-kencangan apa? He ya yang beneran apa yang semua game sekarang handphone mit saja sudah bisa dimainin. Apa yang mau di ee pamerkan gitu. Dulu masih kayak oh ini speknya lebih tingut 5.000 6.000 apa sih?

Setuju dia sebagai Apple fanboy. Setuju. Iya. Enggak ada yang peduli dengan AnTuTu tuh kecuali orang-orang tertentu aja. Oi.

Jadi AnTuTu tuh cuman buat orang-orang tertentu tertentu aja. Enggak ada yang peduli. Amin. 7 tahun gua di brand ya tiap hari kalau lu mau ngomin performance ya yang diadu AnTuTu scoring DXO Marx muter-muter ituu aja. Iya.

Tahun ini untut kita 4.000 tahun depan untu 4.500. Ya udah. Enggak ada. Nobody cares. Nobody cares, Bro.

Nobody cares, ya. Iya. Oke, oke, oke, oke. Gimana ee lebih penting menghasilkan kamera lebih bagus daripada AnTuTu sih? Maksudnya sebagian gitu yang mungkin lebih banyak metersnya itu buat konsumen umum gitu ya.

Iya. I tapi I kayak mereka kan fokusnya kayak ee color Heeh. Color grading-nya, prosesnya beda sih. Apple. Tuh kan lu kalau misalnya nge-shoyo sekarang bisa langsung direct ke mereka lumayan concern sama digital filmmaking sih menurut gua.

Eh Apple ya ada ada fitur-fitur yang menurut gua belakangan ini kayak terutama yang di Pro Max ya. Iya. Iya. Emang buat cater orang-orang mau bikin konten e itu tuh emang dimudahkan sih. L lu kalau bisa shoot lock aja gitu kan lu warnainnya nanti belakangan gitu.

itu tuh membantu banget, Men, buat konten kreator ya. Benar, benar, benar. Di Bandung tanpa fitur Apple lock itu menurut gua ya kerjanya lebih ribet sedikit aja dan enggak konsisten kan lu coloring terus beda-beda terus apa dan sebagainya itu agak ribet tuh. Ya, fokus pada sesuatu yang matters saja buat konsumen gitu. Hm.

Ya kadang kita hanya perlu kita hanya perlu ee satu atau dua alasan kok untuk ee memulikkan melakukan pembelian gitu. Asik. Enggak perlu 10 alasan yang terlalu ribet. Enggak ada dua satu dua alasan. Gua cuman senang warna orange selesai.

Gua mau beli Apple lu mau ngapain? Ngegas nih dasarnya selesai kan ada. Iya kan enggak perlu enggak perlu ada yang lain-lain. Gua cuman senang warnanya aja. Gua suka warnanya orange-nya.

Gua mau beli terus apa lu mau menghakimi apa bebas bro. Konsumen tuh bebas. Jadi bebas memilih. Bebas. Kita rayakan aja.

Iya kan banyak pilihan-pilihan. Ya udah lu pilih yang mana lah. Ya udah sesuai dengan kepribadian lu aja. Lu suka Apple ya udah silakan beli Apple. Lu suka Android gua pakai dua-duanya juga enggak ada masalah gitu.

Gua pengin iPhone 17 gua juga pengin gitu tapi harganya enggak masuk akal. Jadi gua enggak mau beli. Mahal banget. Mahal banget. Mahal mahal.

Gua gua start pro max di R5 juta apa R6 juta kayak ah enggak masuk akal sih ini. Iya ya. Maksudnya gua senang ya warna orange-nya ya. Tapi kebutuhan gua buat ee video ya yang gua butuhin videonya. Tapi untuk R6 juta untuk invest ke situ iPhone 14 Pro Max gua masih aman-aman aja, Bos.

Masih aman ya. Iya. Beda ya tujuan orang untuk mencari. Nah, tapi it's it's about iPhone tuh kadang-kadang yang membuat mungkin banyak orang stay di ekosistemnya dia adalah walaupun lu udah ketinggalan dua tiga generasi lu masih kualitasnya enggak enggak enggak kalah gitu. H mungkin slightly e lower resolution atau colornya kurang bagus, kurang kurang menyala dan lain-lain.

Tapi secara overall masih enjoyable, masih proper. Jadi menurut gua masih lu bukain konten itu masih cuy. Kemarin sempat kita gua tes juga nih ya iPhone gua 14 Pro Max sama yang 17 Pro Max. Gua lihat apa sih bedanya dari sisi coloring? Ya beda-beda tipis, enggak bisa dibedain mata telanjang.

cuman beda zoom-nya aja kayak oh zoom-nya lebih jauh lebih ya berguna sih zoom-nya kayak gini tapi kayak enggak berguna 26 juta sih heeh itu aja sih buat buat nambah simpel aja jadi mungkin orang yang jam dari 12 ke 17 tuh berasa Iya iya tapi kalau dari 14 ke 17 ya sedikitlah it's nice to have tapi enggak yang lu life changing gitu tapi itu kenapa lu invest di Apple ya maybe one of that kadang-kadang lu oke merasa worth it karena it eh tapi lagi-lagi gua setuju sama yang tadi lu ngomong AI Karena ini nih lucu-lucuan aja ya. Semua shortcut gua AI semua, Bos. Kalau enggak Gemini, ChatGPT, ada satu lah. Shazam tuh yang buat nyari lagu ya. Nyari lagu sama yang satu lagi nih yang buat foto itu yang gua lagi sering pakai banget sih.

Yang foto ini apaan itu gua perlu banget itu shortcut gua pakai terus man gua nonton gitu. Ini apaan sih? Foto tanya ini apaan sih? Oh, ini ini oke, thank you. Asik.

