Episode 026 · Guest · Alpine Pribadhy · 4 Mar 2026

Will AI replace creative teams? Taste as the new currency

70 min · Indonesian · Proxemics Podcast

Will generative AI wipe out creative workers? In Proxemics 026, Alpine Pribadhy argues the opposite: as AI executes copy, images and ideas in seconds, the surviving edge is human — taste and judgement. AI can produce fast, but it has no heart or empathy to know why a piece of work actually moves an audience. His line for the era: taste is the new currency.

The real friction, he says, isn’t AI taking jobs — it’s AI’s instant execution crashing into the guardrails PR teams fiercely protect. PR mitigates risk and guards public perception; creatives push boundaries for maximum impact. That eternal clash, between the risk-averse and the boundary-breakers, is where campaigns are won or lost.

Alpine warns hard against chasing every viral trend. Many TikTok trends carry origins that are negative, nonsense, or rooted in tragedy and exploitation — so a brand that rides the wave without critical thinking or fit to its archetype can wreck its own reputation.

He also shows how to use AI — from ChatGPT and Gemini to the image tools — as a brainstorming partner rather than a production shortcut, keeping human empathy in the message. Along the way the team dissects real work, from Honda’s mudik campaign to the Burger King versus McDonald’s rivalry, and how to hire creatives by reading character, taste and portfolio.

A clear-eyed guide to staying irreplaceable when the tools get infinite. Worth the watch.

Jump to

  1. 00:00 Intro: will AI replace creatives?
  2. 03:00 AI: production tool vs brainstorming partner
  3. 07:00 ‘Taste’ as the new currency
  4. 16:00 Creative exploration vs PR risk
  5. 27:00 Honda mudik; Burger King vs McD
  6. 34:00 The danger of chasing viral trends
  7. 49:00 Hiring creatives: character & taste
  8. 55:00 Using AI for critical thinking

On the mic

Quick facts

FAQ

Will AI replace creative workers?
The episode argues no — production can be automated, but taste and judgment (knowing what’s actually good) can’t, and that becomes the scarce, valuable thing.
What is ‘taste’ as a creative currency?
The human ability to judge what’s good, distinctive and on-brand — the layer AI can’t replicate, which makes it worth hiring and paying for.

Listen & watch

YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.

Transcript

Show full transcript

Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.

Apa sih yang lagi heboh di dunia kreatif? Pertanyaan yang ada di kepala semua orang kreatif, apakah kreatif akan diganti dengan AI sih? Gua ngelihat sering banget tim PR dan tim kreatif tuh bentrok. Jadi banyak banget pertimbangan dari PR yang kayaknya enggak bisa di-m sense sama tim kreatif. Justru emang kreatif harus segila mungkin gitu.

Mendingan kita bikin ide gila terus diturunin daripada kita bikin ide yang di sini nih. Semenjak adanya AI lu sendiri ada perubahan enggak? In the way you make decision. satu platform yang gua pakai namanya Hfield itu bisa menggantikan role-role yang sifatnya tuh production cuman tidak bisa digantikan tuh adalah taste sama judgementnya gitu. itu menurut gua isu currency.

Eh, welcome everybody. Eh, kita kembali lagi di Proxemics. Eh, seperti biasa nih selalu kita mendatangkan tamu-tamu ya kan, thought leaders ya kan, pemimpin pemimpin pemimpin industri ya kan kita datangin. Nah, kali ini kalau lu ada di agency lu deb on creative ya kan yang kayak gitu-gitu you it's a must watch. Ini anggap aja masterclass.

Asik. Sedap sekali. Sedap sekali. Jadinya ee hari ini khusus kita akan host sebuah eh sebuah lagi seorang sebuah sebuah sebongkongkah sebongkah sebongkah tamu ya kan. Udah udah keliling-keliling beliau ya kan dari agency ke agency ya kan pernah di publishing bahkan pernah juga ya kan.

Nah, sekarang beliau lagi ada di sebuah bank digital ternama lah, terdepan ya kan pokoknya mantap puny lah. Langsung aja kita welcome, please help me welcome to the program Alpine Pribadhy. Wuhu. Halo semua. Asik, Bro Alpine.

Welcome ya. Thank you teman-teman. Eh, Pin, gimana? Apa kabar sama ee kita ngobrol-ngobrolin yang sekarang aja nih ya kan? ee apa sih yang lagi heboh di dunia kreatif ya kan sebelum kita nanti nanya-nanya background lu, pengalaman dan lain-lain ya.

Apa dulu nih yang paling lagi paling heboh menurut lu? Bassword. Iya. Yang paling heboh sih sebetulnya mungkin yang sering ditanya tim kreatif adalah apakah kreatif akan diganti dengan AI sih? He.

Kayaknya itu adalah pertanyaan yang ada di kepala semua orang kreatif gitu. Hm. Karena memang yang gua apa lihat sendiri ee gua coba chat CPT dari 2023 ya kalau enggak salah pertama kali keluar atau awal 2024 gitu sampai hari ini itu perkembangannya tuh cukup luar biasa gitu dan e-nya tuh jadi banyak banget kan maksudnya udah ada Gemini sekarang ada Nano Banana ya eh iya nano banana segala macam gitu ada bahkan ada satu platform yang gua pakai namanya Higfield itu tuh mencakup semua AI gitu isinya ada Gemini ada Cora, ada CCPT gitu, lengkap gitu. Jadi, lu bisa di dalam satu website itu lu pakai berbagai macam gitu. Oke.

Nah, memang itu bisa menggantikan role-role yang sifatnya tuh production sebetulnya, sifatnya teknis gitu ya. Karena kan ee salah satu apa ya yang mungkin effort ee menjadi tim kreatif kan adalah saat lu crafting kan. Crafting kayak tulisan apa yang bagus gitu, gambar apa yang bagus, video apa yang bagus gitu. Itu kan mikirnya kan cukup panjang tuh. biasanya suka lembur, suka enggak tidur gitu kan.

Tapi nemunya sih pas di kamar mandi gitu. Inspirasi selalu datang dari kamar mandi. Tapi sekarang tuh kayak gitu mungkin tidak terlalu dibutuhkan karena kita tinggal brandsom langsung aja gitu. Kayak kita bisa share ee gua punya brief seperti gini terus audience-nya ini gitu. First thought gua sih gini.

Menurut lu gimana? Jadi kayak partner brandsom lu sendiri gitu, mereka bisa act like your creative partner lah gitu atau bahkan bisa act like your business partner gitu. Bisa many things lah yang mereka lakuin. Itu menakutnya menakutkannya di situ dari segi thinking-nya gitu ya. Kalau dari sisi production-nya kan tadi yang gua bilang di awal karena emang perubahannya ee cukup luar biasa gitu ya dari tahun ke tahun udah semakin mirip gitu.

Bahkan ee gua bisa bikin ee gua bisa salaman sama Telayor Swift gitu, gua bisa salaman sama Donald Trump misalnya gitu. Iya. Lu bisa bikin aset-aset kayak gitu lah. Aset. Iya.

Maksudnya copyrights-nya juga jadi ini gimana ya RS-nya gitu. Karena AI itu kan source-nya tuh dari berbagai macam output yang sudah ada di internet kan gitu. Itu yang jadi pertanyaan tim kreatif juga sebetulnya gitu. Cuman ya ee menjawab pertanyaan itu kenapa jadi ee FQ-nya tim kreatif karena emang hal teknis dan production-nya tuh mungkin digantikan gitu. Cuman eh gue selalu percaya mungkin yang tidak bisa diingatkan tuh adalah taste sama judgementnya gitu.

Taste tuh menurut gua is the new currency sebetulnya karena seberap taste is the new currency. Iya. I taste is the new currency. Yang bisa membedakan eh lu dengan E atau eh teman lu dengan E adalah cara lu nge-judge-nya itu kan ini udah bagus apa belum? Karena kan lu harus iterasi beberapa kali kan untuk jadi bagus gitu.

Berarti lu bilang bahwa orang yang punya akses ke AI i bukan berarti they can just produce creative artwork apa e artwork gitu. Heeh. Enggak bisa sih menurut gua keluar mah keluar gambarnya. Bagus bagus beda. Beda.

Beda. Kayak gini mungkin jawabannya kalau misalnya bisa enggak bisa ya bisa karena kan gampang lu tinggal ketik doang kan gitu. Lu enggak butuh technical skill kayak Photoshop atau apa segala macam gitu. Tapi mungkin yang bisa melakukan bagus yaitu cuman beberapa orang aja untuk saat ini. Gua enggak bisa bilang 3 bulan lagi karena nih CH GPT itu selalu ngeluarin hal yang baru terus gitu.

Gem ini juga gitu kan. bisa aja kayak di masa depan kayak gua mau bikin gambar bagus untuk e Bang Jago gitu misalkan langsung bagus gambar bisa aja he karena enggak tahu nobody kan untuk kemampuan keluar bagus apa enggak urusan belakang urusan belakang untuk sekarang tapi gua enggak tahu gua belief-nya tuh mungkin bisa bagus justru gitu ya eventually they will get there ya iya iya mungkin gitu karena kan sekarang udah ada juga kan kayak e film dari AI gitu bikinnya gitu ya walaupun mungkin belum masuk bioskop ya tapi gua enggak tahu udah masuk bioskop atau belum gitu dan video juga banyak yang udah juga gitu I bahkan banyak actors yang sudah mulai jual dia punya like likeness ya disebutnya ya kan. Iya kayak Bruce Willis. Jadi lu jangan kaget tiba-tiba dia main film padahal orangnya kan di rumah lagi struggling sama demensia kalau enggak salah kan long gone tapi lu masih bisa pakai terus cuy. Iya betul betul IP-nya live forever man.

Asli asli ya kan? Jadi itu really wild. Tunggu dulu. Tapi, H jawaban akhirnya, will it ever replace? Menurut lu?

Let's say bukan sekarang, tapi will it ever replace di masa mendatang? Enggak sih, selama AI tidak memiliki hati. Asik. Asik. Gua suka nih jawaban-jawaban kayak gini.

