Apa yang meruntuhkan grup agensi yang dulu dianggap cita-cita karier? Di Proxemics 003, tim lengkap Full House — Mercy Tahitoe, Adwi Yudiansyah, Sofyan Herbowo dan Stephanie Sicilia, bersama Chris the Producer — membedah kolapsnya FAB (Fantastis Anak Bangsa) dan pelajaran pahit bagi industri kreatif.
Otopsinya tanpa basa-basi: manajemen SDM dan finansial yang buruk, serta model bisnis yang terlalu sentralistis. Tim menimbang pengalaman langsung klien yang menangani akun Xiaomi di bawah FAB, lalu berdebat soal solusi sebenarnya — sentralisasi versus desentralisasi — dan apa yang membuat sebuah agensi tetap sehat secara finansial.
Dari situ obrolan melebar ke isu global. Perang tarif AS–China terasa dekat: logika proteksionisme, pergeseran rantai pasok, perdebatan Kris/GPN versus Visa/Mastercard, dan bagaimana perang dagang jadi bahan bakar kampanye disinformasi terhadap brand mewah seperti Chanel, Louis Vuitton dan Hermès.
Etika media jadi sorotan lewat skandal Jak TV dan dugaan obstruction of justice — kasus yang menguji batas tipis antara kritik, negative campaign, dan independensi. Debat abadi jurnalis versus influencer pun kembali muncul: kredibilitas atau jangkauan?
Mercy menutup dengan pelajaran dari Milan Design Week — bagaimana sebuah pameran jadi perayaan sekota, dan mengapa brand besar justru sering tak memamerkan produk inti mereka demi membangun citra. Tontonan tanpa filter untuk siapa pun di agensi, PR, atau media. Layak ditonton sampai habis.




YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
[Musik] Welcome to another episode of Proxemics. Ini another full house edition. Eh, gua Mercy, sebelah gua ada Adwi, di situ ada tamu dari Malaysia lagi-lagi siapa tuh? Sofyan sama ada Stef di sana. Oke.
Anyway, eh there's a lot to talk about. E ada tarif, ada Kris ya kan eh TKDN, kuota Import, Jak TV. Eh kebetulan juga gua baru balik dari Miline Design Week dan yang luar biasa at least buat kita-kita ya, yang wow banget itu berita tentang FAB ee fantastis anak bangsa ya kan. Jadinya ee tanggal 17 deh kalau enggak salah ya eh 17 April itu kemarin eh Aulia Masna which is eh a friend of ours juga lah yang zaman dulu kita sering connect tuh pas zaman apa Steve Xiaomi ya awal-awal 2014 2014 maksudnya pada saat itu kayak tagloggerog Heeh tapi memang dari dulu bloger tag dia itu bukan tag devices gitu. Tapi lebih ke industri trends, right, observations-nya dia gitu-gitu.
Tapi ya pada saat itu kan pas awal-awal apa namanya influencer apa blogger-blogger ini ya dia salah satunya lah. Jadinya dia nulis di tanggal ee 17 April itu di campaignindonesia.id ID judulnya runtuhnya FABung fantastis anak bangsa tutupung Indonesia ditulis dia Aulia Masna dan Stepanie Mamonto Sresta kayaknya mungkin foreigner I don't know shout out ke mereka berdua anyway what do you guys think yang kalian dengar apa and pendapat apa oke gua dulu kali ya pertama gua mau clarify dulu kenapa Kenapa gua pakai kacamata? H iya perlu perlu perlu kacamata hitam ya kan? Karena gua enggak terbiasa nih dengan lampu-lampu studio spotlight ya. Lu enggak suka enggak bisa.
Ah sih lo. Oh lu lu the guy behind the guy ya. Jadi enggak di spotlight ya. Heh. Heeh.
Ya. Dan dan supaya matching juga karena kan gua pakai baju agak bunga-bunga ini. Heeh. Tropis. Jadi gua merasa studio ini kayak dulu lu janjian sama Sofyan.
Heh. Tropis-tropis gitu apa enggak? Enggak, gua enggak janjian foto pagi-pagi kalian foto gitu ya. Eh, udah m belum? Belum gua.
Gua warna biru warna putih ya. Gua ada hijau dikit nih. Gua agak miru. Oke, oke. Gas, gas.
Gua karena habis golap aja. Ih gila gila in dia ini ee elitis banget sih olahraganya. Heeh. Oke, kembali ke laptop. Kenapa kataul eh kacamata ya tadi kan udah.
Heeh. Jadi ya tadi ee FAB ee kalau bagi gua ya pribadi itu tuh adalah FAB itu adalah cita-cita gua dulu ketika ee ee membangun praksis. kita mau jadi sebuah grup yang menaungi banyak ee ee agensi yang menjadi jembatan ee menjawab kebutuhan klien dan kemudian ee memiliki capability berbagai di berbagai macam bidang kreatif eh PR, public affairs, social media eh advertising, media buying, you name it lah. Eh ee itu tuh idaman gua banget gitu at one point ya. Nah ee ee kita masih dalam perjalanan menuju ke sana kan kita sudah ada Pracna untuk public affairs, kita ada explicar untuk media monitoring, kita punya Illuminari untuk ee sosial media.
Nah ee ee kita tuh bergerak ke arah sana. Nah, ketika gua baca pertama kali baca kejadian FAB ini yang uniknya bukan dari tulisan Aulia Masna, tapi dari Facebook grup. Ee ee ada ahensi Xahensi, ada beberapa Facebook grup lah. Gua kaget banget, waduh kok bisa kayak begini kok ee ee isu-isunya tuh isu-isu SDM gitu ya maksudnya ya isu-isu fundamentals lah kayaknya yang lu harusnya sudah selesai enggak? Iya.
Untuk nama yang kita dengar di luar itu lu enggak ribet urusan begini lah harusnya. Heeh. Apa? Gaji karyawan, pembayaran pajak, e profit sharing. Justru itu ada hal-hal yang hal-hal yang kita dipraksis itu perhatian utama gitu ya.
Kita kita punya e eh e HR person, kita punya finance team yang agak gemuk. Ee untuk maksudnya literally lu kok Oh iya diamin gitu. Enggak, enggak jumlah orangnya cukup cukup main fisik juga rupanya. Divisinya terdiri dari beberapa orang, banyak orang gitu. Jadi divisinya gemuk bukan orang-orangnya aja.
Heeh. Jadi jadi MJ kita bukan maksud ya. Kayaknya bukan MJ yang [Tertawa] di-ferilah bukan itu maksudnya ya kan. Lu hati-hati dalam pengak-at hati-hati. W jadi hal-hal kayak SD HR eh e finance, bayar gaji karyawan itu tuh hal-hal yang bikin gua deg-degan terus gitu.
Jangan sampai lalai, jangan sampai enggak amanah. Nah, ketika gua membaca berita ini di pertama kali di sosial media, gua benar-benar kaget gitu. Ah, gitu kan. E reaksinya reaksinya dramatis reaksinya. Jadinya gua gua mencoba mencari tahu, gua menghubungi beberapa teman ee dan kemudian gua udah dapatlah gambaran kasarnya kita bahas singkat gitu terus muncullah artikel ee Aulia Masna kan.
H ee ee ee ya sangat disayangkanlah kalau dari sisi gua ya ee ee ee sesuatu yang yang gua cita-citakan ee ee tapi ee di sisi lain ee ee mereka mungkin kurang kurang gua enggak tahulah kurang apa ya di mana. Tapi bukan bukan berarti gua akan berhenti ya maksudnya bukan berarti kita akan berhenti. Kita tetap akan jalan. kita anggap ini sebagai pelajaran lah. H ee ee kasus ini ya lihat-lihat beberapa gua baca-baca lah kenapa FAB ini segala macam dan gua bandingin apa yang terjadi yang kita bangunlah di praksis prna iluminar explicer dan lain-lain ada sesuatu yang fundamental yang berbeda.