Itu tuh gua sering banget pakai. Jadi tombol yang samping ini gua custom kalau sekali kamera tapi kalau dud gitu kan jadinya buat yang Gemini yang nanya buat foto lu foto objek. Gua gak enggak pernah pakai malah. Masa Google search tapi image kan maksud lu enggak ini nanyanya langsung ke Gemini bukan ke Google. Buat apa?

Tapi buat nyari tahu barang-barang bro ya. kayak ini harganya berapa gitu. Tapi the same thing itu sama aja dong. Search sama aja sih. Iya iya iya i lu search pakai Google image juga dia akan menampilkan itu ya intinya shortcut-nya itulah gua gua pakai.

Oke. Gua tanya lu pakai Geminile eh Gemini Gemin Gemini live enggak live yang mana tuh? Ah lu pakai enggak? Oh yang yang ngomong enggak gua pakainya CGPT sama Perplexity City. Oke.

Lu langganan Gemini? Enggak langganan. Nah ada fitur yang namanya Gemini Live. Pak lu downloadnya Gemini kan? Aplikasi ini.

Ini juga ada di depan gua nih, Pak. Emang gua pakai rutin juga. Heeh. Terus lu taruh di sini adalah Gemini Live. Di sini ada tombol di sini.

Ini live-nya. Jadi, begitu lu aktifin, dia akan berbicara dengan Anda langsung dan kayak teman gitu ya, kayak teman. Teman banget ini. Kayak gua kalau macet gua ngobrol, Pak, sama orang ini. Asli.

Asli. Serius? Gua download nih sekarang. Asli. Gua ngobrol, Pak.

Gila ya. Itulah yang menurut gua yang berubah itunya enggak enggak hardware-nya. Benar. Ini kan software sebenarnya. Iya.

Atau at least hardware yang memungkinkan untuk menggunakan software itu. Betul. Betul. Entar integrated aja lah. Integrated.

Iya. He. Nah, yang lu nonton film Her enggak nonton yah? Bro, udah dekat lagi enggak sih kita kayak gitu? Lumayan sih.

Hah? Lumayan. Lu pacaran nama OS enggak sih nanti? Iya i ya. Apalagi kalau OS suaranya kayak Scarlet Johansson kan.

Iya iya iya. Lu fantasi lu enggak bener gitu enggak sih? Bu cuy. Enggak. Tapi maksudnya pas gua nonton film itu tuh rasanya ya kali deh kayak gitu, Bro.

Sekarang kita udah mulai ngobrol cuy. Udah. Gua kadang-kadang tuh ben ya itu yang buat ngobrol itu gua gua kayak eh ee gua kan mau kayak gini nih ya kan. Tapi oh ini ya ini ya? Ini ya?

Heeh. Iya. Tapi, tapi teman gua bilang kayak gini-gini. Menurut lu gimana ngobrol? Iya.

Apapun lu lu, lu bisa ngobrol apapun, man. Kayak anything man, anything. Kayak gua lagi pengin tahu saham lah misalnya gitu ya. Atau saham sebenarnya ee IPO itu apa sih, Bro? Gitu.

Iya. Iya. Dia cerita IPO tuh gini gini gini gini. Apakah Anda yang ingin ee apakah ada yang Anda pengin tahu lagi? Kenapa perusahaan bikin IPO gitu?

Terus kenapa ini kenapa lanjut terus itu ngobrolan? Iya. Lanjutin terus. itu jadi kayak gue makin tambah pintar dan gua ada teman ngobrol selama macet-macetan daripada dengerin lagu bosan ngantuk gua. He dan itu He udah terjadi.

Oh udah dikit lagi udah kayak her tuh. Eh her itu udah dikit lagi Pak. Asli karena udah ngobrol kayak teman gitu atau mungkin udah ada yang kayak gitu. Lu enggak tahu aja udah kawin-kawin sama Iya mungkin udah ada udah ada tapi enggak tahu aja. Tinggal disempurnakan aja kan dia tahu ee personalisasi kita.

Belum belum lagi yang dari sisi hardware yang robot-robot itu ngeri cuy. Kayak orang bikin robot perempuan. Udah kayak perempuan, cuy. Iya. Kayak mukanya digini-giniin kayak karet-karet silikon.

Oh my god. Hm. Waktu gua ke Hongkong kemarin kan sama XPeng ya. XPeng itu adalah salah satu pabrikan Cina yang fokusnya tuh enggak cuman di ee mobil tapi juga robot dan juga e mobil terbang dan juga ADAS. ADAS itu advanced driver-assistance systems itu ya.

XPeng itu eh si produk manager robotnya tuh cerita gitu. H dia bilang, "Investasi robot itu mahal banget, Bro. Investasi untuk membuat robot itu mahal banget. Lu minimum kalau yang standar-standar aja lu harus punya investasi 50 billiun dolar. Itu minimum kata dia.

Kalau mau mulai mulai bikin robot di human weight robot itu 50 billi dolar gitu. Terus ee dia bilang, "Yang susah itu bukan robot yang bisa silat, yang bisa jalan, yang bisa lari, dan yang bisa ngapa-ngapain." Itu relatif gampang, Pak. Yang susah adalah membuat robot untuk melakukan motorik halus. Motorik halus. Motorik halus.

Contohnya mengangkat ini terus memasukkan ke sini. Itu susah banget ternyata. Jadi menyuruh robot untuk ngobeng gitu itu susah. He itu susah. Ternyata lebih susah daripada nyuruh robot jalan berdiri lari lompat motorik kasar tuh ya.

