Episode 011 · Full House · 18 Sep 2025

Krisis kepercayaan publik: kekuasaan yang tone-deaf, flexing & gema '98

81 min · Bahasa Indonesia · Proxemics Podcast

Ketika para pemimpin dianggap ‘tone deaf’, bagaimana sebuah negara tergelincir ke krisis kepercayaan? Proxemics 011 membedah gejolak terkini Indonesia lewat kacamata komunikasi dan public affairs — dari kultur flexing pejabat hingga PHK terselubung dan viralnya ‘Tuntutan 17 + 8’.

Tim menganalisis blunder verbal dan non-verbal yang membuat publik geram — keterputusan antara wakil rakyat dan rakyat — dan membaca kultur flexing sebagai bom waktu di tengah PHK terselubung dan kesulitan ekonomi nyata.

Mereka membandingkan situasi sekarang dengan krisis 1998 — apa yang mirip, apa yang fundamental berbeda di institusi negara — menimbang teori konspirasi versus inkompetensi, dan menyebut tiga masalah inti bangsa: pembiayaan, regenerasi, dan desentralisasi.

Misinformasi dan deepfake jadi sorotan utama, bersama debat penutupan TikTok Live, kemarahan publik pada Sri Mulyani (‘taxation without representation’), UU Perampasan Aset, dan langkah PR geopolitik Prabowo bersama Putin dan Kim Jong Un.

Dari sisi brand, mereka membedah langkah krisis berani Grab dan gerakan viral ‘Tuntutan 17 + 8’, lalu berargumen kenapa earned & owned media — white paper dan GEO, bukan sekadar SEO — jadi masa depan PR. Mereka bahkan mempertanyakan apakah demokrasi Indonesia cacat karena minimnya edukasi, dan menutup dengan refleksi ‘man in the mirror’: akuntabilitas dimulai dari diri sendiri.

Buat siapa pun yang ingin memahami bagaimana kegagalan komunikasi di puncak bisa mengguncang sebuah negara — dan bagaimana brand seperti Grab semestinya merespons saat publik sedang sensitif — ini tontonan wajib. Layak ditonton.

Loncat ke

  1. 00:00 Intro
  2. 01:41 Kegagalan komunikasi sebagai akar
  3. 10:11 Flexing sebagai bom waktu
  4. 14:31 Krisis '98 versus sekarang
  5. 22:30 Bahaya misinformasi & deepfake
  6. 23:38 Debat penutupan TikTok Live
  7. 38:37 Kemarahan terhadap Sri Mulyani
  8. 50:25 UU Perampasan Aset
  9. 57:31 Membedah Tuntutan 17 + 8
  10. 1:02:41 Langkah PR berani Grab
  11. 1:14:42 Masa depan PR: AI & GEO

On the mic

Quick facts

FAQ

Apa penyebab krisis kepercayaan publik?
Akumulasi kekecewaan: komunikasi yang tone-deaf dari atas — gestur meremehkan dan pernyataan offside — diperkuat kultur flexing di saat sulit.
Apa itu ‘Tuntutan 17 + 8’?
Sekumpulan tuntutan publik viral yang dibedah panel, bersama UU Perampasan Aset, saat isu keadilan hukum jadi pusat kemarahan publik.
Bagaimana PR berubah di era AI?
Kru berargumen earned dan owned media jadi kunci GEO — dikutip dalam jawaban AI — bukan sekadar SEO konvensional.

Listen & watch

YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.

Transcript

Tampilkan transkrip lengkap

Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.

[Musik] Hei, eh welcome to another episode of Proximix. Eh, as usual, it's a full house edition. So, ada gua Mercy, e Stef seberang gua, sebelah gua ada Adwi dan di sana ada Sofyan. Eh, anyway, eh kita nih starting the podcast at a somber note lah with all the things that is happening gitu kan selama ini. the past couple of weeks eh jadi first and foremost condolences to all the victims eh their family ya kan yang jadi korban eh akibat the unrest yang kemarin-kemarin ini e terjadi multiple cities it's it's everywhere bukan hanya orang Indonesia ngomongnya kejadiannya juga seluruh Indonesia tapi juga even people outside the country ya eh it definitely attracts International spotlight lah coverage.

Anyway, gimana Sofyan lu mau kick off any anything yang lu pengen soroti specifically? Iya. Enggak tahu ya, speechless aja sih maksudnya apa yang terjadi h apa beberapa waktu terakhir ini ya. Kalau ya artinya kalau kita yang bergelut di dunia komunikasi public affairs tentunya kita lihat apa yang rangkaian yang terjadi ini ya kegagalan itu sebetulnya kegagalan komunikasi, kegagalan apa proses pengambilan kebijakan yang salah entah apapun salahnya lah yaitu dan gua mau kasih catatan di sini kita enggak akan masuk ke wilayah-wilayah apa konspirasi siapa dalangnya segala macam kenapa sih lu membatasi Iya, gua suka orang untuk mengekore topik ini dari lu dulu. Dari lu dulu.

Iya, dari lu dulu. Elgak akan masuk ke ranah konspirasi. Iya, karena kita harus melakukan sesuatu itu berbasis fakta. Hm. Asli dan data gitu maksudnya.

Nah, yang kalau kita lihat sekarang yang terjadi ini pertama yang menurut gua agak disayangkan sebetulnya dari pengambil kebijakan kita adalah enggak mendengarkan fakta-fakta, suara-suara yang ada gitu di bawah. Yang tadinya damai-damai aja kan mulainya dari yang kecil-kecil dong pastinya. Apa namanya? kayak protes di media sosial, protes cerita-cerita ini sori sebelum media sosial mungkin di warung-warung kopi, orang-orang yang sekarang cari kerja susah, ekonomi slowdown lah. Kita ada fenomena macam-macam itu yang disebut-sebut jali rohana segala macam, PHkphk segala macam.

Bahkan ee ini dari teman-teman ya, kebetulan kan gua besar di Jogja juga. H eh yang terjadi di teman-teman di bawah itu bukan PHK tapi pudo PHK. Kayak misalnya gini, lu tahu akibat efisiensi kemarin hotel-hotel ee tempat-tempat wisata ee itu enggak dipecat, enggak. Tapi enggak usah bekerja. Misalnya a certain days lu enggak usah masuk 10 hari gajinya dipotong.

Hm. Itu kan pudo PHK. karena enggak ada perputaran uang itu tadi hotel-hotel terus apa supermarket-supermarket kecil ee macam-macamlah itu kan di UMKM segala macam dan efisiensi ini terjadinya ke ke mana ke yang terdampak dari efisiensi ini kan juga yang bawah gitu. Kalau misalnya ASN dipotong, honor guru dipotong, kalau mereka dinaikin yang untung dan yang dirugikan siapa sih? Enggak mungkin juga kan misalnya ada guru honorer kalau dinaikin gajinya terus dia beli belanja Herme atau LV kan enggak mungkin dia pasti belanjanya untuk UKM-UKM.

Hal-hal kayak gini itu kemudian sudah disampaikan sebetulnya secara damai lewat berbagai channel ya. Ada yang menyuarakan langsung, ada yang via perantara misalnya kan kita tahu yang menyuarakan siapa sih yang bisa menyuarakan itu? civil society, akademisi, tokoh-tokoh influencer yang peduli sama isu-isu sosial hak kita l sebagai apa? Masyarakat enggak didengar justru yang diglorifikasi, sori gua pakai bahasa itu ya. Hm.

Pencapaian-pencapaian bos. Hm. Pertumbuhan sekian persen. Kan kita pernah bikin riset itu yang tahun lalu soal hilirisasi. Betapa klaim-klaim misalnya soal hilirisasi faktanya di tempat-tempat di mana apa ya hilirisasi dijalankan enggak memberikan kontribusi terhadap PDB daerah waktu itu daerah-daerah Maluku INDEF juga sudah ngomong soal itu.

Artinya memang ada kesenjangan itu. Ditambah lagi problem komunikasinya baru kita masuk. itu tadi problem public affairs-nya mengambil kebijakan tapi enggak kira-kira enggak berbasis apa data, fakta, substansi segala macam. Problem komunikasinya muncul. Apa kita tahulah problem komunikasi itu kan enggak cuma verbal ya.

Komunikasi ada gesture, ada segala macam ya. Jadinya yang wakil rakyat kita ini dimarahin sama ketuanya ya kan. Dia bilang wakil rakyat. Ketuanya siapa? Berarti kan majikan.

Majikan. Majikan. Rakyat itu majikan. Kok ketua sih? Ya kalau ada wakil ada ketua dong gitu ya.

Wakil ada ketua. Iya. I. Jadi kira-kira gitulah bahasanya. He ee itu ee buat gestur membuat selain pernyataan-pernyataan yang menurut kita sangat disayangkan ya.

ya ee itu membuat gestur yang dalam tanda kutip meremehkan situasi yang terjadi. Remehkan atau bahkan dalam dalam apa ee ekstremnya itu melecehkanlah kira-kira gitu. Melecehkan publik lah. Itu aja sih akal sehat macam-macam. Itu kan logika sederhana ya.

Iya. Itu sih kalau gua eh at least dari sisi komunikasi kan tadi lu ngomong jadinya both verbally sama nonverbally mereka tuh melakukan sesuatu yang off aja ya verbally lu ngomonginlah ah lu jangan samain gua sama ini dan itu ya kan itu aja udah offside maksudnya kok lu kok lu malah merendahkan orang yang lu harusnya represent right malah lu kecil-kecilkan ya nonverbally si joget-joget itulah ya kan tanpa mengatakan apa-apa lu melakukan itu tuh kayak ini nih serius enggak sih? Right. Nah, nah kalau kemarin itu kan gua lihat juga pada akhirnya ee si urusan kenaikan upah itu ya gaji apa tunjangan apa sih specifically tunjangan rumah. Tunjangan rumah.

Tunjangan rumah. Oke. Ya itu tuh kayaknya yang benar-benar meledaknya banget tuh kan. Hah? On top of all this craziness, lu tiba-tiba naikin eh tunjangan upah or both, right?

Itu tuh yang menurut gua it just shows how out of touch supposedly orang-orang yang harus mewakili rakyat sama rakyatnya. Menurut gua itu aja sih basically ya. Lu lu lu enggak ngerti what's going on gitu. Tapi iya itu ya to certain degree ya. He.

