In a disrupted market, winning isn’t about who shouts loudest — it’s about who stands on the most solid foundation. In Proxemics 036 the Full House sits down to deconstruct a communications, PR and marketing landscape being scrambled by AI, and to lay out the executive frameworks top management is leaning on right now.
The throughline is structure over noise. From the urgency of public affairs and securing a Social Licence to Operate beyond the legal permit, to the paradigm shift from CSR to Creating Shared Value (CSV), to the existential squeeze on mass media from AI crawlers and ‘zero-click’ search.
For C-level leaders, PR practitioners, marketers and B2B strategists, the crew also unpacks the crucial transition from conventional SEO to GEO — Generative Engine Optimization. Consider it an executive playbook for keeping your brand relevant when the machines, not just the audience, decide what gets seen.






YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Auto-generated captions from the original Indonesian audio — unedited.
Indonesia duduki peringkat kedua sebagai negara paling gampang ditipu. Sali katanya traffic ke medianya itu kan turun banget pada akhirnya. Jadi e ada layoffs. That's the reality gitu. Gua ingat banget dulu ya semua [musik] barang itu diregulasi lah terutama yang kaitan sama konsumen ya.
Lu berdagang itu diregulate. Kalau pers itu kan ada regulasi ya dalam melaporkan berita, dalam menulis berita tuh harus standarnya. Ada standar dan ada regulasi gitu. [berdehem] Dan jika berita yang ditulis enggak benar tuh kita punya hak jawab. Sedangkan kalau influencer kan enggak punya itu semua ya.
Tapi pada akhirnya ya kalau misalnya gua gua tuh selalu berpikir bahwa pada akhirnya umat manusia akan mengharamkan AI. [musik] [musik] [musik] Anyway, eh World Cup seru-seru ya kan eh game-game-ennya. Ada satu yang gua mau tarik kesimpulan dulu, cuy. Dunia udah semakin pintar main bola. H karena udah imbang-imbang aja man.
Gua gua walaupun enggak nonton langsung, tapi gua lihat highlights gitu ya. Skor akhir membuktikan. Ya, si ini bisa ngalahin si itu K de cuy. Berapa 50.000 orang bisa masuk 16 besar. Gila meneh banget.
Tapi yang lebih menarik lagi itu kemarin kejadian Levi Stadium di San Francisco. Jadinya sama World Cup karena lu enggak bayar, gua tutup brand lo. Ya kan? Gua berhak pakai stadion ini, rids-nya ada di gua jadinya ditutup gitu. Sedangkan pas ditutup itu orang masih tahu, cuy, itu logo Levice [tertawa] itu juga logonya.
Iya, karena dia nutupnya tuh sesuai bentuknya gitu loh. Kayak Batman gitu. Kayak Batman kurang niat. Kurang [tertawa] niat nutup. Bukan ditutup doang.
Iya. Kalau menutup tuh pakai tirai kotak gitu loh. Heeh. Jadinya lu enggak ngikutin bentuk gitu logonya. Iya.
Sama kalau misalnya lu tutup brand McD gitu pakai ditutup bagian M-nya doang ya orang tahulah itu McD. Ya enggak kalau misalnya lu tutup kotak lu nutupi hal yang lain misalnya ngalangin penonton nonton lah apa kagak itu kan di atas atas di luar tapi gua gua enggak nonton l enggak nonton World Cup enggak oke biasanya ya kalau gua ke mana-mana gitu kan kita juga beraktivitas ya kalau lagi zaman-zaman world cup zaman-zaman dulu tuh pasti ada aja tayangan bola lah apa rame-rame lah hype nobar lah segala macam lah sekarang enggak kayak gua enggak ngerasain hype-nya i jadi gua enggak berhenti di rumah juga bahkan di apa timeline-timeline enggak terlalu banyak muncul media sosial gua enggak enggak tahu ya mungkin karena algoritma gua enggak ya hype-hype-nya kayaknya enggak tahu for some reason tahun ini kayaknya agak sedikit berbeda sih mungkin didukung juga sama pelaksanaannya kan di di Amerika ya ada tiga negara kan ada beberapa pertandingan yang mungkin juga jamnya jadi pagi gitu jam ane jam gantung ya dan dan itu yang dirasakan salah satu klien kita asik jadinya it's very hard dengan perbedaan waktu sih enggak cuy dulu gila Gila apa jam . pagi justru dulu jam . pagi jam 3. pagi enggak apa-apa lu begad jam 8.00 pagi, jam .
pagi pagi jamnya aneh. Tapi at least di tayangan-tayangan tuh dulu ya di gua datang ke kantor mana kalau misalnya ada tayam bola gitu pasti ada tuh. Sekarang enggak ada cuy. H enggak enggak yang ditayangin gitu. Enggak enggak maksud gua bukan nobar ya.
Maksudnya lu beraktivitas ke suatu kantor. Iya. Maksud Sofyan tuh gini, dulu tuh kalau tadi kaitan dengan Levice biasanya tuh Coca-Cola. Heeh. Ee dia sponsor resmi Piala Dunia.
Program-program outreach-nya itu mendunia. Ada ee ee Coca-Cola Tropy Tour dulu misalnya atau ada kegiatan promo-promo terkait Piala Dunia lah yang menyebar di mana-mana. Ada di TV, ada di radio, ada di ee ee luar ruangan semuanya tuh ada. Jadinya itu bikin hype. Jadi brandnya sebagai sponsor ee event itu punya program promosi yang mendunia.
Nah, karena program itu terpapar, Sofyan terpapar pada program itu. Jadinya jadi dia merasa hype lebih. Tapi for some reason emang the hype itu beda banget sih yang tahun ini. Memang it used to be very an iconic eh event gitu kan. Itu 4 tahunan.
Heeh. Terus ee hype-nya juga berasa banget either dari programnya brand atau dari community around gitu. Dan mungkin juga ada pergeseran di consumnya ya. Gua enggak tahu ya anak-anak Genzi atau anak-anak yang younger ini memang mereka enggak konsume soccer gitu football. Sedangkan zaman sebelum sebelumnya kita besar dengan itu.
Iya. That's probably parsle. Karena itu sih hype-nya berbeda karena when we were younger in a sense kita mencari itu. Sekarang itu kita not not really lah teman-teman kita mencari itu. Karena gua lihat kalau di mall gitu-gitu masih ada sih masih ya Adidas bikin acara di Sensi World Cup ya kan si ini bikin acara temanya World Cup masih ada tapi mungkin memang bukan kita aja targetnya.
We're no longer the main target m target audience. Kita udah primary, udah enggak primary secondary kita dulu dulu tuh main bola yang gua inget-inget tuh Genaro Ivan Gatuso gitu gulit buffet buffet tahu jadul bener. Balik, balik, balik lagi ke ke Piala Dunia ya. Tadi e Levice, Levice memanfaat walaupun mereka bukan official sponsor di eh World Cup, tapi dia menang banyaklah menang banyak. Dia memanfaatkan momentum logonya ditutup menjadi campaign yang mendunia dan viral.
Viral, which is good lah. Siapa sih agensinya? Penasaran. Nanti kita masukin di sini ya. Tapi kayak kenal tapi entar mungkin.
Tapi masa enggak kenal. Asik. Pasti kenal, at least tahu. Iya. Tapi menurut gua ee ada lesson yang penting lah di situ.
Pada saat lu apa namanya? Disadvantage tuh bukan berarti kalau lu e pikirin lu putar otak, kreatif, lu enggak bisa turn things around gitu. Dari sesuatu yang awalnya negatif jadi bukan hanya positif tapi positif banget gitu. So, that's that's a very important lessons lah dalam konteks communicating, marketing ya sama. Tambahan.
