Why do 90% of brand press releases never get published? In Proxemics 023, Rachmadin Ismail (Madin), Editor-in-Chief of Tirto.id, opens his editor’s inbox to Mercy Tahitoe and Stephanie Sicilia and gives the blunt answer: a release that only sells — with no business value or traffic value for the newsroom — gets skipped. His fix is finding an angle unique enough that an editor actually wants to run it.
Madin walks through how a modern newsroom survives the creator era: layoffs, consolidation, and a shift from reporter to curator. Rather than fight the ‘homeless media’ accounts that dominate local info feeds, Tirto now collaborates with them to distribute journalism-verified content, and weighs whether the future business runs on subscription or donation.
The most forward-looking idea is Fact Shopping — an evolution of fact-checking. Instead of only debunking political hoaxes, Tirto audits product claims (think sugar content or a ‘waterproof’ boast) so consumers buy on facts, not marketing overclaim.
On crisis, his rule is simple: don’t panic and don’t answer blind. Brands need a PR person who understands context so a reply doesn’t become a blunder that gets twisted — and today’s media wants a scientific basis for criticism, not just a pundit’s opinion. He also maps how black campaigns and disinformation get aimed at brands.
If you write press releases, pitch editors, or manage reputation, this is a rare look at exactly what makes a newsroom hit publish. Worth the full listen.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
Cara untuk mendeteksi hoaks yang paling efektif adalah dengan membuatnya. Man, gua personally ada sih teman kita lah. Ada yang literally meninggal, Bro. Beli obat apaan lah gitu karena ngelihat konten yang tadinya kita cuman views sebulan 100 juta views gitu sama homeless media tuh bisa dapat 2 miliar. Jadi e dari fact checking menjadi fact shopping.
Beli barang sesuai fakta bukan overclaim. Welcome back to another episode of Proxemics. Eh, hari ini kita ada tamu istimewa luar biasa. eh somebody yang kita udah kenal lama lah, lumayan lama and nanti kita bisa 10 tahun to exact 10 tahun ya almost to the to the dot ya eh nanti kita juga ngobrolin tentang itu. Anyway, this next guest itu eh seasoned journalist lah udah pernah eh melanglang buana ke mana aja kan dari dari Detik, Kumparan.
Kemarin juga sempat eh ada yang health focused media itu kan hits banget sampai sekarang posisinya jadi bos editor dari Tirto. Kita welcome dulu to the program. Rachmadin Ismail. Eh, luar biasa, Bro. Welcome, welcome.
Udah lama kita enggak ketemu, ya. Langsung aja gitu, ya. Eh, media di Indonesia ini kan eh a lot of consolidation ya. Eh, banyak layoff, banyak tantangannya lah. Nah, di mana nih sekarang posisinya Tirto dan gimana membedakan Tirto dari media-media yang lain nih?
dengan arahan eh Bapak yang baru ini. Asik. Gimana? Gimana? Oke, thank you sebelumnya.
Tapi gua udah makasih banget nih sudah diundang nih. Em ya ceritanya ini memang bagian dari perjalanan gua sebagai jurnalis lah ya. dari mulai kita cuman reporter kan, cuman bisanya ngeberitain doang, nulis, ngeliput, terus naik jadi level ee editor, terus managing editor. H sekarang jadi editor inchief, ngurusin cash flow, ngurusin bisnis. Jadi totally different sih.
Dan menurut gua ini bagian dari perjalanan hidup gua yang gua banyak belajar. Satu hal yang gua pelajari sekarang adalah bahwa digital dunia digital terutama di dunia jurnalistik itu perubahannya cepat banget kan. Dulu shifting-nya dari cetak itu sangat lama kan sampai jadi online itu orang masih bisa. Tapi begitu sudah jadi online digital perubahannya cepat banget. Jadi kayak 2 tahun sekali tuh kita harus kayak belajar gitu.
Heeh. Dan akhirnya itu yang membuat akhirnya gua harus ee berbenah juga di Tirto. Jadi kita banyak melakukan banyak perubahan dan banyak belajar ee dan akhirnya kita harus mencari perubahan-perubahan apa yang kita bisa perbuat dalam mengantisipasi ee hal-hal yang kita enggak bisa duga ke depan. Nah, akhirnya singkat cerita pas gua join ke Tirto sekitar 2 3 tahun yang lalu, Juli 2023 tuh karena gua di-challenge untuk manajemen, ya gua harus mencari USP-nya baru buat Tirto. Dari situ gua enggak mencari keluar sebenarnya awalnya.
J gua cari di dalam. Gua one on one sama semua karyawan Tirto waktu itu yang jumlahnya sekitar 150 orang. gua berusaha mencari keunikan dari teman-teman masing-masing. Akhirnya setelah mencari menimbang-nimbang, gua nemu tuh ada satu tim di Tirto yang terdiri dari mungkin 4 L orang yang mereka ngerjain setiap hari kurasi konten misinformasi. Hm.
Namanya tim Fact Checker. Tapi dulu belum jadi sebuah company value gitu. Jadi itu hanya satu tim selipan jadi timnya sedikit gitu. Terus gua pikir loh ini ada potensi nih tim yang kecil ini kenapa enggak kita gedein jadi the whole editorial value. H.
Jadi dari tim yang kecil itu gua minta mereka untuk nularin ilmunya ke teman-teman editor yang lain. Akhirnya fact checking itu jadi satu company value, jadi satu USP yang kita tawarkan ke market. Definisinya apa sih fact checking? Intinya kita shifting dari produsen berita menjadi kurator berita most of the time gitu. Oke, kita berusaha memilah-milah.
Kita bermain di hilir, enggak bermain di hulu terlalu karena di hulu disrupsinya sudah terlalu banyak, udah ada kreator. Bahkan Pak Prabowo kalau mau posting sesuatu, posting aja sendiri. Udah mungkin enggak perlu wartawan karena orang sudah jadi bisa jadi konten kreator sekarang secara dari sisi kacamata produksi gitu. Tapi PR-nya sekarang ada di kurasi. Di saat semua floating information, saatnya harus ada media yang outstanding untuk muncul ke permukaan sebagai kurator.
Ini yang benar, ini salah. Oh, ini konteksnya kurang pas, ini enggak sesuai dengan maksudnya. Oh, ini video lama yang di-recycle dan segala macam. Nah, kami bermain di area itu sekarang dan itulah jadi jadi cara kami bertahan hidup dan cara kami untuk bisa ng-deserve market ke depan gitu sebagai media gitu sih. Oke.
Iya. Karena kan lagi-lagi yang kayak tadi lu bilang eh misinformasi itu tuh banyak banget di luar sana dan udah apalagi dengan I dengan AI itu kan kayak makin bingung sih yang what's real what's not tuh ee menurut gua ada banget kebutuhan ee dari masyarakat untuk ada bantuan gitu yang gua lihat nih benar apa enggak tuh memang perlu bantuan dari ee apa namanya sources yang bisa dipercaya lah. Nah, jadinya kalau misalnya Tirto ada di forefront of that movement menurut gua eh oke juga ya, berpotensi banget. Gua setuju sama e your vision. Iya, karena ya itu tadi di hulu tuh hampir bisa semua orang pokoknya lu punya interakses internet, punya device, lu bisa jadi siapapun dan mengomunikasikan apapun gitu.
H di tengah hantaman segitu banyak informasi, kita sebagai kacamata pengguna tuh kadang-kadang malah bingung ini tuh bener atau enggak. Ini tuh beneran baru atau video lama. Terus dengan AI ditambah dipotong sekarang nih benar-benar actually very dangerous time sih in consuming information. Kalau enggak ada eh media atau lembaga yang jadi kurator itu yang make sure bahwa eh ini tuh begini loh, ini tuh benar loh, ini tuh enggak benar loh, itu penting banget sih. Jadi gua rasa apresiasi banget sih buat Tirto untuk actually take on that role.
I much needed eh role diety. Oke. Nah, ini juga yang menarik ya. The content creator waktu itu kita ngobrol sama Prita Laura. Kebetulan datang juga ya.
Dia dia juga ngobrolin tentang inilah orang-orang bikin konten nih yang kayak baru baca, baru nonton video YouTube 5 menit tiba-tiba rasanya expert gitu kan. Itu juga ee ngeri banget gitu. Ee dan kita kemarin tuh ngobrolnya ada hubungannya dengan anak-anak zaman sekarang. Heeh. Yang kayak kalau kayak kita-kita ini kita critical thinking dan lain-lain tuh kita sudah diasah.