Cuman kita juga harus paham bahwa itu dilakukan bukan tanpa dasar. Nah, maksud gua, gua bukan gua sepakat sama apa yang dilakukan itu kan. Tapi kan secara umum, secara makro ee ee negara butuh duit. Iya. Ya kan?

Negara butuh duit. Ee yang dilakukan itu adalah dengan ee menaikkan pajak. Heeh. He. Ee dengan ee ee efisiensi yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat ya kan.

Sementara dalam upaya untuk mendapatkan ee penghasilan tambahan buat negara, pemerintah dalam artian presiden itu butuh dukungan DPR kan. Iya. Mereka butuh dukungan DPR. gimana nih caranya supaya DPR cepatlah h me me melanggengkan undang-undang yang dibutuhkan atau kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi katakanlah ya kan h untuk melangkan itu ya dikasihlah insentif tambahan kepada anggota dewan ini. Insentif tambahannya itu dalam format tunjangan.

Nah, tunjangan ini jadi ee ee ee kasarnya masyarakat terjepit ee ee ditekan ee DPR justru dimanjakan ya kan. Itu yang yang yang menjadi ee ee pertanyaan banyak orang. Ee tapi ya ee ada juga yang memaklumi bahwa itu harus dilakukan untuk mempercepat ee program yang dilakukan. Sayangnya tunggu dulu, jangan main mau motong-motong aja. Enggak ada dia suka menuduh sih memang tapi gesture lu nonverbal nih gua gua jangan berjoget gua belakangan nih.

I have a lot of opinion nih on that. Iya. Nah, ee tadi ee yang gua ee poin gua juga adalah kan gua jadi lupa. Ah, poin gua juga itu e lanjutlah dulu Sofan. Enggak sebenarnya pandangan Adwi Mercy, Sofyan tuh benar lah ya.

e punya opini mengenai kenapa ini semua terjadi background why everything need to happen. Yes. Tapi at the same time sebagai komunik sebagai orang yang bekerja dan bergerak di bidang komunikasi sebenarnya simpel aja sih. Yang mereka lakukan itu adalah satu tadi itu ya kan ee insensitif karena mereka tuh tidak tidak merasa bahwa yang mereka lakuk mereka komunikasikan secara verbal dan nonverbal itu sangat sensitif terhadap masyarakat yang dalam kondisi sekarang. Hm.

Kedua adalah flexing culture yang terjadi. He enggak cuman di ee enggak cuman ini ya kita enggak cuma ngomongin DPR, pemerintahan dan lain-lain. Ini semua orang lah e online itu memiliki flexing culture yang Indian of the day itu kayak mungkin some people see it as an aspiration. Gua mau kayak dia gitu kan. Tapi banyak juga yang ngelihat what's the point of doing all of this.

Lu duduk diis class, lu bawa whatever, lu show show your watch, ya kan? 11 miliar di di jarah. Hm. All those stud dan dikembalikan. Oh, terus.

Jadi dengan kondisi eh socioeconomic right now, flexing culture nih ini ya em kayaking bomb aja sih. He ee gua enggak membenarkan apa yang dilakukan sama orang-orang dengan menjarah rumah ee Bapak yang terhormat Syahroni ya dan em turut berduka em Ibu Sri Mulyani dan lain-lain. That story tapi at the same time ada pemicunya juga gitu. He. I feel like flexing ya itu hak.

Banyak orang yang bilang flexing itu hak gua lah duit gua. Gua cari duit sendiri dan dan lain-lain. Tapi at the same time you need to as a communicator yang tahu gitu lu harus aware your surrounding ya kan. Jangan melakukan hal itu di tengah kondisi saat ini yang akan malah memicu kemarahan orang. Iya, itu si itu itu yang yang itu dia poin gua tadi T death ya kan lu enggak enggak enggak sadar atas apa yang sedang terjadi di luar sana tapi lu tetap tetap ee tetap lakukan apa yang biasa lu lakukan.

Sedangkan itu tuh kan Indonesia banget, Bro. Hm. Susah ngelihat orang senang, senang ngelihat orang susah. Lu harus tahu itu. Enggak, enggak, enggak benar, Bro.

Itu itu Indonesia gua diseg enggak ada. Lu boleh enggak seperti itu, tapi Indonesia tuh begitu. Bos manusia pada umumnya sih tahu manusia pada umumnya enggak sih itu? Enggak, enggak enggak itu tahu enggak betapa baiknya Indonesia ya. H K maksudnya suara-suara nih dari 178 yang apalah itu tuntutan-tuntutan plus 17+8.

He. Ada enggak permintaan hukuman mati kayak di Cina ya? Enggak ada, Bos. Kita cuma minta perampasan aset. Artinya sebegitu beradabnya kita sebagai bangsa beneran apa hubungannya dengan susah ngelihat eh apa Heeh senang lihat orang susah sama susah kalau mati kan lebih susah lagi gitu kalau ekstrem lah lah makanya kalau dimiskinkan lu masih hidup masih bisa cari duit lagi kan gitu kira-kira enggak maksudnya kan lagi tapi itu in general lah a lot of people are like that maksud gua pada saat lu flexing itu tuh all eyes on you man ya kan for better or worse mungkin ada orang yang oh ya keren juga ya tapi man a lot of hate ya apalagi di situasi apa kondisi sosioekonomic sekarang tuh ya flexing udah enggak jadi aspiration gitu lu jadi kayak membuka diri lu untuk jadi kayak i tone def tadi dengan kondisi saat ini sekitar lu tuh lagi gimana open your eyes gitu lu mau diselidiki do ya do it enggak sih semua orang yang flexing-flexing anak polisi lah anak inilah Nah, ngertinya lu udah mulai kasusnya langsung dimulai, bapaknya diperiksa ya kan.

Tapi balik ke poinnya Sofan tadi ya, tidak ada tuntutan untuk ee hukuman mati maksudnya ada tapi kecil banget gitu maksudnya. Itu menunjukkan bahwa yes, kita manusia beradab dan sesuai dengan ee undang-undang mau undang-undang sih em konvensi hukum hak manusia konvensi hub itu memang enggak benar lah. Tapi on the other side of things, negara-negara yang menerapkan itu maju cuy. Takut. Undeniable.

Enggak. Artinya gini loh, gua mau ada satu yang gua mau omongin adalah by default kita ini bangsa beradab. Kita bahkan lebih dulu beradab daripada Eropa-Eropa masih berburu meramu. Kita sudah punya kerajaan di sini. Jadi gini, tunggu dulu.

Enggak itu itu historically inacure banget. Eh eh anyway tadi lanjutan-lanjutan yang mau gua historically misleading. Nah ini politicianpician model begini ini luar sana di meja ini kita politician lu harus baca Reimaji Indianya karya siapa? Andrik Purwasito lu harus baca itu bosnya Sofyan dulu Pak Andrik itu memang memang seniman dan di luar pakem satu lagi beradaban ya. H tahu enggak bedanya 98 dulu sama sekarang?

He apa? Apa? Nah waktu 98 itu yang terjadi apa? Institutional collapse kan. Hm.

Semua kelembaga negara itu collaps. Enggak dipercaya enggak di apa namanya? Akhirnya apa yang terjadi di gimana cara mitigasinya? Tunggu dulu. yang yang collabs apa aja for kurang terlalu iya kita pernahlah di sana kecuali awi lah gua enggak tahu jual gua turun ke jalan cuy 98 untuk mengingatkan aja enggak kita yang pertama bikinnya turunkan Soeharto.

Jadi gini gini gini gini yang yang collaps itu kepercayaan terhadap eksekutif presiden itu sudah pastilah itu center apa ee problemnya. Terus institusi wakil rakyat ya DPR waktu itu enggak dianggap sebagai enggak menjalankan fungsi agregasi sama artikulasi kepentingan publik. Ton def itu tadi aparat keamanan dinilai sebagai instrumen represif waktu itu ya enggak ada nobody trust ee institusi-institusi itulah termasuk apa institusi apa namanya hukum dianggap bagian dari rezim waktu itu kan begitu sebagai tools untuk perangkat-perangkat turunannya semuanya dirombak kan akhirnya apa yang terjadi digeser ee ada narasi itu geser konfliknya jadi konflik horizontal ingat kan sama Tiongkok waktu itu etnis Tiongkok i sebagai triple minoritas again very triggering Iya terus habis itu apa habis itu yang terjadi roll of apa rollingnya ingat tragedi Sampang tragedi apa Pontianak Ambon horizontal kan itu orang-orang sekarang enggak tahu dulu gimana kepala-kepala dipenggal terus dipajang-pajang sadis cuy itu Kalimantan lu tahu enggak traumanya masyarakat Indonesia ini enggak terjadi sekarang enggak terjadi sekarang tanpa mengurangi respect for the victims. Tapi definitely different level, different yang terjadi sekarang kita sudah punya apa ya institusi eksekutif ee turun memang kepercayaannya, tapi enggak enggak sampai kehilangan kepercayaan, enggak seekstrem. Enggak seekstrem itu.

Wakil rakyat dulu yang sekarang ini cuma berapa sih yang terdampak yang disebut state namanya itu? 45 L orang lah. Lima dibandingin berapa anggota DPR sekarang? 540. No, no, no.

Itu sama DPD-nya se H DPR DPR artinya itu kan kecil gitu. Ada banyak juga DPR-DPR yang memang turun ke bawah emang actually doing their job lah. Iya ya. Tapi ee ya maksudnya Sofyan dulu nyalek gitu kan mau jadi anggota DPR. Sekarang agak deg-degan enggak sih kalau lu nyalek?

nyalek gua nyalek dengan idealisme lah waktu itu. Makanya menang ya makanya gua enggak menang. Ini udah gua enggak usah menjelaskan kenapa-kenapanya lah apa ambil ambil kesimpulan sendirilah nyalek idealisme pakai ide gitu. Ini partai apa sih? Hura waktu itu 2000 gua jelaskan ya 2014 gua berniat nyalek di kampung gue di Jawa Timur Samware itu dengan modal idealisme lah kira-kira waktu itu gua gua jualan ide, gua jualan integrity, gua jualan apalah semua hal-hal yang idealnya di di masyarakat demokrasi lah.

