Apakah Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang baru cuma Ujian Nasional dengan nama baru? Di Proxemics 012, Ibu Rahmawati (Bu Wati) — Plt. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan di BSKAP Kemendikdasmen — dan praktisi pendidikan Pak Doni Koesoema menjelaskan apa sebenarnya TKA.
Jawabannya: setelah Ujian Nasional ditiadakan, TKA bukan syarat kelulusan, melainkan ‘penggaris’ objektif — kunci penting untuk jalur prestasi (SNBP) masuk perguruan tinggi negeri, dan bukan hal yang perlu ditakuti siswa.
Mereka memakai analogi ‘mencicipi masakan’ untuk menjelaskan kenapa penilaian eksternal memvalidasi apa yang diajarkan sekolah, dan memaknai ulang TKA sebagai ‘academic medical check-up’: cermin kekuatan dan kelemahan siswa, bukan vonis.
Bagaimana kalau nilainya tak sesuai harapan? Para narasumber memaknai ulang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, dan Bu Wati memaparkan tiga tips persiapan praktis dari kementerian agar siswa siap menghadapi TKA dengan percaya diri.
Di sepanjang obrolan, mereka menelusuri sejarah ujian terstandar dari Ebtanas, UN, ANBK, hingga kini TKA — meluruskan miskonsepsi terbesar bahwa ini sekadar ‘UN dengan nama baru’ — dan Pak Doni membagikan tiga kunci menyikapi kegagalan dengan pola pikir yang lebih sehat.
Diproduksi bersama erakini.id dan Kemendikdasmen — dan dilengkapi kenalan dengan kanal YouTube Pak Doni, ‘Pendidikan Karakter Utuh’ — episode ini memberi siswa, orang tua, dan guru kosakata bersama untuk membahas tes ini dengan lebih tenang. Kalau Anda ingin memahami TKA secara jernih, inilah penjelasan resmi langsung dari sumbernya. Layak ditonton.




YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
[Musik] Welcome to another episode of Porxemics. Kita biasa ngobrol-ngobrol tuh lumayan luas sih. We talk about public relations, communication in general. Tapi kita kadang-kadang ngomongin talent juga. Nah, untuk episode kali ini tuh erat banget sebenarnya hubungannya dengan talent karena eh kita-kita nih yang profesional gitu ya, at the professional level itu eh we have to absorb eh talents ya.
Yang dari dari awal nih harus ditempa dulu. Harus ditempa supaya nanti bisa menjadi talent-talent yang ready. bisa langsung tarung lah, bisa langsung tempur. Nah, untuk episode kali ini very education focus eh but it's gna be a good episode. Anyway, eh di ruangan ini ada saya Mercy, di depan saya ada Stef.
Nah, ada dua tamu kali ini. Yang pertama itu ada Ibu Rahmawati, dipanggilnya Bu Wati, ya. yang saat ini menjabat sebagai Plt. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan atau BSKAP. Benar ya, Bu?
Ya, betul. Luar biasa. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Nah, baru ikutnya selamat datang, Ibu. Terima kasih.
Eh, yang berikutnya itu ada author, content creator, lecture, lecturer. Luar biasa. eh pemerhatia lah pendidikan eh Bapak Doni Koesoema. Welcome Pak Doni, selamat datang di Prox. Anyway, jadi kita ngobrol-ngobrol aja ee santai nanti kita ee banyak banget sekitar pertanyaan ya.
Iya betul. Eh, ya. Tapi mungkin gimana nih secara garis besar dulu mungkin ya? Apa general overview eh sekarang pendidikan kita nih ada ada apa aja sih, Bu yang lagi update, yang lagi heboh diomongin orang sama ee gimana progresnya sejauh ini? Jadi kalau kita bicara tentang pendidikan itu kan sebenarnya tentang lifel learning ya, belajar sepanjang hayat gitu ya.
I. Dan kalau kita bicara proses belajar, apapun itu, siapapun itu, pasti kita punya tujuan dong belajar tuh kita maunya apa sih, bisa ngapain gitu ya. Kemudian dari kita tahu kita tujuan belajarnya mau ngapain, kita kemudian berusaha. Misalnya kalau saya pengin belajar wayang, pasti saya cari orang yang ahli wayang. Saya cari alat-alat tentang perwayangan, latar belakang wayang, dan lain-lain.
Itu adalah ee how to. Jadi kita punya goals-nya, kita punya how to. Tapi sesudah itu kita harus berefleksi, kita berpikir hasil belajar saya itu sebenarnya tercapai tujuan apa enggak ya. H. Nah, itulah yang disebut dengan assessment.
Hm. Assesment penilaian turunannya itu ada tes, ada ujian, gitu. Jadi kalau kita mau belajar dan kita tahu kita sudah sampai tujuan atau belum, meningkatkan lagi tujuan kita atau kita justru harus memperbaiki pembelajarannya, itu pasti harus melalui suatu assesment. Mungkin saat ini yang terdekat dan sesuai dengan tugas dan fungsi saya di Kemilik Dasmen yang lagi heboh ini tentang tes kemampuan akademik ya. Oke, yang akan dihadapi oleh siswa kelas 12 sederajat ini kelas 3 SMA, MA, SMK.
Paket C insyaallah nanti di tanggal 3 November sampai 9 November. Oke. 3 sampai 9 November itu berapa hari, Bu? Setiap murid hanya melakukan 2 hari. 2 hari.
Betul. Tapi kami menyelenggarakannya sebanyak tiga gelombang, gitu. Oke. He. Tiga kelombang di seluruh Indonesia ya.
Iya. Itu sekarang kita di berapa sekolah tuh, Bu? Ya, kalau saat ini yang mendaftar sudah lebih dari 30.000 sekolah ya. 30.000 sekolah sudah lebih dari 2,8 juta murid oke yang mendaftar. Nah, kalau kalau eh based on our observation itu kan recently udah enggak ada yang tes yang sifatnya nasional ya atau udah udah lumayan lama ya enggak dilakukan.
Nah, itu secara logistik ribet enggak sih, Bu? Ngurusin ngetes 30.000 sekolah gimana nih? Kalau Indonesia memang secara geografik itu sangat menantang ya. Heeh. Jadi kalau misalnya gini, kita tuh pengin bikin sistem yang betul-betul aman ya.
Tapi kalau kita bikin betul-betul aman tuh mungkin spesifikasi komputer sama laptopnya itu harus minimal misalnya gitu ya, yang keluaran tahun 2022 ke atas. itu kalau diselenggarakan di Indonesia mah ada banyak sekolah tengkurep kali ya. Iya. Iya. Karena ee apa kita tidak bisa menutup mata lah.
Masih banyak sekali yang perlu kita ee lengkapi sarana prasarananya, kita tingkatkan kualitasnya. Jadi memang kalau kita berbicara Indonesia itu adalah bagaimana serving, memfasilitasi, tapi yang bisa menjangkau spesifikasi terendah supaya semakin banyak yang bisa kita angkut, yang kita bisa akomodir seperti itu. Jadi kalau bicara ribet, ribet belum adanya zona ya, ada Indonesia Timur, Indonesia Barat, Indonesia Tengah. Heeh. Kalau dari sisi assesment, dari sisi psikometri itu paling enak tuh ujian itu satu waktu brek selesai.
bareng idealnya ya. Jadi enggak bisa kasih-kasih informasi dong, enggak bisa kasih bocoran gitu ya. Entar jawabannya ini ya ini ya. Tapi kalau misalnya kita paksakan itu nanti kasihan yang di Indonesia Timur ya bisa selesainya malam hari. Iya.
