Will AI replace the marketer? In Proxemics 025, veteran marketer Edward Kilian Suwignyo — Group Head, Emerging Business at Blibli — gives a sharp answer: AI won’t replace the marketer who thinks, but anyone whose job is pure manual, repetitive execution should start worrying. Co-hosted with Jonathan Tenggara.
Edward makes the case for the well-rounded, full-stack marketer as the industry splits between long-term brand building and short-term, performance-driven digital. Used well, AI makes complex work more scalable and time-efficient — but he warns hard against outsourcing your strategic brain to ChatGPT. He also debates whether it is tougher to build depth as a specialist or width as a generalist.
On building teams, his hiring rule is uncompromising: mindset is the absolute priority. Skills, experience and leadership can be taught over time; the wrong mindset cannot be fixed. He unpacks why some talent looks ‘good on paper’ yet never moves the business, and why tunnel-vision thinking quietly kills modern teams.
Then the Blibli case study: a single unified member system that lets customers from tiket.com, Ranch Market and Blibli earn and use rewards seamlessly across online and offline — plus the operational grind behind a ‘2 Hours Delivery’ promise and the consistent business culture he traces to the Djarum group. He predicts marketing’s future belongs to integrated ecosystems, not siloed channels.
Part career map, part omnichannel blueprint — essential for any marketer wondering what to become next and how to future-proof a team when the tools keep changing. Press play.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
How do you define what marketing is di 2026 ini? Ini juga ada dua rute yang kelihatan beda banget. Kalau yang satu kita sebut brand marketeers, mungkin yang era barulah digital marketeers. Tips and trik menghadapi different leadership yang punya specific mindset pada akhirnya ya Chef, your personal growth is your responsibility. Will AI eventually replace marketer?
Kekuatan dari seorang marketers adalah the thinking. Nah, AI ya bukan replacing marketers tapi helping marketers. Eh, we have two hours delivery. Marah ke CS kita. Gila ini beli-b ya.
Tiba-tiba ada yang komplain marah saya beli barang dikirim jam .00 pagi. So we check the order. He actually select our delivery and he make the purchase at 11 o. Hey everybody, welcome to another episode of Proxemix. Hari ini a very special day.
Kita kedatangan tamu nih yang eh I'm pretty sure we're going to learn a lot from ya kan. jadinya kita eh appreciate banget kehadiran beliau di acara kita di episode kali ini. Anyway, let me let me give a quick intro ya. This this guy is sea level veteran. Jadi CMO tuh udah udah di mana-mana kan sebelumnya nih ya.
Eh BB link aja elevania OLX everywhere lah. Terus you know kayak sekarang mungkin anak-anak yang Genzy-Genzy ini belum tahu tapi back in the day cow war itu real man. Yap. Dan udah beyond season the spross the toughest industries lah. Tobacos, FMCG, telco tadi e-commerce udah pernah semuanya lah.
I think he's the modern definition of practitioner. L kita ngomongin marketing ya. Eh, he isn't just a strategist, he is currently the group head of emerging business ya dibl.com. Jadi kita please help me welcome to the program Bapak Edward Kilan Suguino. Iya betul.
Luar biasa. Tapi dipanggilnya biasanya Kiki ya. Jadi kita ngobrolnya jangan jangan bingung nanti ak panggilan akrabnya kita biar lebih santai, lebih nge-flow. Kita panggil Kiki. Gimana kabarnya Pak?
Thank you banget nih sudah datang di studio kita. Baikbaik banget. Baik. Aman aman ya. Aman.
Heeh. By the way, langsung aja deh ya. You've been everywhere the longest time, the career and everything ya. Dan dan a lot of it hubungannya dengan marketing gitu. He.
Nah, marketing has changed lah, right? Nah, what how do you define what marketing is di 2026 ini, right? Apa sih in your own words lah yang yang mungkin orang-orang mesti tahu nih. Kalau in my own words berarti mulainya menurut keyakinan saya gitu ya. ni harus iya lagi itu tuh biasanya menurut keyakinan ya jadi menurut keyakinan saya gini I'm I'm considering myself very fortunate sebetulnya bahwa I started my career like 20 years ago dan ini mulai di sebuah perusahaan yang mungkin cukup eh leading dan juga approach-nya itu berbeda dengan mungkin yang terjadi sekarang ya.
I started my career di FMCG di Tobo di mana marketing pada era itu adalah tentang brand driven marketing about how you build a strong brand equity eh strength yang nanti become very sustainable eh ketika kita berada di dalam industri gitu. I dan kemudian bahwa dia ada kesempatan masuk ke dunia digital very early juga di 2010. Remember pada 2010 itu bahkan digital agency itu enggak ada gitu. Google enggak punya office, meta apalagi gitu ya. Bahkan Friendster masih ada zaman dulu gitu.
Mypace frsterul. I I veryunate bahwa sempat merasakan banyak dinamics yang sangat beda di area marketing gitu. Nah, jadi yang saya lihat juga itu ya ee bahwa ini juga ada dua rute yang kelihatan beda banget gitu. Nah, kalau yang satu kita sebut di brand marketeers mungkin yang era barulah digital marketeers. Oke, brand marketeers si longterm digital marketeers dengan segala macam perubahan teknologi dan capability teknologi bisa melihat tentang articulate how to measure direct impact busis dan segala macam ya.
Nah, ini yang kelihatan bahwa rutenya ini muncul nih ada dua gitu karena ya lahirnya bisa jadi beda. Nah, oke. Ee bahwa dunia digital ini kan muncul sudah 2010 artinya now is already 16 years gitu ya. Nah, yang menarik adalah sekarang itu eranya memang ada dua rute, tapi mulai dicari tentang yang memang mungkin sekali lagi ini menurut keyakinan saya well rounded marketing gitu ya. Karena sebetulnya in principle kan untuk brand driven marketing we focus on the long term tapi mungkin lacking in term of what would be the direct impact digital marketers very good at articulating direct impact dan segala macam tapi in the short term long term-nya mau seperti apa nah I don't think any company would like to just survive in the short term there company that would like to wait so long before they get impact they want to get it like what will be the interim or at direct impact and what will be the sustainability advantage that will coming along the way gitu kan.
Nah, karena itu sekarang eh I believe the era will be the rounded marketers yang mereka tidak hanya menguasai tentang how to build brand equity tapi they also know how to measure it, how to adapt in the technology world gitu. Bukan cuma mereka yang mungkin tahu tentang impact long term tapi juga short term. Bukan cuma yang canggih untuk berorkestrasi, tapi juga bisa eksekusi. Bukan yang pintar planning, tapi juga bisa sampai ke bagaimana cara kita problem solving. So, I think that will be the next era of 2026 untuk the marketer as an offroad.
That's marketing in a nutshell ya. He full stack bahasa full stack. Full stack ya. Kalau misalnya kita nyontek dari teman-teman eh startup dan lain-lain full stack marketers. Oke, untuk talent juga lah.
Talent-talent ini kan something yang ee menarik juga ya. Jadinya ee karena perubahan itu juga dirasakan hampir di seluruh industri ya with technology, AI, especially sekarang when you hire a person gitu kan ya. Heeh. Ada enggak sih dua tiga hal tuh yang eh ini mutlak sih, you know, kayak gini nih. Eh, I want people on my team to have this two or three trades misalnya.
Oke. Kalau dari eh saya ya ketika kita bicara tentang hiring ini kan kita bicara tentang orang dulu ya. Nah, ada satu hal yang sebetulnya mandatory kalau ee saya ngelihatin orang yang paling penting adalah mindsetnya dulu sebetulnya. Karena gini, ee expertise atau experience itu bisa diajarin sebetulnya, tapi mindset itu enggak bisa dibenerin, gitu. Jadi, kalau mindsetnya salah itu udah udah hopeless, sudah enggak bisa diapa-apain.
Tapi kalau mindsetnya benar, kemampuannya kurang, bisa diajarin itu enggak ada masalah. It just depends tentang berapa lama, ya gitu. Nah, itu sebetulnya yang paling penting ee kalau saya hiring orang. Oke. Karena gini, gimanun juga e di dunia ini kan tadi saya mention tentang wellrounded marketeers ya, itu susah carinya, susahnya setengah mati, susah banget.
Nah, nanti kita bicara tentang kesempatannya pun enggak ada gitu. For example ya, tadi I mention about eh me starting as brand marketers ya. There was time di 2010 pilihannya ketika perusahaan teknologi buka kesempatan untuk marketing enggak ada pilihan kan? Enggak ada yang punya pengalaman digital marketing wong memang industriya masih baru awal. Betul dari awal.
So, I chance karena I just being very early aja gitu sebetulnya. Tapi kalau sekarang boleh dibilang kan if it's a company yang fokusnya adalah saya cari untuk semua yang bisa e articulate tentang marketing program and direct impact to the company. Of course you looking for digital marketers gitu yang bisa paham tentang how technology help to translate into that numbers. Nah, apakah mereka akan mencoba-coba untuk brand marketers untuk posisi baru? Mungkin enggak kan gitu.
Tapi apakah brand marketers artinya tidak punya mindset bahwa dia akan bisa menguasai? Enggak juga gitu. Tapi kalau boleh dibilang pasti kan yang dicari adalah yang punya pengalaman dulu deh gitu. Karena company won to take any risk kan sebetulnya vice versa gitu. lah memang unfortunately ya ini mungkin bahas saya meang unfortunate memang yang sekarang mungkin lebih favorit yang digital marketers karena kan situasinya sekarang eh companies terus kemudian dari sisi market dari sisi consumer eh purchasing power ini kan lagi dalam tahap yang mungkin very very challenging.