Yang pertama soal apa namanya ee model pengelolaannya, model pengelolaan manajemen keuangannya terutama itu sangat sentralistik. Iya. Sedangkan di kita kan enggak, di kita semua badan itu otonom-otonom, decentralize. Dan ketika ada problem di 1 2 3 ee ya praksi sebagai holding ya di anak-anak usaha ada problem satu du itu segera bisa diisolate satu. Terus benar ketahui kita fundamentally itu udah strong kuat itu artinya di hal-hal yang sangat basic ya kayak apa namanya dan kita punya rule sendiri untuk masing-masing gitu dan dan kita obey that rule kita kita patuh sama rule itu etik segala macam transparan accountability segala kita punya pun kita kan punya peraturan perusahaan juga terus yang kedua berikutnya fundamentalnya adalah dan ketika kita tumbuh itu tumbuhnya itu organik bukan tumbuh yang kayak disuntik gitu.
suntik tuh maksudnya ada investment, ada loan, ada lain-lain. kita enggak, kita tumbuh tuh organik aja dari modal yang kita dari keuntungan kita dapat sisiin sebagian modal ini ini dan price to AWI lah. Kalau soal itu dia sangat strik soal apa namanya yang gua enggak mau ngutang enggak ada cerita ngutang gua enggak mau ini dividen sekian sekian gua enggak mau ini harus direinvest segala macam dan itu pristawi sih dia bangun pondasi yang tinggalkan dan kita punya masing-masing karakter yang bil gua lebih apa segala macam lebih boros ya lebih enggak pruden lebih boros ya enggak enggak enggak ini by nature tapi bukan apa namanya boros itu dalam pengertian Iya ya kalkulasinya agak beda lah. Tapi kan perlu penyeimbang yang kayak gitu-gitu. Gua rasa sih itu enggak tahu step kalau ada tambahan.
Gua itu emm pernah bukan pernah sih sering sebenarnya kerja sama FAB pada saat gua di Xiaomi. He. Tapi wing event organizer dan mereka selalu menang peaching itu karena mereka tuh bisa provide yang terbanyak dan yang termurah. Heeh. Jadi coming in from a background of agency gua lumayan bingung sih maksudnya kok bisa ya mereka bisa begitu terus gua baca-baca gua cari tahu dan lain-lain gua ngobrol procurement ya mereka a big group e terus gua mikir mungkin ya subsid silang dan lain-lain ya e mungkin kadang-kadang kan kita sebagai agency itu kadang-kadang kita mau kerja sama klien enggak cuma ngelihat angkanya doang kadang-kadang for e credential ya kan mau dapat kalian A B C banyaklah pertimbangannya enggak cuma mikirin em keuntungan dan lain-lain mungkin gua pikir oh mungkin karena they wanna to take Xiaomi as E klien yang untuk dapetin klien lain maybe ya.
Tapi lumayan konsisten tuh di beberapa launch event the they able to provide offer yang to good to pass aja for procurement for for yeah ya corporation man susah it's hard to pass. It's hard to pass. Walaupun secara practicenya secara eksekusi ya enggak sempurna lah ya. masih ada yang bayang lebih be better lah yang bisa diperbaiki dari ee sumber daya manusianya juga dari cara the way they do bisnis dan lain-lain. Tapi gua juga kaget sih pas eh eventually this whole thing unfold eh recently karena kan sebenarnya dari wing-nya EO tuh mereka lumayan besar, wing PR juga lumayan banyak.
He. Jadi ini sebenarnya lesson learn for all of us diretive ventures kali ya. Maksudnya how financial transparency itu penting. Tadi ngomongin soal desentralisasi, making sure bahwa kalau ada masalah tuh bisa isolated. Terus mungkin proper governance juga tadi sempat mention ya kan hal-hal yang harus dijunjung tinggi itu apa aja.
That's like a fundamental of a company to sustain. Em, mungkin accountability-nya juga sih dari orang-orang yang tinggal di sebelah rumah lu itu ya. Maksudnya kayak they spend more than they can afford, I assume itu kan accountability of those people ya. Jadi itu lesson learn for all of us direttive ventures ya. Sebelum sebelum lu lakukan dan lu riap all of the fruit ya make sure everything that you build tuh ya emang udah udah kuat otherwise ya a lot of people are suffering from all of this situation.
Itu aja sih dari gua. Eh, kalau dari gua itu probably ini nanti ada balance-nya lah biar kita enggak kesannya eh take everything yang kita dapetin itu asis gitu. Karena kan pasti ada sisi lainnya ya. He. Jadinya gua juga pengin apa namanya eh give benefit of the doubt lah.
Kan kita enggak tahu the story-nya kan. I'm sure ada hal-hal yang dilakukan untuk mencegah you know all these things from happening. Tapi for whatever reasons, it didn't work lah. He itu itu faktanya. Tapi reasoning-nya gua gua enggak mau terlalu eh eh spekulatif lah.
Tapi yang gua notice itu agak mundur sedikit. Mungkin 5 6 7 tahun lalu itu ee kalau lu ingat zaman dulu tuh Samsung ya Samsung itu punya agency quote unquote pegangan lah ya kan kalau kita ngobrol sama anak-anak TEK gitu. Samsung siapa sih namanya? Ah, lu enggak bisa apa-apain lah Samsung karena ada si ini gitu apa dulu namanya gua lupa. Faboya firmatoya.
Iya, Firmatoya ya kan. Nah, terus tiba-tiba loh kok kita dapat berita ganti agency? Kalau lu ingat ya zaman dulu tuh kayak kok ganti agency. Kenapa gitu kan? Padahal kan kayak eh informal itu anak-anak udah nganggap enggak bakal mencuma nanya-nanya karena mereka enggak bisa digantiin lah.
Tottohnya diganti. Nah, desdesusnya pada saat itu ada hubungannya juga dengan finance. Hm. Ya kan? Tapi kan lagi-lagi kita dengar cuman dari sumber-sumber ee yang kita kenal lah.
Kita enggak tahu ini if it's the truth or not. kita enggak tahu. Tapi yang waktu itu kita dengar itu pokoknya ada hubungannya dengan finance juga. Dan at the point at the time itu kita enggak enggak engeh bahwa dia part of a group terus grupnya kayak gimana-gimana. Tapi now looking back h apa jangan-jangan dari zaman dulu itu ya sistem yang dipakai emang kurang pruden itu kali.
Kalau misalnya dari zaman dulu aja at least satu agency-nya udah ee bermasalah. I iya. Hm. Hm. Itu.
But you know, that's pretty wild. Sampai ya pokoknya beritanya kalau mau lihat lebih lengkap Campaign Indonesia eh. Itu coba dibaca aja. Langsung ke selanjutnya. Tarif.
Gimana nih? Tarif ini lucu juga sih tarif. Siapa yang mau ini mulai? Datanya apa sih? 10% untuk semua negara kan.
Kalau buat Indonesia sendiri kalau enggak salah sebenarnya 37%. He. Terus ada negosiasi kan? Iya. Jadi total kita tarif buat ekspor ke Amerika 47%.
Enggak termasuk yang kayak dia punya mining di sini kayak freeport apa gitu. Itu kalau enggak salah enggak enggak masuk gitu karena ada perusahaannya perusahaan punya Amerika. H. Itu dia bilang tarif resiprokal. Kenapa dia terapkan itu?