Pas kecil baru pas kita beranjak dewasa baru bersentuhan dengan internet plus social media lah. Social media later a little bit later gitu. Nah, kayak anak-anak zaman sekarang tuh kasihan juga sih gua ngelihatnya mereka belum punya skills untuk memilah mana yang benar dan yang buruk itu lu udah dapat informasi. Iyalah ada kemarin kita juga ngobrol ada fitur-fitur censorship gitu ya misalnya ya. Tapi itu kan for certain content.
Iya. Sedangkan buat konten-konten lain yang mungkin ee enggak membangun apa yang ngajarin hal-hal yang kurang baik gitu lu telan aja gitu bulet-bulet. And that's very scary gitu. Gua gua enggak kebayang jadi anak zaman sekarang kadang-kadang kok gini banget sih tapi at the same time kalau gua berusaha berempati oh no wonder gitu. Karena itu yang lu konsumsi, man.
Jadi di gua tuh ada dua fokus utama, misinformation soal your life, your money. Jadi, your health dan finance. Oke. Itu yang dua isu yang paling impactful ke orang kan. Yap.
Karena kalau soal politik ya ada sih, cuman kan enggak itu seasonal kan. Itu paling biasanya pernah sampai akhirnya orang tertrigger untuk akhirnya menyerang satu sama lain karena misin informasi soal politik. Tapi yang day to day-nya itu lebih banyak kita yang bahaya itu adalah financial misinformation sama eh health information. Oke, contohnya gini. Misalnya ada orang bikin hoaks soal undian gitu ya, misalnya ada satu brand bank misalnya gitu ya, dimanipulasi akunnya kemudian dia nipu-nipu pada undian ini, undian itu.
Terus dengan iming-iming lu harus stor uang segala macam itu di media sosial tuh masih gede. Masih ada ya ada penipuan biaya admin gitu. O, awas biaya admin mau naik jadi R30.000 gitu. Jadi orang akhirnya rush ngambil duit dan segala macam. That's the thing yang bahkan ada beberapa kemarin yang investasi bodong gitu-gitu yang health ini yang paling agak krusial karena lu kalau nyebarin informasi yang salah tentang health just ditiru itu bisa menyebabkan orang itu terdampak at that moment gitu.
He kayak ada satu menteri, mantan menteri. Jadi kita pernah nemu dia kena deepfake gitu, mulutnya digerak-gerakin supaya promosiin obat yang enggak jelas gitu. I itu. Dan mungkin di kalangan kita mungkin enggak terlalu kita sudah tahu ini deepfake gitu. Tapi bagi orang-orang yang enggak begitu digital safety misalnya ibu-ibu di atas 50 60 tahun yang mungkin mereka udah udah desperate untuk nyari pengobatan dan segala.
Tiba-tiba ada video itu terus nyobain dan akhirnya marah efeknya negatif. itu itu kita sampai harus tiap hari ngejagain benar-benar dan dan memang memang itu yang paling impactful dan akhirnya kita akhirnya bikin creating system sendiri. Mereka juga butuh ternyata kurator-kurator kayak kita. Karena buat mereka juga itu jadi problem di karena kan ada beberapa yang enggak bisa di-handle oleh machine, mereka punya machine learning sendiri, punya automation, tapi at the end of the day mereka juga butuh jurnalis buat curating the content gitu. I collective issue juga lah itu ya yang harus dipertanggungjawabkan sama-sama.
Iya benar. Misalnya ada video banjir di daerah tertentu gitu, resurfacing lagi gitu misalnya. Padahal itu kita cek secara konteks itu adalah video 5 tahun yang lalu dan segala macam. Akhirnya peran kita jadi akhirnya oh begitu kita shifting ke USP yang baru itu eh ternyata temu teman-teman baru nih. Hm.
Dan dan yang kasihan tuh ada component desperation itu. Nah, pas lu udah pensiun kurang uang, lu despert, he itulah yang yang jatuhnya tuh di hal-hal kayak gitu. Atau lu udah kondisi kurang sehat, tiba-tiba di obat ajaib ini ya kan yang katanya bisa nyembuhin ini dan itu. He man, gua personally ada sih ee teman kita lah ada yang literally meninggal, Bro. He kayak sakit gula beli obat apaan lah gitu karena ngelihat konten beli di Tokopedia which is crazy right?
Beli obat di itu yang dokternya bilang oh my god ini tuh kalau ada satu barang yang lu enggak boleh minum tuh ini. Gitu itu diminum karena ada efek sementaranya yang ini. Tapi long term-nya tuh kacau balau banget sampai akhirnya ee meninggal tuh partially lah karena itulah banyak-banyak misinformasi yang berseliwuran di luar sana gitu kan. Iya. Iya.
maksudnya di era AI ini tuh ya benar-benar pisau bermata dua gitu sebelum kita masuk ke eh fase AI itu kan sempat ingat enggak sih mama minta pulsa zaman itu itu juga gua pikir masa sih ada orang yang ketipu apparently my mom h kena juga di dia berpikir itu adalah gua dan untungnya ya kalau misalnya kayak bokup gua gitu bokup gua kadang-kadang sama tuh terpapar sama konten-konten gitu tapi dia smart enough untuk ngecek minta tolong kita cekin gitu. Eh, ini benar enggak sih? I kan papa dengar ini coba kamu bisa baca. Kadang-kadang of course udah tahulah kita salah tapi penasaran juga kan. Jadi kita lihat apa dan sebagainya baru kasih ke dia.
Oh bukan ya bukan. Oh oke oke oke. Tapi itulah kan aduh gua enggak kebayanglah ee kayak seumuran-umuran kita aja gini ya bro. Lu bangun pagi aja kadang-kadang tiba-tiba lu bisa ee tidur aman bangun dengkul lu pegal apa enggak tahu loh. Iya maksudnya apalagi udah seumuran mereka gitu.
The things that you would do to get better to almost anything. Ngerti enggak loh? Lu dengar wow ada obat ajaib ini. Lu kayak wah mesti beli nih. Mesti beli nih.
Iya. Dulu cuma mungkin perputaran informasinya di WhatsApp grup ya. Sekarang ada TikTok, ada Instagram. agak mengerikan sih. Jadi nyokap-bokap gua tuh gua kayak lu jangan percaya semua yang lihat di internet.
He he. Tapi at least mereka masih kayak cross check lah. Ini bohongan atau beneran ya jelas-jelas bohong lah. I apresiasi dan itu juga gua belajari juga setelah gua ng mendalami ini. It was all like orchestrated gitu.
Akhirnya kita nyarikan di belakangnya ini gimana sih gitu. gua nemu beberapa pattern lah. Kita enggak enggak sampai deep dive sampai ke investigasi sampai ke siapa orang dan segala macamnya. Cuman kita bisa nemuah kayak ada pola-pola misalnya kayak orkestrated itu kita bisa simpulin dari mana satu akunnya tuh mirip-mirip ya misalnya gitu kan kadang-kadang ada satu content disinformation gitu dia diposting dalam rentang waktu yang bersamaan dengan akun yang mirip gitu. Nah itu biasanya kelihatan gitu.
Terus misalnya kayak seasonalnya tuh kita lihat nih misalnya kalau ada orang-orang yang nyerang tuh misalnya kalau BUMN yang diserang itu biasanya menjelang RUPS misalnya kayak ada semacam orchestra I gitu-gitulah kayak orkestrasinya tuh kelihatan gitu. Tapi kalau yang brand ni gua ngelihatnya ada juga part of competition di situ misalnya riding the wave misalnya ada satu brand yang lagi dihajar boikot tiba-tiba ada yang orkestrasi black campaign lah ya. Heeh. gitu-gitu kayak riding dia. Dia enggak menciptakan itu, tapi dia berusaha mengamplifikasi itu supaya lebih gede lagi gitu misalnya.
Terus contohnya apa nih brandnya? kita ada kita ngobrol gua, gua kebayang sih ada at least ada satu kita ada pas kita ketemu minggu lalu tuh kita ada ngobrol soal ini. Iya, karena gua ngerasa itu eh akhirnya jadinya di dipakai oleh banyak hal gitu dan gua akhirnya bisa akhirnya menurut gua akhirnya kita harus sering-sering ngedukasi orang mungkin juga sesama gua enggak tahu nih agency, media he sama beberapa brand juga harus kumpul menurut kan aku kemarin jadi pembicara di Marketing Media Alliance kan MMA Global duduk sama sama orang direktur marketingnya dari brand bank dan ee perusahaan rokok dan lain-lain. Terus aku berkesimpulan bahwa karena ini sifatnya alliance kan kita harus kayaknya berkolaborasi nih secara agency. Mungkin bikirin campaign-nya gimana kita ngeeducasi karena kan bayangin kalau lu orang marketing agency gitu ya, lu punya budget miliaran.
