Why would the Deputy Editor-in-Chief of Kompas TV, Alexander Wibisono, want to push a legacy newsroom into Roblox and Discord? Because in Proxemics 022 he argues journalism never dies — it just changes its skin, from newspaper to TV to TikTok. With Stephanie Sicilia on holiday, Mercy Tahitoe and stand-in co-host Reza open the newsroom’s doors for a candid 77-minute conversation.
Alex is honest about an industry in survival mode: consolidation, layoffs, and the hard question of what still separates a newsroom from a creator. His answer is verification — the difference between ‘information’ (the guy who swears the satay is good) and ‘news’ (a claim someone actually checked). He also walks through how media makes money now, from advertising and subscription to programmatic.
The centrepiece is Kompas TV’s Digital First policy: stories now break on YouTube before they hit the TV broadcast, and the old job title of ‘Producer’ is being rewritten as ‘Content Creator’ to win the algorithm.
He reframes citizen journalism — from the Aceh tsunami to the ‘wartawan tuyul’ phenomenon of amateur stringers — and explains how a newsroom verifies unofficial footage. Then he shares covering diplomacy in New York, Rome and Kuwait armed with nothing but an iPhone. For Gen Z eyeing the beat, he names three non-negotiable skills: networking, curiosity, and endurance — and asks whether they can be marathon runners, not just sprinters.
Part masterclass, part reality check on where mass media is headed — press play if you want the newsroom told straight.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
Citizen journalist itu jurnalis bukan, bukan karena ada pressure, ada tekanan. Kurang galak nih jurnalis zaman sekarang. Jurnalisme Kompas itu jurnalisme kepiting. H kenapa namanya jurnalisme kepiting? Jadi itu prinsip menurut saya.
Jadi kita tetap harus hidup. Kalau mati itu enggak bisa diajak berjuang. Yang gua percaya tuh sekarang jangan pernah bermimpi mengubah dunia kalau lu bangun tidur aja enggak ngerapin tempat tidur. Jadi gua jalan-jalan cuman karena handphone. Wih, mobile journalism.
Shout out buat iPhone, buat Apple yang udah bisa bikin Alex jalan-jalan jalan-jalan. Jadi sebelumnya kan kalau di TV itu produser kalau kita mau buat konten namanya gua ganti semuanya content creator gua start dari subscriber 500 sekarang subscriber gua di YouTube tuh hampir 20 juta. Tapi 20% dari ratusan miliar itulah kita dapat dari YouTube. Hello, welcome to another episode of Proxemics. Eh, today is a very special episode.
Karena begini, eh buat teman-teman nih yang biasanya hidup di sisi agency, brand, organisasi, kita tuh selalu wondering what's on the other side. Jadi of course kita tuh kayak ngerti media tuh kayak gimana, tapi kita enggak ngerti media kayak gimana. Kayak tahu-tahu dikit doang lah, ya kan? Nah, supaya kita semua lebih mengerti lagi, langsung kita hadirkan tamu untuk episode kali ini. Tamu kita ini seasoned journalist, pengalaman luar biasa lah.
Dan sekarang kebetulan lagi bertugas sebagai Wapemred (Wakil Pemimpin Redaksi) ya di salah satu media yang mungkin kalian pernah dengar namanya Kompas TV. Asik. Pengalamannya bukan luar biasa, tapi biasa di luar. Biasa di luar. kan any please help me welcome to the program Alexander Wibisono.
Wuh asik brox welcome to the program media ini kan sekarang lagi kalau kita-kita tuh nyebutnya banyak konsolidasi ya dari jumlah pekerja ada yang jumlah medianya sendiri itu seems like lagi merapatkan barisan ee supaya kita bisa survive in the long term gitu. Nah, menurut lu, how far along are we di dalam proses itu dan Kompas TV itu ada di mana? In the midst of all this lah ya. Yang pasti menurut saya ya, menurut gue tuh jurnalisme itu enggak akan pernah mati. Kenapa?
Ya karena sebetulnya itu kan naturally habit-nya manusia memang. He. Apa sih yang dimaksud jurnalisme itu? Satu, dia mencari tahu ya, ngobrol begini terus kemudian menyampaikan informasi. Itu kan semuanya habit ya.
Tapi kemudian menjadi sebuah praktik jurnalistik ya. Karena di situ ada kode etiknya kita masukkan gitu ya. Ada kode etiknya, ada undang-undangnya dan lain sebagainya. Itu yang membedakan. Makanya seringkali saya ditanya citizen journalist itu jurnalis bukan?
H bukan. Oke. Citizen journalist itu adalah orang biasa yang melakukan kerja jurnalistik. Oke. Kerja jurnalistik itu mulai dia mencari, memilih, menyimpan, mengolah, menyampaikan informasi.
Nah, itu itu kerja jurnalistik. Tapi kerjanya dia itu tidak berdasarkan kode etik jurnalistik. Dia tidak punya institusi ee kadang-kadang kan ya individu aja kelembagaannya. Nah, kalau kita bicara institusi itu tidak hanya bicara institusi, tapi kan di dalamnya itu ada redaksi, ada sistem redaksi ya yang bertingkat mulai dari reporter, produser, kalau di TV ya reporter, produser, kemudian ada ee sampai ke Pemred gitu. Jadi artinya ada proses verifikasi terus kemudian ee prosesnya berlapis gitu ya.
Nah, kalau citizen journalist bisa jadi dia dapetin informasinya, dia tanya sana sini udah dia langsung naikin aja. Jadi jurnalisme itu tidak akan pernah mati karena itu memang habit dasarnya manusia. Ya, di sisi yang lain dengan adanya citizen journalist, influencer, homeless media sekarang mungkin size industrinya itu akan semakin kecil untuk media massa gitu. Sama seperti yang dialami media cetak misalnya, terus kemudian muncul ee radio duluan, terus media cetak, terus kemudian muncul TV. Nah, size-nya media cetaknya mengecil tapi kan enggak mati tetap ada bisa.
Eh, itu konsolidasi itulah. Nah, konsolidasi konsolidasi ee biaya produksi pada intinya. Makanya orang-orangnya ee kemudian bisa mungkin berkurang tapi di sisi yang lain teknologinya makin canggih. Jadi, bagaimana sebuah ee media massa itu bisa hidup. Kalau katanya Pak Jakob Oetama itu selama itu tetap relevan untuk publiknya.
Caranya gimana biar relevan? Ya, kita hadir di mana publik itu hadir ya. mau ee apa namanya? Mau di TikTok ya kita hadir, mau di Instagram atau di apapun mau termasuk di TV. Nah, terus kemudian muncul lagi sekarang teknologi yang namanya smart TV.
Ya, kita awalnya mati, wah ini TV bakal mati nih. Kalau kita bicara dalam konteks TV analog ya. Iya, TV yang kotak itu. Tapi smart TV sekarang hari ini sudah langsung connect internet. Iya, connect internet.
Bahkan kemarin dalam obrolan rapat di kantor itu penontonnya Kompas TV itu banyak migrasi ke migrasi itu dari yang tadinya nonton TV analog sekarang dia pindah ke Smart TV ya migrasinya. He ya karena harga Smart TV juga semakin murah banget artinya dia tetap nonton Kompas TV gitu. Betul. Nah jadi ya tentu kita harus mengikuti karena ini enggak bisa kita tolak atau abaikan. Jadi kita harus adaptif, agile gitu ya.
I untuk menghadapi ini semua gitu ya. Pasti akan ada penyesuaian. Namanya transisi tadi. Iya. Ee Mercy bilang apa namanya ada konsolidasi-konsolidasi ya pasti itu pasti karena yang mutlak di dunia ini kan cuman perubahan ya.
Yang konstan di dunia ini adalah perubahan. Perubahan. Kalau enggak berubah kita mati. ya. Nah, itu tuh sebenarnya gua gua sayangkan juga sih maksudnya kebiasaan mereka konsumsi media tuh sudah berubah gitu ya kan jadinya ya yang dari tulisan kemudian jadi gambar gambar jadi video long form jadi video pendek itu kan ee sudah terjadi gitu jadinya kalau kita insist mau misalnya ini mungkin enggak terlalu ini Kompas TV ya tapi Kompas.com misalnya enggak mungkin kan mereka cuman tetap ngeluarin konten di website literally Kompas.com doang mereka harus tetap branch out.
Ee itu dia kayak ee Pak Jakob Oetama bilang lu hadir di mana orang itu ada. Baru-baru ini kita juga ngobrol sama salah satu tamu ee konsepnya enggak berubah kayak pasar malam aja. He. Kalau ramai ya di situ ada kesempatan gitu ya kan buat kita jualan apapun lah. Tapi kalau sepi enggak ada ya lu mesti cari ke tempat yang ramai kan.
Kalau misalnya sekarang lagi ramainya di TikTok ya lu ke TikTok lah. Lagi di Instagram lu ke Instagram nanti ada Tktk or whatever else. Loyalty kita tuh ada di kita tuh ngomong orang public relations ya. Loyalty-nya harus ada di public. Iya.
Ini kan kayak substansi sama treatment ya. H substansinya kan tetap sama ya tentang jurnalistik yang disampaikan itu berita ya. Nah, tahu bedanya informasi sama berita enggak? Jadi bedanya informasi dan berita, berita adalah informasi yang terverifikasi. Oke.
Jadi ada proses verifikasi. Nah, itu kerjanya jurnalis, kerjanya wartawan. Informasi ada tukang sate enak di depan kantor ini. Benar apa enggak kita enggak tahu. Enggak tahu.
Iya. Enak apa enggak gua enggak tahu. Itu proses verifikasi. makan itu bagian dari proses verifikasi. Nah, jadi artinya balik ke tadi substansinya tetap berita I tapi bagaimana berita itu bisa disampaikan dalam waktu 30 detik misalnya di Insta Stories bagaimana berita itu bisa disampaikan long format 8 menit e dan sebagainya di YouTube dan lain sebagainya.
Itu kan persoalan treatment ya. I kan sama-sama seperti ketika media dihadapkan pergantian pemerintahan. Ada pemerintah yang sangat media darling, ada juga pemerintah yang benar-benar anti kritik. Tapi kan kritik tetap bisa diberikan. Tapi caranya gitu kan.