Karena ternyata Indonesia juga punya non apa ada tarif barrier, ada non tarif barrier juga yang menurut mereka enggak fair lah buat sistem keuangan mereka. Cuma sebetulnya kalau gua lihat sih ya ini kan ributnya Amerika sama Cina aja. Cuma kita ya ibaratnya kena ciprat lah kira-kira kan gitu kan. Dan dan penting buat Amerika untuk buka peta sebetulnya negara-negara yang selain Cina ini lu pergosesan apa progres ini kan kira-kira gitu. Iya.
Nyari nyeri nyeri nyari itu aja sih. Cuma yang yang yang jadi persoalan terus kemudian ketika tim negosiasi Indonesia itu kemarin ke sana yang dipersoalkan hal-hal yang menurut gua fundamental. Fundamental artinya buat bangun sistem keuangan Indonesia sendiri kayak misalnya soal kris itu jadi persoalan. Hm. Lu bayangin ya Amerika apa maks yang witch itu gede lah bunganya sampai hampir 2%-nya bukan sor V koreksi thank you jadi V-nya itu interchange fee kalau enggak salah bahasanya itu itu antara 0,7 sampai 2%.
Nah, sedangkan kalau kita pakai Kris yang diut GPN Bank Indonesia itu 0,3, Bos. Hm. Persen. H yang jauh banget. Lu bayangin kalau ada transaksi taruhlah berapa sih sekarang Kris?
188 hampir R triliun misalnya R triliun kalau 0,3 kalau kita bayar pahitnya 2% ke visa Mastercard duit Indonesia ya transaksi itu jatuhnya berapa? 40 40 miliar. Hm. Something like that ya. Nah, sedangkan kalau bayar pakai Kris bayangin cuma 0,3% dari yang murah banget menurut gua.
Iya. Iya. Iya. Ya, itu sih kalau gua dan dan ya ribut-ribut tarif ini juga emang menurut lu kalau misalnya kita ekspor terus yang bayar kan juga bukan si sellernya, bukan artinya kita explorer kan konsumennya Amerika juga. Mereka nanti butuh enggak butuh juga kalau butuh akan dibeli juga.
Terus yang ketiga, siapa sih sekarang yang enggak apa istilahnya ya? Enggak. Ini kan ada ekosist rantai pasok, ekosistem rantai pasok global gitu ya. Oke. Amerika punya apa?
Punya tag. Tapi dia kan butuh materialnya. Kita ini penyedia material yang paling besar sih. He. Dan terus berikutnya kalau kita mau bicara soal nilai ekspor, kita lebih gede ekspor ke Cina daripada ke Amerika, Bos.
Hm. Jauh kok selisihnya. Iya. Ini ini kemarin gua ngelihat [Musik] eh simplified version-nya ya. Iya.
Logicnya itu si Jeffre Sex tuh kalau enggak salah yang ngomong waktu gua ngelihat di sosial media kayak gitu. That's simple. Itu simplified version-nya lah. Lu make your money sekarang lu belanja lah. Kalau lu belanja banyak di toko A kok lu salahin toko Aya lu sih?
Ya kan? Gua mesti penalize lu ya kan? Karena lu ee gua belanjanya banyak ke tempat lu, lu enggak belanja ke tempat gua. Misalnya tadi ee analogi si toko. He toko dia belanja ee ee ee ee barang yang diproduksi oleh Cina gitu kan Tiongkok ya kan.
He dia beli habis itu ee ee barang itu masuk ke tokonya dia jual di negaranya kan gitu kan. Nah, yang gua tangkap justru adalah produksi ini terjadinya di China terus-menerus karena dia murah. Sementara di dalam negeri mereka di ee ee yang mere apa industri yang memproduksi di Amerika itu enggak dibeli barangnya oleh si toko karena harga barang dari China, dari Tiongkok lebih murah. dibebankanlah tarif si toko ketika membeli barang yang 100 tadi kena tarif 145 misalnya naiklah dia harganya harganya ini harapannya akan berada di atas harga Tiongkok akan berada di atas harga yang diproduksi lokal jadi si toko terpaksalah membeli dari yang di dalam neger kan itu kan maksudnya itu maksudnya itu maksud gua maksud gua itu yang gua tangkap dari ee ee ee logika ya Trump gitu kan yang kalau gua ee yang gua setuju aja sebenarnya ya. Jadinya produsen dalam negeri gua itu enggak bersaing harga dengan produsen dari negeri lain.
Iya. Iya. Enggak. Tapi realitanya Amerika itu enggak produksi udah dekade, Bro. Iya.
Iya. Skill gap-nya udah. Itu yang mau gua bukan pendukung Trump ya, tapi itu yang mau dibangun lagi oleh dia e maga gitu. Maga yang topinya made in China juga. Nah, tapi pada akhirnya logika itu kalau gua sebagai si toko karena gua harus bayar tarif kan gua yang beli kan.
Sebenarnya bukan si Chinanya yang bayar tarif kan, gua yang bayar tarifnya. Ya mending gua outsource lokal aja daripada gua harus beli ke Tiongkok karena kebijakan pemerintah gua ngasih tarif yang tinggi. Entar dulu. Nah, kasih gua contoh. Ini kan lu bicara soal kebijakan protekonis.
Iya. Heeh. Heeh. He. Kasih gua satu contoh.
Negara mana yang sukses memberlakukan protect? Oke, siap. Gue yakin pasti ada, tapi persentasinya amat sangat sangat sangat kecil karena emang enggak enggak begitu permainannya. Ini nih sama dengan hampir 30 tahun lalu itu berdasarkan riset gua. Asik.
Di Indonesia itu broadcasting. Nah, udah mulai membatasi konten. Hm. harus minimal ee 70% apa sebaliknya gua lupa ya 3070 apa penyiaran itu mesti konten lokal. Iya ya kan jadinya lu in a sense memblokir konten luar yang obviously eh let's let's be honest lebih bagus lah.
Heeh. Ya kan 30 tahun lalu sampai sekarang ya kita lihat aja industri ee perfilman apa dan sebagainya gitu di Indonesia. Apakah as expected ya kan karena lu memprotect gitu kan kita blokir yang dari luar batasin biar di luar ya di dalam tumbuh padahal realitanya kan dengan lu melakukan itu lu enggak tumbuh karena kompetisinya jadi enggak real gitu. Iya betul. Jadi lu kayak very apa ya expectation terhadap diri lu jadi rendah juga jadi kompetisi bukannya.
Sedangkan lu kalau lihat Jepang, Korea, Korea ya, terutama the last 30 years, eh man, mereka enggak kayak gitu. Masukin semuanya. Kita beradu sama yang the best, man. Oke, nih balik ya. Ini kita sudah pernah lakukan enggak cuma di industri hiburan.
Indonesia pernah memberlakukan proteksionisme itu dulu dan gagal juga. Industri kita mana yang tumbuh? Pesawat enggak ada, mobil enggak ada. Nah, yang dilakukan China sama Korea itu enggak begitu cara memprotectnya. Exactly.
Jadi mereka merging dengan ekonomi global, kompetisi dibuka, tapi negaranya hadir buat pelaku usaha lokalnya. Itu yang menurut gua jauh lebih penting. Dan kita sudah belajar Cina beg Tiongkok begitu, Korea begitu in way ya dia subsidi, dia kasih kemudahan macam-macam buat pengusaha lokalnya terus ee subsidi macam-macam lah. Ekosistemnya mah mereka dibangun. He.
Enggak ada misalnya persoalan-persoalan yang kayak kita hadapin sini izin susahlah, korupsi lah, apa segala macam. Enggak enggak semua bahkan di dijor-jorin uang gitu untuk untuk itu. Di Korea juga begitu kan waktu industri hiburannya dibangun 30 tahun lalu mereka yang promote ke luar negeri itu kan duit pemerintah, duit negara gitu dan dan mereka menikmati hasilnya sekarang. Exactly. Ya, itu kan kurang lebih 30 tahunan lah.
