Apakah industri media Indonesia sekarat karena disrupsi — atau karena kesombongannya sendiri? Di Proxemics 008, jurnalis senior Dr. Algooth Putranto, yang kariernya terbentang dari era reformasi 1998 hingga meliput di zona perang Ukraina, berargumen bahwa lukanya sebagian besar bikinan sendiri: para mogul media yang telat beradaptasi ke digital.
Dari era meliput lewat wartel hingga jurnalisme garis depan — serta disertasi S3 soal ruang publik dan ancaman drone di masa depan — Algooth memutar ulang karier yang dibangun di atas idealisme. Ia membedah kenapa media warisan dari Detik, Tempo, hingga Kompas tertatih, dan menyebut kunci bertahannya: integritas, kebangkitan model bisnis berbasis langganan, dan jurnalis yang harus tetap ‘keren’ agar relevan.
Obrolan memanas soal PR versus jurnalis: rival atau rekan? Ia memaparkan tiga karakter yang benar-benar dicari jurnalis dari seorang praktisi PR, plus sejumlah kisah horor soal pitch yang tidak profesional. Ia juga menimbang apakah perubahan algoritma Google membuat SEO tak lagi relevan.
Soal AI, kawan atau lawan? Algooth menganalogikannya dengan komputer dan internet di zaman dulu — mengganggu, tapi bukan kiamat. Ia juga menyoroti ‘fenomena Gen Alpha’: generasi hiper-digital yang justru balik ke media fisik, dan kenapa konsumsi media bergeser dari teks ke video.
Ia menutup dengan bukunya ‘Senja di Ukraina’, pelajaran tentang keberanian dan resiliensi, tiga tips untuk jurnalis pemula, serta jurang antara mengajar di kampus dan praktik di lapangan.
Kalau Anda bergerak di PR, jurnalisme, atau strategi media, ini laporan lapangan yang jujur soal ke mana arah media Indonesia. Layak ditonton.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
Welcome & Perkenalan Dr. Algooth Putranto [Musik] Oke, welcome to another edition episode of Proxemic di mana kita biasanya talk about communication, eh PR, public relations, advertising, media, dan every now and then kita kedatangan tamu yang ee oke-oke ya kan, yang seru-seru, yang keren-keren ya kan. Ken keren. Nah, kali ini kita kedatangan sebuah doktor ya kan, gelar doktor ya. Luar biasa seorang doktor ya.
Luar biasa. Anyway, he's always been a good friend of ours. Kita di praksis eh dan di sebelumnya juga. Eh, please welcome to the program Algooth Putranto. Luar biasa.
Asik. Algooth, welcome to the program. Thank you buat Makasih waktunya joining us hari ini sama gua sama Stef. Eh, selalu seru ngobrol sama lu. So, let's get into it, ya kan?
Eh, yang pertama nih buat orang-orang yang mungkin belum terlalu familiar ya dengan Algooth. Kalau lu jarang baca koran gitu mungkin lu enggak familiar. Tapi gua ceritain sedikit lu awalnya kayak gimana, udah berapa lama jadi jurnalis? Gitu kan. Terus apa aja yang lu lakukan sampai sekarang nih?
Lagi sibuk ngapain aja? H saya jadi jurnalis sejak dua jurnalis Perjalanan Awal Karier Jurnalis Sejak 1998 resmi ya. Jurnalis resmi itu sejak 2000 sebelumnya enggak resmi ilegal gitu ya. Lu ilegal karena gitu karena 98 sebetulnya sudah mulai mulai nulis-nulis. He.
Terus ee 99 itu detik itu bikin program yang namanya detik aku lupa namanya detik kampus apa-apa dan mereka menjalin kerja sama dengan banyak kampus yang jadi wartawan wartawan kampus. Oke. Nah, laporannya waktu itu pakai ke wartel waktu itu sed nahel. Nah, laporan belum diketik tuh di sana. Nah, itu enggak enggak ngetik.
Kita nelpon kita nelepon enggak yang di sananya. Nah, sana ngetik ya kan lu laporin mereka ketik naik gitu kan. Heeh. itu 99 2000 lah. Terus 2022 dapat kesempatan ke Australia.
Hm. Terus terpaksa balik karena ada bom Bali. He. Dan terpaksa harus lulus. Lulus 2003 2004 saya jadi wartawan di bisnis Indonesia.
Oran yang bikin pening karena pembacanya pembaca bisnis. Gua enggak ngerti sama sekali, Men. Pada saat itu. Pada saat itu. Terus dikasih liputan yang aneh-aneh yang gua enggak paham.
dan belajar berproses berproses ketemu Mercy tahun 2000 10 ya 2012 2012 ketika jadi wartawan sudah mulai ya sering apa dapat undangan keluar terus dapat grand liputan ee paling seru sih grand dari Jerman untuk liputan di ASEAN itu seru karena kita belajar banyak hal soal ASEAN sor 2010 itu dapat beasiswa beasiswa S2 di Paramadina waktu itu rektornya masih Pak Anis Anis Mas Bedan. Dapatlah kita generasi pertama ee program ilmu komunikasi master ya. D lulus aku ke dapat kesempatan ke Rusia waktu itu. Kesempatan ke Rusia nulis segala macam. Ee lalu memutuskan untuk selesai dari bisnis Indonesia karena ya keperluan yang lain, riset segala macam.
Tapi Rusia tuh kita mesti shoutout ke Om Jauhari itu ya. Oh iya waktu itu. Iya ya I ya. Aku kenal sama Pak Jauhari Orat Mangun ketika dia waktu itu masih jadi Dirjen apa? Dubes ya?
Dubes ASEAN kalau enggak salah. Hm. Berantem itu untuk pertama kalinya. Karena gini ee diplomat sama wartawan tuh kalau enggak akrab informasi yang bagus enggak akan keluar. Oke.
Nah, Pak Johari diplomat yang luar biasa. Heeh. terkenal ya terkenal luar biasa dan kita punya banyak experience dan untungnya 2012 ketemu dia waktu dia jadi dubes di Rusia ya banyak cerita di sana pulang dari Rusia dan ternyata aku baru sadar kami ini rombongan wartawan yang dimanfaatkan oleh Rusia gitu ya sebelum mereka ee invasi ke Krimea. H jadi 2013 tuh Crimea eh 2000 mereka invasi ke Krimea. 2013 dengan luar biasanya mereka mengeluarkan kartun Marsa and the Bears.
Jadi ketika Krimea diserang, Indonesia melihat Rusia negara yang bukan ancaman. Hm. Balik ke Bloomberg bentar terus mulai masuk ke riset-riset lagi. 2017 masuk ke kampus ke S3. Hm.
S3 riset segala macam. Akhirnya riset Disertasi S3: Konflik Ruang Publik & Ancaman Drone di Masa Depan soal yang enggak bermutu, soal balon udara, konflik masyarakat. deh. Jadi kalau teman-teman di aliran kiri kan suka yang namanya Frankfurt School. Oke.
Kan ada Hheimer, ada Abermas. Heeh. Nah, si Axel Honet ini yang saya tekuni ini, itu generasi berikutnya, generasi paling akhir aku ambil itu. Kita berusaha melihat konflik yang terjadi. Jadi, antara ruang publik dan ini agak susah gua nyap nyiapin karena standar di Indonesia tuh bahasa tuh agak campur aduk ya.
Enggak apa-apa campur-campur dong. Jadi konsepnya konsep rekognisi. Rekognisi itu di Indonesia juga kadang-kadang ada kata-kata pengakuan padahal sebenarnya enggak imbang. Itu kalau pengakuan artinya ada ketidakseimbangan. Tapi kalau rekog lu harus diakui karena nah situ akhirnya kata rekognisi itu harusnya memang pakai tetap menggunakan rekognisi.
H aku melihat public spare versus public public public space. Public spare itu kan lebih kayak kita nih ngobrol ya kan. Iya. Kalau space tuh lokasi gitu. Iya, itu yang sering kita enggak sadar.
Nah, aku lihat disertasiku di situ sih ee pertarungan di situ. Dan itu ketika di diriset pertama kali ee promotor dan lain-lain mereka malah jadi mikir, "Oh, iya ya ini ke depan bakal sering nih seperti kejadian seperti ini." Kenapa? Kalau yang aku teliti adalah badan udara. Next, kita sekarang sudah masuk di zaman drone loh. Hmm.
Masih ada enggak publik SP? Apa? Spare yang privat. Iya. Dengan adanya drone gitu ya.
Drone. Kalau kita ngomong drone, lu pernah mikir kan waktu dulu kita pernah ada ide pakai drone untuk ngantar barang ke wilayah-wilayah terpencil. Sekarang sudah ada harganya. Harganya relatif murah. Bentar lagi ada taki terbang.
Ya. Nah, itu konfliknya bakal terjadi. Jadi itu yang aku riset dan sekarang ya Pengalaman Meliput dari Zona Perang Ukraina ngajar. Terus kemarin 2023 dapat kesempatan ke Ukraine ya kan pas lagi ramai-ramainya diskusi di bankker karena ada serangan udara dan tahun ini jalan lagi ke sana lagi. Gua pernah ngobrol sama Adwi.
Adwi ngomong soal bencong. Oke. Nah, kita gua Amin trick where is going kok bencong itu kan. Terus gini, waktu itu gue ngomong, "Wii, kira-kira bisa enggak ya kalau misalnya ee bencong ini dipekerjakan ke mana?" Pajak, Dirjen Pajak. Oke.
Enggak. Kenapa spesifik itu ya? Wonderingnya harus enggak? Karena waktu itu ada isu soal target pajak kita tidak terpenuhi. Oke.
Ya kan AWI ini pintar ketika sudah berasap waktu itu kan asik. Waktu masih naik tril. Waktu masih Iya, waktu masih naik TR kagak? Belum kayaknya. Kimko, Kimko.
Kimko, Kimko. Waktu masih naik Kimko masih rebel ya. Asik. Penuh dengan nah perjuangan. Udah dong ngobrol ngobrol ngobrol.
Wih, ini isunya apa yang mesti gua tulis ya? Soal soal apa namanya? Gimana cara naikin pajak? Naikin pajak. Terus dia tahu-tahu dengan idenya yang genial setelah menghembuskan asap-asap hisap.
Nah, dapat dia inspirasi jebret dari langit kayaknya ngomongin bencong. Dia ngomong, "Kalau gua jadi dirjen pajak, gua sewa itu bencong-bencong." Ngapain? Iya dong. Lu sagi aja tuh ke rumah-rumah yang pada nunggak apa jadi teks kolektor ya kan. Jadi kalau lu didatangin sama depollektor kan seram-seram orang jadi sebel.
Coba yang datang bencong, "Om, bayar Om." Dan gilanya gua tulis dan keluar di bisnis Indonesia kan. Gila kan luar biasa. Tapi gua memang riset, oh ternyata di India sudah melakukan itu gua tulis for real. Iya. Jadi orang malu ketika didatangin sama bencong.
Oh malunya banci malunya tensin ya kan. Pas itu keluar kan gua juga waktu itu bikin asal aja tet kayaknya dapat seperempat halaman lah kan. Gila kan lumayan ya. Lumayan dong. Sip.