Long story short lu enggak beli gak beliing kagak laku. Nah, yang ada nih kan ya kita tahulah yang apa yang terjadiah. Inflasi berapa sih biaya buat kampanye kita. Gua gua jujur waktu itu gua miskin lah. Enggak miskin artinya gua kelas menengah yang enggak punya duit lah buat buat kampanye, buat ini segala macam.

Dan sekarang biaya untuk terpilih duduk itu ada. Gua gua akan bilang bahwa banyak anggota yang enggak enggak pakai money politik atau apa ya. Tapi ee banyak juga yang ngambil cara-cara instan yang enggak terdidik. Banyak banget, Men. Makanya muncul muncul teori konspirasi bahwa bahwa ei ei eh bahwa kayak Uya iya kan Nava, Eko yang selebriti lah itu sebenarnya jadi sasaran politisi grass root maksudnya kader gitu.

Misalnya lu e kader, lu punya masa, lu membangun karir lu di dunia politik, lu hajat hidup lu cuma di situlah. He. Eh, pas mau pemilihan pemilu dipotong lu sama selebriti yang punya masa. Nah, ini orang-orang yang yang yang sakit hati. Iya.

Iya. Konspirasinya, teori konspirasinya. Iya. Itu antara konspirasi sama enggak inse ya kan themselves on the foot man. Kan mereka ngeluarin statement.

Iya, mereka yang joget-joget. Ngerti enggak loh maksudnya? Mungkin mungkin setelah kejadian gua enggak tahulah di belakangnya siapa yang ngomporin. I don't know. Tapi itu semua enggak akan terjadi kalau lu berlaku dengan sor Arif.

Buat gua ya. Joget-joget itu gua setuju sama lu, Ci. Joget-joget itu ses aja sih. Kayak trigger pemantik aja. Dari kemarin joget-joget enggak ada persoalan sebenarnya.

Ya, itu konteksnya. Kalau lu mengerti bahwa lu nih udah diposisi, diperhatikan oleh semua orang, momennya itu jadinya jadi pemicu. Padahal sebenarnya enggak apa-apa. Eh, he enggak lu kira kalau mereka enggak joget-joget rakyat enggak marah. Tetap marah juga, marah-marah aja lu.

Di DPR itu bisa jadi persoalan loh. Kalau joget-joget itu kan kemudian dibingkai seolah-olah terjadi karena mereka dapat tunjangan. Padahal itu adalah perayaan perayaan yang lain bukan e itu acara pidato tahunan, sidang tahunan. Terus dia perayaan merayakan itu dengan nari-nari gitu. Enggak nari-nari juga ada musik habis itu orang ya ke bawah suasana gitu kan.

Tahun lalu joget-joget, 2 bulan lalu joget-joget, sebelum-sebelumnya juga joget-joget. Enggak pernah persoalan. Iah. Intinya dari konteks komunikasi ini supaya kita enggak berlarut-larut ee kita bahas tema-tema lainlah. Heeh.

Yang penting tadi Sofan sudah ngomong juga bahwa ketika misalnya lu jadi sorotan publik, ketika lu mendapat amanah dari publik untuk ee ee ee melakukan ee suatu yang baik di DPR sana, jagalah perkataan, ya kan? Jagalah tindakan dan yang penting hasilkanlah kebijakan yang berpihak kepada rakyat. itu aja kan enggak kita mintanya sederhana kok lu mau digaji berapa juga terserahlah maksud gua sepanjang enggak enggak ada yang mempersoalkan itu apa soal gaji segala macam sepanjang haknya orang-orang ini yang diminta itu disediakan gitu enggak konteks komunik hak kosok ekonom sosial semua enggak konteks ekonomi nih kalau menurut gua mereka nih harus belajar sih bahwa apapun yang mereka katakan apapun yang mereka tunjukkan tuh dilihat gitu Dan di konteks komunikasi dan eh teknologi sekarang juga sangat berbahaya untuk difame menjadi sebuah cerita yang entirely different. Iya, sekarang pun gua masih ngelihat ya di Trad di X video apa dikasih caption apa itu masih dipercaya sama orang. Kalau lu lihat komen gitu komennya masih percaya kan?

He ada misalnya orang-orang yang ee ee secara sadar bilang eh ini enggak benar. Ini dua konteks yang berbeda tapi cuman beberapa dan dan diperburuk dengan teknologi sebenarnya. Deep fake video, deep fake content voice note itu tuh sangat-sangat kemarin ya pada saat e periode 25 Agustus sampai tanggal 1 itu banyak banget beredar yang memberikan banyak mis informasi kepada orang-orang itu online. Itu sangat berbahaya sih. Iya.

didukung oleh algorithm yes sosial media ini ya kan gua udah pandangan gua A muncullah tuh si A terus masuk sementara yang benar yang si B C D-nya ke mana karena jadi enggak enggak enggak ada di algoritm itu. Apakah ini yang membuat TikTok Live diband eh maksudnya dibekukan sementara lah dalam periode yang cukup memanas waktu itu. Menurut kalian apa? Em ya gini itu itu kebijakan siapa sih ya itu apa maksudnya apa KPI kah enggak ada hubungannya KPI lu perk apa urusannya diaak kalau statement statement statement TikTok kan bilangnya kan dia secara sukarela melakukan itu menutup fitur itu untuk sementara tapi apakah ini arahan dari Komdigi untuk menghambat gua enggak bilang gua enggak menuduh bisnis informasi ini atau menurut lu gimana menurut kan kita berbasis fakta ya gua enggak menuduh gua rasa itu hasil diskusi. Of course.

Antar com sama. Terus kenapa ada surat si KPI yang beredar di screen chat segala ada. Oh iya bahwa ya kebebasan pers bla bla bla segala macam. Enggak bukan bukan bukan yang membatasi. Oh enggak.

Ini konteksnya si liputan TV ya. Liputan TV dan liputan. Jadi ada dua hal berbeda kan sekarang kan. Jadi TV itu katanya ada himbauan untuk atau himbauan lah gitu. Himbauan.

Nah, kalau TikTok kan live-nya enggak bisa dipakai. Heeh. 2 kali 24 jam itu intinya kita enggak terbiasa transparan aja lah dalam mengelola negara ini. Udah deh transparan aja. Apapun yang dilakukan aparat ya transparan aja.

Apa yang dilakukan publik ya transparan aja. Supaya kenapa harus penting transparan? Supaya kita bisa akuntabel. Yes. Sesimpel itu.

Hm. Cobalah disuarakan, tapi moga-moga lu enggak dipenjara. He kayak Ahok anjir. Ya maksudnya the last person yang ingin melakukan itu masuk penjara, cuy. Enggaklah itu gara-gara sekali lagi itu problem komunikasi.

Itu dia. Balik lagi ke poin sebagai orang komunikasi kita harusnya cukup cukup cukup paham bahwa apapun yang kita sampaikan di luar sana itu bisa dengan mudah di frame untuk kepentingan lain gitu. Jadi be aware of whatever you say, whatever you shows. Lu bisa diganti cuy, lu ngomong apa jadi apa. Gambar pun dengan mudahnya ditaruh aja gitu dengan adanya AI.

Jadi ini entar habis ini habis podcast ini tayang nih entar lu ngomongnya H dibuat potong-potong. He potong-potong. Balik lagi cuy. Maaf apa yang salah? Enggak ada yang salah juga menurut gua kecuali yang tadi.

Kecuali soal sejarah. Sejarah. Wah mistik tuh. Anyway, ini nih. Kan lu waktu itu udah sempat dong sebelum rusuh-rusuh ini ee pas awal-awal lah.

Pas awal-awal itu sudah mulai ini kan dipanggil mau dipanggil TikTok. Ingat enggak lu? Iya. Dari kementerian apa dari he kementerian ya? Kondisi pas gua lupa lah.

Tapi kita mau panggil maksud gua itu tuh udah ya lu lu harusnya demokrasi itu lawannya itu censorship. Udah clear itu rumus di mana-mana kan kayak begitu. Iya. Itu dia di tengah ini lu lcoba menyensor itu menurut gua juga of all the time lu mau melak mau mencoba menyensor lu kali ini gitu lu lakuin tuh orang makin antipati man kayak lu malah mau membungkam enggak boleh live TikTok right? TikTok Live enggak boleh gitu.

Tapi I agree to disagree sih. Maksudnya gua paham bahwa harusnya tuh tidak boleh diopress, harus ada some kind of freedom. Namanya juga apa namanya juga e demokrasi dan lain-lain. Tapi at the same time looking at the amount of eh fake video dan a lot of provokative ajakan untuk melakukan apapun itu yang sifatnya em anarkis. Sometimes gua merasa ini necessary dilakukan gitu for temporary, for that reason.

It unfortunate banget sih. Tapi that's at least that's my observation ya. I could be wrong. But at the same time gua rasa dalam momen-momen tertentu itu penting dilakukan demi keamanan juga gitu. Karena beneran deh kemarin tuh that those three days.

Iya. Dalam WhatsApp grup keluarga gua aja tuh gua ngelihat banget video-video yang Mak ini enggak benar sih. Hm. Iya. ini engak benar tapi gitu karena memori 98 apun itu itu semua di you write on that emotion share to the number of people in that group terus terus terus terus terus begitu it's not itu juga sih it's not the right way to do things juga dengan kondisi saat ini di Indonesia iya tapi lagi-lagi juga dengan algorithm mungkin what what the people around you are seeing tuh di feed terus you know yang kayak tadi Adwi sempat ngomong lu pas ngelihat satu ini dua Gua ini lu misalnya lu engage lah dengan konten tersebut kan lu baca caption-nya kan lu mesti klik tuh untuk baca caption lu lihatin apa dan sebagainya lu makin dikasih and then it's feeding into the fear right yes tapi eh ultimately itu ada hubungannya juga sama yang pengalaman the 98 lalu lu imagine buat orang-orang yang korban almost 30 years ag right 27 years ago itu tuh lu lu masih ingat kayak Ya, dengan jelas traumatik memang eh asli right even gua growing up di eh A lu antara Jakarta Pusat sama Jakarta Timur lah itu kan posisinya di situ aja tuh kayak ee ketakutan itu bukannya real beneran kayak cuman di seberang jalan lah kayak kasarnya itu it hits close to heart banget gitually for boomers ya maksudnya I can see when discussing about this issues to their eyes tuh beda gitu loh karena it hits close to heart jadi gua merasa this censorship tuh somehow necessary to avoid potential itu gitu emang secara prinsip memang salah ya demokrasi lu sensor that's oppressing whatever but at the same time masyarakat Indonesia secara umum memang butuh ini yang urusan ini udah demokrasi yang buta juga kalau gua mau bungkus ini dalam apa doa Asik.