Jadi eh di dalam era di mana eh direct impact atau short term impact ini jadi lebih priority dibandingkan yang long term. pastinya digital marketer ini punya bahasa yang sama nih dengan bisnis bahwa dia bicara tentang impact numbers dan segala macam. Lebih gampang sebetulnya ee untuk nyambung ya dengan bisnis leader dan segala macam. Brand marketers bicara tentang sesuatu yang lebih abstrak jangka panjang pasti akan ee lebih sulit sebenarnya karena bahasanya agak beda gitu. Tapi selalu tadi bukan berarti bahwa brand marketers tidak bisa mengerjakan apa yang bisa dikerjakan dengan baik oleh digital marketers.
It's just a matter of giving a chance itu. Tapi ya eh to get a chance the right mindset. Eh jadi nomor satu kan ya itu tuh you need to have the right mindset. Eh yang lain-lainnya itu kita bisa tambahkan, right? Mungkin enggak seekstrem lu enggak tahu apa-apa ya susah juga kali ya.
Tapi kalau lu you know kita cari delan lu ada di en we can help lah ya kan. Betul. E you know eh berapa tahun misalnya setahun less than a year misalnya dari en nih bisa ke del tapi eh harus ada starting point-nya lah. Heeh. Tapi kalau misalnya mindset ini ya Pak ya yang susah banget untuk diubah.
Tapi related to that questions, Pak. Sebenarnya selama pengalaman Bapak sebagai marketer eh udah berapa? 20 tahun ya hampir lebih ya. Iya. He.
Apa sih sebenarnya skills yang it looks good on paper tapi when actually it doesn't move the business? Looks good on paper tapi doesn't move the business. Ya, jadi gini sih sebetulnya ee ini kan masalah ekspektasi ya. Kalau ee ada gap pasti ada ekspektasi dan ada reality begitu ya. Nah, biasanya ketika kita lihat on paper tentang dia oh punya resume bagus, menguasai AB CD dan segala macam, it always come down into bahwa how deep do you know gitu atau how white do you know?
ya. He. Karena seringki ada ee marketers yang jago untuk menangkap jargon dan segala macam, tahu framework-nya dan itu kelihatan good on paper gitu sebetulnya. Tapi in reality bisa jadi beda banget gitu. Karena biasanya marketer seperti itu is good on planning, good on orchestrating, tapi eh ketika masuk ke dalam eksekusi, problem solving, they will find a lot of a challenge sebetulnya di area itu.
Nah, on the opposite ada juga marketeers yang mungkin very good on paper karena dia punya very deep knowledge gitu ya tentang apa yang dia lakukan tapi dia failed untuk bisa mengenalin the rest of the system itu bekerjanya seperti apa gitu. Nah, ini sebetulnya kadang ee on paper sama on reality ini gap ya, ada gap selalu gitu. Nah, yang lebih bahaya lagi adalah tentang bagaimana marketers itu menentukan ekspektasi untuk dirinya sendiri sebetulnya gitu. He. Kalau kita bilang bahwa expert itu kan eh when you actually hired misalnya as a VP atau as VP in a company gitu ya, you also need to remember about this company kan squatting people ya.
Mungkin mereka inputnya juga biasa-biasa aja. So you probably best of whatever they can find atau best available out there gitu. Betul. Tapi you necessily best of the best juga gitu. Dan ketika dia masuk they feel bahwa oh I probably the the best candidate ever nih jadi VP di perusahaan ini sudah masuk ya.
You may not sih. Bisa jadi ada banyak orang lain yang just enggak ketemu aja sama perusahaannya gitu. Nah ini sebetulnya men saya lebih bahaya gitu karena then you started to realize bahwa oh I'm really good gitu ya. dan ee kejatuhan seseorang itu kan biasanya ketika mereka mulai merasa mereka hebat, di situlah mereka mulai jatuh biasanya. Karena kalau sudah seperti itu biasanya mereka sudah merasa bahwa I don't need to learn gitu.
Sementara di dunia ini kan semuanya berubah ya. Anything that I know like 10 years ago eh ketika pertama kali masuk principly masih sama tapi teknologinya berkembang jauh banget gitu. Apa yang bagus di 5 tahun yang lalu belum tentu relevan even sekarang gitu. Nah, ini yang ee hal-hal yang selalu perlu diwaspadai ya ketika kita lihat expert, ketika kita ee mengexercise seseorang gitu dan juga bagaimana marketing juga mengees dirinya sendiri nih. Grow mindset itu penting ya, Pak ya.
Betul banget karena ya tadi eh even brand marketers like 20 years ago mungkin mereka yang rules the world gitu. He. Tapi sekarang dengan digital marketer yang ngomong bahasa eh company dengan lebih fasih nih tentang ROAS, tentang cost of acquisition segala macam, the brand market not talking about the same language. Di sini kan jadi lebih susah sebetulnya untuk seorang brand marketist bicara dan mungkin getting some strong confidence ya ketika ngomong dengan business leader. So things are always changing gitu.
what you expert today may not necessarily expert eh being appreciated in the probably even upcoming years gitu ya. Heeh. Ngomong-ngomong soal itu, Pak. Jadi sebenarnya menurut menurut keyakinan Bapak sebenarnya being a specialist itu penting. Jadi apakah kedalaman eh depth atau kelebaran?
Kayak tahu semua tapi permukaan. Gimana menurut apa? Dan keyakinan saya it depends it depends dari masing-masing orang sebetulnya. ee mau jadi apa dan mau ke mana gitu. Dan ekspektasi orang terhadap kemauan dirinya masing-masing kan juga beda-beda.
Enggak ada yang salah sebetulnya untuk lebar maupun untuk dalam. Tapi kalau kita bicara tentang leadership ya. Eah ketika kita naik di dalam leadership yang makin lama makin tinggi sudah pasti bahwa dalam itu tidak akan mengakomodasi kita untuk naik ke ee level leadership yang lebih tinggi. Lebar itu pasti akan diperlukan karena semakin lama yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengorkestrasi. bagaimana semua komponen ini bisa works together to achieve untuk building a central idea yang kita mau bangun yang itu within the alignment with the company ambitions.
Nah, melihat sambungan-sambungan ini sebetulnya kalau kita bisa melihat lebar ini lebih kelihatan sebetulnya. Nah, tapi enggak ada salah juga untuk menjadi spesialis sebetulnya gitu. Nah, eh tinggal tadi ekspektasinya. Nah, eh there was a funny joke juga. It's not a joke ya, tapi I see it as a joke ya.
Oke. Eh, there was once my team tuh datang ke saya, dia bilang bahwa, "Pak, dulu ya, Pak ya, ketika saya mulai kerja, saya tuh berambisi pengin jadi siamo." Oke. Tapi setelah saya masuk kerja, lihat Bapak kerja kayak begini, saya udah enggak pengin Pak jadi Camo. Saya tanya, "Kenapa enggak mau jadi CMO? What's wrong with CMO?" Dia bilang, "Lihat Bapak kerja aja." Saya sudah pusing, Pak.
Oke. Sekarang ngomongin kreatif, ngomongin art dan segala macam. Terus in the next hour, you have a meeting talking about performance. You look at numbers. Terus kemudian you have a meeting with the Martech team.
Ngomongin tentang integrasi, tentang produk. Then you have a meeting alignment with the category team, the sales team, tentang what product to push, what campaign. Dia bilang lihatin jadwal meeting Bapak aja, saya udah pusing. Jadi saya gak mau, Pak. And nothing wrong sebetulnya it's your expectations gitu kan.
Nah, itu yang eh sebetulnya enggak ada benar, enggak ada salah. Tinggal where do you want to eh head yourself. H tapi kalauader bahwa need bukan. Tapi apakah artinya sebagai leader itu gak perlu tahu dalamnya? You still need to know.
Kenapa perlu tetap tahu tentang technicalities? Karena pada akhirnya it's about leadership kan. When they are on your team, they look for you to find solutions. Kalau you don't know what's happening, you cannot give solutions, gitu. Nah, kalau itu yang terjadi, the whole system will fail karena mereka mengandalkan siapa yang bisa bantu ya untuk eh mengatasi sebuah masalah, cari solusi.
And the first time kan look out to your boss. Kalau bos saya bilang, "Aduh apa nih ya? Saya enggak tahu ya." gitu. Saya enggak kenal orang, saya enggak ngerti gimana cara dijalaninnya, the rest of the team seperti apa yang kira-kira bisa bantu. Then the whole system will fail, gitu.
Jadi tetap perlu eh and typically ya when you come into leather, you start somewhere kan. Tapi you need to learn about technicalities and certain depth ya di masing-masing area so that you can become a good leader that you can help your team to facilitate your team to solve their problem and at the end of the day also help you to understand the entire spectrum juga. According to your experience, mana yang lebih susah the depth or the width untuk dipelajari? Kalau dari pengalaman saya yang lebih susah adalah lebarnya sebetulnya. Oke.
Karena gini, ee karakternya tuh kan beda sekali ya. E tadi kita sempat singgung sedikit tentang karakter ya, the brand marketers. Ketika kita kan bicara teralu dua komponen ya, konten dan juga media gitu ya. Kalau kita bicara tentang ee orang konten gitu, mereka yang storyteller semacam ini, rata-rata mereka orang-orang yang paham tentang consumer behavior, psychologi orang, emosional orang. Ini orang-orang yang punya expert yang sangat unik dan e sebetulnya penting sekali gitu.
Ngomong-ngomong soal integrasi teknologi, Pak. Heeh. AI nih everything is about AI, right? I anak intern. Oh, bukan anak intern ya.
Benar lagi. A banyak dong di bawah banyak kita banyak. Jadi em Bapak nih ngelihatnya menurut keyakinan Bapak lagi ya AI in marketing. Will AI eventually replace marketers? Is there?