Nah, 30 tahunan. Heeh. kita kebijakannya proteksi batasin masuk dari luar Korea justru sebaliknya tok different route gitu dan impact-nya ya kita sekarang sama Korea bersama-sama menikmati quot unquote menikmati ya results dari kebijakan yang dibuat 30 tahun lalu itu. Betul. Iya.
I take on different angle boleh enggak sih? Boleh dong something lighter lah guys. Kan kita semua nih communication expert ceranya. I ini berat ya ini ya berat-berat ringan lah. Kita kan semua communication expert di bidangnya areanya masing-masing lah.
Mending praktisi aja lah kalau ya. Oke. Praktisi komunikasi lah di area masing-masing. Ini kan em snowball effect perangnya ee Tiongkok dan US nih lucu ya. Ee enggak muter-muter gitu kan.
Ini kayak pertentangan ego dua dua presiden aja kan ujung-ujungnya. Tapi banyak brand yang kena imbasnya. All of these luxurious brands kalau kalian notice yang known for their high quality made in Europe, whatever everything itu mereka tuh kena imbasnya. Kenapa gua bilang kena imbasnya? Karena sejak tarif war ini terjadi itu social media orang-orang di Amerika on the American side itu flooded by video-video factor factory of BS in China claiming bahwa there Chanel, their LV itu made in China.
Oke, udah jadi baru dieeksport balik ke negaranya masing-masing ditouch up ditempel made in Italy, made in France. Hm. itu regardless benar enggak benar. Karena setahu gua dari dulu memang there is a lot of counterfit market in China. It's a big market kan counterfit.
Tapi video ini kayak orchestrated gitu. H terjadi post the wars untuk kayak eh Americans open your eyes everything is better in China gitu. Tapi the brands are ya gimana ya mereka tuh jadi what kind of a PR move they should do. Ini kan udah beyond ya, Pgret ya. Dan dibombardir loh.
E enggak cuma satu video, like a lot of video dan video-videonya tuh yang bagus banget gitu. High quality. Heeh. Dikonsepin gitu. Professionally produc dikonsepin.
His English was perfect. Craftmanship. Craftmanship-nya juga bagus tuh. Waktu bikin, waktu ngejahit, waktu motong segala macam kan. Gila.
H back the cheapest BKIN is like00. H dan Scar City dibilangnya susah, lu harus English bla bla bla. Jadi everything was jadi kayak people was like, jadi ini sebenarnya yang mana sih? Which which one is the reality gitu. Apakah memang we have always been fooled by the brands?
H apakah benar seperti itu? Walaupun itu udah exist sebelum this war happens, tapi apakah ini benar gitu? Jadi, the brand gimana nih kalau lu semua sebagai praktis eh apa namanya? Praktisi PR. If you were in that brand, what would you do?
Iya, itu kan negara-negara yang maksudnya brand-band yang lu sebut tadi itu brand-brand yang created by gitu. Fondasinya adalah value-nya. Kenapa mereka bisa jual semahal itu? kan karena beli value, beli prinsip, beli segala macam lah itu value-value yang mereka jual itu ke sini yang mereka bangun lah seben yang mereka bangun dan diberi dibrand terus diinternalisasi ke produk mereka terus dijual gitu. H iya kan?
He. Apa? Sustainability lah teman dan teman-temannya itulah anti child labor lah atau apalah. Nah, kalau gue bilang transparan sama accountability itu kan bagian dari value itu harus dia itu dong kedepanin dong harus. Ya udah buka aja pabriknya aslinya bagaimana sih kan gitu.
mereka sendiri yang selama ini menggembor-gemborkan value itu ya buka aja ayo ajak ya kayak kita lah biasa apa side visit lah apa visit lah atau apalah ada mekanisme gimana dia bisa membuka itu gua rasa ya itu udah paling simpel yang paling dasar nah kecuali kan kalau ini kan akhirnya kalau mereka diam-diam berarti ada sesuatu yang di disembunyikan ini bahasa praktisi PR lah kira-kira gitu kira-kira ini ini di di bahasa bodoh aja iya ya. Eh, kalau misalnya orang-orang menjustifikasi, menganggap, "Loh, ini kan udah ini berarti gua beli ini." Itu gua juga enggak setuju tuh. Maksudnya ya udah beli langsung dari ininya ya. Ini dianggap sama itu karena yang tadi lu bilang. Oh, iya.
Eh, man, it's not only the physical product, the design. Emang yang mereka yang desain bukan? yang desain tetap whoever itulah, right? Yang milih materinya apa dan sebagainya yang bikin barang itu mahal istilahnya. He kayak iPhone deh.
Eh man, research-nya lebih mahal jauh daripada ni barang kaca dibalik dua dilipat ini. Nothing harganya. Tapi the research that goes behind it yang lebih eh itu yang bikin mahal lah ya kan. eh apa yang mereka lakukan sebelum jadi nih barang itu yang udah e bringing value. Jadinya kalau kemarin kan ada tuh yang kayak viral juga, wah dibeli-beli banyak aja udah beli di pabrik gitu langsung terus dianggap asli gitu.
Ah itu juga agak agak tricky eh menurut gua. Tapi ini literally if you cannot you know convince them confuse them sih. This is literally what happens. Iya ya itu strateginya ini benar-benar ini. That's what they're doing.
Iya. Heeh. Lucu juga sih. Tapi kalau lu lihat-lihat eh Chinese yang go abroad gitu, kalau belanja kayak orang kalap, cuy. Padahal belinya dari situ juga.
Kalau dia lucunya kalau dibikinnya dari e tetangganya gitu, dia belinya di Eropa, di Amerika. That's pretty funny itu. Iya. I ya. Sama waktu ke Jepang kemarin kan ya lu apa sih brand Jepang yang geng di kepala Onit suka tiger misalnya belilah gua di sana lu buka M Indonesia.
Tapi tapi itu menarik sih kalau ngomongin soal consumerism ya kita sebagai manusia ya kan. Tunggu dulu sor globalization itu tadi sebenarnya maksudnya semua ini terjadi gua bikinnya lebih murah di sana dan gua beli di sana ya itulah globalisasi ya. kayak a lot of a lot of thing that you buy abroad lu spend hari sehari buat ngantri itu ujung-ujungnya lu buka made in Indonesia, made in Vietnam, made in Bangladesh. Itu sih mungkin kayak pertama kali lu syok gitu, tapi after a while ya realitanya begitu cuy. Lu mau berharap bikin di mana?
He. Tapi sekarang kayaknya barang-barang Indonesia tuh lebih sedikit enggak sih di luar sana? Itu kan ada hubungannya dengan internally kita negara ini kebijakan-kebijakan juga kan. Nah, yang kemarin LG juga kan. Heeh.
Iya. that that karena I think in the past 10 15 years ago, 20 years ago gua gua inget banget boneka-boneka yang gua dapat oleh-oleh itu pulang-pulang ya m in Indonesia sekarang enggak ada lagi. Makin sedikit makin sedikit makin sedikit. Iya tapi ya tarif ini juga sebenarnya kan jadi bisa jadi peluang ya. Maksudnya tadi kalau kita balik ke analogi toko di Amerika tadi yang tadinya dia outsource ee ee barang-barangnya dari China karena tarifnya tinggi, ada enggak barang-barang yang kita produksi di Indonesia yang dulu-dulu atau selama ini kita produksi?
Karena sebagai toko ee di sana gua pasti nyari sumber yang lain dong. Ada pilihan ee langganan gua dari China. China kena tarif ee bikinan lokal ee masih mahal. Ada enggak supplier dari negara lain? Iya.
