Kenapa semua orang tiba-tiba merasa paling ahli? Di Proxemics 018, Prita Laura — dari news anchor prime-time hingga jantung komunikasi istana di Kantor Staf Presiden — menegaskan bahwa ‘memadamkan api’ saja tak pernah cukup dalam crisis communication; kerja sesungguhnya adalah membangun kembali reputasi pasca-kebakaran.
Prita membawa ‘kacamata rontgen’ ala jurnalis, mengutamakan realita lapangan di atas laporan meja — menyelidiki pasar dan petani langsung untuk memetakan apa yang benar-benar dirasakan publik, bukan sekadar hasil media monitoring.
Ia membingkai ulang mitigasi lewat analogi tajam: terlalu banyak brand membangun gedung pencakar langit yang megah tapi lupa membangun tangga darurat. Persiapan, bukan panik, itu intinya.
Obrolan beralih ke The Psychology of Stupidity dan Dunning-Kruger Effect — kenapa orang berpendidikan pun menyebar hoaks, bagaimana spiral of silence dan tekanan sosial bekerja, serta fenomena ‘Si Paling Tahu’ yang diperkuat media sosial. Ia juga blak-blakan soal ‘Negara Instagram’ penuh toxic positivity dan Gen Z yang berbenturan dengan dunia kerja yang keras.
Sebagai penutup, Prita membandingkan gaya komunikasi Jokowi dan Prabowo — yang merakyat versus yang komando — dan menyebut tiga trait untuk sukses di dunia krisis.
Ia juga menjernihkan media relations — menegaskan ini bukan sekadar soal uang, melainkan kepercayaan — dan menyandarkan penjelasannya pada Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman soal kenapa otak cepat dan intuitif kita terus mendahului pertimbangan yang cermat di lini masa.
Sebuah masterclass gratis soal strategi, mitigasi, dan critical thinking. Layak disimak sampai akhir.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
kebakarannya sudah padam, tapi apakah itu udah beres? Kebakaran sudah padam, tapi kan ada sisa kebakarannya. Critical thinking itu bukan hanya soal kemampuan, tapi di buku itu jelas sih, Bang ini soal lo. Mau apa enggak orang yang baru belajar sesuatu itu tingkat kepercayaan dirinya naik nih. Betul gitu ya.
Gue oh gue bisa mengerti hals ini dengan mudah. Yang pertama penting banget itu adalah kita mesti punya peta yang tepat. Peta yang tepat menentukan strategi yang tepat. peta yang tepat itu enggak bisa berlandaskan media monitoring. Hello, welcome everybody to another episode of Proximix.
Eh, kita hari ini kedatangan tamu istimewa kan. Kita selalu berusahaan loh gua dibing istimewa berasa kayak martabak ya spesial ya. Spesial pernah jadi anchor right for very long time kan delivering the news to the mass. Setelah itu juga pernah kerja dengan orang-orang penting right in the in the in this country. Eh belum lagi pernah juga di PCO ya.
right eh presidential communication office dan sekarang itu karena pengalaman-pengalaman itu beliau sekarang tuh atau guest kita itu communication crisis communication expert lah jadinya we very happy e to have her in the program kita welcome dulu Mbak Prita Laura Y thank you mer thank you Stefan Wah sekarang konsep Siapnya nih ee prita lompat dari media justru ke lebih ke communication in general gitu kan, PR dan lain-lain. Nah, yang gua sangat penasaran advantages-nya apa sih buat gua nih yang ee single dimension doang ya? Dari dulu di sini doang gua enggak pernah cross ke media, enggak pernah ke ini, enggak pernah ke brand, enggak pernah jadinya cuman di sini mohon pencerahannya itu advantages atau mungkin ada disadvantages ketika pindah dari dunia ee jurnalisme ke dunia komunikasi, PR in general. Iya. Nah, gue tuh dulu kenapa ngebantu pemerintah itu gara-garanya dulu gue tuh suka komplain sebagai jurnalis, oke, ini gimana sih komunikasi pemerintah kok begini gitu ya.
Terus gue banyak suka komplain lah. Terus ee akhirnya ketika kemudian tawaran itu datang, mulailah gua bertanya kepada diri gue sendiri ya. Hm. Lu kan selama ini komplain, terus ketika kemudian ada kesempatan untuk bekerja, lu mau komplain terus komplain di luar apa lu mau berjuang di dalam gitu kan. Terus akhirnya gua memutuskan dahlah gua cobalah gua berjuang di dalam lah gitu.
