Era Google benar-benar sudah tamat? Proxemics 007 dibuka dengan debat panas Full House soal pergeseran besar dari mesin pencari konvensional ke tool AI seperti ChatGPT, Gemini dan Perplexity — dan apa artinya bagi masa depan SEO serta bangkitnya Generative Engine Optimization (GEO).
Perburuan jawaban instan ini membawa ke gagasan yang lebih besar: Trust Economy. Saat audiens makin kebal terhadap endorsement seleb yang terlalu kinclong, mereka pindah ke influencer yang otentik, niche, bahkan level mikro. Tim berbagi cerita pribadi — termasuk zonk dari seorang food reviewer — dan berargumen bahwa autentisitas kini jadi mata uang paling berharga bagi brand, kreator, dan media.
Dari situ mereka membedah gerakan YONO (‘You Only Need One’): benarkah anti-konsumsi ini soal mindful dan ramah lingkungan, atau sekadar alasan mewah untuk beli barang mahal?
Suasana berubah serius membahas industri media yang berdarah-darah — tutupnya SEAToday dan Tech in Asia Indonesia — disertai perdebatan apakah jurnalis bisa comeback dan kenapa tak ada media yang benar-benar ‘bebas nilai’. Ini mengantar kilas balik yang jujur dan sensitif soal kontroversi kerusuhan ’98.
Ditutup dengan studi kasus krisis PR Boeing, membedah bagaimana brand global menjalankan communication playbook-nya saat tragedi terus berulang — pengingat berharga bagi siapa pun yang menyusun rencana krisis. Tontonan tajam untuk siapa pun di PR, marketing, atau media.




YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
Welcome & Perkenalan [Musik] Pergeseran Besar: AI Gantiin Google Search? Jadi gini, Geng. Eh, orang-orang tuh udah mulai heboh ngomongin eh kayaknya ada shift in people's behavior. He. Kalau dulu kan kita automatically lah enggak pakai mikir lu ke Google mencari sesuatu eh menanyakan sesuatu trying to figure out something tuh Google.
Sekarang itu dominance-nya Google based on data itu udah sedikit menurun, udah enggak kayak dulu lagi. Jadinya orang-orang itu bertanya udah melalui AI walaupun apa apapun AI-nya ya, Mac GPT, Gemini, whatever lah. Tapi apapun yang lu subscribe itu lu menggunakan itu untuk mencari informasi. Pertanyaan gua dua lapis. Satu, apakah lu udah mulai shifting?
ke pola penggunaan ee AI yang itu. Satu, dua, terus gimana kita ke depannya? Kan sekarang kita ngerjain sesuatu kan SEO-nya, SEO-nya. Nah, nanti gimana pas SEO turun ini apa yang harus dilakukan brand-brand ini? Right?
Atau kita sebagai consultant, what are we going to do? Itu sih dua lapis pertanyaan gua. Whoever wants to take gua dulu deh. Kalau shifting dari Google ke AI gua belum sih. Lu belum ya?
Gua belum. Ada berapa kan udah udah gampang di reach out lah kayak ada Gemini di di apa bahasa Gemini. Nah, di Google, di Google gitu terus apa terus ee apa namanya macam-macamlah di situ. Cuma gua masih tes ini kan ya kita enggak tahu 5 tahun belakang ya. AI itu kan yang bikin dia beda sama Google kan udah enggak no longer apa ya udah augmented gitu.
Jadi kalau Google ya dia ada di komputer ada gini tapi kalau ini AI itu sudah augmented jadi langsung menggantikan fungsi ada sebagian fungsi manusia ya analitik apa bikin summary segala macam terus mengkerangkai jadi kayak paper gitu lu kalau ke Google lu lihat raw data lu mesti tafsir sendiri lu mesti kategorisasi sendiri mana yang bermanfaat lu ambil tapi kalau itu sudah masuk me itu yang yang tapi gua belum belum belum shifting ke situ. Jadi gua lebih suka lihat rata dulu. Gua enggak mau diinterpretasikan oleh diinterpretasikan oleh bantuan AI di enggak enggak gua punya logik sendiri kira-kira gitu dan gua enggak mau otak gua tumpul juga sih maksudnya biar kita ngelatih yang lain terus yang kedua entar lu pertanyaan lu yang biar sekalian nih bos satu-satu aja dulu dong Sofan satu enggak nyambung soal nyambung engak nyambung soalnya oke Masa Depan Bukan SEO, Tapi GEO (Generative Engine Optimization) lu tanya tadi soal apakah nanti diganti SEO segala macam enggak h emang AI punya bank data sendiri enggak H sumbernya tetap dari Google, dari apalah apalah yang ada di internet itu, cuy. Jadi dia dia tugas dia itu cuma summarize, compile, mengkerangkai. Jadi SEO buat gua masih relevan.
At least in the next minimal three years lah. Masih masih relevan. Harusnya masih relevan. Gua enggak tahu loh ke depannya. Menurut lu menurut gua yang lain ya secara umum.
Have you used you know udah mulai gunakan yang lain selain Google atau Pilih AI atau Google? Tim Bagiin Kebiasaan Masing-Masing masih mainly Google? Mainly masih Google. Tapi gua udah mulai pakai CGPT, Perplexity, Deep si Jamen just to see things from different AI tools ya. Karena kan di profesi kita nih penting nih untuk bisa e updated ya kan tahu tren ngelihat e pros and cons gimana caranya supaya instead of e merasa tersaingi tapi mengcomplement how we do things right tapi yang gua notice adalah eh I ini predict our I don't know what's the word apakah dia memprediksi apa yang kita biasanya search jadi kayak dia ada kayak semacam eh like a formula behind it jadi kayak personalized behavior yang jawabannya tuh not necessary accurate gitu.
H. Jadi, makanya gua rasa untuk rely solely on eh AI sih belum ya. Eh, dan jangan sampai anak-anak yang on our younger generation tuh rely heavily ke AI tanpa punya konteks. Enggak ngerti logik, enggak tahu cara berpikirnya gimana, apakah ini benar atau enggak. and relia on AI disaster sih.
Oke. And ya gitu sih kalau gue. Oke. Kalau kalau gua untuk pertanyaan untuk misalnya gua ada pertanyaan ee yang mau gua ajukan memang gua udah shifting. Hm.
Gua pertanyaan yang simpel-simpel ya. Ee sekarang kan gampang banget kayak e meta AI itu melekat di WhatsApp misalnya. Jadinya as simple as lu buka WhatsApp yang tadinya gua biasanya nanya ke Sofyan misalnya gua nanya ke meta AI aja jawabannya lebih akurat daripada nanya ke Sofyan misalnya kan kita bermisal nih. Nah ee ee jadi ee apakah gua sudah mulai shifting? Iya, gua udah mulai shifting ke AI.
Kadang gua gua instal chat GPT eh meta AI ada di dalam WhatsApp. Jadi eh shifting udah satu lagi adalah ee kalau kalau pakai Google itu kan kita nanti dikasih walaupun walaupun AI Gemini itu udah udah embeded juga kan ada cuman ee ee seringkiali juga kita masih mendapat jawaban dalam bentuk hyperlink biru itu kan. Hm. ee ee link link gitu. Nah, itu ee gua udah bosan ngelihat itu maksudnya udah kayak puluhan tahun gua berhadapan dengan itu.
Dan itu ee enggak praktikal lagi dalam konteks gua harus klik h untuk pertanyaan-pertanyaan simpel. Tapi, nah ini e lanjut ke e pertanyaan kedua. SEO gua menggunakan Google dalam konteks mencari informasi directly ke website-website ah itu gua masih pakai Google eh sebagai bukan sebagai search engine tapi sebagai internet engine gitu kan untuk masuk ke misalnya website eh praxis.co.id yang kebetulan baru direvam saudara-saudara silakan masuk praxis.co.id code. Linknya ada di bawah sini. Ee itu gua pakai engine-nya Google masih walaupun kadang-kadang ee Safari ya.