China 245% kalau enggak salah ya sekarang kenanya kita kenanya 47%. Ya harusnya kalau kita ya buat Cina itu kalau udah di atas kalau gua lupa angkanya berapa ya tapi kalau udah di atas sekian persen menurut dia udah don't cares enggak peduliah karena sama aja hasilnya 111. Iya. 11 12 mau taikin 300, 400 pokoknya kalau sudah lewat level segitu selalulah gitu kira-kira. Nah, Indonesia itu 47% ya mungkin ada opportunity di situ.
Cuma persoalannya adalah kapasitas manufaktur kita ini. Iya. Nah, ketika kita ngomong kapasitas manufaktur, mungkin enggak perusahaan-perusahaan China itu pindah ke sini invest? Ya, itu kan yang selama ini mereka lakukan untuk masuk ke pasar. Enggak, enggak usah invest mereka ekspor apa ekspor ke Indonesiael aja sama di relabel terus diekspor lagi entah ke mana pasarnya perusahaan cangkang gitu doang jadinya itulah yang terjadi di jalan kan itu ini yang kita biasa lakukan kayak apa yang ee kita dengar berita lah apa sawit di Indonesia minyak perusahaan sel cangkangnya di Singapura kan pajak lebih murah jadi transaksinya dilakukan di sana jadi enggak masuk pajaknya heeh itu bagian dari konsekuensi kita terintegrasi sama ee sistem rantai pasok global termasuk financing lembaga keuangannya.
Hm. Jadi kira-kira itulah tinggal pintar-pintar kita aja mau dibawa ke mana nih karena gua bukan ahlinya juga lah. Oke. Tapi tapi tadi gua nangkap satu poin lu tadi ketika lu mengkaitkan dengan kris dan visa gitu kan. ee ee belakangan tuh gua baca tuh ee ee ee Indonesia harus membela diri ee ketika dipertanyakan ee kenapa menggunakan ee PGN GPN GPN GPN perusahaan gas negara PGN Gway pembayaran payment nasional nasional eh visa enggak tapi yang yang gua uniknya beberapa hari kebelakangan itu gua ngelihat informasi di sosial media ya kan.
Jadi posting-postingannya tuh kayak tahukah kalian kalau misalnya kita melakukan transfer menggunakan ee ee ee aplikasi misalnya MyBCA atau ee Digbank, DBS atau Dana atau apalah macam-macam itu kan ada ee ada ee ee eh enggak yang bank lah ya yang digigbank gitu. Eh, ada transfer real time. H bayarnya 6.500. He. Trans transfer BI fast harganya 3.500 apa 2.500 gua enggak tahu.
Terus yang beredar itu adalah ajakan untuk beramai-ramai menggunakan BIVAS. Karena sesungguhnya transfer ee ee online itu yang 6.500 itu menggunakan jaringan visa atau Mastercard. Oh iya, mahal sih, jauh banget bedanya. Nah, nah tapi gua rasa itu enggak benar. Makanya gua bilang disinformasi netizen Indonesia sudah bergerak nih untuk untuk membela atau mengarahkan bahwa hei mari kita gunakan BIAS daripada menggunakan ee ee ee transfer online itu karena transfer online.
Nah, ini kan ini kan balik-balik lagi pengiringan isu ya. isu ee gua enggak tahu apa apa yang ada di balik army ee ini ketika mengangkat isu itu. Cuman ee yang gua tahu bahwa transfer online itu sebenarnya transfer yang berlangsung antar bank. Heeh. Bukan enggak enggak serta-merta melalui Visa atau Mastercard kartu ya.
E visa atau Mastercard. Tapi kalau pakai aplikasi, tapi ya juga kita tuh di sini don't know any better, man. H iya. Lagi-lagi gua selalu di platform-platform seperti ini diskusi internal tuh kayak American apologist. Padahal bukan itu maksud gua.
Lu nyamannya ngap pakai handphone, Bro. He. Buat bayar, nothing like it. Mesti buka aplikasi, scan lama gitu. Lu dari bus, dari kereta, dari bayar, beli minum, beli mobil, terserah lu lah.
Lu tap tap tap tap tap pakai handphone tuh kayak ya kan Mama Mia ya kan. Tapi kita enggak akan bisa melakukan eh mendapatkan itu kalau misalnya enggak menggunakan sistem tersebut, ya kan? Nah, yang dengan QR-QR ini memang ee definitely ada bagusnya lah karena lebih gampang bisa dipakai sama lebih banyak orang. He enggak pakai apa nih namanya mesin edisi gitu-gitu memang ada tapi mungkin yang mereka maksud tuh gimana caranya ada titik tengahnya di mana ini bisa kepakai tapi ya harusnya lu Indonesia bisa tap into apa namanya ee inovasi yang kayak gitu-gitunya yang dari global ini kayaknya enggak gini Amerika boleh protes soal visa master kalau itu barang dua diblokir di sini emang diblokir enggak juga kan tapi Mereka sebenarnya Heh enggak protes sih lebih ke observasi kan protes itu bagian dari kenapa tarif resiprokal 37% itu diberlakukan termasuk soal BA cukai katanya katanya AS dan Uni Eropa menilai kebijakan itu sebagai diskriminasi terhadap perusahaan asing yang berlokasi di Indonesia. He ada benarnya tapi whatever lah.
Kita kan juga mesti melakukan apa yang terbaik buat kita. Tapi I'm just saying on the other side kalau lu cuman pakai sistem ini satu security-nya you're on your own man. I ya kan sama ya lu terputus sama yang lain sisanya. Heeh. Kayak di kayak di Jepang itu ya gitulah kalau lu punya Apple Pay ya kayak sekarang sekarang enggak ada cuy Apple Pay di Indonesia.
Tapi Indonesia gua maksudnya I'm very proud lah ya sama dengan Kris ini ya. maksudnya kita kita punya ini dibuat oleh anak bangsa dan lain-lain. Tapi at the same time kita juga harus intropeksi sih. Banyak banget fundamental ee Indonesia ini negara sebagai negara nih yang membuat orang tuh jadi malas juga sih kalau mau investasi di sini atau mau share knowledge atau mau ngelakuin hal-hal di Indonesia lah untuk membantu kita untuk tumbuh lebih. Iya kebijakan-kebijakan itu regulation yang terus-termenerus berubah.
Policy hari ini A besok B. Itu intr-inpeksi diri yang harus kita lakukan juga sih untuk bisa menjadi negara lebih maju. H coba kita lanjut dulu Jak TV kemarin heboh. Siapa yang mau play by play by play-nya gua? Gua enggak terlalu.
Gua juga enggak terlalu ini. Mungkin Bapak yang kacamata kacamata hitam nih. Coba dulu. Tapi ini gua tahu namanya pakai kacamata deh. Asik.
Iya. Tangan kanan gua Wi. Tolong Wi. Minta dipijit doi. Jadi gini.
Lu dulu dulu. Gandengan. Gandengan. banget berdua yang gua pahami. He eh ini kan urusannya dengan kejaksaan ya, dengan penelitian kejaksaan.
Ada kasus CPO ya. Eh enggak. Jadi gini sih ada kasus HAKI apa ada kasus ee CPO. Betul. Terus kem ekspor CPO itu dianggap korupsi terus disidangkan kira-kira gitu.
J ketika disidangkan itu divonis ee bebaslah, enggak terbukti segala macam. Oke, habis itu tapi habis itu hakimnya ditangkap. H karena terima suap 60 miliar. Oke, entar dulu 60 miliar itu duitnya ada segala macam lah. Ada dua pengacara itu.