Kalau saya strongly bukan replacing marketers tapi helping marketers. Hm. Ee sekali lagi sebetulnya apa yang ee kekuatan dari seorang marketers adalah the thinking sebetulnya. Y. Nah, AI yang dilakukan oleh AI adalah memastikan atau membuat berbagai macam proses yang kompleks itu jadi mudah, time eff dan juga paling penting scalable gitu.
Nah, ini yang bisa lakukan AI. Nah, ini saya ambil example aja ya. Pada waktu itu eh there was a case di Blibli di mana kita kan punya banyak e brand, kita punya banyak seller. So, we want to make ads dengan brand ambassador. Tapi we want to make ads ini customized untuk masing-masing seller, masing-masing brand.
So, 4000 nih. Sebetulnya kalau pakai cara lama, cara market lama kita kan shoot ya. Satu-satu kita shoot diomongin satu-satu. It will take ages kan sebetulnya untuk kita bisa nyelesaikan ribuan ads. So what happen adalah kita using AI capability untuk bisa merekam satu talent dan kita bisa menggerakkan mulutnya dan kita bisa mengarticulate suaranya.
Wow dalam bentuk nanti kita bilang kita input. Oh ini nama brandnya ini. Oh nama sellernya ini gitu ya. Dan it's the final result is produced almost like instantly gitu. Iya.
Ini kan never happen before gitu tapi ini kan capability AI gitu. Nah, apakah artinya AAK menggantikan orang? Enggak. Idenya kan bukan dari AI gitu. Even kalau AI misalnya ditanya, "Kalau kamu jadi presiden, apa yang kamu lakukan?" Dan jawabannya bagus sekali, itu kan juga ngambil dari input pemikiran orang kan.
Yes. Jadi awalnya semua kan dari orang gitu, bukan awalnya dari dia enggak punya inteligennya, dia bikin sendiri gitu. Harus ada yang ngajarin. Yang ngajarin siapa? Ya pemikiran orang.
Hebatnya dia adalah dia bisa mengkonsolidasi berbagai macam pemikiran dan dia punya processing yang jauh lebih cepat yang bisa handle tadi kompleksitas dalam waktu yang singkat dan juga dalam skill yang luar biasa besar. Even kalau kita sekarang bicara AI contohnya ya untuk bikin visual atau video sekarang kan gampang pakai a jadi itu satu video. Tapi pertanyaannya promnya apa gitu? Itu kan orang. Terus kemudian kalau kita mau pakai tools EA-nya sekarang kan banyak yang available mau pakai apa untuk pekerjaan yang mana itu kan juga manusia yang mutusin gitu ya apakah ini sesuai atau enggak.
AI bisa nangkap signal, AI bisa nangkap tentang action tapi AI enggak bisa baca persepsi, AI enggak bisa baca emosi gitu. AI enggak bisa bentuk tentang kita mau bawa ee cerita kita ini ke mana gitu. It's still a human sebetulnya. Heeh. Nah, apakah nanti akan menggantikan orang mungkin gitu, tapi bukan menggantikan orang yang bisa berpikir.
Menggantikan orang yang mungkin pekerjaan selama ini hanya fokus ke hal-hal yang sifatnya manual, repetitif, dan mereka lebih lambat dibandingkan bagaimana cara bekerja gitu. Jadi yang harus dikhawatirkan adalah mereka-mereka yang mungkin pekerjaannya nih eksekusi detail satu persatu doers. Betul. Tapi mereka tidak tahu gimana caranya membuat ini jadi lebih produktif gitu. Karena productivity will be the next game sebetulnya tentang bagaimana cara kita bisa lebih efektif dan juga lebih efisien gitu.
Walaupun juga buat saya selalu saya ingatkan ya A itu selalu punya eh challenge yang selalu saya sampaikan. People ask me like what do you afraid of AI? My only eh fright of AI adalah banyak hal yang mulai tidak bisa dijelaskan gitu karena AI enggak bisa ngasih tahu kita. Nah, sebagai contohnya adalah kemampuan AI dulu kan kalau kita di performance digital marketing ya, optimalisasi iklan gitu dulu kan kan oh i ini teksnya diganti, bidingnya dirubah harganya begini sekali. Somebody operated when something happen somebody can explain gitu.
Sekarang yang terjadi dia adalah you input the budget goalnya A that's it. Nanti performance jadi bagus atau jelek. Will the AI explain to you? No, they don't. Gitu.
Karena itu perlu orang yang bisa mengartikulate dia mikirnya apa ya si AI ini. The last thing we want adalah we deploy another AI to explain what the other AI is doing gitu kan. Nah itu kan terjadi seperti itu. Tapi eh need really need a thinker karena things are more unexplainable dengan hadnya AI. sehingga thinker-tinker ini yang bisa paham tentang apa yang terjadi, apa parameter yang mungkin mempengaruhi ini adalah yang penting.
Tapi mereka yang fokus hanya bisa operate dan tidak menguasai kenapa even mereka melakukan hal itu, ya mungkin mereka perlu meng-upgrade lah mungkin knowledge-nya mereka dan pengalaman mereka ya. Jadinya sebelum kita masuk ke masih pertanyaan saya seputar AI tadi kita nyebut ada mystery guest. Sudah sampai mistery guest ya. ya udah ee sampai di sini. Oke, kita welcome juga to the program Jonathan Tenggara.
Jonte Jonte. Welcome anyway Jon, kita lagi ngobrolin tentang AI lah. Ini probably my next question. Lu kalau ada ini jump in ya. How integrated AI is di dalam kehidupan Kiki sehari-hari and the business that you're leading lah ya kan in the company gitu.
itu tuh how integrated penasaran aja. Oke. Di 2026 ini ya. Asik ya. Bisnis dulu ya.
Nanti kita masuk to personal. Jadi kalau di bisnis kan sekarang eh I was working in the company yang memang tag base gitu ya. Memang banyak hal yang bisa dibantu ya yang tadi eh saya sampaiin juga eh it makes complex things eh itu bisa scalable dan juga time efficience. tadi creating ads eh yang ribuan dalam waktu yang immediately itu sudah terjadi. Optimalisasi untuk spending dan yang lain-lain sudah terjadi creating a different eh automations dan yang lain-lain udah terjadi.
Jadi eh Aa itu harus diakuin bahwa itu membantu productivity kita karena dia membantu memecahkan masalah kompleks dengan ee cepat sebetulnya. Dan enggak perlu diingetin kalau dulu orang kan bilang, "Eh, jangan lupa ya nanti ini ya belum ceklis gitu." program if scenario happen do this. Scenario happen do that. If one and two happen do that gitu ya. Dan ini pemikir sekali lagi pemikirannya dari human gitu karena kita lihat what best possible things to happen to customer and for the business gitu.
Nah, ini yang terjadi hari-hari. So, it's something yang I would say is integral part yang tidak bisa dipisahkan karena that will significantly help on how we can actually perform within the business and the impact for the business itself gitu. He. Nah, kalau hari-hari kayak gimana ya? AI a sih sebetulnya.
Eh, as simple as misalnya ya, e somebody kirim artikel banyak ya, waduh gak ada waktu ya, please summarize gitu ya. Tolong tolong. Ini kan yang paling gampang gitu ya. Sampai misalnya adalah you want to illustrate something e ke seseorang gitu. You have the thinking tapi you need to illustrate.
Karena kan gambar lebih mudah daripada suara. Please develop explain about this gitu. Nah. I'm not a graphic designer. I design gitu ya.
But I can help you to do that gitu. Contohnya bikinin video untuk seperti ini. I will be in the presentations. My audience is this. I want to demonstrate about this.
So help me to illustrate it in a video gitu. Jadi gitu sebetulnya. So that's part of the personal eh ini ya penggunaannya ya untuk di AI. Termasuk kayak contohnya ada video atau foto yang kurang bagus. Aduh daripada ngedit masukin aja.
eh tolong remove orang ini dong gitu. So I think it will be integral part buat kehidupan kita sehari-hari and I think that will be even more significant untuk bisnis. Ee ini nih mundur sedikit sebenarnya eh mungkin dua langkah atau satu langkah at least dua langkahnya itu pas tadi kan kita ngomongin tiga trades ya dua atau tiga trades yang pertama udah kejawab growth mindset ya kan yang nomor satu ada enggak yang kedua atau ketiga yang mungkin eh when you're looking for talent ya to work under you saya selain grow mindset sebetulnya gini when looking for talent kalau kita bicara orang selain technical expertise atau experience selalu bicara tentang eh leadership sebetulnya ya. Nah, leadership ini juga sesuatu yang penting gitu. Nah, eh of course it will depend apakah eh you will actually leading a team atau enggak gitu.
Karena gini, pada akhirnya kan marketing is not stand alone gitu. You work with others juga ya within marketing atau outside marketing gitu. Nah, leadership itu penting walaupun mungkin orang-orang itu bukan within our eh direct authority gitu. Karena e you are mastering on one thing. Tadi kalau kita bicara marketing content dan media gitu.
You're mastering on content. You don't know how the media works. You cannot unleast the full potentials. Itu aja gitu. Nah, to be able to work with each other, you need the leadership to work.
Nah, pertanyaan kok leadership yang penting ya? Karena you need to influence people gitu. I you need to get the buy in. Karena kalau misalnya you have a strong ideas and it's right, it's proven gitu ya. Tapi you don't have the leaderships to influence other, to follow you, to convince other ya.
Enggak kejadian juga kan gitu. Nah, ini sering sering terlupakan. Jadi seringkiali bahwa wow I am expert di area ini ya. Tapi you refuse untuk learning tentang how others is doing tapi you are trying to avoid tentang influencingnya others. Yang terjadi adalah ya separuh aja result-nya gitu.