Eh Google kan Google. Oke, jadi gitu. Nah, ee eh itu sih kalau dari sisi gua. Cuman kalau balik ke pernyataan Google is still king but the crown is wobbling. Nah, iya.
Dan enggak ee gua sepakat dengan pernyataan itu ee ini tergantung tergantung seberapa adaptif Google dalam berhadapan dengan adaptive AI ini gitu. Itu aja lah. Oke. Ee kalau gua pribadi honestly gua udah enggak pernah buka Google cuy. Hm.
Sat gini karena satu gua subscribe ke Gemini Pro. Hm. Lah kan punya Google. Heeh. He harusnya dia punya data semua yang ada di Google ada L dia.
Satu jadinya at all times itu sekarang workflow gua itu selalu ada dua window. Satu itu chat GPT gua enggak bayar yang pro tapi yang Gemini itu gua bayar yang pro. Nah itu gua eh tektokan itu aja tuh kayak in a way yang satu menajamkan yang lain lah kurang lebih. Tapi memang ada kalanya lu mesti balik balik ke Google if you're looking for something very specific. Pacific ya enggak ada obatnya lah.
Karena lu minta terus, minta terus dikasihnya tetap kan enggak enggak yang lu mau gitu. Kalau lu emang lu punya something spific ya. Tapi kalau cuman general question, eh understanding basic concept lebih gampang cuy menurut gua ya. Karena lu masukin di sini langsung dijelasin konsep eh konsepnya instead dikasih website-nya. Oke.
I kan yang tadi Adwi ngomong eh probably. Nah, sekarang ada itu yang disebut dengan GEO, Generative Engine Optimization. H. Dan orang-orang sih ngomongnya sekarang that's the future. Eh, setelah of course lu mesti tetap optimize eh your search engine-nya.
Masih tetap SEO mesti dilakukan. Tapi sekarang orang-orang sudah mulai berlomba-lomba trying to figure out gimana caranya gua nongol di Jemenai. Ngerti enggak lu maksud gua? ya untuk konten yang ada di big thing yang menurut gua obviously kita pastilah ini seantor ini eh akan perlahan-lahan ke arah sana mulai mencari pemahaman and try to figure out relationship antara AI sama search engine kita l yang kita pakai sehari-hari. Oke.
Yeah, that's something interesting. Trust Economy: Autentisitas Jadi Kunci Trust economy favored away from celebrity to authenticity. Yeah. Nah, ini juga eh another thing yang muncul tuh banyak orang-orang mulai nge-Google mempelajari itu gimana tren eh orang-orang itu udah semakin disensitize dengan influencers apalagi kayak celebrity influencers. Kenapa?
Karena eh especially di Indonesia ya, kalau kalau di luar itu kayak di Amerika lu sponsored tuh lu mesti ada labelnya. YouTube ya lu masti ada eh ini sponsored gitu mesti ada labelnya. Jadi orang tahu bahwa ini di-endorse gitu. Kalau di sini kan kagak ada cuy. At least enggak semuanya melakukan.
Ada sih beberapa gua pernah lihat sponsor gitu media-media tuh kalau lu perhatiin ee nongol di Instagram tapi di bawahnya ada sponsor. Mereka berusaha lebih apa namanya? transparent. Transparent lah. Nah, sekarang jadinya justru banyakan mereka udah shy away dari yang major-major influencers.
Malah mereka masuk ke microinluencers yang beneran gua makan di sini ya gua ngomong apa adanya. Enak. Instead of gua dibayar, gua disuruh makan. Of course gua bilang enak. Ya kan?
Eh apakah kalian notice the same thing dan eh ada observasi tambahan? Mungkin pengalaman pribadi lah misalnya. Gua sih ngelihatnya kalau dalam konteks trust ekonomi ya. H eh bagi gua trust itu selalu merupakan core currency. Wah, trust ekonomi ya kan.
Kayak mata uangnya mata uangnya. Nah, ee ketika kita berbicara tentang trust itu kan enggak jauh-jauh dari PR. Hm. Public relations is about you know building trust gitu. Jadi ee eh gua sepakat banget tuh ee eh jadi trust ini tuh lebih lebih bermakna daripada attention ya.
Lu mungkin dapat attention dari seseorang tapi attention-nya doang orang enggak percaya gitu. Ee dan kalau trustnya enggak dapat. Heeh. Trustnya enggak ada. Terus kalau misalnya influencer selepgram misalnya Kenapa Kita Udah Nggak Percaya Influencer Besar?
ngomong tentang sesuatu brand trustnya jadi enggak ada ya kan? ee ee ee ee orang sekarang tuh ngerasa bahwa ini nih dia sebagai influencer dapat duit lah dari sini kasarnya kan lebih pintar lah lebih pintar sekarang jadinya orang nyari next-nya itu si authenticity itu how do you get that e eh e apa konten-konten yang authentic gitu yang benar-benar gitu yang yang nah itu seringnya dapatnya dari eh e nich nich type of people gitu dari akun-akun Instagram yang benar-benar menunjukkan ee kepedulian. H ee ya itu itulah e itu kalau menurut gua jadinya ini balik-balik lagi this is actually the core concept of public relations. This is what we do in everyday gitu. I ya.
Dan sekarang kayak fenomena paling gampang yang relate to this authenticity sama how we build trust dan lain-lain soal influencers tuh pengalaman pribadi gua tuh gua paling sering zong banget tuh kalau udah ngomongin soal food reviewer itu ya yang paling close hit close to heart lah untuk gua sering banget di platform TikTok atau di platform atau di YouTube short lu disuguhin dengan berbagai macam konten dengan visual yang wow cinegrafiknya juga wow and Enak banget pakai banget banget banget banget. Dan lu secara visual luild ee terus secara em apa namanya? Desire lu juga apil lu datang dong. Pas lu datang yaitu kok begini. Heeh.
Heeh. Itu fenomena yang lagi ini banget sih di khususnya di food blogging. Oke. Iya. Gue yang enggak percaya influencer sejak awal sih.
Asik. Jadi lu jadi apa yang mau lu dari awal lu enggak percaya influencer enggak lah yang terutama yang sponsored ya i yang sponsored nih gua ketika enggak maksud kita dilatih kritis sejak kuliah asik UGM ya jadi ketika gua disuguhkan sesuatu gua pasti challenge itu dengan yang lain gitu maksudnya kayak misalnya gua harus cross check receck lagi segala macam ah ini udah baunya disponsori ah sudah lewat h tapi kan ada beberapa influencer yang memang otentik gitu. Emang dia kayak tadi makannya bilang makan karena dia generate apa ya? Dia jaga reputasinya. Iya.
Dia jaga reputasinya. Enggak enggak. Kalau mohon maaf ya kalau yang influencer mobil-mobil itu gua udah enggak percaya lah ya. Jelas gua udah anggap itu iklan. Sudah gua nonton itu iklan.
Ya udah cuma ya benar cara penyajiannya aja yang beda. Infomercial tuh ya. Iya, kira-kira gitu vertorial whatever lah. Kalau influencer sih gua lihat yang jadi ketika gua lihat satu konten, gua lihat dulu konten-konten dia yang lain dulu. He ini ada bau-bau ininya enggak sih?
Terus make sense enggak buat gua? Terus kira-kira lu memberi substansi enggak sama gua atau cuma just sell gitu? H. Kalau dia kasih substansi oke gua percaya. Tapi kalau dia enggak ngasih substansi apapun enggak deh.