Nah, ada dua pengacara heboh itulah yang apa ramah yang cewek-cowok itulah kayak dia pengacara agak trendy-trendy gitu kan. Iya. Trendy-trendy suka di private jet lah apa? Enggak tahulah itu sih. Tunggu dulu.
Is that the same person? Marcela. Marcela Santoso. Ah, itu dia betul namanya. laki perempuan dan Junaidi Saibih.
Nah, itu dia. Nah, terus mereka ini pakai si direktur Jack TV. Bayar direktur Jack TV ini komission. Comission enggak bayar, Bos? Jasa.
Jasa itu untuk melakukan media buying dia. Enggak. Nah, masalahnya enggak media buying ya. Campaign. Heeh.
Bukan black campaign. I. Nah, ini nih nih ditangkap kejaksaan karena dia bilang itu melakukan perintangan penyidikan dengan mendiskreditkan, membuat berita-berita, mengorganisir opini apa merekayasa opini terus buat berita-berita yang mendiskreditkan ee kejaksaan. Quote and quote sama dengan perintangan penyidikan. Jadi dianggapnya begitu.
Aduh, bahasanya sulit. Iya. Nah, belin lah. Jadi entar dulu, entar dulu. Kita gini harus lu bedain terus kalau kita kritik pemerintah jadi black campaign.
Enggak. Jadi g lu harus bedain dulu. Kita harus bedain dulu nih kita strik dulu. Ada yang namanya negative campaign, ada yang namanya black campaign. Ini kan kita perusahaan agencies ya, PR.
Nih bedanya apa? Black campaign itu bicara tentang fitnahlah, apalah apa semir semir campaign lah, terus ho itu black campaign. negatif campaign. Kalau negatif misalnya, oh ini ada ada persoalan yang memang harus dikritisi. Terus kemudian iya intinya secara fakta benar i dixpose faktanya.
Oke. Dalam hal ini soal direktur pemberitaan ini gua lihat ya, Bu itu cara kejaksaan untuk bilang bahwa lu kerjanya juga benar dulu deh. Hm. Jangan ngeritik-ngritik dulu gitu misalnya. Jadi gini, ini kan persoalannya adalah buat mereka pemberitaan itu adalah sesuatu yang mulia.
Mulia itu apa? Berbasis opini demi kepentingan publik, punya news value dan lain-lain gitu. Misalnya ee kejak bilang jangan digunakan ini untuk kira bahasanya kan begitu kan. Nah, ada uang masuk terus uangnya tunggu dulu. Uangnya masuk ke kantong pribadi atau ke perusahaan?
He pribadi pribadi menurut kejaksaan kalau dia bekerja sebagai konsultan freelance boleh dong sebenarnya dapat fee. Tapi perintangan penyidikan enggak gini enggak tahulah gini ya kalau dalam ini ada yang namanya litigasi PR segala macam ya. Nah memang proses ee persidangan atau proses e KUHAP KUHAP KUHAP tap undang ajara Pijana itu dia punya banyak prasyarat lah kira-kira banyak banget prasyarat. Salah satunya hakim tuh misalnya enggak boleh kayak di Amerika juga kan gitu dia juri itu diisolate dulu supaya enggak dengar berita segala macam enggak trackpose sama opini yang yang beda dengan fakta material sama apalah itu yang bahasa yang dipresent dalam dalam sidang itu. Nah, kita juga punya rules yang serupa di di Indonesia gitu.
Jadi enggak boleh terpengaruhi opinilah segala macamlah. Nah, apakah apa yang dilakukan itu ketika menyerang pihak-pihak yang bertikai di berperkara di persidangan itu masuk kategori perintangan penyidikan? Ah, itu other question ya menurut gua ya. Ya, itu yang lagi itu lagi disidang lagi disidangan lagi disidangkan. Tapi menurut gua perlu dihargai juga bahwa iya betul bahwa seharusnya media opini segala macam itu tuh kecuali memang ada ketidakadilan yang berdampak pada kepentingan publik yang lebih luas.
Misalnya kita bicara soal demokrasi, kita bicara soal kepentingan publik, otonomi daerah, isu-isu publik lah, isu-isu kebijakan publik lah. Ini kan isu kriminal, Bos. Ny nyuap korupsi pula. Kalau gua ngobrol depan beberapa teman-teman ya, ada sentimen bahwa ya memang korupsi enggak boleh dibela gitu. Tapi kan si terpidananya apa bisa harus punya pengacara segala macam.
Oke. Tapi inti kesalahannya adalah gini. Media itu enggak boleh dia harus punya apa ya prinsip pedoman berpijak pada kepentingan publik yang luas gitu. Enggak boleh bawa agenda-agenda person-pers pribadi-pribadi segala macam. which is ya kalau lu mau jujur ya semua yang terjadi saat ini ya agenda-agenda orang-orang yang punya ya kan lu kagak ingat iya TV1 zaman iya 2014 nyebut merek-merek nih sekarang tapi intinya kan jurnalis journalism platform tetap harus independen gitu kan inti itu aja kan sih gua ingat banget ketika kita baru awal-awal bangun praksis lah ada ada awi gua diskusi segala macam gue lihat agenisnya apa sih sih buat gua kan yang background gua adalah politik ya pemerintahan.
He. Adwi yang komunikasi. Ee gua pokoknya bilang bahwa jurnalisme atau jurnalisme yang bebas itu adalah salah satu prasyaratan demokrasi. Demokrasi. Nah, dan ketika kita bangun industri ini, kita justru harus saling menjehatkan gitu.
Iya. Bukan ee ya kita tahulah praktik-praktik yang enggak sehat yang terjadilah yang kita enggak usah sebutkanlah. Dan dan yang benar-benar gua sama Adwi itu apa e diskusikan waktu itu bahwa keberadaan agensi ini enggak boleh merusak ekosistem itu tadi pemberitaan, jurnalisme. We have to be professional dan dan kita saling membangunlah kebutuhannya apa resiprokal kira-kira itu yang jadi prinsip. Nah, prinsip ini yang menurut gua kemudian disalahgunakan oleh si itu.
Hm. Nih nih nih kalau kalau kalau dari gua sebelum gua tahu kalian berdua mau nambahin eh real quick yang menjadi hakim harusnya unfortunately kalau di negara-negara maju itu masyarakatnya cuy pada saat lu sebuah media ngomongnya udah enggak jelas-ngajelas lu ditinggalin cuy kalau di sini kan enggak tetap aja orang buka media yang sama juga jadinya mereka kayak enggak ada, mereka merasa they can get away with it he enggak ada yang tahu kok ya kan karena enggak setajam itu masyarakatnya nya sampai oh lu kayak gini lu dihukum men lu lu harus gua hukum masuk penalti ya kan lu enggak gua baca lagi atau gimana lah nah itu itu satu sama yang kedua dari dari atasnya lah kepemimpinan kepemimpinan ya kan kalau semua dikumpulin jangan ngeliput ini ya jangan dan gitu nah unfortunately ee ya maksudnya situasinya memang begitu aja ya, media ee punya ekosistemnya tuh kurang kurang sehat kali ya. Banyak bergantung juga sama pemerintah. Kalau lu ingat kan gua enggak akan sebut namanya tapi beberapa waktu yang lalu lu diblokir cuy semua BUMN bisa ngiklan di sini. Oh, ya ya ingat dan lu collaps berarti kan enggak collaps sih diclining aja sih.
Iya ya maksudnya ee lu cuy lu sampai mecat-mcatin orang apa kan itu kan in a way kayak masih hidup barangnya sekarang cuma dik. Nah itu kan karena dikasih hidup. Iya. Oh iya gua yakin ya kan karena ada ininya. Nah itu karena ada karena grupnya lumayan kuat bisa subsidi silang, bisa ginilah.