Abi bilang buset keluar juga nih tulisan. Luar biasa. Jadi sebetulnya kebijakan redaksional tuh enggak ada di tangan kita. Tapi at the same time itu juga nunjukin eh gimana PR sama jurnalis itu, public Hubungan Kolaboratif (dan Kritis) antara PR & Jurnalis relations, praktitioner sama jurnalis itu kolaboratif, cuy. I kan yang satu perlu memberitakan sesuatu, yang satu perlu menyampaikan message dan kalau lu bisa pas cari titik temunya, lu, lu bisa beautiful, man, relationship.
Kayak waktu misalnya lu waktu nanganin NBA Junior. H. Nah, kan gua bisa menulis NBA junior dari sisi bisnisnya ada, dari sisi sportnya bisa. Kenapa? Kalau PR-nya pintar dan cerdas seperti Bapak Mercy dan pintar menyanyi, masuk tuh barang.
Bisa tuh ya. Bisa. Bisa. Jadi memang PR kalau misalnya kita ngomong PR sekarang gimana, Kut? Iya.
Kalau lu enggak baca dan lu enggak lebih pintar dari wartawan, enggak bisa ngasih insight, ya. Cuman sekedar ngundang wartawan, bagi rilis, that's it Yo. Apa masa depan media di Indonesia nih? Maksudnya what's happening right Masa Depan Industri Media Indonesia: Mati atau Bertransformasi? now sama eh ke depannya kayak gimana gitu.
Obviously kita-kita yang kerja di PR especially ya kan berpartner lah dengan media untuk nyampai ke target audience. dalam konteks ini jadinya eh apa nih what's in the future gitu masa depannya gimana sih media? Oke, kita kalau ngomong soal masa depan industri media mungkin kita bisa dimulai dengan yang paling nge-pop ya. Hm. Mungkin ee Kakak Mercy bisa nonton Superman yang terbaru.
Asik. Ini Superman keren. James Gun ya. James Gun. Supermannya celana dalamnya di luar lagi.
Iya. Warna merah. merah. Oke. Enggak zaman kayak apa Henry Kavil yang hitam semua gitu.
Hm. Oke. Di film ini sebetulnya menarik ya. Jadi eh James Gun cukup berani menyajikan fakta atau cerita bahwa jarum hipodermik. Jadi teori kalauah hipodermik bagusnya di situ.
Jadi dia tetap menunjukkan bahwa peran media itu tetap kuat. Hm. ya menafikan teori soal prosemik. Jadi orang memproduksi yang sebetulnya sekarang terjadi h ee bagaimana eh influencer buzer itu seolah-olah terlihat lebih keren daripada media jurnalis. He James Gun cukup celi apa e jeli di situ.
Saya boleh katakan cukup naif ya menyatakan bahwa film itu cukup sebetulnya bisa kita simpulkan itu masa depan media sebetulnya. Kenapa orang masih butuh informasi? Hm. Artinya sebetulnya media masih punya ruang untuk berkembang dan bermain. Bahwa kemudian sekarang sepertinya banyak efisiensi kita nyebutnya itu sebetulnya karena ya media di "Kesombongan" Media Indonesia yang Terlambat Adaptasi Digital Indonesia terlambat.
Saya saya tidak akan mengatakan itu terlambat. media Indonesia kecenderungan adalah terlalu sombong selama ini. Di 2000 425 sebetulnya perihal media harus aware dengan apa tekanan yang namanya dari media online itu sudah mulai di ramai ya. H see waktu itu ada sebuah pertemuan para bos-bos media waktu itu mereka mulai melihat ada kecenderungan SEO tuh semakin penting waktu itu. Tapi pada kenyataannya orang waktu itu para petinggi media melihat ah orang masih lihat koran, orang masih lihat TV.
H orang masih baca masih bacalah baca fisik lah ya. masih dengerin radio itu kan biasalah orang-orang Indonesia kan begitu karena memang budaya kita tuh kan kecenderungannya tidak punya planning 20 30 tahun ke depan. Nah, itu sudah di sudah diutarakan dan sudah banyak kegelisahan. Tapi para mogle media Indonesia itu kecenderungannya ya itu ah selama belum ganggu gua, gua enggak akan investasi nih. Karena waktu itu Mercy ingat enggak waktu mulai ada communicator?
Nah, communicator bisa buka. Nah, apa website ya bisa browsing internet. Bisa browsing internet itu sebenarnya sudah terjadi kegelisahan itu sudah terjadi. Lalu sudah mulai ada muncul perihal bagaimana kalau efisiensi itu dilakukan di ruang non redaksi manajemen media. Hm.
Kenapa enggak kita gabungin aja media apa namanya A B C manajemennya kan bisa sama. Hm. Tapi politik medianya bisa berbeda. Oke. Nah, itu tidak dilakukan.
Nah, jadi terus menerus menerus menerus menerus mulai muncul ya Mercy mulai pulang dari Amerika. Ingat enggak waktu zaman-zaman blog bloggerah ya kan blogger tahu-tahu setiap kali ada preskon yang di depan adalah blogger-blogersogers terus wartawan pada kayak begini begini ya ya saya cuma sama teman-teman ya gimana orang mau nganggap el beritanya sama sama yang lain kan dan apakah sekarang terjadi terjadi hal yang sama ya kalau misalnya lu mau jualin informasi ya cari informasi yang eksklusif yang keren yang orang enggak punya nya. Nah, masalah kemudian kemudian ee menjadi membesar. Kenapa? Sekali lagi bukan hal yang baru.
Nah, itu kan siup sudah enggak ada. H kita ada banjir media, ada banjir media, ada banyak media, banyak banget mulai dari cetak ya. Ya, itu obviously pas reformasi. Iya, pas reformasi '8 ke atas lah. Iya, '8 sampai awal 2005 lah ya.
Itu kan, semua orang bikin media akhirnya bubble kan jadi meledak. Dan ketika semua orang enggak ada yang beli, bubar. Kondisinya sama dengan sekarang. Jadi kalau misalnya sekarang banyak ini nih, banyak PHK. Eh, enggak efisiensi sor efisiensi.
Ya, lu enggak perlu kaget. Ini sudah terjadi sebetulnya ini hal yang sudah kita hadapin ketika waktu PAS 98. Terus orang lupa kita pernah menghadapi yang namanya Bu Bubble.com. Ingat enggak? He.
Yang dulu di Indonesia ada yang namanya astaga.com yang bikin orang Astaga semua. Betul. Nah, terjadi sebenarnya repetisi doang historinya itu ya. Sama kayak ciklikal. Iya.
Ada siklusnya lah. I ya. Kalau kita apa ee kita dulu senang sama Superman celana dalam merah di luar, sekarang balik lagi. Jadi enggak ada hal yang baru sebetulnya. Cuman memang media sekarang kaget.
Hm. Kaget karena kesombongan. Tung dulu. Tunggu. Iya.
Iya. Kaget ini nih kayaknya dua hal yang berbeda gitu kan. Kaget is one thing, sombong is another. Kalau sombong ini kan lu udah tahu, tapi lu ignore gitu kan. Kalau kaget kan mungkin kagetnya karena secepat ini mungkin ya kan dia enggak nyangka bakalan secepat ini.
Betul. Betul. Tapi jadi ke depannya tuh gimana masa depannya apa media? Ee paling nanti kita kita akan ngomong selalu baru ya. Jadi ada titik keseimbangan ketika ee media yang mereka memang dibutuhkan oleh ee pembacanya, oleh audiens-nya mereka yang bertahan.
Hm. Terus pola pola manajemen medianya juga pasti akan berubah karena lebih efisien. He. Cuman buruknya adalah ya ini juga saya alami ketika masih menjadi buruh media ya. Heeh.
Ya, El diperes habis-habisan. Jika biasanya El hanya fokus pada menulis dan edit, lu dipaksa untuk melakukan banyak hal. Bayarannya sama. Selama cara orang untuk mencari informasi belum berubah, terutama dengan kata-kata Kunci Bertahan Media: Peran Vital Integritas integritas, media masih diperlukan. Hm.
Orang memang sekarang nyari ya termasuk anak gua Gen Z dan Gen Alpha. Mereka udah gak enggak lagi nonton TV. Mereka nonton TV kalau cuman biar bokap nyokapnya cerewet suara TV lebih kencang kan gitu kan. Enggak ada nonton TV lagi sebetulnya. Hm.
Mereka akan selalu apa? Cek dulu di sosial media itu semua dilakukan, TikTok lah, Instagram, let's see what happen. Tapi pada kenyataannya pada akhirnya mereka cari informasi dari media. Kenapa? Integritas.
Hm. Dan kalau misalnya orang ngomong, "Ah, ee media akan terutuh." Enggak. Media cuma n akan mencari titik keseimbangan ketika lu efisien, ketika lu tetap diperlukan. Dan ini juga yang aku dapatin waktu kemarin jalan ke Ukraine. Negara perang loh.
Hm. Nah, media. tapi kok tetap hidup gimana kayak gitu. Tapi menurut lu dengan kondisi saat ini sebagai media POV-nya nih kalau sebagai jurnalis ya gimana caranya supaya tetap relevan di tengah berubahnya cara konsumsi media. Tips Agar Jurnalis Tetap Relevan: "Harus Keren" Oke.
Supaya tetap relevan ya. Lu harus keren. Asik. Iya dong. Keren.
B bawan orok enggak sih? Keren. Hah? Orok keren. Tuh bawan orok enggak sih?
Iya sih. Kalau kayak gua kan emang dari lahir langsung tampan gini ya. Rupawanak. He tampan dan rupawan. I mau enggak mau orang mesti nyari ya.
Kalau lu media pengin tetap relevan, ya informasi lu tetap keren agar lu tetap keren. Keren nih apa nih? Keren nih gimana? Keren tuh apakah data driven? Apakah lu harus penuh insight, apa tiga lah apa.
Iya pasti data driven itu sudah pasti modal modal awal wartawan pasti data driven ya. Oke. Kita bukan sorry to say saja saya paling sebel kalau ada wartawan cuman jadi wartawan ngumpulin ludah. He cuman sekedar rekam orang terus jadiin tulisan. Itu di tahun 2004 ketika aku jadi wartahon awal udah dimarah-marahin sama salah satu senior namanya Yosef Ardi.
Dia eh bikin media luar biasa keren, insightful. Dan ketika lu insightful ya lu akan terus cari orang dibutuhin. Hm. Soal viralitas itu. Aduh siapa sih mau nyari viralitas?
Kecuali media di Indonesia sekarang yang kalau bikin berita harus sudah viral baru mereka produksi. Ini kan konyol. Nah, kalau media mau terlihat keren ya aku akan nyebut merek tempo lumayan bikin tren baru mereka bikin ee pendekatan baru. Soal kemudian jadi duit atau enggak nantilah kita ada perdebatan. Tapi ketika lu bikin konten yang keren, orang akan lari ke situ.
Hm. Kompas yang dulu malas-malasan ee investigasi sekarang sudah mulai ya. Dan akhirnya orang baca lagi. Tetap baca meskipun meskipun nih tadi tadi pagi gua ketemu sama pemretnya Kompas pun dia juga ngeluh hal yang sama. He.
Kita udah mantap nih tahap mantap ini makan tabungan ini. Mantap. Tapi oke ya ketika lu masih tetap diperlukan, orang akan nyari informasi ke media. Ya. Heeh.