Atau kasihan yang di Indonesia Barat masa mulainya dari jam pagi. Oh ini berapa lama tesnya? By the way satu hari itu ada dua hari pelaksanaan. He. Jadi kalau siswa itu login masuk langsung menempuh tiga mata pelajaran itu waktunya setiap mata pelajaran 45 menit.
Oke. I jadi 2 jam lebih ya. Sedangkan untuk yang hari kedua itu hanya dua mata pelajaran. Waktunya 2 jam. Oke.
Jadi yang pertama 45 menit 45 menit. Yang kedua itu 60 menit. 60 menit. 60 menit. 60 menit.
Oke. Kalau zaman dulu tuh berapa lama sih apas? 3 hari deh. Saya ingatnya kayak dulu ujian nasional 3 hari SD, SMP, SMA makin banyak. Tapi 3 hari terus kayak 2 jam kalau cuman dulu.
Iya. Kalau matematika 4ek gitu kan kita harus cepat karena dia ada ada waktu harus ngisi itu saya berdoa. Kalau gua banyak berdoa masih pakai pensil masih pakai pensil. Kalau salah ngus harus sampai bersih. Ya kasihan yang namanya panjang kan.
Iya yang lain sudah kerja ini masti nama. ngisi nama. Oke. Jadi yang lagi banyak diobrolin nih ee TKA di luar sana ini ee apakah semuanya kita t ngelihat tuh kayak ada enggak resistance juga sih. That's too strong of a word lah.
Tapi kayak ada orang-orang yang mempertanyakan gitu. Ini buat apa sih? Jadi mungkin Ibu bisa menjelaskan kenapa ee si TKA ini dilakukan dan kenapa tahun ini? Iya. Jadi yang pertama mungkin saya kasih analogi ya.
Kalau saya masak terus saya ngeklaim nih sama Mas Mercy. Uh masakan saya tuh enak banget gitu ya. Tapi Mas Mercy mau nyicipin enggak boleh. Mas Stefani mau cicipin enggak boleh. Wah Doni mau cicipin enggak boleh.
Saya bilang percaya deh masakan saya tuh enak banget gitu. Oke. Terus yang bilang emang emang iya betulan enak gitu ya. Akhirnya kan harus ada orang lain yang mencicipi. Hm.
untuk mengatakan bahwa itu enak. Pembelajaran juga sama. Pembelajaran itu terjadi di ruang kelas masing-masing, di sekolah masing-masing, di masyarakat. Kemudian gurunya ngeklaim, wah, anak saya itu hebat banget, semuanya jago gitu. Tapi kemudian pertanyaannya yang memvalidasi siapa?
Yang mverifikasi dan mengonfirmasi itu siapa? Jadi di penilaian itu ada yang sifatnya internal yang dilakukan oleh guru masing-masing, ada yang sifatnya eksternal yang bukan gurunya. Seperti Mas Mersi nyicipin masakan saya atau misalnya Mas Mersi bilang, "Saya takut alergi ya, tapi tolonglah Pak Doni, Mbak Stefani cicipin gitu dari Mbak Stefani sama Pak Doni apa hasilnya itu akhirnya bisa menjadi ee data yang bisa lebih dipercaya daripada cuma saya yang mengklaim." Oke. Nah, sejak tahun 2020 penilaian eksternal di tingkat individu murid itu tidak ada. Oke.
Yang ada hanya dari guru. Dan ketika ini terjadi beberapa tahun, kita mendapati ada beberapa pihak itu yang kemudian mempertanyakan, "Betul jago enggak sih?" gitu ya. Misalnya yang kami pernah audiensi itu dengan Addikbud Belanda dan Jerman. Oke. Mereka tuh mempertanyakan ini kalau ada yang mendaftar ke kami lulusan SMA dan SMK menggunakan nilai ijazah dan kami ingin tahu sebenarnya apakah dia termasuk maksudnya 30% terbaik lulusan Indonesia gimana caranya?
Itu sulit karena ya itu selera kokinya masing-masing ya. Hm. Atau ibarat kata penilaiannya pakai jengkal gurunya masing-masing gitu. Ternyata jengkal saya lebih pendek dari jengkalnya Mas Mercy, lebih panjang dari jengkalnya Mbah Stefani. Ya namanya jengkal masing-masing gitu.
Tapi kalau ada yang diukurnya dengan penggaris semuanya pakai cmeter, pakai meter itu kan terstandar. Jadi pemerintah sebenarnya hadir untuk memenuhi kebutuhan ini. Hm. Ayo kalian sudah belajar sampai belasan tahun selama ini tahunya hasilnya menggunakan jengkal. Kalau ingin mengetahui hasilnya yang lebih objektif, pakai alat ukur yang terstandar seperti pakai penggaris, ini pemerintah hadir, silakan digunakan, silakan dimanfaatkan seperti itu.
Jadi sudah ada penggunanya. Penggunanya adalah mereka-mereka yang membutuhkan objektivitas dari hasil belajar gitu yang semakin lama ragu gitu ya dengan ee ijazah gitu. Kok kelihatannya semua nilainya bagus semua gitu. I. Oke.
Jadinya ada kebutuhan lah. Ada. Apalagi yang tadi misalnya kita mau ngelanjutin pendidikan ke luar negeri, tunggu dulu. Ini kita dapat yang apply 1000 orang nilainya sama tapi kok beda-beda misalnya gitu ya, kemampuannya, rasanya beda-beda. Nah, kalau menurut ee Pak Doni gimana, Pak?
eh apakah apa tantangannya untuk si TKA ini especially di tahun pertama ya. Sama saya penasaran juga pas tahun 2020 itu sebenarnya kenapa kira-kira ditiadakan yang konsepnya nasional supaya ada sebuah standar nasional itu ee kenapa ya dulu ditiadakan dan ee pendapat Bapak bahwa sekarang didatangkan kembali melalui TKA ini gimana, Pak? Ya, pertama-tama memang kita perlu mengapresiasi ya bahwa ee kebijakan sebagai kebijakan nasional itu kan harus ada dasar hukumnya. Jadi artinya ketika pemerintah itu membuat sebuah kebijakan, dia harus tahu sebenarnya kebijakan ini amanatnya apa. Kalau kita rujuk misalkan pertama kita, oh tugas pendidikan yang utama adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan itu ada di dalam Undang-Undang Dasar.
di Undang-Undang Dasar itu amanat mencerdaskan bangsa kan ada di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan ini ada di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Maaf, terutama pasal yang menyatakan itu pasal 58 bahwa harus ada asesmen untuk peserta didik, untuk satuan pendidikan dan lembaganya untuk mengukur apa? mengukur capaian standar nasional pendidikan. Nah, standar nasional pendidikan itu kan ada delapan. Salah satunya adalah standar isi.
Itu berarti apa sih yang dipelajari anak Indonesia? Maka harus ada kebijakan tuh untuk nguji. Nah, selama ini untuk menguji ketercapaian standar nasional dipergunakanlah istilahnya sejak zaman Mbak Stefani dulu, zaman saya itu namanya Eptanas dulu kan. Iya, itu zaman saya itu EPTANAS dulu namanya tegang-tegang. Tapi tahun 2013 kan diganti namanya Ujian Nasional.
Karena 2013 itu kan memakai Undang-Undang Nomor ee 20 tahun 2003 kan. Oke. Nah, itu berlangsung terus sampai tahun 2020. Oke. Dan itu sesuai ya dengan amanat karena undang-undangnya kan belum diganti.
Heeh. itu. Nah, lalu kebijakan yang ada adalah ingin melakukan sebuah assesment bukan pada orangnya, tapi pada sistem. Jadi, kebijakan menghapuskan ujian nasional itu sebenarnya konsepnya menghapuskan kebijakan ujian peserta didik individu berindividu diganti dengan ujian untuk menilai kualitas sekolahnya, satuan pendidikannya. Maka muncullah itu asesmen nasional berbasis komputer yang sifatnya survei enggak semua anak dan bukan untuk meluluskan.
