Bagaimana seorang praktisi komunikasi bertahan menghadapi krisis di industri pulp & paper, farmasi, dan tembakau alternatif — lalu nekat membangun usahanya sendiri? Di Proxemics 002, host Mercy Tahitoe dan Stephanie Sicilia berbincang dengan Reza Amirul, praktisi corporate communications dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri paling kompleks di Indonesia.
Reza menelusuri lompatannya dari dunia agensi ke korporat, didorong rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Ia mengupas kerja penanganan krisis di garis depan — tekanan geopolitik di pulp & paper, regulasi ketat di farmasi, hingga tali tipis reputasi produk tembakau alternatif di Sampoerna (Philip Morris International), produsen IQOS.
Babak paling menonjol adalah keputusannya bergabung dengan Traveloka di puncak COVID-19, membangun narasi korporat untuk persiapan go public di pasar Amerika Serikat — dan persiapan intensif menghadapi jurnalis CNBC dan Bloomberg, di mana satu kesalahan kecil bisa mengubah arah pemberitaan.
Ia juga terbuka soal manusia: tiga tipe talenta yang paling sulit diajak bekerja sama, dan mengapa AI seharusnya meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Lalu klimaksnya — alasan kenapa sekarang waktu yang tepat membuka ‘warung sendiri’, agensi digital PR Illuminar, apa yang membuatnya berbeda dari kompetitor, dan kenapa visi lebih penting daripada jabatan.
Tontonan tajam untuk siapa pun yang menimbang pindah dari agensi ke korporat, melompat ke usaha sendiri, atau membangun growth mindset jangka panjang. Layak ditonton sampai habis.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
[Musik] Welcome to another episode of Proxemics. We talk to people, right? We talk to our team members sometimes. Tapi a lot of times kita memang guest driven so we have dope people from time to time including today. E let me introduce everybody in the room first before we get to the guest.
E gua Mercy and then over there ada Stefari Praksis. Untuk tamu kali ini ada Reza Amirul. Halo. Thank you. Thank you for having me.
Ye. Gimana? Gimana nih? What's up? E dengan Ada apa dengan Reza?
Kan tuh pertanyaannya ada apa dengan Reza? A R As. Ada the new venture nanti itu ya. Tapi what else is new? Anything exciting?
Anything eh observation? Anything you want to talk about? Sure. Um, yeah. But first of all, again, thanks very much for having me.
I think gini, I just wanna say this first ya, podcast. Podcast ini something yang benar-benar buat gue tuh akhir-akhir ini lagi gue apa namanya ya? Gua lagi senang banget lah. Into it. Oke.
I'm really into it. Jadi eh actually it started off with dengerin audio books. Oke. Tapi terus kemudian kayak audio books tuh kan benar-benar kayak one dimensional gitu kan. There's no eh apa namanya?
Element of conversations-nya di situ gitu. Terus kemudian gua coba ee apa namanya? Explore ke podcast gitu dan terus kemudian oh seru banget ya gitu. He. Ee awalnya karena memang dengerin di mobil tapi terus kemudian juga ya nonton yang di YouTube juga itu seru gitu.
Jadi banyak banget insight-insights yang kayak I mean you get you get your information, you get e apa namanya? Knowledge from box from talking to people. But then again listening people, conversing, discussing, debating itu keren sih. Dan dan gua senang banget sih kalau misalnya sekarang kita bisa ngobrol di sini gitu ya. So, what's new with me?
Sekarang sih em dari dunia korporasi I've been in the corporate side for more than 10 years now. E, and I think I'm I'm ready to start something new, e, something fresh juga gitu kan. Eh, venturing to new. ee sesuatu yang dari dulu sebenarnya kepikiran dalam ee di kepala gua bahwa gua pengin punya sesuatu e punya warung sendiri lah gitu ya. Nah, and I think now is the time maybe gitu ya.
Dan terus kemudian juga balik lagi all the experience that I had in the past decade. I think it's gonna be worthwi to be eh apa namanya? He lebih ya di kita kita bantu orang lain lah sekarang gitu lebih banyak gitu. Iya. But but let's go back to the corporate side.
Sure, sure. I remember when you made the leap, right? It wasn't easy. Well, at least it seemed to me, you know, eh this is something eh really big, right? Tapi akhirnya lu melakukan itu.
Why did you do it? Mungkin pas dulu lu pindah ke corporate and then eh what did you learn lah. Alright. Eh, dari sisi agency ya. from an agency kid.
Iya, anak agency ngelihat kayak corporate site sesuatu yang menarik. Hm. Yang gimana sih ya dalam kepala gua at least ya gua ee apa namanya? Gua enggak tahu teman-teman yang lain mungkin berpikiran sama, mungkin beda. Tapi gua sih selalu mikirnya apa sih yang mereka kerjain gitu ya.
Gitu kan. Eh, other than handing out tasks, orders to us. H iya kan di konsultan untuk ngerjain kerjaan mereka gitu kan. Sebenarnya mungkin ya sesimpel itulah gua pengin pengin nyobain ke corporate saya itu seperti itu. It was curiosity.
Oke. Jadi buat gua sih gitu. Gua gua penasaran banget gitu gimana sih sebenarnya di sana dan eh I mean you and I we both worked on some heavy eh clients as well right eh issues, crisis and everything right. Dan gua juga sangat penasaran oke kalau di kita seribet ini gitu ya di agency seribet apa sih mereka di sana gitu. Oke, drove me apa namanya?
Move to the corporate side. Dan pas gua masuk pertama kali itu eh I went into a company a pulp and paper company yang memang pada saat itu lagi crisisnya eh jadi crisis geopolitics. Oke. Em was force fires right that happened in Sumatera. Heeh.
neboring countries in Malaysia and Singapore. H so it was it was mind boggling lah ini gimana cara solven-nya gitu kan. How do we navigate juga gitu kan. How we mitigate juga gitu. Tapi ya di situ justru em gua jadi benar-benar pengin belajar lagi tentang sustainability ya kan.
Oke. Ee at least itu sesuatu yang benar-benar gua dapetin ee ketika gua ee masuk ke industri tersebut. Terus kemudian sempat nyobain beberapa industri yang lain lagi. Ada farmasi. Farmasi ini juga menariknya gini, ini we're talking about a whole different business models, right?
So, kalau kita ngomongin eh dari producer to customer to consumers gitu ya, biasanya kan dari producer ke customer dan consumer itu sama ya. He. Nah, ini tuh beda kalau di farmasi gitu kan ya. Itu ee kita sebagai produsen apalagi ee obatnya ini spesifik gitu kan. He.
Obatnya adalah drugs yang memang e obat resep lah gampangnya ya obat resep gitu ya. Harus resepin sama dokter. Customersnya adalah dokter, consumersnya adalah pati. Right? We can talk to the customers about our products but we cannot talk about the products to our consumers, ke patients.
Itu enggak boleh karena itu ada undang-undangnya gitu kan dilindungi sama sekali gitu. H kenapa ya? Takutnya ada penyalahgunaan dan segala macam. Jadi ee tugas gua sebagai ee apa namanya? orang yang berlatar belakang PR atau communications adalah untuk ngomong sama publik.