Paling ada beberapa hal sih yang gua kepikiran ya. ya, kita menikmati e Piala Dunia di TVRI di Indonesia. Shoutout ke TVRI. Eh, kemudian kalau streaming itu pakai Maxt. Cuman mungkin gua bukan gua doang nih yang mempertanyakan ini ya.
Lu cuman menyerap. Heeh. Gua cuman menyerap. Ee apa hak siar Piala dunia kan memang mahal ya. Ee katanya TVRI itu paling mahal nih dari seluruh dunia kayaknya ya.
Enggak tahu, enggak tahu, enggak tahu. [tertawa] Tapi yang jelas 1,2 triliun. Nah. itu yang terpapar di budget ya. Heeh.
Ee 1,2 triliun untuk beli hak siar ee Piala Dunia. Nah ee dengan perhitungan komersil yang matang ee dengan menayangkan itu ada iklannya nanti ada onscreen event segala macam yang terkait ee ee seluruh rangkaian kegiatan Piala Dunia di ee Indonesia harusnya itu kan memperoleh keuntungan. TVRI akan memperoleh keuntungan. Nah, kemudian eh sublisensing-nya kan untuk untuk ee penayangan ini eh online streaming-nya itu ke Maxream dan ke satu lagi tuh. Eh eh tunggu tapi t enggak for profit kan?
Profit dong. For profit profit duit dia namanya gitu lembaga penyiaran publik. Heeh. Tapi for profit apa enggak? profit tapi dia lebih ke BLU bukan yang profit kayak PT gitu yang harus nyari lebih banyak fokusnya ke ee apa namanya untuk aja badan layanan umum jadi kayak dia harus provide informasi yang berkualitas ketika kalau misalnya kita bahas industri media ya TV terutama broadcasting ya kan sekarang konten-konten tu ngikutin selera pasar gitu kan.
Nah, TVRI itu didesain untuk menyediakan informasi yang memang bermanfaat buat publik, tapi tidak ngikuti selera pasar. Bahasanya begitu mungkin ya. Kasarnya contohnya misalnya sinetron meny-eny ee kalau dia enggak mendidik dan enggak bermanfaat bagi publik dari sudut pandang TVRI ya mereka enggak tayangkan kayak gitulah. I sama gua mau nambahin tuh si Adwi tadi ngomong. Jadi kalau dari sisi itunya, kalau BL tuh kalau misalnya perusahaan dari sisi commerciality-nya investment-nya tuh harus return sekian persen per tahun.
Maksudnya angkanya pasti tinggi kan. Nah, TVRI oke gua invest tapi return-nya mungkin lebih panjang kembalinya gitu-gitu. Jadi return of investment-nya jauh lebih kecil yang enggak diminati sama sektor swasta. Jadi enggak ada yang nonton enggak apa-apa yang penting berkualitas. Tapi negara menyediakan informasi itu.
Nah, kaitan sama lelang-lelang tadi itu gua rasa sih angka 1,2 triliun tuh bukan suatu yang gede ya diband buat negara ini dibandingin MBG sama Kopdes gitu misalnya. Kopdes [tertawa] enggak? Anyway, [mendengus] tapi dari informasi yang gua dapat dari orang-orang yang mengetahui proses ee apa mendapatkan lisensi itu gitu, argumennya adalah enggak kok kita udah undang semuanya. Oke. Operator-operator itu udah diundang semuanya.
Oke. TV Iya. Ya, ada yang digital, ada yang gua enggak nyebut lah ya mana-mana lah. Gua udah tapi semuanya supposedly ya, supposedly semua sudah diundang dan sudah present. Jadi itu kan harus ada mekanisme lelang ya segala macam karena kan itu milik apa barang publik yang milik milik semua orang juga dan harus nah ada proses lelangnya, ada ketentuan lelangnya dan lain-lain lah yang dia bilang proposal yang paling bagus ya emang yang punya itu.
Hm. proposal. Iya argumennya begitu. Oke. Nah, ini untuk OTT ya.
Untuk OTT. Untuk OTT. Untuk OTT dalam arti eh Maxstream yang menang. Maxtam punyanya Telkomsel. Telkomsell punyanya Telkom which is BUMN.
Which is BUMN. Argum e argumennya enggak. Kita lelang terbuka itu tapi proposal yang itu gua udah lihat semuanya yang paling bagus punya itu dan make sense sama harganya. Kira-kira gitu. Tapi nah yang gua dengar juga nih mungkin kita dapat informasinya dari sumber yang berbeda-beda nih.
Sofan ya. Bisa. Bisa. Heeh. ee proses lelangnya itu enggak transparan.
I sementara gua tuh dari sudut pandang yang ini kan kita tuh banyak stasiun-stasiun TV yang sekarang lagi berjuang mati-matian untuk bertahan. Heeh. Karena mengikuti selet pasar itu tadi. Heeh. Nah, kalau misalnya mereka dapat ee lisensing he apa subensing dari TVRI itu kan akan membantu keuangan mereka to a certain degree lah ya kan.
Ee gua ingat dulu ee sempat ada entah Piala Dunia entah entah Piala Dunia kalau enggak salah itu dibagi-bagi tuh ada di RCTI, ada di SCTV, ada di TPI. Mereka bagi-bagi tuh porsinya. Heeh. Hari ini di mana? Hari ini di mana?
Heeh. kayak pas semifinalfinal gitu yang untung-untungan aja yang sudah dapat slotnya kan iya atau yang bayar lebih bahang. Heeh. Nah, tapi yang jelas ee ee ada kebersamaan di dalam industri untuk saling tumbuh bersama. Nah, gua enggak ngelihat itu dilakukan di sini.
Sementara industri ini dengan gempuran AI segala macam segala macam lagi dihantem habis-habisan nih ya kan. Heeh. He ini ajak nyari duit 4 tahunan lah. Ya, maksudnya informasi ini kan beda-beda ya antara yang dari tadi mengetahui proses terus yang terlibat participate apa yang terlaporkan. yang terlaporkan ya itu biar nanti ada apa kan ada proses audit nanti ada proses politik juga ya silakan aja lah nah dan gua juga setuju tadi bahwa ketika Sofyan bilang ee investasi untuk kepentingan publik 1,2 M dikeluarkan oleh TVRI eh 1,2 triliun dikeluarkan oleh TVRI gua jadi kaitkan ke pihak-pihak atau pejabat-pejabat yang melakukan investasi kemudian lagi dikasuskan oleh jaksa-jaksa ya kan bisa jadi nih 5 10 tahun ke depan pengambil keputusan dalam ee ee rangkaian ini juga akan dipertanyakan.
Kita enggak tahu ya kanak. Teman gua ngasih jawaban yang bagus sih waktu itu. Kalau ganti rezim akan kemungkinan-kemungkinan itu ya enggak? Oke. Pas ya kan ngomong-ngomong rezim jadinya sekarang Prabowo udah in power berapa?
1 seteng tahun sudah ada ya 1 seteng tahun kayaknya ya. Oktober kalau enggak salah dilantik waktu itu ya. Iya berarti bentar lagi [berdehem] 2 tahunus ya. Oke. Nah, pertanyaan gua sebenarnya itu masih banyak brand-brand di luar sana tuh yang kayaknya enggak ngesing gitu, Sofan.
Heeh. Tidak ngesing dengan program-program tersebut. Nah, ini kan sebenarnya pada intinya itu kan ada PA harusnya ada di sana ya kan. Nah, mungkin lu buat yang belum terlalu paham PA, PA itu apa dan siapa nih saat ini ya, terutama at this situation nih yang lagi serba tidak pasti siapa yang harusnya menggunakan jasa PA. public affairs itu pada dasarnya kita bergerak ke di domain e komunikasi PR itu sebetulnya salah satu komponen dari PA sebetulnya.