Kalau logik mereka sudah punya logik,udah punya logik sudah punya hati enggak punya. Kalau hati sudah punya lah susah tuh. Hati dan taste ya. Iya. dan T karena eh lu nonton ini enggak sih Marvel yang Age of Ultron dia kan juga EA itu kan sebetulnya kan dan dia tuh bisa controlling banyak hal juga tuh gua gua agak lupa story-nya kayaknya mereka juga udah mulai punya feeling gitu kan datang dari Jarvis kan iya kalau udah punya feeling nah mungkin kita tergantingan mungkin ya ee kita udah pernah bahas juga sih persislah sama itu tuh gua waktu itu lagi di kantor gua pakai analoginya yang ee jadi chef ya Kan lu sekarang sebagai random person ya atau orang yang baru lulus ee culinary school gitu, lu mau ee dapetin resep apapun bisa.

I banget, tapi pas lu bikin, lu rasain, lu tahu enggak itu enak apa enggak? No way, man. Kalau lu belum pernah keliling dunia, kalau lu enggak punya barometer, oh yo, ini mirip yang gua makan di Napoli misalnya, ini di Roma misalnya lu chef ini ya, Italian chef ya. Kalau lu enggak punya itu, lu ngelihat sama aja kita di PR juga begitu kan ya. Kayak banyak nih ee mulai ada orang-orang yang relatif baru gitu eh membawahi PR ya mungkin sebelumnya dari e different sites tapi sekarang jadi role-nya untuk membawahi PR.

He. Lu lu chat GPT aja man itu kan jadi gitu maksudnya. Benar. Jadi lu bisa bikin list in seconds, tapi lu enggak bisa tahu ini bakal dipick up sama media apa enggak. H h ya kan ee trennya di sana Kompas lagi edisi apa?

Oh ini lagi edisi tentang perempuan nih misalnya Hari Kartini. Lu enggak bakal tahu itu, cuy. Kecuali lu kasih tahu. Nah kalau lu cuman nge-prom bikinin gua prlist tentang A B C jadi-jadi aja jadi. Tapi you don't even know if it's good or not.

Betul. Ya, I yang bahaya menurut gua karena EAI ini bisa diakses sama semua orang. Sekarang banyak supervisor boses itu ngerasa bahwa asli gampang bikinnya. 5 PR rilis mah gampang emang. Iya gampang.

Benar enggak benar tasteful enggak tasteful enggak tahu lu. Kayak lu kreatif keluar tapi apakah taste nya lu terhadap itu adalah taste yang represent your target audience? Kayak kalau gua lihat. Exactly. Exactly.

orang beda-beda gitu tnya gitu. Let's talk about taste. Ee perjalanan perjalanan lu dulu ya. H gimana caranya lu bisa dapat taste yang lu punya sekarang? He he.

Kalau gua sebetulnya ee gua berangkat dari musik dulu karena gue dari SD itu gua udah mulai main drum terus SMP main gitar terus akhirnya nge-band lah gitu walaupun bandnya enggak jadi ya. Asik. Cum cum itu nomor dua band band garasi ya. garage band. Asik.

Iya. Iya. Terus ee bandnya enggak jadi. Tapi dari situ gua belajar kalau musik itu kan art form juga kan maksudnya sebuah seni juga lah gitu. Terus gua belajar oh sound ada e nada yang orang suka dengerin gitu.

Ada lirik yang orang suka e rasanya kayak nih sedih nih buat gue tersentuh dan segala macam gitu. Jadi kan ee ya art itu kan it's about feeling gitu. Kadang-kadang lu ngelihat sesuatu kayak ini apa maksudnya gitu misalnya lagu mungkin bisa lu dengerin gitu. Cuma kalau misalnya lukisan, lukisan ini apa ya, abstrak apa ya maksudnya gitu. Cuman emang kita enggak tahu kenapa ngerasain sesuatu gitu dari itu gitu.

I gitu. Nah, itu gua berangkatnya dari itu sih dari ee perasaan gua sendiri akan musik awalnya gitu. Habis itu baru mulai ke ngelihatin gambar kayak art gitu, lukisan, terus gua ee baca buku, terus gua nulis juga, terus gua kayak nonton film. Ee ya gua memperbanyak referensi g dengan banyak hal yang gua lihatlah gitu datang ke exhibition. jalan-jalan misalkan ke ee luar Jawa gitu atau luar negeri gitu-gitu.

Jadi emang memperbanyak referensi yang menurut gua bagus di kepala gua, menurut gua bagus dulu gitu. I habis itu baru gua melihat apa yang menurut orang lain bagus gitu. Habis itu gua ee bertanya sendiri di kepala gua kenapa yang menurut dia bagus gitu. Kayak misalnya hari ini gua pakai sepatu New Balance gitu menurut gua bagus gitu tapi Jonte pakai sepatu fans menurut dia pasti bagus gitu. Tapi gua penasaran kenapa ya Jon suka sama fan.

Iya lu lu e in a sense berusaha berempati. Iya berempati. Dan gua mencoba cari tahu kayak kenapa ya tes orang begitu gitu sehingga gua jadi tahu ee membuat misalnya gua membuat sebuah marketing yang untuk ee ee apa ke audiens tertentu gitu misalnya buat ee umur-umur kayak kalau misal salah gini apa yang biasa disuka ya gitu. Jadi mempelajari tes e orang dan mempelajari tes diri gua sendiri sebenarnya gitu. Apakah ada band, film, h eh artis mungkin yang man lu nge-fans aja ada enggak?

Tapi enggak mau ketemu gitu. Asik, Kak. Takut menyesal kalau ketemu katanya never heroes katanya. Ya kan? Ada enggak tapi yang berbekas banget, Bro?

Itu tuh a part of my inilah pas gua pengin apa acquiring taste misalnya. Dari sini kita tahu tesinya dia nih. Nah, ya ini kita kan bisa ada contekan ini. Ini kan buat edukasi. Edukasi salah masih itu.

Iya. Kalau gua e dari berangkat dari awal tuh pas gua SMP tuh sebenarnya nih kejadiannya aneh sih. Jadi gua waktu itu pernah ngantri nyokap gua ke ee pasar lah gitu. Terus nyokap gua beli sesuatu ee beli ee belanjaan lah gitu. Nah, terus gua ngambil sebuah plastik gitu dari sebuah meja.

Gua kira punya nyokap gua. Tapi ya udah gua masukin aja. Pas gua buka ternyata isinya kok bukan belanjaan, isinya kaset CD. Itu kayak punya orang deh gitu. Nyolong.

Salah salah, salah, salah. Tapi gua mau balikin juga bingung nih punya siapa gitu. Kasetnya juga jujur zaman dulu bajakan sih kasetnya gitu. Bukan real ee maksudnya bukan distribusi asli dari label gitu. Terus gua dengerin, nah itu bandnya tuh beling 182 waktu itu yang gua dengerin ya.

Pada saat itu i gua dengerin kayak oh nih orangnya fun juga ya. orangnya kocak, terus ee style-nya juga santai, tapi cara main musiknya tuh keren gitu. Jadi kayak dia tuh kayak ee membuat komposisinya tuh menarik pada saat itu gitu. Karena kan gua sebelumnya gua ngelihat band kayak misalkan kayak Queen, kayak Beatles kan tuh kayak formatnya tuh serius banget kan kayak Queen harus jago banget nyanyinya gitu, jago banget main gitarnya gitu. Kayak Beatles kayak cournya harus yang walaupun lu dengarnya gampang tapi itu cordnya sebenarnya agak susah ya kalau Beatles gitu terus tampilan rapi gitu.

Karena begitu bling tuh dia tampilannya santai banget gitu. Kayak dia bisa mendog eh mendobrak stigma ee musik aja di kepala gua waktu itu. Walaupun mungkin sebelumnya udah ada ya kayak Nirvana dan segala macam gitu. Nah ee gua suka hal yang kayak gitu tuh yang kayaknya di luar kebiasaan waktu itu karena gua tahunya pertama kali ya bling itu gitu. Oke.

Tiga orang bikin e musik opang terus dengan danan yang santai gitu. Itu menurut gua tuh juga nih seninya gitu menarik gitu. Iya, gua mau nanya ini maksud gua been talking about creative work and all that. Tapi maksudnya di dunia marketing that I know kreatif itu outputnya tuh banyak tuh. Are we talking about the visual?

Kayak misalnya waktu Iya. Kalau dulu kan KV itu ATL gitu yang cuman sekali approve stay lama atau di dunia digital yang which is masuknya ke sosial media konten. Oh iya harian sehari bahkan bisa ber belelas kali kali gua enggak tahu deh tergantung brandnya. Dulu tuh gua belajar ada yang namanya Hub Hin Hero, konten yang mana karena kalau misalkan lu harus produce di visual yang bagus setiap hari sehari tiga kali lumayan juga cuy enggak realistis juga enggak realistis juga. Nah, terus ada lagi yang bilang eh creative activision dan menurut gua juga kayak DPR juga pasti akan butuh creative angle dananya.

Maksud gua when you talk about creative itu maksudnya sebetulnya impactnya tuh di di dunia kerja atau di di sebuah corporate tuh sampai mana sih? Sampai sejauh mana gitu. Hm. Impactnya sih kalau kreatifnya menjawab bisnisnya harusnya impactnya gede sebetulnya. He kan kreatif itu kan sebenarnya solusi kan kayak tapi kita harus tahu ee masalahnya tuh apa sih yang lagi kita hadapi saat ini gitu.

Kayak misalnya gua ee paling gampang contohnya tempat kerja gua sekarang gitu di Bank Jago gitu. H problemnya kan ee waktu pertama kali keluar itu kan orang tuh punya banyak ee eh bukan punya banyak e eh orang punya banyak bank untuk berbagai macam rekening kan kayak misalkan ee bulanannya ditaruh di bank A gitu terus liburan di bank B gitu kan. Nah, begitu Bang Jago masuk kan kita menjawab ee menjawab problem itu kan. Jadi dalam satu akun tuh bisa bikin berbagai macam rekening gitu. Nah, itu dari produknya, kreatif produknya gitu.