Tiba-tiba lu udah keluar budget, udah nyikirin campaign yang sebagus mungkin gitu, tiba-tiba ada satu konten viral dari customer lo dispute terus ngerusak sold campaign gitu atau politisi random datang ke pabrik lu terus gitu-gitu kan ya kita enggak tahu kan tiba-tiba camp iklan yang sudah lu bangun bertahun-tahun gitu branding yang udah lu bangun bertahun-tahun bermiliar-miliar itu kan jadi kayak factor atau ada bukunya tuh black swan-nya gitu tiba-tiba ada satu event yang bikin semuanya berantakan. Nah, salah satunya adalah konten disinformasi menurut gua yang akan bisa ngeruin your whole campaign. Kalau kita enggak do something about it, artinya kita bikin langkah-langkah preventif atau kita edukasi market atau kita bikin ganda yang media untuk kolaborasi untuk clearing the facts. Dan itu jadi harusnya menurut gua itu harus jadi bagian dari planning marketing loh bahwa akan ada konten yang mungkin ngis kita antisipasi dari mitigate the issue sebelum terjadi. Jadinya kalau misalnya tim-tim marketing yang budgetnya besar cobalah hubungin kita.
Jadi kita bisa kawal i kan message-message ini enggak? Tapi ee semakin ke sini semakin kayak gitu. Dan dan sekarang kita di sini ngomongnya brand, kita nyebut brand aja. Misalnya kemarin Aqua ya maksudnya kita nyebut itu kan ee enggak dengan mal intent enggak dengan ill intention. Jadinya kita buka-bukaan aja gitu biar biar orang ngerti juga lah.
Kayak kayak Aqua kemarin kita sempat ngobrol itu, "Man, itu pentingnya di mana pun lu ada operasi itu mungkin it's a good idea ada orang PR-nya lah." Heeh. Ya kan? Jadi kalau kemarin kayak ada sidak or whatever, lu ada orang yang beneran bisa menjawab dengan benar gitu dengan dengan ee bukan hanya benar dalam konteks harafiah, tapi messaging-nya juga secara brand tuh benar. Bukannya bohong ya, that's a different thing, tapi jawabnya beneran yang udah di media training. Jadi jawaban lu tuh concise dan searah dengan apa yang disampaikan sama ya budget-budget yang lain inilah.
Kalau enggak kan itulah yang bisa kacau kan. Iya. Karena dari klip yang cuman e berapa menit lah, pendek lah. Heeh. Iya.
Kunjungan itu lu beah ribet banget deh pokoknya kan diomongin senegara, Men. Iya. Padahal sebenarnya karena sesimpel orang yang diwawancara itu menjawab pertanyaan sesimpel understanding dia gitu. Tapi orang yang di luar dan si politisi kan enggak punya knowledge yang sama dengan orang yang bekerja di pabrik itu. Jadi apa yang diterima sama orang yang tidak bekerja di perusahaan itu adalah harafiah bahwa lu ngambil air tanah.
Sedangkan wah langsung gitu kan. Iya. Padahal bukan itu yang yang terjadi. Jadi ini hal-hal yang sebenarnya tadi bilang kalau dimitigasi dengan tepat ya disinformasi ini enggak akan jadi viral gitu. Se bisa dicegah lah.
Kalau menurut gua juga ada sudut pandang dari sisi bapaknya juga. Artinya ini kan kayak new way of information kan. Sementara dalam prinsip jurnalistik kan kita ada cover both sides dan segala macam. I itu juga yang harus dilihat sebagai sebuah sudut pandang bahwa kalau lu kreator lu enggak artinya lu enggak punya balancing system itu kan artinya gimana caranya ketika akhirnya belakangan beliau harus balik lagi ke situ dan akhirnya membuat klarifikasi dan segala macam ya itu beda dengan metodologi jurnalistik yang di mana kita semuanya harus kita cover di awal kan gitu ini juga buat pelajaran buat konten kreator di luar sana juga bahwa saat lu me menyampaikan informasi sesuatu apalagi itu sebuah hal yang sensitif itu impact-nya. Jadi gini, bayangin gua selalu punya keyakinan antara konten yang viral, antara konten sama klarifikasi itu lebih gedean yang viral daripada klarifikasi.
Betul, betul, betul. Jadi kita mau ng-retrack itu mau gimana damage-nya sudah terjadi gitu. Iya, gitu, gitu. Jadi menurut gua itulah problem besar utama yang sekarang ini. Kenapa akhirnya karena ruang produksinya sudah sangat massal ee tapi secara value-nya enggak sama gitu.
Artinya enggak semua content creator punya value jurnalistik dan knowledge yang sama kan. Tapi sayangnya mereka mempunyai ruang jurnal ruang influence yang besar sama seperti halnya media gitu. Itu yang gua juga jadi koncern gitu-gitu. Makanya aduh ya kadang-kadang kadang-kadang kita ngobrol juga sih bahwa kadang-kadang inifluencers-influencers nih sadar enggak sih bahwa mereka itu punya tanggung jawab. Heeh.
Dengan following yang besar dengan jumlah orang-orang yang look up to them mereka tuh sadar enggak mereka tuh punya tanggung jawab dalam men-share apapun informasi knowledge tips and trik apapun tuh mereka dengan mudah akan diikuti gitu kan. Tapi sayang sekali masih banyak banget influencers yang ya udah dia enggak sadar bahwa efek yang akan timbul dari postingan dia itu sangat besar gitu. Oke. Iya. Itu tuh banget ini nanti ada dua pertanyaan gua kita mundur sedikit yang covering both sides of the story itu tuh kan prinsip jurnalism kita let's be real aja ya.
Eh, gua gua gua juga eh kayaknya fair-fir aja kalau gua mengkritik. Enggak semua media melakukan itu. Iya. Ngerti kan lu? Jadinya tadi lu ngomong eh ya kan kalau influencers definitely enggak ada aturan itulah.
He. Tapi sayang banget kan kalau misalnya teman-teman kita nih eh in this field yang either enggak ngerti atau enggak melakukan terus terus lu bedanya apa sama eh the influencers yang enggak punya background cuman asal-asalan bikin konten gitu kan. Nah eh menurut lu gimana seberapa penting covering both sides of the story lah? Iya, menurut gua di era yang sekarang itu sekarang jadi sangat-sangat penting. Tapi gua mau cerita sedikit agak mundur bahwa itu juga bukan persoalan yang mudah dalam konteks eksekusi di level media.
Jadi, gua konteks ini memang melihatnya media juga punya struggle-nya sendiri-sendiri untuk melakukan itu. Tapi kalau kita tarik agak mundur ke belakang ee ini jadi persoalan serius karena motivasi untuk covering both sides itu menjadi sangat dipengaruhi oleh motivasi dia bikin berita. H dalam konteks ini adalah contohnya misalnya kalau dalam konteks sekarang itu kan media udah enggak punya lagi posisi tawar marketing. H media itu most of the time ini buat sebagian besar media ya itu punyanya PR secara umum secara umum tuh cuman punya posisi tawar PR kayak makanya itu PR itu kan cuman dua antara lu ngomongin soal krisis Hm. persoalan di perusahaan itu.
He. Atau ee hal-hal yang baik atau CSR dan segala macam. He. Nah, itu akhirnya mendorong media cuma melakukan dua hal. Entah lo bikin sesuatu yang jelek terkait company itu atau lu mengangkat malah jilat-jilat gitu kan.
Jadi karena PR leverage-nya yang tersisa karena marketingnya sudah diambilin sama teman-teman kreator, influencer itu kan semua orang lebih baik spending di medsource. Budget-budget marketing sudah di sana. Dulu kan kita masih dapat budget marketing untuk media tuh masih ada. Kita masih punya banner gitu-gitu kan. Sekarang kan media hanya bisa mengandalkan which is PR kuenya dikit y ee rebutannya banyak gitu-gitu.
Nah, akhirnya yang muncul adalah output beritanya. saya gua enggak menenderalisir kan tapi ada media yang mungkin attacking so much gitu tanpa covering both sides-nya karena untuk dapatin attention itu misalnya itu juga butuh e apa namanya butuh ada edukasi supaya enggak melawan itu. Tapi ada juga yang overly muji gitu misalnya yang udah enggak jadi menurut gua sih ujung-ujungnya ke sana gitu. Ee jadi gua mau cerita akar masalah itu bisa jadi dari situ dan dan akhirnya untuk bisa independen lagi artinya untuk bisa tetap stay with the root gitu ya kita menurut gua ya harus kita perbaiki nih si marketing leverage ini. Hm.
Gua gua merasa gua enggak anti ngomongin marketing ya karena gua pikir it's something that we need to discuss gitu. Kenapa media marketing leverage-nya hilang? Karena influence-nya hilang. Influence-nya hilang kenapa? Karena konten kita enggak relevan bagi orang misal gitu.