Maksudnya review-nya enggak dalam. Ah sudahlah. Itu itu gue jadi pada dasarnya memang ya gua sih kritis ya old school lah kritisnya masih ya ya permasalahan berikutnya adalah kita sebagai PR practitioner juga kan harus take part into educating the public gitu bahwa not everything that you see on the internet tuh ya benar gitu kan. Heeh. Dan dengan shifting-nya e dengan shifting consumer behavior tuh lebih percaya atau lebih banyak consume content influencers kalau enggak semua smart dan kritis kayak Sovian.
It's gonna be a problem juga kan the long run. Iya. Eh, I think there's gonna be a shift di mana menurut gua ya even influencers eh akan mau enggak mau mesti lebih utentik, right? Karena kalau lu itu lu bakal ditinggal, man. Right?
Kalau misalnya lu kayak makanan, deh, simpel. Tapi kalau lu makanan lu bisa followersnya jutaan, men. Right. Tapi pada saat lu bilang ini enak ya kan ee semuanya misalnya kurang akurat lah atau ee agak lebai gitu. Pas orang datang nyobain he sekali okelah mungkin dimaafkan.
Tapi kedua ketiga lu selesai you're done. Orang akan nyari informasi lain. Nah ini kan yang kita sering ngobrol di kantor itu eh elaboration likelihood model misalnya. Unfortunately kalau kita ngomongin rumah atau mobil lu kritis lah. Nah, ini kan kalau masalah hari ini mau makan apa tuh kan kita kurang kritis ya kadang-kadang oh gua lihat tuh ini.
Ya udah kita jalanin tiba-tiba makan yah malas banget tuh. Enggak sih gua kalau makanan buat gua ya. Hm. Karena ini karena umur juga maksudnya lu kan akan memasukkan sesuatu yang ah juga eh kalori apa yang segala macam yang harus lu buang gitu yang lu butuh effort untuk buang itu supaya enggak jadi penyakitlah lemak apa kalori apa apa kolesterol. Jadi buat gua makanan itu gua harus pertama enjoy terus itu sesuatu banget.
Oh iya, makanya berarti buat lu motivasi lu dibanding orang biasa lebih tinggi tentang makanan. Jadi lu care little bit more. Jadi gua lihat review-nya dulu nih. Karena gua mau masukkan sesuatu yang mungkin jahat buat gue jadi gua harus make sure it's worth it gitu. Iya kira-kira gitu.
Gue if you're going to do something wrong do it right. Do it right. Do it right. You have to do it right. Lu terinspirasi sama Joya.
Gua baru baru keingat tadi ketika kita ngomong soal trust, soal credibility. Ee ee siapa sih yang paling ee ee salah Peluang Jurnalis Buat Comeback? satu salah satu ee yang memiliki ee terust cukup besar itu? Eh eh eh gua selalu melihat itu media ya, media jurnalis itu mereka mereka kan biasanya dikategorikan unbiased ee ee tidak berpihak, transparan, ee melaporkan apa adanya. Jadi gua tuh ngelihatnya ketika kita ketika ketika ngomong trust ekonomi ya itu harusnya media tuh juga enggak lepas dari situ dan menurut gua ini bisa jadi comeback-nya media atau jurnalis gitu.
orang percaya sama jurnalis, orang percaya sama media ee ee dan ee walaupun enggak enggak enggak enggak 100% ee ee bebas nilai ya, tapi inilah saatnya media bisa memanfaatkan si trust ekonomi ini. I ee gimana caranya mengembangkan diri untuk kembali menarik perhatian masyarakat. Hm. Ya. Eh, there's an opportunity lah.
Heeh. Di depan kita nih, e baik media terutama, tapi even you know, influencers. Maksudnya influencers pun gua ngomong yang kecil-kecil ya, content maker yang sekarang of course lu ada opportunity. Kenapa? Kalau lu stay authentic, beneran melaporkan unbiased lah beneran opini lo gitu ya, yang benar gitu.
Ee eh ada kesempatan ini karena orang-orang sudah mulai mencari yang begitu. Exactly. eh akan ada shift eh ya tadi kita ngobrol pas kita kerja sama klien juga inense kita mesti mengingatkan ini, right? Iya. Eh gua tahu ini yang bisa dapat coverage but that's not you.
Iya ya kan lu lu tampilin the real you. Nah itu yang akan lebih valuable dibanding lu ngomongin misalnya hal-hal ya agak relevan tapi mungkin it's not really you gitu. Jadinya supaya lu bisa juga ya makin ditajamin lagiah even in our day to discussion pastinya kita ke depannya juga memperhatikan itulah setuju ya gua ada setuju enggak setuju nih soal statementnya Adwi stay asik setuju enggak setuju stayu ya Adwi bilang soal media bebas nilai segala macam bukan itu yang worthed ya karena kita tahu gu gua besar itu apa yang diomongin soal media tadi itu awi kuliah semester 1 lah. Padahal ada paradigma lain kan dimension lain. Iya dong.
Enggak dong. Kita kan belajarnya gram sekian kayak hegemoni wacana segala macam. Jadi enggak ada tuh Peran Media: Nggak Ada Tuh yang Namanya "Bebas Nilai" yang bebas nilai dari mulai lu menulis aja lu sudah punya sesuatu di belakang lu pengalaman segala macam. Tapi yang lebih penting adalah standar-standar yang di itunya value-value itu tadi. Hm.
Misalnya kita tahu nyebut aja milik Kompas punya value apa misalnya atau liputan 6 perspektifnya terkait isu ini seperti apa, tempo misalnya seperti apa kan ada redaksional kata data atau dan lain-lain. Itu yang menurut gua autenticity itu tadi itu yang harus didorong kalau menurut gua. Iya. I maksudnya dan will come back. Iya.
Kompetisinya Heeh. Kompetisinya nanti di situ. Even media pun sekarang yang kecil-kecil. Kalau lu bisa beneran cover both sides eh you know autentic lah bukan yang kayak ditunggangi kepentingan dan itu at the same time lu tetap butuh itu gitu jadi seidealistik lu gimanapun lu tetap harus take into consideration aspek itu ya gua ngerti in the perfect word of course gua hanya I serve my readers gitu kan tapi ini mungkin the restructuring iya kan maksudnya mungkin game-nya berubah ya ini apa yang dilakukan tempo dengan kan lucu tuh semua harga naik subscribe apa subscription tempo turun pernah dapat enggak lu iklannya? Iya iya iya maksudnya mereka benar-benar push untuk eh gimana gua bikin konten sebagus mungkin sampai orang willing to pay mau 10.000 perak, 15.000 perak, whatever lah.
Iya. Jadinya mungkin moving forward ya itu yang nanti menentukan ya eh siapa yang come out on top itu siapa yang lebih cepat adapt dengan building trust apa authenticity yang hal-hal inilah i dan sekarang ngomongin subscriber juga kan influencers anybody can have a subscriber di Instagram gitu as low as 10.000 And all of this influencer also making money out of that subscribe subscription model. Iya. Jadi as a users dengan kondisi sekarang the in this economy, how do you spread out your money through this different different kind of subscription? He itu juga sesuatu yang menurut gua is influencers A yang memang passion gua apakah gua subscribe ke tempo gitu misalnya.
He. Jadi, He. I think the dynamic of this subscription model is very itu ya, very tough lah. Karena yang orang Indonesia juga tidak terbiasa. Bukan orang Indonesia, sorry, let me refrase.
The younger generation juga tidak terbiasa dengan ya lu beli koran, lu keluar uang buat baca gitu. Everything was just came very easy for them. Yeah. The you know, it's supposed to be free lah. Iya.