Lompat. Iya itu itu lebih gampang. Tapi menggunakan tangan-tangannya itu untuk melakukan itu itu susah banget. Jadi mereka masih challenge-nya di situ untuk bisa menemukan ee gimana caranya memprogram supaya mereka tuh bisa melakukan. Makanya kayak Boston Dynamics kayak K gitu.

apa yang mereka tunjukin atau si robotnya Elon Musk lari dana loncat-loncat salto kung fu enggak susah enggak susah heeh melakukan motorik halus itu masuk akal juga sih ini dari menurut orang produk robotnya ya bukan menurut gua ya tadinya oh gitu ya ternyata ya gitu jadi mereka membangun robot-robot itu ditaruh di bengkel eh di di di ee pabrik supaya membantu mereka bekerja dan juga jadi lab-nya mereka untuk meneliti supaya gimana Gimana caranya robot itu bisa bekerja dengan menggantikan manusia pada akhirnya gitu. Jadi kayak pekerja di sana tuh ngelihatin robot yang nanti ini akan menggantikan kerjaan gua. Kayak gila sih gila gila gila gila. Sekarang kita ngobrolin media sedikit nih. Asik.

Apaagi nih? Ee kita waktu itu ngobrol sama beberapa teman jurnalis itu mereka ngomong bahwa kan sekarang banyak yang media tutup h layoff apa dan sebagainya itu mereka melihat bahwa itu dilakukan untuk mencapai media equilibrium h keseimbangan gitu kan ya emang sekarang kebanyakan gitu jadi mereka akan konsolidasi sampai nanti ada level tertentu sustainable. Karena sekarang kan jadinya kan enggak sustainable karena terlalu banyak ya. Nanti pas udah ee turun gitu baru ada ee equilibrium keseimbangan. Nah, menurut lo ee tantangannya apa sih buat buat media di masa mendatang ini ya?

Maksudnya gimana caranya kita bisa survive eh media bisa survive beberapa tahun ke depan ini selama adanya gerakan menuju ke equilibrium itu menurut lu? Hm. Gua udah ngelihat sih beberapa hal yang eh kalian lakukan. Gua gua gua udah notice, tapi let me hear it first dari lu lah. Menurut loh tantangannya eh the next few years misalnya lah buat media.

Oh ya. Oke oke oke. Jadi dari zaman dulu sampai sekarang sebenarnya bisnis modelnya itu sama untuk media itu ya. Jadi ibarat ee pasar malam orang ngumpul. Nah, ee brand akan datang di orang ngumpul itu.

Kalau orang ngumpul, jadi pasti ada orang bisa jualan di situ. Kalau ada orang ngumpul, ada kesempatan jualan. Iya. Heeh. Kalau pasar malamnya bagus, orang pada ngumpul.

Kalau orang pada ngumpul, orang bisa jualan di situ. Kan dari dulu sampai sekarang sama aja kayak gitu aja gitu. Jadi sekarang orang-orang ngumpulnya di mana? Di media sosial dan lain-lain gitu. Jadi ya yang bisa dilakukan ke depannya ya terus-terusan untuk ee mengembrace si media sosialnya itu untuk menjadi bagian integral dari si medianya sendiri.

Selain tetap ee dengan medianya masing-masing ya dengan situs dan lain-lain itu tetap harus ada tapi terus melakukan ee mengembrace si media sosial tuh sebagai sebuah platform untuk storyting gitu. Karena menurut gua ini sangat menarik media sosial itu. Jadi kalau misalnya kita ngelihat Instagram ya ee Instagram itu punya banyak plat ee punya banyak format untuk kita bisa storyting. Satu kita bisa pakai format video vertikal ya, kita bisa pakai ee karusel gitu dan masing-masing punya impact ke pembacanya itu juga berbeda. Kita nonton video impactnya beda dengan kita nonton kita scroll si karusel.

He dua-duanya sama bagus gitu. Dan itu yang harus terus digali sama yang namanya media ya. Selain tetap dengan menulis, tetap dengan membuat laporan dengan baik, tapi bagaimana mengutilize si sebuah eh si karusel ini platform-platform bercerita lewat grafis, bercerita lewat video ini supaya terus-terusan makin baik lagi dan makin sesuai dengan ee medya masing-masing gitu ya. Paham enggak maksud gua? banget kira-kira ya.

Maksudnya ini contohlah contohlah ya. Ini contoh contoh contoh kalau misalnya kita dulu test drive kita mobil ya kita ngomongin yang gampang-gampang aja ya. Test drive mobil kalau dulu itu outputnya udah kebayang nih e artikel foto ee review mobil A dari A ke B dari Jakarta ke Bandung gitu ya. Dulu selalu kayak gitu formatnya. Ya udah gitu aja review mobil A.

Nah sekarang ada video itu jadi berubah banget. bentuk-bentuk konten yang kita dapatin itu juga beragam dan bervariasi dan seru banget kalau gua ngelihatnya itu. Jadi kayak wow ini storyting sekarang itu bisa macam-macam ya. Lu bisa bikin video panjang, lu taruh di Instagram bisa, di YouTube bisa, di TikTok bisa, ya kan? Lu bisa bikin video pendek tapi ee hook-nya langsung dapat.

Misalnya ee lu ada video di jalan, oh ini mobil A, mobil B dibandingin nih ini yang lama yang baru nih. Gitu. Lu bikin dua video tapi atas bawah gitu ya. Bisa pendek 10 detik misalnya ya kan. Lu bisa bikin komparasi perbandingan antara mobil yang di test drive sama kompetitornya dalam bentuk scroll ee karusel.