Oke. Apakah ini ada di dalam amanat undang-undang? Ada. Jadi di undang-undang kita itu seharusnya pemerintah juga melakukan assesment terhadap sistemnya dan itu bisa dilakukan oleh pemerintah daerah juga yang selama ini belum dilakukan. Yang sudah kontrol kualitas dari pemerintah itu lewat namanya akreditasi.
Oke. Kalau akreditasi kan beda ee ininya beda. Tetapi kalau asesmen nasional itu mau menguji sejauh mana fungsi sebuah sistem pendidikan di level satuan pendidikan itu bisa menumbuhkan menumbuhkan literasi dan numerasi lingkungan yang baik. Nah, itu yang dilakukan dengan assesment nasional. Jadi sebenarnya ini juga penting asesmen nasional untuk menguji kapasitas sistem di tingkat lokal.
Tetapi kok malah yang amanat satunya dihilangkan tetapnya seharusnya kan tidak. Karena pasal itu tetap ada di dalam undang-undang kita. Jadi konteksnya seperti itu. Maka ketika sistem untuk menilai hasil evaluasi belajar dari masing individu itu dihilangkan lalu difokuskan semuanya pada sekolah dan sekolah yang menentukan dan memang benar di dalam undang-undang kita itu yang meluluskan itu sekolah Mbak Stefani. Jadi enggak bisa ee ujian nasional itu dipakai untuk kelulusan.
Enggak bisa. Maka kan zamannya Pak Anis Baswedan itu sudah dihilangkan. Hm. He. Tetapi ketika ujian nasional itu dihilangkan, tidak sebagai syarat kelulusan.
Orang lalu bertanya, "Ini untuk apa?" Mungkin waktu itu kelemahan komunikasinya ya, sehingga banyak yang mengatakan terdemotivasi. Buat apa ikut ujian tapi kemudian enggak mempengaruhi apa-apa. Ini kan pertanyaan yang harus dijawab oleh pengambil kebijakan. Maka saat ini ketika ini dikembalikan itu kita harus melihatnya dari sisi bagaimana pemerintah mulai melaksanakan amanat ANBK kan masih tetap tuh saat ini masih ada ya Bu Wati ya. Jadi asesmen untuk yang sekolah barusan dilaksanakan itu juga ada.
He. Lalu untuk yang kelas jenjang akhir untuk yang SMA dan SMK diadakan lagi untuk menguji ketercapaian standar nasional pendidikan. Karena enggak mungkin anak belajar tetapi kemudian yang dipelajari itu enggak diujikan. H. Dan ini dampaknya di perguruan tinggi.
Karena di perguruan tinggi ee ketika ujian nasional itu dihapuskan, seleksi masuk perguruan tingginya itu menjadi beda. Menjadi cuman tes potensi akademik sama literasi dan numerasi bahasa Inggris. Oke. Tidak berbasis mata pelajaran. Oke, ini banyak keluhan juga di perguruan tinggi.
Kalau misalkan mau masuk ITB ujiannya kan tentu harus mata pelajaran yang bidangnya itu akan mempersiapkan anak menjadi lebih baik. Tapi dengan sistem yang sekarang itu enggak bisa mereka mempersiapkan karena anak-anak yang IPA, IPS itu bisa bersama-sama asal kuncinya ada di matematikanya misalkan sama bahasa Inggris. Nah, lalu itu menjadikan universitas itu enggak bisa menyeleksi yang terbaik istilahnya begitu. Nah, TKA ini mencoba untuk menyeimbangkan terutama untuk jalur prestasi ya. Jalur prestasi itu kan selama ini memakai jalur rapot dan jalur rapot tampaknya menurut saya juga belum dihilangkan juga kan.
Sekarang kan masih berlaku jalur memakai rapot. Jadi ee teman-teman yang anak-anak SMA itu enggak usah khawatir, Bapak Ibu guru enggak usah khawatir nilai raput seleksi masuk perguruan tinggi jalur prestasi. cuman nanti akan kemudian ada tambahan untuk ee menyeimbangkan ya dengan hasil yang lebih objektif. Karena kalau misalkan saya SMA saya punya minat di bidang kedokteran lalu saya belajar biologi dan saya memilih biologi, masa pada saat mau masuk perguruan tinggi kita takut diuji biologinya gitu. Nah, kalau TKA ini kan pemerintah punya asumsi juga bahwa anak Indonesia minimal lah bisa matematika dan bahasa Indonesia.
Iya kan? Iya. Jadi yang wajib itu matematika dan bahasa Indonesia. Lalu untuk SMA ada yang bahasa Inggris kan. Lalu dua mata pelajaran lain kalau tidak salah ya Bu Wati ya.
Itu mata pelajarannya pilihan juga gitu. Jadi sebenarnya dari sisi pelaksanaan evaluasi terstandarisasi yang sekarang itu sudah lebih sesuai dengan ketentuan internasional yang berlaku di manapun untuk assesment standar. Apalagi tadi Buati mengatakan untuk assesment ini anak-anak dapat. Jadi di dalam peraturan nomor 9 itu dikatakan anak-anak dapat mengikuti. Berarti dia enggak ada kewajiban, enggak ada kata wajib.
Itu sudah benar. Artinya mereka bebas. Kalau mau ujian ngecek sejauh mana saya belajar, oke, gunakan itu. Tapi kalau enggak siap, karena mungkin merasa saya enggak akan ke luar negeri, saya habis ini mau langsung masuk ke universitas yang enggak memerlukan tes ini, ya enggak apa-apa, gitu. Jadi dari sisi pelaksanaannya, dari sisi ee prosedurnya untuk pelaksanaannya itu saya rasa sudah cukup bagus.
Dan tadi misalkan ditanyakan apakah selama 5 tahun enggak ada lalu pelaksanaannya itu menjadi seperti apa? Saya rasa ee teman-teman di kementerian itu sudah terbiasa dengan asesmen nasional kan yang berbasis komputer itu kan juga setiap tahun mereka mengadakan. Jadi sebenarnya tidak ada banyak masalah juga dari sisi itu sebenarnya. Jadi saya ingin mengajak kita anak-anak ini enggak, enggak usah takutlah gitu. Ujian itu kan ya bagian dari hidup kita lunjian.
Dan tentu saja kita perlu ngecek ya kalau saya mau belajar sejauh mana sih saya belajar justru ini harus menjadi anak-anak yang mau maju itu biasanya malah siapa takut gitu kan ngapain takut wong kita juga belajar dan lain-lain gitu. Maka sebenarnya alasan anak-anak untuk takut pada ujian yang ee tes ee kemampuan akademik ini enggak perlu diragu, enggak perlulah ya. Apalagi yang diujikan itu bukan sesuatu yang tidak pernah dipelajari. Ini kan basisnya basis kurikulum. Jadi sebenarnya ini sumatif saja.
Sumatif itu ngulangin apa yang ada dan strateginya ya memang harus tahu sebenarnya capaian pembelajarannya apa. Karena soal-soal itu menurut saya harusnya mengacu kepada capaian pembelajaran dan guru harus mengajar sesuai dengan capaian pembelajaran. Yang jadi masalah adalah ada sekolah-sekolah yang mungkin gurunya enggak paham capaian pembelajarannya apa, dia ngajarnya apa. Nah, ini yang memang menjadi tugas kementerian tuh untuk selalu melatih, menyadarkan tuh. Karena sistem yang sekarang itu kan sebenarnya kayak sistemnya itu outcome based education sebenarnya.