Ee kemarin tuh kita sempat ngobrol, kita ingat zaman dulu. Zaman dulu ini nih Kebangkitan Model Bisnis Media Berbasis Langganan tentang bisnis model ya. Bisnis model zaman dulu itu kan semuanya subscription based ya. Orang ya kan? Heeh.
Kita ingat tuh zaman dulu lu mau majalah bola itu cuy. He. Patungan gua kakak beradik kan. Eh, gope gope, gope dapat tuh cengo ya kan apa tabloid tabloid bola sor tabloid bola ya kan udah tutup udah tutup tutup bubar kan tapi maksudnya ee pada saat itu tuh kita jadi ee mengerti bahwa untuk mendapatkan konten lu mesti bayar iya i kan sedangkan kayaknya itu salah satu yang tidak berlaku sama anak-anak muda zaman sekarang karena lu tumbuh semuanya online dan gratis jadinya kayak untuk subscribe sesuatu tuh something yang foreign gitu. Nah, gua gua penasaran apakah memang masa depannya kayak tempo sekarang kan subscription lagi subscription Opas juga Heeh.
Opas.com sekarang juga sudah mulai mengarahkan untuk exactly. Tapi gua gua setuju dengan yang lu ngomong tadi. Pada akhirnya kalau lu ujung-ujungnya lu ngejarnya maksudnya kalau lu targetnya uang lu ribet cuy ya. Tapi kalau lu target lu bikin konten yang terbaik lah uangnya juga ikut. Iya.
Ya kan? Nah, ini nih mungkin in a way enggak semua media melakukan atau tidak melakukan lah, right? Jadi ada yang beneran Heeh. eh kita mesti ngejar partnership, uang apa namanya, tapi ada juga yang fokusnya bikin konten. Nah, gua gua ngelihat tempo yang terakhir-terakhir ini dengan bocor halus apa dan sebagainya apalagi sudah shifting medium ya.
I masuk ke podcast, masuk ke YouTube ee untuk menyajikan informasi gitu. Itu yang diperlukan ya kan? Nah, itu yang eh menarik tadi menurut gua. Gua habis cerita dari luka Ukraine dan negara perang dengan tetap ada media itu apa yang membuat mereka tuh tetap bisa eksis di tengah-tengah ee iklim geopolitik yang begitu dan perang Ukrain kan udah lama ya, udah ada 2021 ya, lama 2022 2022 gitu jadi udah lama gitu. He.
Apakah ada tahapan awalnya mereka enggak struggle terus akhirnya find the right formula akhirnya bisa bertahan itu gimana observasi lu selama di sana? Eh, kemarin akhirnya aku main ke TVRI-nya lah. TVRI-nya Ukrain namanya Sulpina. Kalau mereka karena mereka LPP, lembaga penyiaran publik duitnya dari negara memang. Tapi bagusnya mereka adalah eh upgrade, upgrade kualitas.
Satu yang paling penting, upgrade kualitas. Jadi, ah sorry tuh saya ya kalau misalnya kita bandingin sama Teri ya jauh lah ya. Sama-sama LPP cuman ya kayak gitu. Terus yang kedua, mereka punya sikap idealisme enggak? Iya, pasti idealisme.
Mereka bisa mengkritik negaranya. Oke. Nah, habis-habisan karena mereka lembaga publik. H ya. Kalau kita bandingin lagi sama yang di Senayan itu ya sorry to say gitu kan.
Oke. Artinya apa? Artinya marwah LPP-nya mereka terjaga dan orang wah gua kalau mau lihat e yang netral di LPP nih. Nah, gitu. Jadi ada kebetulan.
Nah, terus gua juga ketemu namanya media susah nyebutnya lagi itu. Jadi mereka NGO. He. Berasal dari TV yang dulu di zamannya pemerintahan yang lama itu di direpresif dan wartawan-wartawan TV-nya pada keluar. Heeh.
Bikin TV satelit. He. Nah, mereka yang mengawal reformasi di Ukraine. Ukrain waktu itu. Heeh.
Aku susah nyebut nama Ukrain ini kan susah-susah semua. Iya. Nah. si NGO eh ini bikin media ya kayak mau ngabay lah ya, mau ngabai terus project multatuli dan lain-lain kayak gitu di Indonesia. Tapi mereka ini mampu memberikan hal yang tidak diberikan oleh media di arus utama.
Jadi orang mau enggak mau harus lihat mereka. Oke. Karena ini keren nih beritanya nih beritanya ee nomor satu nih dan lain-lain. Jadi kenapa media di Ukraine bisa bertahan? karena mereka ya tetap aktual bagi konsumennya.
Hm. Seperti balik tadi kata si Mercy ya. Ketika kualitas lu naik, rezeki lu bakal nambah. Hm. Nah, itu terjadi di Ukraine.
Tapi apakah ini berarti karena ini perdebatan yang kita harus sering sering kita bahas lah terkait kualitas dan juga viralitas dan lain-lain lah. Nah, kalau observasi gue ya, a lot of Indonesian itu memang enjoy konten-konten yang begitu. Iya. Gimana wong mayoritas kita masih lulusan SMP? Nah, jadi berarti kan secara consumer behavior dan consumer habit sebagai media, sebagai influencer, sebagai perusahaan, lu juga harus mencari formula formula mencari de sweet spot yang bisa connect sama orang-orang Indonesia ini gitu kan.
Jadi kalau seutuhnya mau ngelihat ee success story-nya Ukraine dengan bisa ee menjaga marwahnya dan lain itu kayaknya memang something that tricky to do juga kalau melakukan itu di tengah-tengah konsumsinya orang Indonesia memang begitu. Oke. Kalau kita enggak apa-apa enggak apa-apa kalau kita ngomong kayak begini Algoritma Google Berubah, SEO Sudah Nggak Relevan? mungkin step lu udah baca juga belum yang laporannya New York Magazine yang terbaru? Belum.
Jadi di New York Magazine kemarin bikin report eh Indep ya, Indep itu soal bagaimana media di Amerika itu sudah berubah. Algoritma Google sudah sekarang sudah berubah nih ya. Nah, ini yang enggak disadariin sama teman-teman di Indonesia. Algoritma Google sudah berubah. Terus sistem artinya ketika algoritma Google sudah berubah, sistem iklan sudah enggak kayak dulu lagi.
Hm. Oke. Kenapa Indonesia enggak sadar? Karena kita punya yang namanya apa tuh kemarin yang dewan pers bikin publisher right. Hm.
Itu sudah enggak ber irrelevan. Ah relevan itu. Ngapain mereka selama ini ya kan udah makan duit negara orang-orang yang dipilih cuman menang menang di jadi salah satu pejabat aja beberapa pejabat gitu. Tapi nothing kenapa? Iklan sudah enggak lihat dari Google.
SEO itu sudah enggak berlaku sekarang. Hm. Iya. Sekarang itu experience. Hm.
Jadi nanti mungkin aku bisa bagi linknya ya ee link laporannya New York Magazine. Heeh. Itu keren banget. Jadi pada kenyataannya SEO tuh sudah enggak sudah enggak berlaku sebetulnya sekarang. Nah, ini yang mungkin teman-teman Indonesia tuh sering telat sering telat tahu.
Sorry to say ini enggak cuman media yang harus tahap paham ini. PR pun demikian. Hm. Ya. Dan yang lebih parah dunia kampus berar.
Hm. Banyak dosen enggak paham kenapa. Ya karena mereka cuma hidupnya di kampus doang. Kampus doang baca buku. Dari buku dipindahin ke mulutnya aja.
L di luar enggak enggak paham. 2016 gua pulang dari Taiwan karena gua satu di antara empat orang Indonesia yang diundang Facebook ya kan. Sasia Pasifik. Gua jelasin soal AI dan salah satu petinggi di kampus itu yang katanya kampus keren enggak paham AI itu apa ya kan. Terus sekarang dia ngomong, "Ea, e aa, ea." Ke mana aja lu?
Ya kan? Ea juga lu enggak ngerti gitu kan konsep ea ya. Jadi di Indonesia nih memang paradoks ya. Ee kita mungkin kecepatan ngikutin di luar pada kata di luar sudah berubah. Nah, jadi kita ngikutin tapi telat gitu maksudnya.
Jadi lu udah di ujungnya lu baru masuk. Iya, lu baru masuk kayak gitu. Kenapa kita masih kelihatan kelihatan ramai? Ya karena jumlah penduduk kita yang banyak. H yang sori itu saya yang bodoh-bodoh tadi cuman SMP doang.
Lihat aja statistik berapa persen ya. Oke. Nah, ini kan lu barusan mention AI. Heeh. Apa hubungan Apakah AI Akan Menggantikan Peran Jurnalis & Praktisi PR?
jurnalism dengan AI ini? Maksudnya saat ini menurut lu hubungannya seperti apa ke depannya? Apakah akan menggantikan jurnalis? Hm. Ya kan?
Atau editor at least. Oke, ya kan kayak gitu-gitu gua, gua ngerti konsepnya sekarang gua nge-draft itu misalnya pakai Gemini. Heeh. Mungkin yang dihasilkan bisa lebih bagus. Jadi kan gua gua of course ada fungsi-fungsi lain yang tetap dibutuhkan.
I'm just saying dalam konteks menulis ini ya specifically. Nah, kayak gimana menurut lu kalau di media saat ini kan kemarin lu juga baru ngobrol-ngobrol misalnya atau tadi ke depannya gimana? Apakah mempengaruhi apaakah enggak. Oke. PR nih ya.
PR jurnalnya sama aja sebetulnya ya. Intinya nulis kan yang poinnya kan poinnya konteksnya konteks menulis tuh sekarang istilahnya tulisan anak-anak junior PR kadang-kadang lah enggak usah kadang-kadang sering udah di judulin kampus juga sering deh ini mah kalau lu copy paste eh kalau lu nanya sama e AI AI tools apapun lah lu pakai zamanai lu pakai jaj GPT mungkin hasilnya bisa lebih baik gitu dengan I dosen juga udah enggak penting sekarang dan struktur berpikirnya di kepala lu gitu kan iya ya ok kalau kita ngomong AI sebetulnya enggak ada yang baru sebetulnya nya ya. Sekali lagi balik lagi enggak ada yang baru. Kenapa? Dulu kita sempat ada media di Indonesia sudah nulis bantuan AI dulu sebelum orang ribut-ribut AI sudah ada namanya berita agar sudah tutup sekarang.
Heeh. Terus dari berita agar dia berubah menjadi lokal data. Lokad data enggak tahu. Habis itu yang paling dekat-dekat enggak jauh dari kantor ini, itu adalah sebuah perusahaan. Dia sudah menyiapkan AI plus distribusinya.
Jadi misalnya nih gua PT Alcut Putranto tampan sekali. Gua menghire perusahaan ini. H eh gua minta El untuk bikin rilis sama distribusinya. Dia sudah bisa. Jadi si AI-nya dia tinggal dikasih perintah lal laala prom promnya udah apa dibikin rilisnya dan sangat sudah sangat mendekati manusia.
He. Dan langsung distribusikan sudah ada. H enggak jauh kantornya dari sini. H jalan kaki pun kita bisa ke sana. Ya, jadi junior-junior e di ee praksis harusnya cukup khawatir itu ya.
