Proxemics 039 ngobrol dengan Yusuf Seto, Head of Business Development Southeast Asia & Pacific di Cambridge International Education, tentang arti label “Cambridge” bagi orang tua. Ia lebih dulu menyebut posisinya: “gua enggak mau bias ya karena kan I'm in Cambridge” 40:43. Jawabannya: Cambridge memberi orang tua baseline standar dengan pengakuan yang sama — dalam kata-katanya, “confident for parents” 41:16 — tapi sekolah yang menyebut diri “sekolah Cambridge” harus bisa membuktikannya dengan ID number Cambridge 10:50. Setelah itu obrolan bergerak ke mutu pendidikan Indonesia dibanding ASEAN, mentalitas desperation di sales, AI sebagai tongkat atau tangga, reciprocity dan beda cara belanja laki-laki dan perempuan, serta memimpin tim warisan.
Buat kamu para praktisi PR, marketing, orang tua yang sedang mencari sekolah terbaik untuk anak, atau profesional yang ingin mengerti psikologi di balik sebuah penjualan.
Dual Legibility Tension (White Wood): logo Cambridge adalah yang pertama dilihat orang tua; ID number Cambridge adalah yang bisa mereka cek.
Quick facts
- Episode: Proxemics 039 · 28 Agu 2026 · 1:06:46 · Bahasa Indonesia bercampur banyak bahasa Inggris
- Tamu: Yusuf Seto — Head of Business Development Southeast Asia & Pacific, Cambridge International Education
- Host: Mercy Tahitoe, Stephanie Sicilia
- Peran sebelumnya yang disebut: Celebrity Fitness, Wall Street English 43:37
On the mic
Key takeaways
- “Sekolah Cambridge” adalah klaim yang bisa dicek, bukan logo. Yusuf membagi Cambridge jadi tiga bagian — kurikulum, resources (buku), dan qualifications 03:32. Di mic, kebingungannya disebut terang: ada sekolah yang cuma pakai bukunya, “tapi somehow mereka throw around the word cambridge” 06:58. Menurut Yusuf, “sekolah Cambridge” adalah miskonsepsi yang paling sering didengar 07:13: memakai resources Cambridge “bukan berarti dia … adopt the curriculum itself” 08:37, dan sekolah bisa saja berstatus “Cambridge University Press Educational Partner” sambil memasang logo Cambridge 08:51. Sekolah Cambridge yang sebenarnya punya ID number yang terdaftar di website resmi Cambridge dan bisa dicari lewat “find school” 07:59. Ia menambahkan, sekolah-sekolah itu “bukan berarti mereka salah, tapi penyebutan secara jualannya mungkin harus diperbaiki” 08:16.
- Indonesia vs ASEAN: tangga yang lebih kecil, dan ruang untuk tumbuh. Yusuf menyebut ini “personal observation. It could be wrong” 13:18. Indonesia tidak bisa dibandingkan “apple to apple” dengan Singapura atau Malaysia karena negara kepulauan — terbang ke Medan hampir selama ke Bangkok, Bangkok cuma sekitar 30 menit lebih lama 12:34–12:48. Di Indonesia, anak tangga dari guru yang belum terlatih ke yang terlatih tidak terlalu besar 13:18; di Thailand guru sekolah internasionalnya luar biasa, tapi di sekolah negeri ada drop yang cukup signifikan 14:00; Vietnam punya gap tapi tidak sedalam itu, dan sedang memasukkan anggaran ke pendidikan — gaji dan pelatihan 14:46–15:48. Pandangannya: “Indonesia tuh still have a lot of potential” 15:00. Ditanya tantangan terbesar pendidikan Indonesia, ia menjawab: “The ability to think what you think” 19:09.
- Sales digerakkan oleh hunger, dan sering oleh desperation. Yusuf, yang pernah melatih sales person, pernah meminta peserta training mengangkat tangan kalau sales adalah dream job mereka: tak ada yang angkat tangan 22:57. Di mic, jawaban pertama yang biasanya muncul soal alasan jadi sales adalah “because of the money” 23:11–23:48. Poin ini didorong lebih jauh: “a lot of them yang successful itu when they're desperate” 25:31, lalu dikaitkan dengan Outliers dan gagasan 10.000 jam — “Bill Gates put lots of hours untuk mendalami ini” 27:27.