Cara gua ngomong ke Bro Mercy sama ke Reza kan akan berbeda. Nah, jadi menurut gue situasi hari ini tuh yang berubah itu persoalan di sisi treatment, mindsetnya bagaimana. Kadang-kadang tuh eh teman-teman yang senior yang dihadapin di kantor gitu, ini mah bukan berita, ini bukan kompas dan lain sebagainya. He. Ketika itu disampaikan misalnya dengan model gaya penyampaiannya ya anak muda karena audiens kita anak muda disampaikan lewat Instagram.
Ini mah bukan kompas. Yang kompas itu treatmentnya atau substansinya. Oke, begitu. Jadi hari ini tuh yang kita pertahankan itu nilai-nilai substansinya itu tetap bertahan. I treatmentnya kita bisa berubah.
Nah, itu yang yang seringkali jadi tantangan terbesar di setiap ruang redaksi tadi. Ada orang yang bisa menerima, ada orang yang enggak menerima itu. Ada juga orang yang ingin, tapi karena kapasitasnya cuma sudah sampai situ ya sulit juga dia enggak bisa kes up dengan dengan model itu gitu. Hm. Itu sih menurut gue ya.
Jadi situasi hari ini tuh memang semuanya sedang berubah, dunia lagi berubah. Eh, kalau kita bicara di semua di forum Pemred atau ketemu banyak pemreti, semua media pasti struggling karena industrinya tadi lagi mengecil atau ee apa namanya ya? Di luar banyak faktor ya. Nah, tapi bagaimana kita bisa bisa strugging gitu. Jadi hari ini misalnya teman-teman kadang-kadang bilang, "Wah, hebat juga ya Kompas bisa ngirim banyak orang ke Aceh dan Sumatera dan sebagainya." Iya.
Ya, mungkin kita beruntung aja gitu. lebih beruntung hari ini. Ee tapi bukan ya tinggal kita bagaimana mempertahankan keberuntungan itu tuh dengan manajemen pola pengaturan baru. Hari ini dulu misalnya kita bicara kalau ngirim pakai SNG itu butuh sekitar 15 orang karena kru SNG sendiri ada lima ee terus kemudian dari security gitu ya pokoknya bisa bisa 10 atau 15 gitu tapi hari ini dengan alat yang kompak kita bisa ngirim cuma dua orang atau satu orang ya bahkan acara presiden kita ke Amerika kita ke mana di luar negeri itu cuma satu orang H dengan alat yang sangat kompact bahkan dulu tuh gua pernah ee ngirim tim waktu presid pemilihan presiden Amerika, tapi bukan yang periode yang ini, yang periode sebelumnya waktu Biden terpilih itu kita modalnya HP. Hm.
Ini nih maksudnya pas inauguration. Iya, inauguration. Oke. Cuma satu orang ya. Karena kita mampunya cuma ngirim satu orang waktu itu.
Tapi ngirim bukan ee ada orang di sana ngirim. Enggak. Kita ngirim dari Jakarta. Tapi masih ada enggak sih di di kayak New York atau DC di kota-kota? Masih ada enggak sih sebenarnya kayak media-media seperti Kompas tuh?
Reporter apa-apa itu udah udah enggak ada sama sekali ya? Kita pakai ee teman-teman rata-rata konsepnya kontributor mungkin TVOne ya. TVOne masih punya di Jerman ya karena ada Miranti di sana. Kebetulan dia tinggal juga di sana. Oke.
Tapi dia dia masih karyawan ee TVOne. Jadi mungkin mungkin ya kalau dulu Kompasan kan punya di Cina di mana dulu masa berjaya. E tapi hari ini kan semuanya semakin komplek realitanya udah udah berbeda lah. Nah, betul. Ee gua tuh dulu sebenarnya sempat sekejap pengin jadi jurnalis.
Hm. Sekejap. Sekejap. Kalau gua enggak pengin dari gua kecemplung. Gua peng kecemplung.
Tapi di dalam 1 tahun pada saat gua lagi mikirin nih mau jurusan apa itu ada kesempatan belajar-belajar ee journalism lah, basic principle. Dan kemudian lu pas kalau eh communication in general tuh lu harus ambil kelas-kelas PR eh broadcasting apa lu lu mesti ambil semua lah. Jadinya ada sedikit-sedikit gitu dan ee yang amat sangat ee menurut gua penting itu tadi kan ngomongin bahwa media tuh will never die akan selalu ada gitu. He itu tuh fungsi media di negara demokrasi ya kan. bahwa media harus menjadi the fourth pillar of democracy.
Di mana teorinya begitu. Teorinya begitu. Di mana lu pilar keempat untuk menjadi watch doc tiga pilar lainnya, eksekutif, judiciary, sama eh legislative ya kan. Nah belakangan ini, however gua gua gua melihat ini lucu sih karena teman-teman e jurnalis kadang-kadang suka nge-post apalagi terakhir sempat dengar yang Purbaya. Hm.
kurang galak nih jurnalis zaman sekarang. Mingkem ya, Mingkem. Heeh. Terus adalah yang nyeletuk-nyeletuk teman-teman kita ya ee di media gitu pribadi of course bukan resmi dari ini. Eh tadi juga disebut forum Pemred.
Nah, ini nih gua gua agak concern in general lah ya karena dan ada hubungannya juga dengan uang, financial consequences apa dan sebagainya. Jadinya sekarang ini gimana ya? Gua gua gua melihatnya media-media nih enggak bisa selantang yang dulu. I could be wrong. Ee karena ya ada inilah ada pressure, ada tekanan, ada whatever lah gu gua enggak usah sebut semuanya.
Tapi pada akhirnya gua gua merasa jadi enggak terlalu bisa menyuarakan apa yang harusnya disuarakan itu tuh is there any truth to it? Ada enggak sih benarnya apa itu cuman halusinasi gua apa benar 100% ada di mana nih e pendapat apa pikiran gua yang barusan ini? Oke pertama kita sepakati dulu soal vokal. atau kerasnya kritik yang diberikan media ya. Apakah yang diharapkan adalah media itu lantang dalam kritik itu dalam konteks atau dalam cara yang keras gitu, yang selalu confrontational gitu.
Nah, kalau dalam konteks itu mungkin iya hari ini tidak. Hm. Karena tadi gaya pemerintahnya hari ini sudah berbeda ya, modelnya berbeda. For better or worse lah. Ada hal-hal mungkin lebih baik tapi ada juga yang kurang baik.
Betul. Heeh. Nah, tadi gua gua lebih ke yang perlu dilihat adalah substansinya. Mungkin memang ee saya enggak memungkiri ya misalnya gaya media oh ini kurang kritis dan lain sebagainya ya. Hari ini juga medianya juga menghadap apa berjuang untuk dirinya sendiri pun setengah mati nih hari ini.
I. Nah, tapi kan ini menurutku persoalan cara. Hm. Kalau kita bicara dari ee Kompas Gramedia gitu ya, kebetulan Kompas TV itu kan bagian dari Kompas Gramedia. Caranya memang enggak pernah keras gitu.
Kenapa? Karena pengalaman itu ngajarin kita ya zamannya Pak Jakob gitu. Kompas Gramedia koran Kompas itu pernah ditutup. Hm. Nah, Pak Jakob itu prinsipnya yang pertama itu harus hati-hati.
Jadi ketika kritik itu jangan sampai menyinggung perasaan orang. Oke. Jadi bahkan kalau misalnya sudah tiga kali menjadi HL koran Kompas dan Cap eh sebagainya seringkali Pak Jakob datang ke ruang redaksi saya pikir cukup ya Mas ya. Cukup itu bukan berarti tidak menulis tapi cukup menjadi HL-nya sudah cukup gitu. Tetap bisa ditulis tetap kita bisa beritakan gitu tapi mungkin di halaman berikutnya gitu.
Jangan di tapi tidak dilarang untuk menulis. Tidak itu hati-hati jangan sampai menyinggung. Yang kedua, pengalaman kita ditutup itu juga kita tidak ingin, enggak ada yang kalau mati itu enggak bisa diajak berjuang. Jadi, kita tetap harus hidup, gitu. Jadi, itu prinsip menurut saya.
Oke. Kalau media sekeras apapun terus kemudian dia mati, ya sudah selesai. Yuk, fungsinya dia enggak bisa fungsinya enggak ada. Dia enggak menjalankan fungsi. Maka dia harus hidup.
Hidup untuk menyuarakan suara publiknya maupun hidup untuk menghidupi dirinya. Oke. I kan gitu. Gu. Jadi ya kita harus hati-hati di situ.
Jadi dan caranya Kompas dulu Pak kalau enggak salah ya ini Pak Rosi Anwar Anwar kan meledek dengan jurnalisme Kompas itu jurnalisme kepiting. Hm. Kenapa namanya jurnalisme kepiting? Kepiting itu cenderung kalau ada persoalan ada atau batu gitu loh ya dia mundur atau dia nyamping gitu atau kadang-kadang dia ngumpet diam dia enggak ngapa-ngapain dia ngamatin dulu dan lain sebagainya. Ya.
Ya. Kompas gayanya enggak frontal memang. yang kita lakukan ya kita mengkritik tapi mungkin menggunakan contoh di tempat lain atau apa gitu. Nah, tapi substansi kritiknya tetap jalan. Oke.
Nah, ketika kita bicara platform televisi itu kan koran ya. I. Nah, ketika kita bicara platform televisi, maka yang kita bisa lakukan ya kayak kemarin kita cukup keras soal ee apa namanya ketika Mas masih banyak terjadi keracunan ya soal MBG gitu ya. Wah iya. I kita mendorong ada evaluasi, ada perbaikan.
Iya. Tidak mendorong ditutup loh atau tidak mendorong diop loh, itu sudah keras. Nah, tapi kan kita juga harus fair ketika ada SPPG yang bagus dan lain sebagainya. Jadi ketika kita mengkritik ini salah, lalu kan ditanya balik, "Menurut lu yang bagus yang mana?" He. Nah, itu kita kasihkan.