They don't enggak pernah kayak konsep dulu lu beli koran setiap pagi bapak gua bayar beli gitu. ber pul buat dikirimin gituationer generation tidak tksp dengan kayak begitu. Oke, untungnya ini Sofyan mungkin bisa ngomong lebih banyak ada satu subscription model gokil banget apa tuh? H Sofyan mungkin bisa tambah-tambahin only fans eh ma ti ada kan itu nanti tu Adwi lah dia kaget padahal karena benar makanya Sofyan kaget. Eh, iya benar.
Itu kayaknya mereka sekarang anak-anak muda nih mulai ngerti bahwa kalau lu mau dapat sesuatu yang bagus, lu mesti subscribe. Subscribe. No, but it's interesting, right? Maksudnya just karena lu ngomong gitu kayak anak-anak kecil ini enggak ngerti bahwa zaman dulu tuh kita lu TV kabel subscribe ini, subscribe itu, subscribe, sekarang gratis w cuy. Ya enggaklah lu ada tagihan setiap setiap dulu tuh zaman dulu tuh kalau lu tagihan koran jadi lu t akhir bulan buat ya buat information iya jadi zaman dulu tuh kan kita terekspose dengan hal-hal kayak gitu kan anak-anak sekarang kan everything is just available out there cuy ini nih gua gak tahu ya lu lu mengalami enggak zaman dulu gua mesti patungan sama kakak abang adik gua cuy beli koran bola iya beli majalah kita kan dari kecil diajarkan it oh lu mau konten bayar cuy ya kan lu mau beli apalah tapak sakti Tiger Wong lu nabung, Bro.
Iya. I kan, tapi anak-anak yang generasi baru ini yang internet yang native, digital native ya, kagak pernah itu. Nah, ini mungkin mereka mulai belajar, "Oh, ada yang gratis tapi kalau lu mau dapat quality maybe worth subscribing." Iya, karena beda konsep. Zaman dulu kan lu harus beli kaset, lu harus beli enggak ada lu stream bisa begitu kayak sekarang. Everything is you need to purchase it gitu.
Tapi, tapi tunggu dulu bentar. Doesn't that make us lebih critical? I enggak sih? Lu enggak punya semua duit di dunia, cuy. Lu punya uang beli CD itu satu.
I yang mana lu kritisi enggak sih? Mikir asik nih yang A, yang B atau yang C lu masih mikir. Iya. Iya. Dah all of this look like privilegya-nya orang-orang sekarang tuh ya mungkin enggak realize karena never been into that situation.
Ya enggak enggak enggak. Gua agak enggak setuju nih. Apa namanya? kayaknya kita meremehkan generasi. No, no, no, no.
I'm just saying. Iya, maksudnya kayak gini, different consumption model lah. Tahu. Nah, different situation lah. Mereka gua percaya bahwa jadi gini, gua nontonlah YouTube-YouTube yang gratisan segala macam itu.
He. Tiba-tiba mereka ada members only segala macam. Ya, kalau ada gua terekspos ya dengan banyak, tapi gua lihat pada ada pada ujungnya nanti ada di satu titik itu akan jadi overwhelm gitu, fatik sama dan bosan juga dengan konten-konten yang ada dan mereka akan cari konten yang lebih substansi, yang lebih punya lebih dalam lah kira-kira dan itu mereka you have to pay for it. Tapi ini salah satu alasan gua subscribe to YouTube Premium sih karena gua enggak suka diintrud sama iklan-iklan yang menurut gua annoying aja. Ya, gua premium sih itu.
Gua sejak ada channel ini proudly menjadi premium member karena karena harus deh kayaknya setelah lu udah premium, you could never go back to regular YouTube, man. Karena ibar intrusif inusif banget. Satu yang gua paling enggak suka lu enggak bisa diminimize. I itu premium bisa. Exactly.
Ah, itu doang sih yang itu deal breaker kayak foregroundnya nyala terus gitu kan. Exactly. Kayak gua pengin masa gua pengin kan nonton podcast misalnya gua kan oh ada message masuk kan gua pengin balas message doang gua pengin dengerin jalan terus dong kagak bisa itu dealaker jadi sekarang gua terpaksa harus premium iya iya harus premium anyway y eh Yon YONO: Gerakan Anti-Konsumsi "You Only Need One" Yono itu cuy you only need one ini ada gerakan di luar sana Sofyan heeh di mana-mana orang tuh mulai kayak mengapresiasi Frugel enggak overcumption. Jadinya konsepnya kan lu tahu yang eh apa? Yolo ya.
Y you only live once, right? Nah, ini tuh yono. He. Eh, kayak Yoko sama ono. Yoko ono yono.
You only need one. Jadinya. Ya, sebelum lu panjang lebar nanti like quick aja sih. Ini sebenarnya this this movement tuh sebenarnya lebih ke thinking about sustainability atau hanya cuma buat lu justify aja sih. Gua beli barang mahal.
You can answer that later. Oh, jadi dia lu beli satu tapi yang paling mahal like the most what bisa aja capsule drop semuanya kayak all branded tapi lu pakai itu lu putar-putar. Iya ada sih sekarang tuh banyak konten gua enggak tahu kalau cowok-cowok maksudnya tuh ada apa nih konten cowok-cowok enggak? Gua sering lihatnya cowok mainly the only fans. [Tertawa] Huh.
Asik. E kayak mereka ngajarin lu lu Oh ini sih sebenarnya awalnya itu dari Steve Harvey yang dia ngajarin orang lu tuh sebagai laki-laki orang bisnis gitu ya lu mestinya punya suit warna ini sama ini minimum baru dikawin-kawinkan. Kan itu kan banyak cowok-cowok yang mempraktikkan. I don't really know. Tapi gara-gara itu gua Oh, oke.
Maksudnya lu ya jangan mesti punya 18 suit gitu kan ya. Lu dengan empat tuh lu bisa bikin berapa belas setelan. You don't need to buy, keep on buying lah kayak gitu-gitu ya. Walaupun itu kan enggak juga ya. Ini kan ngomongnya lebih ekstrem lagi.
You only need one right ya. Jadi sebenarnya ini is a scam for you to justify to buy a more expensive things atau emang ya it's a sustainability mindset. He. Oke. Karena gua yang paling intune dengan anak-anak muda.
Asik. Enggak. Tapi kalau gua ngobrol sama anak-anak di bawah lah misalnya I think mereka semakin ke sini tuh makin sadar dengan lingkung you know. Even as simple as this lah. Heeh.
Yo. Kita enggak ada yang punya Tumblr man. you know, like 10 years ago. Maksudnya kalau punya pun enggak dipakai tiap hari dibawa gitu. Tapi recently ini kan justru karena kayak tumbl-tumbler keren gitu kan.
Nah, makanya justifying buying a 500,000 tumbler or 30.000. Nah, itu tuh. He. Tapi dari situ gua lihat it works karena kan lu y lu bayangin enggak sih kalau kita sekantor nih ya what 40 50 people masih beli apa Aqua botol gitu bro lu kali 356 kan banyak ya you know what I'm saying jadinya okelah motivation-nya gua enggak tahu apakah justifikasi tapi at the end of the day menurut gua eh bisa mencapai sustainability goal adalah impact-nya instead of lu beli baju eh Unic atau H&M no disrespect you as an example 15 ya lu cuman beli satu misalnya apalah brand yang lebih mahal tapi tahan lama dua ngerti enggak lu tapi kan lu tuh enggak jadi sampah cuy yang 13 potong ekstra yang biasanya lu beli cek rusak buang rusak buang sama apa sih yang kita pernah ngobrolin tuh the Netflix series oh the nanti kita masukin somewhere here lah Tapi that eh documentary crazy man. Gimana nunjukin overconsumption tuh limbahnya tuh ujung-ujungnya enggak ke mana-mana cuy.