Terus akhirnya gua reach out ke teman-teman homeless media di daerah info Jateng kayak info Balikpapan, Kelapa Gading, Cileungsi, Keras misal gitu-gitu kan. Itu lu pasti suka follow itu. Nah itu mereka gue jadiin teman malah. Ya udah kita gabung aja. Caranya gua tawarin tiga hal.
Pertama kita pelatihan bareng. Lu kasih tahu gua caranya ngebangun audiens di daerah. Gua kasih tahu lu caranya fact checking, gimana caranya etika jurnalistik, lu harus aman dan segala macam. Karena lu bisa kena ITE, gua masih bisa pakai Undang-Undang Pers. Kalau lu kena IT personal bubar gitu-gitu karena lu personal kan bukan media.
Yang kedua collab post. Jadi kita bikin konten bareng. Kemarin ada info Kuningan liputan soal harimau yang masuk ke rumah warga. Gua kan enggak perlu ke sono. Jadi mereka tinggal collab, request colab ke akun IGku.
Kita udah bisa nampilin kontennya bareng-bareng. J di feed lu dan di feed dia gitu kan. Lebih cepat, lebih efisien gitu. Yang ketiga, bisnis bareng. Kasih red card lu sini.
Jadi gua minta red card mereka, gua jadiin paket jadi jualan di Tirto. Jadi gua bisa punya paket kalau teman-teman mau iklan misalnya pasang di Tirto dan di 10 homeless media pilihan kami dengan paket kita sepakati diskonnya dan terms of payment-nya gimana segala macam. Dan itu works. H gua sekarang punya inventory baru bahwa Tirto cuman punya Rp2 juta followers. Tapi kalau dicombine sama homeless media yang kita ajak ngobrol itu sekarang kita sudah punya Rp50 juta.
Hm. yang tadinya yang tadinya kita cuman views sebulan 100 juta views gitu sama homeless media tuh bisa dapat 2 miliar karena akhirnya aku punya inventory baru. I. Nah, ilmu-ilmu jurnalistik tadi knowledge soal fact checking itu kita jagain tiap hari karena kan interaksinya sama kita daily gitu day to day. Jadi mereka Mas wah ini terlalu vulgar take out nanti lu kena suspend.
Kita sudah punya pengalaman oh ini jangan karena enggak sesuai kode etik terlalu enggak cover both sides. Oh, ya udah, Mas. Oke. Gitu-gitu. Jadi kita tadi dari pakai license, jadi kita jadi kayak induk lah, induk semang dalam konteks ini.
Dan ini sekarang gua gua present ke mana-mana sebagai bentuk survivor mode baru media. Instead of kita pukul, kita rangkul. Terus gua cerita ke AJI, ke Dewan Pers. Mereka melihat ini sebagai sebuah sinyal positif bahwa ternyata media bisa main bareng sama teman-teman yang baru-baru ini kayak Folkative, info dan segala macam. Tujuannya apa?
Ekosistem digitalnya jadi lebih sehat kan. Merekanya punya influence jurnalistiknya kami dapat distribution channel baru ya untuk ke audiens gitu-gitu. Jadi itu serunya sekarang yang aku jalanin. Very interesting. Tapi pertanyaan deh, enggak tahu ya, gua 3 4 tahun lalu tuh sering bangetlah dengar soal media sama influencers.
Mereka enggak suka digabung. Kalau ada acara tuh make sure ya acara dipisah gitu-gitulah. Iya iya. I itu gimana menurut lu sekarang? Itu ada fenomen.
Itu gua dengar cerita yang sama sih. Bahkan ada satu brand itu kemarin cerita, "Gua harus bikin acara dua kali pagi dan sore." Heeh. Harus dipisah. harus dipisah dengan tema yang sama, dengan pemateri yang sama. Bahkan ada satu orang misalnya media duduknya kalau digabung itu kalau duduknya di belakang marah.
Wah, tersinggung tuhinggung itu gua gua enggak mau me apa ya mendiskeditkan teman-teman yang masih punya problem dengan itu ya. Karena itu, karena insting alamiahnya lu akan marah karena mereka literally mengambil konten lalu mengolah itu kan opex-nya di El. Cos yang lu bayar untuk wartawan yang liputan ke lapangan kena gas air mata. Lalu mereka bisa mengambil itu secara langsung dan gratis dan mereka bisa dapat uang lebih banyak dari kita sekarang. yang konten original contonent kreatornya ya orang original konten kreatornya enggak dapat apa-apa gitu.
Makanya nalurinya adalah marah. Ya itu gua enggak membenarkan sih, tapi itu wajar. Karena lu ibaratnya lu yang keluar cost, mereka yang nerima untungnya dalam tanda petik. Ya karena lu tahu enggak tahulah sebagai agensi biaya placement di homeless media yang gede-gede itu misalnya antriannya berapa harga. Gua jualan di Tirto jualan fit aja itu susah banget jualannya.
Mereka katanya udah penuh sampai Desember gitu-gitu. Jadi jadi costnya lebih murah. tapi risetnya lebih banyak. Nah, itu yang level of fairness-nya yang kita persoalkan. Tapi kalau kita mau ngikutin naluri memukulnya mau sampai kapan gitu.
He. Jadi, akhirnya ee kita akhirnya pilih jalan yang agak beda. Dalam konteks kami sekarang, gue juga perlu meyakinkan internal bahwa ini adalah jalan yang ideal buat kita karena kita enggak mampu untuk ee ngedistribusi. Bagi gua juga ada kebutuhan ini regenerasi audience. Karena gua kan pembacanya tua-tua.
Jadi umur-umur pembaca Tirto itu 25 starting jadi kalau mereka 50 40 tahun lagi misalnya udah makin ke sini kita enggak punya regenerasi. Nah regenerasinya lewat homeless-homeless itu. Lewat teman-teman kreator, lewat-lewat influencer. Kalau mereka ada satu case di mana Tasya Farasya ngutip kontennya Tirto lalu nge-screenshot gitu terus diposting sama kan akhirnya followersnya Tasya yang jutaan itu tahu tentang Tirto ya. Mungkin pada umur 25 nanti mereka setiap setiap kali ngelihat, oh dulu yang pernah dimention sama Tasya.
Jadi mungkin bacanya nanti umur begitu udah agak tua dikit. Nah, kita dapat regenerasi. Buat gua sekarang harusnya itu sudah mulai berkurang. Jadi kayak ibaratnya tuh kita sama-sama butuh mungkin sekarang mereka mungkin leverage-nya enggak segede dulu. Sekarang mereka juga sudah mulai kena colek-colek ITE, sudah ada yang ngancam-ngancam.
I. Nah, mungkin kebutuhannya terhadap jurnalis media juga semakin besar, media juga semakin butuh untuk distribution. Jadi menurut gua sih momen-momen ego itu akan selesai dalam waktu dekat ini. Kita akan karena untuk sama-sama bertahan, akhirnya kita nyari jalan bareng-bareng. Jalan tengah lah ya.
menurut gua akan semakin berkurang gitu sih. I si si si konten-konten kreator itu yang tadi step bilang ya, mereka punya power sebesar itu tuh em lagi-lagi ada hubungannya dengan critical thinking-nya gitu kan yang orang yang menerima message-message tersebut. Nah, menurut lo buat buat generasi-generasi yang baru ini ee apa ya yang yang mereka bisa lakukan itu untuk bisa mengasah eh critical thinking, untuk bisa memilah of course pergi ke site seperti Tirto ya. Tapi what else can they do? Yang mereka bisa lakukan tuh untuk bisa ya membant apa ya help themselves untuk melihat gitu mana yang benar atau yang salah.
Iya loh. Ada satu insight menarik yang disampaiin sama wakil menteri sains Profesor Stella ya. Oke. Dia bilang, "Kalau lu mau tahu cara ngebedain mis informasi dan enggak, He. Lu harus belajar cara bikin hoaks.
Oke, belajar dulu bikinnya. Lu harus belajar bikin. Oke. Jadi, cara paling ideal based on research ya." Dia bilang gitu. Gua juga belum nemu di tapi gua baru lihat statement cliper-clipernya aja menarik.
Cara untuk mendeteksi hoaks yang paling efektif adalah dengan membuatnya. Oke, menarik. Jadi, jadi gua malah mikir kalau kita belajar gitu ya atau semakin banyak edukasi tentang cara orang bikin materi dan hoaks itu semakin banyak orang yang akan bisa membedakan mana yang asli dan bukan gitu ya. Jadi kalau menurut gua ayo kita belajar dalam konteks belajarnya itu adalah lu coba untuk kayak misalnya guru gitu ya di kelas itu ada ini deepfake itu ternyata dibuatnya begini ayo kita uji main-main gitu ya. Jadi dia nanti ketika dapat materi itu udah tahu nih ini gua yakin ini hoaks karena gua udah tahu cara bikinnya gimana gitu-gitu.
