Is the social contract between citizen and state already broken? Proxemics 021 closes the year as hosts Mercy, Awi, Sofyan and Steph open with Harian Kompas’ data journalism — a visual gut-punch showing 1.4 million hectares of Indonesian forest lost in 2023 alone.
From there they dissect the government’s disaster communication in Sumatra, calling it ‘strategic ambiguity’ and tone deaf — officials seemingly living in a ‘selected reality’ while ground data says otherwise, and a journalist’s tearful report gets quietly taken down.
The politics sharpen with Rousseau’s Social Contract and the #BatalKontrak question: what happens when citizens surrender rights for protection they never feel? They revisit Dirty Vote’s framing of ‘Otot, Otak, Ongkos’ and break down Dedi Mulyadi’s viral ‘350 versus 80 years’ speech.
A lighter but pointed debate follows: Roti O refusing cash — does a cashless policy collide with the constitutional standing of the Rupiah? Then Dino Patti Djalal’s open critique of Foreign Minister Sugiono on presence at international forums.
They close with a meaty agency outlook for 2026 — continuous improvement, year-end data crunching, and Praxis’ plan to open a research institute.
Between the heavy themes they pause on a telling footnote — a SEA Games 2025 skateboarding gold that arrived with barely a welcome — a small mirror of a state that seems to look straight past its own people.
A heavy but necessary year-ender for anyone who reads the news critically. Press play.




YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
Kamera. Oke, ini kamera gua. Eh, Kompas announcer radio itu membacakan nama-nama yang meninggal. Oh, no. Sambil menangis-nangis kayu.
Itu enggak boleh dimanfaatin ya. Tapi lu ngomong ke orang yang rumahnya ketumpukan batang kayu itu dan 20 hari enggak terima bantuan. Atlet, lelang jersey, skateboarder. Oh, iya. I gua nonton juga itu.
Heeh. Dapat, dapat gua. Heeh. Nyampai Indonesia enggak ada yang nyambut. Kita enggak bilang pemerintah enggak kerja gitu.
Tapi kalau kita bicara soal gaya komunikasi mereka tuh kayak enggak relate gitu. Jadi mereka kayak menyepelekan apa yang terjadi di luar sana jadinya yang kita yang ditangkap. Ada konsep di komunikasi itu namanya strategic ambiguity. Ambiguity-nya iya, tapi enggak strategic sih menurut gua karena it doesn't work buat pemerintah karena everybody's asking for it. Penggundulan hutan deforestasi 2021 Rp840.000 2022 Rp890.000 2023 Rp1.400.000 hektar.
[Musik] Hey, welcome back everybody. Eh, kita masih punya another episode, final episode of the year. It's been an exciting year buat kita di Proxemics, tapi akhirnya mesti kita tutup juga. But we have a lot of stuff to talk about. Jadinya kita langsung aja kita diskusikan yang nomor satu nih.
Kayaknya Sofyan lagi megang-megang sesuatu nih. Asik. Shoutout to Kompas ya. Kenapa ini menarik? Karena pertama gua ingat ini kertas kalkir.
Kertas gua hidup waktu itu bokap gua juru gambar tahun 90-an itu juru gambar di pemerintah daerah lah. Ee jadi kertas kalkir ini selalu ada di kehidupan gua lah waktu kecil sama barang-barang kayak Rotring, kayak Rugos. Jadi ketahuan umur umurnya jadi ketahuan umur nih kalau ngomongin Rotring. Ee yang hebat dari ini adalah di era yang sangat visual sekarang ya, digital, AI dan lain-lain. Kompas masih bisa stay relevan di dunia yang yang yang sangat bising ini dengan berbagai macam teknologi dengan peralatan yang sangat manual dan itu luar biasa buat kita.
Coba kita lihat, kita bisa lihat gimana sebetulnya ee koran hari ini itu bisa eh sori koran ini bisa menggambarkan betapa kerusakan yang terjadi ee di Sumatera yang mengakibatkan ee bencana yang sebetulnya sangat kita sesali ya, yang sampai saat ini dampak itu masih luar biasa terasa. Auranya itu akhir tahun yang seharusnya kita bisa celebrating apa apa lihat-lihat apa yang terjadi kemarin dan menyongsong masa depan kayak apa tuh. Tapi auranya tuh masih aura sedih karena h karena bencana-bencana yang terjadi. Gua enggak tahu ya kenapa selalu daerah itu yang yang gua ingat yang terdampak waktu tsunami juga waktu itu kalau enggak salah tanggal 26 Desember di akhir tahun juga terjadi dan gua ingat banget vivid apa video dari waktu itu TV terbatas ya Metro TV itu punya gambar gimana kerusakan itu terjadi dan sekarang lebih parah lagi kenapa karena gambar-gambar itu bisa kita dapat gampang gitu di media sosial Iya, orang-orang yang terdampak. Gua ingat lihat orang 2 hari tidur di atas mobil karena asli asli tuh.
Itu anyway, terima kasih Kompas yang buat gua adalah mengingatkan kembali bahwa ini tanggung jawab bersama. Kita sama-sama selesai, harus selesaikanlah. Kira-kira itu. Hm. Eh, dari gua nambahin dikit.
Just banyak yang kita udah bilang eh ah udah enggak ada L agenda setting, right? Agenda setting lu taruh di depan tuh nobody talks about it anymore. Well, ini membuktikan bahwa when you do it right, of course lu masih bisa sepowerful itu. And set the agenda. Ini a lot of people talk about this man, right?
Bahkan dari media yang tradisional ini dia lompat ke media apa namanya? sosial media digital dan lain-lain dan dibahas di sana gitu. Jadi dia beneran dan interaktif gitu kan. Lu bisa bolak-balik bolak balik and it shows a very graphic image gitu ya. gimana eh kerusakan hutan itu.
I mean, it's pretty eh we need to do something lah. Menurut gua as a country kayaknya kita eh it's a huge warning of course ya kan. Jadinya kita benar-benar harus eh udah banyak orang-orang pintar juga di luar sana kan. Oh, kita harusnya gini-gini banyak yang harus dilakukan dan I think eh we better get to it lah. He sooner rather than later.
Sori, ada satu lagi yang menarik di sini dari satu paragraf pertamanya. Analisis tim jurnalisme data Kompas mengungkap bahwa selama 1990 sampai 2024 he itu hilang 36.000 something hektar. Buat gua ini bukan just the number ya. seharusnya yang keluar angka ini bukan dari Kompas lah harusnya harusnya Kompas punya punya akses untuk bisa mengakses ee data yang misalnya disediakan oleh institusi yang seharusnya menjaga hutan misalnya Kementerian Kehutanan misalnya atau Kementerian Lingkungan Hidup atau apun. Iya.
Dan sebenarnya ini juga a good reminder bahwa selama ini kan kita hanya mengkonsumsi mostly digital ya maksudnya digital eh kontennya social media, video dan lain-lain. Tapi on certain cases tuh cetak itu still do the job gitu. How to visualize kalau enggak begini mungkin kita enggak bisa visualize kerusakan hutan exactly seperti apa. Iya. Karena kalau dari video kan cuplikan cuplikan cuplikan gitu kan.
Iya. So with this itu the effect of e information yang kita konsum juga jadi lebih jelas gitu. Iya. Setuju. Iya.
Eh, tapi sekarang itu kan realitanya beberapa minggu kemudian belum belum selesai penanggulangannya. Iya, right. Dan dan banyak banget polemik lah. The way the government eh handled the situation, right? Eh, the spokes persons yang muncul, yang ngomong itu mungkin eh ada yang mau dihighlight dari sisi komunikasi lah.
Gimana Heeh. ee orang-orang di pemerintahan berkomunikasi mungkin ya. Ya, dia kita bukan bilang bahwa pertama perlu dikritisi ya, tapi bukan kita berarti bilang bahwa pemerintah enggak kerja. Sure. Itu itu we need to make it very clear, Pak.
Jadi kita duduk di sini tuh bukan ngomong seolah-olah nobody is doing anything gitu. Of course they're doing something. Tapi kalau misalnya ada yang bisa diperbaiki itu kan kayaknya tugas kita as a citizen ya enggak sih? untuk mengutarakan gitu, menyampaikan kalau misalnya if ya it makes sense kita menyampaikan dan kemungkinan nanti mungkin bisa ditindaklanjuti gitu. maybe not from us tapi collectively orang-orang yang bikin konten itu tu you know eh together kita bisa beneran eh ya menyampaikanlah e criticism ini simpel kemarin sudah dicoba yang soal listrik itu ada klaim data 93% tapi ternyata enggak enggak enggak enggak masuk itu itu very apa sangat sederhana dan seharusnya itu sudah keluar sejak awal assesment itu.
Gua rasa kalau cuma data doang harusnya mereka bisa lah. E, Teman-teman enggak tahu kalau yang lain silakan. Gua tuh lebih ke ini sih maksudnya dengan kondisi ee access of informasi di mana-mana ya. Heeh. Semua orang bisa dapat data, gambar apalagi ditambah dengan deepfake AI di mana-mana tuh sebenarnya data tuh jadi extremely crucial gitu karena otherwise informasi yang beredar tuh jadi enggak tahu kita fakta yang mana.