Selama masih ada ruang untuk gua berjuang gua akan coba di dalam gitu. Nah, ternyata kemudian itu advantage-nya luar biasa ketika lo mulai dari jurnalis ya. Karena ketika lo mulai dari jurnalis, perspektif lo udah perspektif kepentingan publik. Jadi, lu melakukan semuanya itu perspektifnya udah perspektif kepentingan publik. Iya.
Jadi, akhirnya kemudian yang gua lakukan agak nyeleneh sih. Jadi, misalnya kayak gini, gua sangat jurnalis banget. Jadi seringkiali misalnya kayak gue kan dulu gue di kantor Staf Presiden atau di zaman Pak Jokowi kemudian di Pak Prabo di kantor komunikasi kepresidenan ketika lagi meeting-meeting antar kementerian lembaga itu gue benar-benar bertanya hal-hal yang menjadi keresahan dari publik. Oke. Di ruang rapat itu sampai kemudian beberapa di antaranya komplain, kok kami apa ee meeting sama Mbak kok kayak di wawancara televisi ya?
Karena saya akan ngejar program ini bagaimana ini cara menjawabnya bagaimana begitu. Karena di kepala aku adalah ini keresahan dari publik, ini pertanyaan yang muncul di publik, ini pertanyaan yang mungkin muncul di publik. kita harus punya persiapan bagaimana komunikasinya, cara menjawabnya seperti apa bahkan seringkiali nih gue itu kalau lagi di lapangan gue benar-benar melakukan investigasi. He. Jadi misalnya ya gue kalau ee misalnya gue datang ke pasar, operasi pasar sama menteri-menteri bicara mengenai ketersediaan beras, harga pasokan dan sebagainya.
Habis konferensi pers kunjungan biasanya kunjungan gitu kan menteri-menteri ada wartawan ikutlah semua gitu ya. Oke. Terus kemudian begitu selesai conferensi pers biasanya gua akan ngajak tim gua kita sarapan dekat-dekat situ ya gitu ya. Nongkrong agak lama udah agak lama kosong gua balik lagi. Hm.
Gua balik lagi gua nanya betul ke pedagang itu dan seringkiali jawabannya berbeda ketika ditanya oleh media di depan menterinya atau depan pimpinannya. Jadi gua gua gua balik lagi gua nanya gua ngobrol lagi gua nongkrong sama mereka gitu ya untuk tahu sebenarnya kendalanya apa, masalahnya apa juga misalnya kayak gua pergi misalnya ke sawah ya acara-acara presiden apa gimana gitu gua selalu bawa tim at least setidaknya gua punya dua tim satu tim satu orang ikutin gue terus satu lagi gue minta untuk lu nyebar lu cari tahu ke petani ke in benar enggak ini ini enggak ini benar enggak ini benar enggak mereka benar-benar ngerasain manfaat enggak komplainnya mereka apa gitu. Interesting. Jadi akhirnya sebagai seorang ee PR government ya gua jadi tahu betul sebenarnya apa sih keresahan publik itu apa ya pertanyaan publik itu apa apa yang mungkin menjadi sebuah pertanyaan publik nantinya. Jadi kita harus mempersiapkan itu dan seringki karena hal itu tidak diketahui oleh insan komunikator pemerintah, mereka enggak punya jawaban itu.
Jadi ketika seringkiali mungkin kita dapat ya ee publik itu resahnya apa jawaban pemerintah di sini gap enggak nyambungambung. Heeh. serangan publik apa gitu ya kan ada yang serangan ada yang mereka emang kritik mengkritisi. Kita harus jawab ini jawabannya enggak pas karena apa? Enggak ready, enggak tahu lapangan sebenarnya bagaimana gitu ya.
Nah, itu sih yang gua lakuin ya. Jadi paradigma gue adalah paradigma publik ya gitu. Kepentingan publik ya. Iya. Dan satu lagi juga benefitnya yang gua ngerasain ya selama 15 seteng tahun nih kan gue terus ee apa ee membaca sebenarnya kemauan publik itu apa sih?
Apa yang bikin satu informasi itu dikonsumsi publik atau enggak? Kayak tadi kita ngobrol ya. Jadi gimana sih satu berita itu diklik sama orang apa enggak? Iya gitu kan. Gimana satu berita tuh ee dibicarakan orang apa enggak.
15 seteng tahun tuh gue terus tiap hari kan maksudnya kecuali libur libur weekend eh itu tiap hari bergulat dengan itu. Bahkan libur pun kita harus terus begitu kan lama-lama itu menjadi sebuah apa ya intuisi di kepala gue untuk kemudian cepat membaca ruang publik. Oke. Nah, jadi seringkiali misalnya media monitoring kita sekarang tahu ya bikin strategi kita pasti pakai media monitoring ya. Nah, gua seringki ee tidak sepenuhnya setuju dengan media monitoringnya.