Terus yang kedua secara kode etik jurnalistik kan kita harus cover both sides juga ya. Nah, itu yang harus dipenuhi gitu. Jadi ee mungkin kalau saya tidak meninai misalnya kritiknya Pak Purbaya tentu bagian dari refleksi kita di jurnalistik ya di sebagai jurnalis gitu. Tapi di sisi yang lain substansi kritik itu tetap kita sampaikan gitu. Jadi demo kemarin ketika netizen itu protes ini TV udah enggak ada yang live ya demo dan lain sebagainya.
I berarti dia enggak nonton Kompas TV. Hon karena kita dari pagi, dari pagi dan lain seb atau dia memang enggak nonton TV. Oke, gitu. Itu kan as if hitam dan putih ya. Hm.
Kompas siaran. Siaran. Yang lain I don't know. Let let's not assume lah. Karena gua enggak tahu sih, gua enggak ngecek.
Mungkin situasi situasi-situasi di ruang redaksi itu kan pasti berbeda-beda ya. kita mulai dari misalnya ee siapa di balik perusahaan media-media itu, itu juga pasti akan ada kaitannya kan, ada mempengaruhi gitu. Nah, itulah eh balik lagi ke eh how the media makes money, right? Eh, kayak di luar gitu ya, di di Amerika lah. At least banyak sekali media-media tuh memang yang udah susah banget untuk dapetin eh advertising money misalnya.
At least enggak kayak dulu lah, mungkin masih ada tapi enggak kayak dulu gitu. Jadinya mereka banyak yang geser ke subscription. Lu sempat dapat tugas itu untuk melakukan transisi lah. Mungkin enggak transisi, tapi membangun konsep omnipresence. I ada di mana-mana.
Iya kan? Bukan hanya di layar kaca TV analog itu, tapi lu ditugaskan eh gimana nih ya kan? What's going on with all the social media dengan channel-channel yang baru yang sebelumnya kita enggak ada di situ. How's the transition going and what's the future? Mungkin itu kali ya pertanyaannya.
Kita bicara model bisnis media. Oke. Ya kan kita bicara model bisnis media. Kalau kita bicara private company, private media, pasti duit paling besar itu dari iklan. Ya.
I kan dari iklan. Nah, dari iklan itu mungkin kalau bikin ya proporsional itu let's say 50 atau 60 40 gitu. Kurang lebih begitu. itu 50% dari government, 50% dari brand swasta atau mungkin teman-teman yang mungkin TV swasta yang lain yang hiburan dan lain sebagainya 60%-nya dari brand, 40%-nya mungkin dari kalau yang entertainment bukan yang ee news betul kalau TV berita mungkin 50-50 lah 50% dari government dan ee 50%-nya dari brand. Nah, kalau yang kita bicara ini dua-duanya semenjak COVID itu juga enggak stabil.
Kenapa? ketika COVID. Kemudian kalau kita bicara brand, orang akan cenderung menahan dulu pasti duitnya. Kenapa? Karena dia pengin lihat ekonominya stabil, dia punya punya tabungan karena COVID.
Heeh. 2 tahun itu iya acak-acakan kacau gitu. Jadi semua duit-duit untuk promosi untuk ke pasang iklan ke media-media itu pasti dialihkan untuk hal yang lain gitu kan atau untuk saving paling enggak. ya. Nah, sementara di sisi government kan juga duitnya pasti kan juga lari untuk meladeni atau ee apa namanya?
Ngurusin COVID gitu. Nah, sekarang dengan model hari ini kan kemarin sempat ada kalau kita dengar kan ada efisiensi anggaran sebetulnya kan mau diatur lagi nih anggarannya dan lain sebagainya. Nah, itu ada perlambatan pasti secara pemasangan iklan dari government. Oke. Nah, jadi itu yang seringkali hari ini yang di sisi yang satu swasta private sectornya dia juga lagi berhati-hati sampai hari ini.
Yang satu di government juga dia lagi menata keuangannya. Nah, ini berimpact tentunya kepada media karena pemasukan iklannya jadi berkurang kan. I. Nah, tentu media mengeluarkan model-model bisnis yang lain. Hm.
Subscription salah satunya. Nah, Kompas Koran Kompas itu melalui Kompas ID itu sebetulnya berbasis subscription. I gitu. Kompas.com juga hari ini juga mau melakukan. Kalau Kompas TV mungkin baru kita mencoba latihan di membership YouTube karena kita kuat di YouTube, live streaming dan lain sebagainya.
Berapa harga membership? Aduh murah. Yang paling tinggi itu, yang paling premium itu Rp99.000. Oke. Walaupun kita biasanya bagian promosi di belakang, tapi gua penasaran yang Rp99.000 itu dapat apa aja?
ee ya dia bisa selain ee tayangan, dia juga bisa dapat materi-materi pelatihan karena kita punya Kompas TV Learning Hub. Oke. Dia bisa interaksi gitu. Justru kita juga belajar dari beberapa influencer atau ee apa eh public figure yang content creator yang yang menerapkan membership gitu. Jadi sebetulnya secara resiprokal kita juga belajar juga dari para ee content kreator yang baru-baru ini gitu kan.
I. Nah, itu itu lakukan. Tapi memang tantangannya ee orang itu selalu punya mindset berita itu gratis. Tunggu dulu. itu kan baru baru dalam konteks 10 15 20 tahun lalu terakhir sorum itu kan enggak gratis mesti maksudnya kalau kalau TV kalau kokoran ya kalau kita bicara teknologi TV free to air soalnya free to air gratis gitu online juga gratis ya Kompas.com kan dulu gratis baru beralih artinya ini kan mengubah mindset jadi ketika kita bicara media tuh sebetulnya kan kalau teorinya McLuhan itu tahun '64 media medium is the message gitu.
Message untuk ya audiens-nya itu seperti apa sih gitu. Jadi kan nah audiens-nya ya penginnya gratis gitu kan. Tiba-tiba disuruh bayar gua dapat apa kelebihannya apa? Kalau cuman mayoritas orang cuman mengkonsumsi update-update aja ngapain gua harus bayar? Sementara pilihannya kan banyak.
Makanya kayak di koran Kompas gitu misalnya ee karena kita punya Litbang gitu ya. H ee berita-berita yang basisnya data dan lain sebagainya. Nah, model bisnisnya selain subscription kan kita juga melakukan model bisnis kayak apa namanya ya ada kayak event ya itu event yang paling banyak nih sekarang nih kompas luar biasa lah model apapun lah gitu ya semua kita tunggu macam-macam event gitu jadi jadi model-model bisnis yang itu yang kita lakukan jadi kalau ke depan kalau kita apakah tadi pertanyaannya kita sudah considering soal eh membership atau TV atau apa ee konten yang berbayar. Iya, kita mikirin ke sana, kita nyiapin itu ke situ. Oke.
Nah, tapi mungkin hari ini masih masih latihan lah. Masih latihan belum. Heeh. Tapi yang sudah berjalan sebetulnya di koran Kompas dengan Kompas ID-nya. Nah, kalau untuk konteks Kompas TV kita masih latihan.
Kompas.com sudah berjalan tapi juga pastikan ada trial and errornya, ada evaluasi dan lain sebagainya. Tapi itu iya arahnya ke sana. Oke. Bahkan kita berpikir perlu enggak sih kayak crowdfunding kita niru New York Times Washington Post gitu ya. Ya, tapi kan beda kali ya masyarakat Amerika sama sini budayanya.
Nah, itu bicara soal model bisnis. Jadi kita model bisnisnya pasti kita berkembang. Media hari ini tidak hanya bicara soal iklan yang ada di televisi, tetapi juga ya tadi masuk ke programatics, AdSense, kerja sama ya Google bagaimanapun juga ya kita punya punya kerja sama sama Google gitu. kita kemarin baru dapat grant dari Google, terus kemudian ada programmatic. Nah, oke.
Jadi mulai 2019 itu gue diminta untuk mengelola ee digitalnya Kompas TV dari tahun berapa? Sori 2019. Oke. Jadi ee sebetulnya ee Kompas TV itu mulai digital itu di YouTube sudah jauh sebelumnya. Ketika kita kan berdiri tahun 2011.
I. Nah, 2011 waktu itu kita kena undang-undang penyiaran yang harus bersiaran secara berjaringan. Oke. Artinya kalau kita mau siaran di Medan, maka kita harus bekerja sama dengan lokal TV di sana. Nah, tapi sampai hari ini sampai ke titik ini tuh prosesnya panjang.
Nah, kayak contoh tadi di Medan, orang Medan tahu Kompas TV, tapi dia enggak enggak nonton di TV, tapi dari YouTube. Heeh. He. 2014 gua bikin Google Hangout. Oke.
Dulu zaman Google Hangout ya. Terus narasumbernya Haji Rhoma Irama. Beh, itu ditanyain tayangnya kapan, di mana? Enggak ngerti orang-orang Google Hangout kan. Tapi kita coba tuh kita Google Hangout.
Jadi mulai dari itu sebenarnya sudah merintisnya sudah jauh. Nah, cuman ketika 2019 itu kita mau lebih ekspansif. Nah, caranya ya tadi kita waktu itu Pemred sebelumnya namanya Mbak Rossi. Ya udah kita coba kita ubah policies-nya namanya digital first policy. Jadi semua peristiwa ada apapun tayang dulu digital enggak usah nunggu TV-nya.
Oke gitu. Jadi enggak usah nunggu TV breaking news maksudnya. Iya. Heeh. Pokoknya tayang aja digital nanti TV misalnya kan kalau TV kan ada urusan slot, ada urusan kewajiban dengan pihak ketika dan lain sebagainya.
sponsorship gitu lebih rumit lah mikirnya. Nah, akhirnya itu yang itu yang membuat ee digitalnya Kompas TV khususnya waktu itu kita juga metakkan kita mau mulai dari mana? YouTube, Instagram, ee TikTok belum ada ee apa namanya? Facebook. Kita mau mulai dari mana nih?
Atau Twitter. Iya, akhirnya kita pilih mulainya dari YouTube. Selain subscriber kita paling banyak di antara empat platform itu juga ada programmatic AdSense gitu. Nah, kita mulai dari situ salah satu kekuatan kita ya live streaming. Nah, itu pun ketika kita mau menjalankan live streaming mengubah mindset, Teman-teman.
Jadi, sebelum sebelum gua di posisi ini tuh gua dulu waktu di 2019 sebelum ditunjuk untuk ngelola itu gua itu adalah manajer peliputan. Oke. Penanggung jawab peliputan. Jadi ngelola tim ada namanya manajer digital di sisi yang lain yang kolega gue nih. Oke.