So, everybody can claim informasi yang berada di luar sana juga. Jadi sangat liar. Jadi sebenarnya pemerintah tuh enggak pikir kepikiran enggak sih bahwa dengan tanpa data tuh malah memperburuk situasi ya. I that's one. Kedua sama gaya komunikasi ya sebagai orang-orang di komunikasi mungkin kita semua agree that the way eh the government have been communicating about this issue tuh maybe not ideal lah.
Eh far from ideal. I from karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan the way communicate itu I see it tanpa ada empati sama sekali gitu. A lot of times kita dapat cuplikan tuh kayak what? Lu masa ngomong kayak gini sih? Dari dari yang paling pertama ya eh kepala BNPB-nya sendiri itu dia kick off enggak sih?
Kick off i kan dia kick off itu dengan yang Kemenhut kita sudah bahas juga gitu itu kayu enggak salah Menteri LHK tuh yang ngomong itu. Oh bukan bukan. Jadi bu enggak yang medsos itu BNPB, enggak, enggak, siapa trus. Oh tapi yang kick off maksud lu. Iya yang kick off.
Terus habis itu ngomong bahwa kayunya itu bukan apa bukan kayu itu. Itu ternyata LHK itu. Ternyata kalau salah itu luar biasa ya. Maksud gua ada nomor-nomor enggak kita amen maksudnya bukan kita apa menertawakan apa yang terjadi di orang-orang korban ya. Tapi the way it's being handled tuh aneh aja.
Nah, ini nih coba gua iseng nanya kenapa kan jadi kita sama-sama mengalami yang Heeh. ee di Aceh dulu Heeh. ya kan yang lu bilang, "Oh, ada datanya ini berapa ribu rumah terdampak sekarang enggak ada." Heeh. Yang orang enggak tanya kenapa? Heeh.
Kenapa sekarang enggak ada itu? Iya kan? Jawabnya gimana ya? Kita bukan pemerintah juga enggak? Iya.
Lucu aja dulu. Iya. Gua sebenarnya udah tahu, tapi ini lagi-lagi I don't know if it's true or not. So, I'm going to speculate lah. Tapi dengan sesuatu eh dulu itu pure natural disaster.
Lu gempa, iya air naik habislah tuh Aceh. Patahan patahan lempengan di dasar kan air naik hancur kacau balau. Kalau sekarang ah right ini nih karena enggak 100%. Heeh. Maksud gua it seems like ada kepentingan-kepentingan yang mau ditutupin, dilindungi or whatever yang ujung-ujungnya enggak seterbuka yang dulu.
Gua ngelihatnya gitu ya. I could be wrong. Oke. Oke. Tapi kalau enggak lu kenapa gak buka?
Jadi kayak semua orang jadi tahu ada data-data yang di intentionally memang enggak disampaikan karena it's not a pure natural disaster could have been prevented gitu maksud lu kan. Heeh. Ada konsep di komunikasi itu namanya strategic ambiguity. He. Well, this is ambiguity-nya iya tapi enggak strategic sih menurut gua karena it doesn't work buat pemerintah.
Karena everybody asking for it semuanya. pointing to that ambiguity in the first place. Jadinya I don't know. I think it needs to be changed. Ngobrol itu tiba-tiba pagi tadi ada yang WA gua soal deforestasi di Indonesia.
Data nih kita ngomong data ya. Kita bukan data pemerintah. Oke. Ee dari tempo. Oke.
Tahun 2020 tuh 960.000 penggundulan hutan deforestasi tahun tahun itu 2021 Rp840.000. Oke. 2022 Rp890.000. R000. Oke.
2023 Rp1.400.000 hektar. Wow. Di 2024 Rp1.100.000 hektar. Mungkin nanti Kris bisa visualize ya. Nanti kita bisa kutip ini.
Jadi kira-kira gambarnya. Oke. Wih. Iya. That's that's pretty crazy.
Crazy. Iya. Lu bayangin tempat-tempat yang tadinya gua enggak pernah dengar sih ada bencana di tempat-tempat ini ya. Aceh Tamiang mana-mana kok tiba-tiba like sekarang despite bahwa memang cuacanya lagi enggak oke juga ya. Thailand juga banjir, Vietnam banjir, segas.
Tapi ini dulu kayaknya enggak enggak juga ya maksudnya. Kenapa? Kan dulu Thailand juga. Iya. Heeh.
Tapi kok kita terbuka dulu? Iya, benar. Kenapa sekarang jadinya kayak dibikin seolah-olah tuh selalu pengin everything is ok atau it's getting fixed gitu? While the reality it's not I strategic ambiguity tadi. Heeh.
Lu lu 3 minggu 3 minggu kemudian 4 minggu kemudian Bro masih ada. Oke, ini nih juga kita lupa tadi ya diskusi sebelum kita mulai. Heeh. Jurnalis yang nangis-nangis. Oh iya dicopot CNN dan bahwa videonya diturunin.
That's that's another layer lah yang kita mungkin harus bahas juga. Oh. Heeh. Maksud gua bahkan reporter-reporter yang ada di lapangan tuh kayak udah benar-benar despert ya kan. dia itu ngomong lagi, "Maksud gua adalah pasti kritik-kritik orang-orang yang benar jurnalism.
Harusnya lu bisa memisahkan diri dari situation." Itu tuh prinsip dasar jurnalism. Tapi it's so hard being a journalist pada saat lu manusia at the same time. Enggak, enggak bisa gua kalau itu buat gue jurnalisme itu harus punya keberpihakan. He. Keberbihakan sama publik, sama orang-orang yang tertindas, sama itu.
Itu udah enggak mereka enggak di ruang hampa, Men. Bukan itu maksudnya. keberpihakannya atau opininya tuh that's that's fine, tapi the emotion. Oh, oke. Jadi orang pasti banyak yang mengkritisi.
Harusnya lu sekacau apapun lu melaporkan berita tuh harus objektif ya kan lu lu enggak bisa terbawa emosi ya enggak mungkin dong lu jug ngamuk-ngamuk gitu kan. Maksudnya that's the eh journalism principles at least yang dulu gua pelajarin ya. But still ya kan secara manusia man itu ada literally ada anak-anak di seberang sana yang sudah enggak makan 2 hari. How would you feel, man? Iya.
Ini mengingatkan gua pada tahun 2004 juga waktu gua relawan ke Aceh pas lu 2004nya apa 2005nya? 2004 gua 2004 tank 26 Desember itu lu ke sana apaakadi 2005 lu ngayal 26 Desember cuy. Eh, oke. Pokoknya waktu gua ke sana itu salah satu tugas gua adalah membantu ee proses komunikasi supaya berjalan dengan baik. Ngomongin soal data yang ada di sana itu tuh yang satu-satunya media massa yang aktif di ee Aceh saat itu tuh radio.
Iya. Ee radio yang bisa siaran dan radio yang bisa didengarkan oleh Kalayak karena masih ada radio kan unitnya. Nah, gua ingat banget itu ee ee ee kita beberapa relawan itu ngelihat bahwa itu ee announcer radio itu membacakan nama-nama yang meninggal. Oh no. Sambil menangis-nangis seg-segukan sampai akhirnya pecah nangis.
Dan sementara ada orangorang ee ee waktu itu kan bantuan asing sudah datang kan itu bule-bule itu ng-push jangan nangis bacain sampaikan kepada masyarakat apa yang terjadi ngpus ngepus ngepus terus sampai kita yang relawan tuh enggak tega enggak tega terus kita agak tarik bulenya eh please please understand eh it's their family bla bla bla itu tuh e eh e memang sangat sulit untuk meredam emosi walaupun seorang jurnalis, jurnalis radio waktu ini saat itu. Dan ini terjadi lagi kan terjadi juga sekarang ee ee ee di depan kamera yang sangat disayangkan juga kenapa dia sudah naik tayang liputan itu diturunkan kemudian. Iya. Dan di zaman kayak gini lu enggak bisa sembunyikan men. Exactly.
Orang bareng memang dan makin banyak malahan muncul dari source-source lain. Exactly. Jadinya eh again kayak lu put pressure lah. Of course they claim they weren pressure or whatever. Tapi why would you man?
Ada dari 1000 video yang lu naikin dalam waktu 3 minggu itu yang lu turunin. Why? Iya. Kalau kalau misalnya enggak ada Iya. pressure directly atau indirectly lah.
Pressure enggak? Aduh. Iya. Harusnya ada yang dikritik. kritik ini terutama beratnya adalah di soal komunikasi pemerintah ini berkali-kali kita ngomong dari belander-belander di awal-awal bencana terus sekarang ngomong soal kebijakannya lah macam-macamlah ini soal kayu yang pemanfaatannya apa namanya harus izinlah berdasarkan Perpres inilah segala macam terus kemudian soal apa mau galang apa iya sawit itu terus ee apa terus kemudian kalau galang dana harus ee apa harus izin Menteri Sosial lah.