He. Jadi, gimana caranya ee apa namanya si produsen ini tuh visible gitu ya dan publik tuh juga kenal gitu. Akhirnya yang diomongin adalah tentang awareness about diseases. Yup, gitu kan. Eh, lu sebelum jualan obat lu jualan penyakitnya.
Not not jualan sounds negative but you know what I'm saying. Lu, lu enggak bisa langsung apalagi ini regulated bahkan. Tapi ya in kan kita juga eh man kayak kita mau ngomongin kamera yang bagus but if nobody cares you know you need to we identify first lah what can be intrigging for for the users kan eventually ya betul terus dari situ gua em sebenarnya ke FMCG ya FMCG tapi cukup kontroversial dan cukup contradictory dengan eh farmasi gitu kan karena luar biasanya Go on to the other side. Yes. Like from the light going to the dark side.
But then again, buat gua waktu itu ketika gue pindah ke sana, misinya tuh enggak beda dengan yang ee dimiliki oleh si perusahaan farmasi. Karena misinya adalah untuk mencoba meningkatkan kualitas hidup orang banyak. He. Dan tapi dalam ee konteks ini adalah perokok gitu ya. justru ee untuk memberikan alternatif terhadap perokok gitu supaya mereka enggak ee terus-terusan ee apa namanya ee harus ee ya kualitas hidupnya turun gara-gara ee habitnya mereka gitu.
Padahal sebenarnya ada alternatif lain gitu kan. Alternatif yang memang sebenarnya ditawarkan juga bukan berarti ee asal-asalan gitu. Hanya untuk me apa namanya? Membuat orang lanjut ke ee ketergantungan. Ketergantungan, ketagihan.
Betul. Tapi justru ee ini ada science-nya, ada research-nya, udah sampai naik ke New England Journal of Medicine juga itu peer review dan segala macam gitu ya. Itu yang buat gua oke ee gua mau coba deh gitu. Dan ternyata ketika gua masuk ke perusahaan itu isinya orang-orang farmasi juga, Men. Hm.
Iya. Looking. Maksudnya there's a possibility emang mereka actively looking for people from that background gitu. Betul. karena memang mereka sadar bahwa yang mereka coba tawarkan ini adalah sesuatu yang memang benar-benar membantu eh kualitas hidup orang banyak gitu kan.
So, it's it's eh apa namanya? The rigor in terms of how they eh conduct themselves, their business gitu ya. Itu juga mereka pastikan bahwa itu harus sama gitu loh dengan perusahaan farmasi. Jadi benchmarknya adalah perusahaan farmasi. Em unfortunately cuman setahun if you remember.
E iya, thank you for the support juga sebenarnya dari Mer dan tim. Oke. Iya, cuma setahun karena they had to face a mountain of legal battles in their hometown, their home country, akhirnya they decided to shut down their international expansion including Indonesia. Oke. Are they do they still exist?
They do. They do. E they still ini the US ada? They're still in business in the US and in the UK. I think the the habit juga the reception dari people in general towards that new habit itu udah beda ya compar to the time when you started the the role kan.
Betul. Betul. Kayak a lot more brands are coming in. Lumayan banyak juga yang udah operational. Iya.
Ya, you guys laid the ground work lah. Tapi enggak jadi. Tapi habis itu ditinggalin. Tapi typically the first one, the pioneers tu usually memang lebih banyaklah ground worknya. banyak yang harus diedukasi, banyak yang harus diadvokasi.
A given. Benar, benar, benar. Itu pengalaman gua menarik banget sih. Di situ gua ngerasa kayak sebelum-sebelumnya handling crisis ini tuh benar-benar uphill battle yang kayak udah almost unwinnable gitu loh. He he.
Iya kan? Em, it's like a whole new level of complexity di dalam eh chapter career gua lah pada saat itu. Emm dari situ gue eh masuk ke eh tech company, Indonesian tech company gitu kan. Tech company eh travel eh I think maybe you can guess teman-teman gitu kan. depannya T, belakangnya A.
Buat yang enggak nangkap, ee give up aja kalau Have you been living under the rock? Iya. Heeh. Jadinya oke. Iya.
Nah, ini menarik lagi gitu ya. Gua selalu mikir bahwa oh ya ini perusahaan ini cuman perusahaan Wait. Sor sor gua mauong. Tapi lu eh but but you know the the myth, eh what people say about startup, right? Eh lu jangan masuk startup.
Enggak, enggak seabil itu right fluctuations. It was actually worse than that. H this company is about moving people, right? It's about people traveling, right? And it was in the it was in Jor August of 2020.
So basically it was yes it was COVID. It was the first of COVID, right? So, a company supposed to be moving people, but now you cannot go anywhere, right? Makanya gua bilang it's even worse than that gitu ya. Masuk ke startup perusahaannya gak boleh ngapa-ngapain gitu kan.
You're actually kayak beneran heavily regulated limited lah pada saat itu kan lu terbang ada terbang shutdown apa udah cuman setengah apa kayak gitu atau baru mulai kayaknya malah belum berapa persen capacity gitu ya belum belum itu heeh apa dulu awalnya PSBB PSBB terus baru becoming PPKM tapi kayaknya belum ada vaksin belum ada apa-apa belum belum belum belum belum ada itu bahkan belum Belum belum jadi varian yang belum mutated, masih yang original tuh. Jadi belum yang delta Omnicron, whatever belum masih early early stage banget. Dahsyat. But that was crazy, man. That time that was crazy times.
The company had to face apa namanya? refund requests up to million US dollars. Refund refund request. I gua juga deh salah satunya because I was supposed to go somewhere that April. Yeah, same.
Tapi I didn't go I didn't buy through the website tapi still dari situ dari one of the ya kalau masih enggak tahu juga ya namanya Traveloka guys. Look up. Iya iya iya. Oke. Tapi eh tapi gini, sor gua tambahin dikit apa namanya?
Eh the situation was was bad lah pada saat itu kan. Iya pasti. Em terus waktu gue di dalam fase interview pun juga gua juga tentunya gua ya gua enggak mau ngegabah lah gitu kan. Oke nih ada yang mau ngen nawarin gua tapi terus kemudian nih longevity-nya kayak gimana, sustainability of the bisnis kayak gimana gitu kan. Satu hal yang bikin gua akhirnya yakin untuk oke eh eh I wan to join you guys gitu gitu kan.
Itu adalah bahwa mereka mendapatkan funding di bulan Juni tahun 2020. Eh Africat di seri seri berapa tuh? It was C or D I forgot. I dan it was kalau enggak salah 175 US eh juta US dollars ya. E buat gua, gua ngelihatnya gini, ada orang yang punya duit masih berani naruh duit di orang yang tadinya mesti jalan-jalan tapi terus kemudian dia enggak boleh jalan-jalan gitu kan.
H. So, it was about having a vision. Hm. Right. Having a vision.
How do they get out of this mess or this apa namanya? Tunnel atau whatever lah ya. He. Emm. Dan ada orang yang masih berani nuruh duit gitu kan.
berarti mereka benar benar-benar punya visi, mereka ee yakin dengan apa yang harus dilakukan ke depannya gitu. H so that was something that convinced me. Ok, eh I wanna join this company. Gua yakin bahwa eh oh ya and one thing ini ni ini juga dari yang gua pelajarin dari eh company-comany sebelumnya dan handling crisis gitu kan. Beyond every crisis is an opportunity.