Habis itu di eh creative marketingnya juga apa yang kita bisa buat nih untuk ee membesarkan lagi nih si messaging tentang produk ini dan si kantong ini gitu kan. Namanya kan kantong gitu ya. Eh, terus ya kita bikin sekarang tuh ee namanya semua ada kantongnya gitu. Kayak dari kebutuhan lo yang ee paling dasar sampai yang paling mahal tuh bisa disiapin di berbagai macam kantong gitu. Nah, habis itu tinggal kita bermain ke expression kayak apa aja yang mau kita buat nih.

Misalkan di TikTok kita bikin video vertikal tentang orang yang misalkan kepalanya kantong gitu misalkan gitu ya. Jadi itu udah eksplorasi kreatif gitu ataukah kita misalnya bikin di eventnya tuh e semua bootnya tuh isinya kotak-kotak kantong doang gitu. Jadi emang alignment-nya tuh emang di awalnya tuh harus e lewat produk dulu gitu tapi kita harus tahu spesifik kayak problemnya itu apa sebetulnya. Enggak. Gua mau nanya lebih ke pengalaman gua kerja sama tim kreatif ya.

Kan gua dulu di brandnya terus gua punya tim kreatif tuh. Nah gua ngelihat sering banget tim PR dan tim kreatif tuh bentrok. H gua enggak tahu pengalaman lu di yang sekarang sama yang sebelum-sebelumnya karena kayak beda kepentingan gitu. Kayak yang satu tuh pengin bikin sekreatif mungkin, seek explore sejauh-jauhnya lah. Tapi dari segi PR tuh ngerem.

E lu jangan lu nanti ee ada bisa backlash lain. Banyak perlu sendiri tuh sebenarnya gimana cara lu balancing ya between lu tetap bisa explore kreatif tapi lu tetap di ranah yang minimum potensi backlash. Oh iya. Eh, kalau misalkan ya contoh langsung kalau misalnya gua di bank sekarang kan emang udah ada peraturan yang tertulis yang tidak bolehlah gitu. Kita tidak boleh a ya sehingga kita tidak boleh ke situ gitu.

Misalkan salah satu yang gua inget adalah kita tidak boleh beriklan dengan talent anak kecil gitu. Kalau ada anak kecilnya ya udah enggak kali ini berarti sama orang tuanya gitu. Jadi balancing-nya itu bukan kita benar-benar ngelawan si peraturannya, tapi kita lihat dulu nih peraturan itu apa yang tidak boleh habis itu kita adjust dari situ gitu. Walaupun memang ada beberapa hal yang kayak eh nih idenya cukup gila nih ee DPR bisa enggak ya gitu. Emang kita harus selalu double check sih sebenarnya karena terutama kalau industri banking kan regulasinya kan regulasinya ketat juga kan.

Itu emang ee triknya di situ cuman justru serunya juga di situ gitu. Enggak boleh superlatif. Iya. Heeh. Jadi, justru lu mesti kreatif banget in order to be able to inilah succeed di tengah regulations.

Tapi gue tertarik sama ini dalam sebuah perusahaan. At least kayak waktu lu di agency atau tempat lu sekarang kayak waktu lu bikin creative activision baik itu untuk jual produk, introduce new feature ataupun launching new product. Maksud gua keterlibatan kreatif itu mulai dari mana sih? Kelibatan sih dari awal sebetulnya. Oke, dari awal.

Jadi ee kalau sekarang kan misalkan posisi gua kan emang kreatif internal di brandnya langsung gitu kan. He. Jadi bukan third party kayak di agency kan sebetulnya kalau sekarang gitu. Lu tadi pertanyaan gua pas di Bank Jok kan ya boleh maksudnya di mana aja di di your experience gua cuma tahu role kreatif karena bagi gua banyak orang menyangka kreatif itu just di output yang begitu kayak oh butuh visualnya nih ngomong sama kreatif gitu. Oh iya ya.

E mungkin gua baginya gini ya ada perbedaan fase lah gitu. Oke. Kalau zaman gua di agency kan gua bukan orang dalamnya brand kan makudnya. Gua bukan part of internal gitu. Jadi emang dikirim brief-nya aja gitu.

Gua pernah ada di fase e waktu masih junior ya suruh kerjain ni kopinya gimana, visualnya gimana gitu kan. Lu bikin aja gitu. Tapi mungkin begitu udah senior ya diinvolve kan nih brand ini punya problem ini solusi lu apa gitu. Nah begitu masuk brand tuh malah kita cari nih masalah kita apa ya gitu. Nyari masalah kalau iya karena kenapa brand kita stuck gini ya?

Kenapa ya gitu? Jadi kita mempertanyakan sendiri gitu. Jadi kita tidak mencari eh kita tidak menunggu brief lagi sebetulnya bedanya gitu ya. Tapi dari awal waktu lu bahkan trying to find what is the crude cause of the problem itu kreatif terlibat gitu. Terlibat tapi mungkin enggak semuanya ya.

Misalnya dari yang level e senior aja biasanya. Kalau yang level yang masih meet atau masih junior ya biasanya ya udah nih kita ada ide kreatif ini ee ya udah nih bikin gitu. Iya. Iya. Enggak ya.

Enggak semuanya dilibatkan dari awal lah. Tapi gua mau mau nanya juga sih menurut lu yang idealnya gimana ya? Tadi pertanyakan soal lu dilibatkan dari mana? Nah, kalau dulu tuh di tempat gua tuh ada campaign-kampaign yang nature-nya mulainya dari kreatif terus kita kayak support gitu atau yang udah jadi nih barang strategic direction udah ada, objektifnya udah apa baru kreatif di involve. Tapi menurut lu dari perspektif orang kreatif yang ideal tuh gimana sih?

Yang ideal itu sebetulnya tergantung prioritasnya sebetulnya. Kalau misalkan gini, kalau yang strateginya ada dulu dan segala macam baru creative itu kan memang itu kan kerja kelompok di awal kan dari orang brandnya, dari orang bisnisnya, orang kreatifnya itu kerja kelompok di awal sehingga pas sudah turun ya udah nih tinggal bikin aja gitu kan. Kalau yang tadi creative duluan itu biasanya emang inisiatif gitu eh gua lihat nih ada problem ini misalnya orang komen tentang X di Instagram kayak ini orang banyak nih yang ngerasa gini gitu kita bikin gini gimana gitu. Jadi emang tergantung ada PP yang lu address gitu ya. Iya, tapi biasanya emang inisiatif tuh ee tergantung ee fokus bisnisnya juga gitu.

Kalau emang fokus bisnisnya lagi kayak eh jangan ke sana dulu ya udah fokus ke bisnisnya dulu. Cuman kalau misalkan lagi eh ayo bikin apa ya yang lagi lagi ramai sebenarnya di sosial media orang yang ngomongin apa ya tentang brand kita activate gitu. Tergantung sebenarnya objektifnya lagi ee brandnya lagi mau dibawa ke mana sebenarnya sih gitu. Eh, sekarang nih kan marketing juga banyak yang very performance centric misalnya ya kan yang kadang-kadang enggak selalu seirama juga ya creatively gitu ya kan. Nah itu tuh how do you view that eh sama ya idealnya kayak gimana sih antara si performance sama si creative nih?

E can they exist in the same world lah menurut orang-orang yang di performance yang dengerin harus dengerin dari I was guilty of it juga oke ya kan lu lu anggapnya lu ngomong ke J tapi sempat kita bahas sebentar kemarin enggak sih terakhir yang episode terakhir tentang kalau ganti KV tes e AB testing karena orang performancnya as far I know adalah kayak lu harus lihat ini udah ee fetik Belum. Lu harus refresh. Iya, refresh. Kalau ininya udah ini mesti diapain? And the more kayak automated it is kayak misalkan e Google eh UAC gitu di mana dia nentuin sendiri kan channelnya kan.

Asli. Jadi lu harus siapin semua formatnya. Baik dia copy, desain, ukurannya semua disiapin semua. I ya. Ini nih kan kita ngobrol doang ya.

Opini menurut keyakinan masing-masing ya kan. Oke. Gimana? Gimana? Eh, tadi mungkin e jawabannya udah sempat disangle sedikit ya sama Stepanie.

Tadi memang ada perbedaan kalau di performance itu emang harus banyak testingnya sih karena itu kan materinya lebih banyak dibanding yang biasanya kan. Kalau misalkan kita bikin sosial media post itu satu konten gitu kan. Tap begitu masuk ee apa performance tuh materiya tuh banyak banget dari size kecil sampai size besar gitu. Jadi banyak banget sizingnya. Jadi harus banyak adjustment dari satu visual gitu.

Misalkan ee ukurannya 1080 * 1980 tuh ada yang dibigo itu lebih kecil lagi. Nah, ketika lebih kecil itu kan kita harus adjust lagi tuh kayak apakah kopi yang lebih besar gitu, visualnya enggak ada gitu atau yang di sini ee oh mungkin CT-nya lebih besar lagi gitu. Cuman ee satu hal yang mungkin bisa dinote saat bikin performance adalah memang call to actionnya harus jelas sih. H kayak harus sejelas mungkin gitu. Jadi kalau bedanya dengan yang level awareness, level social media kan itu kan bisa storyting yang lebih panjang kan.

Kalau di ee performance kayaknya emang harus lebih jelas nih jualnya lu mau buat apa nih produknya gitu. Jadi orang langsung take action akan itu. Itu sih lesson yang ee gua dapatkan gitu ketika di jago sekarang gitu. Nah, walaupun ee di apa ya, di performance juga sebenarnya kan ada satu apa ya, satu platform juga kan, tools gitu yang bisa ngelihatin performance dari setiap channel tuh gimana sih gitu performance-nya itu. Itu juga kadang-kadang kita baca juga tuh.

I buat tahu gitu. Seorang kreatif itu kan pasti punya pride. Maksudnya ini hasil karya gua. Karena bagi gue itu hasil karya loh. Iya, karena it's almost art like ya kan?

K menyerupai art orang-orang kreatif tuh idealis semua, Men. Semua orang kreatif gua ketemu idealis banget. Tapi kalau lu ngomongin performance yang penting buat mereka matrixnya adalah conversion. Whether it brings click ataupun registration gitu kan. Menurut lu pin waktu lu bikin creative work buat performance tadi yang banyak ukurannya dan setiap 2 minggu sekali lu harus ganti itu satu channel ya.