Jadi terus kemarin cerita apa ee bantuan ke Medan yang dari UAE itu terus kemudian harus dikembalikan banyak blunder-blunder stupid things. Gua ngerti ada reason policy yang bagus di belakang ini. Misalnya soal eh izin Menteri Sosial itu ya soal itu supaya accountability lah supaya orang yang ngumpulin dana juga bertanggung jawab. Kita tahu kemarin sudah trauma masalah macam-macam penyalahgunaan dana bencana. Terus habis itu yang soal kayu.
Jadi gua ngelihatnya gini bahwa antara kembali lagi ya ngomong kapasitas negara untuk memperbaiki ni lu boleh bilang bahwa kayu itu enggak boleh dimanfaatkan apa masyarakat tapi ee nanti negara yang akan beresin segala macam. As long as you have the capacity untuk misalnya ngelola itu. Yang jadi persoalan kan kapasitas ngelolanya enggak ada. Terus lu bikin aturan-aturan yang membatasi di saat bencana gitu, di force major gitu, di situasi kedaruratan gitu. I maksud gua kayu itu lebih bermanfaat mungkin bagi masyarakat lokal untuk ngebangun.
Iya. Itu lu kenapa enggak manfaatkan kayu-kayu itu aja? Ngomong ngomong soal kayu itu enggak boleh dimanfaatin ya. Tapi lu ngomong ke orang yang rumahnya udah ketumpah yang ketumpuk kayu. Ketumpuk batang kayu itu dan 20 hari enggak terima bantuan.
Any mungkin makannya dapat ya. Tapi kan orang enggak cuma hidup dari makan aja dari papannya juga gimana itu lu bayangin dia mereka hidup di pengungsian 20 days itu loh ya. Mungkin ada pengungsian ada enggak orang tidur di masjid segala macam. Dan itu yang dirin empati itu enggak maksudnya kita tadi kembali ke poin awal bahwa kita enggak bilang pemerintah enggak kerja gitu. Tapi benar kalau kita bicara soal gaya komunikasi em mereka tuh kayak enggak enggak relate gitu.
Jadi mereka kayak menyepelekan apa yang terjadi di luar sana jadinya yang kita yang ditangkap dengan message-nya. Iya. Sibuk. Enggak enggak gua tahu kira-kira ini dugaan-dugaan aja namanya ya. Educated guess.
Educated guess. Gua enggak menuduh ya ini gua enggak menuduh ya. Jadi mereka ee ya ada beberapa ee istilah bahkan udah inkompeten lah segala macam. He. Tapi gua enggak bilang itu, enggak kompeten semua bekerja, semua jalan.
Cuma memang enggak 100% ya bisa apa diberesin ya. Itu wajar karena soal kapasity tadi. Cuma problemnya selected reality ini ya dia kan harus lapor ke bos the bosses ya di dalam hal ini presiden, presiden bahwa ya ini sudah ditangani dengan bagus, semuanya sudah baik segala macam. Akhirnya blunder itu terjadi. Iya.
Eh karena terlalu jelas, cuy. Kalau lu tahu informasi semuanya, lu pas lagi di Golkar atau lagi diapat, lu enggak akan ngomong hal-hal yang lu omongin, man. Iya. Karena kata-kata yang keluar dari mulut Pak Presiden pada saat itu kayak, "Hah, what are you talking about?" Maksud gua lu, lu, lu enggak tahu ya bahwa semuanya itu belum benar. Heeh.
Dan gua yakin dia enggak tahu karena kalau lu tahu lu enggak mungkin enggak sih ngomong kayak gitu? Iya. Seolah-olah tuh in a sense gua melihat dia bangga bahwa timnya dia berhasil take control of the situation. Padahal enggak, cuy. Sori, gua mungkin agak sedikit detach sama informasi-informasi di Indonesia ya.
Tapi kemarin tuh gua sempat terekspos dengan bahwa ada penolakan terhadap bantuan asing. Iya, ada. Betul. Ada juga itu yang UAE itu tadi UAE tadi 30. Selain UAE ada lagi enggak?
Ada. Ada. Banyaklah pasti lembaga-lembaga kemanusiaan gitu, cuy. Orang Malaysia. Jadi ini menarik ya maksudnya.
Oh, Malaysia. Malaysia lagi nyumbang cuma Rp10 miliar apa terus habis itu dokter-dokter yang datang tuh dibilang apalah terus itu Listyo Sigit iya ngomong ya enggak gua lupa lah siapa lah itu yang yang berkomentar bahwa Iya iya kayak oh it's it's nothing lah enggak seberapa bantuan di ya terus orang-orang pada ngomong kan pada menjawab semua bahwa Bu kalau kita ngomong bantuan tuh kan bukan nilainya ya kita juga nyumbang ke Ferry Irwandi misalnya Rp100.000 Rp200.000 R pada akhirnya 10 M juga misalnya. Iya. Ruandi ya. Heeh.
Nah, ee yang penting kan niatnya ya datang di sana hadir dan korban juga melihat oh ada yang datang ngelihat gua ada yang peduli. Itu kan itu kan jadi apa dukungan moral terhadap mereka yang nerima ini. Iya. Jadi unik aja sih maksudnya apa gitu filosofinya apa gitu harus nolak. Gini, bukan soal gua udah speechless lah soalnya ini.
Iya. Soal organik-organik tadi, bantuan-bantuan organik. He. Kita tuh bangsa yang kuat lah. Artinya dulu gua ingat waktu Aceh kemarin juga ada organisasi-organisasi person-person, individu-individu yang punya pengaruh itu mengumpulkan bantuan segala macam.
Terus mereka konkrit datang ke sana sewa pesawat. Dan yang lucu lagi bahkan ada yang apa komunitas apa 4* 4 6* 6 itu offroader gua lihat dia bikin apa mobilnya dibawa sana beresin ngangkut bantuan luar biasa men yang yang gua mau ngomong adalah seharusnya negara mengkoordinir itu dan itu enggak terjadi. Itu aja. Iya. Ini ini kayak mereka eh ini masalah gua, lu jangan ganggu-ganggu.
What are you trying to hide, man? That's just stupid. What's going on? Nah, itu itu ee yang gua tangkap itu karena Indonesia itu menganut ee prinsip kedaulatan dan kendali nasional. Apalah ee enggak tahulah maksudnya gua enggak bilang gua mendukung itu atau gua menolak itu.
Tapi mulu dari mana itu? Tapi narasi itu narasi itu muncul kedaulatan kendali nasional bahwa yang yang apa ee ee bahwa negara negara kita itu tetap memegang kendali penuh atas apa yang terjadi di dalam negeri. Itu mindsetnya ya. Bukan berarti gua ngomong ini bukan berarti gua mendukungnya. Gua cuma menyampaikan secara deskriptif nih.
Jadi ee ee bantuan asing harus sesuai kebutuhan, ee harus lewat mekanisme resmi, ada standarnya. Ee dan ya mungkin apa yang Mercy bilang tadi bahwa Presiden merasa bahwa ini semuanya terkendali. Aman, Bro. Heeh. Jadi, morning.
Jadi, jadi bahwa kita masih daulat dan mengendalikan kondisi nasional gitu loh. Iya. Oke, itu anting yang kita kan cuma bisa membaca tanda ya. Itu tadi lu poin penting tuh presiden ngomong apa tapi realitasnya begini gitu. Kayak halu gitu cuy.
Malah kayak lu delusional tah, delulu tahu. Delulu banget. Itu gara-gara kita sepakati bahwa itu selected reality. Ya, yang jadi persoalan adalah orang-orang di bawahnya ini kayak enggak ngerti cuy apa yang harus dilakukan. soal komunikasi aja.
Bahkan itu tadi data aja sampai gua gua nonton itu yang yang e preskonnya Mayor Teddy sama Kasad sama itu. Satu hal kepala BNPB-nya kok enggak ada ya. Satu. Terus yang kedua ada beberapa statement yang menurut gua agak off sih. Kayak misalnya Pak Maruli tuh Kasad bilang ee oh ya ini udah kita kerja siang malam.
Oke. Iya kita tahu kerja siang malam. Ee dan ini sebetulnya kita punya data tapi enggak perlulah ditampilkan di sini. kita eh eh bergerak dari sudut pandang komunikasi adalah gimana cara It's not about the message but also how do you deliver deliver enggak kalau krisis kan kita udah paketnya udah jelas tuh empati iya paket empati itu nomor satu terus keberpihakan sama si siapa apa orang-orang yang terdampak in terus yang ketig maksud gua tadi caranya aja dia kurang piawai maksudnya enggak ada el misalnya yang untuk membantu Sofyan Herbowo Nanti ada emailnya, Anda bisa membantu kalau lu mau maki-maki itu poin gua bukan poin gua iya tapi memang ya kemarin heboh itu satu nonverbal like there's something in his face in his mouth ya kan yang j what's going on man ya kan sama empatinya sih empatinya tunggu dulu kok Kalau if you wan to say something nomor satu lu jangan ngomong it's not about you or about the government tapi it's about the people jangan ngomongin kitanya gitu enggak enggak menurut gua penting tadi setuju sama Adwi penting untuk menjelaskan bahwa gua nih kerja loh kita pemerintah nih kerja itu penting tapi at the same time ee dia juga harus sadar bahwa dia tuh tidak menjawab yang lain-lain gitu kayak you're focusing on the wrong thing kayak you busy defending yourself tapi what are the issues that you should have address tuh tidak ada. Heeh.