He. Ee counterpart. counterpart. Nah, ketika manajer digital minta live streaming, gua bilang, "Enggak bisa tim gua untuk TV, nanti baterainya habis dan lain sebagainya." Iya. Tapi gua kena karmanya.
Akhirnya gua adalah posisi baru di atas ditaruh dan gua ditaruh di situ untuk ngelola dua departemen ini. Oke. Ya udah, akhirnya selaras biar selaras akhirnya. Ya sudah. Nah, di digitalnya kan dua-duanya mengalami mengalami perubahan yang luar biasa.
di digitalnya biasanya load-nya mungkin santai-santai dan lain sebagainya. Nunggu TV tayang dulu baru dia ambil dan lain sebagainya. Hari ini dia punya raw material. H dia harus live streaming. Terus kemudian kita juga memproduksi original konten untuk digital kita.
H berarti kan dia harus memproduksi dari nol dan lain sebagainya dengan gayanya penonton YouTube kan. He di sisi peliputan, reporter-reporter gua juga kagetlah sama kameraman karena harus live streaming apa-apa pokoknya begitu ada peristiwa naikin alat live lu live streaming ya dia kan artinya secara endurance juga ini kan apa namanya pasti stamina akan terkuras dan lain sebagainya itulah gitu. Tapi ya itu mindset di sisi digital gue juga mengubah sebutan. Hm. Jadi sebelumnya kan kalau di TV itu produser kalau kita mau buat konten namanya gua ganti semuanya content creator.
Wih, ternyata itu perubahan kecil yang bisa berdampak besar. Kenapa? Ketika dia menyandang nama content creator, dia enggak lagi lihat kompetisinya tuh dengan sesama TV. Dia lihatlah kompetisi content creator yang lain dan lain sebagainya. Muncullah ide podcast, podcast dan lain sebagainya.
Biasanya kan kita ngelihatnya talk show TV. Iya. ketika kita bikin podcast, makanya orang kita punya original konten itu. Terus cara milih judulnya, SEO dan lain sebagainya, cara milih angle-nya itu itu dia bisa lihat misalnya sama-sama nih dari video yang sama yang dikirim dari teman-teman lapangan. Tapi dia lihat misalnya waktu itu yang yang gua topin gua itu AHY misalnya dipanggil ke istana ada plat nomornya tuh B 1 apa ee AHY gitu atau nah namanya B 1 itu kan ada pemilu kan.
He. Nah, itu aja jadi topik plat nomor AHY. Sebenarnya kalau berita TV kan AHY dipanggil Presiden Jokowi jadi gitu misalnya kan gitu ya. Nah, jadi ide-ide begitu itu hal yang simpel kemudian menambah membawa impact. Nah, menurut gua.
Nah, itu berjalan-jalan akhirnya dari gua start dari subscriber 500 sekarang subscriber gua di YouTube tuh hampir 20 juta gitu. Nah, seiring dengan itu gua juga belajar programmatic. Apakah views itu selalu menghasilkan duit? Enggak bisa, Mas Alex. Masik, gua ditanya waktu itu karena gua benar-benar gaptek juga, Mas Alex mau butuh duit atau butuh views?
Gua mau dua-duanya. Enggak bisa, Mas. Karena di tengahnya ada namanya brand safety. Iya. Jadi berita kriminal tuh enggak selalu identik dengan duitnya walaupun views-nya tinggi.
Tinggi. Enggak mungkin. Ya udah akhirnya sementara gua ditarget subscriber bertumbuh. Oke. Gimana ya cari subscriber?
Akhirnya ya udah karena enggak tahu ni gua harus fokus. Satu yang gua kejar adalah karena gua redaksi gua kejar adalah views-nya. Oke ternyata views-nya naik. Subscribernya secara natural juga naik. inya juga adsense-nya juga secara natural naik.
Akhirnya kita bisa nemuin oh polanya begini dan lain sebagainya. Jadi ee sekarang kalau misalnya dibandingkan dengan penghasilan TV memang masih kecil. He. Masa sih? Masih sekitar setahun itu masih sekitar 10 20%-nya lah dari dari penghasilan TV.
Wow. Jadi ya kalau TV berita jangan dibayangin TV hiburan ya. Kalau TV hiburan mungkin triliun-triliunan ya. Kalau kita mungkin masih ratusan miliar gitu. Oke.
Tapi 20% dari ratusan miliar itulah kita dapat dari YouTube. YouTube to ya. YouTube to programmatic. Oke. Nah, sekarang ada lagi Facebook kan mulai lagi.
Sementara subuh ee tahun 2 tahun lalu tuh kita sempat stop karena Facebook punya kebijakan enggak memprioritaskan ee berita kan. H ya sudahlah kita tinggalin. Oke. Nah. Terus kemudian sekarang ada.
Nah, TikTok memang TikTok, Instagram enggak ada direct eh enggak ada programmatic-nya, tapi kita butuh itu karena hari ini happening, semua orang di situ dan awareness paling enggak iya untuk untuk bisa lari ini ke ini YouTube lah. Iya. Jadi, jadi ada ibaratnya ada satu markas nih, ada satu rumah YouTube tapi jalan masuk rumah itu kita buka macam-macam macam ya dari mana-mana. Itu yang terjadi hari ini. Mana?
Tapi artinya sekarang gini, kan kayak tadi lu bilang, lu mengganti nama produser menjadi content creator gitu ya. Apakah memang akhirnya lu juga melihat content creator di luaran sana tuh juga memang apa namanya ya kompetisi gitu loh. Jadi lu head to head sama mereka juga. Akhirnya ya misalnya gua bikin podcast gitu ya waktu itu kan booming tuh Deddy Corbuzier dengan Close the Door-nya. He heh.
Kompetitor kita Deddy Corbuzier nih gua bilang gitu. Hm. Nah, oke. Tapi kan kita lagi-lagi bagaimanapun juga walaupun kita ada di YouTube dan sosial media tapi namanya kan Kompas TV produknya tetap jurnalistik ya. Kode etik jurnalistik tuh ada 11 pasal kalau ngikutin itu kaku banget.
Jadi gua cuman dan ini kan anak-anak baru nih, anak-anak baru yang mindsetnya memang digital dan lain sebagainya. Jadi gua juga enggak Heeh. Jadi gua juga enggak pengin kreativitas dia terhalang dengan aturan yang banyak-banyak gitu. Akhirnya gua cuma sederhanakan tiga hal ya. satu beritanya enggak boleh salah.
Oke. Termasuk penulisan nama dan lain sebagainya. Heeh. Untuk berita enggak boleh salah, lu harus verifikasi nih beritanya. Jadi berita yang naik itu harus terverifikasi.
Jadi walaupun treatmentnya model apapun itu terverifikasi. Yang ketiga, lu enggak usah mainin SARA lah. SARA iya suku, agama, ras, dan lain sebagainya. Hindari. Ah, tiga itu aja.
Ini untuk dapetin klik maksudnya kan. Iya. He apapun ya maksudnya untuk kadang-kadang kan ada ada penonton. Nah, kadang-kadang kan ada isu-isu misalnya demo apa yang melibatkan ee komunitas agama dan lain sebagainya atau enggak usah gitu. Oke.
Kalau lu terpaksa harus mainin itu karena itu berita besar, lu harus muat pertama kali adalah suara otoritas. Oke. Dalam hal ini polisi misalnya kalau itu terkait sama penegakan hukum. Hm. Gitu.
Jadi itu guidelines kita. Jadi cuman disederhanaan itu. Akurasi. Hm. Verifikasi no SARA.
Hm. Oke. Untuk memperjelas saja. Iya. I enggak tapi buat gua juga nih ya sori gua gua agak ini lagi ya gua gua soalnya topik ini buat gua menarik gitu kan.
Jadi kalau gua melihatnya kalau kita ngomongin tentang content creator gitu ya, itu kan ee personanya si content creator itu yang memang akan membawa channel-nya. Iya kan? Tapi Kompas TV ini kan enggak nama besar Kompasnya gitu kan. Di mana akhirnya mungkin enggak ada individu spesifik individual walaupun kita berjuang untuk memunculkan individu seperti ya. Iya ya.
Oke, tetap tetap kita lagi memperjuangkan hari ini kalau bicara Kompas TV pastikan orang refersnya personanya ya Rosiana Silalahi gitu. Nah, sementara kita berjuang untuk terus memunculkan persona-persona baru, Rosi-Rosi yang baru, rosi-rosi yang baru gitu. Nah, kita punya ada satu ya ini belum ngetop tapi sudah mulai kalau bicara podcast gitu kita punya On Point with Adisty ya. Iya. Nah, itu jadi Adisty sudah mulai jadi kita coba the next okey gitu.
Kalau di sisi layar TV mungkin ada Frisca Clarissa. Iya itu juga gitu. Tapi tetap persona itu juga tetap penting walaupun ada brandnya. Oke. Ngomongin tadi citizen journalism right jadi at least from your point of view itu bukan jurnalis bukan.
Mereka menyerupai. Mereka berusaha melakukan apa yang jurnalis lakukan tapi enggak bisa dianggap sebagai produknya. not necessarily bukan jurnalistik lah materials lah ya kan tapi apakah ada kesempatan kolaborasi maksud gua gini ee karena kadang-kadang ada juga manfaatnya karena kan lu tabrakan gitu sekarang banyak banget kan bahkan di mainstream media pun ee footage-nya ya lu diambil dari orang-orang yang ada di lapangan langsung saat itu ya kan. Nah, eh pertanyaannya ada enggak ruang kolaborasi yang emang sudah buah enggak atau banyak enggak kejadian di mana kok nih anak bikinnya punya mata deh kayaknya. Coba bisa enggak dia kita rekrut jadinya kontributor?
Pernah enggak ada cerita-cerita kayak gitu? Kalau kolaborasi pasti tadi lu sudah jawab kan di layar TV hari ini juga kalau lihat di Kompas TV juga banyak video-video amatir menurut gua ya menurut gue itu citizen journalist itu tumbuh subur sejak tsunami Aceh. Ih lama juga tuh ya 2004. Hm. Ya.