Nah, ya ini second trick tentang eh satu tadi mindset, kedua adalah tentang eh soft skill, tentang leadership gitu ya. Oke, kalau yang lain ya pasti ada expertise dan expalnya memang kalau itu sudah mandatory ya itu udah inevitably harus ada deh kalau misalnya enggak ada expertnya, enggak ada experience-nya then what advantages we trying to get from you unless we hiring AI ya anak intern gitu ya inter ya kalau begitu ya udah you don't have expertise experience that's ok gitu tapi if you are actually in a full time job and youve been given a responsibility of course you are expected to have a certain experience and expertise Tapi di luar yang kelihatan itu growset and leadership yang inevitbly itu diperlukan. Oke. Eh, sortingnya gimana? Based on priority nomor 1 2 dan 3 atau 132 apa 321 apa gimana?
Kalau untuk saat ini at the moment ya saat ini. Saat ini. Kalau saat ini gini kalau memang ee apa namanya? Ee urutin nomor satu pasti mindset dulu. Y karena tadi yang e saya bilang ya, enggak bisa dibenerin gitu.
Ee kalau sudah salah itu enggak ada cara perbaikinnya. Mindset nomor satu. Terus kemudian ee expertise sama experience itu diperlukan karena leadership bisa diajarkan gitu. Jadi leadership itu bisa di grooming eh to a certain training, to a certain experience itu masih bisa kalau mindsetnya benar gitu. Kalau mindsetnya udah enggak benar enggak bisa diajarin itu aja.
Tapi leadership, how to influence people, how to connect with people, ini bisa diajarin kalau mereka mau. Nah, sekarang kita ngomongin eh talent tadi kan dua langkah. Ah, ini satu langkah. What do you see available right now lah eh in terms of talent ya? Apakah eh quality wise turun sama meningkat?
What's different dengan previous generation eh dengan yang baru ini? Do you see anything? I'm not saying better or worse ya. I karena pasti ada bagus ada kurang ya. Tapi how is opinion the talent pool yang ada sekarang nih di tahun 2026.
By the way I keep repeating 2026 karena supposedly kata AI kalau lu mau discover lu masih nyebut tahun. Heeh. Karena orang e nyemus yang dicari jadi gua nyebut terus 2006 ini kata AI satu kata teman gua gemenai gimana? Oke, di awal kan saya sempat sebut bahwa muda-muda sekarang ya mungkin milih bahwa gua gini-gini aja gua udah happy kok gitu daripada gua gila kayak lu ya mendingan gua kayak sekarang bisa traveling ngopi-ngopi cantik jalan-jalan I don't need to have a car I don't need to have a house. Ya, balance aja lah kayak begitu.
Karena kalau orang-orang yang generasi saya dan juga ee ee yang mungkin sekarang di di posisi yang lebih berumur dan lebih senior mindsetnya adalah hasling gitu. gitu. Dulu hidupnya susah gitu. Jadi bahwa jangan hidup susah lagi. You need to build a better legacy untuk successor gitu.
Nah, e dulu mindsetnya begitu tapi sekarang kan beda ya. Enggak salah juga sebetulnya. It's a choice kan gitu. Nah, cuma itu membuat bahwa succession plan itu tidak semudah atau sebanyak mungkin generasi-generasi awal. Dulu kan banyak kayak anak-anak perantauan yang dari kota-kota kecil masuk ke Jakarta.
Wah. Enggak kenal siapa-siapa, nge-ekcost kayak tiap hari makannya cuma nasi sama K. That's reality ya. Tu I started like I move Jakarta itu 19 eh 2001 itu dari Semarang. Semarang.
Jadi ya orang Sebenal siapa-siapa, nge-cos tanpa AC, makan ya seadanya. That's a reality. Tapi kalau pernah sesusah itu pasti akan mikir I don't want to go that out lagi gitu. So itu grow karena I don't want to be like misalnya ya my son gitu ya atau my family going backward gitu. Nah, tapi kan that's me gitu bukan semua orang kan sebetulnya.
Nah, jadi ya tadi untuk well rounded ya banyak jalannya tapi juga ya belum tentu semuanya mengarah ke arah sana dan itu yang membuat eh mencari well rounded talent marketers itu makin lama jadi makin sulit sebetulnya. bisa jadi they not even given a chance gitu atau they given a chance they not willing to take it gitu. Tadi ke poin nomor satu, the mindset. Mindset of course ya. Tapi kita mesti mesti make sure bahwa we treat people fairly artinya don't take people for granted gitu sebetulnya yang mungkin practicesnya tuh banyak juga bahwa company atau boses itu take it for granted.
Itu yang membuat sekarang mindset sekarang adalah gua dapat apa dulu nih gitu ya. karena ya eh enggak enggak menyalahkan mereka juga karena there are situations di mana they were take it for granted. Tapi ini balik-balik lagi bicara tentang mindset gitu ya. E what I believe adalah gini, mereka tuh selalu mencarinya adalah immediate impact dulu sebetulnya. Of course ini kan generasi digital ya yang semuanya serba immediate gitu sebetulnya.
Ee tadi ke staf tadi ya, generasi dulu kan kita bicara nih kalau ngomong marketing ya, brand driven long term gitu, generasi sekarang short term. Nah, kelihatan kan sebetulnya the thinking proses itu berpengaruh sekali. Jadi bukan cara kerja, bukan capability. Even on the thinking yang era dulu sama era sekarang itu memang terpengaruh dan stylenya memang sudah kelihatan gitu. Nah, cuma satu yang memang selalu harus diingat adalah you're not living like now, today, this year, and then next year you die, gitu kan.
Sebetulnya kan enggak seperti itu gitu. Nah, so selalu yang memang harus eh disampaikan dan harus selalu dipahamin adalah ya tadi next year you don't die gitu. You not necessarily die lah bisa you probably can die tapi eh your world will not end today sebetulnya itu yang sering terlupakan bahwa kita tahu bahwa jalan kita tuh masih panjang banget. Maybe I don't get it now gitu. Tapi Sabtu yang eh tadi M dibilang seperti awal pindah-pindah terus sih Pak ke mana-mana gitu ya.
Tapi that's what I learn gitu. Kalau the company itu tidak di company sekarang ya giving you a chance take it gitu. Karena that's your way to grow. bahwa di dalam company sekarang mungkin tidak dalam capacity untuk memberikanmu jabatan lebih tinggi atau salary lebih tinggi. That's ok.
Karena when your competency grow, somebody, another company will see you grow and they will reing company, gitu. Jadi something that you learn is not going to be wasted. Ini yang mindset yang mungkin harus dibenerin adalah growth atau new learning, new experience itu enggak wased. Tadi Maski ngomong about di perusahaannya and then di the talent-nya ya. He.
Sekarang gua peng ngomong dari sisi the marketing managers lah ya. Orang-orang yang mungkin udah hold mid to eh level di marketing. Menurut Maski, should they change the structure of the marketing team? Karena gua banyak menemukan eh jobd. Job desk itu sangat spesifik.
Contoh media planner gitu. Dan begitu kita kasih orang-orang yang punya job eh spesifik kayak tadi dia akan terlalu kacamata kuda. Takutnya mindsetnya kayak copyri spesifik tuh. Spesifik gitu. Begitu eh mereka dikasih load tambahan, mereka merasa itu out of from their scope.
Karena kan sekarang juga lagi banyak e how eh I think one of the first itu Spotify yang coba running kayak IT company di the running it agile squad base for example di mana talentnya ngumpul objektifnya satu. Nah, di situ udah mulai melebur tuh kayak oke lu copy kadang-kadang kalau misalkan media planner lu enggak masuk, you need to know. At least itis lah. At least you know how to ini. Nah, menurut Maski sendiri apakah the way marketing eh leaders eh shape their team itu harus sudah mulai berubah atau masih bisa work?
Ini mungkin jawabannya depends ya. E karena eh there must be a certain complexity di dalam eh company yang dioperate. Karena kan B tahu Pak marketing it can be a tech company. Yes, it can be bank, it can bec gitu ya. Some probably bisa.
Eh, mungkin ada yang enggak bisa juga nih, J gitu. Nah, jadi eh karena gini, e gimanapun juga technical expertise sama specific areas itu juga diperlukan keahliannya kan itunya enggak hilang ya. Betul. Itu enggak akan hilang gitu karena somebody need to know sehingga mereka bisa menggunakan pengalamannya dan kemampuannya untuk getting the best out of eh the assignment yang ada gitu. Tapi ee saya rasa yang pasti berubah itu adalah cara kerjanya as a team gitu ya.
Di mana rata-rata sekarang ya tadi ee digabungkan dalam satu tim ada project sehingga ada exposure untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh mereka yang bertanggung jawab untuk hal lain gitu. Nah, sehingga ada kesempatan untuk tadi mereka lihat paling enggak ini apa yang lagi dilakukan ya, apa yang saya bisa contribute ya gitu. Nah, ini ee yang terjadi yang sangat dimungkinkan bisa terjadi gitu sebetulnya sehingga ya tadi bukan ee paradigman adalah it's out of my job eh it's your project gitu sebetulnya kan. It's not your job, it's true gitu. It's beyond your job scope.
Tapi it is on your project. Ini untuk eh secara company mempersiapkan gitu ya, mempersiapkan atau memfasilitasi mereka yang pengin belajar tentang hal-hal di luar jobdnya mereka. Tapi kalau memang dari mindset orangnya adalah gua gak mau kerja di luar job gua, ya udah gon gitu. No matter how hard company or your leadership trying to facilitate you, if your mindset is not right, itu tadi enggak bisa dibenerin gitu. Nah, jadi eh I believe ya even kalau di Blib pun we facilitate ini.