Y iya kan gua I held e apa namanya? gua gua pegang itu bangetlah gitu ya. Jadi dan ketika gua melihat oh masih ada yang berani nih naruh duit di sini gitu kan oke jalan deh gitu gitu. Dan itu menariknya juga ketika gua masuk emm mereka memang lagi punya ambisi untuk em go public mau listing. Y have they done it?
Belum kan? Belum. Heeh. Belum. Tapi ya bahwa ini bisnis lagi babak belur, lagi in the mids of pandemic pengin listing tapi mereka masih tetap hackling to with that ambition gitu kan.
Mereka mau serius gitu. ketika gua masuk ini yang menarik juga gitu bahwa mereka they've been doing PR eh for quite long time gitu. Mereka eh di eh mereka berdiri kan 2012 gua masuk 2020 so years they've been doing PR. Tapi terus kemudian PR ini adalah hanya untuk eh marketing marketing tools mereka ngelihatnya gitu ya. Mereka belum lihat ini untuk ee bisa membangun reputasi mereka cara korporasi itu kayak gimana.
Dan waktu itu gua bilang argumen gua adalah kayak gini, lu pengin listing gitu kan. Ee listingnya di mana? Listingnya enggak di Indonesia. Listingnya penginnya di New York gitu kan. Listing di New York as an Indonesian company yang punya footprint bisnis di mana sih?
Oh, di Indonesia dan a few countries in Southeast Asia. Okelah gitu ya. Heeh. But then how do we break through the noise? seru.
Jadi waktu itu e sekitar 2 seteng tahun lah gua di sana gitu ya. Eh mulai ngebangun oke narasinya kayak gimana. Eh terus kemudian reaching out to the di international media gitu kan. Eh the like the likes of CNBC Bloomberg. Tapi yang di Hongkong ya bukan bukan yang di lokal gitu.
Yang di lokal juga kita engage obviously gitu. Tapi yang lebih ee kita lihat akan impactful karena balik lagi kita kan pengin ee punya presence visibility. Iya. Di New York itu tadi gitu. He.
Eh Bloomberg eh even CNN waktu itu reach out to me. Bahkan gua bukan gua yang nge-pitch tapi justru CNN-nya nyariin kita gitu kan. Eh eh I heard you guys are gonna go public gitu kan in US. Can you get can you give us an exclusive? Hm.
CNN loh dari New York gitu kan. It was I guess a highlight of my career as well lah gitu kan. Jadi emang sampai eh mereka juga ngelihat kayak gitu gitu. Heeh. Dan em apa namanya point of view-nya juga menarik pada saat itu gitu kan.
E Indonesia kalau kalau in most eh companies most corporations yang operate di Indonesia tuh kita tuh sebagai eh affiliate atau branch atau eh apa gitu ya. Tapi kalau waktu kemarin gua di situ di Traveloka itu justru malah Indonesia adalah jadi dari headquarters yang justru lu mikirin gimana caranya untuk di markets ini kita geraknya synchronized eh apa namanya eh h apa namanya sing the same e from the same him [ __ ] and everything lah kayak gitu. Heeh. Heeh gitu. exp lu biasanya ngikutin direction orang arahan orang sekarang ini kayak how do we direct people Philippines misalnya gitu kan what are they like you know kayak eh lucu juga sih in a way that must be the feeling yang kayak our network you know yang di Singapur yang di Malaysia kalau mau eh ini perlu masuk Indonesia nih mereka kayak hah Indonesia gimana Tapi ya geose ya, tapi behavior, what how to approach them tu completely different.
Completely different kayak I mean the closest Singapore a different game. Oh Singapore is a tough market. It's a tough market. Kayak I was I was fortunate enough also to manage Southeast Asia at one point. That was mindblowing kayak wow we are a neighbor.
Tapi ternyata segitunya bedanya. Iya. Hm. Malaysian, Singapore, Vietnam is compe world. Iya.
Thailand, apalagi? Jadi kayak ngelihat perspektif bahwa pada saat itu Indonesia yang malah jadi penggeraknya itu it's something yang completely different lah. Benar banget. Benar. He, but let me ask you guys this question.
Eh, tadi kan kita ngomongin international media, right? Eh, the big dogs, right? Nyamperin terus minta eksklusif. Eh eh pengalaman kalian gimana? Like what type of preparation lah.
Ini kan you know eh probably ada beberapa yang dengar gitu kayak heeh kita aja having problem trying to secure eh interviews with top tier medias locally lah di sini ya. Kok kalau sama kayak di sana enggak kebayang lah. Right. Take me through the process. Tapi akhirnya kejadian enggak sih that interview with CNN?
CNN-nya enggak. CNN-nya enggak. Tapi si NBC Bloomberg tuh dapat. Oke. I kayak did you have to do like a an extra media training session or you know was it crazy or was it just like another interview?
Em beda. H he was completely different. Oke, ya. Jadi, I'm not saying that Indonesian media has e lower standards. Enggak ya, enggak sama sekali ya.
Tapi beda gitu. Emm apa namanya? Ketika mempersiapkan si spox person ini gitu ya, itu juga memang em gua nge-drill-nya berapa lama ya? 3 hari kali. Iya, right.
Drill. Eh, spokespnya was the CEO ya? Eh, ada CEO, ada president eh dan ada co-founder. Tiga orang yang gue siapin. Oke.
The media eh ujung-ujungnya ngobrol sama all three or just like ini ini mungkin eh sedikit apa namanya? Eh, yang beda ya. Jadi, Traveloka ini CEO-nya namanya Ferry Urnardi. Eh, dia itu eh foundernya lah, is founder. Terus kemudian dia punya eh cofounder satu namanya Albert dan satu lagi namanya Derry.
Deri udah keluar duluan gitu. Jadi tinggal cuman Ferry sama e Albert. Oke. Ferry is a shy person. Oke.
Very introverted, the CEO gitu kan. Dia e dia mau keluar tapi dia akan very picky gitu ya. Jadi sama Bloomberg dia mau gitu kan. Em tapi kan ya mesti disiapin juga gitu walaupun dia mau dan dia he has all the apa namanya eh I would say maybe talking points di kepalanya dia gitu kan. Eh tapi balik lagi untuk ngadapin ee apa namanya ee media asing tuh beda gitu karena ee kayak gini loh apa namanya?
Kalau misalnya kita oh gini gini ketika kita di media training, kita ngasih media training, we always give them the worst scenario, right? Kayak berhadapan sama wartawan yang emang bakal ngorek terus-terusan gitu kan. He. Heeh. Em tapi in actuality kalau eh with Indonesian media kayaknya agak sedikit forgiving gitu kan.
Enggak segitu dalamnya mungkin kecuali dengan tempo ya. Gua enggak tahu deh ya. Mungkin tempo beda sendiri. Shout out ke tempo juga. Yoi.
Tempo. Iya. Lanjut. Keren. Eh, international media itu beneran.
Jadi ketika lu berlatih tunggu berarti media training itu penting kan ya? Penting. Wah, gila itu penting banget. Ee bisa email ke FIA nanti kalau perlu media training. Asik.