Heeh. Lu bisa kemungkinan itu tuh udah enggak terbatas lagi. Lu bisa bikin interview dengan hook di depan. Apa kata si A tentang isu yang baru. Seorang akan scroll si A bilang kayak gini kayak gini gini.

storytelling formatnya itu udah sangat beragam, tempatnya ada dan yang bisa dilakukan adalah mengembage itu supaya semakin perfect gitu dan itu sudah sebenarnya sudah banyak dilakukan adalah homeless ya. Homeless media itu terus berusaha menggali menggali menggali konten-konten gimana caranya yang bagus yang ee hook-nya dapat yang bereksperimen dengan macam-macam gitu. Nah, itu yang ee terus harus dilakukan oleh si ee media-media konvensional ini gitu ya. Mau enggak mau kita emang harus banyak belajar juga dengan si homeless media karena dari awal mereka bikin homeless itu naturally mengutilize dari apa yang bisa dikasih sama platformnya gitu loh ya. Nah, kita media konvensionalnya enggak masalah kita belajar di sana dan itu menjadikan kita IP kita di media sosial itu juga bersaing dengan homeless media.

pengin cerita dikit aja nih soal ee mobil listrik lagi. Kan sebenarnya aku pengin ya mobil listrik itu sebenarnya pengin. Jadi bukan nanti mobil listrik tapi ee kemarin mengalami sendiri untuk chargeran Pak. Oke. SPKLU kan kalian berdua nih sebagai pengguna mobil listrik ya.

Bisa komentar juga nih apa yang aku experiensin. Oke. Oke. Ada. Oke.

Idealnya mobil listrik itu digunakan dengan planning. Oke ya. Ya. Kita ngecas sudah full pagi ini. Kita tahu hari ini gua mau ke A B C D.

Oke sip. Pulang lagi kita cas lagi. Heeh. Besoknya sama juga. Nah, itu udah itu adalah use case mobilistik yang terbaik ya.

Tapi pasti ada kondisi-kondisi yang tidak ideal. Ketika kita kayak oh kita mau ke puncak nih. Ya kan kita mau ke puncak sama mobil listrik kita terus balik lagi kita butuh ngecas. H ya akhirnya kita harus memakai SPKLU kan. I i.

Nah, ini dia nih yang ternyata saya alami sendiri, Pak. Tidak ideal ternyata sekarang masih masih belum ideal SPKLU yang ada di Indonesia itu. Masa? Iya. Karena apa?

Waktu saya experience nyari SPKLU itu ee macam-macam nih pengalamannya. Yang pertama, oh ini ada yang kosong nih kan pakai PLN ya. Heeh. Ada yang kosong. Set.

Begitu kita ke sana eh udah ada yang parkir. Heeh. Kok masih kosong, Pak? Saya tanya satpamnya. Oh, Mas ini orangnya baru datang mau nyolok.

Why? Saya sudah saya sudah di sini nih. Harusnya nge-lock dong. Harusnya I tapi itu apes saja kayaknya ya. Yang kedua, chargeran tidak berfungsi, Pak.

Hm. Itu juga enggak ada indikatornya. Kalau enggak ada indikatornya enggak ada. Itu kosong. Datang ngecas, Dok.

Loh, kok enggak bisa gitu? Ternyata jajan gak berfungsi. Yang ketiga full. Oke. Ternyata banyak.

Iya. Ini maksudnya aku bilang kenapa SPKLU tidak ideal? Karena user mobil listrik tuh juga semakin lama semakin tinggi. Kayaknya tingginya user mobil listrik tidak diimbangi dengan tingginya si S perkembangan SPKLU, Pak. Jadi full full terus banyak ee kebanyakan gitu.

Hm. Jadi kayak gitu kondisinya. Ini kita ngomongin di Bogor, di kota-kota yang itu ya. Jadi ternyata kayak gitu. Ee itu jadi masalah, Pak buat gua ya.

Ternyata kayak oh kita belum ideal. Karena selain kita mengalami eh apa namanya? Range anxiety, he kita nanti dihadapkan juga dengan charge anxiety. Charge anxiety ya. Apa itu charge anxiety?

Kecemasan kita datang itu chargerannya full, enggak berfungsi, enggak bisa ngecas dan enggak bisa pulang dan makin lama itu ternyata. Dan itu fak f itu tuh beneran lu alamin. Beneran gua alamin, Pak. Ternyata kayak anjay ternyata gua enggak bisa pulang. Tapi gua bisa relate ke beberapa poinnya dan nih.

W gitu kayak ada gitu ya. Ada ada orang yang di satu tempat itu terus kayak Pak ini mau ngecas ya Pak. Ini udah antrian ketiga. Bilang hah antrian ketiga? Antrian ketiga.

Ngapain? Ngapain lu ngantri orang ngecas? Heeh. Kan enggak tahu dia selesainya setengah jam sejam. Heeh.

Lu antrian ketiga 3 jam, Bro. Makanya itu belum mobil lu ngecas loh. Lu masih nunggu orang ngecas. Kenapa enggak nyari yang lain sih? Iya.

Kenapa harus ngantri? Kenapa harus ngantri? Itu kayak di gua tuh kayak enggak masuk akal sih, Pak. Enggak make sense. Tapi, tapi chargernya berapa kilwatt?

50 sih. 50 ke atas. yang 60 kW ke atas lu nunggu enggak lebih dari setengah jam sih karena kan oke gua juga kayak lu lah gua planning nih gua udah tahu nih tiap hari itu gua commute kurang lebih 50 kilo itu gua pakai sekitar 15 16% lah jadi kalau gua full 100% gua baru ngecas lagi tuh hari keempat ya kan iya oke tapi kalau gua perlu ngecas di SPKLU gua pasti nyari yang 60 60 ke atas oke dalam 15 menit gua sudahudah selesai oke permasalahannya heh SPKLU punyanya PLN Ya, spesifik itu banyak yang banyak yang bisa dipakai. Hm. Ada aja ee kendalanya ya.

Entah dia enggak bisa di enggak ada enggak bisa diconnect, enggak ada power dan lain-lain. Kendala gua hanya terjadi di SPKLU milik PLN. Sekali lagi shout buat dia kenceng-kenceng ya. 120. Betul.