Jadi ada campaign-kampaign dipersiapkan di mana cross collaboration team dimasukkan bahkan it's not their main responsibility but people are willing to take like I want to join. I want to join gitu karena the growth mindsetnya is already there gitu. Tapi ada enggak orang-orang yang bilang dia waduh kok dari tambahan ini ya enggak pulang-pulang ya. Ada aja sih sebetulnya kok ee di gini gaji gua enggak langsung naik ya. Gue keluar aja deh di luar gajinya naik gitu.
Nah, ini ini by the way on the side to ini juga penting ya. Banyak banyak talent sekarang yang bilang, "Gue dikasih kerjaan tambahan di sini, gaji gua enggak dinaikin. Gue dikasih kerjaan sama di tempat lain, gaji gua langsung naik gitu. Ya mendingan gua keluar aja kok begitu." E nah ini juga satu mentality yang bahaya nih sebetulnya karena eh again probably I can talk this because I'm old enough ya. Jadi, eh I've seen people yang mungkin eh karirnya oke dari manager tiba-tiba jadi VIP VIP VIP and that's it.
Not going anywhere going eh dari VIP tersebut lateral aja lateral ya sudah di situ aja muter karena apa ya theertise enggak berkembang gitu ya sudah mentok di situ. Bahkan yang lebih bahaya lagi tadinya officer, eksekutor jadi manajer and that's it. The manager sampai umurnya ber sudah berumur pun masih manajer. Ini juga nyata loh sebetulnya. Eh banyak orang-orang manager, senior manager and that's it.
Karena buat leaders ya lihat ya their capacity ya memang cuma segitu. So you you seems like having a really good start. Everybody will look up to you when you were young. when you are old look at why you stuck there already director manager sampai berpuluh-puluh tahun ya reality gitu jadi hurck tapi that's something that young talent need to really realize ketika mereka bilang bahwa reward me first gitu tanpa berpikir bahwa how do you groom yourself balance ya Pak jadi between apa namanya skills yang harus diperbanyak dipertajam terus jangan hanya mikirin incremental tadi kan iya Iya, karena kemampuan enggak bisa bohong. Betul gitu.
Gaji bisa bohong ya. Enggak bisa bohong juga. Tapi kemampuan enggak bisa bohong. Tapi menarik sih, Pak. Karena kalau aku ngelihatnya dari segi leader ada nih ee leader yang memang memberikan kesempatan untuk tumbuh gitu kan, memberikan challenge.
Eh, kamu memang title-nya social media tapi coba explore eh PR misalnya atau explore eh influencers ya. Tapi ada leader yang tadi yang Bapak mention di awal bahwa dia punya risk management. Heeh. dia enggak ngerti kayaknya. Jangan deh, udah, jangan deh.
Tapi gimana nih kalau misalnya ee kita dari segi em ee talent ketemu sama leader yang kita tuh pengin nyoba gitu, tapi dianya tuh reluctant, entar deh, entar entar deh, gitu. Kalau saya, kenapa saya bisa nanya? Karena pengalaman pribadi emiki beberapa menjalankan beberapa leadership sempat ketemu sama bos yang udahlah lu fokus aja, it's your area, I know that you can do it, you do it well, gitu kan. Tapi sempat pindah ketemu leadership yang shout out to Alvin Alvin langsung kayak step eh you've been doing PR for a long time so I need you to do this this kerjain lo I don't know anything about it tapi ya udahlah ya diberikan kesempatan gitu tapi gimana Pak tips and trik menghadapi different leadership yang punya specific eh mindset oke pada akhirnya ya eh your personal growth is your responsibility kan not where kan sebetulnya bukan where you to go gitu. Jadi it's your responsibility.
Nah, memang tidak bisa dihindarkan bahwa seringkiali hal-hal itu terjadi gitu ya. Nah, di sinilah sebetulnya perlu pentingnya untuk open mind tentang moving sideways. Sebetulnya ketika mungkin kesempatan itu enggak datang, you cannot kill your dream kan simply karena nobody open it for you gitu. It's still your dream gitu. Tapi mungkin di luar sana ada yang membuka kesempatan for you to reach your dream gitu.
Then why you shoot yourself gitu sebetulnya. Nah, tinggal yang perlu diperhatikan sekali adalah you need to remember bahwa when you move sideways is to achieve your dreams gitu sebetulnya. Dan yang paling penting ya tadi to develop your skill, to develop your competence so that your longterm dreams itu e jadi achievable. Ya, yang paling bahaya adalah kalau misalnya moving sidewaynya adalah oh gaji lebih bagus yang tadi saya bilang di depan balik balik nanti 10 years bisa begitu-gitu aja gitu. You're not growing anywhere gitu.
To be honest, eh during my time ya e untuk develop itu memang enggak gampang. Again I feel very very fortunate karena kesempatan itu muncul. Eh karena for me I become manager less than two years of working experience. Full working experience somebody hire me as a manager gitu. Padahal graduate gitu cuma tahun and gitu.
Ini kesempatan yang jarang before 35 become CMO gitu. Jadi ini kesempatan yang mungkin gak happen everywhere ya tapi I'm very very fortunate bahwa kesempatan ini kan datang. Nah ketika itu datang the challenge coming in ya itu harus datang gitu. My my motivation pada waktu itu kan ini jadi personal ya, tapi my personal motivation pada waktu itu adalah I need more money sebetulnya karena eh I was born late. Jadi my father itu ketika e itu dia udah umur hamis 50.
My mom is 41 gitu. Eh my father is very humble e doctors dan kita enggak punya banyak hal. So my motif adalah I don't want to see my parents when they get old eh we find a problem and we don't have money. So my mindset adalah I need to earn more money. My only goal to make more money I need to work hard and goes into my leader very very fast gitu sebetulnya.
Nah, mindset itu yang ditanam terus tuh gitu. Nah, ketika kesempatan itu enggak muncul atau kesempatan di luar untuk grooming myself itu muncul, I'll just take it gitu. Jadi manajer sebelum ee baru 1 tahun pengalaman kerja itu kan biasanya enggak diterima di mana-mana. So what I did adalah I want to become manager. Dia bilang, "Tapi pengalaman kamu baru setahun, just give me a case study.
I'll do it for you." Then you justify whether I'm actually eligible, have the capacity atau enggak. If not, you don't have any risk kan. So, I'm preparing my deck gitu. I do the market study dan segala macam. You not asking me to do so gitu.
Tapi ketika I'm coming back to them, I say, "I would like to present on the responsibility that you offer me. This is how I see it. Kalau if you are align, you probably want to hire me gitu. ketika I become the eh department head at a telco ya by the way and telco itu hiring manager tidak ada man dia di bawah 5 tahun oke when I join telco my managerial experience is two years gitu so underpack by half sebetulnya tapi ya again when I join I say that this is what I'm thinking this is how things need to be done gitu dan even in a certain extent I take also a contract if I'm not perform just push me up gitu so I think Kan kayak tadi kan kadang-kadang tadi ST cerita ya, I don't want to take the risk. Ya udah, if you want to take the risk, if you don't like me, if if you think I'm not performing, just push me up.
Gak apa-apa kita sama-sama agree aja. I took that route juga gitu. Tapi yang tadi motifnya I need to grow gitu. Kalau di dalam company yang sama enggak bisa, I'll take sideways, gitu. Dan that's how I grow into marketing, marketing, marketing.
Eh, terakhir marketing CMO di OEX. Kemudian come in opportunity to sales and marketing divnya come into experience di Lingaja as a director for marketing commercial product development busis intelligent and analytics. Oh crazy. It bilang I'm in I'm in. Mau tanya ini gimana cara kita bikin eh apa namanya modeling gitu.
Dulu enggak ngerti namanya forest eh tree. Enggak ngerti namanya tentang predictive analytics. Oh ada orang pintar nih. Eh my team is super super intelligence. dia ngajarin gini loh, Pak, caranya tentang eh kita bikin modeling gitu.
Supervise atau unsupervised machine learning. That's a new term for me. Apa ini supervised unsupervised? That's the term that I learn. Terus dia bilang, "If you want to do supervised machine learning, Pak, you need to do this." And it's only you can get the result so that we can measure the matrix that is influencing the model.
Ok, I'm trying to find the end result I can build the model gitu. Tapi ya tadi it follows gitu sebetulnya ketika tidak ada di sini keluar di sana muncul dan sekali lagi pengalaman itu enggak hilang gitu. It stays with me gitu. Dan setelah bertahun-tahun dia kadang eh cara melakukannya beda tapi mungkin teknologi atau wishlist zaman dulu sekarang terwujud tapi principly remain the same gitu ya. So sideways is no harm sebetulnya eh untuk kita lihat ya ketika tadi di situasi step ya mentok nih enggak berani gitu.
Nanti suatu saat when you come back with all the knowledge and expert like Mercy says how you observe staff ya that's exactly what will happen with the boss if they have the right mindset gitu. Let me know if you agree with me or not. H eh since you have a lot of experience different industries, different companies bahkan eh kita ngelihatnya itu di jarum specifically group. H it's just a different culture, right? Eh, ada wisdom, ada patience, ada virtu.
Kita kita ngelihatnya dari jauh ya. Itu just the way kita coordinate aja ya. Maksudnya by eh meeting, as simple as meeting, you can tell a lot. Pas kita meeting sama perusahaan-perusahaan yang misalnya eh di bawah konglo A, B, C, D, E gitu kan, very different. Is there any truth to it and based on your experience?
What's your thoughts on this observation? It's a right observation. Dalam artian gini, eh the family has commitment. Dalam artian they don't build the the the business overnight kan. They build it overtime sebetulnya.