Karena begitu gue diging diper ini lebih lebih dari ini. Iya, petanya gitu. Karena tadi kita punya intuisi untuk membaca ruang publiknya itu seperti apa gitu. Oke. Oke.
Very interesting. Em, kayak in a sense ya, gua ngebayanginnya tuh kayak you already have kayak kacamata gitu. Jadi, when you put on this glasses itu yang lu lihat udah beyond yang biasa-biasa aja kayak punya X-ray lah. Bayangin ya. Lu enggak cuman ngelihat yang kelihatan dengan kasat mata, tapi lu punya another e layer nih yang bisa ngelihat dalamnya gitu.
What's really the problem? Jadinya itu emang penting banget. Dan dan eh a lot of times kita juga selalu bilang sama anak-anak gitu ya di kantor, even to each other lah. Eh we really need to understand what's going on. Kalau enggak lu gimana mau bantuin?
He heeh. Right. Lu mau jadi eh apa namanya? Eh PR-nya, agency-nya banking gitu. But you you know nothing about the banking industry.
How is that going to work? Iya iya iya iya iya. In everything you do, pas lu nulis presulis harusnya lu udah tahu kalau lu punya kacamata itu, oh ini yang penting, ini yang dikonsumsi publik, ini yang dicari, ini yang enggak. Tapi without knowing eh ketiga hal tersebut, where it intersects juga enggak mungkin. Iya.
Kayak contohnya misalnya kita baca media monitoring mengenai isu ekonomi ya. Ya. Mengenai diksi tertentu atau mungkin klien kita tertentu semua kelihatan baik-baik aja. Tapi kalau kita ngelihat yang lain misalnya ee harga emas e banyak orang beli emas bahkan emas enggak ada. Terus ada orang jual emas lebih tinggi dibeli.
Kemudian Singapura dolar itu laku banget. Ini kan intuisi lu langsung main ya. Ada ya ada sebuah kecenderungan ekonomi nih ya yang nanti akan berpengaruh apa yang akan terjadi berikutnya gitu. Dan itu harus masuk dalam mitigasinya kita. kita enggak bisa anggap oh bisnis akan baik-baik aja karena monitoring kita saat ini enggak.
Kita baca kan ada simptom-simptom apa sih di sekitar sini yang nunjukin ini bisa jadi trad nih gitu kan. Heeh. Yes. Heeh. In often times tuh memang enggak sesimpel itu ya ee pemberitaan ee isu.
Cuma kalau enggak investigatif, enggak punya insting itu ya ngelihatnya di permukaan aja. Sedangkan yang bergerak di bawah permukaan tuh banyak undercurent. I iya simptom-simpton itu yang kita ee sudah jadi kalau dari jurnalis tuh kita bisa punya intuisi untuk baca oh nih simptom ke mana nih gitu. Jadi yang menarik dulu tuh waktu gue di kantor staf residen ya gue mulai di satu tim yang kita membentuk namanya agenda setting pemerintah. Heeh.
Oke. Nah, agenda setting ini dulu tuh teman-teman jurnalis yang bikin. Jadi, gue ada dulu bos gue orang tempo juga ya. Jadi, kita bikin agenda setting ini ee kita membuat 1 bulan ke depan kita membaca biasanya kalau orang agenda setting tuh apa yang mau kita glorifikasi, amplifikasi dalam 1 bulan biasanya gitu kan ya. Nah, kalau kita kemarin bikinnya gini, jadi kita baca sebulan ke depan itu akan ada isu apa, diserangnya apa, krisisnya apa, di tanggal berapa.
Wow. Nah, kita bisa begitu gara-gara apa? Karena ketika di media kita membuat rancangan liputan, kita membuat rancangan editorial planning. So, we know nanti di dalam bulan ini ada tanggal-tanggal apa, ada kebijakan apa, ini bakal diserangnya ini oleh si ini serangannya ini. Jadi kita prepare dulu sebelumnya gitu.