Jadi emang pendapatnya K Mercy tentang sensorship apa demokrasi itu memang bias kelas menengah. Hm. Iya kan? Ya itu lu berasumsi agree. I agree itu disagre.

Makanya lu berasumsi bahwa semua orang yang nangkap apa yang ada di layarnya itu punya kemampuan untuk mencerna milah-milah itu tapi kan unfortunately kan enggak semua. Lu sebut apa masalahnya Pak Su? Jangan takut-takut ini gua tetap nih pendidikan politik menik kewarganegaraan kita ini sudah gagal sejak Orde Baru bikin politik masa mengambang lah. Apa sekarang kalau mau lihat ya maksudnya yang baca Tanmalaka, yang baca Adam Smith yang baca Marx atau segala macam itu orang-orang yang berapa gelintir daripada 1000 ya pendidikan secara umum ya kita gagal aja sih menak no secara ideologis pun kita enggak pernah enggak pernah dibekali lah dengan ada dulu pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila ya ya itu itu salah itu itu itu pedoman kita itu itu instrumen masa mengamb itu pokok masalah itu dia justru bongok masalahnya. Gua suka banget tuh pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila.

Hafal dulu gua. Luar biasa. Terus apa gunanya buat hidup lu sekarang? Eh, lumayan. Seenggaknya dia menjadi jati diri.

Enggak ada. Tapi ketika berargumen lu enggak punya basis. Ya. Anyway, anyway. Kenapa kita penting ngomongin ini?

Karena our own livelihood ya depends on industri kita. demokrasi ini penting buat jujur aja ya ee buat industri kita ya komunikasi public apa tanpa itu enggak enggak kita enggak bisa ada di sinilah gitu ya. Tapi balik lagi ya ke pendidikan, right? Ee pada akhirnya the most problematic dengan demokrasi di Indonesia itu kan lu dengan asumsi i bahwa mayoritasnya bisa punya enough critical thinking untuk memilih ya siapa yang mewakilkan mereka. Realitanya enggak kayak gitu.

Dulu tidak kayak gitu, sekarang tidak kayak gitu. ke depannya gua enggak tahu apakah akan kayak gitu atau enggak, tapi pada akhirnya kayak kalau mesin nih ada something missing. Jadinya lu enggak bisa perform atal level karena ada komponen eh under education. Iya. Kita-kita yah jangan ngomongin di Jakarta lah ya kan.

Eh jangan ngomongin di daerah apa di Jakarta aja masih kayak gitu apalagi di daerah-daerah apalagi yang sedikit terpencil gitu makin jauh dari Jakarta. Nah, ini ni ini juga, man. Gua kadang-kadang mikir gimana ya kita bisa better represent gitu. Eh, sedangkan itu dia kalau kita enggak terekspose dengan sistem-sistem yang dipakai di luar negeri, kadang-kadang kita stuck in the same circle gitu. Lu muter-muter aja.

Gua gua ngelihat gimana kalau di negara-negara lain perwakilan dan bahwa lu punya ee otonomi ya untuk mengelola daerah lu enggak terlalu everything is centralized. Pada akhirnya itu lu pembangunan itu benar-benar tersebar ke mana-mana karena masing-masing tempat fokus untuk membangun tempatnya sendiri. Bukan tempat tetangga, bukan tempat yang enggak tahu di mana lu. Lu beneran ngurusin itu aja lah daerahnya. jadinya semuanya lebih eh fokus pada akhirnya distribution of economy of development itu lu lebih merata lah.

Kita bisa diskusi panjang lah soal itu. Iya, which is kepanjangan nanti kali gua enggak tahulah. Iya, maksudnya tetap aja gua sudah merangkum ini dengan baiklah. Asik. Menurut problem bangsa ini kan cuma tiga dan ini akan berkali-kali gua omongin.

Pertama itu political financing. Hm. Satu, kita enggak pernah jujur sama partai butuh uang segala macam, uangnya dari mana segala macam. Dan biaya politiknya itu sangat besar yang maksa orang untuk keluarin duit untuk apa jadi jabatan tertentu yang ujung-ujungnya dicarinya dengan korupsi itu ke bawah itu. Itu menurut gua porsi terbesarnya di political financing.

Yang kedua itu political regeneration. Regenerasi partai apa? politik, kader-kader yang Adwi bilang tadi, kader politik tiba-tiba dipotong sama artis-artis yang enggak tahu apa sebetulnya jadi anggota dewan hanya karena mereka populer. Artinya kan itu kan itu juga dorongan partai kan maksudnya untuk mendapatkan suara. Iya.

Partai secara instan pengin itu sama influencer apa si apa lu langsung enggak bisa bawa gua engak keluar duit banyak suara shortut vgater padahal lu enggak ngham juga tuh orang apun ngarti bos i sor enggak semua enggak semua sekarang titiknya itu enggak semua tapi artinya mereka kan enggak terdik pernah nonton tu dulu belum selesai yang ketiga adalah desentralisasi e fiskal segala macam ke daerah duit masih putar di sini segala macam ada usaha usah usaha untuk melakukan itu sama sebetulnya ada lagi plus satu lagi ini relevan dengan yang Mas eh sori Mas lagi Bung Mercy sampaikan tadi merdeka asik itu adalah ee asimetrik otonomi. Oke. Otonomi asimetrik sekarang ini kan pukul rata otonomi. Br. Oke.

Undang-undang otonomi semua dianggap daerah dianggap sama. Ada dengan beberapa pengecualian kayak daerah STIM Aceh terus DIY. It's supposed to be semuanya asimetrik. lu enggak bisa pukul rata. Kebutuhan otonomi di Jawa beda dengan di Papua, beda dengan di Sulawesi, beda dengan beberapa bahkan di satu pulau itu mungkin berbeda-beda.

Dan itu yang yang mengambil kebijakan kita malas mikirin sampai ke sana. Iya. Buat gua ya mohon maaf, Pak dengan segala rasa hormat. Iya. Ee ini ini kayak kayak contoh lah ya.

Misalnya lu kayak di Papua gitu. Hm. lu punya gunung emas, eh tembaga, whatever lah, right? A lot of natural resources yang ada di sana gitu. Tapi lagi-lagi karena semua hasilnya itu enggak semuah ya, tapi sebagian besar hasilnya ketarik ke pusat baru tergantung pusat untuk mendistribusikan ulang.

Nah, itu tuh yang menurut gua problematik. Karena gini, gua gua gua mikir ya zaman dulu gitu misalnya pas lagi ada Gold Rush di Amerika. Hm. Pada saat itu yang namanya negara bagian California nothing man, right? Enggak ada apa-apaan.

Iya lu dari pantai situ. Udahlah enggak tahu orang nelayan kali. I don't know, right? Tapi karena ada gold rush itu orang ke Colorado, ke west lah dari timur mereka pindah ke barat. Kenapa?

Karena ada pekerjaan, ada uang di sana dan uangnya itu enggak ke mana-mana. Uangnya itu tetap tinggal di negara bagian tersebut. Benar. H jadinya ada alasan untuk pindah gitu. Sedangkan kayak kita, oke ada gunung emas di Papua, siapa yang pindah ke sana?

Unless lu kerja buat corporation ya. Tapi enggak, enggak terjadi karena uangnya balik lagi ke Jawa ini, ke Jakarta dan Pulau Jawa misalnya karena mayoritas orangnya di sini. Tapi is there why kita juga in the midst of IKN ya maksudnya to make sure that it's not centralized di Jawa. H is that part of plan? Mungkin mendekatkan lah dari yang Iya.

Iya. Tapi secara secara teori menurut gua enggak mengubah karena tetap semuanya balik ke pusat baru. Sedangkan kalau misalnya ya gua lagi-lagi ngasih contoh yang karena gua pelajarin aja lu di Amerika lu federal governmentut teks. Heeh. Tapi gua enggak akan ganggu ngambil emas lu gua ambil ke pusat cuy.

Lu mau dibakar kalau enggak berontak tuh orang-orang. H jadinya at the time masing-masing negara bagian punya tanggung jawab untuk mikirlah yo gua di Las Vegas di Nevada gurun cuy kagak ada apa-apa kagak ada air kagak ada apa. What are we supposed to do? Mereka putar otak jadilah tuh kasinok-kasino. Iya akhirnya jadilah uang masuk ke situ.

Nah kalau di kita kan ya mungkin mikirnya kurang kreatif aja ya. ee ada bupati justru menaikkan PBB untuk mendapatkan ee ee untuk untuk mendapatkan PAD di daerahnya. Balik lagi menekan lagi ee masyarakat. Jadi pertanyaannya kan jadi kenapa selalu masyarakat yang dikorbankan gitu kan untuk kebutuhan nasional, untuk kebutuhan untuk kebutuhan daerah itulah yang yang bikin banyak aktivis. Eh, oke.

Oke. Nah, ini nih gu gua balik sedikit kan tadi kita ngomongin untuk yang rumah-rumah ee wakil rakyat or or ee pemerintahan ini kan siapa aja si Syahroni, Nafaura, Kuya-kuya, Nava Urban, Ekopatrio sama satu Sri Mulyani. Mulyani. Aduh. Iya.

Which is she didn't do anything. I man, yang yang yang sama kayak yang lainnya ya. Dia dia maksudnya tidak secara langsung joget-joget. Nope, nothing. Tapi at the same time dia jadi kayak simbol dari keribetan atau kesusahan masyarakat ini.