H. Nah, tapi bayangkan gini jelasinnya agak ee harus lihat konteksnya dulu. Jelangkan negara itu sebagai arena lah. Arena kontestasi. Di bawahnya tuh ada aktor-aktor.
Pertama aktor negara ya. Negara tuh diwakili siapa sih? Ada legislatif membuat kebijakan, ada eksekutif yang jalanin kebijakan, ada yudikatif yang mengasuh hukum segala macam. Agenda mereka itu sebagai negara tiga komponen itu apa? Kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi gitu-gitu h segala macam.
Tapi pertumbuhan ekonomi kan enggak serta-merta mengakomodir semua pihak. Itu pihak satu. Pihak dua itu ada namanya economic society. Economic society itu asosiasi-asosiasi apa namanya? Ee dagang gitu, Kadi, NIPI.
Tapi yang paling penting dari economic society adalah perusahaan-perusahaan yang sekarang banyak jadi klien kita nih. Nah, eh mereka tuh orientasinya apa sih? Profit kan, keuntungan, laba. Kalau kapitalisme klasik bilang apa? Cari laba sebesar-besarnya dengan modal seminim-minimnya.
Nah, yang ketiga, aktor yang ketiga itu adalah civil society. Civil society itu apa? Masyarakat umum apa? Apa orientasi mereka? Mereka cuma hak-hak e kosok yang mereka cari sebetulnya.
Hak untuk hidup, hak untuk akses pendidikan, kesehatan, berusaha, bekerja, mendapatkan informasi. Nah, kita lihat tadi orientasi masing-masing pihak itu kan ee berbeda-beda ya. Jadi, secara inherent sebetulnya di tengah-tengah itu ada konflik. Hm. Gitu kira-kira ya.
I. Nah, contoh misalnya negara, negara orientasinya ee tadi pertumbuhan ekonomi, tapi yang di yang lebih banyak diuntungkan misalnya konteks yang lebih umum misalnya perusahaan dan di satu sisi ketika perusahaan beroperasi dia sedikit atau banyak ini gua berani jamin saya garansi pasti akan melanggar hak-hak ekosoknya masyarakat sipil itu tadi. Nah, fungsi public affairs adalah pada dasarnya semua komponen ini kan semua sama pengin hidup sejahtera kayaknya gitu kan. Nah, kita kami itu menjembatani eh konflik-konflik kepentingan ini. Mekanismenya apa?
Ada government relation, ada advokasi, ada PR, ada coms, ada stakeholder engagement, macam-macam ya. Jadi kira-kira itu gimana caranya supaya kepentingan tiga pihak ini align. Karena apa? ujung-ujungnya adalah ketika perusahaan itu beroperasi selain technical license to operate yang mereka butuhkan e kayak permit, license segala macam yang sah legal segala macam, kalau social license to operate-nya enggak jalan, enggak didapat itu enggak akan ee bisa berjalan dengan mulus. Contoh ya kalau di social license to operate itu kan ada tahap penolakan dulu with health segala macam terutama perusahaan-perusahaan ekstraktif nih misalnya sekarang ni yang lagi rama lah penolakan geothermal lah penolakan tambanglah penolakan apa sawitlah segala macam terus kalau misalnya tahap berikutnya bisa acceptance sudah bisa terima tahap berikutnya terus approval approval itu maksudnya persetujuan aktif selain mereka membiarkan perusahaan itu beroperasi mereka juga dukung tuh apa mereka ee ee perusahaan tuh butuh apa?
Butuh tenaga kerja, butuh dukungan, lain-lain. Dan yang terakhir, psychological identification di level SLO yang paling tinggi itu ketika masyarakat mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari perusahaan yang beroperasi itu luar biasa. Makanya itu jadi penting di dalam SLO itu adalah legitimasi sosial politiknya, kepercayaan interaksionalnya juga penting, terus kepercayaan institusinya penting. Itu yang kita coba bangun di public affairs. Mudah-mudahan ee bisa menjelaskan ya.
Dan gua enggak enggak bisa kasih contoh-contoh karena kami juga kan apa terikat sama non disclosur, enggak bisa dari yang kita kerjakan lah. Betul. tentang ituasa sih teman-teman bisa bayangkan kayaknya dengerin penjelasan loh obviously at a certain level semua perusahaan membutuhkan inense ya kan inense. Nah, pertanyaannya Heeh. [berdehem] yang mana sebenarnya yang paling butuh?
Ya kan bisa enggak lu kategorisasikan pertama ya yang paling butuh yang industrinya highly regulated sama pemerintah satu. Oke, jadi kuncinya highly regulated. Betul. Banking, banking, apalagi macam-macam lah. Terus yang kedua yang banyak bersingungan sama konsumen.
Hm. Misalnya oke ya sama publik, sama kepentingan publik misalnya. Hak tadi kan ada hak apa? Kesehatan, pendidikan, hak-hak dasar. Itu yang bersinggungan sama hal-hal itu.
Itu juga butuh sih. Oke. Nah, ini nih. Gue jadi ingat CSV. Lu ingat enggak, Wi?
Ingat, ingat, ingat. Nah, dulu tuh shoutout buat Nesley. Nesley itu punya yang namanya corporate shared values ya kan. Jadinya mereka itu melakukan kegiatan fokusnya tuh udah bukan lagi kayak ngasih apa gitu, bukan ngasih tapi memberdayakan komunitas sekitar. Itulah lu bisa nyampai ke level terakhirnya itu pada saat mereka udah bisa gimana people around the community tuh on board gitu.
mereka ee diberdayakan inocens. Jadi mereka merasa perusahaan ini membantu mereka dan mereka bisa mengidentifikasi diri mereka tuh as part of that eh movement lah community. Mungkin Adwi atau Stef mau tambahin. Gua mau tambahin dikit tuh soal itu. Kalau dulu ada konsep namanya corporate social responsibility ya.
Ingat enggak sih loh? Iya. Dan bahwa setiap perusahaan tuh harus menyisihkan sebagian pendapatnya CSR by the way ya kalau misalnya enggak ngeh ya. Heeh. Mungkin orang lebih paham nama CSR daripada kepanjangannya.
Buat gua itu karikatif karena apa? Karena gimiki aja enggak menyentuh akar persoalannya itu tadi. Ingat enggak dari awal gua sudah bilang, apapun aktivitas profit orient oriented yang lu lakukan sudah pasti punya impact negatif baik ke negara, pemerintah, maupun ke masyarakat, terutama buat masyarakat ya. Nah, dalam konteks itu ee gua sebetulnya bergerak beyond dari CSR ya. Karena setiap contoh kecil misalnya ada perusahaan tambang buka atau perusahaan CPU buka.
Mau enggak mau kan dia harus bangun jalan. Misalnya misalnya dari tempat dia beroperasi ke jalan raya nasionalnya misalnya di jalan raya itu pasti dong ada masyarakat yang tergusur karena lu bangun jalan. Pasti dong dia ngelewati pemukiman lah atau apa h tempat dia misalnya cari nafkah misalnya atau sawah atau apapun. Ah, habis itu ada aktivitas dong, orang lewat, truk-truk besar lewat segala macam. Terganggu enggak masyarakat terganggu?
Tadinya dia bisa beraktivitas ee enggak diganggu misalnya ngakses sumber daya yang di situ, sekarang enggak bisa hal-hal kayak gitu. Nah, makanya gua selalu tekankan ke teman-teman ee korporat bahwa yang tadi itu impact negatif itu harus dikalkulasi. di ketika dia dikalkulasi maka akan keluar namanya externality cost, biaya-biaya eksternal yang enggak terkait sama operasi perusahaan OPEX. Nah, yang kami dorong sebetulnya externality cost itu harusnya masuk sebagai bagian dari OPEX itu tadi. Setelah itu dia dikonversi jadi ee kegiatan-kegiatan atau operasional perusahaan yang bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Karena target ujungnya yang mau kita ambil adalah personal identification itu kan bahwa we're being a part of this company. Karena ketika ekosistem di sekitarnya itu tumbuh pastinya perusahaan itu ikut tumbuh dong. Dan itu baru di level lokalnya. Belum kita bicara di level nasionalnya. Kontribusinya terhadap daerah, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi yang makro-makronya.