Kalau lu enggak lebih jago daripada EA ya sorry itu to aja gitu kan. H. Nah, tapi secara ini juga kontroversi sih. Ada beberapa PR-PR practitioner yang pro dan kontra sama AI. Hm.
Ya kan kalau kita mungkin lebih kiblatnya lebih ke embracing AI kan. Gimana nih caranya? di hari-hari nih malah membantu lu lebih efisien, lebih ini, lebih ini, lebih ini. Tapi ada beberapa juga yang gua notice bahwa mereka nih mengeluarkan pendapatnya terkait lu enggak bisalah bergantung sama AI gitu. Gua enggak usah sebut siapa lah.
Tapi adalah orang yang known in the industry memang ya dia enggak percaya sama AI. Udah tua kali enggak enggak menguasai. Udah bilang aja kayak gitu. Praktisi PR enggak mau pakai AI udah pasti itu udah tua satu. Kenapa?
It's a fact. Yes. It's a fact. Yes. Ya kan?
Tapi at the same time, apakah ada yang valid gitu dari dari pendapat bahwa harusnya lu jangan bergantung sama AI? Oke. H samalah PR jurnalis lah. Let's just say ya dua-duanya. Iya.
Dua-duanya udah tua itu udah apa udah enggak ngikutin zaman gitu kan. AI ini alat tools ya. He ee orang-orang yang takut sama AI itu orang-orang sor itu saya aja satu enggak gaul. Mungkin dia masa mudanya enggak pernah nonton Terminator. Justru kebanyakan cuy.
Justru kebanyakan Terminator. Oh takut. Takut dikuasai dikuasai robot. Skynet ya. Skynet.
Berarti mereka golongan ini kali ya. Freak udah freak jadi PR gitu. Gimana ceritanya tuh? Oke. Enggak ada masalah.
AI. AI itu cuman tools ya. Justru dengan AI kita bisa dengan mudah untuk data tuh kan kita abunden banyak banget dengan E itu bisa dengan sederhana tapi kita juga harus hati-hati Jemini terus yang lain-lain itu banyak juga ngarangnya. Yes. Banyak ngacunya.
Makanya kemudian gua di sebagai dosen ya gua terpaksa beberapa kali enggak ngelulusin mahasiswa. Kenapa? Ini AI man. Kan gua udah bilang gua enggak ada masalah el ngerjain tugas pakai AI. Hm.
Tapi ya lu baca dong. Jangan, jangan gelondongan lu kasih ke gua. Lu tahu dosen lu nih jahat gitu kan. Titik koma aja gua cek gitu kan. Nah, ya lu cek.
Nah, PR yang bagus harusnya begitu yang PR senior tersebut. Senior maksudnya saya jangan pakai kata tua ya. Senior ya, senior. PR senior. Kalau PR senior harusnya ya dia cek jangan sampai kejadian ada rilis kemudian itu masih baunya bau-bau AI banget.
Nah, di situ kan mereka makanya ada peran Iya. ada supervisor yang masih punya mata untuk bisa bedain lah. Yo, ini AI banget. AI banget. Nah, harus harus seperti itu.
Jadi kalau E menggantikan enggak juga. Nah, mungkin yang jadi pertanyaan adalah nih sumber PR tuh kan junior tuh kan selalu dari kampus nih. He. Nah, itu harusnya yang step tanyakan kampus lu gimana? Itu lead leading question gua ini.
Kampus lu gimana? Iya. Kampus lu gimana gitu kan. Nah, pertanyaan berikutnya adalah apa yang lu harapin dari kampus ketika kampus lu juga enggak ngerti? AI lu enggak terti kan banyak nih dosen-dosen EI AI apaan ya?
Masih pada bingung ya. Heeh. Nah, ketika lu dari dulu diproduksi sama kampus yang dia enggak paham AI, dia enggak paham bagaimana menggunakan AI, yah ngapain juga diserap sama VR. Heeh. Itu kejadiannya.
Sebenarnya gua mengibaratkannya tuh Analogi AI: Seperti Komputer & Internet di Zaman Dulu kalau misalnya 30 tahun lalu dia itu banget ya. 30 tahun lalu. Enggak, gua gua sebagai anak 17 tahun gua enggak relate. He. Karena gua umur 20 ini 30 tahun yang gua baca-baca berdasarkan history.
Asik. Ee pas lu pakai komputer. Hm. Ya kan ee mulai mainstream itu kan pas beralih dari DOS, MS DOS lu ke Windows 95. Windows 31 ke 95 misalnya.
Itu kan yang pertama kali tuh. I Wih, personal computer tuh jadi lebih user friendly. Ada start button. I akhirnya itu beneran bisa membantu orang ins. Lu masukin prom dulu kan, masukin disket prom ini buat ngetik, ini buat main game, ganti disket.
W ribet banget deh pokoknya pada zaman itu ya. Gua gua mengibaratkannya tuh kayak 30 tahun lalu apakah lu mesti pakai komputer? Maybe not. Iya, tapi yang memakai komputer pasti lu diuntungkan. Iya, lebih cepat.
Exactly. Ya kan? Setelah itu internet. Iya. Ya kan?
The same thing. Iya. Kalau lu gak pakai internet, apakah lu akan kayak mati? Enggak juga. Aja lebih lambat lebih lambat aja.
Ya, sekarang fast forward hari ini ya kind of the same gua ngelihatnya. Kalau lu enggak pakai AI, will you be? Maybe. Tapi apakah lu bisa secanggih orang yang pakai AI? Probably not.
Definitely not. Ngerti kan? Jadinya eh ya kita nih mesti ya kalau kalau dari point of view gua ya berdamailah dengan AI ini. Lu gimana caranya memakai AI eh to your advantage untuk mengerjakan hal-hal yang sehari-hari? Lu lu bikin lebih gesit lah melakukan sesuatu ngolah data gitu.
Of course gini anak-anak kecil zaman sekarang ini nih yang unfortunate. Kalau lu dari lahir langsung main AI itu juga tricky juga sih karena logik lu enggak pernah terasah. I. Tapi kalau lu udah pernah mengasah log sekarang lu ngelihat AI pun kan lu mengkritisi. Ih ini enggak kayak gini nih.
Betul. Tapi kalau lu enggak pernah di mengasah itu, itu tuh that's where the problem lies menurut gua. Tapinya harusnya generasi kita ini udah lumayan aman karena kita baru sekarang inilah kena AI ya. Tapi nanti yang berikutnya ni yang gua enggak tahu lagi ya. Banyak orang sih yang sudah mulai ada lah yang bilang kebanyakan pakai AI apanya ciut?
Bus apaan? MIT. Seram banget. Masa dalam hitungan tahunan gitu ya, SU tahun langsung. Wih gila.
Jadi ada they're doing a research. Intinya gua belum baca detail sampai the whole report. Jadi yes ada neutron otak itu yang mengecil berkurang lah dengan penggunaan AI secara rutin. Ya, gua enggak tahu ya validitasnya gimana, yang verify siapa, apakah itu adalah propaganda untuk tidak menggunakan AI itu everybody has their agenda ya kan. mungkin harus diuji ulang sama Kaltek kali itu Kalkuta tapi bukan bukan Kalkuta Institute of Technology ya bukan gua enggak tahu itu apakah itu ada agenda lain di balik itu.
Tapi yang penting yang pasti MIT dengar list itu report itu. The reason report soal itu ya. Samalah orang bule kan juga takut sama micin. Mungkin yang sering orang lupa itu kalau jurnalism jurnalis PR apalagi PR ya. Saya sering banget kalau di kelas tuh mereka selalu berpikir kalau jadi PR tuh lebih gampang daripada jurnalis.
Gua bilang, "Lu salah semuanya." Kalau lu jadi PR, kerja lu dua kali lipat lebih baik daripada jurnalis. Jurnalis belum tahu beritanya, lu sudah harus siapin konsep. Yang kedua nih acara jurnalis belum datang, lu udah sejam atau 2 jam sebelumnya udah datang. He. Jurnalis makan, lu sudah harus nyiapin itu ngomong ke mereka.
Jurnalis pulang, lu harus tracking, harus monitoring, dan lain-lain. Kerja PR itu lebih berat daripada jurnalis. Hm. Nah, dan kalau PR harusnya lebih senang ketika jurnalnya bodoh-bodoh gitu. Kenapa begitu lah?
Iyalah informasi kita aman. Jurnalis enggak enggak dutaik enggak dikritisi. Yang paling jelek tuh kan lu udah dapat jurnalis skeptis lagi H terus punya pengetahuan ganteng lagi kayak gua nih gila. Tapi, tapi ya ngomongin soal jurnalis nih, gua enggak menyama ratakan semua jurnalis Indonesia ya kan. Tapi dengan gua pernah megang beberapa beberapa market dan gua punya perbandingan gitu ketika gua mau preskon di gua enggak tahu apakah karena gua orang Indonesia dan gua merasa lebih mudah me-manage wartawan Indonesia, tapi praktiknya pada saat lu ada media event di Vietnam sama di Thailand tuh lu tegang, Guys.
Iya. I karena the way they ask questions, pertanyaan ditanya, I sharp. Heeh. lu jawab ditanya lagi, diputar lagi sampai lu menjawab gitu. Jadi ya jadi PR di negara lain kayaknya lebih berat lagi dari PR Indonesia sih kalau ngomongin soal itu.
Emang benar, benar, benar. Karena wartawan di luar tradisi untuk riset, baca, dan lain-lain masih kuat. I dan kemarin ketika gua ke Yukern, gua berantem sama PR yang ngundang gua ngirim jadwal acara pagi. Hm. Kapan gua risetnya?
Ya kan? Terus kalau lu ngasih barang ini enggak relate sama Indonesia ya kan sampai gua ngajarin terus sampai berantem dia bilang dia punya pengalaman 17 eh baru 17 tahun gua udah lebih dari 20 tahun gua bilang gitu dong aduh umur nih kayak iya dong kan kalau lu ngebandingin ya jangan kayak gitu terus ee karena pembaca gua pembaca Indonesia bukan membaca Ukrain kan lu perlu mengkomunikasikan hal di Ukraine untuk membaca Indonesia sampai gua jelasin he ee tapi gua pengalaman gua di ya lu di Amerika beda enggak nyambung gitu geographic udah enggak nyambung tuh cultural nuansya jangan udah beda semuanya udah beda. Nah, itu yang seringkiali teman-teman di Indonesia itu enggak sadar dipikirnya kalau lu udah apa namanya baca Walter Litman terus baca karya siapa lagi yang wartawan-wartawan tenar di Amerika itu terus lu bisa terapin Indonesia ya please man lu hidup di Indonesia mereka makannya salad kita makannya ketawa perak gitu kan salad harus salad udah beda gitu jadi kadang-kadang memang teman-teman wartawan kita tuh atau ya, sorry to say enggak sadar lu ada di Indonesia gitu loh. Dan kan itulah that's what they're saying right? Think global globally and locally.