Tapi, tapi memang kan biasanya kita kan media training tuh we prepared the worst to the spokes person. Tapi kalau memang context of bisnisnya kebanyakan Indonesia, they don't get to practice. Betul. Karena everything again bukannya ngomongin bahwa jurnalis kita kurang kritis atau kurang baik dicompare sama yang lain, tapi memang praktiknya mungkin budaya juga ya. Secara budaya ee budaya Indonesia memang lebih em lebih kalem gitu.
Pertanyaan juga lebih ya bisa dibilang lebih lebih ringan gitu. Jadi pada saat yang dipraktis di media training tidak bisa dipraktikkan. Iya. And I think it has something to do with the audience juga sih menurut gua. I audience in different markets tuh kayak Singapore gitu.
E man they sharper right? Gua enggak ngomongin yang di sini ini ya at least enggak secara langsung tapi eh ya kayak the harus produce itu untuk that particular market. Eh, man, kalau lu kasih yang kayak culun-culun atau you know yang light ya light ringan-ringan gitu, lu enggak laku, man. You know. I that's why eh ya kitalah udah udah pernahlah right eh interaksi dengan media eh eh Singapura misalnya ya.
Super sharp, man. Very sharp. And apa namanya? They will chase you until they got an answer. Satisfying answer lah at least.
I He and it's a different game ya. Kita biasa kan we always you know kind of avoid the questions being very big gitu-gitu kan. Tapi kalau sama mereka you can do that. He you kind of need to provide a meat gitu for them. Good enough meat for them to buy otherwise they will continue to chase you.
It's it's not gna be a story. Jadi enggak ada half story itu enggak ada. Iya benar banget. Lu mungkin anything to add kalau tentang you know eh dealing with international media? anything eh that we have to pay attention to kayak extra or prepare anything.
I think I what Reza mention ya earlier about drilling dan lain-lain. Tapi challenge berikutnya adalah pada saat itu yang gua manage tuh spokesp-nya kebetulan bukan orang Indonesia. H jadi ada few other factors yang mempengaruhi outputnya gitu. Jadi kita enggak bisa directly communicate with the first language. Either bahasa bahasa pertama gua bukan bahasa Inggris.
Bahasa pertama spok person gua juga bukan bahasa Inggris. Bahasa pertama wartawannya juga bukan bahasa Inggris. So, that was already a first major problem. Jadi, itu udah lumayan takes a lot of practice juga untuk make sure key message-nya benar, the way delivered eh the nonverbal-nya itu benar, terus eh make sure keakurasian datanya tuh juga benar gitu dan sampai ke bahasa ketiganya si wartawan juga udah benar. So, there was a that was a very challenging part of my days I would say.
H karena juga gua gak bisa baca. Jadi banyak banget layer-layer yang gak bisa gua control lah. So what can I do adalah to control at least the narrative yang written and make sure this spokes person actually understand the written brief. H karena ada that language barrier ya. So as a consultant I think it's always good to remember when it's not your first language ya memang challenge-nya tiga kali lebih susah gitu.
Hm. kita enggak bicara bahasa yang sama aja. Kadang-kadang ee cara kita mentranslate dan memproses yang kita pikirkan dan kita ucapkan juga enggak sama. Apalagi kalau bahasanya beda. Jadi itu mungkin notes e for you know PR people out there, agencies maupun corporate to remember that mengulang hal yang sama it may sounds very Kok gua ngulang-ulang lagi ya?
Tapi it's is a necessity sih. H ya kalau in that situation ya. Eh, it could be pretty wild, right? The preparation. And then kita juga dulu pernah kan yang hosting people in a different countries and then you eh interact with people from different markets, hosting their own markets gitu kan.
Terus kayak, "Wow, you just see eh how different right? Dari market ke market. Lu boro-boro yang tetangga cuy. Apalagi kalau yang dari enggak tahu nun jauh di sana gitu kan kayak what? That's what they do gitu.
Tapi you know kalau lu perhatikan if you spend time observing gitu oh I get it why they do it gitu. Walaupun kayak pas pertama ngelihat tuh kayak, "Yo, that's pretty weird gitu." You know, kalau lu ngelihat yang dari India, you know, from China, wherever man, it's sometimes like they have their own unique way. Exactly. yang yang mungkin atuh does of tapi you lu perhatikan lagi and then a couple of times and then you learn about other things baru lu ah now it makes sense you know why they do what they do lah so and probably they're observing the same thing from us right so that's pretty cool terus terus apaagi dari traveloka lu ke Sampurna Sampurna which is the last itu ya iya terakhir Ya. Iya.
Sampurna. Kenapa? Kenapa lu balik ke ee tembakau lagi? By the way, kalau yang tadi agak missing harusnya Jul ya pay attention tuh harusnya tahu J Labs. Sekarang lu ke eh waktu itu setelah itu lu ke Sampurna lagi.
Eh why itu tuh lumayan eh interesting buat gua. Sampurna ee gua pengin banget sih dari dulu kerja di Sampurna. Really? Iya. Jadi ini maksudnya dreams come through apa gimana nih?
Manifesting itu i manifesting like dari zaman-zaman e may freak dulu Ignes, Sharen gitu gitu dari zaman itu even before even before that. Iya. I mean look at that apa namanya? They have all those cool ads, right? TVC.
Oh, maksudnya zaman dulu gitu dan lu ee pengkonsumsi dulu ya. Dulu pengkonsumsi. Jadi pemakai pemakai user. Oke. Enggak.
Tapi ee iya ya again mungkin shallow ya kali ya. Cuman gua ngelihatnya kayak gitu gitu. Gua ngelihat wah gila ini marketingnya keren banget gitu kan. Bahkan ngelihat ngelihat apa namanya ya drum band yang di atas gunung tuh zaman dulu tuh. Sampurna gua inget banget.
Tah nih umurnya nih. Iya. Iya itu itu tahun 5 ya. Yaul gua gua honestly gua enggak pernah lihat yang itu sih. But I can imagine.
Iya. Dulu tuh lu iklan rokok tuh kan epic man. Iya makanya kan. Wih gila ada yang di mana lah gitu. Wow you know e bentul kan.
I love the blue of Indonesia itu kayak wih kay never seen Indonesia like that man. Indonesia yang gua lihat kayaknya kayak kusam-kusam gitu dulu ya. Ini kayak wow bagus juga ya ternyata ya. But you know, eh lu you put in that much money lah waktu itu ya. Pasti jadinya begitu.
Anyway, terus iya tapi terus kemudian jadi partially gara-gara itu partially about that. And then also e with their patient as well. Eh makanya gua juga pengin banget akhirnya join mereka lagi gitu kan. Eh ya gayung bersambut lah ya. H ee alhamdulillah ada kesempatannya untuk gua join mereka gitu.
Pada saat itu kan mereka juga memang sudah punya ICOS gitu kan. eh mereka nyebutnya sebagai smoke free products gitu. Dan he sebagai company eh Philip Morris International induk perusahaannya Sampurna itu memang udah eh heading towards smoke free future. He he. Bahkan di eh 2 tahun yang lalu he was 2023 eh CEO-nya Philip Morris International namanya Iace Kzsak itu dia bilang cigarettes belong in a museum gitu kan.
He. Eh, for Indonesia, for Sampurna enggak bisa plekiplek diambil itu visinya dan bisa dijalankan. Kenapa? Karena eh locality aspeknya itu masih sangat besar gitu kan. Kita masih ngomongin tentang kretek.