Menenangkanmenenangkan kita. Memberikan kepastian kepada para korban bahwa bantuan akan datang tapi butuh waktu itu enggak ada. He kayak it's about you against them. Padahal harusnya it's about us together gitu. Itu yang I think that's that's the point yang harusnya mereka sadari itu.
Lu ingat enggak waktu si Ferry Irwandi bikin bla bla bla terus ada anggota DPR bilang, "Ah, itu baru baru ngumpul segi 10 miliar udah kayak paling-paling iya cuy. 10 miliar itu organik. Sedangkan lu diberi keleluasaan untuk mengelola anggaran triliunan untuk punya kapasitas beresin ini semua. H ya. Kalau misalnya lu kurang satu dua okelah kita.
Tapi jangan diperburuk dengan komentar-komentar yang enggak perlu. Jadi kayak enggak ngerti gitu loh apa yang harus dikerjain. Jadi kayak dia tuh sibuk membela dirinya kayak gua against everyone padahal it's not about that. It's about us Indonesian gitu. kita sebagaiak jadi enggak nyambung aja sih ekspektasi kita dan realitanya mereka.
Iya. I ini nih menarik ke topik bukan masih topik yang sama tapi item berikutnya sampai ada anak di Papua cuy mecahin tabungan buat membantu saudara-saudaranya di Sumatera. Atlet lelang jersey. Lelang lelang nomor BP. Bentar lagi dia lelang tuh medali emasnya.
asli untuk membantu eh fellow citizens gitu ya. He anak Papua ini sepertinya ee dapat hadiah. Hadiahnya pakai tanda ini ya kutip ya. He. Karena nanti hutannya mau dibantai cuy ya kan.
Masukin lagi sawit. Asik. Wow. itu maksud gua kayaknya ada ada selected reality di mana decision makers ini eh enggak enggak ngerti bahwa situasi di ee di level bawah ya di grass root ini enggak lagi baik-baik aja cuy. Itu poin pembicaraan kita hari ini.
Asli itu poin kita hari ini. Kayak lu di tengah semua kekacauan yang partially could be caused atau most likely caused by Heeh. palm apa namanya? Palm jangan penggundulan. Kita bicara penggundulan whatever buat apa nanti partially.
Makanya gua bilang partially ya, partially palm oil ini lu mau ulang lagi cuy di Papua dan ini belum aduh ini udah kepanjangan tapi itu digundulin duitnya ke mana? Hm hm. Ada orang-orang Sumatera situ. Orang-orang situ emang dapat duitnya kagak anjing. Hihi.
Di Papua yang udah kayak begitu terus lu mau kayak gituin lagi. Iya. Dan sekarang yang gua suka, gua enggak suka sih, gua suka l whatever right yang menarik perhatian gua Aceh bertanya, "Oh, kalau lu enggak mau bantuin gua, gua merdeka aja lah gua sama Malaysia." He nih, gua dibantuin. He. Ya kan yang di di daerah-daerah ini akhirnya keluar omongan-omongan, "Oh, kalau lu kalau kita enggak dibantu, enggak dapat perhatian, lu ngegundulin hutan tempat gua.
Pas gua susah, lu enggak bantuin gua?" Oh, ya udahlah. Ini kan ada konsep basic yang dari kemarin gua ngobrol itu tentang eh social contract. He right. Dari zaman dulu udah ada lah Rousseau. JJ Rousseau.
Ada Rousseau. Walaupun dia yang ketiga. John Locke, sebelumnya lagi ada Hobbes. Edisi revisinya aja yang kita ambil. Iya.
H. Jadinya itu aja L yang lu tahu. Tapi, tapi intinya gini yang yang lucu. Makanya gua kemarin-kemarin ini gua suka bikin konten, bukan bikin konten L, gua komentarinya itu hashtag batalkontrak. Kenapa kita ini the premise ya, social contract buat yang mungkin enggak enggak pernah ke baca or whatever lah, enggak pernah ke expose.
The idea is gua melepaskan sebagian dari hak gua supaya hak-hak gua sisanya bisa diprotect. Heeh. That that's the basic premise lah. Ya, itu kita kontrak dengan apa yang disebut dengan government. Iya.
Gua gua gua punya 10, gua lepasin satu. Tapi lu jamin gua yang sembilan, cuy. Heeh. Nah, kalau ini gua udah enggak ngerti lagi konsepnya. Lu lepas tiga, yang tujuh pun enggak kejamin.
Nah, itu kan pada akhirnya orang-orang tunggu dulu ini nih latar belakang kita bernegara nih masih tercapai apa enggak? Unfortunately kan a lot of people enggak ngerti ya bahwa it's a contract. Kontrak apapun gua beli barang di Shopee, Tokopedia, shoutout. Asik. Kalau gua enggak suka, gua balikin cuy.
Gua batalin, Bro. Gua beli ini warnanya hitam. Lu kirim gua warna ini batal kontrak bego-begoannya. Nah, ini of course it's much more complicated. Tapi gua suka nih karena orang-orang sudah menyuarakan bahwa eh tunggu dulu lu jangan main-main, man.
Iya. Karena kita sebagai eh citizens bisa aja membatalkan kontrak itu. Kemarin di mana? Thailand. Thailand.
Eh, DPR Nepal kali. Thailand dong. Thailand. Thailand. Knya kalau yang batalin kontrak sih Nepal sih.
Pasti bubar-bubar. Ah, kalau yang membubarkan itunya Thailand kan. Thailand. perdana menterinya. Oke.
Ee kedaulatan balik ke rakyat. Heeh. Heeh. Dulu sementara enggak kita pernah melakukan itu waktu itu Pak Konstituante itu tahun 55 dekrit. Apakah itu perlu dilakukan lagi?
Itu tuh enggak dibahas sekarang tapi buat buat yang di rumah. Coba dipikirin lu provokator juga. Lu jangan jadi provokator gini gini gini gini gini gini. Tapi dampak paling yang menurut sebelum lu mulai. Heeh.
Belum selesai. I'm with the people, Sofyan. Asik. Kalau ada berapa ratus yang harus dikorbankan kita korban Stalin, ala Stalin juga deh. Enggak.
Gini gini gini yang bahaya dari selected reality adalah bahwa kejadian Agustus kemarin bisa terjadi lagi, Bro. Enggak. Permasalahannya adalah Indonesia itu very forgiving, very forgetful, and very forgiving. Dan lupa kan kita punya ada 17 program itu kan sebenarnya ada janji-janji yang belum tercapai. I lupa lagi tuh.
Sama 17. Siapa aja orang-orangnya? Siapa aja? Ee lupa. Indonesia.
The influencers. The influencer siapa aja? Lupa gua maksudnya. Eh, Lapor Mas Wapres itu, kan. Ada banyaklah.
Ada banyak. E coba coba dip dulu. Tapi maksud gua go back to the point bahwa ya itu Agustus bisa terulang bisa. Tapi again kita sebagai sebagai negara itu kita sangat sangat forgiving. Heeh.
Sangat forgetful juga. Jadi follow through-nya tuh enggak ada. gimana ya enggak konsisten because ya itu point forgetful and forgiving staminanya lemah sih kalau menurut gua ya kayak enggak ada stamina gitu untuk untuk maintain issue gitu kan topic gitu eh tunggu dulu easily distracted juga tapi tapi tapi lagi-lagi ya gua gua mesti kasih shout out buat Kompas konsisten man iya sampai hari ini mereka masih ngomongin tentang hutan he ee ee Sumatera dan lain masih sampai hari ini. Yang lain-lain mungkin coba-coba lari ke isu yang lain. They stick with it dan itu Ridwan Kamil misalnya.
Exactly. Ada-ada aja lagi yang enggak penting itu ya kan pengalihan isu pengalihan isu banget. Pengalihan isu banget. Yang yang terakhir nih sebelum kita move on, what do you think about speech-nya kemarin? Lu enggak enggak expos ya?
Ini juga sih cuy yang dia ngomong. Ngomong apa sih? kayaknya gua dengar aja apa kita itu dijajah Belanda 350 tahun. Oh iya iya i ya betul betul betul betul. 350 tahun kita dijajah Belanda ada jembatan kuat jalanan.
Iya iya i bagus hutan hijau men. Heeh. Semua mineral masih ada di bumi. 80 tahun Indonesia merdeka, hancur kacau balau bro. Hm.
Isn't that weird? He ngerti kan lu itu tuh when he puts it he is such a good communicator menurut gu right eh there are moments yang dia tuh bisa simplify things easily buat kita tuh what itu walaupun itu sebetulnya kompleks ya gua masih apa namanya bisa of tapi maksud gua tapi realitanya singkatnya kan begitu singkatnya begitu singkatnya begitu ujung-ujungnya lu di ini 350 tahun nothing happen 80 tahun merdeka malah kok kayak begini gitu gitu. Why? Why? Yeah.