Di mana lu ini nih yang pengin gua sebut ke depannya berulang-ulang. Waktu itu sudah disebut sekali tapi taxation without representation. H y lu majak tapi lu enggak mewakili men aspirasi gua. I pajak tuh kemarin gua ngelihat selwuran. Nanti mungkin Kris lu bisa cari ee kontennya itu perbandingan pajak.

Kemarin gua sempat ngobrol sedikit eh Indonesia sama Dubai, cuy. Hm. Of course. Hm. Terlalu ekstrem itu kayak langit dan bumi lah.

Saya tapi lu lihat apa yang mereka dapat di sana dengan bayar pajak yang cuma ee kecil ya, relatif dibanding Indonesia, tapi lu dapat health care, lu dapat jalanan yang bagus, lu, lu, Bro. Kita nih kayak enggak ngerti aja gitu. Kayak kita nih bayar pajak harusnya dapat apa aja tuh. I doubt 90% of the people itu ngerti konsepnya. Tapi sekarang udah mulai secara enggak langsung ya pembelajaran itu terjadi melalui sosial media, terlalu terjadi melalui orasi, terjadi melalui foto-foto yang nunjukin pajak segala macam.

Pembelajarannya ee ee enggak melalui jalur formal justru melalui jalur-jalur yang artinya apa? Street from the street artinya apa? Street fighter du belajar bernegaranya otodidak. Otodidak. Otodidak banget.

Eh, tapi ngomong-ngomong soal negara ya ee gua sih kagum dan berbangga hati cuy ngelihat foto Subianto si ee ee ee eh Putin e Prabowo, Putin, si sama Kim. Ih, gila. Iya. Power powerful. Luar biasa.

apa force in Asia apa gitu sebutannya online. Pokoknya visual itu apa ya powerful very strong political message juga ya enggak sih? Kita menunjukkan eh Prabowo Subianto menunjukkan sang presiden bahwa hei gua ada di sini Indonesia-in aja baik-baik aja sudah ada effort yang dilakukan seenggaknya dia masih punya kesadaran. Nah untuk menjaga kepercayaan dunia. Iya ee mungkin iklim imisasi segala macam segala.

Gua gua mau argue sebaliknya. Lu di dalam negeri dulu dong urusin baru lu pencitraan keluar. Enggak enggak enggak ini bukan pencitra ini penting. TR itu penting. Konteks komunikasi very strong political message kan.

Dan itu kan sering kita implementen dual track itu di program-program kita. Komunikasinya jalan tapi perbaikan substantifnya juga jalan. Apa coba sebutin ke gua apa perbaikan yang sudah dilakukan? Pertanyaan, pertanyaan dong, pertanyaan, pertanyaan, pertanyaan, pertanyaan. Ini masih ada kaitannya dengan langkah-langkahnya Pak Presiden ya.

Jadi 2 hari yang lalu itu setelah ee kericuan sudah mereda, ada berita yang ngomong bahwa Presiden memberikan penghargaan kepada polisi. Oh, polisi yang itu. He iya. Apakah ini bagian dari perbaikan sanam negeri menurut versi lu? Enggak gini.

Eh, in a way ya maksud gua gua gua mencoba berempatilah dua sisilah dua sisi ee apa iya ee apa namanya masyarakat itu sangat disayangkan banyak yang meninggal karena banyak yang gugur ya karena apa ee apa perilaku represif aparat ini clearly stated ya tapi ada juga yang perlu dipahami chain of command gitu baik level bawah apa enggak semua yang di bawah-bawah itu dikasih pendidikan ee HAM yang menurut gua ya cukup beda yang sekolah-sekolah di Akmil itu ya yang perwira-perwira itu. Tapi kan perwira itu lulus berapa sih setiap tahunnya? Enggak banyak dan dia harus handle itu semua segala macam. Dan di level ini eh human nature-nya itu untuk melindungi ya. Gua enggak enggak apa namanya mencari pembenaran lah.

Tapi it's very human buat gua untuk or setiap orang merasakan ketakutan bahkan orang yang memegang senjata. H itu aja sih menurut gua ya. Eh dan makanya nih gua kita juga harus belajar sebagai bangsa untuk bisa menyuarakan aspirasi kita tanpa tadi sudah disebut rusuh tanpa menjarah. Iya ya. Maksudnya kalau misalnya moving forward DPR-nya itu enggak tone death.

L beneran menyerap aspirasi. There's no need, man. Buat apa? E kan lu sudah terwakil kan. Masalahnya ini tidak terwakilkan.

Nah, tapi gua penasaran around the room. Kalau lu jadi Prabowo, he lu berangkat apa enggak acara kemarin? Steve berangkat lu? Iya, itu tadi udah benar dia di Indonesia dulu. E, get things done dulu.

Habis itu dia berangkat. Lu? Iya, iya. Gua akan berangkat. Liburanlah.

Kan gua senang aja. Enggak berangkat. Emang lu enggak pernah mau berangkat, Ci? Masuk masuk. Emang gua enggak pernah mau ke mana-mana ya?

Enggak. Tapi menurut gua ya sebagai orang PR itu adalah salah satu cara juga untuk emm marking the territory gitu di tengah iklim dunia, geopolitics ya kan. Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Indonesia baik-baik saja at the same time meyakinkan investor asing terhadap apapun investasinya yang sedang berjalan di Indonesia khususnya di Tiongkok ya, salah satu investor terbesar untuk Indonesia dan pemberi hutang terbesar juga menurut gua penting ada di sana. H ditambah dengan iklim geopolitik everybody versus the US. Menurut gua Prabowo strategically put presiden Prabowo strategically put himself into you know a position where gue dari negara besar and my country is ok.

Gua di sini karena diundang oleh Jimping. Menurut gua penting sih buat secara PR at least ya. At dia sih dia sih dia sih lebih ke Trump. Iya dia pasif agresif. E komentar komentar komentar Trump kan e congratulation ya.

Terus apa lanjutannya? Dia bilang thank you ya. Udah enggak diundang something like that. Enggak thank you. Eh apa enggak congrat berkonspirasi apa bersekongkol.

Iya. Eh eh congrat lu e atas perayaan ee enggak atas congrat atas perayaan hari kemenangan Victory Day apa-apa sih? Iya 80 tahun perang dunia kedua berakhirnya perang dunia kedua. Bersenang-senanglah kalian bersekongkol melawan gue. Ini gua lagi ini ini apa namanya verbimnya ya?

He hing relationship with all of them is very good. We going to find out how good it is over the next week or two. Anjir kasih timeline sendiri dia sendiri kasih timnya nih kayak ya udah it's very good ya udah lu lihat nih ya minggu ini minggu depan gimana. He he ya. Anyway, tadi eh walaupun kita sedikit berbeda tapi tapi kita tetap satu it's hard to get it right lah lu ke kiri atau ke kanan pasti ada criticism yang menurut gua valid-valid aja dan ada eh hal-hal baik yang comes from whether you stay or not lah right jadinya itu tuh debatable lah eh tapi delay baru baru kan kemarin kita 80 tahun y Damn 80 tahun, man.

Maksud gua eh ya moga-moga ke depannya itulah lu. Lu eh sori kemarin eh tadi kepotong itu yang tentang Sri Mulyani, right? Oh, iya betul. Ini nih gua tapi ini nih gua gosip dari kalangan ee investor asikel kan elit ya. Asik investor gitu-gitu ya.

Benar bisnis enggak ini itu cara lain cara lain untuk menyampaikan nih another conspiracy theory anyway tapi a lot of resentment sama Kementerian Keuangan because of the tax and stuff. Iya, pasti eh bises kayak bayar teks-nya tuh lu lu makin dicekik, makin dicekik kan makin naik makin naik tuh mereka tuh benar-benar resentment dan ternyata enggak cuman yang di atas, right? Yang di bawah-bawah ini juga jadinya simbol pajak makin naik itu Sri Mulyani, right? Symbolically ini dia nih pemimpinnya. Padahal kan she's just trying to do her job.

Nah, itu tuh eh permasalahan gua. Gua juga udah mulai dengar-dengar nih in the grass root, right? Lu, lu ajakan jangan bayar pajak, right? Eh, lagi-lagi kalau lu enggak represent gua, kenapa gua harus bayar pajak gitu kan. What am I getting dari bayar eh pajak ini?

Benar. Regardless of benar atau enggak melakukannya ya, tapi logically it makes sense. Ini nih the next level-nya ya, kita next level-nya ya ada kan banyak korupsi dan lain-lain. Right. Dan uang itu sebagian besar dari pajak.

Pada akhirnya agak jauh. Tapi it makes sense in a way kalau lu bayar pajak, lu enabling them to corrupt. Ya, logically walaupun walaupun agak jauh, of course there's a lot of things, tapi uang yang dikorupsi dari pajak eh sebagian besar kan penerimaan negara, right? Dan dan itu yang dikorupsi orang jadinya kalau lu bayar pajak lu enabling them to ngambil uang, which is inilah in sense it's true tapi agak jauh problem. Iya agak enggak ya kita sebagai pengusaha ya maksudnya kita ngerasain lah tahun terakhir ini kayak petugas pajak itu lumayan agresif gitu enggak seperti 3 tahun lalu lah 3 2 tahun lalu lah paling enggak kayak momentumnya 2 tahun terakhir deh kayaknya kayak udah mulai more scrutiny gitu yang hal-hal yang tadinya oke sekarang jadi enggak oke.

Intinya menurut gua lu lu naikin pajak lagi-lagi itu relatif lah. Tapi keluarnya kita dapat apa, Bro? Perhatikanlah kayak ee fasilitas-fasilitas ya kan hal-hal yang basic langsung dibenerin. I thought it's getting better lah. Maksudnya in terms of management of money dari pajak ya pemasukan negara tuh dibandingkan let's say 5 tahun lalu tuh menurut gua ada perbaikan tapi masih bisa lebih baiklah dengan ee pemasukan pajak yang diterima negara.

Ya, gua gua masa harus buka list liga korupsi, kedudukan sementara. He he. Enggak perlu kan, enggak perlu di sini. Numbers-nya gua masih ragukan sih itu maksud gua banyak hal yang maksud gua cuma ya supaya kelihatan wah kelihatan kerja. Tapi bukan itu yang kita mau kan.