He kretek is ya inevitable eh apa namanya? Adalah sebuah cultural heritage. Iya kan? I mean I don't know you saw gadis kretek. Yes.
Iya. He. Awesome. Dan terus kemudian when you e meet this ibu-ibu pelinting itu juga eh gimana ya? Dapatlah ininya apa namanya ee bahwa mereka tuh hard worker tuh benar gitu.
Dan dan yang mereka lakukan sebagai pelinting ini tuh mereka actually they they they apa ya? eh they bring their family to a whole different level in terms of eh apa namanya? Kesejahteraan gitu kan. Eh anak-anaknya ada yang bisa kuliah sampai ke luar negeri, mereka bisa punya bisnis sendiri dan segala macam. Jadi that kind of aspect of the business yang enggak bisa dilupakan juga gitu.
Jadi at one side ada sesuatu yang modern, yang baru, yang technology driven. di sisi lain ada eh local heritage yang masih tetap harus dijaga dan Sampurna harus bisa eh combine to gitu kan. H ini menarik gitu. Em apa namanya eh Presir Sampurna eh Pak Ivan Cahyadi dia bilang embrace the future, respect the past gitu kan. Jadi dapat tuh dua-duanya gitu.
itu eh apa namanya yang jadi jadi guiding principle lah buat buat buat Sampurna bergerak eh apart from the three hands philosophy yang mereka punya gitu kan. Buat gue ketika kita eh maju sebagai communicator conventional media, yes, it's still a huge part of eh apa namanya? The work but now we are also talking about digital, we talking about social media and how it's actually eh becoming more and more important in our daily lives juga gitu loh ya kan. Em ya itu sih mungkin mungkin ke arah sana ee tapi mungkin sedikit sedikit ee apa namanya sebelum kita lebih dalam ke digital. Jadi em gua meninggalkan Sampurna karena gua ditawarin eh so I left Sampurna last year in August karena gue ditawarin sama teman gua untuk eh join a political campaign di eh Nusa Tenggara Timur gitu kan.
Oke. Dan ini juga ee sesuatu yang buat gua udah ngerasa okelah ayo kita jalan bareng bikin sebuah e digital PR gitu. Karena waktu gue di NTT gua ngerjain itu sosial media campaign-nya. Oke. Dan banyak banget learnings-nya juga sih waktu di sana gitu.
Karena mungkin yang kita tahu gimana caranya kita ngejalanin social media campaign atau digital campaign di Jawa, it will not work di sana gitu loh. H karena benar-benar beda behavior-nya beda, the lay of the land-nya juga benar-benar jadinya beda gitu kan. Ee sor h itu yang bikin gua em justru ee apa namanya? Dapat pengalaman yang beda lagi gitu, baru lagi gitu. Oke.
Anyway, iya iya. Tapi ee about talent eh yang lu enggak suka. Oke. Yang gua enggak suka em yang gua enggak suka sih orang yang terlalu gini yang when you work with very smart people gitu ya, they tend to be quite arrogant. H eh in terms of IQ tinggi tapi emotional quotion-nya rendah lower gitu.
Nah, em buat gua malah justru kadang-kadang itu lebih draining my energy kalau misalnya gua harus ngelatih nih orang nih yang kayak gini gitu kan. Mendingan kadang-kadang gua nyarinya malah yang yang ya udah oke banget lah eh enggak usah oke-oke banget lah enggak apa-apa gitu kan. Tapi orang ini bisa diajak kerja sama gitu loh. Oke. Bisa jadi team member bahkan mungkin punya ada drive juga untuk menjadi leader gitu loh.
Oke. Satu enggak bisa diajak kerja sama berarti. Iya. Right. Dua, itu yang gua agak susah.
Yang dua adalah yang ya itulah yang kadang-kadang dikit-dikit komplain gitu kan. Hm. Ah ini kenapa nih kayak gini sih ini gitu. Hm. Lu sudaha melakukan apa?
Hm. Buat gua sih sesimpel itu gitu kan. Lu udah melakukan apa gitu. Have you done something? Have you done anything?
H iya kan? Before you complain, before you e apa namanya? Ya nyap-nyap dan segala macam. Ini ini emang tricky sih. Eh when I was younger gua gua very very ya enggak sih sampai sekarang I'm very critical.
H right that's that's my thing lah. I'm always hyper critical about things. Government. whatever man do lah. E tapi at the same time eh with time itu gua kayak found apa namanya?
eh a new appreciation lah buat learning, right? Learning eh kay spend extra time untuk mempelajari why-nya dulu gitu loh. That rule, right? Eh itu lu makin tua aja, Men. Apa lu makin tua aja, makin tua ya?
Iya. Heeh. Lu lu lu ngelihat oke maksudnya I still don't agree with the why. Eh misalnya sebuah aturan lah gitu. until today gua gak gak gak gak setuju juga but at least now I understand wh right dan itu yang menurut gua it comes with you know age probably time experience right lu baru bisa mengerti hal itu jadinya eh ya kalau misalnya lu critical mungkin you know try to do it first right lu lakukan dulu then maybe you have a better understanding then then then make your comments right jangan sampai lu comment before anything lah you make that comments first tuh memang ya eh it turns people off juga sih people the wrong way juga biasanya iya dua ada yang ketiga enggak yang ketiga eh I don't like people yang suka telat sih oke tardiness ya tardiness punctualities buat gua sih h itu enggak bisa dinego sih ya ee ee Eh, gue gua juga setuju tapi because sebenarnya maybe some people just see it as it is gitu kayak tardiness gitu kan.
Buat gue gue gue sih sesimpel gini ya, kalau emang lu tahu ini bakal telat h ya kasih tahu gitu kan. Iya. Kalau lu misalnya lu janjian sama orang ya lu kasih tahu orang itu gitu kan. Apalagi sekarang zaman sekarang sudah ada handphone lah. Iya kan?
Bukannya zaman yang dulu di tahun '90-an yang di mana lu ngubungin orang juga susah banget gitu kan pakai ini heeh carrying pigeonit. Ih gila berbunyierku berbunyi shout out pesta rap. Iya iya. Tapi terus kemudian ya kerjaan pun juga sama gitu kan. You you always have a deadline lah.
Iya kan di kerjaan lu deliverables lu apa gitu. Kalau enggak ya lu enggak maju-maju juga gitu kan. H ya kalau misalnya memang you cannot meet the deadline then ya kasih tahulah gitu kan. He ya pastinya urusan nanti gitu misalnya alasannya bisa diterima atau enggak gitu kan ya macet di jalan inevitable ya udah okelah gitu ya. Every now and then right tapi ada kalahnya menjadi trend right when it's a trend ini yang tadi gua pengin ngomong.
Kalau lu cuman lihat oke masuk jam oh masuknya jam 45 instead of 8.30 atau 8 whatever lah you know. Eh tapi kalau after a while itu eh I can tell a lot of things discipline right by you know eh mental fortitude right i eh problem solving right. Kalau lu terlatihan pari e man you should just give up man. Maksudnya berarti you can't figure out traffic di Jakarta. Iya.
Pas lu udah umur 25 gitu ya, you should give up, man. You know, karena eh gua juga gak suka banget macet. That means I have to do something about it lah. Gua gua enggak mau terlambat, gua gak suka macet. Yang gua lakukan jadinya, you know, you live at 6, 6:30, whatever.