Tsunami Aceh itu dulu Metro yang pakai gambar amatir bagaimana tsunami itu air masuk ke dalam Aceh. Iya. Dan waktu itu itu kan bukan wartawan yang ambil. Iya. Dan belum banyak orang punya belum ada di handphone lah itu masih yang beneran pakai.
Betul. Betul ada orang kamera-kamera kan sekarang documentarynya juga ada kan. Footage-fotage yang sama dipakai lah. Betul. Nah, jadi semenjak itu muncul tuh tumbuh subur tuh ee apa namanya citizen journalist, video-video amatir dan jadi kalau ada apa-apa lagi sekarang ya sosmed gitu ya tentu ada kolaborasinya.
Hm. Gitu. Kenapa ada tempat buat mereka sebenarnya? Ada. He.
Ada. Bahkan di pemberitaan ketika kita breaking news itu juga kita menggunakan footage-fotage amatir. Tapi kenapa itu bisa naik di kita? Ya karena kita mengklarifikasi benar nih kejadiannya gitu. Karena kita punya tim juga di sana cuman kita tidak hadir atau kita tidak ada ketika benar-benar kejadian itu terjadi gitu ya.
Karena dia orang lokal kan. Begitu lihat air datang kan dia ng-rekord karena semua orang sekarang punya HP. Betul gitu. Nah jadi karena kita ada di sana kita cek lokasinya. Oh iya benar.
Terus ee itu sangat terbuka. Jadi polanya memang kolaborasi. Hm. Nah, kalau ada sebagian jadi kontributor dan lain sebagainya ya gua sekarang punya sekitar mungkin 100 kontributor ya seluruh Indonesia. Oke.
Itu juga berangkatnya dari orang-orang kayak gitu-gitu awalnya. Gitu-gitu awalnya. Terus kemudian kita rekrut. Karena kalau jadi kontributor di Kompas TV maka lu harus eksklusif ke Kompas TV. Oke.
Begitu lu kirim gambar ke orang lain ketahuan ya mohon maaf selesai batal. Iya. karena itu komitmennya, kontraknya gitu ya. Kalau di sini kita juga mengenal istilah stringer. Stringer itu biasanya ee anakan-anakannya dari kontributor.
Anakan-anakannya. Jadi kan kontributor ini kalau kalau wartawan kontributor itu misalnya di Jakarta tuh gua punya di setiap wilayah ada Jakarta tugasnya yang peristiwa ya. Tapi kan lu berdiri di Jakarta Selatan itu kan luas banget Jakarta Selatan. Nah dia pasti punya teman tuh nanti. Tapi yang terdaftar resmi di Kompas TV-nya cuma satu.
Oke. Nah, dia punya tuh kawanannya, stringer-stringernya dia. Oke. Justru si kontributor pangkatnya in this kex lebih tinggi dari lebih tinggi. Betul.
Jadi dia ngambil mungkin dia bantu stringernya gitu ya. Kalau bahasa ledekannya ya wartawan tuyul gitu kita. Karena kita enggak kenal siapa ya orang-orang mungkin dia dari Oke. Nah, cuman hari ini kan konsepnya begitu ada sosial media Heeh. Semua orang kan kita tinggal ngamatin sosial media aja.
I iya kan? Lu mau lihat dari mana langsung kita DM kita apa boleh enggak? Karena kan kita harus minta izin tetap. Tapi kalau eksklusif tuh literally lu transaksi right then and there tuh ya kalau misalnya baru lah tapi dia yang punya footage itu pasti semua media rebutan buku pasti. Heeh.
Dan mereka kan most of the time enggak ngerti dong. Heeh. Iya. Sekarang udah jago semenjak 2004 kan udah enggak enggak maksudnya yang beneran bukan enggak pernah melakukan tapi lu tiba-tiba lagi banjir kan lu giniin kan pasti pas Richard oke padahal enggak ada niat untuk Iya kan. Nah itu tuh berarti harus langsung eh lu gini gini gini gini gua kasih segini ya siapa gitu tuh.
Iya ada ada kita propos itunya gitu. Jadi Reza bisa bisa bisa ya lu keliling-keliling dia dulu kerjaannya training orang untuk ngambil gambar pakai handphone. Tahun berapa lu itu? Ih waduh gua lupa ya. Tapi tapi mungkin itu 2000 sebelum COVID ya seingat gua.
Jadi gua tuh pernah diajak kel sebelum 2015 inget gua sama Kementerian Luar Negeri. Oke. Ngajarin bikin handphone eh bikin video pakai handphone. Jadi Iya. Jadi idenya tuh ketika itu gua ya karena gua punya kolega di Kementerian Luar Negeri terus waktu itu Pak Jokowi itu zamannya Pak Jowi ya berarti 2015-an lah ya 2015 atau 2016-an itu Pak Jokowi itu jadi salah satu inisiator untuk menyelesaikan persoalan Myanmar ya.
Nah, terus Menteri Luar Negeri diutus Pak Jokowi Bu Retno untuk ketemu Aung San Suu Kyi. Hm. Nah, teman-teman di Kementerian Luar Negeri kontak gue, Mas Alek, kita mau ada ketemu Aung San Suu Kyi tapi apa namanya? E enggak bisa ngundang wartawan TV gitu karena kita kuotanya terbatas dan sebagainya. Ada saran enggak?
Ya gua bilang, "Oh, sem waktu itu zamannya iPhone 6." Jadi saya bilang, "Sem gua yakin semua diplomat itu pakai iPhone gitu." Terus gua bilang, "Udah, Mbak kebetulan ibu-ibu, Mbak ngambil gambar aja pakai handphone nanti dikirim." Ngirimnya gimana, Mas Ali? ya WA aja. Hm. Ngirimnya. Oh, gitu.
Iya. Terus habis itu nanti gambar itu dikirim terus kemudian itu bisa disebar ke TV-TV lain. Tapi sebagai bayarannya Bu Retno eksklusif pertama kali ya berwawancara sama Kompas TV. Oke. Terkait deal.
Udah. Jadi begitu dia selesai pertemuan gambar itu dikirim. Karena kan gua bilang TV lain pasti butuh hal yang sama gitu. Nah, paling tidak kebutuhan mereka itu sudah terpenuhi gambar. Karena TV itu kalau bicara apa?
Bicara TV bicara gambar, gambarnya sudah terpenuhi visual gitu. Oke. Nah, tapi live pertama kalinya sama gua ya. Ya udah, jadi tayang itu berita semua di TV-TV tentang pertemuan itu. Tapi live pertama kalinya di Kompas TV.
Oke. Nah, rupanya itu bersambut. Hmm. Akhirnya gua diajak ke Hongkong. Oke.
Jadi semua diplomat di Asia Timur dikumpulin di Hongkong. Oke, gua ke Kuwait semua yang ada di apa sekitaran Timur Tengah dikumpulin di Kuwait. Tengah gua terakhir itu gua ke Italia ke Roma itu ngumpulin semua diplomat yang ada di Eropa Barat, Eropa Timur juga masuk ke Roma. Jadi gue jalan-jalan cuman karena handphone. Wih, mobile journalism.
Shoutout buat iPhone, buat Apple yang sudah bisa bikin Alex jalan-jalan, jalan-jalan gitu. siapa tahu nanti. Oke, menarik menarik. Nah, ini nih kita ngomongin ke anak-anak zaman sekarang ya. Asik.
Sebenarnya ada macam nih multiple lah. Ee yang pertama itu ya mungkin mereka enggak terbiasa dengan your everyday traditional news. Hm. Baik itu tulis, cetak, bahkan TV, you know, you know, at certain level dibanding kita ya. Right.
kita masih e tumbuh besar nonton TV lah. Jadinya ada kalanya tuh when something happens kita nyalain TV. Iya. I don't think kids do that nowadays. I enggak sih?
I could be wrong. Engak anak gua sih enggak yaak. Anak gua juga. L lu pasti buka handphone gitu kan kayak ada sesuatu entah ke X entah ke mana gua enggak tahulah. Tapi insting mereka tuh kayak ada kejadian apa gitu.
Bukannya nyalain TV tapi udah yang lain-lain. Nah. He eh moving forward gimana ini kayak ee broadcasting TV apa dan sebagainya untuk bisa relevan bukan hanya ke kita-kita yang tetap masih mengandalkan, tapi ke generasi yang mungkin mereka emang sudah tumbuh besar bukan dengan TV in the living room gitu, tapi bokap-nyokapnya megang handphone, you know, tablet or whatever. Nah, itu apakah ee ada strategi khusus? Asik.
Ini nih satu ya, ada berlapis pertanyaan tentang anak-anak muda nih. Tapi gua penasaran ee gimana nih ke depannya TV untuk anak-anak si yang zaman sekarang ini? Behavior-nya lah kan sudah beda gitu kan. He. Yang beda kan bagaimana cara mereka mengkonsumsi.
Iya. Iya kan? Platform apa yang mereka gunakan itu pertama. Tapi tadi sudah dijawab kita harus hadir. Bahkan Pak Jakob 2010 tuh udah kalau mau relevan ya lu mesti 3 M tuh.
Wah multichannel. Multichannel. Heeh. Ee ya multitasking gitu. Oh multitasking ya.
Nah jadi itu budaya tu culture baru tuh 2010. Jadi kita nah waktu itu produknya Ekspedisi Cincin Api yang tayang di TV, yang tayang di Kompas.com, ada di radio, ada bukunya dan sebagainya gitu. Jadi ee itu yang dilakukan. Nah, itu menjawab untuk tadi anak-anak itu nontonnya di mana sih? Di YouTube ada Kompas TV.
Hm. Reza ada live streaming-nya. Nonton di Kompas TV live streaming ada. Terus dia enggak suka nonton yang video-video itu. Gua nontonnya cuman ee VOD VOD-nya ada kita buat juga.
H h dia VOD itu apa sih? Sor Video On Demand. Video On Demand. Iya. I jadi yang potongan pendek-pendek klip-klip gitu ya.
I mungkin dia cuma nonton klip-klip terus dia dia sukanya short atau apa. Ada juga kita bikin. Oke, gitu. Jadi satu video yang sama atau satu berita yang sama itu langsung didistribusikan create once distribute many. I langsung banyak.