Jadi kadang-kadang kita suka secara esensi gitu ya, suka ketinggalan antara kreativitas produksi dengan regulasi gitu kan. Kita suka ketinggalan mulu kan baru dibikin regulasinya. Cara mencegah ini udah ke mana, ini udah geser lagi kayak scam gitu kan. Kita baru ngebahas awas ee link APK. Oh dia udah bikin yang baru lagi gitu-gitu.
Jadi jadi kalau menurut gua mindset si pembuat ini yang harus terus-terusan kita diserap. Oke. Yang harus kita terus-terusan kita acknledge dan educate gitu. Konsep pembuat ini misalnya tadi makanya gua tadi cerita competition misalnya gitu ya. Kalau lu misalnya bisa memahami polanya brand berkompetisi, oh mana sih battlefield-nya yang paling sering terganggu?
Misalnya sering teriak-teriakan serang-serangan itu kan otomotif misalnya gitu-gitu misalnya AMDK misalnya gitu-gitu. Terus dari situ kan kita bisa ngelihat pola produksinya gimana, pakai apa bikinnya dan segala macam. kayak politik kita bisa lihat itu pola-pola ee cara mereka memproduksi tujuannya apa. Oh, ngediskriminate misalnya dari mulai dulu nyerang orang pakai isu PKI sampai sekarang lebih soft campaign-nya karena PKI sudah tahu itu udah pasti hoaks lah orang sudah pada terlalu ekstrem. Ya, sekarang serangannya apa ya?
Soal latar belakang pendidikan terus statement-statement yang dipelintir out of context. Makanya belakangan ini kalau kayak Ibu Sri Mulyani misalnya dia deepfake-nya soal ngomongin guru, dia kan tipis-tipis aja tuh cuman ngebelok-belokin dikit. Heeh. Konteks big konteksnya tetap ada dan segala macam. Jadi karena pola itu ya harus kelihatan.
Oh, jadi polanya sekarang getting softer and softer, so gitu-gitu. He. Nah, menurut gua itu yang mesti kita campainin dan itu datangnya dari mana? Yaitu tugas kita sebagai media, kreator itu mestilah maksud maksud gua kalau misalnya selevel orang-orang bisa nge-influence gitu harusnya bisa dia ngejelasin pola-pola kayak gitu atau cerita di balik itu dan segala macam. Jadi ya gua harus harus mulai dari sana sih.
Oke. Nah, ini gua ngomongin eh switch sedikit ya. In general lah. Ee gua ngelihatnya salah satu cara media berkonsolidasi ini dengan bagaimana mereka mendapatkan ee uang. Hm.
Nah, menurut lo ee what's the future? ee apakah akan pelan-pelan bergeser ke arah sana apa gimana? Hm. I think it's a good question. Kalau ngelihat trennya kemarin ada riset dibikin sama Reuters Institute.
Oke. Eh, globally sebenarnya trennya menurun. Subscription. Iya, globally gitu ya. Globally.
Karena ee gua enggak enggak tahu dulu kan idola kita tuh kalau ngomongin subsing itu New York Times gitu kan karena dia udah jelas jutaan lalu diekonomis dan segala macam secara konten sebenarnya kalau kita pikir-pikir subscription itu adalah model bisnis yang paling ideal karena lu kan pertama duitnya dari crowd ya jadi enggak tergantung sama iklan akhirnya enggak perlu ada soal independency issue gitu-gitu ya. Yang kedua, sebenarnya secara leverage data audience yang lu akan dapat kalau dia subscription itu akan lebih kan. Lu bisa dapat e orangnya profil kesukaannya apa, background ekonomi dan segala macam. Itu artinya kedalaman data lebih kuat. Artinya itu menarik.
Cuman kecenderungannya kalau berdasarkan riset itu sekarang trennya menurun. Oke. Jadi banyak yang akhirnya itu sebagai PR kalau menurut gua. V tapi tetap ujung-ujungnya bisnis modelnya tetap keiklan juga gitu-gitu. He.
Di Indonesia menurutku yang cukup berhasil yaitu masih dengan wajah-wajah lama kayak Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia yang memang punya punya apa akar rumput cetak yang memang basisnya dulu kan bayar gitu ya. Jadi audiens-nya tapi lama-lama dia akan kedisrup semakin tua si pengguna ini yang orang yang sudah biasa bayar ini yang sudah biasa bayar beberapa teman-teman media yang baru bikin dengan target lebih muda itu enggak works gitu menurutku ada beberapa kita pernah coba eksperimen juga agak sulit bahkan tapi menurut gua ini bukan berarti belum bisa dilakukan kalau menurut gua ini belum mencapai momen nya ya. Ee momennya kapan? Menurut gua saat udah overloaded with free information dan semuanya salah ya. Lalu ekonomi kita membaik ya.
Orang sudah punya duit lebih untuk beli konten. Kenapa? Kalau orang mau bayar buat Netflix kenapa enggak buat media? Kan mungkin karena level level urgency-nya. H karena Netflix kan karena nawarin exclusivity, entertainment dan segala macam.
entertainment masih ok lah video buktinya naik g subscription-nya dan segala macam. Tapi untuk media karena masih menganggap gua masih bisa nemu gratisan di mana-mana level exclusivity-nya enggak terlalu kuat gitu sehingga orang urgency untuk bayarnya enggak terlalu tinggi gitu-gitu. Jadi ya karena sebagian doang kan ada yang subscribe ada yang subscription base tapi majority malah it's free to access. Heeh. Eh, tapi gua ngelihat di Amerika gitu ya, di at least tempat gua tinggal dulu gitu.
Itu menarik sih. Eh, karena gua tinggal lumayan lama di sana jadinya gua tetap pengin tahu kan berita di sana tuh gimana dan mereka sekarang subscription. He. Jadinya kalau gua ya lu punya free-nya berapa lah 2 sebulan atau 3 sebulan gua lupa lah gitu. Tapi mau enggak mau lu kalau pengin tahu tuh beneran dan eh mereka the biggest media di sana gitu.
Jadi kalau n out of 10 lu pengin tahu tentang sesuatu, mau enggak mau lu mesti melalui mereka gitu. Nah, yang menariknya ee gua pernah lihat laporannya mereka pas dapat subscriber ini kayak yang lu bilang tadi, lu punya data orang-orang ini yang menjadi lebih menarik buat advertiser. Heeh. Ya kan? Eh, iya lu cuman punya 10.000 gitu tapi ya ini 10.000 R000 yang gua cari gitu ya kan dibanding ah gua tebak-tebak aja lah lu punya R juta siapa tahu ada 10.000 di situ.
Belum tentu juga gitu. Nah, itu ee menarik menurut gua dan yang tadi lu juga mention tentang independency, right? H eh di di Indonesia nih eh with the conglomeration and everything ya agak agak tricky juga gimana media bisa memainkan perannya sebagai pilar demokrasi. Heeh. Ya kan?
Jadi independency itu gua gua kadang-kadang gimana ya kayak gua gua routing buat si subscription itu kan gua pengin si subscription ini menang kenapa supaya bisa independen. Iya karena kalau misalnya enggak ada independen menin kacau negara ini ya kan enggak ada lagi yang bisa ngecek apa dan sebagainya. Lucu juga sih. Kemarin gua ngelihat e salah satu teman jurnalis juga ngpost ya, Pak Purbaya ya. I kan yang ah kurang kurang ini nih kurang galak apa-apa media ya Pak gimana mau galak kan ngomongnya gitu ya.
Iya benar. Kalau misalnya ada immediate thread-nya tuh itu dan mereka media-medi yang sudah terlalu besar ya. maksudnya seprinsip-prinsipnya masa lu harus nge-lay off 500 orang cuman-cuman buat prinsip ini itu gua ngertiin juga. But at the same time, makanya gua berharap ee mungkin adalah suatu hari nanti ini ya orang-orang merasa ya untuk lu bisa dapat informasi yang gratisan. Tapi kalau mau yang bagus oh iya lu harus bayar.
Mau Rp10.000, R5.000, Rp2.000 sebulan whatever lah. Tapi yang penting itu yang bisa apa ya mengubah landscape media di Indonesia inilah. Benar, setuju. Gua gua juga sedang mengadvokasi itu. Tapi gua memang karena itu tadi ya kita scale-nya kecil-kecilan dulu.