You can do anything about it. You know yang apa namanya? Floating di laut, ada yang nyampai ke Indonesia dibuang dari mana enggak tahu. Itu tuh eh beneran problem lah. Jadinya I don't know the motivation but it seems like it could be useful moving forward.
Tapi kalau menurut gua Yono ini eh maksudnya kan tadi pembahasannya tuh lebih banyak kayak consumerism gitu ya. He. Gua sih ngelihat Yono tuh sebagai konsep yang universal bukan bapak-bapak ya. Oh yang enggak dilakukan sama Sofyan. Tapi kita enggak usah ngobrolin tentang apa.
Lanjut. You only need one. Eh gua tahu nih. Tapi gua itu tuh rahasia. Lu cuman butuh satu agensi cuy.
Lu cuman butuh praksis. ada media digital marketing cuy ada produser Kris kalau butuh-butuh mau bikin podcast sendiri ya kan film independentar gua bangga sama lu makanya harus penting inis bosku eh e salahsalaha sumpah lagi kola gua minum dulu Tapi how to gitu. Gimana caranya supaya produk-produk our cli itu tidak dijadikan yono. Hm. Tunggu dulu.
Justru pas lo mengadopsi gaya hidup Yono, produk klien kita yang dibeli, right? Lagi-lagi itu kan the what's the difference maker. Kenapa lu better yang lain tuh kita benar-benar mesti pelajari, study the competition, provide good advice. Yo, yang menarik dari lu tuh ini underutilize-nya harus eh under communicatednya harus dikomunikasikan. Betul.
And then market research juga kan kita sering lakukan itu of course very important to test untuk mengerti gauge eh orang-orang di luar sana tuh bagaimana persepsinya terhadap banking otomotif eh tag in general smartphone whatever. Dengan itu kan kita bisa komunikasikannya lebih akurat. Gimana Sofan? Yono. Yono.
Yono. Iya. Di antara semua species yang hidup di bumi ini memang manusia tuh paling destruktif lah sama bumi ini lah. Maksudnya terlalu berlebihan aja ya segala sesuatunya energi lah apalah segala macam. Jadi kayak ya kita tahulah kita kan enggak bodoh ya.
Misalnya dari 1000 tahun lalu, 500 tahun lalu, 100 tahun lalu sampai sekarang yang terakhir-terakhirnya ngeri yang sekarang-sekarang apalagi the last 100 200 years habis industrialisasi lu declineya sama deforestasi, declinnya ikan, diklan macam-macam binatang whatever lah eh biodis itu parah sih. Parah itu kalau dari sisi lingkungan ya. Heeh. Belum kita dari sisi ekonomi misalnya tamaknya, rakusnya misalnya apa lu bayangin proporsi kekayaan dunia itu hanya dikuasai segelintir orang. He.
Entah orang, entah kelompok, entah negara, whatever. Hm. Tamak. Iya. Eh, tapi ini cuman quick observation.
Makanya gua eh kadang-kadang tuh suka impressed dengan orang-orang Jepang, terutama kayak di Tokyo. Heeh. Yo, mereka cuman punya lemari ya udah seginilah sepintu ini gitu. Lu kalau mau beli satu lu mesti jual satu gitu jadinya bukan yang ah beli beli beli beli beli banyak. Nah, ini Yono nih menurut gua kayak menurut gua Tokyo banget orang-orang kota besar di Jepang gitu banget lu dengan lu cuman punya mantel tuh musim dingin cuma bisa maksimal dua lah misalnya.
Exactly. Kalau satu lu pakai lug dicuci satu udah that's it. Jadi lu enggak bisa beli besok pakai warna ini, besok pakai ini. Jadinya mereka kan ee of course akan consume less gitu karena mereka eh punya space untuk ininya juga less. Iya.
Jadi sebagai you know all of our how do we as a consultant tuh bisa membantu all of our clients to frame their value right in the end of the day. K. It's no longer about choices. He. Kalau dengan kondisi yono.
Heeh. Kayak gimana caranya lu bisa make sure eh we educate customers about your fail about your value. Hm. Ya, setuju. Oke.
Eh, yang berikutnya Satu Lagi Tumbang: Ngebahas Tutupnya SEAToday ini another bad news which is kayak mungkin kesannya kayak redundanten, tapi karena ini dunia kita, of course we need to talk about it, right? Eh, terakhir itu just a couple of days ago. Tanggal berapa ya? 1 Juli or something. mistaken.
See today itu siaran terakhir tanggal 1 apa akhir Juli. Iya, either Juli 1-nya berhenti atau 31 apa 30 Juninya berhenti gitulah jadinya. Ee kayak another one bites the dust. Tapi gini 30 Juni. 30 Juni.
30 Juni ya. Just to be clear. Nah, pertanyaannya ini nih kan buat yang mungkin kurang tahu kan konsep C today ini kan sebenarnya dilakukan ini untuk kayak eh in a way to talk good stuff to report good stuff about Indonesia lah. Makanya beritanya selalu positif dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris jadinya buat eksternal orang-orang di luar sana tuh lu mau tahu tentang Indonesia.
Nah, ini salah satu channel yang mereka bisa konsumsi untuk understand better lah tentang eh Indonesia. Pertanyaannya, apakah itu memang sesuatu yang kita perlukan dari awalnya ya? Do do we do do Indonesia need something like that? Kayak apa? Kalau Jepang NHK ya kan yang TV Jepang itu kantor berita itu.
Hah? NHK itu. Iya. Tapi maksudnya lu kayak Japanese ini lu Heeh. lu mau ngerti tentang Jepang, lu nonton NHK itu.
Eh, right. Maksudnya something like that itu sebenarnya diperlukan apa enggak buat kita Indonesia. Dua, what went wrong, man? Gua gua kayak theep menurut gua tuh make sense gitu. Tapi apa yang terjadi sampai mereka gulung tikar juga?
Miss um ya konten yang formatnya TV H ee eh itu mulai ditinggalkan sama generasi sekarang kan balik lagi consumer behavior. Ee jadi gua rasa itu salah satunya ee cuman bukan satu-satunya tentunya kan. Ialah ya. Iya. Ee ee gua enggak tahulah kita enggak tahu.
Maksudnya kita kenal banyak orang-orang DC Today tapi belum. Gua sih personally belum sempat reach out. Mungkin gua update di eh ee apa episode berikutnya. E jadi to be continued kalau ya karena we record this like a couple of days setelah announcement jadi kita belum sempat touch base juga sama teman-teman di sit another news about media kan juga about the same time take in Asia juga announce the same situation take in Asia Indonesia. Heeh ya.
Eh tapi menurut lo do we need something like see today? Gua rasa sih butuh butuh banget karena basically ya media yang berbahasa Inggris di Indonesia itu tuh tinggal Jakarta Post Jakarta Post pun cetak dan online cetaknya udah aduh iya cetaknya tu kayak tinggal berapa lembar heh online gitu jadi okelah eh eh generated translation AI gampang gitu sekarang cuman cara penyampaian penulisan ee Jakarta Post itu kan busset luar biasa canggih lu kalau mau belajar bahasa Inggris lu belajar dari baca Jakarta Pus lah h eh as part of your learning process ya kan nah si today ini juga ya sebagai media mereka punya standar yang bagus menurut gua cuman ya itu ee eh mungkin salah satunya eh consumer behavior pasti terus kalau enggak salah dia dapat dukungan dari Telkom ya punya Telkom punya Telkom kan eeeh nah ya kalau gua jadi pertanyaan berikutnya adalah arah nya Telkom nih ke mana ee ee ee ee kenapa dia enggak pertahankan gitu. Grupnya kan gede ya. Dan gua mungkin of money gua rasa juga secara clarity itu sebenarnya audiens-nya siapa sih? Who are the people that see today trying to talk to?