What do you think? Kalau lu udah lihat, Sofyan. Iya. Aduh, gua susah ya ngomongnya ya. Hm.
Gua banyak berinteraksi sama banyak teman lah. H dari berbagai level juga kita berteman kan semua ya. Kayak elitnya tuh suka enggak nyambung dengan kebutuhan publik bawahnya. ada some elit yang memang apa namanya memperjuangkanlah kalau tapi kalau lihat dari komposisi yang sekarang tuh mereka jadi minority mak saya jauh dari dari mungkin ini karena sistem politik kita juga yang sangat apa ya ee patron klien lah inilah masyarakat kita juga masih sangat lihat to ketokohan lah itu irasional enggak rasional lah maksud gua mengakibatkan sistem politiknya kayak gini yang terus ke bentuk elit-elitnya itu kayak enggak nyambung dengan kebutuhan publiknya gitu. Ini nih gua enggak tahu perlu dimasukin apa enggak ya intinya ya kita bego-begoannya ini nih masalah koalisi yang terlalu gemuk juga.
Jadi masing-masing nih punya kerajaan-kerajaan kecil yang akhirnya menyandra presiden ya kan kalau enggak dia hilang koalisinya. Pada akhirnya ini nih ngomong agak kasar ya lu. Lu kalau [ __ ] Heeh. enggak ada yang off limit cuy Indonesia hari ini. All in man.
Lu mau apanya for sale. At least disewakan. Mau disewakan dibeli everything man ujung keujung sampai lu jiwanya juga kalau punya jiwa lu it's for sale. Enggak. Kalau gua lihat dari Presiden Prabowo ya, dia dia ideologically ya, nasionalis apa gitu-gitunya good lah buat tinggi banget.
Good, good. Tapi persoalannya adalah implementasinya di level ini apa eksekusi operasionalisasi kebijakannya itu yang yang kadang enggak bisa dia kontrol. Kalau dulu sore ya SBY Jokowi dia kontrol itu ee implementasi kebijakannya yang sekarang cuma katanya dengar aja laporan aja. Jadi dia enggak cross check. Ada beberapa item yang dia cross check tapi mostly enggak semua.
Itu itu bahaya. Karena menurut gua kalau misalnya dia dapat informasi yang seutuhnya Heeh. Man, dia enggak akan bertindak seperti apa. Jadi dia enggak akan ngomong apa yang dia omongin. Dan reaksinya terhadap orang-orang yang kita sering lihat muncul ini habis enggak sih dibantai sama dia?
Iya, habis. Paling enggak di belakang layar. Exactly. Di belakang layar lah walaupun dan itu penting itu mekanisme bernegara yang sehat. ada cross segala macam.
Heeh. Ya, itu sih ee terakhir gua belum nonton tadi Sofyan kayaknya udah nonton dikit ada Dirty Vote 2 ya itu kayaknya Oh tahu yang nonton dua itu 4 jam gua baru nonton kayak belum lama gua mau nonton cuma maksud gua nanti mungkin ya kemarin gua udah cuma nonton kayak 1 per3nya ya karena lumayan panjang durasinya ya. He itu itu just just shout out. Tapi kayaknya mungkin kita bisa bahas pas kita udah nonton semua nanti kita get back to it. Tapi everybody's talking about it bikin content about it.
Enggak, gua kan tkspose kalau Dirty Vote satu. Terus yang kedua ini itu kan kalau misalnya mereka menyederhanakan ada beberapa persoalan ya mereka kan try to apa menyampaikan ini publik dengan cara yang summary gitu. Sedangkan keterlibatan gua dalam apa ya maksudnya dinamika politik yang tiga 5 tahun terakhir lah misalnya itu sudah lumayan ada lah. Jadi gua kebayang sebetulnya apa yang mau mereka sampaikan. Kembali lagi ke statement yang tadi itu karena problemnya itu tadi gampang dibeli publiknya.
Pertama ya dia dia di Dirty Vote itu dia bilang tiga kalau engak tiga otot otak otak sama ongkos ya. otot itu adalah ee apa namanya? Institusi-institusi yang seharusnya jadi institusi negara. H you name it polisi, militer, terus kemudian birokrasi segala macam. Justru dia dijadikan alat politik untuk gaining vote.
Itu udah salah besar. Hancur, Bro. Hancur. Transaksi. Transaksionalnya itu luar biasa berat.
Karena apa? Lu gimana publik bisa ngelawan institusi yang secara sistematis sudah punya jangkauan sampai ke bawah? Itu yang seharusnya enggak enggak boleh dilakukan loh. Heeh. Dan di era SBY itu enggak dilakukan seingat gua ya di era Megawati juga enggak dilakukan.
Institusi-sinstitusi itu profesional waktu itu ya. Engak ada cuy. Ada paling di level ya. Tapi kan itu levelnya kebijakan ya misalnya Kapolri ini enggak srut untuk kebutuhan apa namanya oligarki politik. Oh, itu maaf ya bisa di-te ini fakta up loh buat gua dan itu kerusakan sudah terjadi.
Gua nge-sense ya bangsa 8 tahun terakhir. Hm. Terus yang kedua soal mm tadi apa? Otot otak. Otak juga begitu ya.
Itu lu bilang koalisi gemuklah segala macam. Karena apa? Otaknya itu di Indonesia ini partai politiknya sudah tercerabut. Ini dulu di zaman Soeharto ada yang namanya politik masa mengambang itu h ya zaman fusi waktu dulu kan partai politik banyak banget kalau lu ingat kan tahun terus habis itu dijadiin tiga. Artinya akar apa ideological root-nya itu dicabut terus lu tiba-tiba harus ngomong P4 lah segala macam lah.
Jadi kayak 30 tahun terakhir Indonesia tuh enggak keekspos sama diskusi-diskusi politik ideologis beyond apa yang ditawarkan dari saat itulah. Ah, jadi enggak ada tuh kiri kanan apalagi lu lihat sendiri ya isu komunis tuh kayak barang dagangan komoditas aja bukan bukan sesuatu yang dipelajari betul gitu ya. Terus neolip lah, struktural fungsional segala macam. Enggak ada kita perdebatan itu di partai yang sekarang. Semua partai itu ideologinya apa?
Enggak jelas men. H semuanya nasionalis semuanya. Kalaupun partai Islam Islam nasionalis kayak gua enggak enggak bisa how differentiate itu semua. Terus kemudian sekarang jadinya transaksional di ujungnya apa politik ini dagang sapi apa istilahnya apa pork barrel policy yang kayak kemarin gua pernah tulis lah ya waktu itu berapa waktu lagi lu di salah satu media opini gua masukin iya soal pork barrel policy itu itu bahaya itu. Jadi lu vote itu dibeli pakai otak itu tadi bahwa oh ya udah nih konstituen gua gua akan jadi transaksinya di situ harusnya kan ini kan buat semua kesejahteraan yang terakhir ongkos ya ongkos itu suara publik jujur aja ni sekarang teman-teman gua yang maju DPR lah segala macam itu cerita bahwa sekarang ongkos buat terpilih itu mahal sekali karena waktu itu pakai bansos pakai apa segala macam orang untuk milih satu kandidat tertentu bantuan presiden itu tapi dengan agenda agenda politik pribadi ya buat gua agenda kepentingan pribadi dan golongan itu itu itu enggak enggak sehat artinya apa orang yang betul-betul mau itu lu harus keluar duit buat ya gua paham jadi itu kayak vicious cycle aja ya iya jadi lingkaran setan nahion cycle iya apa gua mau mention satu profesor Amalinda Savirani salah satu apa kolega juga di UGM waktu itang bahwa nanti mungkin videonya bisa di itu Ya, dia bilang ini negara parah nih, inkompetensinya sudah luar biasa dan lingkaran setannya ini harus diputus.
Kalau enggak siapapun pemimpin lo ke depan nanti akan begini lagi, begini lagi, putar terus aja, rolling aja jadi kayak oligarki politik. Belum kita bicara soal ongkos itu kan sumbernya dari mana? Dari konglomerat-konglomerat apa segala macam, oligarki ekonomi juga ujung-ujungnya. Gua enggak mau bilang bahwa Dirty Vote nih apa ya? Ya, dia kira-kira merangkum apa yang gua rasakan lah selama beberapa tahun terakhir.
Ee cuma yang kita tetap harus optimis bahwa perbaikan, kesadaran politik segala macam itu bisa bisa balik lagiah itu sih. Yang lain ya gua gua gua cuman mau shoutout aja Indonesia posisi kedua perak medali atlet sebagai atlet ya SEA Games 2025 di Thailand. Heeh. Ee cukup ini ya lewat target katanya melampaui targetnya 80 dapatnya 91 emas. He.