Jadi arahnya ke sana kira-kira public affairs tuh. Tadi gua mungkin namain dikit ya soal CSR, CSV itu ya. Kayaknya sekarang tuh e only gitu. Donation tuh cannot build trust anymore, right? Malah suspicious in a sense.
Hmm. Nih nih mau ngapain lagi nih gitu kan. It just feels like untuk dampaknya ke kita sebagai customer tuh jadi beda gitu ketika e just as easy as udah donation just put out donation. Jadi, eh company is somehow they have to think about what kind of contribution yang actually benar-benar membantu people around gitu instead of just throwing out money aja. H I feel like CSR depending on how you see it, tapi it doesn't really eh as valuable as CSV enggak sih?
At least from our perspective lah ya yang udah sedikit lebih elevated itu eh ya simple CSR tuh kalau lu cuman doake of doing it forget it man. A lot of company are doing it gitu. Unfortunately ada masih ada yang hanya doing CSR just for the sake of doing it either because of part of government kan ada regulation ada ada advisory untuk lakukan CSR. eh alokasikan amount of money sepanjang setiap tahun untuk ee ke lembaga-lembaga tertentu dan lain-lain. Tapi kembali lagi ke whether is valuable or not, whether you bring in any empowerment to the environment dan lain-lain.
Jadi mungkin brand juga it needs to be strategic gitu when it comes to doing CSR, quote unquote. Hm. Ya, tadi lu mention value kan? Mungkin Adwi bisa share sedikit tentang corporate shared values. Oke.
Gua sih kalau dari sudut pandang gua ya, gua eh eh CSR itu pendekatan lama lah ya. Udah udah banyak perusahaan-perusahaan yang meninggalkan ee ee sekedar donasi, benerin jalan, bangun jembatan ee ee sesuatu yang enggak relevan dengan core bisnis mereka sebenarnya ya kan. Nah, eh kalau gua bisa ngambil contoh tuh kalau CSB itu creating shared value itu apa yang dilakukan oleh DBS misalnya dengan eh social enterprise mereka. Nah, bukan lagi jadi kata kasarnya e kasarnya itu gampangnya ee enggak ngasih enggak lagi ngasih ikan tapi ngasih kailnya ya kan. Nah, ini gimana caranya ee ee bisa tumbuh ee ee banyaklah ee social enterprise yang ada di Indonesia yang dibantu di seluruh dunia juga ada ya.
Jadi lebih memberikan dampak sosial lah. Heeh. Kalau kalau pada mau tahu tentang eh social enterprise eh DBS itu tiap tahun mereka tiap tahun mereka ngasih ngasih grand ya kan. Nah e siapa tahu ada yang punya social enterprise bisa daftar. bisa ikut serta dapat pendanaan and so on and so forth.
Nah, belakangan ini enggak enggak belakangan ini sih udah-udah it's been a while tapi most recently ini kan jadi eh ada perubahan sedikit jadinya kalau misalnya orang-orang in the future itu mau bikin konten-konten yang sifatnya memberikan advice terkait eh financial staff gitu kan nanti akan ada regulasi yang spesifically untuk mengatur itu. Oke. I kan. Nah, apakah cukup stop di konten-konten finansial yang di apa namanya? Eh, diulate apa mesti semuanya influencer ya kan?
Influencer financial influencer. Gua ingat banget dulu ya, semua barang itu diregulasi lah, terutama yang kaitan sama konsumen. H ya, lu berdagang itu diregulate lu apa. Bahkan nih yang paling dasar dulu soal karena kita di industri media sudah lama juga ya, ada lu beriklan itu diregulate sebetulnya mungkin banyak yang enggak ngerti bahwa sebetulnya ada regulasinya namanya nih namanya EPI, etika pariwara Indonesia. Jadi ketika beriklan tuh ada ketentuannya macam-macam tuh.
Mungkin Adwi ingat lah kali artinya ada ada standar etik. Bahkan ketika lu publish karya jurnalistik pun kan ada kode etik jurnalistik. Nah tiba-tiba nih banyak kreator-kreator. Gua bukan apa ya not against them juga. Maksud gua gini ya, sharing ini kan distribusi informasi udah banyak-banyak orang pengin sharing knowledge, pengin sharing pengetahuan tentang knowledge.
Ada yang jago di market misalnya dia cerita-cerita soal ini, ada yang jago di bidang kesehatan, dia ngomong-ngomong soal apalah itu produk-produk kesehatan, apa yang oke, mana yang enggak kan gitu kan. Yang [mendengus] penting sebetulnya itu tadi lu benar lu bilang. Bahkan media pun ketika dia bikin nulis berita kan dibedain tuh ada firewall-nya. Mana yang iklan, mana yang berita, mana yang advertising, advertorial, mana yang organik lah. Karena ada kepentingan anorganik yang disisipkan di situ.
Kepentingan pasar. Kalau misalnya kita bicara iklan ya, kepentingan produk. I. Terus kalau misalnya lu dan ketika lu nonton satu podcast atau suatu apa diskusi gitu kan lu kelihatan mana yang kredibel, mana yang reputasi. harus dijelaskan batasannya mana.
Ketika lu bilang ini own opinion knowledge yang bebas nilai, tidak dipengaruhi oleh kepentingan apa-apa tidak diinfluence lah. At least tidak diinfluence dengan kepentingan produk itu tadi. Itu supaya reputasi sama kredibilitas lu terjaga. Iya kan gitu. Oke.
Tapi gini tapi gini Sofan. Misalnya nih, misalnya kan kita nih kan agency kan kita punya divisi sosial media ada management kita juga bantu banyak klien untuk KOL engagement influencer. Nah, misalnya Bapak Sofyan ini influencer terus gua sebagai agensi datang ke Sofyan. Sofyan, ada klien nih yang butuh ee Bapak Sofyan untuk menyampaikan informasi yang positif tentang mereka. He, ya kan?
Nah, ee ee fe-nya Bapak Sofyan itu satu pos 300.000 Ibu Sofan satu konten. Nah, ketika gua mengikat kontrak dengan Sofyan ini ee PT kita ee e Prima Praksis komunika itu ee mengikat kontrak dengan Sofyan itu kan gua minta Sofyan punya NPWP segala macam. Betul. Nah, ee ketika pembayaran dikasih ke Sofan, kita juga bayar PPN kan sebagai orang yang memberikan e ini. Nah, pajak pendapatan nilai PPH dipotong dari Sofyan dan Sofyan melaksanakan tanggung jawabnya kita bayar.
PPN dan PPH-nya kan sudah kita bayar. Udah, udah dipajakin dong. Jadi sebenarnya pajak yang ada dan dibahas ini pertanyaan gua, pajak apaagi? Kan Finfluencer ini mau dipajakin. Jadi kayak ini istilahnya lu dipajak dua kali double jeopard jadinya ya.
Eh [tertawa] enggak lah. Kenapa? Iya kal itu yang enggak yang dimaksud awi. He yang influencer-influencer itu adalah pajak yang yang resmi kan konten creator yang resmi kan. I jasa buat bikin konten itu yang resmi kan.
Nah, yang jadi masalah ini kan yang banyak yang di under the table itu loh transfer-transfer bayar cash under the table. Kalau perusahaannya good punya good corporate governance itu kan enggak ada under the table. Kita agency aja enggak melakukan itu. Iya. Iya, betul.