And theyve been through a lot more struggles gitu ya. Eh but the fundamental they are very very humble people. Mungkin kelihatan ya. They put respect for others. Ini yang kelihatan juga.
and the people ya. Nah, eh sehingga ketika eh itu muncul dari mereka yang pendiri dan membesar brus itu turun ke semua orang sehingga that's something that is happening on how we being grateful and how we actually still need to contribute really heavily that eh ini ya kita bisa change a lot of people's life ya karena through the business that we run we actually helping lot more people ada lapangan pekerjaan ada hal-hal yang kita permudah ada value yang kita berikan so the root yang memang kita selalu selalu pegang gitu. Nah, memang eh tiap company itu nature-nya beda-beda. As you say, it's been with the multinational company, local company, public company, another family company. Rutanya memang beda-beda, tapi eh the similarity selalu ada strong point-nya and character sebetulnya melekat di masing-masing gitu ya.
And that's always be a certain reason and certain root why they they happen to do so gitu. Dan itu yang biasanya melekat. Nah, memang yang lebih gampang ketika it's actually being lead by the same family group, bukannya mungkin misalnya a lot of investor dan segala macam, it's constant gitu karena kan enggak berubah-berubah. Oke. When for example US having like five investor, 10 investor, where I was withling aja kan shareholder kita ada 12 gitu ya.
So, there always be a certain needs kan there always be different interest. Betul. Ada yang mau ke sini, mau ke sana you need to bridge everything gitu. Ada yang mau short term, ada yang mau long term, ada yang mau proteksi, ada yang mau open. That's become very complicated for you to navigate, to make it consistent.
Sebetulnya eh the difference kan kenapa kelihatan ketika ketemu karena it's always been the same family and they all probably with all the different eh ini ya eh taste tentang how they run the business, the leader segala macam, tapi root-nya itu sama gitu. Nah, dan that's what been consistent across the company atau di mana pun mereka touch eh people's life gitu. Nah, ini yang sebetulnya sangat menarik gitu. Nah, ee enggak banyak ganti-ganti kan sebetulnya yang kalau kita sering lihat bahwa oh company yang mungkin ceritanya bagus dan segala macam, change of leadership, change of investor, all of everything change. Itu yang lebih sulit sebetulnya menjaga bahwa root-nya itu selalu sama, konsisten, visi yang enggak berubah-berubah itu yang lebih sulit.
And that's I think eh kalau dengan commitment with the the the way the shareholder works dan segala macam, that's what been with us and that has been the characters that been built for year. E for sure senior pasti lebih sulit dicari daripada junior karena kan given tadi ya the nature bahwa yang dicari adalah well rounded. Nah, dan yang memang eh punya kesempatan well rounded itu kan enggak banyak sebetulnya ya. either you are on one side or the other atau eh you are on both side tapi you probably not go deep enough karena for example you coming in on the digital world ketika umurnya sudah 8 10 tahun e di market gitu ya itu pasti beda dibandingkan dengan ee ketika kita masuk di tahap paling awal sebelum ada agency. Karena itu kan pasti kita belajar sendiri dan yang lain-lain.
Jadi, the dep mungkin pasti akan e terasa berbeda lah untuk orang-orang yang masuknya di belakang or vi mereka yang baru masuk ke dunia eh brand driven marketers tapi waktunya masih singkat kan sulit untuk mencari itu. Jadi, I think that's given memang chances itu enggak banyak. Jadi, pasti orang yang punya rounded itu pasti jumlahnya enggak banyak gitu. Nah, eh the other interesting part adalah memang eh how the company looking for the light eh karakter juga sih. Karena kalau kita bicara orang kan karakter senior leaders biasanya kalau marketer itu kan known as the cost center centering terus.
Iya. Tapi you will never e expect as a marketer gitu. You will need to talk and discuss with IT security for example. He compli ya kan orang yang fokusnya ke art ke e communications ya kan dulu mungkin enggak kebayang gitu sekarang it's day to day job begitu masuk eh digital marketing gitu ya it's day to day job ya bicara statistik bicara measurement ini kan area yang dulu ngapain ya gua ngomongin kayak hal-hal kayak begini justru lucunya orang yang dulu belajar marketing in a sense kabur dari statis diaan styleang I. Nah, cuma ya memang tadi itu karena kan dicari well rounded seringkiali bahwa eh some marketers yang merasa that's not my field, I'm not interested.
They trying to force fit their thinking into somebody else. Nah, itu kan enggak jalan juga pada akhirnya gitu dan itu kan akan memblok mereka ya cuma sampai di sana aja. Heeh. Gitu. Itu itu kan dari headunter tuh e Snowbish.
Kalau lu tanya orang-orang teknikal kayak developers itu kan juga ngobrol sama marketing kan. Dia bilang orang marketing kalau ngomong ngawang-ngawang katanya. Enggak enggak konkret. Enggak konkrak konkret. abstrak.
Iya. I ya ya tadi di betul J. Tapi tadi di awal sempat-sempat ee ngobrol juga tentang ee bahasanya itu kalau orang digital tuh bahasanya bahasa company yang universal. Orang paham CS. Oh semua orang tahu.
Oh ini cost gitu. Market kita bicara equity-nya akan menghasil eh people like oke ini ngomong apa ya jargon-jargonnya membingungkan. Bisa sebetulnya kalau mau dengan attribution model dan segala macam. tentang ini bahasa itu dikonversi jadi sebuah bahasa yang lebih universal semua orang bisa tahu. Artinya kalau misalnya if misalnya just take some component of equity top of mind what will happen adalah we will have a chance untuk the leading indicator for example some business index itu naik dari sisi traffic for example and if traffic coming in how we measure it and justify bahwa ini adalah impact dari brand campaign yang kita punya ketika ini naik nanti ketika mereka convert what is the direct benefit of the business even though it's a lagging indicator and should not be as a main matrix gitu.
Nah, cilakanya cuma satu, Jon. Kalau udah bicara begitu, cilakanya kalau orang marketing yang jago bicara, brand marketer, yang jago bicara articulate dari brand sampai sini, celakannya adalah yang diingat yang bagian terakhir. Oh, jadi brand contribute x rupiah. Ini cilaka nih sebenarnya gitu. He karena ini sama kan karena kan kita enggak ngukur panjang jalan pakai penggaris kan maksudnya kan betul alat ukurnya ada gitu dan mau diukur ada tapi kan enggak tepat gitu sebetulnya ya ukurnya bahwa this is leading indicator and this is a laging indicator.
Jangan dimix up bahwa ini adalah untuk memberikan indikasi itu perlu gitu karena kalau enggak kan bahasanya enggak pernah universal cuma jangan lompat dari oh brand contribute gitu. Nah, ini challenge yang happening juga untuk eh marketeers yang punya ability untuk translate ke sana. Sering terjebak nanti dia ke sana. Tapi benar, I met to eh polar yang berseberangan banget ya. Ada yang brand, dia e tanggung jawabnya brand tapi udah ngomong oh kita harus contribute berapa banyak revenue OKR waktunya.
Ada di sisi yang lain kayak ah kita kan brand, kita enggak mungkin langsung contribute gitu. Ada dua pola jadi ada dua ee apa namanya perspektif lah ya. Dua-dua ini dua camp nih, camp of thinking. Makanya kayak yang tadi Maski bilang bahwa lu harus well rounded dan lu harus ngerti juga yang lain ngapain itu connects the dot memang gitu. Kalau enggak I don't think they even know leaged e indicators tuh apa katanya masih.
Iya bisa-bisa. Iya kan gitu karena ya memang everybody pasti play role tapi at what point to what journey in the customer cycle itu yang mereka lupa mungkin kadang-kadang role-nya karena mereka either kacamata kuda atau ini gitu ya. I think ring leaders yang dia rounded sehingga dia bisa orchestrate mungkin bahasanya. Karena kan ya tadi the component of marketing is there is there are a lot of component marketing everything is playing a role gitu ya. Tapi at the end the orchestrator need to make sure bahwa it actually sing the same song kan sebetulnya different instrument might be different melody tapi when you play it together it come to the same song yang the company it's trying to achieve sebetulnya.
ini adalah yang mungkin gak mudah ya bingung kan gak everyoneu gitu also mean the same bahwa you know how this instrument will play how good it is actually to contribute within orchestrations yang ini mainnya apa, melodinya apa, ini akan punya karakter when you play violent kan you don't play like something yang mungkin what the piano will do kan atau the drum will do it cannot gitu sebetulnya nah ini the orchestrator atau the marketing you need to understand this whole komponen gitu. Karena at the end of the day he will be Oscar streeting eh tentang how the song will be displayed kan. And the song is telling the story about the company and the propositions. It ya. Ya, menarik aja sih karena begitu berkembang begitu banyak begitu dunia quot inqu dulu dibilangnya traditional marketing and digital marketing sudah mulai blend in.
He. Nah, itu everybody memang harus tahu role-nya di mana dan contributnya di mana. Kalau enggak ribet banget kayak yang develop website misalkan if they don't know what they doing gitu kayak ujungnya mau ke mana, in what part of the business kan repot juga gitu ya. Tahunya cuma darine doang soalnya. Iya benar benar benar output jadinya outputnya jadi UI-nya doang gitu.
Kayak banyak e gue sering ketemu orang yang brand itu outputnya dihitung dari mana? Misalnya dia bilang, "Oh, berapa banyak KV yang dibuat?" Iya, benar kan? Jadi dikejar adalah punya empat campaign dalam 1 tahun gitu. It's not like actually measuring to the index they trying to build kan sebetulnya. Tal about the brand index, about the perceptions that you trying to build, where are you in the positioning?
Bukan ngomongin seperti itu gitu. Jadi tadi itu juga sama di brand karena penggarisnya salah tadi itu. Oke, been talking about the current state of marketing lah ya. H what's the future? Do you do you have any satu atau dua hal yang eh kayaknya ini nih masa depannya nih terus of eh the future of marketing?