In intinya kalau misalnya ekosistemnya terlalu bergantung jadinya loyalty-nya tuhembaca publ. Exactly. Nanti orang yang akan menghargai dengan view apa dan klik dan apa dan sebagainya tapi lu ngelihatnya dari sisi yang lain ya. Lu gimana mau independent quote unquote ya lu pasti bisa dietir karena lu berharap dapat dari roda yang berputar itu. Ya udah anyway anyway lanjut yang apa lu?
Gua sih simpel aja sih kayak tadi gua sebut sekilas ya, jurnalistic platform tuh sebenarnya ideally it has to stay independent karena kalau udah dia udah mulai nerima uang untuk ship a certain narrative dan lain-lain ya gimana ya maksudnya it will destroy credibility it ruin the whole ecosystem ya kan karena sebenarnya tin gitu between true journalism sama I would say a manipulated PR sih ok nah kayak sekarang tapi gua yakin ada satu media yang very vocal right kayaknya mereka harus the jadinya ganas terus ya itu yang harus diapresiasi ya gua tahu itu i kan dan appreciate sih dan harus men karena kalau enggak ada mereka lu mau tahu apa men loh menurut gue ya kita di industri ini udah lama bangetlah h dan gua juga mengalami baca lah maksud gua sebelum masa-masa Orde Baru masa-masa sebelum reformasi itu gua tahulah media-medianya tuh kayak apa dan gua baca lah gua kalau kalau gua enggak terlalu tahu karena gua belum Iya, Gua masih SMA gua guys. Zaman itu Sofyan udah gua masih kerja 5 tahun dia udah udah lebih lebih asik lu enggak ngitung dia nganggurnya kan dia nganggur 4 tahun habis itu dia kerja 5 tahun nah reformasi berita-berita itu dan ya kita ingatlah zaman dulu zaman itu terus ya in sense balik lagi enggak sih iya kita supposed to be berinteraksi sama media yang seperti itu gitu jadi kita trade off-nya value gitu trade off value trade Kita ini kan bukan manipulator fakta sebetulnya kan cuma menduduk manipulator PR tadi ya. Iya. Kita cuma mendudukkan sesuatu dalam perspektif yang yang punya konteks gitu kan. Konteks siapa?
Konteks bisa konteks perusahaan, bisa konteks masyarakat, bisa konteks pemerintah, everybody gitu. Dan dan itu yang harus kita trade off ke media ya. Bukan cuma sekedar rilis PR blas besok coverage berapa. Enggak gitu, Bos. Itu tuh lu main masalah aja lah.
Ohah aja lah. Gitu kira-kira. Itu itu paps baw. Lu tahu paps baw enggak? Apa tuh?
Papan bawah. [Musik] Gua kira gua kira papmir ya. Jauh amat itu. Papir. Gua kira papa.
Gua kira papa tib. Agak nyambung. Agak nyambung. Agak nyambung. Dia ketahuan umurnya loh.
Benar. Iya. Bapak-bapak jokes banget. Oke. Ee oh kemarin tuh ada juga kita selipin ya karena masih ada waktu sedikit.
Ada yang jurnalis BT. He. Lihat enggak postnya? Lihat. Yang urusan jurnalis sama influencers.
Kursi enggak dikasih tempat dulu. Kursinya enggak di depan gitu kira-kira ya. Heeh. Itu itu juga. Eh real quick lu ada thoughts enggak?
No nih. Has always been like that. It's very tricky delicate situation. dari zaman gua di ee corporate juga dulu pada saat masih di agency belum begitu delegate sebenarnya pada saat itu tuh memang jurnalis jurnalis tuh masih istilahnya itu masih ya everything itu pokoknya our kiblat ya jurnalis gitu pada saat itu ya pada saat gua di agency the first time around terus gua punya kecorporate ada sedikit shift e in that situation terus udah sempat juga ada drama-drama yang terjadi dulu between kol jurnalis kalau mereka trip biasanya iya jelas dari perlakuan distrip ee baru sekarang muncullah nih soal tempat duduk dan lain-lain. Ini memang untuk PR is something that's very eh very tricky lah ya secara situasi nih gimana karena kita enggak bisa we cannot make everyone happy kan.
Gimana caranya supaya eh kita make sure bahwa everyone happy? What I what I did usually adalah ya enggak ada yang lebih penting dari yang lain gitu. Sama aja you both are my tamu lah my friends guest. Lu gua undang enggak ada tuh depan belakang. Biasanya gua first come first serve.
Heeh. Lu telat datang duduk belakang lah. He. Lu mau media lu paling besar kek, ee channel lu paling besar kek. Kalau lu acara gua undangan jam .
dan jam . Ya, lu di belakang. Tapi I will I look at a seat for media sama KL itu di depan memang jadi satu ya. Jadi satu karena ya mereka kan mau meliput, mereka mau foto dan lain-lain. Jadi mereka tetap akan di depan tapi posisinya di mana itu udah first come first serve.
Karena to me they both equal. Sama-sama penting. Buat lu Wii. Gimana Wi? Lu lebih pro media apa influencer?
Ee gua sih gua sih selalu ngelihat ini ya ngelihat ngelihat ee porsinya ee dalam artian ee ee media itu bagi gua selalu membawa credibility. It's credible lah. Tadi yang kita bilang bahwa media itu independent, media itu bebas nilai, media itu cover both sidak. Enggak bebas nilai juga, cuy. bebas aktif dia to bebas nilai eh eh e eh independent ya kan gua ngulang lagi nih lupa gua ngomong apa tadi Sofyan motong-motong lu sih karena basic cuy bebas nilai dia punya editorial policy bilang bebas nilai dari mana dia punya ee berantem berantem berantem anyway ee ee bagi gua media itu mengusung kredibilitas ya kan ee ee dia punya redaksi bahwa sesuatu yang dihasilkan oleh media itu bukan cuman dibikin oleh satu orang, tapi adalahumpuran dengan struktur yang bertingkat-tingkat dari dari reporter ke editor ke Redpell ke pemret gitu mungkin pemret enggak bac tapi ada ee ee apa kalau dalam militer tuh namanya ada metodologinya lah untuk sampai keluar produk itulah ya begitulah nah ee maka Dari itu mereka membawa ee kredibilitas.
Di saat yang bersamaan media mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang. Muncullah sosial media influenza influencer influencer influencer. Heeh. Flu flu influencer segala macam. Iya.
mereka punya masa yang ee ee apa ee ee yang bisa dijadikan ee cara untuk menjangkau langsung gitu kan. terukurlah terukur siapa ee siapa yang nonton Dedy Kobuzier kelihatan tuh ee ee demografinya misalnya ee ketika brand bekerja sama itu udah udah udah dapat to certain degree ee menjangkau khayak tertentu gitu. Nah, di di saat yang bersamaan jadinya eh social media enthusias ini adalah mereka yang membangun awareness. I kan ee eh bagi gua selalu awareness dan credibility itu jalannya berdampingan. Gua aware dengan suatu brand, tapi ketika brand itu enggak punya credibility ya apa gunanya?
I brand punya credibility tapi gua enggak aware ya apa gunanya? Jadinya harusnya dua ini sekarang ya dalam kondisi sekarang itu berada di tatanan yang setara aja gitu, saling menghargai. Ee dan bagi sisi brand ya pahami itu h ee pahami porsi mereka masing-masing dan provide mur juga kedua-duanya gitu. Ee kalau gua ngomongin loyalty, loyalty gua ada sama publik, cuy. Tis publik ini sekarang bacanya apa?
eh konsumsi medianya dari mana? Itu loyalty kita lah. Lah kita kan eh basisnya at least ya public relations ya kan. Jadinya kalau misalnya nanti 5 tahun lagi ee peta ini sudah bergeser ee semuanya dinamika sudah berubah orang udah baca dari tembok gitu ya lu deketin tembok cuy. He AI AI AI yang AI lu masuk AI relations whatever lah you want to call it ya kan.