Jadi artinya di mana pun kita pagerin tuh hadir kita mau ke mana aja ada kita gitu ya. Tinggal teman-teman terus dilatih soal algoritm apa namanya kemampuan SEO dan lain sebagainya supaya itu bisa muncul di Heeh. Karena ketika kita bicara algoritma kan pasti keyword apa yang paling kuat dan paling sering digunakan. Kita ingin dorong keyword itu kuat. Nah, ya strategi itu yang terus dilakukan di di apa diaksi.
Artinya platform itu terus kita upayakan supaya itu muncul. Yang kedua, kalau kita bicara platform tentu kan enggak mungkin talk show TV dibawa 100% dengan gaya itu treatmentnya. Nah, jadi kita memunculkan konten-konten baru gitu. Makanya kita muncul podcast, original content. Even kalau kita nge-cop Tokio Rosi misalnya.
H ketika masuk ke Instagram, masuk itu udah beda gayanya. H. Jadi kita cuman ngambil kutipan yang kuat atau kita nanti kita tambahin apa ee kayak dubbing-an dulu atau tulisan yang menarik dan lain sebagainya. Urusan yang ketiga urusan thumbnail. I gitu.
Walaupun kita enggak bukan mazhab yang clickbait ya. Oke, gitu. Tapi ya urusan thumbnail gitu. Jadi, jadi kita mencoba yang berubah itu ketika ya upaya kita hari ini sebetulnya kan kalau penonton TV kan memang tebalnya di usia 35 sampai 55 tahun ya. Irisannya sama digitalnya Kompas TV itu ada di ee kita tuh mulai 18 sampai 35.
Jadi irisannya itu kuat di angkat 35-nya itu. Oke. Sumur gua tuh. Iya. Gua lebih muda dikit.
gitu. Jadi, jadi itu yang kita lakukan supaya apa namanya tetap relevan karena penonton anak-anak muda ini ya anak gue itu penonton masa depannya Kompas TV. Oke, gitu. Jadi, gua harus mikirin gitu gimana caranya, gimana caranya tetap ada caranya selain nahan uang jajan ya kamu kalau enggak nonton kita sekarang ya kita sekarang mau nginisiasi muncul apa di Roblox. Iya, buset.
Oh ya iya Discord Roblox ya. Iya. Gua lagi mau munculin di situ gue. Gua bilang kalau lu bicara YouTube, Instagram itu udah masa lalu. Masa depan ada.
Tapi Discord tuh dahsyat sih. Nepal bisa kayak gitu gara-gara di Discord coba hadir di edan sih. Oke intinya masa depan jurnalisme di Indonesia aman guys. Oke. Gua bisa melaporkan secara langsung enggak?
Karena gini ee gua jarang punya kesempatan ngobrol sama orang-orang yang setinggi ini pangkatnya ya kan eh Kompas TV ya memposisikan dirinya sebagai just like everyone else. H right eh kalian enggak merasa ada eh apa namanya? Entitlement bahwa eh gua kan TV lu nonton gua lah lu. Lu melihat everyone as a competition. You're just one of eh the people yang emang berlomba untuk mendapatkan attention.
Eh unfortunately enggak semuanya kayak gitu, right? Ya, enggak bakal, Bro. Ujung-ujung mereka kan datang ke kita, wah lu itu yang bikin gua pesimis, ya kan? Tapi mendengar diskusi kita hari ini, oke ya. Memang memang harus begitu lu kompetisi tadi ada personanya mesti bikin konten baru instead of talk show kita pecah nanti bentuknya berubah lagi.
Ih ya whatever people consume ya itu kita bikinlah ya kan itu tuh jadinya eh I feel like kalau kayak gitu of course lu bisa berkompetisi. Iya kan? Tapi kalau lu mindsetnya masih Iya bro dulu nih kita bikin kayak gini we need to stick to apa stick with it mati man. Gua gua kayak nih serius enggak sih gua dalam hati kalau ngobrol sama orang gitu yang agak-agak enggak banyak tapi adalah di luar sana yang lumayan kolot lah ya. Wah, selamat ya, Bro.
Maksudnya gua enggak tahu ketemu lu masih ee survive apa enggak di tengah ganasnya kompetisi media. Jadi, lu lawannya udah bukan lagi media yang lain kan. Iya. Konten kreator lainnya gitu. Betul.
Right. itu tuh ee itu terkait anak muda. Yang berikutnya sebagai talent. Hm. Lu lu lu ngelihat ada perbedaan enggak antara ya generasi kita sama yang generasi-generasi yang lebih mudah eh lebih muda dan eh what's good about them?
Eh apa yang bisa di-improve dari mereka ini nih overall ya. Of course enggak semua orang kayak gitu. Tapi gue cuman penasaran sebagai jurnalis mereka tuh kelebihannya apa, kekurangannya apa? Kalau bicara talent secara umum ya, hm gua sih enggak enggak selalu enggak enggak pengin terjebak terhadap oh ini generasi apa gitu. Tapi buat gua ini anak baru di kantor gitu.
Itu aja. He itu aja. Heeh. He umurnya kebetulan beda 20 tahun aja gitu tahu ya gitu. Bapak ibunya seumuran gue.
Heeh. Heeh. Kacau. Nah, tapi yang beda pasti kalau dari sisi beda dengan apa jurnalis yang lama itu mungkin endurance ya, stamina gitu. Jadi kadang-kadang dia lebih cepat lelah gitu, lebih lebih rapuh berarti mungkin.
Mungkin juga background-nya agak berbeda situasinya ya. Ketika kita dulu situasinya kita dilatih misalnya guru kita e apa negur kita bahkan sampai nyabet pakai penggaris walaupun itu salah. Hm. Tapi kita terima gitu. He.
Orang tua kita enggak akan campur tangan. Iya. Hari ini lu nyabetan orang bisa masuk polisi lu. Iya. Orang tuanya.
Jadi kadang-kadang itu ngerokok di sekolah juga malah justru sekolahnya. Betul. Jadi ini juga gua gua ini mungkin ya kritik gua juga sebagai orang tua karena gua hari ini orang tua juga. Jadi kadang-kadang itu orang tua itu kan pengin anaknya enggak seperti dia zaman dulu gitu merasakan susahnya apa segalanya susah. Tapi hasilnya kemudian ya enggak sekuat dia juga gitu.
Karena ada apa-apa ya langsung dimarahin gurunya, anaknya dia tahu walaupun anaknya enggak ngadu mungkin ya, tapi dia tahu langsung marahin gurunya. Makanya dalam konteks ini tadi bicara pemerintahan ya gua setuju Pak Prabowo itu kalau guru-guru jangan takut tuh kalau ada anak nakal even anak general sikat gitu ya. karena itu yang sulit, kalau kondisi yang sulit dihadapi guru hari ini gitu karena orang tuanya terlalu itu. Nah, jadi soal endurance tapi kalau bicara soal yang lain wah teman-teman itu walaupun mereka itu ada kelebihannya juga tuh ketika melek dengan sosial media ada mereka kan butuh validasi eksistensi tapi di sisi yang lain tuh semangat memberitakan semangat untuk is tinggi. Oke.
Terus curiosity-nya juga tinggi. Karena ilmunya kan banyak mereka itu melek teknologi. Iya. Jadi cepat banget gitu. Jadi teman dan cerdas karena dia melek teknologi.
Jadi gua enggak perlu ngomong terlalu lama. Dia paham. Hm. Gitu. Oke.
Berarti in a sense banyak sprinter. Cepat tapi enggak bisa lama. Cepat. Yes. Kita punya sprinter banyak tapi bukan pelari maraton gitu.
Nah, justru itu yang kita harus kelola sekarang tantangannya. H. Jadi ee ide-ide mereka luar biasa. Tapi kalau udah kelamaan endurancenya turun, udah selesai ya. He gitu.
Nah, jadi itu challenge yang mungkin gua hadapin di paling enggak di internal gue ee apa namanya terhadap teman-teman yang baru ini. Tapi ide semua produk-produk Om TV hari ini yang di digital-digital semua tuh produk dari mereka. Ide-ide mereka yang kita enggak kebayang lah. Enggak kebayang. Eh, kalau maksudnya even when we see produk-produk itu enggak kebayang kita bisa lakukan juga gitu kan kayak we can't make the connection tapi anak-anak muda ini you know hei ini bisa gitu caranya gini gini gini ini gitu iya karena mereka menyuarakan apa yang yang menjadi preference mereka gitu kan dan mereka punya percaya diri yang tinggi.
Iya. Eh, gua kemarin sempat ngobrol sama Prita Laura ngobrol-ngobrol tentang sempat nonton tuh. Oh, sempat. Iya, kan kita ngobrol nih e anak-anak zaman sekarang itu tuh masalah apa ya? Gue gua gua in a sense agak kasihan sama mereka karena mereka udah terekspose dengan konten-konten sosial media both yang bagus-bagus dan yang kurang bagus ya.
Kurang kurang bagus ya. Eh, ya very early gitu. Gua gu tadi baru ngobrol juga sama eh Chris the producer. Kita kalau CD itu kita udah ngisi dulu ya kan sampai kita dewasa baru ketemu sosial media. Jadinya kalau dulu zaman dulu berapa?
700 me ya CD itu misalnya kapasitasnya 750. Tapi gua ketemu film Unyil kelas 4 SD. Jadinya kayak eh critical thinking kita terutama yaitu tuh kayak udah terbangun gitu set baru lu dapat konten-konten sosial media. Jadi pada saat itu lu lu tahu man yeah right. Hm.
Get rich quick. Anak ngapa-ngapain tiba-tiba tajir. That's not real man. Kalau real pun that's one in a billion. Jadinya lu enggak mungkin apa punya aspirasi.
Wah, gua mesti jadi kayak Ronald Timothy, Bro. H good luck, ya kan? Karena itu literally one in a billion. Iya. Ee kalau benar, ya.
Tapi em itu tantangan sosial media sama anak-anak yang muda zaman sekarang itu semua yang baik dan jelek tuh masuk tanpa inense tersensor. Nah, ini gua gua pengin lompatnya ke kemarin Singapura eh memerlukan license. He. Untuk orang bikin konten financial. Menurut lu gimana?