Ee ee cabang ee salah satu cabang yang paling banyak menggondol ee emas itu ee triatlon. Tentu saja saya suka olahraga itu. Jadinya saya agak mengikuti perkembangannya. agak mengikuti ee ee ya patut diberikan inilah ya apresiasi bahwa pembinaan atlet di Indonesia masih berjalan sesuai ee ee apa perencanaan yang di disiapkan bahkan ee oleh pemerintahan administrasi-administrasi sebelumnya. Jadi ee okelah, bagus gitu, keren.
Itu aja sih. Ada lagi apa lagi seams? Tapi coverage-nya kurang oke ya si games yang kali ini ya. Iya karena lagi ini cuy situasi ini gua kayak enggak keekpos gitu enggak terlalu banyak. Terus kan si si Kamboja ya ngundurin diri karena konflik dengan Thailand tuan rumahnya gitu-gitu jadinya heeh.
Jadi mereka pulang aja enggak jadi enggak jadi datang gitu. Jadi banyaklah yang geggitunya. Okelah tapi politik regional juga mempengaruhi. Gua cuman lagi-lagi gua kan anaknya hyper critical. Enggak itu keren.
Tapi cuman kemarin gua cuma noti satu konten sih. Kebetulan gua terpapar itu ada anak laki skateboarder. Oh iya iya gua nonton juga itu. Heeh. Dapat dapat gua.
Heeh. Nyampai Indonesia enggak ada yang nyambut gitu-gitu ya maksud gua. Ei man anak ini tetap berlatih mewakili negara menang emas juga cuy. Iya lu dihitungnya beda emang emasnya ditimbang kagak kan satu emas gitu. juga ada beberapa beberapa cabor yang enggak di kayak engak gitu enggak dianggap enggak diurusin maksud gua ya ei semuanya lah jangan cuman yang cabor-cabor bergengsi tapi semuanya yang bawa emas lu mesti hargai equal menus iniin iya dan lihat rumahnya biasa aja yang di Solo kalau enggak salah ya anak iya anak-anak iya anak skate anak skater cuyul segitu aja latihan latihantian juga sendiri iyalah siapa itu Oke.
Oke. Kan waktu itu kita sempat ngobrol bahwa kita akan ngomongin eh kita akan share sedikitlah apa kira-kira hal-hal yang bisa kita lakukan nih. He. Ee untuk menutup tahun atau mengawali tahun baru lah. Tapi sebelum ke situ ada satu lagi Roti'O.
I kan roti ini kemarin sempat heboh. Iya. Iya. Ya kan di mana nenek-nenek mau beli roti cuy orang ini mau ngasih duit. H ditolak.
He he. I kan sampai akhirnya ada orang yang Heeh. Bingung ngelihat nenek-nenek nangis, dia berusaha ee interject himself to the situation. Akhirnya jadi viral lah yang marah-marah dia. Heeh.
Ya kan? Nah, gimana nih sosi itu isu konstitusionalitasional. Jelas loh, cuy. Itu ya karena mata uang ya. Mata uang rupiah mata bukan mata uang uang fisik, uang kertas.
Itu uang kartal namanya. Uang kartal. dia harusnya dia masih berlaku sebagai saja di wilayah nilai tukar yang resmi itu tuh enggak boleh ditolak. Tapi gua juga pernah punya nih teman gua punya kafe he ee nerima pembayaran QRIS dan menerima pembayaran uang tunai tunai ee ee kasirnya bermain nimpe. Heeh.
kasirnya ngambil uang-uang jadinya uang yang masuk uang tunai itu dia kantongin barangnya enggak terat barangnya enggak tercatat pesanan enggak dicatat jadi orang minum lu minum bayar itu problem manajemen men enggak tapi salah satu upaya dari manajemen untuk mengurang itu ya cashlessak satu itu ya itu cara yang jelas ditempuh oleh si teman gua pada akhirnya tahu dari mana hanya menerima e-wallet, digital payment, Roti'O banyak segala macam di rak belakang kalau mau ditimpe duitnya. Hal yang sama juga terjadi di teman gua yang bisnis laundry. Heeh. Lebih parah lagi laundry-nya masuk dicuci. Iya kan cuci sendiri dia di rumah dia bawa jadinya enggak cuci di dia cop dia cop.
Nah, hal ter nah teknologi otomatis membantu manajemen pemilik bisnis untuk mengelola secara baik dan risk management. Tapi ketika itu dilakukan ada yang terlupakan kan gitu aja ada hak konstitusionalitas orang ini kehilangan hak konstitusinya untuk menggunakan yang mau membayar secara tunai resmi dilindungi oleh negara. Iya. Ya, bukan dilindungi lu. Dijamin itu dijamin dijaminara enggak gua ngerti kenapa cashless-cashless itu ramai selain persoalan itu ya ingat kan zaman COVID dulu bahwa lu interaction lah apa segala macam itu ada ininya.
Tapi maksud gua ini kan udah enggak lagi zaman itu. Maksudnya inherently orang itu akan ber apa ya? Berinteraksi. Jadi ya sudah kembali aja atau cara manajemen yang gampang kayak di Jepang lah. Ada mesinnya buat yang cas-cas lu ini enggak sih lu kayak apa lu masukin duit keluar kembaliannya?
Banyaklah cara tapi jangan mengambil hak konstitusionalnya warga gitu maksud gua untuk bayar. Enggak, mungkin mungkin di beberapa kita tadi kan di Jakarta konteksnya cuman mungkin di beberapa daerah masih relevan gitu loh e cash of cour kalau di Jakarta hampir semuanya kan hanya menerima cashless only tidak menerima tunai. Banyak banget tuh yang pakai pakai disclaimer-discllaimer kayak gitu. Selain mempermudah management ee upaya-upaya upaya-upaya ee beberapa pihak yang mengambil keuntungan mengambil keuntungan pribadi. Ini nih dulu nih Sofyan punya bisnis angkringan ya kan?
Iya. I jual kopi, jual gorengan tutup merugi. Ah, itu dia sadar ditilep semua jadi kena tilpan. Tapi itu kan waktu itu. Eh, tapi entar dulu sebelum kita beranjak ke yang lain-lain nih, lu naik TJ kan harus ngetap, jalan tol juga harus ngetap segala macam.
Nah, gimana? Ini kan sama itu ya. Itu kan harusnya ada mesin, cuy. Kalau di luar negeri lu masukin keluar mesin bayar, lu masukin uangnya langsung kembaliannya keluar. Kalau di luar negeri sih gitu.
Tahu dong standarnya? Enggak di Jepang. Oh, bisa bayar pakai cash, Bro. Enggak mungkin. Atau lu ada mesinnya untuk tukar kartu or whatever.
Tapi ini preference juga kan. Ada orang yang memang sama sekali prefer enggak mau bayar cash. Ada orang yang masih prefer pakai cash. Jadi sebenarnya enggak bisa lu bilang lu hanya menerima satu mata uang doang gitu. Digital doang itu sebenarnya susah.
Tapi secara negara ya, BI, OJK gitu ya, pemerintah, departemen keuangan memang lagi menyarankan me betul digital digitalisasi pembayaran digital. It's learning for everybody aja sih. Eh, pembayaran digital karena akan menguntungkan negara. Ya, lu enggak nyetak uang, cuy. Karena ada potongan terus semuanya terus semuanya tercatat gitu.
Apapun apapun e pajak el semua tercatat kalau lu melalui digital. Heeh. Dan ada potongannya. Lu bayar QRIS harganya 1.000 dipotong sekian persen untuk iya fasilitas samalah kayak Visa, Mastercard segala macam. Sama kemarin apa ya?
Ada yang bobol. Apaan bobol? Perbankan. Perbankan enggak tahu. Oh yang juta berapa ratus miliar itu ya?
Iya ya. Oh iya ya. Itu siapa ngomong ada data hilang berapa dari payment or whatever? Lupa gua ini. Mungkin we save it next time.
Karena ini yang gua maksud dengan cuy gua ngerti lu mau bangun sistem sendiri tapi lu tuh belum mampu untuk protect sistem ini. It's too big man. Oh i ya ya gua cerita pas lu kena lu dibantai orang makudnya lewat masuknya lewat ee konsolidasi third party. Jadi ada perusahaan-perusahaan [Musik] sistem BNI beda, sistem mandiri beda, BCA beda, segala macam. Terus ada yang di tengahnya nih yang mengkonsolidasi agar dia masuk sejalan dengan kebutuhan misalnya QRIS.
Nah, yang tengahnya ini yang dibobol seolah-olah ada transaksi tapi enggak ada transaksi yang dilakukan oleh hacker China. Iya, Heeh. Lu mau ngelawan hacker-hacker dari China ini, Bro. Berat mati aja lu. Oke.