Lu nyampai jam 0.30, 30 745 you know e dari dari dulu ya kalau lu ingat zaman dulu itu eh in the previous agency juga gua you know ganjil genap dulu kan iya eh bukan apa 3 inone 3 inone lu 3 inone gitu oh man 3 inone mulai jam gua nyampai di kantor jam ben iya karena gua gak ada cara lain kalau gua gak melakukan it let's say 45 minutes in the car iya I'm not doing that man tapi kan That was the problem. And then solution-nya ini gitu ya. Lu nyampai kantor do right? Sometimes udah ada anak-anak yang lain juga you talk socialize. It's not that bad you know.
Ep oh man gua ini nih. Wah ini gua ini lagi you know. Eh it just shows a lot of things from simple thing kayak eh showing up in time turning in eh pekerjaan. Iya, on time gitu ya. Iya.
It's just I think one of the thing yang gua my pet p tuh lebih kayak when people suka banget blame on situations instead of kayak itu yang gua regardless kasusnya mungkin enggak cuma soal terlambat ya a lot of other examples bisa aja apa aja tapi instead of focusing on the things that they can control they start blaming others things yang dia gak bisa control juga gitu kayak itu shows characters right it shows that ya lu gak bisa problem solving you know that you cannot control that particular thing and then you blaming on that particular thing. Jadi itu yang pati aja sih buat gua for your generation. Tapi when lu enggak bisa identify bahwa oke gua gak bisa kontrol ini, gua kontrol yang ini. Ya itu problem sih regardless of your age. Bisa tua, lu bisa muda.
You you be you can be a first year experience kind of employee. Lu bisa bahkan CEO management level. Tapi when you are not able to identify that this is problem that I can control tuh udah susah sih. Hm. Iya.
H. Oke. I itu sih. Eh, lanjut ke AI, right? That's the buz word nowadays.
Eh, how deep into AI eh the last few companies that you work for? Heeh. Ee buat lu juga ee as a professional Heeh. How deep is AI in your everyday workflow lah. Gua penasaran.
Oke. Em sebenarnya di di previous companies I haven't really used AI ya dalam kerjaan gua ya kan. Em mainly karena memang dilarang pada saat itu gitu ya. Jadi oke interesting. Iya.
Eh jadi masih takutnya datanya bocorlah ketika when when you security and using specific data. Terus mereka oke dan itu makanya masih di eh dilarang pada saat itu gitu. But em masih dilarang enggak sekarang? Penasaran gua enggak kan jadi kan sebenarnya gini lah kalau perusahaan-perusahaan gede kan pakai platformnya udah Microsoft biasanya kan terus kan Microsoft ya sekarang sudah di own chat GPT e apa namanya ee terus kemudian mereka juga punya si copilot itu gitu kan jadi to certain extent mereka masih membolehkan dan ini yang waktu itu agak menarik juga gitu kan gue juga dengar ee dari teman-teman gua ada juga yang pai ketika lagi mau ee apa namanya ee eh performance review itu kan biasanya kita harus kasih assessment untuk diri sendiri, kita kasih assessment untuk orang lain, Pierce 360 dan segala macam gitu. Ada yang menggunakan AI untuk ngisi yang kayak gitu-gitu gitu.
Mungkin ya untuk kita yang emang biasa nulis kayak kok susah amat sih gitu. Tapi kan ada juga orang yang enggak bisa nulis gitu makanya mereka butuh bantuan itu gitu. Oke. Dan itu kejadian. Itu kejadian.
I mean, gua ngedengar first hand gitu dari orang dari teman yang emang emang pakai gitu kan ya. He. Em, tapi gua juga ee walaupun gua enggak pakai untuk pekerjaan, gua coba-coba terus gitu kan. Ini apa sih nih ai gitu kan ee secanggih apa sih gitu kan. Pertanyaan gua simpel itu sih.
Hm. Emang benar bakal ben apa namanya menggantikan ee human work force gitu kan? menggantikan manusia gitu kan. Heeh. Em buat gua setelah gue coba-cobain ternyata sebenarnya gua I came to the conclusion bahwa sebenarnya AI ini mungkin masih jauh ya untuk sampai bisa menggantikan manusia.
Hm. Completely. Iya. completely replace humans. Tapi AI ini justru you can use AI to augment eh human skills.
Hm. Karena there are certain tasks yang memang eh benar-benar bisa dibantu sama AI dan itu cepat banget gitu kan. He. Misalnya ketika lu ee pengin mencoba menganalisa satu data tertentu ke belakang datanya gitu kan. Heeh.
Jadi ee itu dengan AI itu ya udah jelas jauh lebih mudah gitu kan. Heeh. Ee ya gua dulu waktu di ee awal karir kan gua ngerjain media monitoring, analytics dan segala macam. We were there, right? Eh apa namanya?
Dan itu masih benar-benar gunain ee Excel ya kan? Excel banget gua pivot-pivot lah segala macam segala. E tapi terus iya ya ee just to get e misalnya satu dalam 1 bulan ini ini kita ngomong dalam konteks Madmbond lah ya biar gampang gitu ya dalam ee 1 bulan spokespon yang mana sih yang paling banyak diot gitu kan ngomong apa sih dia gitu kan ya ya kalau dulu gua ngerjain benar-benar manual gitu kan gua grouping dulu gitu kan dan terus kemudian ee habis itu baru diambil lagi di kolom sebelahnya tuh ee coach-nya dia ngapain aja gitu kan dibanding ingin sama person yang lain gitu kan coachnya apa segala I had to do all that manually gitu kan he ya sekarang dengan AI udah gampang banget lu masukin datanya ini kan dalam 1 bulan ini datanya em ya will compute all that will analyze all that oke si orang ini paling banyak ngomong tentang ini di media in iya kan terus ee kemudian kedua e runner up-nya adalah si ini si ini ngomong ini gitu segala macam A I can do that gitu kan. Dan itu insight yang menurut gua eh akan insight-nya akan masih tetap akan berguna tapi bisa dilakukan jauh lebih efisien gitu loh. Oke.
You can have a I do that gitu kan. H terus I lanjut dulu. Oke. Ee kemudian untuk kerjaan-kerjaan yang ee ke depan gitu kan kalau misalnya maksudnya kayak to predict trend gitu eh extrapolit the data gitu kan yang lu punya gitu kan. Heeh.
Itu juga akan lebih mudah gitu. Ee ya gampanglah maksudnya ee ya Excel bisa melakukan itu ter analisis dan segala macam gitu. Tapi ini benar-benar lu ngasih data tung gitu kan lalu upload aja ya. Tinggal upload terus kemudian dia keluar sendiri gitu kan. Nah, terus kemudian em kadang-kadang AI ini juga bisa bantuin kita untuk ee apa namanya?
Kadang-kadang gini ya, how do I say this? because we've been accustomed to a certain framework atau kayak lu udah udah udah biasa ngerjain ini kayak gini-gini udah jadi kayak punya tunnel vision gitu loh. He. Kacam kuda gitu kan ngelihatnya kayak gini doang. Heeh.