Nah, pokoknya di atas 60 lah. Tapi gua selalu memiliki pengalaman yang cukup baiklah dengan Voltron yang ada hampir di semua McDonald's. Iya ya. Oh dia ininya walun dia cuman banyakan 20 e ada beberapa yang 120 60 tergantung lokasi ya tapi Voltron tuh selalu users experience gua baiklah oke shoutout juga buat Voltron jadi McDonald McDonald McDonald selalu gua lihat oke dan sekarang sudah banyak di gunung-gunung kantor oke itu ya karena dia enggak bisa relate kayaknya dia enggak ngecas di SPKLU lu ngcas di mana di rumah lah oh iya ya dia enggak maksud gua gua gua gua enggak jarang ke mana-mana gua jadi gua enggak pernah engak enggak enggak mobile ya enggak mobile banget Jadi gua terakhir tuh ke Gjaw, mobil gua tinggal like 12% gitu mati gua. Gua lupa gitu.

Gua ke McDonald's terdekat yang di Sunburst sekitar 5 menit 10 menit dari Ice lah. Yes. Gua nunggu sih, tapi gua nunggu si mobil ini tuh sebentar doang karena ada dua dua terus dua-duanya yang fast charging. Gua ngecas gua lagi makan berger belum kelar dia udah 80%. Oh jadi aman pulang gua.

Oke. Ya bisa mungkin tetap menjawab juga ya. Kenapa orang harus nunggu? Karena ya emang baterai gua tinggal dikit ya. Karena baterai gua tinggal udah udah tipis banget.

Benar enggak sih? Kalau gua ke tempat lain jadi kayak risiko juga mungkin ya. Mungkin ya resiko yang kayak gitu. Yang yang lucu itu if I'm not mistaken berapa lama? Beberapa waktu yang lalu enggak terlalu lama maksud gua Jakarta itu kondisinya over supply cuy sama listrik.

He. Jadi mesti dikeluarin kalau enggak hilang kayak ee listrik yang dihasilkan tuh enggak terserap gitu. Makanya ada promo ini, promo ini. Inget enggak loh charger listrik apaak. Nah, maksud gua lah.

Ini kan a good way untuk menyalurkan listrik tersebut ya. Maksudnya PLN, come on man, AZ. Kita di sini kan harus mengkritisi kan. Yang bagus kita apresiasi, yang kurang kita kritisi bro. Jadi PLN lu jangan main-main man.

Asik. Lu sistemnya diperbaikin. Ada ada peluang lah. Banyak orang-orang yang memang perlu nge-charge itu gimana ya? Bingung enggak sih?

Ini nih sama kayak pos lah. Ini nih gua apa namanya komplain juga ya. Lu bingung enggak sih? Pos Indonesia yang e-commerce sudah dimulai 10 15 tahun lalu ya di Indonesia lu enggak berhasil take advantage, Bro, untuk revamp yourself dan menjadi the only logistic partner exactly di Indonesia yang Sabang sampai Merauke gitu. lu enggak memperbaiki diri dan lu bikin gebrakan.

Karena itu yang dilakukan di Amerika e US Post-nya tuh hidupnya lagi tuh gara-gara e-commerce, bos ya kan Amazon dan lain-lain itu ya. Ini ada opsi ini yang akhirnya mereka sebelumnya cuma ngirim-ngirim surat kan sekarang lu jadi barang apa ini itu jadi hidup lagi gitu ya. Ini PLN lu jangan sampai ngerti enggak lu? Masa lu disalib keilangan kehilangan momen. Heeh lu yang punya market lah kasarnya.

Voltron pun dapat listrik dari lu cuy. masa lu enggak bisa sih memperbaiki? Tapi kemarin pas kita terakhir survei ee rilis hasil survei EV praksis itu kan kita ngundang PLN. Sebenarnya ada ada plan eh grand plannya mereka tuh untuk increase sih berapa ratus ribu titik lah eh SPKLU dan nanti dia ada rencana untuk bikin kayak in each area ada kayak what's the word lu jadi kayak ada banyak puluhan charging station gitu. He.

Jadi lu ngumpul, lu ngecas, ngecas, ngecas, gantian, gantian, gantian. Jadi kayak mau pom bensin tapi pom mobil listrik. Iya, itu yang sebenarnya yang gua tunggu-tunggu sebenarnya itu di grand plannya udah ada kapannya kita enggak tahu karena ada harus pembebasan tanah lah, ada apa itu hal-hal yang gua gua enggak suka dengan alasan-alasan kayak gitu. Iya. Lu sebagai negara, lu jangan terlalu banyak beralasan lah.

Make it happen, man. Tapi benar, ST, karena menurut gua enggak cuman titiknya yang harus ditambah, tapi chargerannya juga harus ditambah. Betul, betul, betul, betul. Satu titik cuman 2 T kurang, Pak. Nanggungang lu minimum 10, cuy.

Minimum banget itu 10. Kalau enggak lu beat the purpose, lu cuma ada dua ngantri. Nanti, kalau 10 kan lu lu itulah lebih cepat gitu orangor datang dan pergi. Iya. Ya, maksudnya ee dalam hati gua tuh kayak ee ya kan Mobist kan idealnya ngecas di rumah.

Tapi Indonesia enggak kayak gitu. ternyata gitu bahwa orang banyak ngecas juga di luar gitu karena orang mau orang Indonesia tuh mobile banget dan itu selalu ngantri ternyata. Jadi intinya demand mobilnya naik SPKLU-nya tidak bisa keep up dengan demand. Betul. Kondisi sekarang itu yang terjadi adalah ketidaknyamanan pemilik mobil listrik, Pak.

Ya, lu udah sibuk, udah repot ngasih subsidi, tapi lu enggak berikan dukungan secara infrastruktur pada akhirnya ya lu percuma kan jadinya orang jadi malas. Jangan, Bro, jangan beli mobil istiri dulu ribet chargernya gitu kan. Nge-charge-nya belum gampang. Apalagi lu bayangin kalau orang-orang yang di apartemen gimana, Bro, kalau misalnya lu di luar ini mereka yang ngandelin banget gitu ya. Dan jangan loh menurut gua jangan beli mobilist kalau enggak di apartemen.