Ya mungkin ya gua gak tahu ya. Apakah mereka trying to produce supaya cable misalnya cable Singapore tuh pick up oh lu kan lu banyak bisnis di Singapura masuk Indonesia lu pengin belajar subscribe ke maksudnya you know you know I'm saying right? Jadi ditayangin di Singapura juga apa di Malaysia. Pokoknya kalau lu pengen tertarik anything Indonesia ya ada nih channel namanya si Today ini. gua enggak tahu sih ee tapi ya unfortunately gua enggak pernah keluar negeri Southeast Asia untuk ngelihat ada enggak sih sebenarnya channel situ thing yang kadang-kadang gua mikir nih apakah karena emang the clarity of the audience juga enggak begitu jelas juga gitu kayak who are you trying to reach iya yang yang gua sukanya tuh the positivity sih sebenarnya kayak kan lu tahu kan kadang-kadang media e tiba-tiba kok lu nulis jelek gitu he mong gring misalnya lu kok lu ngelihatnya dari aspek negatifnya kok lu enggak beritakan positif nya gitu.
Create whatever lah gitu, traction, friction, whatever. Tapi kalau C today itu enggak kayak gitu. Nah, itu yang kayak kita jadinya juga kerja tuh kalau datang si senang man karena dia ditugaskan untuk melaporkan yang what's good, man, apa yang bagus dari kegiatan ini gitu. Jadinya kita senang bangetlah. So, in a way we're going to e kean, ya pasti ya.
see today. Eh, I don't know, maybe ada orang lain yang akan build this up. Iya. Terus eh tadi kan lu ngomong eh media apa consumption, media consumption behavior maybe shift. Tapi mungkin juga bikin TV tuh costly, man.
You know what I'm saying? It's just so expensive. Jadinya mungkin udah kayak enggak nutup lagi gitu with the declining viewership. Terus costnya tuh imagine buat bikin acara berita deh. Lu mesti ngelaporin, mesti ada footage dari setiap lapangan mesti ada reporter ngelaporin, mesti ada orang di studio lighting apa dan sebagainya.
Ya, of course super expensive dan unfortunately mereka belum sempat figure out gimana untuk profitable mungkin tapi udah habis ininya lah masanya. H ini I'm very excited about karena I have been a very close [Musik] pengamat enggak pengamat juga sih a very close observant lah of the industry dan eh I have been very obsessed to at least join the party lah ya bisa dibilang ya. So bulan kemarin kita finally sign a content kontrak lah sama one of the biggest automotive brand. Tunggu dulu. It's the biggest y.
Yes, the biggest. Asik. To be clear. To be clear. Not one of the biggest.
The biggest lu mau putter-putter gimana? Tetap the biggest Toyota. Gua tahu Sofyan mau ke mana, tapi gua tahu angkanya. Lu enggak bisa ke mana-mana. Ini tetap the very excited karena kita bisa kerja sama mereka di GIAs 2025.
Heeh. Nice. Di mana tahun lalu gua inget banget gua ke GIAs 2024 just to see things and meet people. And this year we finally get automotive clients ya. Hopefully we be able to join the party even more often ya ke depannya.
Yeah. E congrats to the Toyota team. Eh in addition of course we are always looking for talent right. Kita juga di sini enggak cuman praksis ada Prana Explicar, Illuminar, Whitewood mungkin. In a way eh we always need talent lah.
Right. Jadinya e let's try something new. Kalau lu tertarik nyari kerjaan internship whatever lah in whatever capacity lu menurut lu kayak gua bisa dibantuin mereka untuk melakukan ini. Komen. Ah, ya kan lu komen dulu nanti kita yang reach out.
Put your email address di komen sini, hei, I'm looking for this position atau kayaknya gua punya bisa melakukan ini. Lu masukin di komen nanti kita yang reach out. Let's do that. Website. Now we have a new look.
tadi sudahudah Ian ya coba datang website coba nanti di eh lihat mampir-mampir eh there should be some eh cool features juga di situ bisa dicoba-coba oh iya dan website-website kita itu bukan cuman website corporate company agency kliennya ini itu. Cuman kita juga punya konten artikel segala macam. Yup. Eh eh eh hopefully eh isu-isu yang kita bahas sekarang nih bisa dijadikan artikel lah ya. Ya.
Eh gimana gimana caranya gitu ya. He recap ya. Iya. Oh we do have a website specific buat Proxemix sih. Tapi mungkin bisa diambil juga buat di webnya praksis.
Heeh. E on top of that. Heeh. Oke. Nah, ini nih berikutnya eh agak kontroversial kayaknya.
At least kita berempat di sini tuh. Tunggu dulu Kilas Balik Pahit: Kontroversi Kerusuhan '98 gua enggak tahu deh lu di mana, Wi? 98. Gua '98 Jakarta lah. Gua demo-demo tuh.
Gua enggak ngerti apa-apa. Gua demo-demo lu. Demo wah ikut gua tembak-tembakin itu. Ada gua somewhere di situ tuh. Di situ lagi jajan gitu di pinggir.
Adwi ada fotonya nanti. I this discussion gna take a darker. Iya. But but you know, it's eh menurut gua something interesting eh at least buat gua ya, it's something benar-benar eh traumatizing man. You know, pada saat itu karena gua tinggal di daerah yang eh banyak Chinese population, right?
Eh kayak gitu-gitulah. Jadinya pas kejadian eh 98 ini eh yang disebut apalah sekarang nih labelnya gua enggak tahu deh setuju atau enggak eh pemerkosaan massal or whatever yang sekarang ini lagi di kayak enggak dibantah sih, tapi lagi kayak di-challenge gitu. Heeh. lagi diispute sama Fadly Zone gitu. E ya gua gu gua gak ngerti mungkin kalian punya background why is he even doing this dan menurut lu I don't know is there any ground to this atau apa sih ini konsepnya kenapa why are we even talking about this kenapa jadi karena semua orang ngomong dan kita harus ngomongin hari ini gitu gua penasaran aja any insights to apa sih nih yang terjadi sampai harus ngomongin ini mungkin Sofyan bisa buka nih sebagai orang yang dekat dengan politik enggak enggak bukan hanya itat pada saat kejadian bukan, tunggu dulu, bukan pelaku tapi kerusuhan-kerusuhan inilah enggak ada.
Gua '98 di Jogja to just to be clear ya. Oh, lu udah di Oh, iya. Gua di Jogja. Gua dari 96 97 belajar politik pemerintahan. 98.
Kok lu enggak terjeng pemerintahannya, cuy? Kok lu enggak ada di Jakarta dengan Mas? Enggak sor ya. 98 tuh kita duluan. Oke.
Poster pertama untuk turunkan Soehartolah apa segala macam itu dari Jogja baru ramai di Jakarta setelah itu. Just clear just to be clear. Gua gua enggak tahu percaya apa enggak tapi okelah. pengakuan itu itu diliput tempo cuy nanti gua kasih majalahnya. Oke.
Jadi clear ya maksudnya itu satu ee kita ini sebagai bangsa enggak pernah belajar menerima fakta bahwa kita pernah punya sejarah kelam. He. Dan kemudian belajar memaafkan. Hm. itu enggak pernah terjadi.
Contoh apa yang terjadi dari 45 sampai 49 apa berapa banyak sih orang Indo atau keturunan Belanda yang half breed lah maksudnya yang bapaknya Belanda, ibunya atau kelompok-kelompok itu yang misalnya dirampok di apa yang dengan oleh usahanya organ-organ yang quote in pejuang kemerdekaan. Kita enggak pernah discus itu. Enggak ada, cuy. Enggak pernah. Terus setelah itu berapa banyak kekerasan-kekerasan yang terjadi di masa itu?