Gimana caranya lu bisa mempengaruhi AI AI untuk nyampai ke target audience lu. Ya, lu loyalty-nya harus ke target audience, Men. Jadinya tunggu dulu. Respect of course you have to respect everyone lah. Gua setuju sama step jangan ada preference tapi you know jangan juga jadinya eh nostalgic e investasi masa lalu.
Jangan sampai itu menentukan keputusan lu di saat ini atau di masa depan, cuy. Itu fallacy. Iya. I kan. Enggak, enggak enggak, enggak boleh seperti itu juga mikir jadinya.
Eh, hari ini gimana caranya nyampai ke orang itu apa yang terbaik? Ya, itu yang ada yang diperhatikan lah. Oke. Oke. Ya, ya, ya, ya.
Bolehlah, bolehlah. Eh, terakhir itu kebetulan gua baru balik ke kemarin kan Vina eh my wife designer lah. Jadi, every now and then tuh dia mesti pergi ke trade show gitu-gitu tuh untuk dapat inspirasi, absorb things, strend, dan kayak gitu-gitu ya. Jadinya. Tapi ada beberapa notes yang gua ambil gitu dari si Milan Design Wick ini.
Jadinya yang semakin sini kayak lu misalnya MWC gitu ya atau apa C C CS di Vegas ini nih sedikit berbeda. Kenapa? Karena eh the whole city celebrates. Hm. Jadinya lu bayangin kalau misalnya ada di ee JHCC acara utamanya tapi blok M merayakan.
Hm. Menteng merayakan ee Pondok Indah merayakan gitu. Jadinya ee ee brand-brand besar itu juga punya instalasi ya kan ee punya ee konsep-konsep yang mereka tampilin tuh di tempat-tempat enggak cuma di JHCC itu doang. Jadinya buat orang yang datang ke acara utamanya itu worth it banget karena lu bisa lihat yang lain-lain lah. Heeh.
Eh, dan lu bisa jadi lebih luas gitu, bukan datang ke Ice BSD 2 hari terus lu pulang balik ke negara lu. Tapi lu masih bisa lihat di tempat-tempat lain. Oh, Lexus bikin instalasi di sini, ICOS bikin instalasi di daerah ini, eh whatever lah, all this different brands gitu kan melakukan itu. itu ee menurut gua mungkin masa depan ya kayak MWC mungkin Barcelona nanti enggak cuman di convention hall-nya doang mungkin di luar-luarnya juga brand-brand bikin instalasi. Yang kedua yang gua notice itu tentang it's not about the core product all the time.
H kadang-kadang kita terlalu fokus sama tunggu dulu apa hubungannya dengan eh Apple. Harus tentang Apple. They don't care, man. Pas di sana eh apa namanya? Brand Prada nunjukin eh sofa tempat duduk lah, enggak ada hubungannya gitu.
Tapi kan still design ya kan. eh konsep-konsep filosofia mereka tetap tercermin di produk-produk itu. Tapi itu yang gua notice, semua brand yang hadir baik di convention-nya atau di luar ini enggak semuanya tentang about their core product itu, tapi samping-sampingnya tuh yang bisa bikin orang asosiasi atau apresiasi brand tersebut gitu. Nah, itu yang yang mungkin trennya gitu. Ke depannya kita juga jangan terlalu tapi kan enggak ada hubungannya dengan basket.
Berarti enggak bisa dong kita masuk. lu jangan sedangkal itu. Karena asosiasi orang tuh terhadap brand tuh sekarang sudah semakin luas lah. Jadi lu jangan terlalu produk sentrik. Eh yang terakhir ada hubungannya dengan si tariftarif itu.
Ini nih karena gua sempat ke Itali, sempat ke Spanyol, gua ngelihat dua hal yang berbeda, cuy. Ee di Ital itu pada akhirnya ini sama juga kenapa Amerika mulai sedikit produksinya dilempar ke Cina. Mungkin ya ada hubungannya. Tapi eh ultimately gua ngelihat ada pride di orang-orang Itali yang mereka enggak mau melakukan pekerjaan kasar, cuy. Hm.
H h. Jadi ee makin banyak imigran Africans and stuff lagi itu tuh makin kayak lumayan out of control lah. Dan gua notice-nya ya ee banyak kan startup eh delivery makanan termasuk Uber apa dan sebagainya gitu. Enggak ada orang Italia, cuy. Lab labor cost-nya memang exactly.
He. Jadi, sedangkan di Spanyol yang harusnya 111 lah semuanya ya, harga apa dan sebagainya, negara juga sebelahan gitu kan. Enggak cuy. Orang-orang Spanyolnya nativenya itu masih ada eh it's ok gua nyetir taksi, gua nguber, gua ngantar makanan tuh masih biasa aja. Sedangkan di Itali nih agak you know agak snop.
Gua ngelihat, "Oh, that's the difference." Makanya kenapa kok jadi banyak banget imigrannya di Itali dibanding di Spanyol. Iya. inense. Gara-gara itu menurut gua. Nah, ini kan di Amerika juga mungkin secara tidak sengaja eh lu jadi banker lah.
Masa lu jadi orang pabrik ya kan pabrik udahlah kita kirim aja ke Cina mungkin gitu strateginya atau ya kayak tukang taman gitu kan. Mexican mexican semua cuy kan. Nah, tapi ini nih ya itu juga menarik ngobrol-ngobrol salah satu kesimpulannya Mexican di mana pun dia kerja keras men. Gua udah cek di Itali dia kerja keras, di Spanyol gua ngobrol-ngobrol langsung taksi, "Eh, man, we love, you know, central Americans gitu ya." Emang orang pengin kerja, cuy. Ada orang imigran tuh yang nyampah.
H lu, lu membebani negara gitu, lu enggak mau kerja, malas-malesan, apa dan sebagainya. Sedangkan ada orangnya emang datang untuk mencari kesempatan kerja dan they take advantage lah of itu ya. Salah satunya jadinya culture juga lah. Anyway, ada lagi yang lain sebelum kita bubar? Eh, enggak ada observasi.
Eh, apa ya? Enggak ada sih klien update ada yang mau disampaikan klien ada enggak klien? Kalau dari e kalau dari sisi gua sih klien klien paling aktif tetaplah ya di BS banyak event ee sebulan terakhir ee ee klien baru dana kita lagi siapin ee Dana lagi siapin event pertama em press conference pertama ee PGO juga. Jadi ada beberapa klien yang baru masih banyak adjustment em dari tim ada beberapa lah turbulensi di awal klien agency relationshipip yang wajar yang sewajarnya. Tapi kesibukannya sih masih masih ke sana sih.
Terakhir laporan keuangan ya. Eh as always eh tentunya untuk ngerjain hal-hal ini kan we need talent. I ya kan? E if you feel like you can e bermain dengan kita di network kita, send your email regardless of experience level ya. Lu udah senior, lu udah masih junior atau apa.
If you're good, if you feel like you can contribute, lu bisa deliver lu agak nyangkut atau agency lu baru-baru ini bubar ya kan lu perlu anjing perlu tempat bernaung yang baru. Ei man. Maksudnya kita kayak tadi udah dijelasin lebih good governance ya kan lebih prudent semuanya. So it's gna be at least better from that perspective lah. Eh I think that's all the time we have.
Kita ada meeting masing-masing. E thank you for joining. E gua Mercy. Sebelah gua Adwi itu Sofan Stef and we have Chris the producer. Thank you.
Thank you. Thank you. [Musik]