Jangan. Hah? jangan. Dan sedangkan udah makin banyak mereka mulai berani. Maksudnya gini, kalau kita ngomongin pas ee 1 2 tahun lalu ya kan pas awal-awal apa namanya nih Ioniq 5 misalkan ya kan lu Ioniq 5 sama Air ev lah itu kan yang pertama kali lumayan banyak jualannya ya.

Itu yang Air ev di apartemen-reapartemen dengan apa yang ada di PLN itu lumayan cukup. Nah, tapi kan realitanya udah ee masuk brand-brand yang lain, jualan juga makin gokil ya enggak bisalah BYD apa dan sebagainya. Ini kayak jumlah charger yang sama mobilnya tiga kali lipat, Bro. Gimana? Iya, itu dia.

Ini inkremental banget namanya. Inkremental. Yang ini jualannya eksponensial kali lipat. Iya kan? Sori gua ngomongnya bahasa matematika karena gua dulu sekolahnya matematika murni.

Asik. Gokil ya. Incremental I benar benar jadinya ya PR lah. Another thing yang mesti diberesin menurut gua tapi eh hopefully eh PLN on top of it ya. IR gua enggak peduli juga sih ya.

Mungkin brand-brand lain bisa take advantage lah ya. Haruslah ya maksudnya BYD ATTO 3 itu 9.000 unit penjualan kemarin. Masuk kalau dimasukin di Jakarta 3.000 itu udah lebih gede dari semua market LCGC. Asik. Bayangin coba satu BYD ATTO 3 itu sudah lebih tinggi dari penjualan per bulan semua market LCGC kan gila ya.

He dan kewalahan juga PLN antrian buat pasang home charging tuh ngantri. Lu bayangin enggak kepegang lu masuk 3.000 misalnya home charging-nya cuman bisa per hari berapa ratus lah Bro yang 2.000 ini nge-charge di mana? SPKl. Iya maksud gua kalau kagak ada barangnya kan bingung enggak sih? Ya, karena kan ATTO 3 tuh tidak dipasarkan dengan charging-nya ya sepaket ya.

Oh, pakai wall charger enggak kita harus beli sendiri. Iya iya. Enggak, enggak dipakai sama 1995 tadi itu belum termasuk charging. Karena semalam gua ketemu sama orang beli ATTO 3, Pak, lagi ngecas. Iya.

Kenapa enggak cas di rumah? Karena saya enggak belum pasang. Belum pasang. Kenapa enggak pasang, Pak? Nunggu-nunggu dulu deh.

Saya ini baru pakai banget soalnya. Ee butuh apa enggak selama ini sih di SP KLU, tapi ya gini ngantri bilang gitu. Tapi dia sebenarnya punya charger. Oh, enggak bisa juga sih. Listriknya harus gede.

Yang charging harus bisa emang mus. Oh, iya. Kalau lu yang nyolok doang kan kapan penuhnya, Bos? Lu kalau tidur tinggalin penuh sih, cuman butuh yang wattnya besar. Enggak bisa.

Watt-nya berapa? Itu kan 7 kW. 7.000 KW. 7000. Lu per 2 jam kayak 5% gitu lah lu kalau di 50.

Oh, kalau kalau 10 jam apa 12 bukan listrik rumah lu berapa? I listrik rumah lu harus makanya listrik rumah lu harus di atas R.000 karena I gila orang ke mobilnya R.000. R000. H lu harus berapa? Gila kan?

Makanya mereka biasanya narik kabel baru kan. Iya. Harus charger itu enggak 7.000. Charger itu 2000 3.000-an lah dia yang kecil ya. Nolok tembok.

Tapi tetap gede lah. Tapi tetap gede lah intinya ya. I. Oke. Jadi iya charging anxiety ya.

Menarik juga tuh charin saya tuh. Tapi memang proper planning sih kalau memang yang belum punya home charging lu harus proper planning of your distance. Lu pakai engak bisa t enggak bisa. Tadi yang lu bilang ada kondisi-kondisi yang di luar dugaan lu. Gua sih lebih lupa sih anjing.

Gua lupain ngecas lagi mobil gua tinggal 43% gua harus ke ice. Nah itu ada kondisi-kondisi yang tidak ideal. Enggak. Yang nyebelin itu lu udah seareful mungkin planning terus gagal karena bukan kesalahan lu. Itu kan yang nyebelin.

Iya. Oh, oke. Gua nyari nih ada tiga titik ya kan masing-masing ke sini 15 menit. 15 menit gua ambil yang ke sini gitu. Gua udah dua kali sih merasakan ini karena gua anaknya suka adventure ya.

Oh, lu suka nyoba-nyoba charger. Sekali gue nyoba nyetir tinggal 25%. Bisalah cuman ke apa namanya Karawang. Hm. Bawalah gua sampai Karawang SPKnya enggak bisa, Bos.

Oke, udah di bawah 10% karena kan pasti ada error ya namanya namanya teknologi. Gua kalau gua mati gimana nih? Untungnya ada SPKLU yang dekat 120 watt gua agak tenanglah. Cuma kemarin itu yang ice udah malam udah like jam 10-an gitu loh. Gua enggak mungkin pulang dengan 14%.

Iya. Jadi gua harus nge-charge. Jauh banget cuy. Iya. Tapi ya lak nyampe pun barely kali kalau nyampai apa enggak nyampai.

Enggak bakal nyampai terus di tol kan lu tol bor. Nyampai ya. Jadi untungnya karena malam kali jadi enggak terlalu banyak orang antri. Jadi gua cuma nunggu satu mobil begitu dia pergi gua masuk tenaganya yang gua sedot semua tuh jadi mesin itu. Cepatlah gua belum kelar gua makan burger.