Kalau lu banyak channel banyak banget turunannya cuy. Menurut lu hasil kreatif lu akan degradable enggak sih? akan menurun enggak sih secara kualitas? Sebetulnya enggak sih. Karena gini, saat eh kita membuat satu KV itu kan kita udah punya satu form yang menurut kita nih udah secara artistik ini udah bagus gitu.

Oke. Iya. Dari sebuah gambar kayak logonya berapa persen, terus copyright-nya berapa persen, CT-nya berapa persen, terus gambar orang berapa persen, itu kita udah udah di-lock tuh di formula itu gitu. Habis itu setelah diturunin ya tinggal kita lihat nih berarti kalau misalkan ee ukuran segini orangnya enggak ada nih karena kegedean kopinya aja gitu atau di sini nih lebih menarik e kalau misalkan orangnya ada nih sama C doang gitu. Jadi emang kita adjust dari situ.

Cuman yang harus kita buat yaitu formula awal si KV utamanya itu buat kita jadikan patokan lah gitu. Karena kalau enggak pasti debatnya tuh akan panjang tuh kenapa gini, kenapa gini, kenapa gini gitu kan. I oke komposisilah ya. Iya. Komposisinya harus disepakati dulu di awal kayak lu udah tahu nih tinggal komposisinya ini tambahin dikit ini kurangin.

Iya kayak gitu-gitu. Iya. I oke. Makudnya kita orang performance itu cuma lihat number men. Number aja.

Klik berapa ini? Kayaknya harus diganti nih. Kliknya kecil deh gitu. Kalau orang PR ngelihat ini nih bisa bisa dipresif apa nih? Resikonya apa nih?

Beda-beda emang lu jadi lu mengcat tuh a lot of need sebenarnya orang kreatif. Asli asli asli dan ribut mulu tim PR gua tuh ribut mulu sama tim kreatif sampai hari today day mereka masih berantem guys tentang apa gitu ributnya tentang apa biasanya ributnya biasanya tentang kayak kayak kreatif tuh merasa lu membatasi kreativitas gua banget kenapa lu banyak banget aturan gitu sedang kalau dari PR kan eh itu gue punya tadi punya playbook I have this eh assessment kayaknya nih lu kalau lu kayak gini kayak lu nanti akan bisa dipersif jadi banyak banget pertimbangan dari PR yang kayaknya enggak bisa dim sense sama tim kreatif jadi terus-terusan aja begitu. Iya. He. Enggak tahu lu ngalamin enggak sih?

Ee gua ngalamin tapi emang itu kayaknya kuncinya di ee kesepakatan akan guideline-nya satu. Yang kedua tuh di team work-nya sebenarnya sih. Kalau di tim gue yang sekarang tuh emang kebetulan tim kita lumayan ya lumayan kompak lah gitu. Jadi kalau misalnya ada isu kita malah mencarinya tuh selalu di tengah aja nih. Maksudnya bukan win loose tapi win-win nih.

Kalau misalkan kita bikin sebuah ide idenya liar banget terus kayak Korkom ee atau tim lain kayak bilang nih kayaknya terlalu liar nih dianya. Tapi bisa diondown gitu. Kalau gua salah berpedomannya gini, mendingan kita bikin ide gila terus diturunin daripada kita bikin ide yang di sini nih. Jadi jatuh banget gitu. Iya.

I justru emang kreatifnya harus segila mungkin gitu sehingga kalau diturunin tuh enggak enggak terlalu jelik banget gitu kreatifnya. Jadi masalahnya di orangnya gua gak bilang kan dengan lu AI banyak bangetlah ya konten-konten yang mungkin e dengan mudah gitu loh orang bisa bikin orang bisa generate lewat prom. Tapi sebagai orang kreatif yang sudah lama di kreatif, ada enggak sih campaign yang menurut lu ini keren banget nih Indonesia? Ya gua bahas jangan bilang kompetitor ya. Tunggu dulu.

Enggak boleh tempat lu bekerja sekarang biar adil ya kan. Kompetitor boleh. Heeh. Kita kita enggak ngomongin bahwa kayak wiih gila nih campaign gitu kan Bang Jago enggak bagus. Pasti bagus bro kan Alvin ada di situ tapi enggak Aci yang lain.

Iya. Iya betul betul. E gua bahas yang karen aja ya yang lagi ada gitu. Kemarin tuh tahun lalu gua ke Citra Pariwara. He.

Terus gua ngelihat ada satu campaign dari agency namanya Hij 7 itu mereka bikin campaign-nya eh tentang insight tentang mudik untuk Honda gitu. Jadi insightnya adalah saat orang mudik itu kan banyak kecelakaan dan segala macam kan karena rest areanya itu susah didapatkan gitu jauh-jauh lah gitu. Nah, akhirnya idenya adalah ya udah semua dealer Honda yang sepanjang jalan mudik dijadiin rest area ditutup pakai banner gitu. Ini ada rest areamu. Segitu doang ideya.

Jadi kayak bagus banget ya gitu. Sesimpel itu. Nah, gua tuh juga lumayan gua suka banget sama ide yang kayak gitu. Kayak simpel cuman taruh banner doang udah jadi ide gitu. Tapi mengena gitu ya handphone-nya dapat banget.

Emang dibutuhkan orang gitu pada saat itu iya untuk kayak gitu. Maksudnya gua lebih kalau gua gue preference pribadi ya. Gua lebih suka ide yang seperti itu dibanding yang kayak harus harus crafting panjang try. Trying to hard. Kalau yang trying to hard banget nih ini nih kayaknya nih prosesnya dipikirin banget.

Ada enggak? Enggak usah sebut, enggak usah sebut enggak gini gini atau mungkin yang di luar kan kita kadang-kadang ngelihat patokan kita di Jepang di manatif nih. Iya. Iya. Ee try to hard ya.

Apa ya? Kalau gua lihat sih sebenarnya gini ee gua agak kalau sekarang ya dulu gua suka sih sebenarnya gua disklaimer dulu gua suka tapi kalau sekarang tuh gua sebenarnya kurang suka yang campaign yang menyerang-menyerang brand lain gitu sebetulnya. Oke. Masih zaman tuh ya. Makanya dulu gua suka, tapi begitu gua sekarang kayaknya gak kena ngapain kayak gitu ya gitu.

Yang lu suka tuh yang mana? BMW, Mercy, Burger King, McD. Yang gua suka Burger King McD gitu. Burger King McD gua suka. Tapi begitu yang Apple sama Samsung kan Apple bikin terakhir yang yang terakhir yang dihancurin terus dia dilawan lagi kan ee dibalikin kalau misalkan e yang ngomongin iPad kalau enggak salah.

Tapi gua agak lupa story-nya gitu. Jadi kayak ngapain sih kayak gitu kayak gua lebih ke situ ngapain sih bikin kayak gitu gitu kayak soalnya enggak tahu ya kalau sekarang tuh ee untuk lu stand out tuh tidak harus nge-drag brand orang aja sih gitu bikin sendiri gitu kalau di kepala gua gitu banyak Upin masih brand sekarang yang masih di Indonesia juga ada cuman ya tapi di Indonesia kayaknya enggak terlalu umum ya maksudnya secara gua enggak tahu secara hukumnya boleh atau enggak ya tapi kayaknya enggak umum kalau di luar negeri kan biasa ya kayak BMW Mercy, Burger King sama McDonald's. Pepsi sama Kok itu udah it's been there for decades lah. Menurut gua itu akan menarik karena itu akan jadi perang creative thinking kalau misalkan lu mainnya kelasi gitu loh. Kalau lu kayak brutal nyerang kayak jadi cuyas.

Jadi enggak ada war of kayak critical thinking dan rusuh aja sembarangan gitu ya. Ee ini nih juga kemarin kita sempat ngobrolin sedikit kan sekarang itu ada ee PP ya kalau enggak salah PP itu larangan sosial media. Oh ya kan ee salah satunya itu kita kepikiran apa nanti akan balik offline lagi mesti bikin event lagi. Mesti kayak zaman dulu lagiah zaman kita di mana kita enggak punya eh social media growing up gitu ya. Aku gua penasaran ee pandangan lu satu ee setuju apa enggak dengan larangan medsos ini sampai dijadiin ee PP gitu ya?

Apa enggak perlu sama kedua? Gimana nih apa buat orang-orang di sana yang mungkin ee berusaha untuk mendapatkan perhatian dari golongan umur tersebut? What can they do nowadays menurut lo? Ya, gua pandangan orang yang sebelum merasakan teknologi sehebat ini ya. H ya kalau menurut gua memang untuk orang punya akses teknologi tuh memang harus punya critical thinking atau common sense dulu gitu di awal.

Karena biasanya kan kalau anak-anak dapat informasi yang sangat besar kayak gitu kan mereka juga nyarinya belum tentu bisa gitu kan. Betul itu. Jadi kayaknya emang harus ada certain certain umur yang harus e disepakati gitu. Cuman berapanya ya itu mesti ee dari riset lah gitu. Iya.

Cuman kalau untuk mentargetkan si anak-anak ini gitu misalkan kayak kita mau bikin sesuatu ya emang harusnya kan kalau di kepala gua tuh emang anak-anak tuh harusnya tuh main gitu. Kalau di kepala gua makanya gua dari kacamata orang yang belum pernah teknologi gitu harus main, harus berkoneksi gitu. He. Ee sehingga emang tempat yang tepat untuk ng-reach mereka memang di luar gitu, di lapangan main atau di sekolah atau di mana gitu. sehingga ee jadi lebih experience-nya tuh lebih dapat gitu.

Iya. Ee lu melihat ada shift, ada perubahan eh the way eh orang Indonesia konsum media misalnya, ada enggak sih perubahan drastis gitu? Kalau dari TV ke yang lain-lainnya kan udah lumayan lama ya. He. What's next gitu?

Menurut lu medium apa nih yang big berikutnya dan menurut lo brand-brand harus ada di sana? Hmm. Jangan bilang NFT ya, siapa tahu masih ada yang di sana. Asli. Iya.