Heeh. Enggak. Tapi maksudnya pertanyaan awalnya kan adalah sebenarnya perlu enggak sih selain finluencer tuh diregulasi i on top of the pajak ya maksudnya yang lain-lain gitu kan dalam arti kemampuan dia menginfluence the rest of the population. H enggak tadi ini sih balik ke poin dulu kita pernah bahas like gua lupa di episode ke berapa bahwa influencer itu mereka tuh kadang-kadang enggak semuanya punya kesadaran bahwa mereka bisa influence that many people gitu. H enggak punya tanggung jawab enggak ada.
Kalau pers itu kan ada regulasi ya. dalam melaporkan berita, dalam menulis berita tuh harus standarnya ada standar dan ada regulasi gitu. Dan jika jika berita yang ditulis enggak benar tuh kita punya hak jawab yang pernah Adwi jelasin juga apa itu hak jawab. Iya. Sedangkan kalau influencer kan enggak punya itu semua ya.
Mereka bebas berpendapat sebebas-bebasnya. Heeh. Itu yang agak tricky sih di eh konteks Indonesia as a society gitu. Karena literacy itu enggak rata. Heeh.
terkait could be financial, could be health, could be beauty, could be anything tuh financial e literasinya tuh enggak sama gitu. Jadi regul regulasi ini penting enggak penting karena itu tadi maksudnya kalau gua sih merasa kayaknya perlu sih karena makin ke sini makin ke sana gitu. regulasinya tandanya bukan cuman dari pajak tadi kan gua bahas bukan tandanya terkait tadi-tadi itu apa apa nih contohnya nih dia emang akong jadi kalau ada omongan [tertawa] regulasi di otaknya dia cuma pajak-pajak aja padahal banyak cuy enggak ya tadi itu tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan kan ee tapi betul apa kata step tadi apa yang lu harapkan dari konten yang tersebar luas jadi banyak yang menyerap dari lu faktualnya aja sarjana di Indonesia ini cuma 10 koma something makin makin ke sini makin ke sana gitu. Jadi mengkhawatirkan di mana konten-konten yang dulu belum ada AI, belum ada AI itu udah makin banyak hoa gitu dan banyak yang kemakan apalagi sekarang tambah ada deep fake AI dan lain-lain yang makin makin mengkhawatirkan gitu. Jadi bagi teman-teman yang nonton di luar sana atau bahkan mungkin sebelah gua nih enggak setuju diregulasi.
Heeh. Tapi feel like karena dia penganut neolip sesuai tempat dia belajar dulu di Amerika itu. Somehow it somehow selain disclaimer selain disclaimer bahwa gua dibayar gitu kan partially harus ada somehow harus ada some kind of ground rules engak sih? Iya. Lu kalau yang F itu ya bahkan analis-analis di sekuritas itu highly regulated loh di OJK.
I lu tiba-tiba ada konten-konten yang ngomongin finansial nyelonong aja gitu. Dan lu ingat enggak iklan apa ketika kita praring industri kesehatan itu aturannya banyak banget men. Engak boleh iniak karena influencer kan maksudnya mereka ngomong A B C terus salah terus istilahnya dicolek sama brandnya dia tinggal minta maaf gitu. Sedangkan konten yang salah tuh udah kangan yang salah juga. Dan belum tentu orang yang lihat konten awalnya tahu exactly klarifikasinya itu.
Itu masalah sih ini kayak domino ini efeknya tuh benar-benar snowball effect banget. Enggak. Intinya bukan kita mau membatasi konten yang beredar tapi paling enggak informasi yang beredar. Kan kita juga melakukan kurasi ya. Kalau di PR ini kan kita kurasikan dulu sebelum kita distribusikan ke media ke mana gitu-gitu.
Kita berharap informasi yang beredar di masyarakat ini berkualitas. Karena sejak kita kerja di KPI lu ingat enggak? Ingat. Persoalan mendasar dari industri, ekosistem industri adalah literasi media yang enggak ada mobil ada yang rendah. yang yang menarik itu gua beberapa berapa hari yang lalu lah ya enggak lama gua gua muncul tuh di timeline timeline fit gua eh Global Fraud Index 2025 Indonesia duduki peringkat kedua sebagai negara paling gampang ditipuah nomor satu siapa nomor satu Pakistan [tertawa] oke semoga kita bisa menjadi at least disclaimernya itu sih menurutku Gua regulasinya gini gini gini.
Kalau lu sampai dibatasi lu bolehnya ngomong ini dan boleh itu, itu gua enggak terlalu setuju juga sih. Tapi kalau lu bilang di depan bahwa lu dibayar sama orang untuk ngomong ini, that's the least that you can do. Itu itu gua agree ya kan. Jadinya kita [berdehem] tuh tahu bahwa ee lu mau ngomong apapun kita bisa mengambil keputusan whether to trust you or not. He.
Tapi at least lu eh gua open nih. Dan jujur aja kita kan setiap kali ngirim price rilis apa kan kita selalu disklaim mewakili klien kita yang namanya brand apa kami menyampaikan di didim bahwa messaging itu kita align dengan kepentingan publik atau kepentingan negara atau whatever itu kan jadi apa sesuatu yang dislaim gitu di di kita declare gitu enggak kita tutup-tupi. Kira-kira itu enggak? Tapi benar enggak sih maksudnya lu bukan berarti kita mau ngatur yang ada di luar sana, tapi lebih ke kalau memang literasinya enggak rata dengan kondisi saat saat ini jadinya enggak ideal. Iya.
Is not good. Iya. Heeh. Jadinya mungkin semuanya menurut gua ya kalau gua ya semuanya mesti ada aturan mainnya ya kan. Ada apa namanya transparency ya kan.
Ei, gua dapat duit, gua melakukan ini, gua ngomong ini, lu percaya enggak percaya terserah lu. Karena di luar sana misalnya kayak di Amerika kan mereka sudah melakukan itu. Heeh. Eh, selalu kalau lu nonton review video, ini opini gua pribadi, tapi FYI gua dikirimin ya produknya ya kan. Ada beberapa yang dia bilang, "Diah, gua beli sendiri, ada yang dibayar dibayar, ada yang dibayar gua dan ini barang gua beli sendiri itu pakai uang gua sendiri." And it's fine.
Heeh. Maksudnya kita tetap percaya sama dia karena cuy lu jangan nyampah juga lah lu ngambilin kayak obat kuat apa-apa yang mistik-mistik lu yang benarlah enggak maksudnya banyak gitu sekarang ada ini gua pernah terekspose dengan kayak konten-konten kayak beauty-beauty cream gitu yang memang mengandung merkuri lah mengandung hydrinon yang emang enggak boleh lu pakai buat jangka panjang gitu sedangkan karena dijual murah kulitnya jadi putih tuh orang-orang yang di daerah-daerah atau yang hancur cuy tapi gua lihat ya ini kan jadi karena Mbak overload konten gitu segala macam jadinya kayak kita susah banyak noise-nya. Exactly. Dan kita kan yang kita cari kan voice ya. Ya.
Iya kan? Jadi emang apa bedain noise sama voice itu kan butuh apa kita knowledge butuh anu pengalaman segala macam. Nah, makanya itu jadi gua mau bilang gini bahwa yang kemudian jadi voice itu gua rasa penting ketika konten-konten yang ada itu based on tadi transparansi sama akuntabilitas [berdehem] dia akan create trust. I ketika trust itu sudah ee muncul maka ujungnya adalah ee reputasi dan kredibilitas kan gitu kan. Itu yang yang rumus yang memang kita bangun selama ini, kan.
Iya. Nah, enggak gini gini gini even lu kalau lu jadi buzer politik ya, eh more power to you meaning ya that's how you make your money. It's ok man. Tapi lu claim gitu karena kalau enggak declare karena kalau enggak membingungkan, man. Eh cuy lu ini ini ini.