Jadi ada istilahnya triangle yang harus diingat gitu. Pertama materinya apa, learning outcome-nya apa, CP-nya, lalu assesment-nya. Jadi tiga hal ini harus cocok. Maka kementerian enggak mungkin dia akan membuat item soal yang enggak sesuai dengan capaian pembelajaran. Yang kita agak lewat mungkin adalah bahwa gurunya enggak ngajar sesuai dengan CP-nya.
Nah, ini yang membuat nanti anak-anak menjadi kesulitan itu. Jadi memang harus dicek terus dan tantangannya menurut saya dari sisi bagaimana kualitas pembelajaran yang memang dari gurunya ya. Kalau gurunya enggak paham cara mengajar di era sekarang ya kasihan anak-anaknya. Kadang kan guru hanya datang dia ngomong apa enggak persiapan dan lain-lain itu kasihan anak-anaknya gitu. Tetapi kalau anak-anak tahu sistem ini seperti apa, kalau misalkan gurunya enggak ngajarin, dia langsung tahu kok saya harus mempelajari apa.
Karena CP-nya jelas. Sehingga dia enggak perlu oke saya mungkin lagi enggak beruntung dapat sekolah yang gurunya enggak paham, tapi karena saya tahu sistem ini, CP-nya apa, capaian pembelajarannya apa, saya akan mempersiapkan diri untuk belajar di situ untuk misalkan tes kompetensi akademik ini. Nah, itu dia pasti akan berhasil gitu. H tadi kan kita Bapak sempat mention ya bahwa program 5 tahun lalu tuh ada masalah di komunikasi juga. Jadi banyak yang siswa, orang tua dan juga ee em semua ekosistemnya malah enggak mengerti gitu konsepnya.
Nah, dengan TKA yang akan kita mulai di bulan November dan bulan Juni juga baru resmi ya, Bu ya. Iya. Ini gimana nih dari segi kementerian dan Bapak juga sebagai pemerhati pendidikan supaya messagenya itu jelas bahwa ini tuh sebenarnya bukan untuk nambah-nambahin pekerjaan siapapun. Ini untuk kebaikan kita bersama. Ee bahwa ini tuh didesain untuk kepentingan ee kepentingan siswa ini sendiri.
Yang dari kementerian apa, Bu, yang sudah dilakukan untuk make sure orang-orang paham dan mengerti? I. Jadi yang pertama itu kami selalu memposisikan bahwa ee guru tuh masih punya kewenangan penuh untuk memberikan penilaian dan menentukan kelulusan. Kemudian kami juga selalu mengingatkan bahwa setiap manusia itu pasti punya potensinya. Heeh.
TKA ini mengukur kemampuan akademik, tetapi potensi itu ada banyak yang di luar kemampuan akademik. Selain kemampuan, kita juga perlu memastikan ada attitude, ada karakter begitu ya dari anak-anak. Dan itu sebenarnya tantangan yang dilakukan oleh guru. Guru itu harus memastikan bahwa yang dia bekali itu dan dia assess yang dia lakukan di pembelajaran itu membekali secara holistik. tidak hanya akademiknya, tapi juga ada skills-nya dan yang lebih penting lagi ada attitude dan ada karakternya seperti itu.
Dan itu akan sangat sulit dilakukan oleh pemerintah karena ujian yang holistik itu harusnya bisa otentik dan bisa menyesuaikan dengan karakter murid ke murid. Tetapi kita juga menyadari ada kemampuan minimum yang disyaratkan dan diamanahkan oleh undang-undang yang didelivery melalui kurikulum. yang tadi ada capaian pembelajarannya itu perlu dipastikan tercapai atau tidak gitu ya. Nah, pemerintah hadir untuk memastikan itu tercapai atau tidak. Bukan karena guru tidak melakukan tapi tadi itu ada penilaian yang sifatnya internal, ada penilaian yang sifatnya eksternal.
Jadi, kementerian saat ini ketika mengkampanyekan TKA, kami memang menekankan bahwa TKA itu tidak wajib dan tidak bentukan kelulusan. Tapi TKA itu penting. Kenapa? Karena kalau tidak mengikuti TKA, lupakanlah bahwa saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP yang memang syaratnya harus punya nilai TKA gitu ya. Tapi untuk diri saya sendiri apalagi sudah kelas 12, saya sudah belajar belasan tahun, masa saya enggak tahu sih capaian saya tuh dibandingkan teman-teman saya ada di mana gitu ya.
Saya mungkin merasa saya jago banget di sekolah saya, tapi ketika saya ditanya, "Seberapa jago kamu kalau di provinsi?" Saya juga enggak tahu gitu. Karena selama ini ya saya percaya sama guru saya, tapi saya juga tidak pernah berada di wawasan yang lebih luas lagi. Di tingkat kabupaten kota, di tingkat provinsi, di tingkat nasional. Bukan untuk meranking ya. Tapi kalau ada sesmen atau penilaian seperti TKA ini sangat mungkin kami menyajikan bahwa nilai kamu sekian tapi rata-rata siswa di kabupaten kota sekian loh.
Ternyata kamu misalnya masih below average gitu ya. Berarti kan saya tahu oh saya harus memperbaiki di sini. Oke. Begitu juga kalau saya ternyata lebih di situ. Oh kekuatan saya di sini.
Berarti saya kalau ingin melanjutkan studi mungkin saya lebih baik memilih ini karena ini potensi saya gitu. Jadi sebenarnya untuk kepentingan diri masing-masing itu yang kami harapkan. Jadi memang tidak wajib tidak menentukan kelulusan karena kelulusan itu harusnya sangat komprehensif dan holistik dan bisa menggali potensi setiap anak. Indonesia kalau melakukan tka sekarang yang daftar sudah 2,8 juta itu sangat sulit kalau harus bikin ujian yang beda satu murid dengan murid lain ya untuk jadi itu silakan ranahnya guru. Oke.
Tetapi kalau ingin mengetahui bagaimana secara objektif hasil belajar saya ikut TKA. TKA ini memang tadi pertanyaannya semua didesain sesuai dengan kurikulum ya. Udah. I betul betul. Oke.
Betul. Oke. Nah ee hasilnya tuh berapa lama biasanya? Karena ini akan digunakan sebagai syarat mendaftar SNBP. Heeh.
Jadi ujian ini akan ada kesempatan susulan. Susulan ini untuk yang ketika di hari H misalnya sakit atau izinkan alasan penting atau misalnya ada gangguan teknise. Itu kami berikan 2 minggu setelah ujian utama. Jadi kalau ujian utamanya tanggal 3 atau tanggal 17. Oke.
Dan hasilnya ini akan kami sampaikan ke panitia SNBP di tanggal 5 Januari. Oh, 5 Januari. 5 Januari. Iya. Ee apa bisa apa cukup waktu gitu dengan sisa dari Januari ke bulan apa ya biasanya April, Mei itu untuk melakukan ee tambahan-tambahan untuk catch up dengan si nasional ini gitu.
Kurang lebih Bu pertanyaan saya ini ke saya dulu ya. Ya, nanti. Jadi kalau saya gini ee tadi kan disampaikan oleh Pak Doni juga ya, ada yang sifatnya itu esensial untuk kehidupan sehari-hari. Oke. Itu kemampuan di bahasa, di matematika, dan untuk SMA karena dia mau memasuki dunia yang lebih luas dan kompetitif bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Misalnya saya memang enggak bercita-cita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya ingin wirausaha aja di wiraswasta. Terus nilai matematika saya ternyata jelek gitu ya. Matematika wajib loh, matematika yang dasar gitu. Dibandingkan dengan teman-teman saya dengan sekabupaten kota, seprovinsi sangat jauh.