Pok. Setelah itu muncul pemberontakan PKI 965 segala macam itu berdarah-darah, cuy. He. Pernah enggak kita mengakui ada itu? Iya, ada pembunuhan jenderal.
Setelah itu berapa ratus ribu yang angka-angkanya variatif ya berbagai riset. Pernah enggak kita mengakui bahwa itu pernah terjadi dan we learn tove it? Iya enggak pernah. Selalu di ditutup di under the blanket blanket bahwa sejarah kita itu indah apa perjuangan gua lebih bingung segini. Oke, gua lebih bingung kenapa dia harus make such comments kayak dismissive remarks about this istilah massa itu yang dipakai kan yang di yang di yang di masal masal itu kan yang yang dipertanyakan kan harus menggunakan data lah segala macam kalau untuk disebut dan lain-lain.
Kenapa dia harus mengomentari atau appear to dismiss that incidence apa period itu? Karena he to me it hits very close to heart. I ya gitu kan. Heeh. Gua lebih ke marah aja sih regardless of the national trauma unresolve whatever history yang kita punya di momen-momen lain ya.
Lebih kayak lu ngapain sih ngomong kayak gini for what? Kalau terjadinya itu dalam keluarga lu, istri lu, anak lu tuh would you say things like this? Iya. H lebih ke itunya sih aspek why. Iya.
Tapi did you hear anything bahwa kayak apa sih? Apakah ini out of nowhere atau misal jeni aja atau gimana sih? Kalau klarifikasi dari versi penulis-penulisnya itu ya ee yang ditugaskan untuk merangkum h sejarah itu ee dia bilang bahwa yang diposting itu maksudnya yang dipublikasikan itu masih versi satunya lah kira-kira gitu. Jadi belum belum the final version gitu. itu argumen buat gua sih apologizing ya itu kayak ya mengklarifikasilah kenapa jadi ramai itu kan dilihat mau tulis ulang sejarah segala macam terus di situ kok enggak ada yang versi pemerintah nih ngomong karena sejarah itu banyak versi h e banyak versi kelompok ya kalau gua ya dalam posisi ini ya suka-sukalah kau tulis sejarah gitu Hm.
Tapi jangan pernah membungkam orang lain untuk menulis sejarahnya. Hm. Bebasin aja wacana apapun secara tulis pengalaman lu ini segala macam apa yang terjadi lu bikin riset sendiri segala macam bebasin aja itu karena enggak enggak pernah tunggal sejarah itu. Terus ditambah kapasitas dia sekarang sebagai seorang menteri kebudayaan gitu ya. Kebudayaan man.
Can you maksud ya ini sesuatu yang apa ya gua jaranglah memiliki such strong opinion about our government karena ya whatever lah. He lebih kayak ini lebih it's very itu sih very ignorance insensitive man. Maksudnya gini yang yang gua bingung kalau dari gua ya, lu okelah misalnya lu keluar kata-kata itu dan itu kan melukai a lot of people, lu kenapa enggak backtrack aja? Ei, you know what? I apologize.
Maksud gua tuh eh kayaknya gua salah focus instead of focusing on this harusnya guacknowledge the bigger problem. Eh, ya minta maaf ngerti enggak lu? Move on lo secara PR. Isn't that the right move? Gitu loh.
Kecuali makanya gua bingung ini apa sih? Emang ada sesuatu ada yang lain sampai dia ngotot. Ngerti gua sih diskak sekali cuy gua ini cuy ini sekarang kemarin bukannya dia baru ada hearing sama anggota sekian di si Mercy. Mercy itu. Did you hear her Mercy Baren PDI itu ini even dia emotional gitu sampai heboh banget gitu loh Bro.
Gua, gue ya, teman-teman gua itu hilang cuy enggak enggak balik-balik ke Indonesia itu gara-gara event itu specifically. Itu kan gue pas SMA ya kalian kuliah gua SMA yo itu gua pas kejadian itu ada beberapa teman gua disappeared man gua enggak pernah ketemu lagi sampai hari ini. Gua enggak tahu mereka di mana itu gara-gara cabut langsung. Se se mengengerikan itu jadinya untuk mempermasalahkan kata mals very enggak penting aja. L terus terus masal maksudnya lu kayak masa kita mesti ngomongin kategori masal.
Oke lu nembak eh ada penembakan massal ya. Elah tiga orang yang kena aja lu disudahabbut massal cuy. Iya engis enggak sih kan mass shooter kan dikategorikannya kan. I He di konser Pak P Pak P M yang kena tiga lah ini. What else do you need lah gitu.
Iya agree well anyway ya ya harus I think ya moga-moga eh you know politicians and everything juga sedikit lebih sensitif lah terhadap hal-hal kayak gini enggak sih? Setuju. Heeh. dan bisa become a better communicator. Dan yang terakhir manusianya nih kan Fadli yang teriak-teriak, "Bro zaman dahulu ya kan masa lu lupa kan.
Itu aja sih ya." Oke. Oh, ya. Yang terakhir ini yang man it's so sad condolences, right? Buat seluruh korban pesawat ini. Tapi what's crazy si Air Mimpi Buruk PR Boeing: Mesti Gimana Kalau Krisis Terus-terusan?
India crash ya yang kemarin ini. Tapi gila yang satu selamat ini gua gua enggak ngerti sih. Ada video tapi nanti mungkin kita bisa sambil kita ngobrol mungkin nanti bisa diputar somewhere. He. Ee orang ini bisa selamat gitu.
Tapi lagi-lagi boing man. Gua gua udah enggak ngerti lagi sih. Kayak kayak lu jadi PR-nya Boeing nih. Lu main magic apa lagi gitu. What else are you supposed to do?
Ya kan? Gimana menurut lu? Gua lebih kayak gua lebih kayak out of curiosity sih to each of you guys. Kalau terbang long ha, short hole terserah lah. Terus pesawat lu tadinya lu pas lu book tuh ya udah normal Airbus e 3 330 380 atau Boeing yang 77 pokoknya bukan yang baru-baru notorious inilah dreamliner dan lain-lain.
Would you change your flight to that extreme? Gua udah kira-kira sih ketika gua beli tiket Heeh. Ketika gua beli tiket, gua make sure itu bukan bukan gua gak mau nyebut nama ya, tapi lu udah sebut. Tapi tahu dari mana ngecek kelihatan lah kebanyakan. Iya kelihatan tipe aircraft kelihatan Garuda tuh apa?
Ada Boeing ada enggak? Masing-masing pesawat itu beda-beda. Ada ada semuah biasanya. Tapi kalau lu besar ya lu tahulah maksud gue bisa dicek bisa dicek. Tapi at the time of booking.
Yes. Tapi kadang-kadang kan karena operational reason dan lain-lain tu ganti lu ganti-ganti aja. Tapi gini, sebetulnya maksud gua emang banyak faktor lah soal pesawat. Kayak gua gua udah pada tahap di mana gua udah ikhlas lah soal hidup segala macam. Serius nih apa udah udah ikhlas lah.
Maksudnya ada hal-hal yang misalnya kalau lu di pesawat ya lu harus sudah berani pasrahkan aja hidup lu ada kejadian pun yang nasib lu ada di dua orang yang di depan itu nyetir-nyetir terus depan orang. Iya iya maksud gua lu enggak bisa loncat aja jendelaan. Enggak mungkin. Tunggu dulu. Maybe that's what this guy yang survive, cuy.
Dia literally jalan-jalan. Hah? The guy is walking man out of the crash. Dia kalau gua enggak salah dia tuh keluar dari eh emergency. Oh really?