Tapi lu ngomong kayak gini doesn't make sense lu bikin gua sakit kepala. Tapi kalau lu ngomong bahwa eh by the way gua dapat dana dari whatever foundation yang oke then then gua bisa mengambil el. Apa yang perlu diambil menurut gua? At least gua tahu milah-milahnya gitu. Oh, yang ini gua ambil, yang ini enggak karena ini gitu.
Nah, itu aja sih pada akhirnya karena semakin sini lu ngelihat konten di luar sana apalagi politik ya mumet cuy. Iya. Nah, itu dunia sekarang kalau Hanah Aren itu bilang bahwa anonyomity itu create responsibility. Jadi ketidak apa identifikasi yang tersamar itu membangun ketidak pertanggungjawaban. Jadi, jadi itu yang gua rasa dan dan ini kita enggak ngomongin cuma satu ya, ini all layers of society lah.
Pas lu ngomongin anonyity apa anonymity iya itu anak kecil bullying ini itu cyber rusuh cuy. He he betul. Terkait AI ya pada akhirnya ada tren di mana orang kalau nge-Google itu udah enggak ngeklik. Ya kan zaman dulu lu Google, lu klik yang link pertama, link kedua. ini mereka udah melakukan itu ya kan 68% itu per 2026 dan ada kenaikan sekitar 12% eh sor variansnya 12% ini dari Sparkoro sama similar web.
Selain itu ada juga AI summary ya kan pada saat itu present itu ada peningkatan juga orang semakin enggak ngeklik lagi. Another eh 8% itu dari view eh research center. Nah, pada akhirnya hal ini juga yang membuat penurunan ee klik menuju media ya kan teman-teman kita di media ini. Jadinya makin minim klik yang didapat dari Google karena orang no longer klik. Mereka lihat overview beres atau mereka sama sekali motong masuk ke AI untuk mendapatkan jawaban tersebut.
Pertanyaan gua ini nih ke depannya apakah akan terus seperti ini? Is this temporary? Apakah emang ini shift yang permanen gitu? 30 tahun yang lalu kalau lu mau ee ee lu ke perpustakaan untuk mencari informasi tentang satu Heeh. Dari satu buku itu lu banyak yang complete man dari A sampai Z ya kan.
lu tahu background-nya, lu tahu apa ee apapunlah tentang sesuatu itu. Nah, kemudian muncullah sosial media ya. Lu enggak perlu lagi untuk suatu suatu itu lu enggak perlu lu enggak lu enggak merasa perlu untuk membacanya secara lengkap dan runut. Karena misalnya muncul zaman Twitter misalnya ee ee orang ee baca rangkuman posting-posting di sosial media itu udah merasa mengerti tentang suatu hal. Hm.
Which is sebenarnya kan social social media scholars enggak sih? Iya. Nah, sekarang orang lebih jalan pintas kemudian menggunakan website pastilah ya. Nah, sekarang jangka pintas, jalan pintasnya itu adalah tinggal nanya dengan chat, chat GPT. Chat GPT untung masih baik, Chat GPT atau yang lain-lain lah semuanya lah ya.
Masih ngasih citation-nya itu bukan baik. Itu cara dia bangun reputasi sama dia being accountable. Itu maksudnya gua sebagai pembaca e kalau gua mau mau mengetahui lebih lanjut gua tinggal klik aja citation yang dia kasih kan. He. Nah, jadi kalau menurut gua apa yang dilakukan oleh teknologi itu adalah memberi jalan pintas, memudahkan kita untuk memahami sesuatu, ya kan?
Nah, dari sudut pandang itu harusnya nah balik lagi ke ke e poin Sofyan tadi sempat dia ngomong tentang literasi media ini kan ee ee AI ini kan cuman media. Nah, tergantung kepada balik lagi ke kita ketika kita dapat informasi ee ee dari ee AI adalah kewajiban bagi kita terhadap diri sendiri untuk mempelajari lebih jauh, nyari buku kayak 30 tahun yang lalu misalnya. Jadi jangan jadi jangan cuman ngambil sesuatu yang instan-insan aja lah. Kalau menurut gua ada buku yang lama gua enggak baca ya. Terus ee apa gua pengin baca lagi lu tahu enggak?
Buku yang sekarang lagi gua baca adalah Good to Great by Jim Collins. Good to Great. Iya, itu tentang apa? Tyran of. Tyran of war.
Or. Oh, Tyran of Ore. Ya, pokoknya gitulah. Option. Option gua ya.
Em karena kita ada sedikit beda generasi lah ya. Enggak beda generasi lah, beda substantial years. H. Jadi mungkin the way I consume things juga enggak literally sama kalian sih. Oke.
Jadi I think the last book I read was terakhir tu Kindle. Bacanya juga udah enggak baca buku fisik. I used to buy book every week when I was younger. Novel-novel sih. A lot of apa namanya?
Eh fiction gitu-gitu loh, komik ya kan. Tapi as gua udah mulai kuliah tuh udah udah geser tuh the way people consume tuh udah enggak lewat buku buku tapi lebih banyak pakai Kindle. Having said that, ke sini tuh makin makin banyak orang yang memang enggak baca buku lagi, especially younger generation ditambah dengan AI, Google, everything is just one click away gitu. Jadi the way they consume and the way they interpret information tuh jadinya parsle yang kay tadi Adwi bilang kadang-kadang it's not keseluruhan tapi kecenderungannya itu bacanya itu cuma seringkas seringkasan doang gitu dan kadang-kadang yang dibaca juga pun ringkasan yang ee tergantung dia baca di channel apa ya ada kepentingan-kepentingan yang kepentingan-kepentingan yang conclusion-nya tuh tergantung dari yang meringkaskan. That's the tricky part.
Jadi, makanya gue mencoba untuk kalau gua terpapar dengan satu konten instead of just reading through that one thing, gua suka banding-bandingin tuh dari beberapa sumber just to get at least keutuhan informasinya tanpa ada motivasi di balik itu. Iya. Tapi untungnya gini ya, gua mau yang yang kebetulan gua beruntung sekolah di tempat kuliah di tempat yang bagus gitu. Artinya ee jadi belajar ilmunya itu disiplin. Jadi kita baca dulu buku-buku dasar, filsafat dasar Sokrates, Platul, teman-temannya.
Terus baru [berdehem] mungkin yang habis itu yang applied ya kan kayak bilang ruso lah segala macam ee [berdehem] apa ee baru yang terakhir-terakhir stiglits gitu-gitu yang jadi kita punya disiplin untuk tahu basic apa dasar-dasar logikanya terus tahu metodologinya baru kita bicara applied-nya. Hm. Kayak kayak misalnya yang terakhir tadi gua bilang apa apa buku Good to Greet itu bicara tentang eh tyranny of. Iya. Or itu misalnya dia kan tirani ya.
Maksudnya lu bisa punya opsi A atau B tapi can never both. Nah dia dia kasih solusi supaya the geniuses of N N A and D ya. Jadi kita bisa sebetulnya bisa dua-duanya tapi apa namanya dan impact result-nya tuh luar biasa ya. He. Dan itu kan yang gua apply di apa namanya di di bidang gua public affair segala macam.
Karena kan kita oh lu mentingin kepentingan publik atau lu mendahulukan kepentingan eh korporat gitu misalnya. You can never have both. Padahal sebetulnya bisa. That's the genius of N. I itu tuh ilusinya kayaknya lu enggak bisa.
Iya. Iya. maksudnya ilusinya the seolah-olah lu harus memilih gitu kiri atau kanan padahal betul betul ee kalau lu eh systematically berusaha melakukan dulu bisa aja sebenarnya it's just how you do it gitu kanul dan yang penting itu sebenarnya your understanding terhadap satu ilmu itu. Jadi enggak bisa lu cuma lihat snapshot snapshot luat pendek gitu kan konteksnya enggak penuh enggak penuh. Jadi, lu betul-betul harus dalam paham tentang apa yang lu geluti sekarang baru lu bisa dapat tuh genius of-nya.