Berarti suatu saat saya jadi artis misalnya bidangnya seni tapi saya mau teken kontrak, saya harus didampingi sama orang yang tahu betul tentang angka-angka ya. Dan saya tidak bisa hanya mempercayakan pada satu sumber. Saya harus memverifikasi karena ternyata saya lemah di sana. Itu itu gunanya cermin ya. Kita tahu bahwa potensi kita di mana ya.
kayak sayalah. Saya tahu daerah paling rawan timbul jerawat di saya misalnya adalah di kening. Berarti di situ saya harus nyabunin lebih lama misal gitu ya. Ini juga sama saya kurangnya di mana di situ saya harus lebih waspada, saya harus lebih hati-hati. Kalau memang mentok kemampuan saya enggak bisa di situ, saya harus dibantu orang lain di bagian yang itu saya kayak gitu.
Kemampuan bahas saya sangat buruk. Berarti kalau saya membaca informasi terutama artikel-artikel yang sifatnya sangat resmi, saya harus memastikan ulang nih pemahaman saya dengan orang lain. Dan namanya belajar sepanjang hayat mungkin tidak bisa dikejar dalam waktu 46 bulan. Tapi ketika kita tahu kita kurangnya di situ dan kita gigih berusaha memperbaiki di situ, pasti kita akan bisa memperbaiki, pasti kita bisa menjadi lebih baik gitu ya. Tapi alarm ini karena udah belajar 12 tahun loh dan ini adalah sesuatu yang diukur dari apa yang dipelajari gitu.
Jadi kalau sangat jelek berarti potensi saya bukan di sana. Tapi sebaliknya ketika saya mendapatkan hasil yang bagus dan kita lihat wah ternyata nilai saya oke juga nih di di status nasional gitu. Saya boleh dong lebih memfokuskan diri saya di situ gitu ya. Uh, ternyata fisika saya oke banget nih. Tapi selama ini saya kok enggak pernah ditunjuk mewakili olimpiade fisika dan lain-lain.
Itu kan sangat mungkin terjadi juga ya. Tapi saya berarti boleh nih meniti karir di sana karena saya memang punya potensi di sana dan saya jadi lebih percaya diri saya bisa catch up dengan sangat cepat karena apa? karena saya terbukti potensinya memang ada di sana seperti itu. Oke. Kalau menurut ee Pak Doni pertanyaan yang sama saya tambahin sebenarnya kalau lebih cepat masuk akal enggak, Pak?
Lebih cepat gimana maksudnya? Bukan tahun 12 misalnya tahun 11. Jadi mereka punya an extra year gitu untuk ee memperbaiki Heeh. untuk dia, wah ternyata gua udah 11 instead of sudah 12 tahun belajar, sudah 11 tahun belajar wah tapi gua masih punya 1 seteng tahun lagi nih untuk ngejar misalnya ini nih saya mengandai-ngandai menurut menurut Pak Doni gimana ya ee mulai dari yang terakhir dulu ya mungkin yang lebih kenapa ini ditaruh di akhir ya bukan di yang relatif akhir lah relatif bukan yang di kelas 11 tengah-tengah gitu akir sebenarnya masalah ee assesment ini kalau kita lihat itu sebenarnya bisa juga kalau menurut Menurut saya ya, artinya kan sebenarnya ini capaiannya kan yang diuji kan capaian pada saat dia perform ee pembelajaran tertentu. Jadi cutting point untuk titik materi apa yang masuk itu kan akan ditentukan lewat proses belajar dia.
Jadi kalau misalkan nanti dia usi ee pada kelas 11 misalkan TKA ini dilakukan, maka nanti pasti ada konsekuensi pada item soalnya ya, Ibu ya. Iya. Pasti bisa diadjust lah kalau misalnya mau dilakukan di 11. Betul. Itu bisa juga ya.
Artinya nanti setelah itu kan biar anak-anak fokus untuk ee ke ujian sekolahnya, biar ujian sekolahnya bisa lebih otentik dan lain-lain. Dan memang ee para guru, orang tua itu juga harus tahu juga mungkin ee saya sering mendengar begini, emangnya ujian nasional itu menguji kemampuan kolaborasi gitu ya? Sulitlah ya kan dari konstruk item soalnya saja kita pilihan ganda. Iya kan? I.
Jadi yang dipotret itu pasti lebih ke akademik gitu. Tapi apakah ee ujian TKA ini harus menguji kolaborasi gitu? Itu pertanyaan kita kan harus kita kritisi kan. Jangan-jangan lu salah pertanyaan, salah nanya gitu. Karena masalah kolaborasi, karakter dan lain-lain itu sudah ada di amanat undang-undang sistem pendidikan nasional kita.
Dan itu adalah tugas dan wewenangnya Bapak Ibu guru mendampingi dari kelas 10, 11, 12 penilaian yang lebih otentik, bagaimana membangun project based learning dan lain-lain itu di situ sebenarnya. Maka dengan kemampuan seperti itu, undang-undang kita memberikan kartu izin bagi sekolah untuk meluluskan. Seharusnya dalam hal ini sekolah kan punya visi misi. Jadi bisa jadi loh anak yang mungkin lulus TKA dia enggak lulus sekolah itu. Karena sekolah malu kan saya enggak mau dong sekolah saya punya alamater kayak gini.
Misalnya karakternya kan karakternya buruk. Iya. Jadi buat apa saya meluluskan anak ini pintar tapi karakternya enggak sesuai dengan visi misi sekolah kami? Ini akan merusak kredibilitas dan branding dari sekolah kami gitu kan. Karena ada sekolah misalkan di Jakarta karena dia punya misi untuk membentuk calon pemimpin yang berintegritas.
Begitu anak ini nyontek langsung dikeluarkan. Iya kan? Sepintar apapun dikeluarkan gitu. Kalau saya punya sekolah enggak akan gitulah ya. Karena kan saya masih percaya ada orang itu punya kesempatan bertobat lah ya.
Jadi minimal ginilah kalau nyontek ketahuan oke sekali ini habis itu kalau enggak out gitu. Karena di sekolah kami mau mendidik anak-anak yang jadi pemimpin yang berintegritas supaya apa? Supaya korupsi itu enggak ada gitu loh. Nah, itu jadi memang harus clear gitu. Jadi memang tes ee kemampuan akademik ini memang spesialisasinya lebih terbatas ya dan hasil tes terstandarisasi itu tidak bisa dipakai untuk menilai apa yang bukan peruntukannya.
Jadi kalau TKA dipakai untuk menilai kolaborasi, saya rasa yang bertanya ini yang salah. offside ya, offside istilahnya. Kalau dia menanyakan apakah anak-anak dalam tes TKA ini menguasai materi yang sudah diajarkan selama kurun waktu di SMA sesuai dengan capaian pembelajaran? Nah, itu iya jawabannya. Tetapi apakah anak-anak tadi yang biasanya di sekolah nilainya 8 10 tiba-tiba di TKA bisa jeblok nilainya 5 atau saya dulu bahasa Inggris 45 semangatnya 45 maksudnya gitu.
Semangat 45 bukan semangat 98 ya. Saya kan reformasi 98 saya itu dulu tapi semangat saya 45 itu itu bisa saja karena apa? Dalam ujian standar itu ada anak tadi ya Bu ya bisa kondisi sakit he ee risau cemas. Iya itu kan akan mempengaruhi kesiapan dia. Kalau orang itu cemas ujian hilang semua, Mas.
Dan itu saya ngalamin juga ketika ada ujian ujian waktu itu saya kuliah ujiannya lisan pada saat milih soal dan pas kita enggak dapat yang kita ingat langsung hilang semua ditanya apapun sudahud enggak ada yang ingat karena Iis tadi. Nah, itu bisa. Tetapi kok saya yakin seandainya kualitas pembelajarannya itu benar, gurunya mengajarkan dengan benar sesuai dengan standar yang diminta oleh kementerian bahwa guru kalau ngajar itu harus sesuai dengan capaian pembelajarannya dan ketika dia membuat soal harus sesuai dengan rujukan di dalam capaian pembelajaran, maka anak-anak itu pasti sudah akan lebih siap. Begitu. Jadi memang ada kemungkinan yang biasanya bagus di TKA bisa jeblok.