Media ini ada eranya tentang performance marketing and so on so forth. Sekarang memang sosial media bukan paid ya, bukan performance gitu ya. media earn media gitu ya and ya kan sebetulnya eh udah berubah semua so the well rounded is inevitable to move forward it become an integrated system that enggak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya it has to work together work as one or another ya and cannot be like a leader itu mastering one or unfortunately little bit of everything ya, Pak. Sampai ke level-level yang mungkin kita enggak terlalu nyaman ngomongin juga politics and everything. You kind of have to know lahul right the the rumblings and grumblings gitu.
Yang bisa terlalu polos juga kan ada politik di at least you need to know ada gitu ya. Iya. I tu as a leader dulu kan if you have visions probably enough gitu ya. He. Cuma sekarang ya gitu karena ya tadi gimanapun juga e the current era of talent itu juga pasti punya limitasi gitu.
To understand without the leader that understand how things works. Ya enggak akan berkembang sih semuanya enggak akan berkembang semua. For example the era of Martech marketing technology you can have a more sophisticated engine nobody can operate gitu. Eah. Oh, kita bisa automate bahasa yang jadi jargon lama-lama.
Oh, we do automation segala macam. So, what do you do? Oh, setelah ini kita kirim ini, Pak. That's it, gitu. You don't do anything else.
Did you not actually crawling your data? Put it in the GBQ for the it's actually become a very dynamic data to to process segala macam. Do you do that atau gak? Visually, have you actually connect with some image generator so they become more relevant for every individual? Have you done that?
Gitu. Mungkin ada bilang, "Oh, ya udah udah lakuin." E, berapa banyak yang lu lakuin? Oh, ya, we do like 20. Your capability of your engine can do millions gitu. And you do 20 and you say that's a lot gitu ya.
Nah, jadi eh again sekarang tuh memang susahnya tadi either rounded artinya scop-nya lebar tapi juga enggak bisa cuma bicara tentang in the surface, you need to understand the technicality so that you can help people to solve the problem gitu and it will help you also to unleash whatever you are buying gitu. The worst case sekali digital era ni John familiar nih. A lot of measurement matrix platform dan segala macam ya tapi enggak dimanfaatin dengan maksimal gitu. It can tells you millions of story. Tapi yang dipakai tadi oh sales-nya sekian dapatnya sekian.
But your your source of data, the platform that you purchase actually can do way more than that. It can give even more scenarios. Misalnya kalau dulu kita bicara ya we are detect platform. He. The biggest questions adalah tentang oh performance marketing gitu ya.
Oh ya yang campaign ini deliver lebih bagus daripada yang ini. The basic question kan will arise kan. Why? I gitu. Yup.
Yes. Anybody can answer. Oh ini gambarnya begini begini begini. Ya udah you mix a gambar. Yang buat happen adalah kok enggak conclude ya gitu.
So what will be what the answers? The answer is destinations kan ketika orang lihat campaign itu, what the behavior that they are doing within the pages yang mereka tuju. Do they scroll? Do they not scrolling? Do they click somewhere?
Do they not click somewhere? That information digital world itu ada semua. Yes. Is somebody taking the opportunity to learn from it and take expert dari situ atau enggak? Kebanyakan enggak gitu.
Sometim sometimes the basic the basic conclusion adalah ternyata ketika landed orang itu intuisi pertama adalah clicking a certain banner misalnya misalnya and that banner is not clickable what will people think halamannya enggak works dong ya iya then what happen ya people quit ada result enggak enggak gitu tapi e what was the finding kalau kita enggak masuk ke dalam finding adalah campaign A bagus campaign B jelek gitu aja kan tapi ternyata problemnya on the campaign the problem on the inside the page that you are serving itu ternyata enggak intuitive enough gitu untuk orang e berinteraksi di dalamnya gitu. Nah, eh if you actually mastering not only white but also dep you understand about the tools that you have the capability of that then you understand how to unle your full potential of your team and yourself gitu. Nah cuma ya itu tadi mau spend time untuk kutak-katik ini atau enggak gitu. And sometimes this knowledge and experience itu gak terjadi lewat kayak ya kita tiba-tiba tahu gitu ya. I also don't know gitu.
Sometimes ada aja tiba-tiba vendor bilang, "Eh, I have this platform. I think this is very good." gitu ya. Sometimes ya inevitably banyak jual kecap juga sih. Padahal datang ya ini apaan sih begini aja gitu dibilang bagus gitu ya. Ya itu ada juga gitu.
Tapi sometimes happening like eh I never know this can be done gitu. Nah itu juga sering terjadi gitu. Jadi untuk tidak menutup mata bahwa di luar sana tuh mungkin ada yang tidak pernah kedengaran tapi also the same they have a full potential of what happen gitu. So never be allergic tentang orang datang nanti kita dalam W eh I have something new for you gitu ya. Orang dagang ya orang dagang dengar dulu bisa jadi bisa jadi enggak berguna tapi bisa jadi berguna gitu.
Nah ini yang yang e penting juga terutama kalau dia bilang ini belum ada di sini. Oke, let me find out ini apa ya beneran baru atau bukan gitu. Kalau udah ketahuan ya ini I know this person typically ya know you can predict lah gitu ya. Nah, ini tanpa machine learning ya. Tapi kita bisa predik kira-kira akan bawa apa kan certain karakter change kan gitu.
Tapi ini perlu gitu. Jadi orkestrasi eh terus kemudian problem solving, planning, eksekusi, long term, short term, branding, digital is inevitably it need to merge into one and you need to master this. Very interesting. I think this is the exact place to say makanya ada chat GPT dipakai untuk itu salah satunya ya kan. Nah, cuma hati-hati ya.
Coba hati-hati aja. Tapi we talk about AI juga ya. E just be careful. E don't make chat GPT replace your brain aja gitu. Karena kan the importance of human is the thinking gitu.
Yang yang terjadi adalah tolong pikirkan ini gitu ya. So you outsource your brain gpt yang terjadi adalah you not building your brain kan gitu. Nah ketika you're not building your brain you not building your thinking ya udah you become less relevant. Kalau gitu I will hire chatt aja kalau udah begitu kan. If what you think is just as simple as what chat GPT thinks so what's value do you bring gitu.
Nah, ini yang sering bahayanya ketika dipakai di personal mengganti kita malas mikir. Ya, I. Nah, ini interesting karena gini, banyak orang justru yang seharusnya memakai chat GPD kayak how attribution model works untuk memperkaya diri maksudnya knowledge supaya then you can do further search. Ada beberapa orang yang ini menurut gue yang tadi Maski bilang harus hati-hati terutama ee top yang maksudnya kadang-kadang kan ee orang yang semakin tinggi posisinya di dulu the details gitu kan. Sekarang ada CC GPT paling gampang nih CCPT.
Oke. Menurut kamu eh sosial media kita gimana khas Chat JPT? Nah, hasil yang dikeluarkan analisis dari chat GPT bisa benar bisa salah. Iya, betul. It really depends on the prom kan gitu.
Tergantung cara kita ngprom kita. Jadi banyak orang yang sekarang karena ada CGPT gua ketemukan itu gitu. Oh wah kata CCPT bisa diimprove. So marketing what have you been doing gitu. Oh set upnya on other side gitu.
Terlalu percaya sama chat GPT itu poin di mana dianya enggak begitu ngerti semua pakai chat GPT Wing. Kalau menurut CGBT seharusnya conversion rate lu 50 gitu. Dasar dari mana? No, no. Tapi even kita di PR juga kadang-kadang udah udah ada beberapa ee ketemu orang-orang seperti itu yang lah ngapain lu chat GPT aja lah bikin press rist.
Eh, hold on. Lu lu enggak punya informasi tentang eh the trends in the media ya kan yang dicari yang jadi lagi fokus di detik apa di Kompas apa. Lu enggak kenal orang-orang ini dan you don't have that knowledge gitu kan. Sedangkan kita punya. Nah, kalau misalnya semua udahlah ngapain lu hire-hire ini lu bikin sendiri aja chat GPT maybe keluar itu barang tapi apakah itu yang the best?
No way man, it's impossible. Nah, itu dia menurut gua gini yang tadi Maski bilang, you need to have a certain death e untuk ngerti technicalities. Orang yang enggak ngerti PR atau what's a good press release, kalau dikeluar dari chat cipt yang penting kan ada press rilis bentuk bentuknya press rilis itu ada enggak bisa 5 detik, Bos. Heeh. Problemnya adalah kalau gua lihat ya, kalau menggunakan CH GPT untuk PR lebih ke we have the brain.
Kita yang berpikir, polanya, kerangka, kita yang provide dan fine tune, e proof read dan lain-lain mungkin kita bisa outsource lah otaknya. Tapi the mau ngomong apa enggak bisa men, enggak bisa. It also need your skill to identify apakah presencenya sudah oke atau enggak dong. If you don't have the skill, enggak tahu. Ini ada apapun yang dikeluarkan jadi bagus dong.
Betul. Betul. Tahun lalu itu gua lagi heboh dengan analogi memasak. Asik. Ini terkait chat GPT ya.
Ini nih imagine di dunia e masak-memasak ini ya kan. Can you can you ask for recipe eh apa namanya? Vetcini carbonara. Pasti bisa. Of course man.
Tapi kalau lu gak pernah makan itu barang, how do you even know ini enak atau enggak? Dari itu benar atau enggak? Iya. You can Google, you can chat GPT. Tapi pas lu makan, kalau lu enggak pernah makan di restoran Itali atau lu cuman makan satu dua kali, bukan makan yang 2000 ribuan kali, sampai lu udah tahulah mana yang bagus, apapun yang keluar dari chat GPT, you think it's right.