The whole culture, the whole tapi di the whole justice system di Indonesia memang perlu banyak perbaikan ya. maksud dengan heh dengan ee korupsi, liga korupsi ini menunjukkan bahwa ya the whole justice system is corrupted. Oke. Kalau benar mungkin enggak akan berani juga sih orang. ee ini kan salah satu yang diminta ya 178 itu kan ee Undang-Undang Perampasan Aset which is menurut gua pribadi long overdin udah kelamaan lah ini harusnya udah ada kalau enggak gimana kita mau maju nih eh what are your thoughts tapi mungkin gua tahu Sofyan sedikit beda.

Jadi mungkin Stef atau Adwi coba kalian berdua dulu. Ini tadi yang ini yang tadi yang melanjutan gua dari waktu mau dipotong Sofyan melalui gesture tubuhnya kayak kayak mulut. Nah, jadi kan ee ee ee bahwa DPR itu menghasilkan undang-undang tapi bukan yang menjadi prioritas publik, bukan yang diharamkan oleh masyarakat. Undang-undang adat, Undang-Undang Perampasan Asetlah yang yang utama ini kan. Nah, ee ketika undang-undang ini ya benar dia long overdue dan sekarang kan narasinya jadi Undang-Undang Perampasan Aset sudah diresmikan oleh rakyat.

Oh, disahkan. Disahkan. Disahkan di rumahnya Soni di rumahnya Saroni. Iya. Bagi-bagi dolar ya?

Heeh. Bagi-bagi dolar. Aduh, Iron Man-nya tuh ya. Lu mau enggak sih? Mau.

Gua yang hancur pun gua mau. Enggak apa-apa. Tup aja kepalanya doang mau. Enggak lah. Putuh gitu.

Tapi kan dia battle kayak battle. Iya. I battle proven. Eh anyway lah. Iya.

Ee Undang-Undang Perampasan Aset menurut gua sangat penting, sangat perlu dan perlu ee ee Cina enggak mungkin jadi Tiongkok ya negaranya enggak mungkin. Enggak mungkin eeu sek semaju sekarang tanpa Undang-Undang perampasan aset itu. Korupsi mereka lebih kacau cuy. Lu nonton aja film film film silat. Heeh.

Film-film silat zaman dulu. Iya suka nonton film silat Golden Harvest dulu produsernya. Tapi emang benar sih maksudnya melanjutkan dari tadi awal kita bicarakan bahwa mungkin not to that extreme of hukuman mati ya maksudnya it's against it's against eh hak asasi manusia gitu ya kan. It hak asasi manusia gua tergantung. Nah, ini dia undang-undang hukuman mati itu gua tergantung pada eksekusinya seperti apa.

Manusiawiak diur gitu kan. Iya. Suntik utanasia suntik gua masih oke setrum enggak lah ya maksudnya tembak gantung ngerokok gitu yang di kayak apa lucky look. Tapi at one point gua setuju gua setuju untuk em para koruptor nih diadili dengan seadil-adilnya gitu. Cuma definisi adil-adilnya kan beda-beda ya.

Ada yang merasa itu against hak asasi manusia, ada yang merasa itu benar. Tapi gua pokoknya on the of the on the record gua rasa it's necessary sih to the extreme sometimes. Karena sekarang nih di Indonesia tuh jadi dimudahkan lu di penjara dalam be berapa tahun terus diberikan ee keringanan gerasi remisi dan lain-lain. Harusnya asli asli lu keluar masih kaya cuy. Exactly.

dengan tidak adanya hak perampasan e undang-undang perampasan aset tersebut keluar masih kaya. Ya kalau gitu semua orang korupsi aja. Tapi pertanyaan kan apa enggak kasihan sama anak-anak? Enggak presidennya ngomong gitu cuy bingungak gua gua woi cri me a river lu. Cri me a river.

Lu udah lahir kaya, hidup kaya rumah lu udah kayak istana. Lu tidak pernah ngerasain lu lapar, lu butuh apapun lu jangan bilang kasihan lah. Enggak, enggak bisa. Gua mau koreksi itu presiden bilangnya ginilah maksudnya kan enggak tahu apa-apa apa. Mungkin lu dari manunggu misalnya anak-anaknya enggak tahu apa-apa apakah menurut lu mereka layak dapat uang itu enggak sih engak jadi hak perasan itu harus karena kalau tidak ada itu akan terus terusmenerus enggak akan ada tuh generasi emas Indonesia 2040 enggak ada adanya cemas tadi tadi enggak gue ya sebentar ada ada road block mungkin untuk penerapan menurut Iya menurut gue Ya, yang pertama ya aturan berlalu lintas juga ada ya kan maksud gue apa nih ini sih enggak kont filosofi-filosofi gini dongak gini ada buktinya Sofyan pernah melanggar enggak ada peraturan lalu lintas di TMC Polda Jaya coba kita cari ada fotonya lanjut gua ngerasa ya sepanjang proses ada ada berapa hal yang perlu direform dulu h judicial system kita harus direform kita tahulah berapa berapa Apak ijar kita lihat case kemarin lah hakim disogok asli kasus pembunuhan segala iya segala macamlah tapi hakim itu di terakhir dalam proses penegakan hukum kita yang diujungnya di mana yang pertama kali berurusan sama masyarakat sudah tahu dong polisi kan setelah polisi di penyelidikan penyelidikan terus baru ke kejaksaan kejaksaan baru hakim lu bayangin di hakim tiga level itu aja tu tiga level dulu deh dari yang paling ujung hakim ini paling ujung kalau hulu hilir ya jadi hulah hilir Kalau lu udah paling bawah itu kan biasanya resapannya udah paling kecil gitu, tapi kebuka kemarin angkanya luar biasa cuy hampir 1 triliun kan disimpan di bawah kasur pula duit segitu banyak lu itu kan mafia kasusnya kan bukan hakimnya kan hakimnya cuy enggak enggak dia hakim yang yang dia bukan hak dia kan tadinya di lembaga pelatihan dan pendidikan itu kan jadi dia kenal sama semua Luar biasa kan?

Jadi kan tidak ada hukum ini justice system. Balik lagi Sor ya. Kalau di ujungnya aja duit segitu apalagi di di depan ini ada berapa yang enggak pernah terbuka, cuy? That's crazy man. Tapi ke yang di depan tandanya enggak sampai ke atas.

Kalau udah diselesaikan di bawah sini lu antara lu kan mangkanya gua bilang lu mau closingnya tuh di mana? Di di kepolisian, di kejaksaan atau di lu mau lubang mana nih? Lu cari yang paling murah. Iya, di ujung paling murah sebelum nyampai ke atas-atas. Kalau gue ya sebagai jadi kalau lu ditangkap nih ya, kalau lu tangkap tangan opsinya tu langsung ada opsi lu mau bayar uang berapa?

Kalau lu punya segini lu enggak gua proses ke Polda. Gua mau disclaimer dulu ya ini udah common knowledge ya. Common knowledge ialah bukan konspirasi kalau lu pernah mengalami ditangkap lu ditangkap ini ada sekian lu mau sekarang atau mau gua bikin berita acara? Udah beda tuh angkanya enggak udah sampai bikin berita acara. satu kasus yang dia anu apa ini saya sudah 4 tahun cari keadilan nangis-nangis tiba-tiba kantor polisinya dibakar terus tiba-tiba ada orang [Tertawa] enggak enggak sor men itu wajah hukum kita sekarang wajah ph sekarang aparat penegak hukum itu need to be reform first h massively h gua enggak bilang cuma ganti kapolri doang atau apua masif entah gimana caranya lah udah banyak ahli-ahli kita bukan ahli hukum kita bukan apa pokoknya itu beresin dulu habis itu baru kita ngomong perampas eh during this eh rising tension di Indonesia banyak juga social media movement yang menurut gua menarik untuk kita bicarakan sebagai orang di komunikasi yang pertama tuh ee tuntutan 178 ee yang di ee tandai juga dengan warna hijau dan pink.

Ada artinya tuh. Ada 17 tuntutan e harus dipenuhi sampai 5 September dan 8 tuntutan dipenuhi tahun depan, 20 31 Agustus 2026. Di social media movement tuh em sebenarnya how do you guys think it all started gitu. Siapa sih yang mulai kalau kayak begini? Maksudnya bisa ada social media movement enggak?

Itu kan gini loh, Makud itu suara-suara yang disuarakan sejak lama tapi Tond enggak pernah didengar. Tinggal sebetulnya ada si apa salah satu influencer lah dia merangkum itu semua dan itu kan yang kita lakukan sebetulnya enggak usah institusi sebesar negaralah KOMD atau apa yang punya anggaran gede. Kita aja perusahaan kecil ini kan suka nge-serve klien dengan misalnya ng-etrack sebetulnya suara-suara konsumen tu seperti apa, suara-suara stakeholders mereka seperti apa. itu kan kita kita ngetrek, kita kategorisasi, kita laporkan ke klien, kita bikin lah maksudnya kita analisis, kita kasih rekomendasi untuk action points, action action plan kita apa habis ini di dengan situasi seperti ini itu gampang gitu untuk perusahaan sekecil ini gitu apalagi institusi negara yang sebegitu besar. Apa susahnya sih mengkategorisasikan itu segala ya.

Bahkan salah satu influencer mungkin dia lakukan itu sendiri tinggal ngapur kategorisasi. Ini loh sebetulnya yang dimohin rakyat disodorin aja pemerintah. Kalau lu memang malas merangkum ini nih gua kasih nih rangkumannya tuh ini repost gitu ya. Tinggal lu kasih. Oke sudah rangkum dan kita di swasta kan ya anyway 95% klien kita swasta.

ee apa kita tinggal bilang bahwa oke setelah ini ada yang dirangkum terus itu sudah kasih KPI aja ini kapan harus selesai ini segala macam dikasih tracker kan kita biasa lakukan itu kita bikin tracker apa yang harus dikerjakan bahkan alokasi kerjaan pun kita track kan begitu ya simpel eh tapi gua tadi enggak ngerti ee enggak enggak follow yang tentang warnanya what does it mean Oh iya eh hijau itu kalau gua enggak salah itu representah Pahlawanan hijau itu. Iya, hijau. Terus pink itu kalau kalian ngikutin berita tuh ada ibu-ibu pakai Iya. Jilba pink yang berantem ngelawanin polisi pada saat insiden itu. Oh, that's too hard.