Lu bolehlah lu mau lu sekolah di mana lu bacanya konsumsi lu, media lu apa segala macam tapi ya lu tetap harus take into all of those things yang di Indonesia di mana lu tanah berpijak lu langit dijindung gitu kan katanya kan biar enggak jadi kejadian ini book di kementerian lucu itu. Iya. Kita teh dari tadi banyak fokusnya tuh di tulisan. Oke. Kenapa Konsumsi Media Bergeser dari Teks ke Video?
Sedangkan semakin ke sini, Men, media consumption behavior itu semakin jauh dari tulisan. Iya. Ke video. Video dari teks zaman Twitter dulu, He. Lompat ke foto Instagram ya kan.
tiba-tiba sekarang modelannya video. Baik itu ya semuanya ada videonya lah tapi short video terutama kayak orang-orang tuh banyak apa namanya ee bikin berita tuh dalam bentuk video gitu. Iya. Oke. Bahkan termasuk AI kan suaranya.
Exactly. Nah yang AI ini kan kadang-kadang banyak yang salah juga kayak banyak misin information makin gampang gitu. I ya. Ee gimana itu ya menurut lu? Apakah ke depannya akan semakin banyak?
Apa justru orang semakin aware dan hal-hal seperti itu tuh yang misleading-misleading yang sensasional malah hilang? Oke, gua akan jawab dengan gue ngelihat diri gua sendiri ya. Fenomena Gen Alpha: Harapan Baru untuk Media Tradisional? Hm. Ee, gua tetap punya harapan besar ini pada gen alpha.
Gen X pasti enggak suka sama gen baby boomer. Oke. Generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya. Heeh.
Gen, Gen milenial kalian pasti BT sama generasi X. Gen Z yang kita bilang, "Wah, konsumsinya begini begini begini." BT milenial. BT sama milenial. He. Alfa ya.
Gua ngelihat anak gua sendiri yang cewek. Hm. Itu anak kebalikan dari Genzet. Oh ya. Iya.
Nah, anak lu kan Alfa nih. Entar lu bakal lihat kebalikannya itu gimana. Mereka senang baca sekarang baca fisik. Oke. Mereka sudah enggak suka sama namanya sosial media.
Lu boleh suka boleh enggak. Ini gen alfa dan gua kaget. Anak lu doang atau lu? Lu jangan lu jangan konklusi luanyak ini gua gua gua bakal menggeneralisir gen alfa yang sekolahnya enggak manfaatin sekolah negeri lah ya. Sorry to say lah ya.
Kita kan enggak masuk generasi menengah yang nanggung tu ya. Siap. Siap. Siap. Menengah.
ngaku ngaku kaya, ngaku makmur, tapi sekolahin anak di sekolah negeri itu kan malu-malu. Tapi kenapa? Ada apa dalam sekolah negeri si Agot? Ada sekolah negeri yang memang sekolah unggulan. Mana maneh?
Karena kita harus jujur ee sekolah negeri kalau bagus gua akan masukin sekolah anak gua ke sekolah negeri. Heeh. Kampus pun demikian. Sor aja nih ya. Hm.
Kampus negeri nih UGM gitu kan UI itu kan. Kerennya apa? Sekarang orang udah ada jalur mandiri. Heeh. Udah enggak seprestigious dulu.
Eksklusif dulu. Kalau dulu kami masuk ke sekolah PTN karena kami kere bokap gua enggak mau ngasih duit jadi gua harus nyari kampus yang bagus dan murah. Jadi lu kuliah di mana, Got? Weh, gua enggak kuliah, Men. Gua liburan.
Asik. Mana ada orang kuliah di Bali? Udayana. Kuliah dari Denpasar ke kampus atas ngelewatin Kute. Oke.
Juga mau enggak nyampek-nyampe tuh. Nyampai-nyampe lah. Baru nyebrang. Eh, man. Oke, oke, oke.
Balik balik balik balik. Soal tadi gen alfa gen alfa iya. Gen alpha tuh beda dengan gen yang kita lihat ee apa namanya? Enggak mau baca koran, enggak mau fisik ya. Engak mau lihat fisik.
Terus main sosial media mulu. Gen Alpha kecenderungan sekarang seperti itu. Dan kita sering lupa Gen Z itu sekarang sudah banyak yang punya anak. Hmm. Buset loh.
Iya. I G sekarang umur berapa? Anak punya anak. Anak kecil punya anak kecil. Rangga misalnya Rangga dari zaman Rangga zaman ciuman cinta aja udah bikin heboh waktu kita masih kuliah kan.
He. Sekarang Rangga, Rangga enggak kawin-kawin. Cintanya udah kawin mulu. Sudah berubah. H.
Ini kita lupa ada Gen Alfa ini sekarang. H. Dan gen alfa ini kayak berkebalikan dengan gen Z. Oke. Gua ngomongin I gua ngomonginnya ke teman-teman gu ke kawan-kawan lah ya.
Ini memang apa kayak apa anak gua yang anomali ya. Makanya gua bilang apa kayak anak lu doang apa gimana nih? Mak. Oh enggak kok. Anak gua juga kayak gitu.
Gen Alfa nih memang rada ajaib sekarang. Dia musiknya juga kayak musik-musik zaman kita dulu dengar. tahun '0-an, tahun-an sampai nih gen Alfa emang kayak begini atau gimana sih? Terus h e gua agak kerigger karena lu ngomong tahun '80 tahun anak lagu-lagu tahun '070-an. Karena beberapa bulan lalu tuh gua ke konser.
Gua ke konser yang gua yakinlah konser itu yang tahu hanyalah generasi milenial atau bahkan baby bumor ya. Air supply. Wi man. Air supply main. [Tertawa] gua tuh udah gua tua juga ya gitu kan air supply itu tuh ada air supply ada r price r price kakek-kakek sama michael to rock itu kan itu generasi-generasi itu kan buset Michael belajar rock buset tapi sebelah gua itu ada orang yang gua enggak tahu di umur berapa cuma kelihatan bentuknya tuh kayak Rangga kayak Kris lah h buset terus nah emang mereka berdua itu waktu itu jnya mereka yang mengejutkan buat gua they know di they know everything they sing along word by word to every popular song.
Terus gua kayak wait nih enak kok old soul banget gitu. Makanya kan apakah mereka generasi alfa? Mungkin gue pernah ketemu anak gen alfa masih kedengerin apa coba? Tools. Wih gila sadis di generasi kami berdua nih ya tools itu orang yang dengerin anjir siapa udah aneh gitu aneh sekarang lebih aneh lagi.
Iya kayak they going backward. Iya, makanya ya. Now that you say I'm like, "Eh, entar gua per cerita sama lu kan gua nonton-non sebelah gua anak muda benar-benar anak muda yang gua yakin tuh paling not even 20 lah." Makanya nyanyi cuy nyanyi lagu air air supply apa gara-gara dengerin bapaknya enggak loh mereka nyari sendiri. H sekarang bisa aja sih, tapi itu tuh lagi-lagi ya interesting. K alpa nih harus kita pikirin juga dan jadi maksud gua gini ketika nih kita khawatir ya wah ni akhir hidup media nih masih ada gen alpha gen Z tuh udah bentar lagi udah enggak ngurusin media lagi.
Kenapa? Mereka sudah sibuk beranak pinak. Beranak-pinak sekolahin anak ee ke posandu gitu kan. Posandu ngukur berat anak tinggi anak gitu kan. Tapi sekarang udah ada gen alfa nih.
Dan anak gua aja udah mau masuk, udah mau masuk SMA udah enggak mau tuh gua bilang masuk Undip ya. Undip apaan? Anak gue yang gen Z. Heeh. Kamu mau enggak ke UGM?
Apaan sih UGM? Undip. Undip tuh yang di mana? Padahal dekat rumah kan. Enggak mau ITB.
Bapak ini ITB. Habibi aja enggak mau ITB. Asik. Jadi apa apa yang apa yang dia mau? Ya kayak Habibi lah ke sono ini IKJ jadinya.
Asik Ramstein. Ramstein ya kayak gitu. Jadi di tengah kita ngelihat kondisi sekarang kita harus lihat ya ada sesuatu lain yang sej ada harapan lagi sebenarnya. Long term hope sebenarnya bukan long term ya. Ya kalau gua bilang anak gua aja udah medium term i sebenarnya cepat kok.
Dan ya itu repetisi sejarah tuh selalu terjadi ya kayak celana dalam Superman. yang sebelumnya di dalam sekarang balik lagi keluar ya kayak fashion lah lu balik lagi kali dalam 20 tahun dia muter aja yang close sik close just you know go back ke tren tahun 40-an muter-muter aja i eh menurut gua tantangan buat anak-anak zaman sekarang itu the younger ones ya yang mau ke PR gitu apalagi kita masih I iya sih udah udah bergerak udah ada perubahan tapi tetap yang berbasis teks nih masih banyak cuy ya Permasalahannya mereka natively udah enggak mengkonsumsi ya, lu udah enggak baca website gitu, right? Jadinya perumpamaan yang sering gua pakai saat ini lu bayangin kalau misalnya lu disuruh jadi koki lah ya kan klien lu minta lu masak sesuatu gitu masakan Itali apa apa gitu. Oke. Klien A sukanya eh tolong bikinin masakan Itali.
Gimana lu mau bikin tuh masakan kalau lu makan aja enggak pernah. I ya lu baca enggak pernah, C enggak pernah baca berita, lu enggak pernah bandingin gitu. Oke, ada media bisnis banyak ya. Bedanya apa gitu kan? Restoran Itali banyak.
Oke. Restoran yang A kayak gimana rasanya, B kayak gimana? Kalau lu enggak pernah makan, lu gimana mau bisa masak, cuy? I lu udah makan sebanyak itu aja masaknya perlu latihan. Kalau lu udah enggak pernah makan.
Dan dan sekarang tuh unfortunately ada Google, ada AI itu mereka bisa kasih resep. H ya kan ini cara buat spagetti carbonara misalnya lu bisa tapi kalau lu enggak pernah makan cuy lu enggak pernah makan lu jadi oh telur diiniin oke j lu makan lu enggak tahu cuy enak apa enggak karena lu enggak pernah konsumsi. Nah, jadinya ee ya buat anak-anak PR yang baru-baru gitu-gitu ya, lu mesti makan tuh barang, lu mesti baca, lu mesti bisa kritisi yang mana yang bagus, bedanya apa dari media A ke B, ke C, ke D, terus kalau di-convert jadi ee video musikinya kayak gimana, podcast, audio, whatever lah. Tapi yang pasti lu basisnya tuh lu tetap harus konsumsi sebelum lu bisa ee masak lah ya kan lu lupakan masak kalau lu enggak pernah makan. Iya.
Itu aja sih. 3 Karakteristik yang Dicari Jurnalis dari Seorang Praktisi PR Itu gua sepakat sih. Apa tiga karakteristik yang lu paling cari? Kalau lu kalau mereka punya tiga itu, ah gua bisa kerja nih sama dia nih. Enggak bau.
Lu jangan main fisik gitu dong. G ini penting loh gitu ya. Penting ini harus wangi lah. Harus wangi ya. Minimal bersihlah.