Oke. Eh, hacker kita juga oke kok. Bjorka, Bjorka enggak kemarin ada data katanya hacker paling banyak di Indonesia apa masalah enggak tahu gua kayak kasus apa gitu gua gua wah ini kacau juga nih iya entar Fonex ini aja kita bahas soal hacker dan apa manfaat dan kekurangannya sih oh iya lihat gua baru pagi-pagi tadi bangun terus lihat apa namanya ee surat publik, ya video, sori video ee Dino Patti Djalal ya, salah satu tokoh hubungan internasional lah di Indonesia lah. Surat terbuka maksud gua dia video terbuka video terbuka dia dia bilang ada empat kritik buat Menlu yang sekarang Sugiono. Eh, tapi inti dari video itu adalah eh bahwa eh dia bilang bahwa for the sake of international relation Indonesia si internal relation international relation eh dia minta Sugiono tuh untuk hadir di hadir sebagai Menlu sebetulnya memberi arahan-arahan kebijakan ke bawahannya menerima duta besar diskusi-diskusi pertemuan-pertemuan dengan duta besar-dusta besar terus kemudian aktif mendengar suara publik.
Oke. Kan ada forum-forum internasional dia dia sebut bahwa ada satu forum apa? Forum ee hubungan luar negeri di Indonesia conference itu yang datang ribuan orang. Ternyata yang datang enggak yang datang main lu Thailand men pas kebetulan dia di sini terus dia datang dia datang tapi Menlu Indonesianya enggak datang. Itu dikritik buat gua ya dengan cara Pak Dino yang sudah tentunya sangat senior ya.
Ada tokoh-tokoh yang kita tahu Almarhum Ali Alatas, Marty Natalegawa, lain-lain itu cara dia menyampaikan itu kalau dalam bahasa diplomasi itu sebetulnya sudah kritik keras buat Menlu Indonesia dan gua rasa penting juga untuk Pak Menteri Luar Negeri untuk eh pay attention lah kaitan karena kebetulan juga Pak Menlu yang sekarang ini kan juga merangkap sebagai Sekjen Partai Gerindra dan kayaknya kayaknya baru pertama kali deh kita punya nya Men menteri luar negeri yang merangkap sebagai Sekjen Sekjen Partai karena kita tahu Sekjen partai itu kerjanya juga capek banget men waktunya banyak segala macam. Gua enggak tahu gimana dia bisa manage ya. Mudah-mudahan bisa ya for the sake of Indonesia ee karena sudah dipercaya presiden juga ee kurasa tapi masukan masukan dari Pak Dino ini perlu untuk didengarlah kira-kira itu ya. Dan dan I think the way he communicated the criticism tuh very respectful lah bukan yang kayak respectful ada ada motifnya gitu. No dia sebagai pelaku, sebagai expert ya dia menyampaikan apa adanya aja.
And I think the credited system walaupun eh kita bukan orang-orang HI ya hubungan internasional tapi you know I oke kalau emang kayak gitu ya it makes sense lah. Oh ternyata kayak gini ya maksudnya we also learn something lah eh dari pernyataan-pernyataan tersebut. So, that's pretty cool. Enggak, catatan gua di sini adalah seharusnya hal-hal kayak gini kan bisa diselesaikan di ruang terbatas ya. Artinya kalau jadi itu tadi balik lagi ke selected reality itu tadi.
Jadi harusnya komunikasi itu dibuka bahwa hal-hal yang seharusnya kritik-kritik seperti ini kan enggak perlu langsung di harus publik. Artinya Dino melakukan ini karena dia mungkin enggak punya akses atau kesulitan untuk mengakses atau enggak. dia ngomong, dia ngomong langsung di dalam video itu bahwa ini gua sampaikan karena gua sudah mencoba berkali-kali menghubungi langsung ini cuman enggak ada tanggapan. Iya. Jadi inilah caranya gua sebagai seorang yang peduli terhadap bagaimana Indonesia berbicara ke luar negeri, menjaga hubungan diplomatik ee ee memiliki ee ee apa ee ee sudut pandang yang jelas.
karena ee dia bilang misalnya yang mengenal banget tuh ke gua adalah kalau misalnya diplomasi kita itu kurang ee kuat, kurang terstruktur, terstruktur itu nanti yang mengambil peran yang punya inisiatif lawannya law. Heeh. Jadinya kita cuman kayak pasif gitu dan itu bukan bukan sesuatu yang mau ee posisi kita enggak seperti itu gitu. Dan satu lagi ini risiko ya kita losing credibility iya dan reputasi itu itu bahaya banget untuk karena benar kata Dino bahwa lu tahu enggak siapa yang paling diperhatikan ketika di komunitas intern adalah yang paling sering bicara. Dia bilang yang yang paling banyak bersuara tapi tentunya bersuara dengan yang berkualitas ya.
Ialah bukan asal kayak enggak jelas doang. Ya gitulah kira-kira. Itu sih catatan ya. Gu rasa kita banyak ngomongin komunikasi juga Kak ya. terutama mungkin karena isunya adalah komunikasi pemerintah sekarang yang lagi ramai.
Jadi itu yang kita bahas. Sebetulnya kita akan banyak bahas soal komunikasi yang lain juga kan. Iya. Tapi again ee kita ngobrol-ngobrol di sini tuh enggak punya mean spirit. Enggak ada enggak ada.
ee lebih ke semangatnya untuk mengkritisi. E positif lah, constructive criticism they call it, right? Jadinya lebih ke situ sih. So, whoever yang kita mention di sini tuh eh it's just our observation dan kita eh ngomong apa adanya lah. Tapi again bukan yang kayak orang-orang ngomong, "Oh, ini ada agenda asing kan, Bro.
It's what's happening, man. Like nobody is telling us to say apapun gitu." Iya. Jadinya enggak ada kayak gitu-gitu ada. Ee tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, waktu itu kita sempat bilang bahwa eh kita akan sharing ada beberapa tips and tricks or things yang biasanya kita lakukan itu untuk menutup atau membuka tahun lah. Nah, ini mungkin kita akan share beberapa.
It's gonna be different eh areas and stuff. Tapi moga-moga bisa bermanfaat lah buat eh teman-teman yang bisnis owners maybe brands atau agencies, whoever lah ya kan buat yang lagi kuliah. Ah coba lu dengerin nih. Oke. Siapa yang mau mulai?
Ci gua. Iya. Emm ini sepertinya udah beberapa kali digaungkan di podcast ini, tapi hanya untuk meereiterate the point. Apa yang membuat praksis itu berbeda sama agensi lain? What makes us different gitu kan.
He. Em kita percaya bahwa sebagai ee praktisi komunikasi itu harus ada selalu hal baru, harus selalu ada belajar, selalu ada growth mindset lah di tim kami. Em jadi di praktis itu kita selalu make sure everybody get their professional growth, tapi mereka secara personal juga harus ada yang mereka pelajari setiap tahunnya. So every year eh every month we would like to have them eh on board join different classes, different eh training session. Kita juga kadang-kadang minta tolong teman-teman dari brand atau teman-teman dari bidang-bidang lain untuk just share what are the trends, what are the things that the consultant here need to know.
Jadi di sini itu penting untuk e consultant always r up their knowledge. Enggak cuma kerja kerja kerja and serving clients gitu. Because we believe eh ketika mereka penuh gelasnya penuh eh itu akan we can serve the client better juga sih jadi itu yang gua gua percaya dan gua rasa eh membuat praksis berbeda dibandingkan dengan agensi-agensi lain dan dan mereka juga ada kewajiban-kewajiban kalau enggak salah baca buku, nulis. Yes. It's part of the capacity building mereka.
Jadi mereka keluar dari praksis, they're ready. Iya, face gitu di manapun mereka berada, di industri apun nantinya. Iya, itu sih kalau gue ya. ya basically buat buat agenci apa agencis lain atau brand whatever jangan lupa the talent right make sure mereka punya ada learning path ya kan mereka bisa terus tumbuh itu tu itu i think that's end of year itu biasanya a good moment untuk reflect back ya kan eh coba kumpulin mana tuh data-data kemarin anak-anak belajar apa aja and then kita cocokin dengan what's happening right now baru bikin lag setahun ke depan nih kira-kira anak-anak mesti belajar AR apa aja itu you can do it apa namanya as you go. Tapi kadang tuh lebih baik kalau lu plan properly lah bisa plot gitu.
Kita juga kirim-kirim ee konsultan ke luar negeri kan belajar dari sana ke Australia, Singapura, lain-lainlah tempat-tempat di mana kita mereka bisa belajar lah. Y I think that's pretty dope. Soan. Oh iya. Kalau gue secara kelembagaan ya lihatnya bahwa ini kan salah satu yang kita implementasi namanya continuous improvement ya.