Kalau ee mungkin nyambung sama yang tadi poin pertama tentang AI itu je ee sebetulnya ini sebenarnya agak di tengah ya ponya nih ee negatif atau positif gitu peran AI gitu. Cuman yang menyeramkan itu adalah sekarang kan orang itu bisa jadi influencers dengan bermodalkan AI gitu. Lu pernat enggak sih yang di Instagram tuh yang cewek e kulitnya agak hitam? Asli maksudnya itu tuh kayak seram tapi ini bisa positif atau enggak ya gitu. Di kepala gua juga berpikiran seperti itu gitu.

Jadi untuk a brand gitu gua enggak tahu misalkan kayak harga untuk kita bayar KL atau ee media itu kan kayak cukup pricey kan. Tapi begitu lu bikin sendiri dengan sosok sendiri yang emang mewakili brand lu itu kan lebih murah gitu untuk dibuat gitu ya. Mungkin future-nya ke situ gua ngelihatnya. kayak ada orang buatan untuk mewakili sebuah brand atau institusi gitu. Itu tuh ya the next big thing ya.

Iya menurut gua itu sih yang ya enggak bisa mati lagi. Jadi brand ambassador forever terus putusan muda terus-usan kecil gitu yang sempurna. Never age asik ngeri banget cuy buat produk kecantikan tepat banget. Mudah terus muda terus cuy. Lu gua mau nanya nih.

Lu tuh tipe-tipe orang kreatif yang tipenya pokoknya begitu ngelihat tren lu harus ikutan. you have to jump to the wagon atau tip-tipe kreatif yang kayak ini enggak worth doing deh. I'll just wait for another trend. Enggak semua sih yang harus diap in gitu karena sejujurnya eh banyak tren di Indonesia tuh yang arahnya negatif kan maksudnya lebih banyak pting viral gitu lebih banyak. Iya asal viral.

Coba lu preach man. Lu kasih tahu mereka tuh jangan asal viral. Apa yang harus diperhatikan sebelum jam ini kan e masuk ke tren-trending apa yang harus diperiksa dulu menurut Pak Alvin pakar asik sebagai pakar ya kan ee kayaknya yang harus ee dicek dulu sebenarnya konteksnya sih sebetulnya karena ee ini mungkin agak agak berat ya jadi kayak sekarang kan banyak banget tuh kasus pelacihan seksual atau kenan seksual kan itu yang sebenarnya ee cukup viral gitu. Nah, menurut gua tuh yang kayak gitu-gitu tuh harusnya tidak usah diap in gitu. Atau misalkan ee kasus-kasus yang ee misalkan ada ee ibu-ibu kecelakaan atau apa gitu yang negatif tuh harusnya tidak usah di-tap in gitu.

Cuman enggak tahu gua juga. Makanya tadi balik ke bagian critical thinking sama eh building context buat eh foundation di kepala kita tuh karena orang tuh kayaknya enggak tahu deh apa yang harus ditapin atau enggak gitu. Yang negatif atau enggaknya neginya tuh susah gitu. Kayak misalnya gini, gua ngelihat ada video TikTok tuh enggak sih lu yang anak kecil naik truk yang joget-joget gitu. Itu kan ada yang pernah ketabrak kan sama truknya itu yang kayak stopin.

Iya, itu kan trennya aneh enggak sih? Maksudnya kenapa ada tren habis lewat terus anak kecil gitu gitu ngapain sih? Enggak jelas ada. Tapi menurut gua lebih berat lagi karena itu karena orang mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya boleh atau tidak dan negatif atau tidak itu bahkan tidak tahu definisinya itu belum tahu gitu. Knya lebih susah kayak yang orang-orang lagi pada sulit cari kerja tiba-tiba dia enggak dapat kerja itu ya.

Iya. Nah. Nah, itu tadi off off cam kita ada bahas sedikit tuh. Iya. Apa namanya?

Senso suatu pasta gigi lah. Sebuah pasta gigi sensodine ini kita ngobrol nih apa namanya tanpa ill intention lah. Kita kita cuman memberikan opini kita, keyakinan kita. Yes. Jadi bukan bermaksud ngapa-ngapain apa adanya lah ya.

Itu tuh salah satunya mungkin ee ya kadang-kadang tricky juga sih, right? Kita tuh mesti give props juga l buat mereka. They tried to do something. It works in a sense, tapi memang mungkin follow through-nya eh terhambat lah. Ada ada iya stuck in the middle gitu ya.

Enggak, enggak sampai komplit. Makanya itu lead eh to next question sih. Sebetulnya tadi kan Alvin bilang bahwa kreatif itu mostly about taste dan lu harus tahu nih orang yang pegang kreatif have to have the taste yang e understand yang target audience loh. Kalau enggak tuh lebih miring gitu ya. Atau sebetulnya ada kayak semacam guidelin pakem yang lu bisa ikutin walaupun di dunia kreatif sampai to point di mana supaya those kind of eh slip itu enggak happen gitu.

Maksudnya virality sometimes kayak aneh banget, man. Kayak lu enggak nyangka hal yang kayak menurut lu kadang-kadang simpel atau funny, bodoh, bahkan sekalipun kayak oh tiba-tiba viral. Kayak misalkan itu loh apa yang Oh, yang perah. Iya. Apa sih namanya itu?

E apa yang mana sih? Lupa yang anak kecil yang di perahu sampai dipanggil dipanggil di istana kan. Iya sampai sana orang luar negeri pada ini pacu jalur. Iya pacu jalur pacu jalurcu jalur ya. itu sampai sana itu kan at the time huruf talkens man and the nonsensical other things is the om telet om remember also very nonsensical what the hell was that gua kayak itu apaan sih tapi fire man dan banyak brand yang successfully tap in ada yang enggak gitu nah tapi menurut gua kayak yang yang kita harus tahu itu sebetulnya ada batasan enggak sih atau gimana nih gimana caranya recognize kreatif yang memang spot on atau kreatif yang kayak yang tadi yang menurut gua mungkin mesti dihindari gitu karena semuanya out of the box, man.

Iya. Kalau menurut gua sih sebenarnya gini sih ee kalau untuk creative spot on sebetulnya emang kita harus tahu persona brandnya tuh apa sebetulnya mewakili apa gitu kan. Karena kan berbagai macam brand tuh biasanya punya persona gitu. Ee ini gua ee baru baca juga. Jadi kalau beberapa brand tuh ada istilahnya brand archetype gitu kayak Apple itu magic gitu karena dia membuat produk-produk yang mungkin dulu enggak pernah kepikiran kan.

Heeh. Gitu. Terus misalnya Mercedes-Benz tuh brandar KTP ruler gitu. Jadi buat orang-orang yang emang suka di belakang gitu, bukan nyetir gitu kan. Jadi biarin e orang nyetir tentang lu deat fits rebel gitu.

Iya gitu-gitu ada attitud-nya. Jadi yang mau di define itu dulu kalau sebuah brand gitu. Nah dari situ baru kita tahu nih tren apa yang bisa diap in sama brand tersebut gitu. Kalau tidak sesuai dengan value-nya ya tidak usah gitu. Makanya tadi gua bilang tidak usah semua tren di-tapin karena emang tidak tidak semua tren tidak bisa di-apin maksudnya enggak usah di-apin gitu karena emang banyak yang aneh juga gitu buat kita cobain gitu.

Lu terekspos enggak sih sama tren-tren dracincin ini yang di TikTok? Iya TikTok, Instagram. Dia adalah CEO dari perusahaan atau dia adalah anak yang hilang dari ini. Itu tuh menurut lu gimana tren itu? Karena gua udah lumayan banyak lihat beberapa brand tuh bikin konten-konten itu.

Nah, mungkin kalau dari sini ini ya eh KT-nya adalah kita bisa tap in tren yang e apa yang rol-nya tuh treatment ya, bukan isu. Oke. Issu tuh agak tricky tuh buat kita tap inin. Nah, kalau treatment menurut gua enggak apa-apa. Itu kan treatment kan.

Treatment drama Cina tuh modelnya gitu gitu. Dulu juga dror gitu kan. Iya. Ada gua pernah lihat ada satu video lucu banget. Jadi ee cara-cara di film-film berbagai negara tuh saat ditembak gitu misalnya berak lucu banget pas Korea pas Korea gini itu kan lucu ya treatment gitu.

Jadi kalau treatment sih tetap maksudnya masih bisa diap in sih gitu dan lucu banget gitu ya. Dracin tuh salah satu yang menarik sih. Nah, kalau ngomongin Dracin gua malah ngelihatnya adalah ini bahaya buat cara kita menonton video yang lebih panjang soalnya karena kan dia di berbagai secondnya tuh ada twist twist twist gitu kan. Nah, lu misalnya nonton film itu kan twistnya paling satu gitu atau dua gitu. Jadi lu jadi enggak sabar gitu buat nonton Iya.

Jadi mangin rendah justru banget ya nonton next episodenya mana sih? Kan sekarang lu dijujulin sama apa ads-ads juga kan. Selain Dracin tuh ada juga kayak video-video pendek yang bisa jadi white people, bisa jadi orang tapi pendek-pendek. I itu ads sebenarnya kan. Nah, itu kayak sekarang tuh enggak tahu di algoritma gua tuh muncul mul karena gua nonton kayak sekali dua kali gitu kan muncul terus.

Sebenarnya apa sih yang lu konsum di TikTok lu? Asik asik banyak dari Dracin Om Telolet tadi tu ketahuan apa karena banyak juga yang ini kalau di TikTok udah mulai dari lama sih kayak orang cerita cerita tentang I don't know lah mungkin chat GPT story-nya I don't really care gitu tapi dia cerita tiba-tiba keluarin make up man sambil make up sambil cerita itu ada brandnya men tanpa orang sadar you are exposed to the brand memang dia enggak jual tapi you are used to with that brand kayak, "Oh, kayak ini orang ini aja pakai kayak dia enggak jualan berarti real gitu." Iya, selling without even selling. Ya, selling. Betul. Itu juga banyak cuy.