Bersih jadinya lu menghargai kebersihan tuh ya. Oh iya dong. Kan kita dari zaman Pak Harto udah diajarin bersih itu kan kuku lu tiap Senin kan dicek kuku lu gitu kan benar lagi zaman dulu sekolah kalau masuk kelas nah kuku kan maksudnya ya bersihlah satu bersih terus engak enggak ngerti kan enggak relate kan ya enggak relate asik heeh dua yang kedua kalau kalau sor sori kalau bersih ini artinya ya looksnya baguslah bukan kemudian cantik bahaya no enggak enggak enggak gua cuman butuh orang yang enak dilihat bersih gitu satu he h baik cowok Cewek, baik. Cowok, cewek, separuh, cowok, separuh cewek. Nah, terserah.
Jadi-jadian pokoknya jadian terserah. Yang penting look-nya benarlah gitu. Looknya benar, enggak bau. Profesional in way lah. Profesional in way.
Yang kedua, lu pintar. Hm. Banyak PR cakep, body, body oke. Asik. Ya kan, baju kayak kurang bahan.
Oke. Lu PR di mana nih? Ada. Ada. Ada.
Tapi lu ngomong harus tanpa harus lah pokoknya. Oke. Tapi He pokoknya looknya udah profesional lah. Udah jos banget. He.
Tapi lu enggak pintar. He. I kan pintar. Kenapa penting? Wartawan kadang wartawan juga banyak yang goblok.
Gua juga goblok gitu kan kadang gua karena gini wartawan itu gu zaman rendah untuk meninggi gitu dong. Enggak enggak. Maksud gini ketika lu wartawan disuruh di penugasan penugasan he enggak semua kita ngerti itu barang apa mesti kita tulis. Nah, PR harus bisa perannya PR menjembatani. Iya, itu.
Terus yang ketiga, sabar. Sabar dalam artian lu tahulah bagaimana memanusiakan wartawan. Ya. Ya, enggak cuman dari rilis lu yang let's say paling sederhana nih. Lu udah tahu wartawan sekarang kalau nulis berita di HP langsung gadget langsung lu kirim PDF.
Hm. Hm. Susah ngisnis lah. Heeh. Yang kayak gitu-gitu terus gambar foto lu kirim yang benar resolusinya ada caption-nya.
Caption-nya benar. Itu memudahkan jurnalis. Itu udah yang paling sederhana tuh. Nah, kalau sudah pintar seperti ini ya biasanya enak buat berteman. Hm.
Tapi yang paling penting ini berarti over dari tiga ya. Ya, lu berteman. Tapi jangan kemudian lu karena ada berita terus lu berharap, "Wah, berita lu harus bagus-bagus." Enggak juga. Iya. Karena wartawan juga punya profesionalisme sendiri.
He he. Itu sih kasus paling enggak jelas lah di Kisah "Horor" Berurusan dengan PR yang Tidak Profesional saat lu berurusan dengan orang PR tanpa harus mention he orangnya atau agensin-nya lah. Apa yang paling wow ini udah enggak jelas banget nih. Mistik banget nih. Ee industrinya aja.
Industrinya otomotif. Oke. Diri otomotif lu ngundang kita wartawan ee luar kota. He luar kota. Dan lu enggak ngasih tahu kita tuh di sana ngapain.
Alhasil kita terpaksa tidur di tenda di pinggir pantai yang tenda kita dirikan sendiri ya kan. Tapi plannya ngapain? Plannya ngapain? Ya test drive bro. Masa kagak dikasih hotel hotel?
Iya sampai nenda ya. Gua enggak ngerti. Makanya lu kan nanya tadi kan. Enggak jelas lah ini. Ini mobil emang sih ini mobil mobil offroad.
Oke oke oke. Tapi biar dapat sensasi offro. Persoalannya lu enggak ngasih tahu konteksnya gimana apa, ngapain. Waktu itu musimnya musim hujan. Hm.
Terus lu nyuruh kita bikin tenda gitu kan. Gua enggak ada masalah gua anak gunung itu kan. Persoalannya tenda tenda lu bikin di pantai itu kayak di oven gitu kan. Ini terjadi tahun berapa nih? Wah, tahun berapa ya?
Du lu belum balik dari Amerika lah. Dia belum balik. Oh, 2000-an awal ya. 2 ya 6 2000 kan gua juga anjrit nih suara. Nah, enggak jelas enggak jelas tu.
Enggak jelas. Setuju gua. Tapi bahwa kemudian gua profesional, gua profesional gue tetap gua kerjain itu tulisan tapi gua protes sama tuh PR. Lu besok-besok ngomong dong kalau misalnya mau apa kek. Jadi kita juga persiapan.
Gua enggak ada masalah. Heeh. Gua pernah nih harus tahu-tahu turun ke daerah bencana alam ya. Ya, gua prepare karena wartawan harusnya prepare ya. Heeh.
Ini kan gua kagak prepare. Autan kagak bawa jadi kipas enggak bawa bukan enggak ada masalah kan gua bisa buka bay persoalannya gua enggak bawa autan gua dimakan nyamuk di pinggir laut. Lu masih ketemu orang itu apa enggak sampai sekarang? Masih. Masih ada jadi masih di industri.
Masih di industri. Heeh. Tapi memang gara-gara itu dia jadi lebih paham. Hm. Karena yang lain cuman gua ngomong aja langsung shoutout aja langsung.
Oke. Geblek lu jadi PR gua gituin. Ada lagi lah. Kemarin gua ke ke UKR tuh. Oh ya yang itu bayangin Mer.
Ah kalau lu kan memang udah tua udah punya penyakit punggung ya. Asik. He. Nih bayangin gua dari Jakarta sampai Polandia kan artinya udah dari Jakarta Doha Polandia dong. Itu udah berapa jam?
18 lah. 16 18 lah. Let's say di Polandia itu kita enggak nginp. Hm. Langsung naik bis.
Berapa jam sampai ke kif? He. Berapa jam polandia ke Entar dulu, entar dulu. Oh belum. Tunggu ini Warsa dari Warsa ke KIV bisnya.
Lu pernah naik bis yang antar kota antar provinsi di Indonesia enggak? Yang AC-nya panas enggak sih? Kebetulan nih. Nah. Nah, itu akhirnya kemarin gua pertama kali naik itu tuh.
An, ini gua suruh liputan konflik beneran lu baru berapa orang? Empat. Anak Alif enggak bisa minum air soda. Enggak bisa dalam konteks dia enggak bisa minum air pakai soda apa? Sparkling.
Wat? Sparkling. Sparkling water enggak bisa. Aduh, gua enggak bisa minum. Akhirnya enggak bisa minum dia selama perjalanan karena cuma ada sparkling water.
Sparking water. Ya, balik lagi persiapan. Karena gua selalu bawa air putih di ini nih bareng ini udah panas dia enggak bisa enggak bisa minum teman narasi produser ini wasir menaduh jadi sampai warsa udah sampai nonggeng-nongkeng waduh oh gua bilang yang lain bawa bantal leher bawa iya nih mas udah udah dong perjalanan Kan di perjalanan gua juga goblok. Mungkin kita yang goblok. Gua menyalahin diri kita sendiri kan.
Kita enggak bawa duit lokal. Gua cuman punya duit sloty. Sloti itu mata uang Poland. Heh. Euro sama dolar.
Hm. Masalah ini. Punya duit tapi enggak punya duit lokal. Kenapa? Tiap kali pipis harus bayar.
Hm. Hm. Yang gua sebelnya gini loh, lu PR kenapa ngwin enggak ngomong kita gitu loh. Iya. Engak enggak mengingatkan gitu.
Enggak. Dan waktu kita mau berangkat ke sono yang dikasih duit slot kan gua nyampai di warsa dijemput emang dijemput makan kan ini orang ada nih PR ini. Ngapain lu enggak ngasih tahu kalau lu masuk ke pas lagi di situ lagi oke oke oke konteksnya itu oke kan gua pikir lu enggak ketemu sampai nanti di KIF kagak KIF ya. He bukan K bukan Kiev. K itu Rusia punya KI udah dong.
Akhirnya kita dari Warsao sampai ke KIF enggak pipis. Berapa jam pertanyaan gua God dari tadi. Oke berapa jam ya? Jawab dulu. Jadi dari Jakarta jawab dulu pertanyaan gua.
Total perjalanan kami 30 jam. Wih, sampai ke KIF ya. Sama tadi yang gua cerita bahwa mereka enggak paham konteks yang mau lu beritain itu apa. Kan kita sebal. Lu ngasih apa?
Presid, preskit lu enggak konteksnya enggak ke Indonesia. Itu kan jadi menyulitkan kita buat nulis. Nah, itu loh yang jadi masalah. Artinya ya dia kurang pintar. H itu jadi masalah.
Oke. Eh, eh, let's go see some pictures. Azik. Nah, ini kita gua di Warsaw nih. Eh, warsaw.
Oke. Ini berarti pas baru mendarat. Oke, ya. Kita enggak perlu ngobrolin lah. Coba yang sampai.
Nah, ini di kif hari pertama. Di kiff. Oke. Di KIF itu yang konyol katanya kita kan bangsa besar, kita enggak ada restoran di sana. Restoran Indonesia enggak ada.
Y, Bro. Lu, lu tapi aneh juga. Ngapain lu nyari restoran Indonesia sih? No, no, no. Kalau lu pengin pengin memperkenalkan Indonesia.
Oh, iya. Gu ngerti dari makanan. Food diplomacy. Iya. Food diplomacy.
Gastro. Gastro diiplomacy. Gastro diplomacy. Kayak orang kenal Thailand karena makanan Thailand di seluruh dunia. Ya, ini kota Irping.
Irping itu kota kayak Bekasi lah. Jadi, kota terakhir sebelum si Rusia itu masuk ke suburb-nya KIF. Iya. Heeh. Jadi itu sempat dikuasain sama Rusia.
Eh, terus akhirnya bisa dipukul mundur. Nah, ini jembatan yang sampai sekarang dipertahankan tidak dibangun karena jembatan itu di belakang aku ada truk. Masih ada truk bangkai truk di :03 situ. Oke. Nah, ini ee gambirnya Ki lah.
:10 Gambirnya Ki enggak tahu lu namanya. Susah nyebutnya susah ya. Was gitulah pokoknya. :16 Oke, lanjut. Itu dia underground hampir 200 m lah.
M lah di bawah tanah. :22 Okeah ya. Bukan bukan gambir berarti apa? Ee MRT lah gitu. :28 itu sudah dibangun dari zaman Uni Soviet dan kalau ada serangan udara orang-orang pasti ngumpet di situ.
Hm. Hm. :34 Oke. Oke. Nah, ini gua ikut upacara hari kesaktian Pancasila, Men.
Setelah 20 :40 tahun gua pernah ikut upacara. Lu disuruh ikut upacara enggak sih? Ih, ada fotonya gua. Wih, :46 upacaranya begitu lagi. Upacara.
Upacarnya di luar dong, Bro. Di dalam. Kenapa harus di dalam? :52 Di luar belum dipotongin rumputnya. Panas, Men.
Di sana, Men. Kalau lagi :57 summer 30 lebih. Hm. Panas ya? Asik.
Terus tu bule-bule kenapa ikutan ya? :03 Ee itu bule yang menikah sama orang Indonesia dan ini staf lokal. :08 Oh, local staffnya. Jadi dia dipekerjakan sebagai staf lokal karena kawin sama kita harus bangga sama KBRI kita karena :15 ee kita punya tu logot. Iyalah.