Udah. Tapi lucu. Jadi mereka-mereka sering banget nge-charge di kantor ya. daripada ganti kan gantian nih gantian pakai Vale. Sopir kantor juga.

Oh si ini nge-charge habis itu si ini nge-charge. Asik menarik tuh. Menarik menarik menarik menarik. Makanya sebenarnya kalau menurutku yang ideal itu adalah ee dari dulu sih sebenarnya aku udah kepikiran ya kayaknya di Indonesia itu paling cocok itu PHEV deh. Ini paling cocok kalau menurut aku.

Menurut aku ya. Itu udah lama banget, lama banget aku sudah mikir tuh, kenapa sih PHEV tuh enggak masuk sini gitu, enggak, enggak populer gitu. Hybrid EV padahal ini gak PHEV nih kenapa kok dikit banget. Dan itu terbukti bwa sekarang bom udah paling ideal lu dapat setengah listrik, setengah bensin. H EV bisa sampai 100 km up to.

Iya. Full EV. Full EV ya. Dan sisanya pakai bensin itu apa yang sekarang di Indonesia yang available? Iya salah satunya ya.

Yang mana? Yang mana? Tapi gil stere itu juga civ yang baru. Heeh. Walah di China itu cuman ada EV dan PHEV, Pak.

Hm. Enggak ada hybrid biasa. Mungkin ada mungkin jarang banget ya, gua enggak tahu. Tapi mayoritas itu ya PHEV, EV udah itu aja. Either lu bensin setengah atau full listrik atau ya sekalian atau sekalian ice ice gitu.

Tapi gua bertanya deh, gua juga sempat ngikutin forum discussion terkait PHEV. Jadi ada beberapa experience dari pengguna PHEV tuh yang transition dari listrik ke bensin atau bensin ke listriknya tuh fail. Jadi mobilnya mogok. Oh, iya. Y ya itu ya gua enggak tahulah itu satu ada itu ada satu brand dan itu sudah dikonfirmasi dan itu kesalahan konsumen kayak ya.

Jadi agak-agak ini kan teknologi gua gua enggak terlalu ngerti sih teknologi PHEV. Jadi, begitu lu terekspos dengan informasi itu di mana kondisinya knowledge lu enggak cukup, lu langsung kayak, "Ah, enggak maulah, gua beli mobil itu." Jadi, edukasi terkait PHEV nih menurut gua justru perlu banget. Oh, gitu ya. Iya dong. Karena logikanya kan mobil listrik kalau lu ngelihat indikator 50% 30% lu harus ngecas lah udah 20%.

Heeh. Cuma kalau PHEV itu ketika ada kegagalan transisi dari bensin ke listrik or dia way around kan lu jadi resiko itu. Jadi menurut gua perlu untuk lebih ya ee lebih diedukasi bahwa ya ini sebenarnya one in a million lah ya maksudnya entah antara kesalahan pengguna atau memang ada faulty device namanya juga m produk kan kadang-kadang pasti ada aja gitu ya gua setuju tuh masih perlu edukasi tapi ya oke i mau sampaikan mungkin ke brand-brand yang terkait ya iya kita bisa kok edukasi publik asik our expertis heeh kita bisa mainkan bro mau angle-angle mana nih yang cocok biar jelas semuanya. Benar, benar, I. Ya, ya.

I ee sekarang fokusnya brand itu untuk viv ee jarak sebenarnya fokusnya bahwa Jakarta Bali sekali ngisi bensin sudah selesai itu jadi kayak gitu. Tapi kayak daily use-nya tadi yang Steve bilang itu memang perlu harus digali lagi. Sebenarnya kalau PHEV itu best use case atau best penggunaannya tuh yang kayak gimana gitu. Betul. Heeh.

Ya kan? Apakah harus dicas? Apakah kapan-kapan aja ngecasnya, mana yang terbaik gitu. Mana yang terbaik? Lu fokus di bensinnya atau lu harus balance?

Iya, harus balance gitu. Iya kan? Iya. Iya, itu setuju. Setuju.

Itu itu penting banget karena ya itu tadi PHEV itu akan jadi model baru yang oke yang menurut gua tadi ini paling ideal untuk Indonesia. PHEV best of both words ya. Best of both worlds. Iya. Itu ee terutama yang di luar Jakarta.

Heeh. He he. Iya kan? Yang memang masih perlu ke daerah-daerahnya agak jauh gitu. lu tinggal di Malang mesti ke Surabaya, mesti ini.

Itu kan kalau lu mengandalan listrik tuh gua enggak yakin senyaman itu loh. Apalagi pas lu ketemu masalah-masalah charging itu. Beh, ribet deh. Tapi kalau lu pai PHEV misalnya di use cases seperti itu aman, Bos. Iya kan lu kayak ah enggak bisa charging.

Ya udahlah di rumah aja lu pakai bensin. Gitu kan. Itu tuh ee oke banget sebenarnya di Indonesia tuh. Dan karena kita kan lu kalau misalnya kayak di Amerika terutama California ya itu commuting jauh bos. H maksudnya lu bisa pergi 50 kilo, pulang 50 kilo.

Itu mah Bogor Jakarta, Pak. Asli. Asli. Padahal tuh tiap hari. Iya kan?

Kalau kalau kayak gitu itu kan ee apa namanya? Ee lebih ribet dibanding kalau misalnya lu masih tinggal di Jakarta gitu. Nah, kalau lu di Jakarta pergi 10, pulang 10, pergi 15. Kalau misalnya lu range ee baterainya 100 kilo, aman, Bos. Lu ngisi bensin enggak 4 bulan sekali.

Ee iya, tantenya ngisin 4 bulan sekali. Iya, istri gua, tante istri gua di LA RAV4 ya kalau enggak salah RAV4 yang PHEV. CV 4 bulan sekali si bensinnya karena ya rajin gitu l pergi balik charge. Heeh. Jadi jadi rutinitas gitu jadinya.