K buat biru. Oke. Hah? Hijau apa biru? Ada yang biru enggak?

Hijau, pink, sama biru. Biru itu yang simbol yang Garuda hitam. Eh, Garuda biru. Garuda biru itu ya waktu itu. Jadi ini tuh sosial media movement yang mirip sama waktu itu Indonesia gelap ya.

Mm. Indonesia darurat. darurat yang em secara distribusi informasi, distribusi em permintaan itu cepat banget gitu during those period of time. Dan waktu itu gua ingat banget itu enggak sampai meletus loh. Enggak enggak sampai meletus langsung direspon dengan baik sama apa DPR dia bilang, "Oke, kita enggak jadi ini undang-undang segala macam kita ikuti apa maunya MK." Lu bayangin kalau waktu itu dijalanin eh itu mungkin sama kayak sekarang.

Tapi apa? Kalau ini enggak jalan, ini cuma menunda aja sih. Jadi itu harus dijalanin. Jangan sampai ee itu enggak dikerjain. Kita cuma menunda terus problemnya akan muncul di 5 tahun lagi atau 3 tahun lagi.

6 tahun ee 17 permin tuntutan yang di dalam eh list itu ya. 17 itu deadline-nya itu this week. Iya. I don't know if it's trying to be catchy or not. 178.

Iya iyalah 17 of course iyalah dikait-kait dia dibikin dibik pertama kan supaya gampang gampanget poin-poinnya. Iya. Tapi maksud gua kemarin gua sempat ngobrol sama Sofyan gua merasa 17 sama 8 itu bikin the essence itu jadi diluted. He lu stick to the core man. Tiga atau empat.

Kalau lu bikin 17+ 8 jadi, oh gua bikin aja dulu yang paling enggak penting. Sedangkan harusnya enggak kayak gitu. Dari nomor satu dulu nih yang diurus gitu. Skala prioritas harusnya. Exactly.

Kalau lu dibikinin lah kan gua udah kerjain. Gua kerjain nomor 16, Bro. Ya kan? Padahal yang kita kejar nomor 4 atau nomor 5 itu yang menurut gua I don't know if it's strategic. It's catchy for social media campaign.

It's very catchy. Catchy, right? Tapi apakah itu nanti eh akan better serve the purpose? atau enggak ya never lah. I enggak, gua rasa gini ya, itu kan merangkum begitu banyak persoalan yang sebetulnya dihadapi publik ya.

Tapi gua sepakat sebetulnya kita fokus saja the rule of three ya seperti yang kita biasa lakukan. Rule of three lah sudah enggak ada lagi itu rumus dan itu udah pakai riset segala macam. Rule of three ee tiga poin yang paling harus diingat. Kalau gua tadi kan gua sudah sampaikan ya ada APH-nya yang harus diberesin saset dan lain-lain ya. Ada soals yang lain tadi yang secara strategis sudah gua sampaikan.

Oke, sekarang lompat ke brand ya. A lot of brands. Oke. He masuk kiri masuk kanan pergerakannya beda-beda gitu kan. Eh apa step eh eh grab prob yang paling paling heavy ya.

Mungkin ada kaitannya juga eh accident-inciident dengan salah satu ojol juga ya. Jadi, he as a brand I wouldn't say they jump into the opportunity ya, tapi lebih ke menunjukkan simpati dengan caranya masing-masing lah. Dan I think I really I really like to see this campaign of Southeast Asia people all barengan gitu dari Malaysia, Thailand, eh Filipin. Mereka tuh bersolidaritas mengirimkan makanan untuk ojol. Iya.

ini sesuatu yang eh I think during my year as a PR ini something that's very interesting lah to see things cross border gitu nunjukin bahwa benar-benar teknologi itu membuka jalan segitunya untuk eh untuk kita ya. Heeh. Itu yang pertama. Yang kedua itu ini as a PR person I see quiet eh daring move dari directornya Grab. Hm.

founders sorry eh Anthony Tan yang langsung immediately datang ke Jakarta shows the respects to the fake ke Makassar bukan sih dia gua lupa persis di mana tapi langsung immediately come to Jakarta shows respect to the victim eh langsung ada meluncurkan program bahkan untuk making sure every driver is safe itu maksudnya is very smart at the same time very bold move from from a corporation ini patut di eh diapresiasi sih Dan kita juga enggak kemudian menjudge apa yang dilakukan pemerintah semuanya buruk. Banyak yang baik kok. Kayak kemarin apa di Jakarta ramai-ramai bersihin itu apa halta yang dibakar. Terus kemudian komitmen ada gubernur di Jawa Barat bilang rumah makan yang dibakar dia akan support. Artinya enggak semua buruklah apa yang di cuma ya memang yang di Senayan itu yang kurasa perlu juga untuk di apa ya evaluasiah dan mereka kan sudah komit untuk evaluasi kemarin ya maksudnya mudah-mudahan em tidak berlanjut ya karena tadi gua ngelewatin jalan-jalan utama yang biasa gua lewatin miris aja gitu gerbang tol yang jadi pintu masuk jalan tol yang memang biasa digunakan oleh ee penduduk Jakarta tuh hancur.

Turba habis gosong. Iya kan? Makanya banyak seruan kayak katanya kan alokasi 800 miliar untuk pbaik ee PU untuk perbaikan sarana dan prasarana. Banyak yang menyerukan eh lu merusak itu lu memberikan kesempatan untuk adanya praktik-praktik korupsi dalam proses itu saking enggak percayanya orang enggak semua juga sih menurut gua. Tapi seruannya seruan untuk merusak untuk untuk tidak merusak Pak Suum itu penting gitu.

Iya. Dan dan itu sudah disuarakan di sosm lah enggak di bola jangan ngerusuh segala macam dan itu luar biasa sih di luar konspirasi siapapun yang membuat memulai itu ya. Lu bayangin ya 98 tuh belum ada HP segala macam. Kita cuma tahu dari media, kita tahu dari kabar burung, katanya-katanya segala macam. Sekarang enggak literally dari pesan berantai, cuy.

Gua pesan berantai. Iya itu benar. Gua ingat banget nih, gua lagi jalan nih demo nih pakai jaket kuning. Tet tet rame itu tuh orang yang depan gua ngasih tahu berhenti gitu. Gua ngasih tahu yang belakang berhenti.

Jadinya gitu. Tiba-tiba ee ee ada tembak-tembakan tuh di Semanggi kan. Ee ee pimpinan pimpinan apa sih? Korlap. Korlapnya gua lari.

Ah lari tapi sambil lari dia ngomong belok sini nih belok. ini pada ngikut terus ngikut belok hindarin. Nah, itu tuh dulu kayak gitu cuy. E sekarang apalagi dengan adanya handphone s segala macam lebih gampang. Tapi kan gini, pertama yang rusuh-rusuh ngejar-ngejar mukenya ada semua, Bos.

Di situ. Nah, itu dia satu yang pakai helm lah. Enggaknya kalau lu mau ya gampanglah polisi ditinggal TRK itu enggak enggak barang buktinya sudah banyak gitu. Terus yang kedua ngorganisir kita sudah bisa identifikasi mana yang demo beneran, mana yang ngajak rusuh, mana. Itu sudah gampang milahnya gitu.

Iya. Jadi gua rasa ini lebih advance lah sekarang dan pesan-pesan untuk enggak buat rusuh segala macam itu cepat banget nyebarnya. Iya. Tapi tapi at man, lu enggak bisa ngerusuh. Maksudnya let's be honest.

He. Yang di Makassar itu kan Iya. Itu korbannya ya. L membawa memakan korban gitu. Itu bukan orang yang di tabrak polisi atau diapain, cuy.

Itu yang dibakar masa, men. Heeh. Right. Let's get that straight lah. Lu, lu ee bagaimanapun juga lu mesti melindungi lah.

Betul. Belum lagi yang di Bandung yang apa kayak cagar budaya apa-apa gitu. Museum, cuy. Kediri, kampung gua. Nah, kemarin kan gua kebetulan gua kemarin lagi di Blitar juga pas ramai-ramai itu kan ee apa namanya?

Dan kebetulan kota kita enggak kena kemarin karena apa? Pas masanya tuh datang dari luar kota berbondong-bondong bawa motor segala macam. Di situ tuh polisi sama warga menghalau tuh supaya enggak masuk kota itu. Bekasi juga sama kan? Bekasi di Sumaron.

Jadi rasanya ada berapa gerakan organik yang kurasa itu juga memberi harapan gitu. Iya. At the same time banyak banget juga video yang provokatif, forir, merongering, yang nunjukin video-video enggak tahu video kapan, konteks kapan, enggak ada. Jadi itu tuh gimana kita sebagai orang yang dikomunikasi tuh bisa e contribute to this dan memberikan informasi bahwa eh sebelum lu sebarkan lagi gitu setidaknya make sure bahwa ini adalah video yang bukan eh bukan AI, bukan video lama gitu-gitu loh. I think as a communicator eh in this industry I see it bisa jadi pemicu karena itu distribusi video yang enggak benar ini.

Iya. Ya, ini tools yang sangat berbahaya sih. Menurut bukan berbahaya. Berbahaya. Gua enggak bilang pisau bermata dua lah.

Pisau bermata dua. Artinya dia ketika kita punya akses informasi semakin luas, orang yang membacanya harus dilengkapi dengan kemampuan informasi, kemampuan mencerna, kemampuan untuk memilih untuk eh ini gua sebar lagi atau gua simpan di tempat gua stop di gua gitu. Itu yang penting ke situ. Literasi media. Balik lagi ke problem kita 20 tahun lalu yang iya enggak berubah, Bro.

Tinggal tinggal channel-nya aja berubah. Tapi the lack of education, understanding, critical thinking, basic tata negara, cuy. Ini kewarganegaraan, civic education education. Pedoman pengamalan dan gua lupa nih ngomongin tadi ngomongin TikTok Live. Kemarin itu ada ee obrolan soal kenapa sampai harus di ee nonaktifkan sementara.