I. Jadi kalau kalau bagi gua lagi kalau melanjutkan pertanyaan Mercy, apa tadi pertanyaannya? Menurut kalian ini temporary state atau memang udah kayak moving forward ini permainannya gitu? Iya, kalau menurut gua ini ke depannya akan beginilah. I heeh.
Kalau misalnya balik ke contoh yang gua kasih tadi, sekarang tuh kalau gua mau beli buku, Hm. gua nanya dulu sama si AI. Oke. Ya kan? Gua tanya dulu sama si AI.
Hm. Ee dan dari situ gua akan menyimpulkan sendiri dan gua beli bukunya misalnya nih misalnya ya. Jadi ee ee karena memang kelebihan si AI ini dia cepat cepat aja, cepat, ringkas, cepat. Gua nulis pakai AI. nulis tuh pakai gini misalnya gua bikinin gua artikel L TR termasuk teorinya l tret gitu tapi karena gua pernah baca buku teori yang dia kutip gua enggak ada masalah oh ya emang benar begini oh emang benar begini kan gitu karena kita pernah baca bukunya yang jadi masalah kalau orang enggak pernah baca bukunya terus lu upload mampus tuh kadang-kadang ya maksudnya ketika lu enggak baca tapi ketika lu terekspose dengan hal-hal lain dan lu tahu dan lu merasa lu perlu mempertanyakan itu that when AI works, right?
Dan tadi kita sering bahas bangetlah dengan tamu-tamu yang lain juga bahwa AI ini enggak me untuk completely replace your brain. Enggak. Betul. Betul. Enggak.
Jadi gimana caranya lu pakai ini biar empowered? Lu udah lu udah punya informasinya lu tanya dia terus lu tanya lu pertanyakan lagi lu stres tes. Jangan lu apa apa namanya bulat-bulat gitu lu telan. Mengandalkan itu. Jadi Heeh.
Iya. Gua sepakat tuh bahwa otak lu pakailah [tertawa] intinya kan itu. Tapi bahaya buat orang-orang yang akhirnya jadi gampangin. Nah. Nah.
Enggak. Ini balik lagi kan kalau tadi Steve ngomong tentang generasi kita itu berada di generasi pertama kali internet muncul. Enggak pertama kali internet muncul lah. Awal-awal internet muncul. Iya.
pertama eh enggak pertama kali sebelumnya awal internet muncul populer kita kita menjalani ee ee periode itu sampai ke sekarang dari dari nol enggak dari nol lah dari 0,5 sampai sekarang kalau misalnya sekarang 8 itu kita menjalani prosesnya. Nah, gimana dengan generasi yang sekarang? N yang sekarang nih kayak ibaratnya begini, dulu kalau olahraga gitu ya, apa kita naik gunung kan latihan pakai otot sendiri, sekarang sudah ada exoskeleton gitu kira-kira udah dibantu gitu. Ada alat bantunya, ada shootnya. Dan kemarin ketika ada yang ngetes tuh dia pakai itu seminggu gitu, pas dia copot itu barang bisa jalan ototnya tuh kayak enggak terbiasa gitu.
Dan itu yang itu bahayanya AI menurut gua ya, karena enggak terbiasa ya. Bagus buat orang-orang yang tahu tadi prosesnya panjang itu dan kebetulan itu generasi kita ya. Nah, ini bahaya sih. Iya. Eh, pada akhirnya probably cara pemakaiannya lah.
Betul. Iya kan? Karena gini, kalau buat orang yang menggunakannya dengan baik, lu biasanya tanpa AI lu bisa memecahkan satu masalah. Dengan AI mungkin lu bisa memecahkan lima. Betul itu jadinya bukan berarti jadinya AI ini jangan dipakai sebagai tongkat atau skeleton yang lu bilang itu.
Nah lu lu otot yang lain jadi inilah. Tapi gimana caranya enhance lu sekarang bisa lompat 1 m. Heeh. Gimana caranya lu bisa naik 10? Itulah.
Tapi apapun go lu itu itu patokannya gimana lu bisa lebih tinggi lagi menggunakan e AI. Eh, selanjutnya katanya traffic ke medianya itu kan turun banget pada akhirnya. Jadi, e ada layoffs. That's the reality, gitu. Nah, pertanyaan berikutnya dari gua, gimana kita navigate eh industri kita ini kalau misalnya perlahan eh satu demi satu misalnya jumlah media, jumlah ee teman-teman wartawan gitu-gitu semakin mengecil ya kan?
Apa yang harus kita lakukan? What are the things that brand should do dengan eh kondisi saat ini? gitu game-nya PR gitu kan sempat di mana periode doing PR tuh it's all about digital, it's all about foto, it's all about gambar, it's all about gimana caranya gua bisa di-feature di Instagram, di Facebook, di whatever. Now with AI, I think things change lagi ke arah yang gimana caranya gua bisa dicraw sama AI, gimana caranya gua bisa keion di di AI. ya caranya gimana?
I think it's still mystery to a lot of people. We we know the theory, tapi yang successfully has done it mkin belum belum belum banyak ya e dengan sangkin barunya ni AI. Tapi in short PR kembali ke ininya sih ke core-nya. He gimana caranya kita bisa emm content turn out a lot of content yang bentuknya tulisan supaya bisa dicroll sama AI. Hm.
I which means eh teman-teman di media, teman-teman jurnalis, their work is more valuable than ever now. I dan gini, AI itu kan enggak bodoh juga ya, maksud gua namanya AI, artificial intelligence. Artinya dia akan mengkurasi juga dia melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan kan mengkurasi informasi dia akan nanti akan ada masanya di mana dia akan cek-recek segala macam. Dan itu yang kemudian sumber informasi yang kredibel, faktual berdasarkan apa yang ada di kode etik jurnalistik itu jadi suatu yang penting. Dan jangan lupa loh kita start this bisnis itu waktu dulu banget ketika media itu emang enggak banyak.
He. Berapa sih dulu media cetak di Indonesia? Dan gua ingat banget ketika dulu kalau ada preskon kalau udah wartawan Kompas sudah confirm itu kayak 50% udah selesai eh udah kelar gitu. Yes. Dan cuma sedikit banget gitu.
Dulu media berapa sih? 10 yang kita kirim undangan, yang kita coba yakinkan untuk datang. Tiba-tiba habis itu ada exploding apa? Dcom gitu. Terus habis itu ada media sosial.
He. Terus sekarang ada influencer. Terus sekarang ada AI. Artinya memang industri kita pada dasarnya nih industri media itu dinamis. Dan alhamdulillah juga ya kita survive lah dari eh udah berapa 15 tahun sebagai agensi tapi sebagai profesional kan kita udah 20 tahun lebih ee di industri ini dan kita bisa gitu dan memang adaptasi adaptability terus kemudian itu jadi sesuatu kunci sih di industri ini dan kur rasa medianya juga akan evolving itself tapi itu tadi kata kuncinya reputasi sama kredibilitas itu yang akan bertahan sih kalau menurut gua ya pasti akan banyak konsolidasi lah.
Betul. Ini nih berdasarkan opini gua aja ya, keyakinan gue ya memang agak terlalu banyak mesti diakui gitu. Betul. There's too many media, Ben. I I kan jadinya bahwa akan kontraksi, terkonsolidasi, akan ada pengetatan tuh fair-fir aja setiap industri melalui fase itulah dan sekarang ini mungkin ee terjadi gitu.
Nah, moga-moga tapi ee tetap bisa survive dan beradaptasi untuk bisa serve eh continue to serve a lot of people lah. Adwi. Tapi kan kita sepakat jumlah media berkurang ya kan karena penurunan pendapatan ee oleh media. Terus ada pergeseran audiens yang tadinya baca nonton dengar radio. Hm.