Tapi lu enggak pernah pakai ee apa namanya? Ee bensin. Heh. Terus terus ditambah lagi di sana kan solar panel apa dan sebagainya kan lu lu ee didukung banget. Itu juga PLN man.

Lu yang benar lu bikin peraturan lah. Ini kita mesti pakai dong tenaga surya dan harus bisa digunakan. Itu tuh ribet banget sih. Kayaknya lu mesti tulis juga lah. Coba lu kritisi emang enggak boleh itu mah.

Kenapa, Bro? Nih di di Australia contohnya sama PLN. Iya. Tanyalah lu sama PLN regulator. Ee di di Australia itu kalau lu pakai lu enggak pakai maksudnya lu pakai solar panel dan listriknya hari itu lu enggak pakai dijual langsung cuy.

diambil jadi lu buang ke sistem gitu dan dibayar. Jadi kadang-kadang kayak saudara-saudaranya ee istri gue yang ee punya panel gitu, lu bukannya bayar listrik, lu dapat duit, cuy, tiap bulan karena misalnya pemakaiannya enggak terlalu heboh gitu ya. Sedangkan di sini lu mau pakai aja enggak boleh. Gila, matahari ada setiap hari di Indonesia, Men. Enggak enggak luput gitu gitu.

Yang lucu gua kemarin nonton video di TikTok ini keren banget. Jadi di Cina kan banyak gurun ya, banyak gurun. Terus mereka bangunlah solar panel di situ. Gimana kita mengutilasi gurun ini? Ya sudah kita jadiin ini solar panel.

Solar farm. Iya, solar farm yang gede banget. Nah, ternyata di ee soal farm itu kan ada jarak dari tanah ke atasnya kan ya. Jadi teduh kan. Heeh.

Terus ada ee embun di situ, Pak. Embun, netes segala macam. Jadi rumput, Pak, tumbuh. Wih. I.

Terus mereka bingung gimana ini kan berhektar-hektar ya. Iya. Untuk mengikis rumputnya supaya enggak ini buat ini ya apa sih istilahnya? Nyelurit apa? Ngarit ngarit.

Buat ngarit. Itu kan orang capek juga petunnya diarit. Tapi kayak enggak mungkin nih bro ini kayak gini. Akhirnya solusinya apa? Kita kasih kambing.

Asik. Kita kasih kambing. Gua suka tuh. Dikasih kambing di situ dan kambingnya makan rumput. He.

Dan mereka senang karena teduh. Iya. Dari situ. Dari gurun. Iya.

Dari gurun. Jadi gurun gara-gara soal panel itu tercipta sebuah ekosistem, Pak. Kehidupan. Kehidupan dari gurun. Itu mereka sendiri enggak sangka-sangka.

Iya. Ya, itu kayak wow banget sih. Iya. Keren, Pak. Coba lihat dari video di TikTok banyak banget kok.

Nah, itu kan di gurun ya yang biasanya ekosistemnya ee hampir enggak ada. Maksudnya enggak banyak. Nah, yang tricky nih gua kadang-kadang amaze juga buat yang di air yang apung kan ada tuh di Indonesia ada Jati Luhur apa di mana ya lupa he yang apung ada ada ni yang yang apapung nih gua agak mixed feeling karena ada ekosistem bro kalau lu tutupin semua mati yang di bawah enggak kena matahari tanamannya kalau tanamannya enggak ada, ikannya ikannya ngerti enggak loh itu tuh yang karena itu aku sempat lihat sendiri tuh kan ini ini apa, Pak? Ini ini oh ini solar panel dikejarin sama perusahaan rekanan dari luar negeri gitu ya kan dia ngambil ee hanya sebagian sih jadi enggak nutupin semuanya ini sebagian dari si waduknya itu untuk Iya maksudnya gua cuman bilang enggak enggak bisa semasif misalnya yang gurun lah yang kagak ada binatangnya juga gitu jadi lu enggak mengganggu ekosistem lah bahkan lu menciptakan ekosistem sendiri banget pretty cool lah eh Daneng ee lu sekarang sibuk ngapain aja di mana orang bisa mencari Lu ee channel-channel lu keluarin semua lah lu. Gimana nih?

Orang kan dengerin lu ngomong hari ini pasti kan nge-fans how can they find you? Yang paling gampang Instagram Cak Dan aja udah dari sana semua platform ada kita semua cak dan semua. Iya cak dan semua rata-rata ya handle ya. I tinggal di Google pasti ketemu. Di Google ada, di YouTube ada di TikTok ada di Instagram ada.

Omnipresence ada di mana- ada di mana-mana. Harus harus harus enggak cuman omnichannel kita Omnipresence sekarang kita luar biasa. Oke. Ee podcastpodcast podcast ee belum ada sih. Belum ada podcast yang lah kemarin yang Sindo.

Ah itu laporan khusus aja tuh. Laporan khusus tapi kan bentuknya kayak podcast. kita itu adalah bentuk dari update kita terhadap platformel tadi, Omnichannel tadi gitu. Tapi lu mau jelasin sedikit tentang podcast perlu nonton kali orang-orang ini? Iya.

Ya, ya. Di Sindo sekarang di Sindo News sekali e program-programnya sudah makin variatif juga. Jadi bisa dicek-cek ee Instagram-nya ee Sindo News. Sindo News ya. Heeh.

Dan juga YouTube-nya juga. Jadi itu udah macam-macam informasi dan sudah makin variatif sekali. makin variatif, makin banyak info, dan program-programnya juga menarik-menarik gitu sih. Luar biasa. Anyway, eh thank you sekali lagi, Bro Danang Arradian.

Kita tepuk tangan sekali lagi. Wuhuh. Huh. Luar biasa. Terima kasih.

Terima kasih. [Musik] Yeah.

Go deeper — Concepts & Ideas