Iya, banyak. Itu itu kayak dulu tuh kayak Apple tuh zaman dulu kan di film-film tuh orang laptopnya Apple kan. Tanpa kita sadar tuh iklan. Gua jug juga ya. Engak enggak terasa.

I strategis banget dia menempatkan di karakter-karakter tertentu bukan masal. Semua pakai enggak pernah kayak gitu. The good guys. Heeh. Benar.

Kayak misalnya gua ingat dulu tuh Carie Bread Show, Sex in the City itu Apple I kan itu iya the laptop tuh Apple gitu kayak karakter-karakter yang mungkin Apple banget gitu. Itu yang dia eh lakukan placementnya placementnya strategic. Chim scandal semuanya surface gila. Iya iya iya iya. Korea lebih parah lagi.

Korea ya banyak banget kopi kok ada di sana men. Iya. Nah kalau Korea gua enggak tahu ya. Gua ngerasanya kayak kurang smooth gitu karena mungkin strateginya udah ada sebelumnya ya. Pas gua belum tahu app kan gua sebelum e makudnya sekarang gua anak iklan gua jadi tahu itu Apple zaman dulu iklan kan kalau dulu kan gua enggak tahu smooth gitu rasanya tapi karena itu udah ada strategi terus dikopas jadinya eh sama nih gitu lu tahu gara-gara lu kerja di kreatif kali exactly ya tahu enggak tahu ya tapi kayaknya beberapa orang juga udah mulai kayak ada ada enggak sih tiba-tiba telepon kayak misal langsung kelihatan banget ya di drama Korea kan ada tuh handphone Samsung gitu kan kelihatan gitu gua tah gua merasa kayak ih kok terlalu kelihatan soalnya banyak juga sekarang Sekarang brand itu sponsoring movies di I banget banget banget banyak yang banyak yang approach juga proactively ngapproach ke brand eh gua bikin film nih proyeknya ini, artisnya ini.

Ada kesempatan buat tap inin lu mau enggak? Eh gua mau circle back ke Thailand. Hm. Dan lagi-lagi ada hubungannya dengan taste. Apa yang lu lakukan, man, pada saat ee orang ee yang lu lagi mau hire atau yang sudah lu hire enggak punya taste?

Apa yang harus wejangan apa yang lu akan kasih lah buat yang merasa itu el. It's not the end of the world. Kita dengerin wjangannya apa. Apa yang harus dilakukan. Kalau taste itu kan personal ya.

Jadi memang cara kita ngomongnya harus personal juga ke dia gitu. Tes lu enggak enak ya, Bro. Langsung risan sih empat mata face lu nora juga ya. Gimana nih biar enggak nora? itu shortcut sih pernah terjadi Pin?

Iya. Eh beberapa orang yang kayak gitu. Gua juga pernah ee punya tim yang kayak gitu. Pernah juga zaman dulu internya kayak gitu gitu ya. Tapi bukan di tempat gua yang sekarang.

Iya Do. Pastinya lah. Aduh dulu kecuali sih. Aduh ya. Karena gini, kita harus admit juga taste itu preference loh.

Dan kita harus memang cari yang cocok sesuai brand. Jadi kalau memang yang ada pendengar podcast ini enggak cocok T sama Albit, it's oke kok. It's not you. It's not you. Iya.

Karena gua yakin gini, orang itu pasti akan sukakan sesuatu gitu, satu hal gitu. Iya. Nah, biasanya untuk orang-orang yang kayak gitu yang pengalaman gua biasanya dia sukanya anime tuh biasanya misalnya anime ya gua masuknya lewat situ. Gua masuknya lewat situ, gua ngobrol terus ya misalkan animenya apa ya? Ee misalnya One Piece gitu ya.

Ya gua nonton, gua baca buat ngobrol sama dia doang biar gua bisa masuk ke dunianya gitu. Kayak gue tuh waktu lu treatment ke gua enggak. Iya. Karena karena kalau ngubah tes tuh emang harus personal. Kalau enggak ya either langsung ngomong kayak tadi terus dia keluar.

Atau kalau emang lu merasa dia punya talent ya dicoba dulu gitu. Dicobaulik. Lu berusaha berbicara dalam bahasa yang sama. One Piece bahasa anime. Bahasa anime.

Iya. I iya. Yang gulingnya ada wifu biasanya. Tapi bisa maksud gua gini lu pernah enggak pernah pernah pernah dan terjadi ternyata ihoke juga nih belakangan ini pernah pernah pernah dicoba ee dan emang jadi berkembang gitu mungkin bukan yang langsung berubah banget tapi emang dia jadi tahu oh ternyata harus seperti ini gitu nah soalnya dari situ dari gua udah mengenal tesnya dia. Nah habis itu gua coba ceritakan apa yang menjadi tes gua gitu.

Jadi kita saling bertukar reference lah gitu. I. Habis itu yang kedua mungkin ee diajak main juga gitu nih ee kalau misalkan lu mau ada reference coba main ke sini atau ajak bareng nongkrong segala macam gitu. Karena iya tim kreatif tuh sebenarnya kayak kayak tim band aja gitu. Anak band kan harus ya in lu harus sepakat lah gitu.

Kalau enggak entah susah nih. Kalau enggak terlalu kompak jadinya bubar gitu. Iya gitu kan. Tapi yang yang nentuin taste yang cocok for that particular brand biasanya siapa? Maksudnya gini kan enggak mungkin lu ada tiga taste yang lu incorporate karena lu bingung dong.

Betul. Iya. Lu you need to have like one yang diagre Alvin. Tapi sebelum dari gua kan balik lagi tadi kan kita ada satu brand guideline terus ada attitude yang kita sepakati dulu tuh di awal. Awal habis dari situ baru kita tentuin nih kalau et ini tuh visualnya gimana ya gitu.

T of voice-nya gimana ya, copyright-nya gimana ya gitu. Habis itu baru kita sepakatin. Nah, tapi memang taste-nya itu kita sepakatin dulu di awal sebelum sebelum kita memberitahu ke orang banyak kalau ini tuh paling bagus buat ini gitu. Mesti kasih dulu. Makanya kalau anak-anak sosial media suka bilang kayak, "Oh, this is the person the personality of the brand gitu ya." Ya, gaya bahasanya gimana?

Kalau ya dipersonifikasi orang ini nih, brand ini kalau dijadiin orang tuh yang mana gitu kan. Tapi kadang-kadang ya pengalaman gua kerja sama beberapa orang kreatif ya, lu dikasih contoh, dikasih tone, brand tone, dikasih brand color, kasih contoh, contoc dia bikin nih sama gitu terus compare sama yang B nih tetap aja beda tadi taste itu tetap beda. Jadi, jadi lu kayak dalam brand guidelines yang sama kok jadi brand gua kayak begini, you know, even you give them the like everything lu udah scific mungkin tapi tetap jadi beda. Nah, experience gua ini positif ya. I'm not trying to be success or learning.

Cewek sama cowok pun bisa beda loh. I yang satu lebih feminin. Pemilihan warnanya, pemilihan-nya itu bisa beda loh gitu. Dua-dua bagus cuman jadi kayak you give the different personality of the brand aja. Iya.

Tapi emang sebetulnya untuk menyamakan taste tuh emang pekerjaan yang sangat sulit sih gitu. Karena di kepala kita bagus kan belum tentu di kepala orang bagus kan. Iya. Memang caranya tuh emang iterasi pelan-pelan. Ee maksudnya gua udah coba berbagai macam cara termasuk yang sangat hars gitu emang susah gitu.

Yang har itu udah pasti enggak berhasil soalnya. 100% enggak bakal berhasil gitu. Jadi emang harus pelan-pelan gitu. Terutama kalau kita kerja bareng partner gitu. Misalkan ee gua dibrand sama agency gitu, itu kan kepala kreatifnya beda tuh.

Kepala tim kreatif internal sama kreatif e tim exal tuh pasti beda banget gitu. Yang mereka merasa bagus i referens-nya pasti beda gitu. Bahkan yang kita sepakati sama aja bisa jadi pas bikin malah tetap beda gitu. Jadi harus beberapa kali memang tidak bisa sekali jadi gitu. Iya harus iteration berkali-kali.

Iya iteration berkali-kali gitu. Karena ini sori sebelum balik ke pertanyaan lu talent tadi ya. Karena menurut gua gini, yang menggunakan hasil karya kreatif itu banyak. H UI itu kreatif, ee sosial media, performance tadi kita bahas itu banyak gitu termasuk bahkan ee apa ya kerjaan kayak campaign i ATL banyak gitu maksud gua. Dan cara lu jaganya apalagi beda-beda nih mungkin gua enggak tahu lu boleh bahas ini apa enggak.

Eh, in your case, your specific brand sekarang kan maksudnya ada ekosistem. Maksudnya gue juga kadang-kadang kalau di bank gitu gua kerja sama sama partner atau gua kerja sama waktu itu sama emiten itu ada dua brand yang gua harus paduin. Sekarang enggak cuman internal team, I need to also paduin sama our partners gitu. Gimana visually jadi sesuatu yang ideal gitu. Iya.

Iya. Kalau kalau dari guid yang teknikalnya sih udah pasti color sama logonya tuh biasanya harus ada kan kalau misalnya kerja-kerja sama sebuah brand atau sebuah partner tuh ee logonya yang mana terus warnanya yang mana itu dulu tuh kesepakatan di awal karena itu bakal nentuin ee visualnya kan nanti habis itu baru masuk ke ediation eh brand gua ee spiritnya ini brand lu apa nih spiritnya gitu bisa disamain enggak jadi gini gitu habis itu jadi gini oh ya udah kontennya kita mau bikin gimana nih gitu apakah kita mau tapin trend A atau kita bikin sendiri dengan soal yang ini gitu ya. Intinya sih kesepakatan bersama lagi sih, cuman emang yang menjadi ee apa kolaborsinya itu adalah itu sih yang paling teknikal adalah logo sama color-nya biasanya sama spirit brand-nya gitu. Itu yang selalu jadi perdebatan soalnya. Oke.

I apa tiga trades yang kalau nih orang punya lu enggak bakal hire? Hm. Nih lu kalau tiga ini lu you're not gonna be on my team lah. Apa ya? Kalau kreatif itu kan sebenarnya visual ya.