Iya, bisa. Tapi itu kan kasus-kasus khusus. Dan yang sebenarnya lebih menarik menurut saya adalah kita itu perlu juga loh ngukur diri kita ya sejauh mana gitu ya. Dan sebenarnya nilai nanti itu nilai tka itu bagus atau tidak harus kita evaluasi dari diri kita. Karena bisa jadi nanti ada sekolah-sekolah itu sudah memanipulasi ya.
Ah sudah nanti anak-anak cuma nulis namanya saja biar guru-gurunya yang mengerjakan. Ada loh. Terakhir ujian nasional itu ketika di Sidoarjo itu kami menemukan bahwa diobel jadi komputer di sini diduplikasi dimirroring lalu nanti dikerjakan tapi kan tetap kelacak gitu ya. Jadi sistem digital itu tetap memungkinkan. Tetapi kalau seperti tadi di ee UTBK di perguruan tinggi pakai kacamata yang sudah canggih ada ini.
Nah, ini berarti tantangan bagi penyelenggaranya. Karena tes yang bersifat standar ketika dalam pelaksanaannya terjadi kebocoran seperti itu, maka hasil tes ini sudah enggak bisa digunakan. Sudah enggak valid ya, Pak ya. Enggak valid karena dia tidak mencerminkan objek tujuannya. Dan ini di beberapa tes internasional seperti tuvel IELT itu sering terjadi beberapa daerah misalnya di Jepang misalkan beberapa pernah dibatalkan itu test tuvel itu karena individu ada individunya dan sistemnya diretas gitu luar biasa jadi enggak bisa gitu.
Jadi dalam hal ini memang kaidah-kaidah standar ujian yang sifatnya objektif terstandarisasi memang harus dipenuhi mulai dari konstruk item soalnya, delivery-nya, pengawasannya sampai nanti pelaporannya gitu ya. Karena bisa jadi ada banyak kebocoran juga loh di pelaporan kan ada orang-orang tertentu yang punya kunci dia bisa telepon ke orang-orang kan. Saya enggak tahu ya apakah ini pernah terjadi, tapi pernah ada isu bahwa Bu nilai anakmu itu segini loh. Gimana mau enggak ini nilainya diganti? Karena itu orang di dalam sistem.
Nah, mungkin ini juga kalau ini pernah ada dan terjadi ya Bu Wati ya, maka orang ordalnya kan jadi orang dalam yang mengelola data itu yang memang harus benar-benar gimana jaganya gitu. Karena itu bisa saja terjadi, namanya sistem ya bisa diakalin itu yang ee kemungkinan-kemungkinan bisa terjadi. Tapi seandainya semuanya berjalan sesuai dengan standarnya, saya rasa hasilnya pelaporannya itu akan lebih mencerminkan siapa diri saya. Kan saya kalau ujian kan tahu sebenarnya saya itu nyontek atau enggak, ya kan? Kalau kamu nilainya bagus, ternyata kamu itu nyontek kan harusnya mengevaluasi diri gitu.
atau misalkan dibantu oleh Bapak Ibu guru. Nah, ini harusnya dia tahu sebenarnya nilai saya enggak seperti itu, tapi dibantu Bapak Ibu guru misalkan. Dan itu bisa saja terjadi ya, karena Indonesia sangat luas, Mas. Yang di daerah terpencil yang pengawasannya enggak bisa ketat dan pemerintah juga enggak bisa ngirim orang untuk mengawasi sampai di level yang terkecil. Tentu bisa jadi itu muncul.
Tapi kalau kebocoran soal saya rasa enggak mungkin karena enggak mungkin dijamin enggak mungkin kebocoran soal itu. Karena soal-soal itu kan sudah masuk di dalam komputer dan itu sudah dikunci di situ. Tapi ini teknis si Ibu. Kalau tadi kan ee akan menjadi prasyarat untuk masuk ke universitas ya, terus ternyata hasilnya enggak e enggak memuaskan gitu. Apakah ada kesempatan remedial ataukah ada mekanisme lain untuk anak-anak yang ternyata nilai enggak cukup untuk menjadi masuk ke universitas.
Em mungkin saya agak mundur sedikit ya. Jadi ke perguruan tinggi negeri itu melalui Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia ada tiga jalur oke untuk masuk ke perguruan tinggi. Ada jalur prestasi, oke jalur berdasarkan tes, dan ada jalur mandiri. Jalur prestasi dan jalur berdasarkan tes ini dilakukannya secara bersamaan nasional. Sedangkan jalur mandiri ini dilakukannya oleh PTN masing-masing.
Mekanismenya, caranya itu sepenuhnya kewenangan masing-masing rektor. Nah, TKA ini adalah syarat untuk mendaftar yang jalur prestasi. Jalur prestasi aja. Oke. Jadi cuma satu aspek, satu jalan menuju romah.
Jalur jalur jalur yang dua belum. Iya, betul. Nah, ee kenapa? Karena ada isu di jalur prestasi itu bobot tertinggi datangnya dari komponen rapot. Ah, oke.
Nah, TKA itu tidak menggantikan komponen rapot ini. Komponen rapotnya masih ada, masih digunakan. Tetapi TKA digunakan untuk mengonfirmasi. Oke. Jadi sebagai alat dari eksternal kalau kamu udah 5 sem.
Jadi kalau jalur prestasi itu adalah yang terbukti berprestasi selama 5 semester. Heeh. Kan SMA itu tuh 6 semester ya. Jadi 5 semester itu kalau dia selalu jadi ranking kelas, ranking sekolah, dia boleh ikut jalur prestasi. Nah, kalau udah 5 semester 2 seteng tahun dia prestasinya oke, dikonfirmasi sama tes dari pemerintah, oke dong kan gitu ya.
Nah, itu TKA tuh hadirnya untuk mengkonfirmasi. Oke, mungkin saya bisa menjelaskan sedikit yang terkait ini. Jadi, gini, kalau di dalam memang TKA ini kan bukan dipakai untuk dari tujuannya sendiri kan dia kan berbasis mata pelajaran ya dan itu kurikulum. Tetapi ketika itu diintegrasikan dengan seleksi masuk perguruan tinggi, dia bisa menjadi salah satu alat yang membedakan, yang membantu universitas menyeleksi mana di antara anak-anak itu yang lebih baik. Karena apa?
Ketika misalkan nih semua nilai rapot itu di-upgrade gitu, anak-anak nilainya 90 semua. Sementara di fakultas ini hanya butuh 50 anak. Iya kan? Slownnya cuma 50. Heeh.
Kalau yang punya itu nilainya sama hampir 100 kan enggak bisa menyeleksi. Itu dalam assesment namanya sailing effect. Jadi sudah mentok. Hm. Enggak bisa mendiskriminasi dan menyeleksi.
Iya. itu apalagi di tes masuk perguruan tinggi itu mereka tidak menggunakan istilahnya apa ya tes berbasis mata pelajaran. Nah, TKA ini itu pasti akan sangat membantu universitas untuk menyeleksi kalau semua nilainya 80 sama sementara yang kita butuhkan hanya 50 kursi di perguruan tinggi. Heeh. Siapa yang terbaik di antara mereka?
Nah, TKA ini bisa membantu karena dia bisa mendiskriminasi satu anak dengan yang lainnya. He. Itu yang menurut saya perlu diperhatikan juga sehingga teman-teman atau adik-adik yang mau nanti masuk perguruan tinggi, TKA ini akan menjadi sangat krusial untuk menyeleksi itu. Oke. Oke.