:21 Setelah 20 tahun enggak pro ikut upacara tegang dia. Tegang. Hey luar biasa. :26 Oke oke oke. Begitu kurang lebih perjalanan ya.
Ini gua mau ngajar muka gue diakalin :31 pakai AI gitu kan. Nah ini ngajar di kampus Nakim. Maksudnya apa sih tuh konsepnya lu diakal pakai AI itu buat apa? :37 Gua enggak ngerti. Pertama malah muka gua bukan muka gua malah.
Coba coba kembali lagi ke depan itu kan AI :43 impact culture on international relation was it h nakim itu kampus :50 yang persis di atas gereja ortodoks di sana yang jadi rebutan sekarang jadi :56 gerejanya jadi rebutan. Heeh. Jadi kalau di Indonesia gereja :02 dibubar-bubarin gitu kan ada orang sembahyang digangguin di sono lagi rebutan. H. Nah, jadi gereja ortodoks :08 Rusia lawan gereja Ortodoks Ukraine lagi rebutan itu berantem.
Oke. :15 Nah, ini di kampusnya Din Hakim ee kita boleh bangga karena Indonesia ini cuman :22 terkenal Balinya aja sampai sekarang gitu kan. Masih ya terkenalnya di Bali doang. Terus mereka sadar bahwa Indonesia tuh :27 ada di Pasifik gitu kan. Jadi ya gua tetap mesti ngajarin Bali.
Bali. Bali. Bali. :33 Tahu Bali enggak tahu. Indonesia tahu enggak?
Oh iya. Negara di Pasifik. Oh. Gua mesti ngomongin ya. Nah, ini :39 luar biasa ngomong di sanaah.
Oke, oke, oke, oke. Sama orang-orang itu berfoto. :46 Mantap, mantap, mantap. Ee apa buku lu? Jadi lu nulis buku.
Hm. Bukunya tentang apa? Bedah Buku "Senja di Ukraina" :52 Perjalanan gua di sana. Jadi, itu buku, M buku buku kecelakaan ya. Jadi, ee seri :58 tulisan 10 tulisan plus ee catatan terakhir ee bos kita gu jadiin buku.
:04 Hah? cuman 10 tulisan, Kang. Enggak apa-apa yang penting jadi buku dulu. Kesia. :10 Oke.
Kapan kapan apa? Udah udah terbit udah mulai tadi aku antar ke ee beberapa sudah aku kirim ke :18 Ukrain. Nah, itu senja di Ukraina. Wih, itu covernya :24 itu gedung yang dihajar sama drone ya. :30 Oke.
Nah, kita mungkin lihatnya waduh menyedihkan ya. Enggak, enggak biasa aja. Kenapa? Karena seberangnya itu ada. :37 Hmm.
Oke. Jadi kalau kita kenapa lu enggak foto yang itu? Karena senja di Ukraina :43 gelap soalnya. Oh, gelap. Oke.
Oke. Jadi itu anak-anak kecil umur 18 17 :49 mereka bantu untuk angkut-angkut segala macam. H. Kalau kita bilang KIF itu aman ya aman :56 tapi juga enggak aman. KIF kondisi normal ya normal tapi enggak normal.
:01 Kenapa? Karena masih ada jam malam. Eh sori. Pas Idul Adah itu kalau enggak salah malah pusat UMKM di sana yang kena :08 ruda. Aduh.
Rumah sakit anak juga ada yang kena. Jadi kalau misalnya kita ngomong :13 normal enggak normal juga normal. Iya. Tapi kalau dibilang enggak normal ah normal-normal aja mereka masih bisa :19 jalan-jalan. Kehidupan malam juga masih hidup.
Masih ada masih hidup ya kan. Moga-moga buku ini :25 lagi proses untuk translate ke bahasa Ukraine. Oke. Berapa cetak? Berapa banyak?
dikit :33 nanti paling ya lempar ebook aja siapa sih juga yang masih mau fisik iya tapi ada lag alfa tadi kan lu bilang :39 gen alfa minimal anak gua tahulah bokapnya bisa beneran buku legitlejit :45 enggak cuma ibu jadi gua ngajar di empat kampus ini :50 ee kotanya enggak cuma di kif jadi ki nizin sama ostroh :55 itu kayak tiga kota besarnya lah tiga kota besar kampus desainnya sorry itu sih enggak ada yang di bawah :01 umur 100 tahun. Jadi di atas 100 tahun semua. Kampus yang paling mengagetkan Ostro 400 :07 tahun. Buset kayak apa itu gedungnya? Klasik gitulah mereka punya European.
Iya karena mereka menyatu sama gereja. :14 Terus di bawahnya juga ada tempat nyimpan mayat sementara. :19 Ini memang Iya. Terus kalau Nizin tu keren. Kenapa?
Karena itu :25 itu kota itu hanya 30 kilo dari dari ini dari pus dari apa perbatasan. :32 Salah satu koleksi yang bikin gua kaget mereka ada satu pelaut :38 itu pelaut tahun 1000 sekian sudah pernah ke Indonesia zaman kerajaan :44 Banten. Hm. Dan petanya ada ee nama orangnya susah disebutin, tapi :49 yang pasti sebut susah orang-orang Ukraine. Tapi dia ini orang yang riset di daerah Hawaii kalau enggak salah.
Ada :57 ada hewan penguin apa-apa di pakai nama dia. Pulau juga ada nama dia. Nah, jadi :02 memang perjalanannya lumayan. Terus ee Oh, ada satu juga kafe yang dia naruh :08 plakat Kairil Anwar. Kairil Anwar.
Iya. Kairil Anwar. Hadis writer. Heeh. Nah, terus :16 Kairil Anwar ini juga ada satu lagi plakatnya di puncak gunung di mana gitu, tapi di Ukraine.
Mereka capek-capek :23 untuk bawa pelakat itu ke atas gunung. Heeh. Jadi dapat dari mana poet ya? Poet. Puisi kan?
:29 Puisi apa? Tapi gini ee mereka merasa puisi-puisi si Karil Anwar ini :37 mewakiliah semangat perjuang. Nah, struggle. Nah, itu terus dua kampus di KIF ya. :44 Nakim sama satu lagi Kif Mohila.
Kif Mohila ini kampusnya tidak di bawah :49 presiden, tapi di bawah perdana menteri. Pada intinya ya kita dua bangsa yang berteman lama :55 tapi saling melupakan. Itu aja sih. Saling melupakan. Iya.
Tapi ee pesan utama :01 yang lu mau sampaikan dari buku ini apa sih? ya, bahwa sebetulnya kita punya banyak, :08 sorry to say saja, kita tuh berhutang tanpa orang Ukrain enggak ada orang di :14 dunia ini mau membahas kemerdekaan Indonesia di PBB. Masa? :19 Iya. Jadi namanya Manulinski.
Manulinski itu bikin surat waktu itu ya. Bikin surat ke PBB supaya eh ini ada :26 Indonesia nih merdeka lu mesti ngebahas ini tanpa surat dia. Enggak ada kedaulatan :32 di Indonesia. orang di dunia enggak ada yang perhatiin pada saat itu. Pada saat itu ya kalau enggak ada :38 makanya kan kalau enggak ada Manulinski enggak ada Indonesia dong sekarang.
Nah, kalau sekarang buat yang baru 3 Tips Utama untuk Jurnalis Pemula :44 mulai-mulai jadi jurnalis, kalau misalnya mereka beneran serius pengin jadi jurnalis, pengin berkarir panjang, :51 apa tiga tips yang menurut lo harus lakukan untuk bisa berkarir di media, :57 terutama di Indonesia lah. Wartawan ya? Hm. Satu. Siap-siap sakit :03 jiwa.
Oke. Kenapa? Ee pressure-nya tinggi karena pressure :09 sempurna. Harus sempurna. Ee yang namanya sempurna kan lu harus datang lebih awal, lu pulang paling belakangan, :16 lu harus siap riset, lu harus cepat kerja lu.
Ya, jadi ya lu siap sakit, :22 siap gila lah ya. Yang kedua, sabar. Oke. Enggak ada jurnalis senior junior :32 tuh enggak ada. Yang ada jurnalis tua sama muda.
Udah gitu aja. H ya. Jurnalis tua tuh enggak ada. Kenapa? :39 Ya karena memang dia terus bekerja.
Jadi hitungannya senior :44 itu jurnalis yang ee terus mau belajar dan siap. Enggak ada jurnalis beruntung. :50 Yang ada jurnalis siap. Jadi waktu itu saya dipang ada telepon masuk Mas. Bisa enggak besok hadir waktu :56 tanda tangan Obama dengan Boeing?
Ee Obama bakal menyaksikan jam 5.00 pagi :02 kita harus sudah siap, jam .00 sudah harus dari di depan. Hm. Udah dong kita datang segala macam :07 segala macam rapi gua datang ee diperiksa manusia, diperiksa anjing, diperiksa detektor segala macam. Sudah :13 selesai masuk lapang ke ruangan. Masuk ruangan gua udah bilang nih, gua enggak bakal bisa ngambil gambar nih.
Kenapa? :19 Lensa gua pendek. H aduh gua mesti nyari sesuatu yang lain nih. :25 Alhamdulillah Obama men kekunci. Jadi dia kan ini ruangan nih :32 ruangan dia lewat samping dong.
He eh announcernya kan bilang :37 President of United State. Lala Obama udah jalan nih bayangan tuk tuk tuk tukunci enggak bisa buka. :43 Oke. Wartawan yang enggak siap dia akan cuman ketawa doang. gua nulis.
Hm. :50 Kenapa ya? Gua tahu gua ada keterbatasan untuk kamera ya. Gua mau ngus itu :56 atau misalnya waktu itu belajar karena waktu gua di Aceh pun seperti itu. Gua baru masuk gua harus ke :03 Aceh gua harus siap dengan kondisi.
Nah, wartawan harus siap. Lu suka enggak :08 suka. Dan di sini ada peran PR. :14 IR membantu kami provide informasi, provide segala macam. Nah, itu PR butuh kepekaan gitu.
:21 Oke. Heeh. Jadi, kurang lebih begitu ya. Heeh. Tapi apa bedanya pas lu jurnalis di Perbedaan Mengajar di Kampus vs.
Praktik di Lapangan :26 lapangan sama lu ngajar di ruang? Oke. Oke. Ee :33 sebetulnya enggak ada beda ya. Sebetulnya sama saja.
Jadi wartawan yang baik, jurnalis yang baik itu pembelajar. :39 Belajar terus. Hm. Editor yang baik itu juga sama. Dia :44 tidak ngajarin tapi bimbing.
Ee aku masih ingat banget ketika 2000 :51 2016 kalau enggak salah waktu itu ketemu sama Pak Renald Kasali. Ini boleh entar si Pak Ren di ditag aja tuh. :58 I Pak Renat waktu itu ngomong waktu itu ee kami sedang ada project bareng bikin buku. Dia ngomong God bentar lagi itu :06 dosen tuh udah enggak relevan. Hm.
Saya cukup kaget kan ngomong profesor :11 nih. Kenapa, Prof? Oh iya, kemajuan zaman itu zaman sori zaman. :18 Kemajuan zaman kemajuan zaman itu membuat :23 dosen tidak relevan. Loh, kenapa, Prof?