Jadi sekarang kita lagi coba inisiasi ee donasi sistemnya. kayak ada beberapa media independen kan, beberapa teman-teman akhirnya bikin kayak ee media alternatif, media tapi dia basisnya donasi gitu. Ngajak orang untuk bayar berapapun dan segala macam. Nah, kita juga lagi coba mikirin itu gimana nih milestone-nya. Karena kalau kita langsung shifting 100% gua harus nyesuain secara opex-nya dan segala macam kan.
Kita akhirnya jadi karena udah terlalu gede secara resour terlalu besar kalau mau tiba-tiba shifting gitu. Nah, kita lagi coba testing. Kalau gua gua lagi coba eksperimen, kalau lu aktifin ad blocker, kita akan minta donasi seikhlasnya. Hm. Karena iklan itu kan sekarang masih jadi sumber revenue-nya kami gitu ya.
Tapi kalau ada beberapa user kita kemarin riset hampir 15 sampai 20% itu ngaktifin ad blocker. Oke. Nah, buat orang-orang yang ngaktifin ad blocker kita munculin pop up. H gitu. Karena lu mengaktifkan ad blocker, kami harus survive, silakan donasi dan segala macam.
kita loba juga coba testing pakai pendekatan itu instead of beli konten 5.000 R.000 gitu kesannya transaksional banget gitu ya. He kita mikirnya oke kalau lu mau kita survive suka dengan tulisan ini misalnya gitu-gitu bantu kami tetap survive karena jadi kita lagi coba testing dan resultnya sekarang lagi kita coba analisis dulu aku belum bisa bilang ini works atau enggak tapi kita coba type stepping stone-nya dari situ dulu menimbulkan empati dulu ke teman-teman pembaca ini. Kalau misalnya bisa jadi case study yang menarik kayak Guardian juga kan dia works dengan gitu kan dia akhirnya. Nah, kita juga lagi mikirin untuk bikin kayak merchandising system. Oke, jadi B2C sekarang hajarnya kan kayak Guardian bikin buku, New York Times bikin buku, ada beberapa teman-teman yang kayak Makna bikin kaos.
Nah, kita juga lagi coba niru-niru bikin tumblr, bikin t-shirt gitu-gitu. Jadi, oke dari B2B bisnis model ya, kita lagi coba nyari B2C-nya, akhirnya bikin IP juga. Misalnya kita lagi propose bikin dokumenter movie gitu-gitu yang basisnya IP terus bikin eh signature eh icon misalnya kayak iconnya Pak Tirto kita coba leverage jadi merchandise dan segala macam itu universe-nya yang lagi cuman kalau untuk shifting 100% belum cuman ya itu masih level-level di ya itu setuju tujuannya sama KL loh gua gue juga merasa agak berat ya ngejalanin dan buat gua juga jadi enggak se sebebas dulu gitu-gitu kan kita harus memilih di antara itu mau apa dan akhirnya mau enggak mau ya harus itu kita harus survive minimal duitnya dulu baru habis itu pelan-pelan akan bisa tetap independen gitu. Iya iya itu menurut gua kayak 10 tahun ke depan nih Indonesia nih kalau ini enggak di kalau enggak ada perubahan gitu ya bisa-bisa bahaya menurut gua. He ee dari semuanya lah ya.
Bahkan kayak sekarang kita ini kan by the way kita juga mesti ee shoutout buat teman-teman di Sumatera gitu kan yang kena musibah apa dan sebagainya ee korban-korban gitu kayak mereka mau nulis aja gua gua gua yakin sebagian dari mereka itu mau melaporkan apa adanya tuh jadi takut. Hm. Tunggu dulu entar gua kena kartu kuning nih. Ya kan? Kalau misalnya gua mengkritisi kalau gua mau ini dan itu, nanti gua enggak bisa ini dan itu.
Kayak gimana, Men, lu? Lu mau bisa memperbaiki he kayak keselalahan yang sudah sebesar ini gitu ya, dengan fungsi-fungsi ee jurnalistik yang quote unquote di di pacify lah kayak dibikin lebih pasif gitu. kayak itu tuh ee menjadi perhatian banget dan moga-moga one of these days kita sebagai masyarakat tuh mengerti itu pentingnya kayak eh man kalau lu mau memperbaiki negara ini salah satunya ya lu dengan men-support media karena mereka yang bisa akhirnya jadi watch dog gitu kan lu bisa menjadi pilar keempat untuk memperhatikan tiga pilar lainnya ini dalam bernegara kan tanpa itu Man, gua gua enggak ngerti lagi makin liar gitu kayaknya negara ini, which is crazy lah. Dan akhirnya kita pun beradaptasi sih di situasi kayak gini. Makanya tadi karena basisnya fact checking gua akhirnya selalu ketika even buat kritik pun sekarang kita harus ada dalilnya scientific reason ya.
Dulu kan dulu kan kita bisa pakai pengamat, pakai NGO, pakai apa dulu. Dulu kan itu udah cukup kuat ya. Sekarang aku minta layer baru ke teman-teman bahwa saat kita mau mengkritik sebuah policy itu there is one scientific reason behind. Misalnya ya dulu ya ini kita ngomongin government lah ya. Misalnya mau ada kebijakan membasmi hama tikus dengan burung hantu kan waktu itu kan mau disebarin burung hantu tuh ke sawah-sawah ya kan.
Akhirnya kita ngritiknya dulu kan cuman e udah wah ini enggak masuk akal dan kita sekarang ngertiknya kita bedah semua riset terkait burung hantu terhadap tikus gitu ya ya kita cari tuh paper-papernya terus kita bahas tuh sama ekspert kita jadi kalau mau debat ya debat saifik aja jadi akhirnya itu relatively lebih aman dalam kontekst jadi jangan debat kusir ya jadi instead of kita melihat kita kayak yang wah lu anti gitu-gitu enggak kita ngjelasin Jadi sekarang ada data-datanya, ada scientific reason-nya. Jadi kalaupun mau kita di di apa-apa, jadi kita bilang aja ini ada reason-nya. Kalau mau dibantah, bantah lagi dengan data dan segalnya di Instagram itu yang dia ngecekin kayak kemarin kayu gitu, dia hitung secara matematika masa jenis kayu itu berapa. Terus dia buat ngebantah satu argumen dari pejabat kementerian itu telak banget kan. Iya.
dengan menghitung masa jenis kayu, jumlah kayu yang berada di situ. Enggak mungkin ini bukan ilegal logging gitu-gitu. Jadi, jadi nah gua berusaha untuk membuat kalaupun gua mau kritik, kritiknya adalah telek banget secara argumen udah enggak bisa. Tapi ngomong content creator kayaknya dia baru ya, dia muncul juga tuh di fit tapi ngitungin Monas. Monas, banjir, kecepatan air.
Jadi kalau memang tuh sea wall itu sea wall itu benar enggak sih kata Pak Ahok. Iya. N jadi kalau tuh sea wall jebol kecepatan air dari pinggir laut sampai Ancol tuh cuma less than 30 menit cuy. Iya sampai berapa itu kan 30 apa 50 cent dia bil lupa gua pokoknya base on perhitung-hitungan itu kalau dengan kecepatan whatever air dan lain-lain tekanan dan dikombinasikan beberapa data itu pokoknya dari sea wall ke Monas is less than 30 minutes. Iya.
Seru kan kalau kita bisa mendapatkan semua media bisa mengkritik statement pejabat dengan scientific reason dengan breakdown sampai granular granularity-nya sampai keluar itu menurut gua itu akan disrupsi baru sih kita akan menghindari lagi tuh pengamat apa gitu-gitu sekarang tiba-tiba jadi ekt tiba-tiba jadi ekspert sekarang kita benar-benar wawancara ertus kita hitung bareng ini omongan lu kalau dikalkulasiin secara real numbers gitu Gimana itu? I think that's fact checking. Jadi fact checking itu nanti sekarang kita mau ng-disrup supaya enggak cuman fokus ke hoax checking juga akan masuk kita jadi ebenerin statement pejabat ngelurusin misconception. Misconception itu artinya lu kalau selama ini menganggap vaksin itu buruk, nah kita akan coba bantu luruskan bahwa konsepsinya mungkin vaksin tuh ini dan segala macam. Jadi mungkin that's gna be like a new different game for us in the future gitu gitu ya.
Tapi eh dengan obrolan sama lu hari ini kayaknya memang potensinya sebenarnya banyak banget ya. He. Eh it takes a while untuk masak semua ini to put it all together gitu. Tapi at the same time memang yang lu sebut eh man kayaknya itu hal-hal yang mesti explore gitu. Just just gimana kita bisa eh menjadi lebih baik aja gitu kan as a media.
e bisa kasih konten yang lebih bagus buat masyarakat. Whatever it takes lah. Tunggu dulu. Enggak enggak enggak whatever yang bagus-bagus maksud gua ya. Jangan semua halalkan juga sih.