Mereka udah pada pindah nih ee ee ke jalur digital. Nah, media juga kan beradaptasi. Sekarang media Kompas punya podcast ya kan misalnya ee eh TV punya TV-TV juga punya event bahkan ee media-media ee yang media-media profesi atau media-media yang segmented itu mereka bikin awards misalnya. I. Jadi ketika Sofan tadi bilang media melakukan adaptasi, iya mereka beradaptasi dan ee mereka mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh media.
Nah, sekarang permasalahannya ketika konten media itu dirawing oleh AI ya kan. Nah, media. Nah, sekarang yang jadi kendala bagi klien itu eh pertanyaan klien itu kan suka kadang-kadang bukan kadang-kadang lah ya, ke depannya mungkin akan selalu eh gimana caranya gua muncul pertama kali ketika orang search sesuatu di AI. Nah, ya ee ee ee kemungkinan enggak sih AI ini akan membuka kanal iklan? Hmm.
itu enggak tahu eventually atau tidak aku tahu dia paid service segala macam segala macam. Iya kan? Soalnya kan kayak Google dulu awal-awal apapun itu yang muncul di halaman pertama Google itu organik. Terus tiba-tiba lu bisa tapi kan ada sponsor ya dia disklaim juga. Iya.
Nah. Oke. Tapi pada akhirnya ya kalau misalnya gua, gua tuh selalu berpikir bahwa pada akhirnya manusia, umat manusia akan umat manusia akan mengharamkan AI. Asik asik asik asik asik. Mistik enggak sih?
Iya. Ini ini terjadi di dalam dunia Dun apa sih? [tertawa] Enggak. Tapi gua mau ada kutipan penutup itu dari Alvin dari Alvin Tofler dia bilang dan ini berlaku sih sebetulnya theiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn unlearn and relarn. He.
Jadi bukan soal lu bisa baca atau enggak, tapi sekarang soal lu bisa belajar enggak, unlearn enggak bongkar ya bongkar kepercayaan lu sama belajar lagi. Gua rasa sih itu ya waktu itu kita sebat ngobrol sama Yos soal ini juga dia bilang konteksnya kalau enggak salah tuh soal leaders ya. how how a leader tuh bisa bisa tumbuh to be a better leader something like that lah. Jadi dia tuh jawabnya bahwa ya seorang leader tuh baru bisa tumbuh menjadi a better version eh of them adalah ketika bisa punya itu the art of unlearning. Iya.
Iya. Karena dekonstruksi itu sesuatu yang sulit loh. Dekonstruksi sulit. Sulit banget. Karena misalnya lu didoktrin nih gua kebetulan agama gua Islam.
Lu enggak boleh makan babi dari kecil. Lu enggak boleh apa milera anjing apa. Mendekonstruksi itu tuh suatu yang sulit banget. Ini bahasa yang paling gua ambil yang paling apa e ekstrem lah. Paling common juga lah.
Nah, paling common juga. Tapi apalagi ketika lu sudah berinteraksi, lu udah punya knowledge, a certain knowledge, lu udah pada level wisdom gitu. Misalnya kalau di level knowledge itu ketika lu melakukan dekonstruksi itu kan sulit banget. Suatu yang lu yakini lama, benar, tapi ternyata enggak benar sekarang atau kurang benar sekarang. misalnya ya at least lu punya opini lainlah it gitu kan pas lu belajar yang lain misalnya itu dan itu jadi komponen yang penting ya faktor yang penting sekarang.
Oke. Oke. Ee jadinya kalau sekarang ya AiaIi ini eh kita tuh di Whitewood ada monitoring tools eh namanya Soledat. Nah Soledat ini fungsinya untuk nge-track prom yang lu ee pengin track. misalnya eh mobil paling bagus ya kan eh mobil listrik paling bagus Indonesia.
Nah itu tuh kita track tuh jawabannya across AI kita cari. Nah itu tuh it seems biasa lah ya kan. Tapi yang menariknya itu pada saat lu bermain dengan data yang lu dapatkan h bukan dari satu prom. Oke. Dari klien lain.
Oke. Dari semuanya. Nah itu ada bank of knowledge yang ready to roll. pertanyaannya yang tadi bisa enggak sih sebenarnya kita influence jawabannya sebenarnya bisa ada science-nya tapi kalau lu nanya suksess stories forget it kan baru gitu ya kan kadang-kadang brand nanya mana buktinya yah kalau lu nanya bukti ya lu tunggu setahun lagi 2 tahun lagi udah bisa udah pernah belum apa buktinya apa sesuatu yang baru itu memang harus diuji sama waktu sih kayak misalnya mobil listrik lu percaya enggak percaya kan kita enggak tahu entar 5 tahun 10 tahun ke depan tapi apakah lu berani ambil step itu dan biasanya orang-orang yang berani ngambil langkah Setelah itu dia sudah maju duluan di depan nanti 5 10 tahun [tertawa] apa namanya? Trail blazer.
Trail blazer dia early adopter. Early adopter bangun. Tapi tapi ingat ingat ingat kutipan. Janganlah engkau membuat mesin yang menyerupai pikiran manusia. Balik lagi ke Dun tadi [tertawa] Dun Dun semesta Dun.
Heeh. Nah, tapi balik lagi gini. kita ngembangin konsep yang namanya narrative architecture. Narrative architecture ini pada akhirnya itu ada layering of information. Nah, itu yang digunakan oleh AI untuk kama dengan jawaban.
Iya. Nah, memang kedengarannya simpel tapi pas lu lakukan itu it needs to be very scientific lah. Ada ada method to ya kan. Kalau lu penasaran pengen nanya-nanya bisalah ngobrol sama Mercy ya. Asik.
Asik. Iklan diri sendiri. [tertawa] sendiri. Iya. Iya.
Iya. Jatuhnya kan ee ketika kita ngomong AI, kita ngomong dari sudut pandang komunikasi ya kan. Jadi AI e itu akan terkait dengan media, akan terkait dengan influencers, akan terkait dengan spokesperson, akan terkait dengan data dan jadinya AI yang kita omongkan itu bukan AI-AI di industri-industri lain. Kita enggak ngomong robot, kita enggak ngomong ini. Heeh.
He tentang ee informasi ya kan pembagian informasi specifically lah. Nah, dari situ nanti kita bisa kapan-kapan ngobrolin yang lain-lain karena banyak banget konsep-konsep yang memang harus dibahas dan ya look out for future episodes pasti kita akan kita akan dalami tadi dalami lagi. [berdehem] Contohnya nih ya sneak preview ada konsep yang namanya dual legibility tension itu di mana kita bikin konten tuh harus memuaskan bukan hanya manusia tapi the machines supaya dia bisa menjadikan lu referensi. Nah, itu ee sneak peak. Asik buat episode-episode berikutnya.
Oke, geng. Eh, lagi-lagi thank you for watching all the way to the End. Kita apreciasi. Tapi iseng deh, let's do something. Ya kan subscribe eh terus eh itu apa notification ya itu berguna ya.
Gua enggak pernah menggunakan itu, cuy. Gua gua pakai sih untuk konten-konten yang gua pengen tonton. Gua enggak pernah melakukan itu. Ternyata berguna banget. Jadi, guys, e do so jadinya tuh pas keluar lu tahu ya kan.
He udah udah udah mau tayang nih, udah mau primemir. Lu bisa set your time, nonton pelan-pelan and then hopefully you learn e dari apa yang kita ngobrol. Kita sharing sih sebetulnya bukan kita paling tahu juga nope ya kan. Kalau lu punya pemahaman yang lebih tinggi lagi komen ya kan. Jadi kita bisa belajar juga dari komen-komen kalian.
Anyway, thank you everybody. Thank you. Bye. [musik] [musik]