Bukan kayak udah kan 11 e itu kan dia buka pintu terus dia jump into the whatever out there. Iya. Karena dalam pikiran gua eh eh ini mungkin enggak benar juga ya, tapi apakah keputusan yang bijak untuk mempertahankan seat belt ya kan maksudnya in emergency situation gitu. Heeh. Maksudnya lu jadi susah bermanuver.
Dia kebetulan di bangku emang dia bilang dia enggak pakai seat belt. Enggak, enggak. Tapi kemungkinan gua cuman ngebayang-bayangin aja sih. Makanya kayaknya lebih cepatlah. Lebih cepat kalau lu enggak pakai seat belt.
Iya. Eh, tergantung konteksnya lu kalau lu kalau tiba-tiba drop dari sekian fit to sekian fit lu ngapa bet lu mati duluan. Lu mati kejeduk atap cuy. Bukan mati mati duluan. Tapi mungkin yang kita enggak terlalu banyak bahas itu kan.
Eh, lu ada yang mau ditambahin lagi tadi masalah pakai sit. Enggak, gua tuh cuman e dia pakai seat belt. Kayaknya ini enggak pakai seat belt nih tip-tipe orang ini. Gua pikir tapi kalau maksudnya gua enggak tahu sih ya kalau kondisinya lu udah kayak begitu mungkin langsung lu lepas ya. Iya.
Maksudnya kondisinya kan lu baru take lu baru take off gitu loh. Iya kan ada kamera yang dari airportnya itu kan. Iya lu baru naik baru the the term lah in aviation kayak se minute take off sama landing itu kan the most Iya. Eh, critical time tuh kan 7 menit pertama, 7 menit terakhir kan. Nah, itu masih 7 menit pertama.
Gua yakin masih pakai seat belt. Wih, iya harus dia dia mau loncat baru dia copot gitu. Jadi jangan lu berimajinasi yang aneh-aneh juga deh. Anyway, anyway. Ee oke ee ee ee gua pengin ngelihatnya tuh dari sudut pandang yang kita-kita inilah ya, praktisi komunikasi gitu.
Eh, dulu orang-orang tuh sangat menyanjung ee siapa? Boeing. Bukan, bukan Boeing. Si Airasia waktu ada insiden itu dia langsung datang langsung memberikan simpati segala macam. Nah, ee ee ee ee si Air India ya, Air India ini juga melakukan hal yang sama.
Heeh. Cuman ini komentar-komentar di luar sana ya. Dan gua juga nonton video itu ee sepintas aja. Nah, ee pernyataannya dia on point semua. Benar, bagus gitu.
Tapi komentarnya adalah ini template template aja. Heeh. Ku, kurang simpatis. Apa yang dia laku, dia sampaikan itu. Heeh.
Nah, balik lagi ke ke authenticity itu ya. He. Tapi ya susah juga ya maksudnya enggak semua kita tahu bahwa enggak semua CEO it's a good public speaker juga gitu certain degree. Eh eh e enggak semua eh CEO juga media train atau mungkin media train tapi enggak patuhlah pada dan enggak semua CEO mengacknowledge bahwa penting untuk ngelakuin media training. Heeh.
Iya. Terus ini kan of course crisis communication, crisis management gitu kan I guess. Eh, one take away itu ya kayak ini yang lagi-lagi gua balik yang kita enggak ngomongin tadi itu ada indications, right? Ingat tak tahu enggak loh yang orang punya video semuanya rusak on the previous flight itu kan indikasi there could be something wrong man kalau everything doesn't work you know AC-nya katanya panas apa itu kan berarti eh apa namanya ada symptoms lah terus maintenance maintenance-nya jadi kayak obviously enggak dilakukan exactly maksud gua kita juga mungkin eh dalam konteks eh pekerjaan sehari-hari juga pastinya kita eh when we see something yang kayaknya nya questionable atau eh out of the normal SOP ya. Ya, kita beneran harus tegas ngobrol sama klien kan.
Ei, ei, ei, ei, tunggu dulu. Memang ada kemungkinan this will be fine, tapi ada juga ini gitu. Dan I suppose eh one of the takeaways from this eh events ini yang unfortunate banget ya. Even dalam bentuk PR kegiatan kita sehari-hari itu kita juga mesti ingatlah kalau e measure everything. Kalau ada sesuatu yang di luar SOP lu jangan remehkan gitu.
Karena ya inilah eh apa namanya ada probability ini bisa terjadi and you don't want to be iya in that position apalagi lu jadi consultantnya gitu ya. Itu lu reputation lu sebagai agency juga of course i eh bisa jatuh. How this people, Tempat Paling Aman Pas Perang Dunia 3 (Ternyata Indonesia!) media-media ini mencari angle pada saat terjadi perang eh Israel dan Iran. He itu adalah ngomongin potensi World War I dan masuk ke the safest place to be if World War I were to happen. Masuk kita, Guys.
Kita paling aman. I kita masuk kita k agak jauh dari semua konflik-konflik :07 itu. Antartika. Heeh. New Zealand paling aman.
New Zealand, Switzerland. :13 Iya. Australia mungkin Australia kayaknya enggak deh. Lupa karena dia biasanya terlibat kan. :19 Oh itu Australia pasti terlibat dan pasti lewat ini kita kan.
Tapi yang paling aman kalau perang mereka ngirim juga jadi ada :24 kemungkinan diserang juga. Masuk kita ke negara yang paling aman. Aman sih. Amannya konteksnya enggak cuma aman :29 kayaknya. Konteksnya enggak cuma aman from the actual war.
Tapi kayaknya survivability. He dia kayak ada beberapa :36 ketahanan pangan apa ganaah tahanan energo enggak tahu tapi ada beberapa aspek yang :42 membuat itu menjadi inilah negara-negara yang lu di sinilah kalau lagi perang gitu bukan masalah tembak-tembakan doang :49 gua setuju gua setuju akhirnya akhirnya ada gunanya lah kita tinggal nih jauh :54 dari mana-mana l sebel kan selama ini mau ke sini anjing jauh juga ya kalau lu bayangin anjing kalau orang Jepang nih :00 ke Amerika dekat juga ya mungkin bisa sering oh kalau orang ini kayak ke apa namanya ke China gil tinggal nyebrang :07 doang ya orang Thailand whatever lah kok kita kayaknya merasanya paling jauh terus gitu kan mesti terbang utara baru :13 lu ke kiri ke kanan whatever lah ini. Tapi sekarang ada gunanya dalam konteks ini kita mungkin :20 iya jauh dari the major wars or whatever lah dari banyak konflik kepentingan lah negara apa. :25 Exactly dan kita juga probably bisa berdiri sendiri untuk you know akan susah tapi at least lu masih bisa :32 makan bro. Beras lu banyak banget, Guys.
Lu ngelempar apa aja lah di depan sana masih tumbuh, Brother. You know di depan :38 ini kita kalau perlu bisa bercocok tanam di taman depan sini. Ingin sawah lah. :43 Sawah-sawahan. Itulah kenapa kita cinta tanah air ya.
Asik. Anyway, eh I think that's it :51 probably. ya. Eh, eh thank you for staying to all the way to the end of the Penutup & Kata Akhir :57 episode. Eh, next time kita coba ngobrol-ngobrol lagi.
Eh, subscribe, :03 like, comment. Asik, mungkin say sekali kita ngobrolin itu. Anyway, just to make :09 sure kalian kenal sama kita, udah ingat gua Mercy, sebelah gua ada Adwi, sebelah :14 situ ada Sofan, sana ada Stef dan ada juga di sini enggak kelihatan Chris the :20 producer. And hai Kris. Asik.
And this has been another episode of Proximix. Thank you. :26 Thank you. Thank you. Thank you.
[Musik] Indonesian (auto-generated)