Kalau dulu el di kelas :30 dia memberikan informasi ya, ya dia mengasih ilmu yang ee dia sudah :36 kuasai. Nah, sekarang ngapain lu susah-susah datang ke kelas? Sementara di Google :42 sudah ada semua. Hm. Ya.
Nah, terus gimana dong, Prof? Nah, lu harus bisa ngasih apa yang enggak ada :49 di Google? Konteks. Oh, gua pikir kon inin. Iya, konteks.
Oke, konteks. :54 Konteks kan enggak cuman dari tahu. Hm. Ya kan ada wise di situ. Ada wisdom kan.
Wisdom. :00 Wisdom. Experience lah. Jam terbang lu beda lah. Iya.
Itu yang mungkin membuat :06 banyak civitas akademika itu tergagap-gagap. Kayaknya enggak cuman sekarang dari dulu ya. Makanya dari dulu :12 kan selalu ada kata-kata kampus adalah menara Gading. Kenapa? Ya karena memang dosen-dosennya enggak pernah :19 lapangan ya.
Ee ngajar ngajar jadi jurnalis dia enggak pernah nulis berita, dia enggak :25 pernah ke lapangan nyari berita, dia enggak pernah ngulik berita. gitu kan itu saya nyolong :30 dokumen misalnya atau dari dokumen itu bisa mereka tulis jadi sesuatu yang berharga, berita yang berharga :36 dosen itu enggak pernah terus ya apa yang mau kasih ke mahasiswa. Nah, itu loh. Nah, jadi ee justru dengan :44 kondisi sekarang tantangannya adalah bagaimana ya itu lagi mempertemukan antara dunia akademik :51 dengan dunia privat hm dengan dunia kerja. Hm.
PR pun juga sekarang banyak yang stres :58 kan. nerima junior, nulis kagak bisa ya kan planning entah :06 tuh kan. Ee ya udah deh lu angkat-angkat barang aja gitu ya kan. Ya secara secara tantangannya memang :12 beda lah dengan PR hari ini sama PR 10 tahun lalu gitu dan kualitas yang dicari juga beda gitu ya :18 kan. Tapi pada kenyataannya kerja PR tapi kayak gitu gitu.
Yes. Tapi yang tadi poin yang pertama yang tadi lu dibahas :23 pertanyaannya Mercy lah. Di luar tadi ya harus bersih dan lain-lain. Yang penting itu ya pintar in the way that lu mungkin enggak paling :30 pintar di kelas lu. Lu bukan book smart lu bukan yang pokoknya bukan ranking 1 2 3 gitu tapi :36 lebih kayak strategic thinker karena puting context wisdom experience tuh :41 penting ya kan.
Lu pintar tapi lu enggak bisa menyambung cerita nyambungin :47 connect the dots juga percuma. Kan sebagai PR menurut gue yang penting satu tuh penting nomor satu tuh ya :52 you have to be a strategic thinker i karena you get paid for that ya kan lu enggak perlu pintar tapi lu enggak bisa :58 membuka jalan buat klien lu buat teman-teman jurnalis buat buat e policy maker untuk menjadi ee :05 mencapai tujuan ini percuma i ideas tuh priceless penting banget tuh ya string thinker :10 iya itu yang yang harusnya sekarang jadi tantangan itu adalah dunia kampus :16 kenapa ya kalau lu mau dapat produk yang cepat diserap oleh pasar ya. Ya, dosen lu harus pintar, harus ee step ahead :24 ya. Bisa memberikan konteks tadi. Iya.
Kalau enggak ya udah cuma sekedar lulus IPK :30 empat kali tapi I kum laut segala macam. Tapi doesn't mean anything. Iya. Doesn't mean anything. Udah itu :36 doang.
Iya. Eh itu juga probably one thing yang mungkin harus diadress juga lah di Indonesia tuh gaji dosen gitu kan. Jauh :44 Bro. Maksudnya gini, gua dulu setelah gua S2 adalah a moment itu di mana gua :51 mikir apa gua S3 ya. Tapi kan kalau S3 di Amerika tuh very specific.
Oh, spesifik ya. PhD soalnya :57 PhD lu, lu ngajar lah. That's it. Enggak ada gunanya buat yang lainnya gitu kan. Dan programnya juga gunanya :02 gitu.
Sempat ngobrol berat berat. Tapi ee di sana itu pada saat lu jadi :07 dosen apalagi kalau lu udah ten lu set for life, man. Lu dapat duit riset, lu dapat ya segala :13 macam. starting salary udah over misalnya kampus-kampus besar ya over 100,000 misalnya :19 lu kerja 9 bulan dari 12 gitu summer lu off you get you know do your research :26 whateveruran kalau lu ngajar pun lu dapat duit lag nah ini kan yang :33 jauh banget gitu sama di Indonesia pada akhirnya kampus yang paling bagus di Indonesia pun :38 Heeh ya yang akhirnya gua malas untuk ngajar di sana udah jauh g kan cuman menang warna warna kuning doang gitu kan. :45 Hm.
Duitnya bikin lu ketawa doang. Iya. Ya, kalau lu gimana ya? Apa yang :50 mau lu harin? Kalau lu mau hidup dari situ enggak layak cuy.
Kecuali lagi-lagi lu dipaksa melakukan hal-hal yang :57 harusnya enggak dilakukan oleh dosen. Lu moyeklah, apalah ini itu kan. Tapi eh ya itu concernnya lah. Maksudnya :05 kalau secara logika I'm not saying that semuanya akan kayak gitu. Tapi kan secara logika kalau lu kualitas :13 ya dari dari renumeration dari gaji aja lu segitu lu mau output-nya apa gitu :21 ya kan.
Gimana lu mau dapat best of the best untuk mengajar kalau kompensasinya :27 ya kayak gitu. Sedangkan kalau di luar sana lu masih W, Bro, itu gua gua ingat gitu kan ada eh :34 associate professor gitu yang mau berlomba-lomba untuk dapetin posisi tanger yang terbatas ya. He :41 man, lu mesti research banyak-banyaknya. Benar-benar bagus nulis paper, masuk ee apa namanya? :50 Ee international journal.
Heeh. Masuk jurnal, masuk international journal. sampai akhirnya lu oke. :56 Heeh. Tapi pas lu udah set, Bro, lu udah dapat hidup.
Lu sumur hidup, Men. Iya, sumur hidup. :01 You know, lu cuman mesti maintain through research untuk maintain. Tapi lu enggak bisa :07 dipecat, enggak bisa di-apain unless lu ada konduct. Exactly.
Jadinya tuh benar-benar terjamin lah. :14 Pas lu mendedikasikan hidup lu buat ngajar ini, hidup lu dijamin gitu. Yang :19 itu mungkin kalau itu benar, itu benar. Eh, moga-moga moving forward juga ada :24 perubahan lah di Indonesia. At least dalam konteks ya mungkinlah nanti cucu kita lah ya.
Misalnya di mana lu jadi profesor tuh :31 jadi I beneran bukan hanya gelar doang gitu, tapi lu benar bisa hidup, bisa sejahtera :38 gitu. Anyway, eh Algooth, eh it's been fun talking to you. Seru Penutup & Rencana ke Depan :45 selalu kan kita ngobrol-ngobrol kapan kapan datang lagi. Ee kalau lu punya buku berikutnya apa lu baru balik dari :52 mana punya cerita-cerita insyaallah mampir-mampir tahun depan. Tahun depan tahun depan ke mana?
:57 Ini kan aku lagi ngerjain satu tulisan buat kampus di Belanda. Hm. :03 Ee tapi enggak tahu apakah nanti aku akan ke sana. Tapi yang pasti kemarin untuk yang Ukraine nanti akan ada :10 conference gede di Berlin. H he.
Tapi juga belum tahu ya namanya juga :16 kita kan tergantung pada penyandang dana misalnya bisa ya gue jalan lagi ke sana present terus mungkin akan ngajar lagi :22 di Ukraine. Oke mungkin untuk next-nya gua akan coba untuk riset soal dunia PR di Ukraine :29 terutama PR perang ya di kondisi perang gimana mereka bikin narasi dan segala macam :35 ya. Ini menarik juga buat kita. Interesting. Thank.
Thank you Algooth. Good luck with :41 everything. Sekali lagi kita tepuk tangan dulu buat Algooth. Luar biasa. :46 Thank you everybody.
Thank you. [Musik] Indonesian (auto-generated) All From Proxemics Podcast Podcasts Related For you Recently uploaded Watched :43 2025 True Crime Stories | “48 Hours" Full Episodes 48 Hours 2.2M views • 6 months ago Padres vs. Royals Game Highlights (7/19/26) | MLB Highlights San Diego Padres 39K views • 17 hours ago New :24 🔴 Gabriel Iglesias: Aloha Fluffy [Full Special Livestream] Laugh Society 1M views • Streamed 2 months ago :42 Comedy Store Snitch | Ep 230 | Bad Friends Bad Friends 9.6K views • 27 minutes ago New 🔴 Gabriel 'Fluffy' Iglesias - Hot & Fluffy [Full Special Livestream] Laugh Society 1.1M views • Streamed 3 months ago :43 Broken Promises | “48 Hours" Full Episodes 48 Hours 2.3M views • 9 months ago :58 🔴 Must Watch! Superfan DELETED SCENES S1-8 | The Office US The Office 1.6M views • Streamed 7 months ago :14 Bobby Lee & Andrew Santino on Joe Rogan, Joke Stealing, Taylor Swift-Travis Kelce & Kevin Hart Club Shay Shay 978K views • 5 days ago New :21 Bongkar Strategi Public Affairs & Masa Depan SEO di Era Zero-Click AI | 036 Proxemics Podcast 334 views • 4 days ago New :54 Murderous Elements | "48 Hours" Full Episodes 48 Hours 1.1M views • 3 months ago :20 Ali Siddiq and The John Wick of Comedy | TigerBelly 561 TigerBelly 168K views • 2 weeks ago :51 🔴 Insanely Funny Superfan DELETED SCENES S1-9 | The Office US The Office 910K views • Streamed 2 months ago Murder in the Parking Garage | Full Episode 48 Hours 2.6M views • 9 months ago LIVE Refreshing Spring Jazz Music To Stress Relief - Soft Jazz At Lakeside Cafe Ambience For Unwind Quiet Indoor Ambience 923 watching :10 Padres vs Royals Postgame Wrap Up Show: Padres 19 Royals 2 The Padres Wrap Up Show 2.1K views • Streamed 11 hours ago New DEDDY SITORUS: "KETIKA APARAT PENEGAK HUKUM DIJADIKAN BUDAK KEKUASAAN, SELESAI NEGARA KITA!" Indonesia Lawyers Club 129K views • 1 day ago New :56 48 Hours full episodes about people leading double lives CBS News 534K views • 3 months ago :37 Theo Von & Rimbo The Kimchi King | Ep 310 | Bad Friends Bad Friends 2.5M views • 4 months ago :37 True-crime cases with recent developments | 48 Hours Full Episodes 48 Hours 1.2M views • 3 months ago :57 Rudy Shoots Her Shot with Marcello Hernandez | Ep 304 | Bad Friends Bad Friends 1.3M views • 6 months ago