Lu bikin mis informasi enggak sih strateginya? Udah kita bikin aja semuanya pokoknya asal dapat klik ya kan. Nah itu itu juga ee kacaulah. Nah eh lu kan udah udah berapa lama jadi jurnalis? Yang paling gokil menurut lu ee apa yang lu pernah alamin?
Gua sih melihatnya enggak ada yang ekstrem banget ya. Cuman yang yang ini bisa bagus bisa jelek ya. Iya. Yang yang yang bagus ekstrem itu adalah menurut gua ee gua belajar banyak dari PR itu soal e soal crisis handling kan. Hm.
Tapi cara penanganan crisisnya itu beda-beda setiap orang. Hm. Ya, ada yang kalau kliennya government atau BUMN gitu kan penginnya padahal cuma ditonton sama lima orang kayaknya ribet banget gitu kan baru naik di media yang abal-abal atau apa segala macam gitu atau minta diganti ini itulah itu itulah itu yang gua bilang kliennya tipis kuping semua. Jadi ada ada yang itu sih ya menurut gua yang yang kalau udah request-nya tuh udah unreasonable gitu karena misalnya itu tadi minta gu dan unnecessary karena unreasonable iya tapi kadang-kadang lu enggak perlu juga lu ngapain iya dan enggak akan damage apa-apa juga karena hanya karena jadi atensi gitu kan orang kan ini atensi bapak nih mas gitu jadi ini di WA sama jadi kayak it beats the purpose gitu dia enggak kepikirin relationship yang dia punya dengan medianya kalau lu mesti melakukan lakukan itu kan menar jembatan juga kadang-kadang kan itu dia. Heeh.
Jadi selama ini kan kita menganggap dignity kita wah lu media kan digity gua. Heeh. Jadi gua masih bisa memposisikan diri sebagai media itu dignity-nya lebih tinggi gitu. Lu lu lu punya bargaining power? Punya bargaining power.
Kalau kita akhirnya jadi menggantikan posisinya agensi PR gua jadi enggak punya leverage itu. Jadi Yes. Jadi ya akhirnya ya udahlah memang memang harus tetap ada ekosistemnya dijaga. Hm. Ee kalau menurut gua ya itu tadi sama-sama saling mutual aja relationship.
Iya. Ya, emang kita juga ee dan kadang-kadang tuh enggak gimana ya, mesti kreatif lah dalam konteks saling membantu ini kan. Kadang-kadang kita enggak bisa direct gitu, tapi kita bisa bantu secara indirect dan itu yang kita mesti pikirin sama-sama gitu. How to get this thing eh rolling terus lah ya. Karena kalau misalnya kita enggak sensitif terhadap hal-hal itu juga ya susah juga.
He. Tapi ya samalah dari teman-teman media ada limitations kan ya gua enggak bisa keluar dari situ misalnya dan kita juga ada gitu kan. Nah tinggal ee menurut gua pintar-pintarnya ee anak-anak agency ini untuk melihat momentum gimana pas beririsan lu lakukan ya kan lu mesti cekat gitu. He. Ah, bisa masuk nih Tirto misalnya lu mesti bisa melihat itu dan kadang-kadang ee memang butuh waktu pas lu udah ee bisa helikopter view sedikit baru lu bisa mulai bermain seperti itu.
Sedangkan kalau lu misalnya fokusnya megang dua klien lu enggak bisa ngelihat klien ke 3, 4, 5, dan 17 gitu kan. Nah, pas lu udah bisa ngelihat itu, tunggu dulu, kayaknya lu mesti ke sini deh, gitu. Karena gua baru ngobrol sama lu, lu ada ini, gitu. Nah, itu tuh ee ya skills yang perlu dibangun banget buat teman-teman di agency ya. Setuju hari setuju.
Sama ini juga sih kalau kata gua ee kita harus coba mikirin barang-barang baru. Hm. Selama ini kan ya media terutama gua ini autok kritik buat gua udah sendiri kan jualan kita kan akhirnya konten adventorial event itu lagi itu lagi itu lagi gitu enggak ada elemen kebaruannya. Sementara digital world kan udah udah di ngomongin AI live data, udah ngomongin conversion gitu-gitu. Even PR pun sekarang kadang-kadang dibebanin sama conversion gitu-gitu harus convert, harus jadi ROI dan segala macam.
Jadi, udah enggak menurut gua PR-nya adalah kita ngomongin barang baru apa nih yang kira-kira relevan antara antara kita nih ya, antara sebagai agency, sebagai media, kita create something new yang relevan sama brand, kebutuhannya brand atau even jangan-jangan brand juga enggak tahu mau beli apa dan mau campaign apa, mau butuh apa dan segala macam kita yang provide. At the end of the day, itu tadi gua penginnya sih aliansi diskusinya itu ngomongin antara needs yang kita bikin itu kan nyambung di tengah-tengah gitu yang ujung-ujungnya bisa menyenangkan semua pihak gitu. Kitanya tetap bisa bantu dan segala macam. Nah, conversation itu yang menurut gua agak jarang. Kita selama ini ketemunya cuman ngomongin lu udah punya barang, gua punya barang, terus gimana barang lu fit di barang gua.
I kan itu kan udah kayak tapi kita enggak pernah barang apa nih bareng-bareng gitu. Kalau gua pikir sih momentumnya ada dan gua mau merencanakan itu. Jadi gua berencana mungkin enggak bisa tahun ini gua sama homeless media yang tadi gua bina itu mau bikin semacam media day gitu. Jadi kita mau bikin semacam kayak ngumpulin agency sama brand kita nanti kayak TED Talk gitu presentasi 5 menit antara Tirto Media mainstream dan lain-lainnya sama homeless media. terus kita ngomongin tahun depan kita mau ngapain terus kita ngobrolin gitu itu sama-sama.
Jadi gua pikir harus ada forum conversation itu biar kita bikin planning bareng-bareng ketemu titik tengahnya di mana dan menurut gua itu akan menarik sih nanti kita cobain. Iya seru banget karena kebutuhan kadang-kadang kebutuhan agency, kebutuhan media, kebutuhan brand tuh kan enggak selalu sama. Nah, nah kalau di praksis ini kita selalu punya satu motto ya framework. He. Gimana caranya ada tiga lingkaran dengan tiga kebutuhan yang berbeda nih, cari irisannya.
Hm. Karena begitu kita bisa identify irisan itu ya hidup akan lebih mudah enggak sih buat semua orang karena relevan buat brand, relevan buat kliennya, relevan buat medianya juga. Jadi mungkin itu yang perlu memang harus ada action supaya bisa mengidentifikasi si irisan dari grup yang berbeda ini. Jadi enggak lu ngerjain apa yang lu perlu, gua ngerjain sendiri, brand ngerjain sendiri, ya of the day enggak ketemu kan. Heeh.
He ya. Ini lanjut eh satu mispersepsi paling besar tentang media yang sering dimilikin anak PR, marketing, brand, pemerintah. He. Apa mispersepsi paling besar tentang media yang lu masih sering ngelihat gitu? Kok ini orang enggak ngerti deh kayaknya kita ngapain.
Hm. Pertanyaan soal kenapa rilis gua enggak naik? Eh, take us through the process. Pas orang terima itu prosesnya gimana? dari lu ngirim sampai akhirnya tayang gitu.
At least mungkin di tahu kayak gimana sekarang. Gua sih akan jawab dengan sejujur mungkin ya. Kalau normatif kan sering sudah dapat lah misalnya kita sibuk. Tapi gua akan bilang aja kalau rilis lu enggak ada elemen bisnisnya enggak akan masuk. Oke.
Oke. Itu gua akan jawaban yang sekarang nih itu mungkin bisa diamini oleh beberapa media lain tapi gua enggak bisa mewakili ya. Tapi lu bilang kalau rilis itu enggak punya nilai economic value untuk medianya baik secara bisnis maupun strategik itu akan berat karena mereka harus ngeluarin resource dan harus segala macam itu. It also works for kalau lu ngundang gua liputan dan segala macam. Konsiderasi utamanya adalah pasti bisnis value-nya dulu.