Betul. Right. Yes. I kan. Nah, itu yang eh ya ee kalau misalnya orang-orang yang khilaf mesti ingat juga ini banyak yang khilaf.
Heeh. Eh maksudnya apalagi apalagi when you talk when you talk to people yang eh punya expertise yang berbeda. Jangan sampai lu mengandalkan chat GPT lu pikir bisa sama sama orang ini, man. You cannot do that. Itu tu strap ya.
He heh. Oke bi tipis. Tapi I have eh pertanyaan juga. Enggak apa-apa ya. Kita nanya-nanya tentang Blibli sedikit nih.
Boleh. Oke. Ada apa di BB? What can we expect? So sebenarnya ada tiket.com, kemudian ada deko rumah, kemudian ada range market, farmer market, ada online which is all the platform beli beli online, ada offline ada beli store, ada beli elektronik kita baru buka dan ada beli beli style untuk lifestyle offline store yang baru buka juga.
Oke. Yang paling penting ketika kita bicara ekosistem sering oh ekosistem dan segala macam, tapi beneran reality-nya for customer dan unifying-nya tuh kayak gimana gitu ya. So last year we actually successfully migrate the entire database into one single data unified member. Wow. Artinya when you are a member of ticket.com you are actually a member of bibli.com.
You are actually a member of eh toko eh offline di market, farmer market ataupun toko offline electronic handphone di tempat kita. Unified member and that tie in into unified rewards program di mana mau earn and burn di seluruh ekosystem. happening gitu ya. Dan ini yang jarang terjadi ya karena biasa ekosistem cuma diomongin gitu tapi reality-nya enggak ada gitu. Jadi to pair dan segala macam tapi gak ada yang benar-benar dising jadi satu gitu bahwa ini bisa dipakai nih jadi cuma transaksional ini unified modelnya.
So that's the growth model yang e Blib punya. Oke. Eh value-nya apa? Karena kalau kita bicara tentang BBL you want to buy anything seetarnya ada kan di kita lifestyle ada semua di tiket.com. Groceries ada semua di tempat yang R farmer market.
He. Home and living, home improve ada semua di deko rumah. Artinya kalau kita lihat profile pengeluaran masyarakat Indonesia, this almost like I don't know 90% yang enggak ada mungkin ee kita enggak punya transportasi misalnya, kita enggak punya pompa bensin ataupun yang lain ya atau mereka punya atau belum ya story ya. Tapi ini kan enggak hampir semuanya. Artinya apa?
Pada akhirnya ketika orang comfort di salam satu platform yang sama, ya enggak usah ke mana-mana, that's our growth model gitu ya. Yang pertama. Nah, tapi dari Blibli sendiri apa yang kita lakukan adalah we after the pandemic yang kita lihat adalah it's no longer about either online or offline gitu ya. It's about online and offline. It's a choice yang kita minta custom kamu mau online atau offline because of our capability only catering one.
Dulu kan gitu, we are online karena platformnya online. Karena cuma bisa online. Oh ya, harus online gitu ya. Kalau kita punya toko harus offline, enggak ada online. So, we believe eh there's already a significant change since the pandemic, of course, ya.
Online kan tadinya cuma buat banding-bandingin harga. The pandemic actually helping penetration online. People realizing bahwa online can become their support system karena access and convenience. I think that that is really good karena people understand the basic fundamental premise of e-commerce. Karena dulu kan yang dipanggil cuma disun, murah, dan segala macam.
Actually kan yang premis paling dasarnya adalah tentang you can access that you need at your hands now gitu and you get it delivered without for you to get some effort to get it gitu langsung nyampai depan rumah gitu kan. Nah e people get it gitu tapi sekarang kan memang ada e waktu sudah banyak orang bisa jalan dan segala macam. And there are so certain thing yang offline experience itu will also matters. Misalnya ketika beli gadget dibantuin dong pasang protektor atau onboarding migrasi. still offline based gitu ya.
Nah, yang kita lakukan di Blibli adalah eh tadi di ekosystem and we merge between BBL omni channel online and offline ya. You want to go offline store and paying online with all the payaters and everything else atau you want to buy online and just pick up in the nearest supermarket that you want that's happening within us gitu. Jadi comfort is at the hand of customers bukan at the hand of our capability to serve customer gitu. Contohnya gimana? For example when you want to buy groceries.
Buying groceries kan you want to go to ranch market misalnya karena memang their product gets good quality ya. Tapi you may not have the time kan datang ke range market parkir cari-cari barang dan segala macam ngantri kasir you may not have the time. So you may want to actually get from the range market close to your home tapi you want to get it delivered. That's an obhan experience. Barangnya dari offline pindah ke toko.
Or mungkin I want to get it fresh nih gitu. Daging, ikan, dan segala macam. You want to do click and collect? Gue yang pick up deh gitu. Jadi I'll set the time di mana I'll pick up my e groceries.
datang ke sana cuma bilang saya mau ambil. Tapi ketika ambil artinya dia akan dapat apa yang dia dapat ketika dia datang ke lokasi itu. Fresh sebetulnya. So that prise something yang dibangun oleh Blibli. And all of this is she still on top of the basic premise of Blibli which is about assurance in the experience.
Karena our model it's a B2C model. Ya memang tidak semua orang bisa jualan strik tidak semua orang bisa jualan di Blibli. For example John, you want to sell Blibli gitu ya. Barang palsu ya. It never happen bro gitu karena we fully put quality control within the platform gitu.
Jadi kita tahu siapa yang jual so that we can assure any customer that come to belb platform and this also happening with ticket trans marketing who is actually selling eh that has to be a business institutions. We are on the same visions about delivering experience. Individual, pedagang dan segala macam kalau punya business institution boleh masuk ke kita. Karena artinya ketika mereka sera busnis institutions mereka punya pemikiran jangka panjang. They wanted to be sustainable.
If not, what will happen adalah they just become at talk. Hari ini jua besok hilang gitu. And for that we cannot promise the quality and also the experience that we want to build gitu. And that's actually the propositions that only can deliver because we are committed. Tadi back to the story about jarum about consistency about committed.
We want to build the commerce as what commerce should be built gitu which is about the assurance in the experience the quality in it gitu. Nah, itu yang selalu stays as a fundamental within Blibli dan eh all the layers additional about the development in the ecosystem dan juga tentang eh bagaimana kita build experience di online dan juga di offline-nya. Luar biasa. Gua gua pernah tuh nyobain beli ee di toko beli-beli yang offline tapi gua belinya ee kayak gini. Modelnya gua bayar dari belib.com tapi gua pick up store.
Exactly. Click and collect ya. Ya, itu biasa paling ramai begitu ada the new iPhone rilase. People gitu, tapi bawa pulangnya mesti pegang dong. By the way, sempat ada kendala enggak yang iPhone 17 ya yang sempat ke masuknya ke hold ya.
Again ini kan in the philosophy and the principle tentang the assurance in the experience. If you want to get delivered two hours after midnight, we will deliver two hours after midnight. The problem adalah you forgot you request for that one gitu. So, a lot of story tentang ini dan juga waktu itu banyak juga tentang eh when we make sure about experience ya, we have two hours delivery. Tiba-tiba ada yang komplain marah-marah ke CS kita.
Gila nih beli-beli ya saya beli barang dikirim jam . pagi gitu. So we check the order. He actually select two hour delivery and he make the purchase at 11 o request for it. Kadang orang lupa kan gitu lagi.
Soling the promise is two hours delivery. Tapi benar-benar sih couple of years ago, gua beli iPhone gua beli jam . lah ya. Terus gua enggak ng saya juga ngeh tuh Pak bahwa tuh ada 2 jam delivery kan typically same day biasanya lagi lah 6 jam. Saya pikir ah nantilah pas gua nyampai rumah mungkin baru nyampe.
Gua belum pulang mbak gua udah bilang Non ada yang ngirim barang. Hah? Siapa ya? Apa ya? Hah?
Udah nyampai. Wow. Wow. Wow. So that promise is really important dan itu sesuatu yang kita jaga.
Cuma kadang begitu customernya e kadang suka kaget sendiri bahwa promise is being fulfilled gitu sebetulnya. Iya. They they don't expect promisnya akan difulfill justru ya. Iya. Mereka yang expect dari L kebanyakan belanja di tempat lain.
Makanya tadi the philosophy and dia the principle is something weve been holding very consistently over the years the 15 years of BB in the market has been consistent gitu. Dan ini yang selalu bisa dikenal and probably given the structure yang kita punya probably only us can continuously deliver on this part. Oke. And yet another examples gimana brand reputations will have to talk with the operations. Coba kalau itu gak dieliver on time?
Iya. Those claims mesti diback up. Oke oke oke. Kiki did you have a good time? Gua penasaran aja.
I did not look at my watch tapi so it means I have a good time. Kalau gak gak ini biasa worry ya. Jam berapa nih? Jam berapa nih gitu ya gitu. Eh, that's great.
Karena gini, biasanya kita selalu expect eh punya ekspektasi maybe one day bisa balik gitu ya kan. Kalau misalnya have a good time kapan-kapan kita ada kesempatan kita ngobrol lagi. I'm very confident ya kan? Beyond confident bahwa eh siapapun yang nonton, yang dengerin kali ini belajar banyak ya kan. Amin.
Mudah-mudahan yang perspect mungkin bisa diambil dari sinilah dan kita improve ourself ya to be better lah. Jadinya itu kita thank you thank you juga Jonathan ya kan yang menyempatkan diri untuk hadir di hari ini. Eh ya nanti kita coba atur kapal lagi. Thank you very much. Kita tepuk tangan sekali lagi buat tamu-tamu kita hari inilah.
Luar biasa. Yeah.