Padahal sebenarnya ee ada ada nih ee teman sebelah yang melakukan cara yang sedikit berbeda tapi nyampainya juga sama gitu. Yup. ya, AI bisa melihat ee itu juga gitu kan. Jadi kadang-kadang kayak misalnya nih nih nih eh ini real e case stud lah ini yang gua lakukan gitu ya. Gua iseng misalnya kan gua masukin eh so can you help me prepare a proposal nih di query-nya gua masukin gitu prepare a proposal for a digital eh activity for this company gitu kan.
E terus kemudian dia akan ee ya di kepala gua gua udah kebayang sebenarnya kan oke good kita mesti ngerjain ee ini tuh kita approach leadership-nya dulu gitu kan misalnya gitu kan jadi e appearance si em apa namanya eksekutifnya tuh di forum-forum e segala macam tuh harus benar gitu kan diamplify lewat media diamplify lagi lewat sosial media gitu kan contohnya gitulah he tapi terus kemudian AI ee kasih ee apa namanya nya solusi yang beda gitu, rekomendasi yang beda gitu. You can do ee apa namanya? Misalnya justru ee masuknya dari sosial media dulu baru terus kemudian ee gunain eh apa namanya? Eh push forward the thought leadership agenda justru di sosial media dulu gitu kan baru. Terus kemudian dari situ eh diamplify di media konvensional supaya naik nanti di eh level forum di mana speakership ee mere si orang ini tu sudah lebih kebangun gitu.
Iya. Jadi justru kebalik gitu. E di mana yang kayak gua ngelihatnya oh ya udah stepnya adalah kayak gini tapi terus kemudian oh ya ada yang lain juga gitu kan. He. Dan itu menarik sih buat gua.
Emm karena kan kita ngomongin AI itu ada tiga macam ya. Tiga macam. Pertama adalah natural language processing gitu kan kayak itu yang lebih ke yang ke belakang yang tadi gua kasih contoh di awal. Terus kemudian ada machine learning. Machine learning ini yang justru prediktif ke depan gitu kan.
Heeh. Terus kemudian ada computerized vision or something, gua lupa deh. Pokoknya emm ee jadi bisa analyze images juga. H iya kan ee sekarang tuh kan udah udah udah udah canggih juga ke arah sana gitu. Nah, ya itu sih paling enggak eh kalau AI yang gue alamin.
I mean em I'm more of the user of AI. Gua enggak ngerti gimana apa? Proponent. Proponent, right? Yes.
Oke. Proponent. Karena gini, gua gua ngelihat justru kita yang mesti bisa jadi master of AI, kita yang mesti bisa eh manfaatin tools ini gitu loh. We should be threatened or apprehensive of of this new technology, gitu. H karena eh ini bisa bantuin kita bahwa ke depannya mungkin bisa menyeramkan ya.
Yes, maybe. But then again, buat gua, gua ngelihatnya gini kok lebih eh kayaknya untuk untuk kita ya kita for now ya manfaatin yang ada gitu loh. Iya. Eh, I mean it's definitely the future, right? Eh, there's so many out there, right?
People trying to figure out eh macam-macam lah. Image processing, eh word, eh coding nowadays, right? E man, you can do all these things eh than ever lah dengan bantuan AI gitu ya. But then again, eh you're still the person who gives direction, right? You need to play around with the prompt.
I kalau lu enggak bisa melakukan itu or you don't experiment with that, ey man, ini nih gua somewhere lah in the internet pastilah gua ngelihatnya, right? I didn't come up this with this thing on my own. Tapi kayak zaman dulu, Men, lu 30 years ago, kalau lu gak bisa pakai komputer, would you be ok? Probably 30 years ago, ya. Tapi apakah lu bisa bersaing dengan yang pakai komputer?
Of course not, right? And now it's probably eh udah zamannya AI and probably people in our field industry itu eh lu mesti khatam lah, you know, you need to include it in your everyday workload. Dan dan menurut gua eh replacing probably not, but if I were to add em certain task ke kalau gua lu ngomongin agency ya, ada certain task itu yang pada akhirnya eh mungkin eh bisa tergantikan lah like drafting something right yang mungkin dulu oh ada intern yang mungkin mereka help draft or somebody who's very junior ya kan mereka ng-draft gitu I'm not sure they can draft better than you know AI honestly speaking. Tapi then lu mesti sesuaikan dengan kesukaan apa client lo if appropriate the context lu provide lah with your experience and stuff. So eh mungkin ada some parts, right?
Intinya, Amen. You need to be friends with this thing, right? Eh take advantage lah. Nah, we're almost out of time, tapi eh the new venture, right? Eh so you you're starting something new, I kan.
Nah, ini bukan sesuatu yang eh kita at least obrolin itu not once or twice, but many times lah. Tapi memang sebelumnya it's just eh situations, whatever, right, offers, left at right yang mungkin eh the timing wasn't right. Ya, pertanyaan gua, why is the timing right now? Kenapa sekarang? If now, then when?
Iya. Eh, kenapa tuh? Tapi timing now buat gue sih sekarang gini. Emm, gue tuh memang eh sori mungkin lu jelasin dulu what you're starting. Oh, i baru kenapa sekarang?
Kenapa sekarang? Right. Orang bingung itu lu jelasin dulu. Oke. Em, we're calling it Iluminar.
Oke. Iluminar itu is actually Iluminar but Spanish. I kan jadi shine light gitu kan. Sh em kepasa. Asik lanjut.
Jadi eh intinya adalah eh ya digital gitu kan. Tadi I think I've insinuated this earlier on eh waktu kita ngomong bahwa conventional PR he it will still exist. But then again there's this new apa namanya? eh digital eh movement lah kalau boleh dibilang movement yang memang akan sangat ee berperan penting dalam ee pekerjaan kita untuk membentuk atau membangun dan menjaga reputasi ya kan. Why now at the end of the day itu kan yang kita kerjain.
Why now gini eh mungkin lebih ke personal reasons ya. Oke, personal reasons tuh gini. Em, gua tuh sadar bahwa ya kita kan nanti akan ada usia pensiun, man. Bahkan gua udah ngung uban nih, Aduh, gila. Udah ngomongin pensiun terus, terus.
Iya. Nah, ee apa namanya ya? Gua ketika gua pensiun, gua enggak mau jadi ee apa namanya ya? Enggak ada kerjaan lah gitu loh. Gua masih tetap pengin produktif, ya kan?
gua masih tetap pengin berkarya gitu dan dan gua selalu bercita-cita gua ee pengin punya ya warung gua sendiri gitu, company gua sendiri gitu kan. Heeh. Dan ee iya sekarang ada kesempatannya gitu kan. Eh, I mean I have to give appreciation to you, to Sofyan, to he Adwi juga gitu kan karena eh you guys actually given me the opportunity gitu kan. Ya udah mulai aja sekarang gitu.
Kebetulan nih ada apa namanya udah hampir terbentuk aset-asetnya udah udah ada, resourcesnya udah ada gitu kan. Why don't you lead it gitu kan waktu itu kayak gitu kan. Yap. Iya. Buat gua, oh ya udah benar ya.
Ayo deh. Ayo. Emang ya kenapa mesti nunggu lagi gitu kan ya. Emang ini udah waktunya sekarang untung-untuk kita jalan bareng gitu kan. Digital PR ya.
Udah makin penting. Yup. Ya sekarang kita ee banyak tools dan apa namanya ee juga orang-orang yang canggih-canggih, yang keren-keren yang bisa kita kerja sama bareng. Hm. Ya.