He e secara manajemen eh ya biasanya kita evaluate kemarin klien-kliennya apa aja, kita sudah learn industri apa aja, kita biasa perkuat itu ee pengelolaan eh kliennya dari sisi e substansi, terus day interaksinya, terus kemudian networking-nya, stakeholders, eh media relations dan lain-lain. E walaupun itu sebetulnya setiap tahun itu kita lakukan ya tanpa perlu di akhir tahun kita evaluasi. Tapi itu ongoing proses lah. Tapi biasanya di akhir tahun itu kita consolidate semuanya terus kita biasanya terus ketemu sama boses klien ya bos sama bos gitu misalnya user sama user gitu ee kita ee langsung ketemu ngobrol kurangnya tim tuh apa aja sih? Terus habis itu kira-kira apa yang perlu di-improve?
kira-kira apa yang bisa dan apa yang enggak bisa kita kerjain. Biasanya kan user itu kan punya demand yang dan dan kita jujur aja ini bisa kita lakukan, ini bisa diperbaiki dan tapi yang ini kita enggak bisa within the next year gitu misalnya. itu itu kita dan kalau misalnya pun harus putus kontrak atau apa we discuss it then lah kira-kira maksudnya saat itu juga jadi enggak ada yang disembunyikan dan jangan enggak juga kita pura-pura oh kita bisa lakukan semuanya enggak terus juga ee pengembangan network itu day kita lakukan kayak kemarin ee apa namanya kayak contoh-contoh kecil gitu misalnya oh kemarin rektor IPB baru PW kan Pak Alim terus kemudian apa karena Prof Arif kan jadi kepala BR kalau enggak salah. Terus akhirnya kita soan kebetulan juga teman network kita di situ. Terus eh pas kita ke sana ke IPB hari Minggu kemarin ada ada Munas apa namanya?
Himpunan ee alumni IPB juga lagi pemilihan ketua umum baru sama sekalnya ada Pak Fauzi ya. Izin Pak Wakil Ketua Komisi 11. Ee terus kemudian Sekjennya Anggawira. Sekjen apa? Sekjen HIPMI.
Terus akhirnya ya udah kita ketemu ngobrol-ngobrol ketemu banyak teman itu yang memang regularly kita lakukan lah untuk stay in touch with the issues. Terus eh jadinya kita punya sense bahwa challenge ke depan seperti apa. Untuk ke depannya ee biasanya kita sudah punya outlook-outlook tuh ya ya dari tim data data analitik sama research kita biasa bikin ini outlook trennya ke depan gimana sih polusi pemerintah ke depan kayak apa terus impactnya buat ee apa namanya industri itu kayak apa biasanya ada beapa spesifik yang client related maksudnya kita biasa nani industri apa kita punya itu nanti kita akan coba itu diskusikan ee secara profesional ya apa secara terbuka ya buat kontribusi juga ke teman-teman public affairs outlook policy pemerintah swasta gimana tren industri apa, kondisi ekonomi kayak mana dan gimana kita bisa hadapi nih challenge depan PR Outlook juga ada ee nanti mungkin setelah ini ee AWI mungkin kalau ada yang bisa ditambahin silakan. Tunggu dulu. Jadinya itu ada dua outlook.
Heeh. Ya kan? So outlook ini sebenarnya kita selalu lakukan internally. Iya biasanya. Tapi kita kan biasanya semakin dewasa, semakin tua tuh kita semakin generous.
Asik. Jadi kita mau share sedikit, kita mau share keluar. Obviously enggak semuanya, tapi ada beberapa yang akan kita share. Eh, pas kita undang teman-teman media juga kan ke acara sama klien non clien, anybody lah yang bisa contribute to the discussion itu biasanya kita undang juga nanti kalau udah keluar maybe we discuss it eh di episode berikutnya eh di harusnya di edisi pertama Januari full house Januari di Januari. Oke.
Oke. Ai ee kalau dari gua, gua gua ngelihatnya lebih dari sudut pandang bisnis ya. Iya. eh sebagai bisnis owner. Jadi e mau dibawa ke mana nih kapalnya gitu kan.
Eh, kalau dari sisi gua yang pertama tuh diversifikasi dalam artian sekarang kita punya service-servis eh PR, e media monitoring, e digital marketing, ee apa eh podcast ke depannya ee ee diversifikasi dalam bentuk apa nih yang bisa kita ee kembangkan lagi. yang paling dekat ee riset ee kita ee akan set up ee lembaga riset dan akan fully operational ee mulai tahun ee depan ee 2026 itu salah satunya lah. Ee terus yang kedua yang penting itu network ee network-nya agak dalam konteks yang sedikit berbeda dengan yang Sofyan sampaikan. network yang dari sisi bisnis itu gimana kita bisa memperkuat ee relasi kita, jejaring kita sesama agensi di level Asia Tenggara, di level Asia, Eropa sampai ke Rusia sana. Oik ya mereka butuh PR orang negaranya untuk kepentingan di Indonesia.
Anyway, i e memperkuat hubungan karena ee bisnis itu kan cross border ya sekarang. Iya. Dan banyak ee perusahaan-perusahaan Indonesia yang perlu reach out ke luar atau perusahaan-perusahaan luar yang perlu masuk ke Indonesia dan kita ready lah membantu mereka melalui jaring-jaring jejaring kita di ee ee luar sana. Eh, terus yang ketiga ini terkait dengan yang eh Stef sampaikan Mercy. Sofyan juga tadi sudah singgung eh quality itu cuman bisa dicapai kalau kita punya talent yang bagus.
Ee talent yang bagus ee banyak di luar sana kita percaya dan dalam konteks itu kita terus-menerus mencari ee orang-orang untuk menjadi konsultan di Praksis. Jadi kalau misalnya ada di ee yang di luar sana baru lulus kuliah juga enggak apa-apa. Asal punya ketertarikan, minat, ee ee kemampuan ee merasa cukup tangguh untuk bekerja di agency. Silakan ee kita selalu terbuka all year long untuk ee seenggaknya ngobrol-ngobrol lah ya kan. Enggak, enggak, enggak harus wawancara juga ngobrol-ngobrol, diskusi ee apa yang kita bisa lakukan bersama.
Dan ini rahasia sedikit lah. Kalau lu di email lu mention, lu dengar di Proxemics itu biasanya langsung di depan tuh. Nah, ya kan ratusan lu langsung paling depan. Kalau lu mention prox, oh saya lihat waktu itu di episode [Tepuk tangan] boleh boleh masuk tuh barang. Boleh kirim ke admin@praxis.id ada di bawah sini.
Iya. Heeh. Oke. Eh, dari gua mungkin lebih ke data in general. Eh, biasanya itu kita kerja di PR itu we're sitting on a lot of data, ya kan?
Numpuk aja ada data-data di mananya aja. Data jurnalis, data e jumlah artikel, data apa namanya? Eh, sentiment analysis ya kan all these things yang sebenarnya itu eh di akhir tahun itu kan biasanya brand juga slow down ya. Iand lah mereka agak angkat kaki sedikit dari gas. Nah, ini saat yang tepat untuk kita bisa go back cek ya kan dari weekly, monthly, eh semesterly or quarterly, whatever report yang lu punya itu kita kita crunch itu biasanya kita selalu menemukan data-data yang very very interesting gitu.
Oh ternyata ya buat kita nih praksis kalau lu cuman ngelihat satu klien kurang lengkap. Pas lu ngelihat 205 klien, ternyata ini toh media yang paling banyak meng-cover berita klien kita. Of course yang kayak tadi lu bilang, eh secara agency you need to connect with the people, usernya ya, teman-teman di brand, the the CMO, the head of PR or whoever yang incharge itu. Tapi ya dari sisi media juga lu mesti keliling, cuy. Right.
I eally juga kita sekarang e senang banget udah ada beberapa ee teman-teman media yang nyempetin datang ngobrol ngobrol sama kita di Proxemics. Tapi itulah that's how we learn ya kan dapat data lu pelajarin nanti palingan I cannot mention all of them tapi kalau lu tertarik I'll share eh an article coba lihat di eh blognya praksis nanti linknya mungkin dimasukin sini I'll I'll put together documen lah yang mungkin lu bisa baca-baca. Oke. Anyway, itu tadi beberapa hal yang around the table ya yang mungkin bisa di implementasikan, bisa diink about eh pas lagi tutup tahun, buka tahun ini. Eh, I hope berguna buat some of you at least.
Eh, with that being said, I think, hey, it's been a pretty good first year lah, ya. Gimana menurut lu Adwi? Ini thoughts Proxemics. E, untuk Proxemics ya. Eh ee ee lumayan pesat pertumbuhannya ya kan orang komen gitu.
Gua kadang-kadang kocak aja sih. Oh ada yang dengerin ya lu gimana? Ada yang semangat gitu komentarnya dulu. Secara secara ini kita ada dua ruang studio kita. Gua kangen jang studio yang terang terang itu ini gelap gloomy mulu mungkin karena glum lah.
Ini professional look ini signature signature look. Oke, mungkin kar ya tadinya gua kepikir apa karena pembahasan kita kelam-kelam aja enggak eh sama Kris thank you as always producer shout producer the cooks ya kan anak-anak praksis itu yang langsung turun langsung untuk menjelaskan konsep-konsep ide-ide yang kita bahas di meja ini. Kadang-kadang kita enggak punya waktu untuk menjelaskan lagi sampai basicnya ya kan. Nah, ini ada teman-teman dari Praxis yang regularly gonna be uploading videos. Mereka ngomong ngejelasin interesting concepts and ideas yang mereka eh dapat dari eh Proxemics the full episode lah.
Iya, gitu. So, look out for that. Eh, follow, subscribe, of course. Anyway, it's the end of the year from ours to yours. I just want to say merry Christmas juga buat everybody.
Happy New Year. Stay strong is gna be a great year hopefully buat kita semua. And that's bas. [Musik]