Karena katanya ada yang ngasih uang, semakin lu anarkis, gift lu makin besar. Enggak. Oh iya ya. Iya, gua sih itu ya tadi gua sih sepakat dalam konteks ketika TikTok di ee aksesnya ditutup itu tuh untuk mencegah efek domino ke daerah-daerah lain kan. Mungkin kalau alasannya itu okelah ya enggak ya kan dari kan orang ngelihat ih di Jakarta udah dibakar kota-kota lain dikhawatirkan akan lah enggak usah ada begituan juga itu nyebar juga i saya kayak orang di Singapura tahu kita atau di Malaysia gua langsung eh are you safe gitu are safe zaman kayak gini kok nyetop informasi aneh banget Apa si Vina temannya baru datang dari Itali dari awal bulan Agustus gitu.

Baliknya kayak pas sudah mulai demo demo ini. Pas memang udah harus balik. Heeh. Pas dia nyampai sananya tiba-ti yang bakar-bakar jadi mereka kayak hah are you guys ok gitu. Asli mereka pada kayak barusan di sini.

Balik ke sana terjadilah pecah tuh si ee insiden-insiden di seluruh Indonesia ini. Mereka kayak ya orang-orang luar sih enggak. Terus apalagi di luar ya media gitu kan pas ada konflik kayak gini itu Aljazira segala macam live ada live sama foundersnya WhatsApp Indo kan jadi maksudnya dia juga kebetulan aktivis eh politik juga kebetulan dia memang paham dia paham isu dia paham apa yang jadi problem so that's good lah at least tuh the international audience tuh orang tuh tahu gitu full konteks yang terjadi sebenarnya ini dari sumber yang tepat iya sama siapa Siapa anak itu yang dia ngajak debat? Saya Roni. Siapa?

Salsa itu. Isa. Salsa. Iya. Maksudnya eh ada role-nya, men orang-orang kayak gitu, right?

Eh they can spark eh bisa inspire people, bisa give understanding gitu. Enggak enggak lengkap obviously ya. Apa sih yang lu bisa lakukan? Edukasi manusia nih selengkap itu kan enggak mungkinlah. Tapi at least ada bits and pieces of information tadilah dalam konteks belajar otodidak tentang bernegara ini.

Oke. Ya, ada dikit-dikitlah dari orang-orang ee seperti ini yang menurut gua sih harus diperisip. Iya. Itu yang gua bilang. Gua nonton rapat dengar pendapat nih ee DPR ada anggota yang kebetulan selebriti itu ngomongnya enggak ngerti.

Gua enggak jelas cunrungannya ke mana. Panjang aja ngomongnya tapi kita enggak ngerti. Tapi begitu si Salsa ini ngomong, ih jelas banget gitu. Terstruktur articulate ya articulate articulate. Nah, inilah inilah jadinya ee e ya satu masalah komunikasi tapi komunikasi tanpa fundamental knowledge juga jadi permasalahan.

Iya jadi bacot doang kan. Masa masa anggota DPR dikatain bacot doang. Jadi bacot. Iya. Tapi kan enggak bisa anggota DPR bukan anggota DPR bukan noise, bukan bacot.

E harusnya dia komunikator enggak. Justru gua berharap tuh misalnya rapar dengar dengar pendapat dengan menteri A gitu, jangan cuman mencecer si menteri. Kasihlah solusi. Sepakati sesuatu tetapkan. Nak yang dibayar buat nyari solusi itu ya menterinya itu.

Iya iya ya. Enggak seenggaknya ngomong eh Pak Menteri masalahnya di sini di sini di sini kita pahami bersama. ini saya kasih timeline. Kalau misalnya tidak tercapai ini kita ngomong lagi ya, Pak gitu. He mekanisme pengawasannya juga jalan enggak i kan.

Heeh. Dan dan mereka semua sudah dibayar untuk melakukan itu, cuy. Heeh. Tapi ini menarik eh di at the very basic ya. Dulu gua pernah belajar itu in a classroom sharing.

Hm. Kalau laki-laki itu nanya untuk nunjukin dia pintar. H. Nah, tapi kalau perempuan itu nanya beneran mereka pengin tahu gitu. Nah, yang di DPR ini a way sedikit maskulin gitu.

Kayak lu nanyanya bukan untuk nyari masalah atau eh untuk menyelesaikan masalah, tapi cuma nunjukin bahwa gua pintar. Heeh. Gua ngerti sedikitlah gitu ya kan. Gua gua gua did my eh gua punya authority. Iya.

Gua punya authority gitu. Instead of lu beneran pengen kayak eh get to the root of the problem baru come up with a solution. buat ininya lah. Tapi gua rasa ya mudah-mudahan ya apa yang ini rapting apa yang terjadi sekarang itu jadi lessons buat pemerintah buat enggak cuma pemerintah tapi buat kita semua ya semua komponen bangsa untuk ya memperbaiki ini baranglah daripada kerusuhan yang apa atau kerusakan yang lebih besar itu terjadi. Yap.

Anyway, sebelum itu gua mau kasih ini loh. Kemarin tuh ada hasil riset ya kalau enggak salah ya soal AI. Gua mention white paper sor white paper soal AI dari salah satu agency eh apa? Maik mack gua lihat itu bagus ya maksud gua itu itu apa ya menunjukkan bahwa they keep update the apa up to date sama industryya eh bahwa sekarang kita salah satu faktor disrupsi di dunia PR ini kan enggak cuma dunia PR ya tapi AI itu disruptif juga buat industri kita dan how can we adapt mungkin AWI punya apa namanya apaan pendapatlah Oh iya, gua sih gua sih eh white paper yang dibikin itu bagus banget. Maksudnya something that ee eh e eh e perlu dilakukan oleh all across the industry lah, bukan cuman ee eh PR dan komunikasi aja.

Cuman yang ee yang satu menarik itu satu poin aja ya poin-poin lain ee silakan hubungi Maverick, silakan hubungi ee minta white paper-nya ke mereka. yang menurut gua ee penting itu adalah kenyataan bahwa citation itu masih tetap datang dari media-media yang credibel i kompas, kontan, detik ee ee mereka masih menjadi sumber informasi untuk AI menelurkan jawaban. informasi itu juga di di dicrossek nanti oleh AI dengan informasi yang ada di website perusahaan dimaksud misalnya atau website internal. Jadinya earned and owned media itu memiliki porsi yang sangat penting eh dalam brand atau korporat itu berkomunikasi kepada publik. He.

Kemudian ditangkap oleh AI. Tentu AI punya preferensi ee ee ee dan AI pun ya kita, gua enggak bisa bilang kita ya, banyak yang masih menggunakan AI itu hanya sebatas sebagai browser kayak apa yang lu ketik di Google dengan apa yang lu ketik di eh di chat GPT itu masih sama gitu. That's not how you do it, right? Y eh ketika lu bikin promp di AI itu udah beda pendekatannya ee kita juga masih mempelajari itu. Ee dan ee dan hopefully eh ee kita juga bisa ee ee lebih banyak menggunakan AI ini untuk kepentingan ee kita sebagai agensi, untuk kepentingan klien, e, untuk kepentingan e yang lain-lain lah secara umum.

Tapi just to be clear, we're doing it. Bukan kita enggak tahu ya. Maksudnya ini kita udah ngomongin 3 bulan lalu in one of the episodes itu kita ngomongin tentang eh search is king ya but the crown is wobbling. Waktu itu konteksnya itu judulnya kita first or second episode gitu yang kita full house. Pada akhirnya itulah yang kita obrolin bahwa the trend is people shift dari eh apa namanya?

eh Google right search engine masuk ke ini. Makanya disebut si GO itu, right? Eh generative engine optimization. Nah, eh itu menurut gua menarik banget. Again, shoutout buat May ya.

Eh eh I think it's pretty cool topic. Obviously kita juga mempelajari eh partially kita sudah melakukan buat klien-klien kita, right? Itu next levelnya lalu enggak bisa getuck in the SEO game anymore, right? Eh tapi yang ini nih kita udah eh mulai kerjakan even udah beyond dari eh teks ya. eh kita sudah bermain di video eh di audio.

Gimana caranya certain information tampil di AI itu kita udah pelajarin tapi memang eh belum kita bikinkan dalam bentuk white paper seperti yang dilakukan MFK. So that's pretty dope. I Stef ada sesuatu enggak? Oke. Eh just to close.

Jadi pas-pas lagi kacau-kacau ini gitu ya, everybody speculating. Ini salahnya ini harusnya begini, harusnya begitu. Gua ingat Michael Jackson ya. Michael Jackson. Eh, pada akhirnya at that moment ya, gua merasa gua kurang melakukan sesuatu.

H negara ini bisa kayak gini, tapi what have I done? H man in the mirror ya kan. Everything starts with yourself. It menurut gua gua enggak ngerti kenapa kesambet ke situ. Tapi menurut gua that's so true gitu.

Kayak gua, gua sering ngomong, kita banyak ngobrol, harusnya ada ini, harusnya ada aplikasi ini. I've never done it, right? Apapun alasannya lah, tapi ide-ide gua yang niat gua untuk gimana ya bisa improve Indonesia, I haven't done it gitu. Jadi, in a way we're at fault menurut gua ya kan. Karena eh ya lu lu dengan kemampuan yang ada, dengan kapasitas yang lu punya, have we have you done something gitu.

He yang dengerin ini juga, lu apa ya yang lu bisa lakukan tuh yang konkret? Gimana caranya kita bisa eh improve negara inilah, right? Oke. Dengan caranya masing-masing. Ya, setuju kita mulai dari diri kita sendiri itu juga yang what have you done to the country gitu.

Don't ask country. Don't ask eh what the country can do for you. Itu kutipan siapa sih? Ken JFK. JFK enggak?

Gua udah nulis itu post gua kemarin. Kita perbaiki apa yang bisa kita lakukan. Tapi lu enggak nyambungin ke Michael Jackson. Gagak itu lebih kelas ya. Mengingatkan gua pada Michael Jordan.

Anyway, he thank you for tuning in all the way to the end. He let us know what you think. Kalau lu ada komentar, pertanyaan, something yang menurut lu pengin e kayaknya perlu didiscuss deh di podcast ini, let us know. Nanti emailnya ditulis di situ. Anyway, stay safe everybody and see you next time.

Thank you. Thank you. Thank you. [Musik]

Go deeper — Concepts & Ideas