Ayolah kita jalan. Ya, that makes sense. Eh, eh what sets you guys apart, right? Eh three things misalnya yang membedakan kalian eh from the competitors lah. I oke sekarang gini em yang pasti alhamdulillah gua punya pengalaman yang cukup banyak berbagai industri gitu kan.
industri yang cukup eh kompleks, highly regulated eh to the point even eh controversials juga gitu kan. He. Em, jadi gimana ee apa namanya? all those experiences buat gua akan gua yakin akan bisa eh berguna juga untuk bantuin orang-orang lain gitu kan ee company-comany lain em kalaupun misalnya ternyata problemnya lebih eh lebih kompleks dan different gitu dengan dengan apa yang sudah ada, at least pasti buat gua sih akan ada beberapa hal yang masih bisa kita manfaatin gitu kan. Yup.
Nah, itu dari personal guenya sendiri gitu kan. Terus kemudian eh I feel like eh I'm very fortunate ya dapat eh teman-teman di tim yang memang background-nya juga cukup diverse gitu kan. Yang satu ini ee biasa untuk apa namanya ee bantuin orang di masa-masa lagi ee apa namanya? butuh keramaian gitulah gitu ya. He.
Em. Ya, mungkin orang nebaknya akan oh ini manage buzer gitu ya. Tapi enggak juga bukan buzer. Sorry. Jadi yang yang dia kerjain adalah gimana caranya untuk ngegerakin orang-orang em yang memang akan bukan akan yang memang punya suara gitu loh.
Sure. Iya kan? He. Nah, isu apa yang pengin diangkat ee itu ya tentunya akan sangat ee apa namanya? Bisa bisa bisa ngarahin ee apa namanya?
ee balik lagi kita ngomongin reputasi gitu kan. Heeh. I kan. Ee terus kemudian kedua ee dapat teman kerja juga yang memang dari industri kreatif ya kan ee filmmaker. Hm.
Em dia udah ngerjain macam-macam, udah kerja di ee luar negeri juga di agensi dan di mana segala macam gitu kan. Ya, buat gua all those kind of backgrounds ini akan menjadi sangat menarik ketika kita provide solutions to our clients gitu. Dan eh kita kan juga eh cukup spesifik gitu kan bahwa yang kita provide adalah digital PR gitu. Di mana eh kalau kita ngomongin digital marketing itu udah beda lagi gitu kan. Digital marketing it's it's a whole different eh animal lah gitu kan.
Em, kita bisa ngerjain digital marketing sama Vit, yes, gitu kan. Tapi kita spesifik nih, kita lebih ke dalam konteks PR gitu kan. Contohnya kayak misalnya kalau zaman dulu kan kalau lu ee main iklan ya, lu di koran lu beli iklan lu dapat lu mau ngomong apa di iklan itu ya ya udah gitu kan. Tapi kan kalau kita PR ya kita pakai ee apa namanya si medianya itu sendiri, reporter jurnalis untuk menulis sesuatu yang baik tentang kita gitu. Yup.
And the same principle. goes to eh apa namanya? Applies to eh digital juga gitu. H oke itu sih kurang lebih. Eh we wish you good luck right with new venture.
I think we all believe that you have what it takes. Obviously you have the experience, the thinking capacity right the leadership. Eh, so I'm sure you know youl do wonder lah. Anyway, Reza thank you for the time. That's it.
Thank you. See you next time. St. [Musik] This last couple of days, gua ngomongin vision a lot. Eh, especially with younger generations ya.
Eh, tanpa considering the future, right? The vision that you have for yourself. A lot of things gak worth it, man. I what? Gua mesti you know do this extra work.
Gua udah kerja gitu, habis itu gua mesti melakukan ABC. H for the office gitu. That's enggakagak worth it lah, right? Kalau lu bandingkan dengan ini nih gua ngomong bahkan out of my personal experience gitu ya. kayak eh keluarga gua gak ngantor semuanya, right?
I was the first one yang kayak ngantor gitu. So, it's super confusing to them, right? And when they knew how much I got paid tuh mereka reaksinya, "Hey, man, I don't think they're paying you enough." He, right? It's so easy for people, other people yang ngelihat kita, yang tahu kita cuman sedikit e untuk say something like that, right? But they they couldn't see my vision.
I Right. Ya, gua gua tahu gua melakukan ini karena ujung-ujungnya gua mau ngapain gitu, right? Nah, itu jadinya mungkin eh for kids juga eh lu you need to visualize lu, lu mau ke mana gitu. Pas lu udah tahu ke situ then easier right day to decision making. Gua nongkrong apa gua baca gua eh pacaran atau nonton documentary.
Gua eh belajar you know improve my English or you know or learn another language whatever man. Jadinya it makes more sense. It's easier for you to decide. So, itu cuman gua tambahin sih. When you have the vision kayaknya motivation tuh Iya.
E kalau gua boleh tambahin juga sebenarnya dari situ finding the vision, finding the drive. H is key, is number one gitu kan. H Tapi kadang-kadang ketika bahkan lu udah punya vision, lu udah tahu lu pengin ngapain, H ya lu juga capek juga gitu kan. Lah gitu, ada bosannya. Gua of course gua mengalami itulah gitu.
Heeh. Dan kalau buat gua sih kadang-kadang to kick start my drive again kadang-kadang gua cuman ngelihat oh dia udah ngelakuin ini, dia udah sampai ke sini gitu. Kadang-kadang emang harus misalnya right kadang-kadang lu ngelihat kiri kanan aja as simple as Iya iya what you know and you know kadang-kadang itu juga eh penting banget lah iya but it's irrelevant you know whatever lah motivates you tapi yang penting lu you be better right do thing learn new thing eh benar-benar try to be better than you know kiri kanan l sometimes Good enough man you know to beneran bikin lu bisa jadi lebih baik. Any last one enggak pertanyaan ini cuman sesimpel ini. Kalau dia aja bisa, kenapa gua enggak bisa?
Right yang sometimes eh perlu ditanyakan iya gitu aja. Eh itu sih paling paling itu aja sih kalau gue sih ngelihatnya mungkin tadi untuk tips. Anything from you? I think quickly sih just to remind people that growth mindset di mana pun lu berada in whichever level of your motivation tu penting. Jadi you starting your career you are in the middle of your career you are a very high in the food chain tetap having a growth mindset will change the way you do things and in the end it will bring an impact to people around you.
I think that's that's the most important thing sih. Wherever I go di agencies, di korporasi, di mana pun itu gua selalu berpikir what kind of impact that I can bring to people around me gitu. I ya. Eh, I think the type of ini juga e contagious, right? Maksudnya kita juga mesti realize kan eh mulai banyak orang yang lihat eh ke kita gitu, look up in a way, right?
Jadinya kalau lu punya eh eh this drive, this growth mindset juga akhirnya kan lu bisa rub off eh this this thing to other people. Jadinya contag S du inspirational lah in a way right lu dengan mungkin eh lu enggak sadar gitu ya tapi ei man pada saat lu when you're younger terus lu melakukan hal-hal yang people don't expect you to do eh man kayak orang wow like you know anak ini canggih juga ya terus you don't realize like the kids ya your your brothers cousin whatever friends younger you know bisa inspired juga by looking at Uh that type of things lah.