Nah, tips and triks gitu. Dua atau tiga hal yang sekarang nih apa kira-kira mereka bisa lakukan untuk meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan nilai yang lebih baiklah, Bu. Iya. Dalam waktu yang singkat ini pertama. Heeh.
Sebagai layanan publik kami mempublikasikan kerangka asesmen-nya. Jadi misalnya untuk mata pelajaran fisika materi yang akan diujikan apa? H elemen materinya apa sampai batasan materinya itu sudah ada. Contoh soalnya ada juga. Kemudian kita karena ujian berbasis komputer, kita mungkin bingung nanti kalau pengin ke soal selanjutnya, tombol tekannya di mana, kalau ingin mer-review seperti apa.
Kami juga menyediakan platform ayo coba TKA. Jadi bisa mencoba simulasi simulasi tapi secara mandiri. Jadi dari mana aja, kapan aja. Kalau pengin tahu kayak apa sih contoh soalnya, kemudian cara mengerjakannya di komputer, nanti tampilannya kayak apa, itu juga sudah ada. Jadi pastikan kita tahu apa yang akan kita tempuh ya.
Jadi kalau mau ikut TKA tahu dulu materinya apa, kemudian platformnya bagaimana, gimana, cara jawabnya bagaimana. Semua format soal yang akan keluar di hari ujian itu kami berikan di Ayocoba TKA. Jadi misalnya kalau pilihan ganda kan biasa ya, tapi misalnya ada pilihan ganda kompleks yang benar salah itu ada contoh soalnya juga. Kemudian kalau ingin mengestimasi misalnya nanti panjang bacaannya kayak apa ya itu juga kami memberikan ada yang bacaannya panjang, bacaan sedang, dan bacaan pendek untuk memberikan e feel nanti di hari H tuh ujiannya seperti apa. Jadi ke pusmendik.endikdasmen.go.id.
Oke, nanti ada tombol ayo coba TK yang akses sudah lebih dari 2,4 juta sih. Oke. Tapi dibandingkan yang sudah mendaftar TKA itu pasti lebih rendah. Yang daftar TKA sudah 2,8. Oh.
Jadi masih ada 400.000 selisih. Iya. Jadi kayak pengin daftar-daftar doang tapi enggak enggak simulasi dia. Engak simulasi jangan sampai enggak tahu gitu. Harusnya wajib ya.
Engakutnya nanti pada saat menjawab malah kearah kendala teknis malah bingung malah jadi pembuang waktunya enggak terjawab semua orang kan dianya orang tua yang sudah membantu guru mungkin yang sudah tutoring apa-ap lah sama yang ngecek pekerjaannya juga gitu kan. Lah nih ini semua. Oke. Sori sori Bu Ma. Iya.
Jadi pertama itu cari tahu dan informasinya alhamdulillah sudah banyak ya. Kalau di zaman dulu itu kadang-kadang kita ujian dari pemerintah ikut-ikut tapi yang mau diuji apa kita enggak tahu gitu. Ikut-ikutan ikut-ikutan pengin tahu contoh soalnya malah cari di toko buku gitu ya. Kalau yang ini kan resmi memang dari pemerintah dari yang memang menyusun soal-soal TKA yang akan keluar di hari-ha nanti. Itu yang pertama.
Seberapa itu Bu? Seberapa mirip pertanyaan di simulasi sama di akan keluar? Kira-kira namanya mini test ya. Mini test itu ya itu jadi semua variasi yang akan nanti diujikan itu ada. Oke.
Ya, tapi tingkat kesukarannya mungkin kita cari yang di tengah-tengah. Jadi yang lebih mudah dari itu ya tidak ada di mini test. Yang lebih sukar dari itu juga tidak ada di mini tes. Seperti itu. Oke.
Kemudian yang kedua ya belajar. Karena sebenarnya harusnya yang keluar di TKA kan yang diajarkan oleh Bapak Ibu guru. Oke. Sesuai dengan kurikulum. Heeh.
Dan kami sudah memilah kerangka assesment itu adalah irisan dari kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka. Jadi apapun yang oke diajarkan oleh enggak completely new. Ada ada yang dari lama nih yang diikutkan juga in case I masih ada beberapa guru yang lebih familiar dengan kurikulum yang lama gitu. Betul. Betul.
Jadi itu sudah irisannya. Kami juga meyakinkan betul bahwa topik-topik dan elemennya itu adalah yang sifatnya ee urgen. Jadi yang misalnya saya belajar matematika itu ada mulai dari menghitung ee aljabar sampai ada misalnya bilangan Romawi. Oh bilangan Romawi kan enggak terlalu urgen. Jadi yang less urgen itu tidak kami masukkan ke kerangka ee assesment tka.
Artinya harusnya enggak enggak perlu worry gitu. yang akan diujikan itu memang sesuatu yang yang memang penting yang seharusnya bisa dikuasai ketika belajar dengan baik. Oke. Dan yang ketiga ya berpikir positif ya berpikir positif bahwa ini untuk keperluan aku loh. Jadi aku harus mengerjakannya dengan sungguh-sungguh supaya tahu betul potensiku sampai di mana dan yang lebih penting lagi mengerjakannya dengan jujur.
Karena kalau aku enggak jujur nanti hasilnya enggak sesuai dengan aku gitu ya. Itu yang penting. Jadi tetap berpikir positif, berusaha, berdoa, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Enggak kemudian jadi skip olahraga, uring-uringan, belajar terus, belajar terus, ngurung diri gitu kan. Gua banget dulu.
Oke, sewajarnya tiga itu ya, Bu ya. Eh, itu harus di kondisikan tuh menjelang ee entar gua salah lagi nih tka ya kan kta. Terus, Pak, ini kita ngomongin karakter, Pak. I kan Bapak banyak berbicara tentang karakter gitu ya ee dari ee murid eh people in general gitu. Manusia pada saat mereka gagal, Pak.
Ya kan, let's say lah enggak sesuai dengan harapan pada akhirnya. Jadi in a sense mereka kayak enggak diskualifikasi sih literally, tapi kemungkinan untuk bisa tembus ke eh kampus-kampus yang mereka e inginkan tuh let's say menurunlah. Apa, Pak, yang harus dilakukan tiga hal ya to move forward gitu bahwa ya ini satu jalur gitu dan dan ini satu jalur menuju pintu yang satu ya padahal ada ribuan pintu untuk menuju sukses gitu ya. itu tuh mungkin hal berikutnya yang nanti saya mau tanya juga ke ee Bapak Ibu sekalian. Tapi apa kira-kira tiga hal yang mereka harus lakukan pada saat mereka enggak dapat nilai yang sesuai, Pak?
Ya, pertama-tama kita harus ingat ya, bahwa untuk menjadi orang yang sukses itu kan selalu ada banyak pengalaman gagal naik turun. Enggak ada orang yang kemudian tiba-tiba sukses begitu saja. Enggak ada. I dari pengalaman saya mengajar, saya pernah tuh ada anak dia lulus EPANAS waktu itu ujian nasional waktu saya ngajar di SMA. Tapi dia oleh sekolah tidak diluluskan.
Hm. Enggak diluluskan. He. Tahun berikutnya dia masuk di Fakultas Kedokteran UGM. Wuh.
Jadi artinya apa proses pembelajaran itu? Ya memang kita yang belajar. Jadi belajar itu enggak bisa diwakilkan. Itu intinya. Jadi ketika seseorang itu gagal, dia harus bisa belajar untuk melihat kegagalan itu sebagai bagian dari progres hidupnya.
Kan enggak bisa kalau saya gagal diwakilkan orang tuanya atau gurunya. Enggak bisa. Kita itu nanti kalau mati masuk surga neraka juga enggak bisa diwakilkan ya. Kayak ujian juga sama. Jadi kegagalan itu jelas sebagian dari hidup kita.