- AI sebagai tongkat atau tangga. Di mic: AI sering digunakan “sebagai crutches … bukannya lu jadikan tangga, tapi lu jadikan tongkat” 31:11–31:25: “It doesn't take you anywhere, right? If anything, it slows you down.” Sebagian orang lain memakai AI “literally buat elevate themselves”, untuk mengeksekusi ide yang sudah ada 31:44. Ditanya bagaimana Cambridge menyikapi AI, Yusuf bilang Cambridge “mungkin very slow on AI” dan menyebut pendekatannya “human center AI” 36:01; topik pertamanya data privacy — “Don't share your children's face” 37:18 — lalu memberi AI peran dan batasan sebelum meminta, misalnya, lesson plan 38:07. Di mic, disebut liputan media AS (“New York Times or something”) tentang anak SMA yang mengambil kelas bengkel, home economy, dan menjahit karena khawatir pekerjaan mereka diambil AI 35:05–35:29.
- Reciprocity, dan laki-laki dan perempuan belanja dengan cara berbeda. Yusuf menggambarkan ngobrol 30 menit dengan sales yang ramah lalu muncul “rasa enggak enaknya” — jadi “at least gua beli apa kek” 51:09. Seorang host menyebutnya reciprocity, dari buku yang ia sebut “Psychology of Influence”: saat menerima sesuatu, diminta atau tidak, kita merasa harus memberi balik 54:50–55:11. Membandingkan kebiasaan belanja masing-masing, mereka menyimpulkan “customer journeynya laki dan perempuan tuh bisa-bisa beda” 58:08, dan salah satunya mengingat training sales dulu: “Kalau untuk woman itu you touch the emotions. Kalau laki itu pasti the logic side” 58:50. Ini pengalaman mereka dan training lama, bukan hasil studi.
- Memimpin tim warisan. Yusuf: tidak semua leader bisa memilih — “you usually inherit the team” 1:02:07 — jadi tugasnya memahami value tim itu 1:02:30. “I wasn't born as a good leader” 1:02:50; ia menjadi center director di Wall Street English di usia “like 22 probably”, dan mengakui waktu itu masih ada ego 1:03:06. Pandangannya sekarang: “leaders is a supporting role” 1:03:23 — pastikan “people that you lead actually shining more than you” 1:03:58. Sifat yang paling cepat klik dengannya: “less ego” 1:04:36.
FAQ
Proxemics 039 tentang apa?
Yusuf Seto dari Cambridge International Education tentang apa yang membuat sekolah benar-benar “sekolah Cambridge”, mutu pendidikan Indonesia dibanding ASEAN, mentalitas desperation di sales, AI sebagai tongkat atau tangga, reciprocity dan beda cara belanja laki-laki dan perempuan, serta memimpin tim warisan. Tonton:
https://www.youtube.com/watch?v=l6RvNHJ35sYSiapa host Proxemics?
Mercy Tahitoe dan Stephanie Sicilia.
Siapa tamunya?
Yusuf Seto, Head of Business Development Southeast Asia & Pacific, Cambridge International Education.
Bagaimana orang tua mengecek apakah sekolah benar “sekolah Cambridge”?
Menurut Yusuf, sekolah Cambridge punya ID number Cambridge yang terdaftar di website resmi Cambridge, dan orang tua bisa mencarinya lewat “find school”. Sekolah yang memakai buku atau tes Cambridge bisa saja terafiliasi tanpa mengadopsi kurikulumnya secara penuh (08:37–11:26).
Bagaimana Yusuf membandingkan pendidikan Indonesia dengan ASEAN?
Sebagai observasi pribadi yang “could be wrong” (13:18): Indonesia tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan Singapura atau Malaysia; anak tangga mutu guru di Indonesia lebih kecil dibanding drop dari sekolah internasional ke sekolah negeri di Thailand; Vietnam sedang memasukkan anggaran ke pendidikan. Ia melihat Indonesia punya “a lot of potential” (12:34–15:48).
Apa maksud “AI sebagai tongkat atau tangga”?
Memakai AI sebagai tongkat karena malas — yang justru “slows you down” — dibanding memakainya sebagai tangga untuk mengeksekusi ide yang sudah ada (31:11–31:44).
Apa kata Yusuf soal kepemimpinan?
Leader biasanya mewarisi timnya, jadi harus memahami value tim itu; kepemimpinan adalah “a supporting role” yang tugasnya membuat tim bersinar; sifat yang paling cocok dengannya adalah “less ego” (1:02:07–1:04:36).
Mentioned on the mic
- Cambridge International Education
- Cambridge University Press
- Celebrity Fitness
- Wall Street English
- Outliers
- Bill Gates
- AI Native
- ChatGPT
- Gemini
- Data privacy
- Critical thinking
- Buku yang ia sebut “Psychology of Influence”
- Reciprocity
- Ethos, Logos, Pathos
- SPG
- Ojek Payung
Listen & watch
Go deeper — Down the Rabbit Hole