H ee jadi biasanya tuh kalau visual harusnya lu bisa menampilkan penampilan lu tuh se representnya gitu. Nah, jadi tuh gua lihat itu dari CV sama Portonya dulu gitu. Seberapa kreatif lu, seberapa beda lu dalam membuat itu gitu. Karena kalau kita ngelihat CV itu kan kayak banyak banget ya gitu. Kayak misalnya sekarang gua lagi sortir CV tuh banyak banget sampai ratusan gitu.

Gua cuman klik nih kurang kurang kurang kurang gitu secepat itu gua karena semuanya sama tuh putih putih putih putih putih putih gitu. Oke. Ingat ya jangan putih kalau bikin CV ya. Yang gua enggak ada isi man Cam Nortfone men as harus ada yang stand out aja gitu dari CV itu. Terus yang kedua setelah gua cek dari CV kan interview kan gitu.

Kalau interview biasanya gua ee bertanya tentang reference tuh. Nah itu gua bisa tahu dari reference yang dia keluarin nih kayak brand yang dia suka atau e Instagram yang dia follow gitu. atau banyak halah yang gitu IBC dij gitu atau gua bisa tanya kayak lu biasanya datang ke event musik apa atau lu biasa datang event apa aja gitu. Jadi experience hidupnya tuh gua juga pengin tahu karena itu bisa itu bisa jadi hal yang ee membentuk lo sekarang gitu asli. Karena yang gua lihat tuh dari situ tuh adalah karakternya soalnya.

H karena kreatif itu kan masalahnya kan tadi ya masalah taste, masalah hati gitu. Kadang-kadang lu ngerasa nih kayak kok jelek tapi gimana? Tapi jelek aja gitu. Jadi lu ganti gitu kan jelek. Kadang lu mencari rasional tapi ada sih cuman kayak jelek gitu ya.

Gua tahu buat lu bagus sih buat gua tuh kayak kurang apa ya gitu ada itunya gitu loh. Ada sense hatinya gitu. Jadi heh ee dari karakternya tuh gua juga ngelihat kayak cara dia nge-judge sesuatu gitu karena kan begitu lu deliver sebuah kerjaan, wah kenapa ini dulu lu deliver? Padahal ini kayak kurang deh ini apa yang membuat lu deliver itu gitu. Jadi dari key-nya semua sih sebenarnya yang paling ee penting adalah ya karakternya itu sih yang dons-nya ya karakter yang plain gitu yang mungkin reference-nya enggak terlalu banyak misal kurang reference gitu atau mungkin ee dia juga misalkan ditanya tentang creativity dia juga ee jawabnya juga bukan yang kayak semangat banget gitu ya kayak biasa aja cuma butuh iya bukan cuman butuh kerjaan doang gitu mati deh itu gitu kan kayak enggak tahu sih Kak saya cuman pengin kerja aja ya.

Kalau gua juga bukan tipe yang mencari skill yang bagus banget gitu. Karena gue juga ngerasa ya skill gua juga mungkin bukan yang bagus banget gitu, tapi gua orangnya adaptif, gua kolaboratif gitu. Menurut gua itu key untuk orang. Oh, ini yang lu cari tadi yang enggak boleh ini yang lu cari adaptif dan kolaboratif. Ya, itu aja ke-nya sebenarnya karena ya zaman sekarang kreatif misalnya skill-nya biasa gitu, tapi kan lu udah ada e dan segala macam ilmunya tuh bisa didevelop along the way gitu.

I tapi kalau karakter terus cara lu mikir itu kan susah tuh diubahnya tuh. Balik lagi ke tadi tuh yang masalah anak-anak ngdevelop di awal-awal gitu kan. Kritikal tinggi dan segala macam tuh susah banget diubahnya gitu. Kalau skill mungkin lebih mudah gitu. Waktu dulu lu pakai kriteria ini nyari orang sama sekarang dengan adanya AI ada yang berubah enggak?

Maksudnya oh dulu gue nyari orang harus bisa misalkan Photoshop atau apa. Sekarang dengan adanya gua enggak perlu deh. Ada ada yang berubah enggak semenjak adanya kriteria lu ya. Iya, kalau basic-nya tetap butuh sebetulnya kan kayak misalnya desainer ya dia harus bisalah gitu pakai Adobe Photoshop dan segala macam gitu yang tools-tools basicnya gitu. Tapi mungkin untuk misalkan ee yang apa ya craft-nya mungkin gua bisa kayak oh nih kayaknya craft-nya udah bisa nih tapi mungkin dibutuh tacap dikit gitu.

Gua enggak yang mencari yang craft yang bagus banget paham. Kalau dulu mungkin gua mencari itu karena enggak ada yang bisa nih bikin craft kayak gini gitu. Cuma sekarang dengan ADE kan lu pasti lu tinggal cari misalkan let say di Pinterest lu masukin ke nano banana segala macam itu bisa jadi craft yang bagus kan gitu. Jadi craftnya tuh menurut gua bisa dievelop gitu cuman skill setnya tetap butuh karena in a way gua butuh cara dia nge-judge juga gitu. Jadi selain taste-nya bagus dia juga harus bisa nge-judge mana yang bagus mana yang enggak kan soalnya.

I itu yang paling important important ya cara nge-judge-nya gitu. Oke gitu. Eh, gua gua gua penasaran deh. Ee at least buat lu ya, nanti baru gua tanya pertanyaan berikutnya. Yang lebih lu lebih banyak belajar dari mana?

From movies H atau places you go? Dari jalanan sih sebenarnya. From the street ya? Jalanan. Tapi, tapi sebenarnya kalau ngomong jalan emang beneran gua emang pernah zaman dulu gua SMA gua pernah ngamen gitu buat pengalaman tapi ya bukan buat mencari uang karena ya keluarga gua cukuplah gitu bukan yang sampai segitu banget tapi gua mencari pengalaman kalau misalkan di level yang bawah banget tuh oh gini rasanya gitu jadi gua bisa lu berus berempati gua bisa gua bisa iya gua bisa berempati sama pengamen zaman dulu gitu terus gua belajar di sit terus ee gua coba untuk ee nongkrong di komunitas atau di teman-teman gitu.

Gua lebih senang belajar lewat stories sebetulnya dari cerita orang, pengalaman hidup orang gitu. Habis itu kalau dari visual ya biasanya gua datang ke exhibition, ke museum atau apa segala macam gitu-gitu sih. Yang paling sering ya gitu atau gua baca buku gitu-gitu. Cuman art yang paling gua senangin sebenarnya malah cerita orang lain gitu karena itu yang paling unik yang mungkin enggak bisa lu dapetin kan di AI dan segala macam itu enggak bisa tuh. Kalau gambar visual atau eh sori gambar kata-kata atau audio itu e bisa tuh.

Tapi kalau cerita hidup orang itu enggak bisa. Makanya gue gua suka mendengar story dari orang lain gitu. Hidupnya ada segala macam gitu. Iya. Gua cuma ada satu terakhir eh semenjak adanya AI karena tadi lu mencin AI lu sendiri ada perubahan enggak in the way you make decision ataupun in the way you do things?

We we talk kayak tadi lu hire orang berubah apa enggak ini? Tapi luya sendiri ada. Jadi jadi ee ada karena gua punya partner ngobrol lebih sering buat itu ya aslinya life gitu kan ngobrol lu bilang ya langsung jadi kayak partner brandstorm direct gitu. Iya asli ya. Itu sih yang mungkin bisa nge-cut berbagai macam proses ya.

Kayak misalkan kayak oh kita ada misalnya zaman dulu ya kita udah brief ini nih e besok kita ngobrol ya di sini di online atau di kantor gitu kan. Kalau sekarang kayak eh kita ada briefnya ih briefnya gini. coba ngobrol bisa langsung dan bisa ngasih input langsung gitu. Itu yang berubah sih. Itu bisa mempercepat proses banyak hal.

Walaupun memang gua tidak bertanya spesifik kayak idenya apa ya. Gua enggak sampai level itu. Tapi gua ngasih kayak hipotesa idenya nih dari brief ini idenya gini gimana. Jadi gua kayak benar-benar partner gua banget gitu di situ. Diskusinya when finding the ids-nya itu ya.

Iya. Habis itu kayak ide ini tuh bolongnya di mana aja ya gitu. Gua minta dia nge-challenge ide gue juga gitu karena mereka kan based on data semua kan based on mesinan data. Jadi mereka bisa tahu nih nih idenya ini bakal flop di mana, flop di mana, flop di mana gitu. Jadi harusnya kalau campaign yang tadi kita sebut yang viral itu harusnya dia juga bisa tahu sih ketika dia ngobrol sama EA itu dia pasti ada tuh potensi-potensi ini pasti bakal ini bakal ini, bakal ini gitu.

Itu tapi hati-hati men itu kadang-kadang just want to satisfied kita men. Iya iya i kayak ada enggak ini menurut gua bagus gitu pasti dia pengin gagal. Betul. Nah itu critical thinking itu penting kalau subscriptionnya enggak ada, cuy. Critical thinking itu penting.

Itu kan step pertama kan. setiap ngobrol sama orang habis itu gitu dari orang gitu. Tapi di awal tuh emang di craft dulu logic dan segala macamnya sama EA itu berguna. Berguna maksudnya e pastilah kita semua mengalami gitu checking about kayak fact checking atau logic checking atau apa tuh it's pretty good lah untuk initial gitu kan. Initial step kita eh menurut lu gimana?

Menurut gua gini baru dia tik oke oh makes sense baru lu pikirin lagi baru lu mungkin ngobrol. itu kalau yang punya sense of critical thinking gua ngomong garis bawah nih gua ngomong nih kadang-kadang ya maksudnya ketika lu menggunakan AI ketika orang-orang yang enggak punya critical thinking jawabannya gua enggak tahu sih apaan lu enggak bisa challenge gitu kan ketika lu nanya AI you have your own take and you actually sensical about it dan jawabannya jadi sensical ketika jawaban yang lu berikan promnya udah enggak sensical lu juga enggak punya sens udah jadilah ee learn apa human learning machine-nya udah enggak tahu jadi apa itu enggak berguna basically Ren punya apa manpower to do whatever you want gitu loh I just bukan soal bener atau salah tu yang perlu di-highlight nih as nih you have to really practice on your critical thinking that's the only thing you can have machine you can have whatever tapi kalau lu enggak bisa iya challenge that susah sih enggak bisa man benar ya itu tugas siapa tapi itu ya tugas orang tua tugas eh tugasnya pemerintah ini chicken Tapi, tapi menurut gua ee orang tua tuh definitely, Bro. Iya, definitely. Social circle pertama tuh ya. Heeh.