Dan di era yang seperti sekarang itu siapa sih yang selalu berhasil terus? Situasi serba tidak pasti. Semakin orang banyak mengalami kegagalan, dia akan banyak belajar dan dia, saya yakin akan lebih sukses dibandingkan teman-teman lain yang enggak pernah punya kesempatan gagal, gitu. Jadi, kalau kalian punya kesempatan untuk gagal, bersyukurlah. Karena kesempatan untuk gagal itu tidak dimiliki oleh banyak orang.
Dan ketika orang itu selalu sukses dan tiba-tiba gagal dan dia tidak belajar untuk bagaimana mengatasi kegagalannya, orang ini bisa langsung frustasi itu. Nah, itu yang pertama. Oke. Yang kedua, dalam konteks pembentukan karakter ini TK ini sebenarnya yang nguji itu bukan negara nguji kamu gitu, tapi kamu nguji diri kamu sendiri. Sejauh mana kamu punya integritas, punya kejujuran di tengah lingkungan yang mungkin enggak mendukung.
Bisa jadi kamu ingin jujur, tapi lingkunganmu mungkin udahlah kita pakai bocoran, kita pakai nyontek aja gitu. Nyontek aja. Ada alat yang canggih loh yang bisa pakai untuk kamu bisa dapat gitu. Nah, nilai-nilai itu seseorang itu berkarakter atau tidak itu justru diuji ketika dia punya yang namanya otonomi moral. Otonomi moral itu adalah ketika kamu melakukan perbuatan baik, enggak perlu ada orang yang mengontrol, enggak perlu ada CCTV, enggak perlu ada orang lain, tapi kamu dan hati nurani kamu yang menjaga bahwa kamu adalah orang yang punya integritas.
He. Yang kedua, lalu yang ketiga ini lebih ke umum ya, karena saya melihat mulai banyak nih pemerintah daerah mewajibkan ya. Ini orang tua juga jadi resah ya kan. Heeh. Maka yuk baik pemerintah daerah, orang tua, kita pahami benar nih peranan TKA.
Jangan sampai kita membuat kebijakan yang sebenarnya kontraproduktif. TKA ini bukan untuk meranking. Saya rasa nanti tidak akan keluar untuk perankingan ya, Bu ya. Enggak akan itu enggak akan ada. Tapi ya sudah ini akan menjadi alat bagi sekolah dan daerah untuk selalu memperbaiki diri gitu.
Bahwa anak-anaknya sudah lulus tapi kan guru kan tahu oh kualitasnya seperti ini sekolah kita. Nah berarti harus akan ada sesuatu yang bisa mereka perbaiki menjadi lebih baik. Intinya untuk adik-adik nih enggak usah takutlah. Ujian itu bagian hidup kita dan ujian itu membuat hidup kita itu lebih kaya. lebih bikin hidup lebih hidup lah hidup tanpa ada cobaan tanpa kegagalan susah.
Kalau saya sih apapun ya ujian itu harus kita hadapin dan terutama kalau kita gagal itu adalah saat di mana kita mendapat kesempatan untuk mengolah hidup kita menjadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih tangguh dan itu yang membuat kita nanti akan sukses di masa depan gitu. of course pendidikan untuk masuk ke perguruan tinggi apa dan sebagainya itu tuh part of the journey lah some people tapi kita juga belajar di sini kan enggak semua orang jalur suksesnya tuh lewat situ gitu tapi yang yang penting it's not about dapatnya di mana sih tapi pas lu ditempatkan di satu tempat what are you going to do about it ya kan apakah lu akan kasih 100% apa cuma 20% just because lu di tempat yang lu enggak pengin gitu itu tuh menurut saya probably dalam konteks pendidikan kan ee jauh lebih ee penting gitu. Maksudnya saya juga enggak kepengin tuh kayak ee murid-murid zaman sekarang tuh overpressured. Kalau gua enggak masuk UI gagal gitu. Obviously itu tuh enggak benar lah pemikirannya kan bisa di mana pun you can be successful anywhere lah dari di kampus mana pun.
It's about yang tadi eh Bapak dan Ibu sebut lu ngapain gitu pas sudah ada di tempat tersebut gitu kan. itu tuh probably if anything eh penting untuk diketahui banyak orang lah tentang itu. Anyway, sebelum kita tutup ee Ibu ada lagi yang mungkin ee penting untuk disampaikan tapi kita belum ee tanyakan. Kalau ini spesifik mungkin ya tentang tes kemampuan akademik. Jadi silakan mengikuti dengan sukacita, dengan penuh semangat.
Bukan karena terpaksa, bukan karena diwajibkan oleh orang lain, tapi memang karena kebutuhan sendiri. Anggap aja ini ada medical check up gratis untuk kemampuan akademik begitu ya. Jadi silakan dimanfaatkan. Kita tahu potensinya di mana, lemahnya di mana sehingga kita bisa membuat journe kita sendiri untuk perbaikan diri kita. Dan tidak hanya semangat, yang penting juga adalah berintegritas.
Karena kalau tidak berintegritas pasti hasilnya tidak akan berkualitas. Itu luar biasa. Pak Doni. Gimana, Pak? Salah satunya saya juga penasaran mungkin tentang channel YouTube.
Oh, iya. Apa nih, Pak yang ee Bapak mau sampaikan yang mungkin belum kita bahas? Ee apa ya? Kalau channel YouTube itu memang apa, Pak? Iya.
Jadi saya itu sejak 2000 ee 2 tahun lalu lah ya mulai bikin ee mulai bikin. Jadi kanalnya itu ee pendidikan karakter utuh. Oke. Lalu program andalannya itu tanya Pak Doni saja. Iya.
Jadi bagi mereka yang enggak jelas tentang TKA dan lain-lain nanti boleh tanya kirim kirim email gitu di mereka bisa kasih komentar di situ. Komen nanti kemudian ditanya tentang tka atau apapunlah karena segala hal tentang pendidikan tanya Pak Doni saja. Itu salah satu program andalannya. Dan yang kedua, karena saya sangat konsen dengan pendidikan karakter, di situ juga sebenarnya ada program setapak namanya. Semua tentang pendidikan karakter.
Setapak. Nah, karena apa? Pendidikan karakter itu pelan-pelan, enggak bisa langsung itu. Maka setapak ya memang ini belum banyak karena materi-materi ini sedang saya kolaborasi dengan beberapa sekolah, lihat dimensi-dimensi tapi yang dibasis itu semua tentang pendidikan karakter. Bapak, Ibu guru, orang tua bisa lihat di situ bagaimana contoh-contohnya tentang bisa paham lebih baik menjadi pendidikan karakter.
Tapi kalau kebijakan pendidikan atau apapun tentang pendidikan di Indonesia enggak tahu, tanya Pak Doni saja. Itu solusinya. Luar biasa. Luar biasa. Oh iya, kita mau shoutout juga buat Mbak Sali dari erakini.
yang sudah membantu organize ee podcast kita hari ini. Jadinya visit erakini.id, lihat-lihat si pasti banyak konten-konten menarik juga di sana. Anyway, kayaknya ee sampai di sini. E kita bisa aja ngobrol 2 jam lagi, tapi kan kita punya jadwal Bapak, Ibu saya tahu sibuk semuanya. Ee mungkin ada lain kesempatan kita undang-undang boleh ya kita ngobrol-ngobrol lagi.
Stefan. Anyway, eh sekali lagi thanks for tuning in all the way to the End. Ini Proxemix eh dan eh terima kasih buat Bu Fati, Pak Doni untuk hadir bersama kita. And that's about it. Thank you.
Thank you. Terima kasih. Terima kasih. [Musik]