Does that make sense? Lu setuju enggak? setuju. Anything lah thoughts on that situation? Ya, kalau gue sih ya pasti informasi ini kan banyak banget hari ini ya.
Hm. Jadi orang yang enggak tahu apa-apa tuh bisa jadi terkenal ya karena banyak platform dan lain sebagainya. Jadi di hal tertentu sih gua sepakat harus ada harus ada pembatasan. H harus ada ya tadi kalau misalnya bicara finansial gitu ya mungkin orang-orang yang kompeten tapi kan gimana kita memulainya ya gitu. Itu seringkali itu jadi kayak Heeh.
telur sama ayam tuh mana mulainya gitu. Harus ada keberanian juga. Dan gua enggak yakin juga pemerintah seberani itu gitu ketika dia nyetop misalnya apa segala itu bisa ramai gitu. Kecuali konteksnya ada konteksnya misalnya kayak kemarin kan ada rusuh demo jadi rusuh kemudian live TikTok dihentikan gitu. Itu kan enggak banyak orang protes mungkin.
H h. Tapi orang bisa memahami itu. Tapi kalau yang ini tuh agak ya ide-ide untuk membatasi konten anak dan lain sebagainya menurut gua sih baik ya. E sama juga si Austral. Iya kalau enggak salah berapa minggu ke depan atau ini umur 16 tahun ke bawah lu enggak boleh pakai sosial media.
Iya. Ini juga mengingatkan gua sama stand up-nya Ronny Chieng. Hm. One day kita akan ngelihat orang pakai internet tuh seberbahaya itu. Hah?
lu pakai internet di depan ee rumah sakit gitu kayak ngerokok jadinya dianggapnya gitu kan. Zaman dulu ngerokok ngerokok aja gitu kan. When we get smarter yo you cannot smoke di sini di sini sini gitu. Nah dia dia menyamakannya internet tuh kayak a lot of crazy people or dumb people whatever people lah ya pakai internet tuh so dangerous gitu. Kok zaman dulu boleh sih?
Ya, ini mungkin agak kayak gitulah bahwa lu anak kecil, lu belum tumbuh, lu belum bisa mengkritisi mana yang ini, lu enggak boleh pakai sosial media dulu, Ben. Karena itu matters kali ya. Sekarang enggak usah ngomongin sosial media deh. Misalnya rokok aja. Iya.
Bisa ngelar anak hari ini kan anak kelas 2 SD mungkin itu masih bisa ngerokok. Gimana itu ngerokok? Iya. Iya ya. Itu.
Nah ini men ini nih panjang lagi nih. Yang lebih simpel gitu maksud gua sosial media kan pasti lebih kompleks. Ini ini lebih tentang penegakan hukum di negara ini ya. Jangan sampai kita 4 jam nih. Kalau kalau gua sih enggak melihat apa namanya gua lebih percaya harusnya itu adalah yang dibentuk adalah budaya norma dan nilai di masyarakat dulu itu yang harus dibentuk gitu.
bahwa apa yang acceptable, apa yang enggak acceptable gitu loh. Contohnya ya balik lagi kalau misalnya kita ngomongin tentang sorbuk terbentuk maksudnya maksudnya ee kalau anak sori kalau anak ini belum terbentuk jadi dibentuk dulu baru terekspos dengan itu kan apa maksud lu gimana nih? Enggak ya? Memang enggak gini ini kan ee ya kita ngomongin budaya di si kita ngomongin anak ya kan konsumsi sosial media gitu kan tanpa filter. Heeh.
Mereka enggak ngerti mana yang bagus yang mana yang jelek. Iya kan? kita sempat ngobrol ini juga waktu itu kan di mana anak-anak bahkan kuliah gua ngobrol sama si Sakti dia sudah jadi kaprodi Sosiologi oke itu dia sebagai kaprodi dia ngurusin ee orang kayak zaman anak-anak SD dia harus ketemu sama orang tua dari mahasiswanya gitu loh. Jadi apa namanya udah sampai that severe gitu. Tapi buat gua, gua melihatnya gini ya harusnya ya gua enggak tahu ya ini mungkin gua terlalu idealis tapi buat gua gua mikirnya adalah budaya di masyarakat dulu nih yang harusnya dibentuk di mana bahwa oke kalau misalnya anak menggunakan sosial media gitu ya ada pembatasan h ada manfaatnya ada hal-hal buruknya ada mudaratnya gitu ya Tapi ya kan kita ngomongin lagi ini gua jadi agak ke apa pembahasan sosiologis gitu ya.
Ya sekarang kan unit terkecil itu kan keluarga gitu ya. Di keluarga itu tuh udah kebentuk apa belum gitu ya. Ya lu boleh pakai handphone, boleh pakai tablet tapi untuk kebutuhan ini ini, ini atau bahkan ya misalnya pembatasannya tuh dari sisi jam gitu kan. Oke. Dalam 1 hari boleh misalnya cuman sekian jam atau bahkan 1 jam atau bahkan ee setengah jam gitu kan.
I dan itu difortifikasi lagi, diperkuat lagi ketika di sekolah gitu ya kan. Sekolah misalnya enggak boleh sama sekali diband no phone gitu kan. Dimasukin Iya masukin yang kayak exactly gitu kan yang kayak gitu gitu kan. terus kemudian keluar lagi gitu dari ee dari situ misalnya dia ekstrakurikuler les atau segala macam sama terapkan juga hal yang sama gitu atau bahkan misalnya ini ini gua agak ekstrem juga ini mungkin ngomong ke media gitu ya misalnya gini bisa enggak sih di dibantu juga disuarakan di mana anak-anak itu kita ngomongin tentang informasi kan konsumsi informasi yang kita enggak tahu ini bagus jeleknya gimana filternya i misalnya ee ee media kerja sama dengan entah Kemendiknas entah atau misalnya ee individu ke sekolah-sekolah gitu ya. E programnya adalah untuk anak H membuat klipping kayak kita zaman dulu.
H jadi di mana dia tahu mana yang berita yang memang terverifikasi yang yang tadi kita obrolin di awal gitu kan. Dan mereka jadi terbiasa gitu. Oh, yang ini yang memang berita yang benar ini informasi yang harus gua konsumsi, yang ini yang enggak. Ini harus difilter out gitu loh ya. Social media literacy class wajib.
Exactly gitu loh. Jadi, jadi enggak tahu ya ini ini opini gue ya. Tapi kalau gue menurut gua ya kalau secara ekstrem gua bicara he ya kalau kita mau mengubah budaya ya harus ada pressure ya. Law law enforcement-nya harus ketat gitu. Karena mengubah sesuatu itu harus ada dimulai dari paksaan dulu gitu.
hal yang paling simpel lah misalnya mendisiplinkan itu kalau enggak ada konsistensi di situ ee komitmen di situ berat. Jadi ya gua boro-boro mengubah ini, tapi pengalaman gua sendiri di ruang redaksi tadi mengubah mindset dari reporter atau produser menjadi content creator itu juga enggak segampang membalikkan itu balik tangan itu benar-benar di kok balik lagi menurut enggak bakal instan memang. Iya. Nah, itu kan butuh endurance tuh. Betul.
Nah, komitmen tuh. Nah, seringkali kita punya masalah dengan komitmen. Kalau gua kalau karena gua gua kantor gua di Palmerah, gua pengin tahu gua seringkali bercanda menilai komitmen seorang gubernur itu. Hm. Kalau dia baru terpilih itu di pasar Palmerah lancar tuh.
Oh, Palmerah enggak ada angkot ngetem. Entar bulan depan udah ber macet lagi. Gu bilang dah enak gimana sih enggak ada komitmennya nih gitu. Jadi indikator tu ya. Iya.
Jadi ya indikator main-main. Tapi maksud gua itu tuh jadi gua gua melihat ya itu butuh komitmen besar. Makanya tadi sebetulnya kita tahu mau memulai dari mana. Karena kalau kita analogikan anak ini spons kosong gitu ya. He ya berarti kan dari lingkungan terdekatnya nih orang tua.
Nah cuman kan kita tahu kompleksitas orang tua hari ini dan lain sebagainya ada aja argumentasinya kan. Iya gitu. Jadi kalau ini mau ya ya dimulai dari situ baru kan kemudian ketika anak sudah mulai gede baru ada lingkungan baru ada yang lain gitu minta orang tua enggak boleh kasih HP aja gitu. Jadi kayak waktu gua gua sempat ke Amerika 2 tahun yang lalu itu Heeh. bagaimana ee Biden itu menerapkan apa namanya anak sebelum umur 17 tahun itu enggak boleh dipanggil he soal gender gender.
Oh my God. Soal gender ini yang cerita teman gua di Kementerian Luar Negeri dokter gua cerita. Jadi enggak boleh tuh dia atribusikan dia itu laki-laki, perempuan atau apa. Enggak boleh. Begitu itu ketahuan misalnya itu anak bisa diambil negara misalnya gitu.
Jadi se se segila itu mestinya bisa jadi ya gua cuman ngebayang gua juga mendengarkan masa sih? Eh iya bisa jadi ya karena kan Biden kan pro ya untuk apa ee terbuka soal gender itu kan. Jadi, nah itu itu menurut gua juga oh ini contoh aja di luar. Tapi artinya kalau pemerintah mau dalam konteks ini ya mungkin seekstrem itu kali. Iya.
Jadi benar-benar orang tua enggak boleh ngasih ee telepon atau smartphone atau apa ke anak-anak. Begitu ketahuan ya orang tuanya harus ada iya punishment-nya. Tapi apa iya kita mau begitu? Hm. Ya kita punya komitmen.
Nah karena itu sedalam itu apa enggak gitu. Betul. Kalau cuman program dan lain sebagainya perlindungan ya. Kalau di TV kan ada jam siaran, ada kategori usia dan lain sebagainya itu sudah dilakukan semua. Heeh.
Gitu kan di sosial media ini yang mungkin lebih liberal ya, lebih terbuka gitu. Nah, cuman gitu dan dan kasihan men kayak sekarang tuh kan banyak yang viral-viral kayak anak-anak zaman sekarang gitu. Enggak bisa aritmatik. Hm. Oh, iya.
Kali-kalian aja lu enggak bisa. He iya. SMA lu digebugin enggak sih dulu? Kalau SD lu SD kelas 4 lu enggak bisa kali-kalian, lu digantung bapak lu. Lu enggak bisa kali-kalian, gantung.