Lu ada ini enggak ee tips and tricks misalnya kan ada orang-orang yang lagi mungkin masih kuliah ee atau punya aspirasi pengin eh kayaknya keren deh kerja di agency. Suatu hari masuk ke brand. Perlu enggak sih mereka masuk industri ini? Apa menurut lu? Eh, cabut-cabut jangan jangan cabut.

Iya. Apa menurut lu? Sebetulnya industri kreatif sekarang mungkin mungkin ya kalau yang gua lihat sekilas mungkin tidak se effort zaman dulu gitu karena dengan bantuan E tadi kan maksudnya technicalit-nya sudah dibantu dan segala macam gitu. Ee jadi harusnya bisa lebih menyenangkan gitu. He eh cuman ee kalau untuk ee apa ya saran untuk future talent sih menurut gua memang sebenarnya lebih ke mental sih kalau kreatif tuh dari dulu.

He. Kadang tuh kan kreatif kan mau enggak mau pasti revisi. Enggak mungkin kayak sekali bikin approve tuh tuh sangat langka sih terjadi gitu kayak pasti 2 3 5 7 100. Heeh. Justru lu patut curigai kalau lu langsung setuju.

Ada apa ini? Perlu dipertanyakan. Perlu dipertanyakan. Karena gua pernah ee mengalami ada beberapa anak-anak yang masih muda tuh mentalnya tuh apa ya? kurang bisa diasah gitu kayak ya kan e kita tahu sendiri ya di zaman sekarang kan mental awareness tuh kan udah orang sudah paham gitu kan mental segala macam gitu itu kadang-kadang jadi excuse juga buat orang gitu.

Nah padahal di fase itu kan emang harus lebih kerja keras gitu karena muscel-nya belum kuat gitu. Nah itu sih sebenarnya lebih ke mental aja sih karena gua juga ee ada pengalaman yang kayak gitu gitu. Kayak misalkan ada ee satu intern yang gua challenge buat bikin satu proposal ya ee buat di hari yang sama, tapi dia kayak ee enggak bisa deliver gitu. Terus pas gua tanya, "Kenapa ya ini kah masih lama? Padahal udah gua kasih contoh dan segala macam gitu ya." Tinggal bikin dari situ aja.

Cuman enggak tahu mental berjuangnya tuh kurang terasa gitu. kayaknya itu aja sih. Kalau misalkan lu masih eh lu punya mental berjuang yang oke dan lu emang pengin jadi anak kreatif tuh ya harusnya bisa sih dengan mental itu gitu. Yang penting mentality dulu sih menurut gua nomor satunya gitu. Karena yang balik lagi sih kayak skill dan segala macam tuh bisa along the way gitu.

Asli mental dan karakter sih. Kalau gua sih selalu itu sih megang mental sama lu seberapa asik gitu ya. Karakter lu seberapa asik? Seberapa lu pengin gabung sama kita gitu. Karena kan di kreatif itu kan emang balik lagi ya.

Kayak kita kan emang harus satu apa ya satu ambience lah ya. Satu vibes gitu. Tapi lagi-lagi itu gua partially lah at least ya gua nyalin social media man. H their idea of success itu tadi itu very different than us, right? Dari dari punya kita nih, dari from ours.

Jadinya ya gimana cuy semua cerita orang dikompres menjadi 60 detik. Iya iya ya kan dulu gua gini sekarang gua gini ya kan. Wow dulu gua kerja di agen sekarang gua punya gua mempekerjakan 700 orang. Oh [ __ ] man. Asik.

dulu R juta. Sekarang tiba-tiba naik Ferrari cuy. Heeh. Buat apa ini? Buat apa itu?

Yang penting lu gini dan gitu jadinya. Ee ya itulah itu yang gua maksud. Pada saat lu belum punya pengalaman hidup, lu belum punya critical thinking at a mature level, lu disusupi. Susupi benar enggak sih? Is that even a word?

Susupi sui whatever lah. Lu kemasukan ee kemasukan roh-roh asik. Heeh. Ide-ide yang kayak gitu menurut gua, man, itu tuh bahaya banget. Ya, termasuk ya fighting spirit gitu.

Gua gua penasaran yang terakhir eh ada social media accounts, YouTube channels, whatever yang menurut lu bagus banget buat jadi reference buat anak-anak kreatif. Ada dan prosemix ya? Iyalah udah pas gua ma nyebut udah pasti itu udah pasti. Iya. Ada enggak yang gua sering banget sih ini nih regardless apapun ya, mau ngomongin musik, mau desain, rumah, who apa, whatever lah pokoknya.

Tapi ada enggak yang lu follow gitu? Ada sih. Ee jadi jago nama akunnya jago. Bang Jagu bisa buat reference nanti ada di sini dimasukin jadi jago. Kalau yang sering gua cek itu ee sebenarnya gua masih buka we gitu terus kans gitu.

masih gua buka yang kayak website gitu-gitu sih. Karena itu ee apa ya ee bisa jadi contoh lah karena kan itu di luar ya biasanya kan di Indonesia belum tuh jadi mencontoh yang di luar gitu. Ee kalau di sosial ee gua gua agak agak lupa ya maksudnya konten-konten yang visual-visual gitu. Gua ada beberapa sih cuman gua lupa nama akunnya memang cukup banyaklah di Instagram gitu akun-akunnya gitu. Cuman kalau misalkan yang generalnya ya itu tadi gua biasanya ngelihat e atwick atau KS aja sih yang paling sering gua lihat gitu.

Oke. E ya gua gua sebenarnya penasaran tuh kalau lu kan kreatif banget ya. We try to be creative tapi lu yang beneran creative gitu. Pas lu ngelihat kayak gitu-gitu tuh are you inspired apa lu bosen? Ngerti kan lu?

Gua gua cuman ngebayangin karena kalau buat gua pribadi so refreshing man ya kan? Ngelihat-ngelihat itu wow bisa kayak gini. Wow, ini so smart ini. Ouch. Ya kan?

Tapi tapi lu eh very eh stimulating right buat gua. Nah, buat lu tuh apakah semuanya lama-lama jadi kayak biasa? Apa tetap lu masih dapat sensasi ih loh kayak wow. Iya. I ya kayak musisi awal hobi terus jadi kerjaan itu kan pasti jadi Iya.

Heeh. Orang-orang keluar ya kan. Ayo karaoke. Mate lu karaoke gua nyanyi nyari duit lu suruh karaoke mual kagak dibayar. Kalau gua ngelihat campaign yang yang unik dari luar gitu atau entah itu video atau billboard itu gua tetap ngerasa inspired sih gitu.

Cuman kalau template gitu kayak nih sama nih formulanya kayak tadi strategi menyerang itu kan kayak udah sering nih gitu. Jadi insya yang gua ambil gitu. Cuman untuk menjawab apa yang bisa menjadi apa ya ee isi referens yang berbed itu malah biasanya gua download aplikasi-aplikasi aneh aja di App Store gitu. Eh eh terakhir banget lah eh lu punya satu figure enggak? Eh, dari dulu mungkin lu belum sempat pernah ngomong sama orang whoever lah yang menurut lo inspirational banget buat lu yang menurut lu belajar banget dari orang nih baik yang kenal maupun whatever ya dunia maya whoever lah anybody yang lu ingat kalau itu sebenarnya gua lumayan admire sama hasil kerjanya Joko Anwar sebetulnya dari dulu Joko Anwar karena dia background-nya lumayan mirip kayak gua dia kan penulis kan dia penulis di Jakarta Post terus ngirek juga.

Jadi fun fact gua pernah ee ikut salah satu iklannya dia lah tapi enggak lolos waktu itu. Oke ikut dalam arti apa nih? I jadi cash aja gitu cash tapi enggak lolos lah. Karena gua emang dulu kayaknya lumayan gua suka banget lah sama dia, sama style-sty dia segala macam gitu. He.

Nah, terus itu juga menginspirasi gua untuk bikin e satu account yang AI tadi yang Jonte sempat share gitu. Itu tuh video horor. Emang gua enggak tahu gua pengin aja gitu jadi direktor horor, jadi film horor tuh menurut gua menarik gitu. itu yang belum pernah kesampaian lah gitu. Jadi gua pengin coba kan sekarang kan lu jadi direktor kan tidak harus bikin film di bioskop kan gitu.

Lu bisa bikin film di YouTube. Apa apa nama channelnya? Nama channelnya Just Any Story. Just Any Story. Instagram?

Instagram. TikTok ada juga. Eh TikTok ada juga. Where your favorite songs e becomes horror story. Jadi kan jadi lu dari lagu.

Dari lagu kan kadang lagu cinta tuh jangan-jangan tentang horor gitu. Semua lu hororin gitu ya. Anyway, eh Alvin, did you have a good time ngobrol-ngobrol? Seru banget. Gua sejujurnya ini baru gua nih podcast kedua.

Gua sih podcast kedua. Oke. Sebelumnya pernah dan mewakili company gue juga waktu itu di sebuah podcast gitu namanya podcast. Lagi ngomongin keuangan. Podcast noh.

Podcast keuangan resource to media. Habis itu ini gitu. Oke. Tapi ini pasti lebih menyenangkan. Wah gila.

Seru banget. Asik. Proxemics akan gua tato di tangan gua. Proxemics. Horor.

Horor di film. Horor jadi horor podcast ya gitu gitu bro thank you banget sudah mampir eh I hope one day kita bisa ngobrol lagi baik di sini maupun di tempat-tempat lainnya e anyway everybody sekali lagi kita tepuk tangan buat Alvin pribadi gila

Go deeper — Concepts & Ideas