Misalnya lu mewakili brand yang udah jalan lama sama media itu untuk placement gitu ya, terus tiba-tiba lu ngirim rilis pasti akan gua naikin gitu. itu gua enggak mau bohong lah biar kita sama-sama jujur. Tapi yang kedua adalah editorial value-nya pasti kan itu kalau launching produk tanpa Apple tanpa harus placement di Tirto kalau launching handphone baru itu pasti kita liput karena ada editorial value-nya kan ada rilis-nya misalnya gitu-gitu atau brand-brand yang memang punya editorial value secara traffic gitu. currency-nya kan cuman dua aja itu eh secara numbers traffic atau secara punya potensial bisnis eh value-nya karena itu yang akhirnya mensortir semua semua rilis. Jadi bayangin kalau lu dalam posisi gua dengan resources yang semakin sedikit karena tadi kan banyak yang lay, tiap hari lu dijejali oleh sekitar sat mungkin ini average kalau gua di Detik dulu bisa sampai 1000 rilis kali ya sama itu buset dari kementerian kombinasi antara kementerian brand brand government gitu-gitu kan pemda sama saraf-saraf kecil gitu perusahaan-perusahaan gitu yang pengin dicknowledge gitu kan lu gimana nge-filternya kalau itu enggak punya value-value tadi gitu-gitu.
Dan itu biasanya hanya dikerjakan oleh 1 2 3 editor sisanya mereka harus ngedit dari lapangan itu juga mungkin dengan jumlah yang relatif sama gitu-gitu. Jadi di tengah load yang begitu banyak ee dan segala macamnya ee ada akhirnya media yang ngasih alternatif. Misalnya kayak di tempat gua lama di Kumparan tuh lu kalau brand tertentu bisa ngupload rilly sendiri. Oh. Tapi kan level ketertemuannya itu kan tergantung.
Jadi mungkin enggak terbaca atau enggak, tapi lu secara naik naik link. Kalau KPI cuma naruh link itu naiklah, tapi lu naik sendiri. Itu ada yang menjadikan rilis itu sebagai UGC artinya user generated content enggak enggak dinaikin sama medianya gitu. Jadi kayak barang kayak lu ke sosmate aja upload sendiri gitu. Itu juga akhirnya buat mengakomodir kebutuhan tadi.
Eh, tapi sori gua gua motong dikit. Tapi kalau kalau Kumparan itu satu site di kumparan.com. Iya. dia dibedainnya nanti di profile accountnya. Oke.
Tapi tapi tetap di Kumparan.com ya. Di Kumparan.com. Kalau Kompas itu Kompasiana kan. Heeh. Tapi dia dia enggak muncul langsung secara tapi setilnya waktu gua di sana ya gua enggak tahu sekarang gimana tapi enggak muncul di timeline-nya secara direct.
Iya. Lu kayak mesti nyari tapi linknya ada gitu-gitu. Tapi itu karena ada dimoderasi nanti akan tetap ada proses segala macam. Oke sor lanjut. Iya.
Tapi poin gua adalah eh itu enggak enggak kalau dari point of view-nya sebagai pembuat konten itu akan sangat selektif gitu ya. Selektifnya tadi currency-nya either lo punya eh punya bisnis value-nya atau eh traffic value-nya. Tapi secara material juga kadang-kadang ini yang harus kita ee diskusiin bareng-bareng gitu. Jadi teman-teman itu kadang-kadang sekarang ngelihatnya value-nya artikel teks itu sudah menurun. H.
Jadi sekarang tuh banyak yang lebih senang, "Udah lu kirimin aja video ready to post gitu." Kayak jadi soal format juga ini jadi krusial kan. Karena kayak gini, bayangin lu sebagai agency lu ngirim ke 20 media dengan format teks yang sama. Itu secara tingkat keterbacaan di mata Google itu akan dicap sebagai ee duplication. Duplication. Karena kan satu konten dengan format yang sama, dengan isi yang sama, dengan foto yang sama muncul di 20 30 media.
Itu secara traffic wise itu di SEO-nya itu ada elemen duplication yang akan membuat dia mungkin enggak terlalu perform gitu-gitu, enggak terlalu valuable di mata. He. Jadi, akhirnya di mata produsen konten itu enggak terlalu punya value. Hm. Sementara buat teman-teman agency karena KPI-nya hanya dalam tanda petik link naik yang penting naik.
Jadi enggak enggak enggak sama kepentingannya. Nah, artinya kalau teman-teman mau naik samain dulu kepentingannya. Oke, kalaupun mau ngirim teks, cobalah bikin unik misalnya gitu ya. Ketahu gua enggak tahu apakah pakai AI itu boleh atau enggak, tapi setidaknya bikin unik lah. Misalnya media ini karakternya tag, ya udah angle-nya lu sesuaikan tag.
Kalau media ini politik, jadi lu bikin kayak personalized release gitu. Effort agak sedikit effort, tapi value-nya buat si media itu satu, ini unik, enggak ngeganggu SEO-nya. Yang kedua, relevan sama target audience-nya mereka. Kalau IDN misalnya Gen Z ya udah lu adjust rilisnya. Jadi kayak enggak bikin rilis tuh one size fits all gitu for the sake of dari point of view-nya klien aja gitu-gitu.
Tapi juga ada mikirin elemen si medianya what's in it for them-nya dari sisi traffic atau kayak why should it matter for the audience gitu kan ya. I ya itu sih iya. Eh very interesting. Eh terakhir. Heeh.
Heeh. What's next nih buat Tirto? eh apa yang our viewers, listeners bisa expect di udah mau tahun baru nih kan ya see in the near the future nih apa aja nih yang baru atau mungkin udah diluncurin baru-baru ini sama Tirto ya. Jadi gua masih akan tetap maju dengan roots-nya fact checking. Fact checking itu akan menjadi basis fundamental kerja kami gitu ya.
Tapi kan sekarang kita fact checking-nya tuh buat news, buat information yang sifatnya general gitu ya. Sama misconception dari politisi, fact checking statement dan itu masih akan terus berjalan. Di tahun kedua kemarin kita itu tadi kolaborasi sama homeless media, sama creator buat expanding this whole fact checking knowledge ke teman-teman creator dan homeless media supaya bisa ekosistemnya terbentuk. Nah, once kebentuk tahun depan kita akan naikin lagi satu pengembangan dari fact checking menjadi fact shopping. Shopping.
Jadi baseline-nya tetap fact checking tapi buat shopping. Dalam konteks ini dari point of view-nya user pembaca kita akan bikin konten-konten edukasi soal product knowledge. Wow. Dan ngomongin soal edukasinya misalnya nih ingredien apa itu sugar. Heeh.
Apa itu ini? Apa itu bedanya water resistant sama waterproof? Oke. Jadi apa itu Ginkgo biloba? Apa itu fluoride di pasta gigi?
Itu educational part-nya. Food grade misalnya kalau ada ngasih makanan ada labelnya gini artinya apa bedanya apa secara industri halal ekosistem dan segala macam itu all about educating user gitu. Dari sisi brand, kita mau ngasih advocating brand-brand yang punya scientific dan produknya yang bagus, kita akan advocating di sini. Jadi, kita akan bikin rekomendasi produk. H.
Jadi, kayak review kayak New York Times tuh punya Wirecutter ya, ya. Itu gitu kayak segala macam. Jadi, editorially kita akan ngasih beberapa rekomendasi produk yang cocok. Misalnya sepeda untuk kamu yang punya back pain. Ini beberapa produk rekomendasinya.
dari use case-nya ada, akan masuk ngasih rekomendasi ini beberapa brandnya, bisnis modelnya akan nanti jadi afiliasi. Jadi kita dapat komisi secara affiliate atau bisa direct sama brand untuk direct sell dan segala macam. Itu lagi kita godok buat tahun depan. Jadi ee dari fact checking menjadi fact shopping. Harapannya masyarakat kita akan lebih teredukasi untuk beli barang sesuai fakta.
bukan overclaim deepfake dari atau trend gitu based on your needs, personalized needs dan segala macam gitu. Harapannya juga kita bisa mengedukasi kalangan brand untuk bisa mengadvocating produk mereka atau jangan overclaim lah lu jangan ngaku ini dan jangan ngaku ini dan segala macam. Jadi supaya ekosistem shopping-nya lebih sehat gitu ya. campaign-nya nanti mungkin namanya mungkin jeli sebelum beli atau belanja di situs media. Jadi kita lagi coba coba ngembangin value-nya.
Value jurnalistik, fact checking, tapi untuk consumer behavior gitu. Itu luar biasa itu idenya. Luar biasa. Luar biasa ya. Visioner banget nih Madin nih.
Visioner banget. Anyway eh Madin thank you banget. Sama-sama eh udah mampir. Eh tadi ide-idenya sounds wonderful dan makes sense ya. He tinggal ee moga-moga lu bisa execute dengan baik dan lancar teruslah buat teman-teman di Tirto ya.
Anyway guys, eh kita sekali lagi tepuk tangan buat Maddin Ismail. Luar biasa. Thank you, thank you, thank you, thank you ya. Sama-sama. Luar biasa.
Yeah.