Terus lu joget-joget bikin TikTok lagi. Oh my God. Iya. I kan tapi ee pendidikan lah. Betul.
Betul. Kita kita sebagai negara nih eh dan gua you know bukannya conspiracy theories juga sih gua enggak I don't consider myself to be one. Tapi kadang-kadang gua oh maybe that's why kita nih mungkin kata kuncinya bukan melarang tapi membatasi. Iya. H gitu.
Jadi kalau kalau di dunia gua enggak tahu kalau gua ya karena gua orang Jawa gitu ya. Kalau gue pulang kampung itu di kampung nenek gue atau di kampung gue itu selalu ada jam belajar jam 06.00 sampai jam 09.00 malam. Itu kalau ada anak keluar jam 07. 09.00 malam dimarahin tuh, "Ayo masuk masuk belajar. Ada yang sis kamling tuh." Tapi di luar itu ya boleh main gitu.
Mungkin secara konsep begitu kali ya. Tapi itu bisa di diterapkan di Iya. He. Nah, cuman kan budaya itu kan juga kalau orang tuanya enggak dibiarin aja dia main e dilawan sama orang tuanya juga enggak kan orang tuanya kan ngikutin konten-konten yang wok wok ini kan enggak anak gua bebas menentukan asik ngerokok gitu rusuh gitu. Eh man, tapi that's how powerful social media sih menurut gua ya.
Eh, it change it can change a country's trajectory. Y dan ya ini mungkin enggak usah dimasukin tapi gua kayak curiga. E man, lu bayangin enggak sih kayak TikTok gitu lu sekarang lu bisa mendikte siapa yang lagi election di negara mana? Oke, masukin konten yang ini. Asik lu langsung menang enggak sih atau kalah or whatever ya.
Nepal itu itu yang yang dari Discord itu gila itu buat gua Alex eh banyak orang di luar sana mungkin enggak kayak lu Oh karena enggak pernah kepikiran enggak pernah kepikiran jadi jurnalis enggak dari ininya emang pengin jadi jurnalis enggak enggak ini orang-orang di luar sana kan oh ya apa tiga hal yang mereka mesti miliki to be a good journalist di tahun 2025 ini what or apa yang harus mereka prepare sebelum mereka untuk bisa menjadi seorang jurnalis handal di era sekarang. Yang pertama menurut gue suka bergaul. Bergaul ya. Oke. Karena jurnalis itu ee modal dasarnya itu membangun jaringan.
Hm. Pertemanan. Hm. Gua bisa punya teman presiden mungkin. Wih.
Sampai gua bisa punya teman penjahat. Oke. Enggak usah penjahat yang spektakuler, enggak maling motor dan lain sebagainya gitu. Spektakuler karena mereka itu sumber informasi. Jadi apa tadi?
Bergaulan, bergaul, bergaul punya teman gitu. Karena gua ngobrol begini pun kan gua baru kenal ya, next kan kita apa kita sudah kenal gitu. Jadi akses karena kaitannya ketika kita kerja jurnalistik itu akses kan. Gimana cara lu dapetin akses informasi asli itu? itu kalau lu enggak punya banyak teman ya selesai l enggak tahu apa-apa.
Oke. Oke. Itu yang pertama. He. Yang kedua mungkin dia harus senang belajar atau apa ya curious gitu ya.
Oke. Menurut gua curious karena simpel kok. Jurnalis itu tukang apa sih sebenarnya? Tukang nanya. Iya.
Nanya aja terus. Nanya aja terus. Tapi kalau di keluarga kita dianggap yang paling tahu gitu. Jadi jadi sok tahu aja. Padahal informasinya tuh omongannya Reza, omongannya Mercy, omongannya siapa.
Cuman masuk di gua seakan-akan omongan gue gitu. Jadi, jadi tukang nanya. Jadi sering nanya. Nah, curious dan dengan ada curious itu kan berarti dia bisa belajar, dia baca dan lain sebagainya. Karena karena sebelum jurnalis itu turun ke lapangan maka dia harus mengisi isi kepalanya dengan riset.
Oke. Gua tadi pas dikasih tahu ee host-nya Mercy Tahitu gitu. Ini Mercy laki-laki perempuan ya. Woi, itu misteri gua buka Instagram lu. Heeh.
Laki enggak? Belum. Gua pikir perempuan karena istri lu yang muncul di pos yang paling atas itu kan istri lu semua baru ketemu ada foto di pantai with beacon atau siapa gitu. Gua lihat bacanya ini perempuan apa laki? Masih ketemu.
Gua pikir karena gua nonton kontennya waktu sama Prita Laura kan lu sama istri lu ya. Nah gua pikir itu terus gua cek lagi. Sor itu bukan bukan bukan ya pokoknya perempuan ya. Gu pikir itu itu itu e Stef yang shoutout buat Stef yang lagi jalan-jalan makanya ada Reza di sini menggantikan tiba-tiba jadi yang konten Laura ya. Nah itu gua lihat pikir oh mungkin yang ini kali ya.
Oke yang kedua kan karena gua belum pastikan gendernya apa ini mesti dicek ya gua cek dapatlah dapatlah LinkedIn lu. Oke. Oh fotonya laki nih gila juga. Gua kan pernah lihat lu di konten kan. Tadi pas salaman juga gua gak kaget karena gua udah oke.
Nah, terus gua cek lagi di berita lu terima penghargaan itu. Oh, di detik atau di mana gua lihat. Confirm laki laki gitu. Jadi gua pengin tahu sebenarnya ya itu modalnya karena harus curious gitu, harus belajar, harus banyak cari tahu. Apalagi dengan era teknologi begini, seorang reporter udah enggak boleh enggak tahu teknologi.
Seorang kameraman udah enggak boleh enggak tahu cara nulis naskah. Enggak boleh. H model teknologi begini kita harus belajar lagi soal SEO, kita harus belajar lagi soal algoritm AI. AI belum nyampai situ. Tapi kayaknya enggak mungkin nih ini udah 2 jam kita ngobrol sih kalau ngomong AI 4 jam seteng lah kita.
Oke lanjut. Curi nah yang ketiga ya endurance. Endurance ya. Oke. Amin.
Jadi gua kalau wawancara ee reporter baru itu gua tanya lu udah punya pacar belum? Oke. Hm. Udah, Mas. Oke.
Ya udah. Yang harus lu siapkan adalah putus. Oke. Lu siap putus apa enggak? Kenapa?
Iya. Lu siap putus apa? Kenapa? Karena tunggu internally kita mesti tanya itu. Oke.
Kita nyontek. Siap. Putus. Oke, lanjut. Karena kerjanya jurnalis itu kan liburnya hanya apalagi TV yang ditentukan di jadwal itu.
Oke. Jadi teman-teman lu pacaran di Sabtu Minggu nonton film gitu, lu lagi nunggu di KPK enggak kenal tanggal merah? Engak kenal tanggal merah. Tiba-tiba lu cuti, gua telepon Pak Gil masuk kantor. Kalau laki, laki semua kadang-kadang ya kan.
Wah, lu enggak bisa ngelihat itu pacar. Belum belum orang tuanya mengizinkan apa enggak. Jadi pernah nih ada satu wawancara kemarin terus gua suruh telepon orang tuanya, "Aku jadi wartawan katanya nanti natalan enggak ada di rumah." Kok bisa? Enggak usah gitu kan. Enggak usah bisa coret langsung coret.
Yaak usah karena gua juga buang waktu. Oke. Ya, tadi kan didik wartawan itu kan enggak gampang, Pak, ya. Tiba-tiba cuman karena orang tua dilarang dan lain sebagainya, dia resign lah. Gua buang waktu, Pak.
Heeh. Baru di baru bisa. Udah resign jadi wartawannya kayak jadi pastur panggilan. Panggilan panggilan. Bukan cowok panggilan ya, tapi panggilan.
Oke. Tapi gua living living proof itu sih. Hm. Waktu gue di TV, gua gua kan pernah di Trans TV ya. Heeh.
Yang minta gua untuk resign adalah orang tua gue. Oh ya, real tuh. Ya udah kerjanya keras, gajinya kecil lagi katanya gitu kan. Wartawan kan begitu. Gua diproduksi pada saat itu ya kukall jam 7.00 pagi mulai syuting jam 09.00 ya kan.
Selesai syuting jam 2.00 pagi nyampai rumah jam 3.00 pagi. Jam 7.00 Pagi gua udah mesti kukol next kukol lagi. Iya iya pakai hal itu sih yang menurut gua bergaul curious endurance ya endurance luar biasa. Maksud gua gini karena kita tuh 111 lah i kan pekerjaannya. Iya ee untuk untuk mesti totalitas ya kayak panggilan itulah panggilan.
Iya iya kan kayak calling jadinya either you have it in you or you don't. Iya. Iya. Kan itu bukan sesuatu yang ah lu mulai dengan tidak punya tiba-tiba punya tuh jarang lah. Most of the time tuh emang lu anaknya siap tempur cuy.
Battle tested. Whatever you've been through itu lagi-lagi eh growing up ya. Kalau lu ngomong tadi the smallest unit of e society, whatever lah family apa dan sebagainya. Lu dari awalnya tuh udah udah di-shape untuk pekerjaan ini. Bukan yang lu ah tiba-tiba lu mesti ditempa di itu waduh malas banget gitu kan.
At least lu udah setengah jalan lah. Kalau dari awal lu yang masih kayak begitu. No thank you. Ya sepintar-pintarnya el lah. Yang gua percaya tuh sekarang jangan pernah bermimpi mengubah dunia.
Hm. Kalau lu bangun tidur aja enggak ngerapin tempat tidur. Asik. itu tuh di kepala gua tuh moto hidupnya mereka ini kan iya gimana gua mau mengejar mimpi gua if you keep waking me up lu bangunin mulu gua ya asik shoutout waktu itu gua ngelihat tulisan itu di t-shirt di mana di Jakarta lah pokoknya i like that anyway sekali lagi bro thank you banget e hari ini gua thank you mercy sebelah gua ada Reza, ada Alex di sini sama Chris the producer. And sekali lagilah kita tepuk tangan dulu.
Wuh. Thank you. Thank you.