Jadi ya itu ini sih itu bisa di bisa di forecast ya. Iya, forecast itu yang memang itu agak agak lain sih itu kalau di agak agak lain karena biasanya agenda setting all about amplifikasi tapi kita bisa baca potensi krisis apa gitu karena ya ya itu tadi intuisi diri jurnalis ya. Heeh. And I wish there's a pill you can think langsung bisaung bisa enggak ada mesti emang pengalaman jam terbang terbang sekolahnya 15 tahun sekolahnya 15 tahun. Heeh.
itu S3 dan S4 S4 di di Metro ya. Tapi oke kan sekarang ee Perita banyak berurusan dengan eh crisis communication lah eh having that same background gitu. Eh, what do you think yang harus diperhatikan oleh brand atau mungkin ministries or whatever lah, whoever ya, yang lagi eh di tengah krisis gitu when they're communicating. Ada enggak sih dua tiga hal yang eh ini kayaknya kadang-kadang suka terlupakan deh. Eh, ada enggak eh tips and tricks atau pointers yang bisa dikasih buat brand-brand nih dalam situasi crisis communication?
Iya, ada. Gua tuh em mencoba mengumpulkan ya ada lima kesalahan utama yang seringki dilakukan dalam pengelolaan krisis komunikasi. Oke, tapi gua akan ekspor satu aja, takutnya kelamaan loh. Kita 3 hari ngebahasan 3 hari setengah 8 SKS. 8 SKS.
Yang pertama nih ya. Hm. Orang seringki melihat sebuah krisis itu selesai ketika media monitoring mengatakan isunya sudah turun. I iya kan? Oh, sudah selesai.
Salah satu indikator utamanya adalah itu ya. Iya, udah beres. Udah beres. Tapi sebenarnya kan logikanya gini, kayak rumah yang kebakaran ya, kebakarannya sudah padam ya, tapi apakah itu sudah beres? H kebakaran sudah padam tapi kan sisa kebakarannya yang harus rebuild.
Betul. Harus ada strategi membangun reputasi kembali dan mempertahankan reputasi. Ya, jadi enggak bisa selesai. Karena gini loh, ada orang tuh kan sekarang kita dengan banyaknya arus informasi, orang tuh sekarang sudah tidak ingat data-data besar, tapi sudah mainnya persepsi. Persepsi itu adalah persepsi itu kalau di bukunya think fast things slow pas itu tahu kan ya ini adalah think fast gitu membuat orang dengan persepsi begini saya berpikir cepat memberikan sebuah judge ini begini.
Nah, persepsinya ini dari sebuah kejadian itu loh bekas kebakarannya. Hm. Lu enggak bisa ignore. Once ketika ada kebakaran lagi dampaknya bisa jadi lebih besar karena apa? Belum diberesin soal reputasinya.
Nah, ini seringkali menjadi salah ngukur. Jadi, ada kita harus terus baca. Yang dibaca itu bukanlah bagaimana isu ini sudah tenggelam atau enggak, sudah dibicarakan publik atau enggak. pasti isu itu akan cepat geser kok. Sekarang tuh kan gitu orang cepat banget beralih topik ya cepat lupa.
Tapi apakah itu selesai? Belum. Ada persepsi yang ninggal yang harus kita bangun kembali gitu. Jadi memang kalau bicara mengenai penanganan krisis komunikasi yang terbaik terus gimana dong gitu ya. Ya yang pertama yang terbaik adalah mencegah krisis itu terjadi atau setidaknya mitigation.
Seandai kata kemudian kebakaran tu mesti terjadi, kita bisa limitasi kebakarannya hanya terjadi di bagian dapur, jangan sampai mulas ke mana-mana gitu. Isolated harusnya isolated atau kemudian ya ketika udah kejadian ya benar-benar harus investasi untuk ngebangun reputasi lagi. Hm. Heeh. What to do when the crisis is quote unquote over?
Ya kan yang mungkin buat banyak orang, "Oh, udah selesai padahal it's not really over." Karena harus dibuild itu kan. Heeh. Heeh. Oke. Jadinya itu baru satu ya.
Kalau mau tahu yang empat lagi bisa follow lah sosial medianya mungkin ee di-share lah di situ. Coba di-follow jadinya supaya ee bisa tahu nih yang di other four. Tapi iya kan teman-teman ngerasain juga kan bahwa udah selesai nih krisisnya gitu kan. Iya. Eh, dan kadang tuh ya a lot of organizations tuh tend to ignore that part ya kan kayak eh iya ya benar exactly like what you said lah udah udah selesai udah ngebritin media tapi what's next at least eh the mitigation lah at least iya gimana caranya supaya enggak kebakaran lagi itu kan kadang-kadang ee penting banget ya iya termasuk juga ya misalnya kan kita sebagai PR ya PR person ya seringkali kita punya klien yang dia fokus ke bangun reputasi ya, dia mau menjadi siapa, siapa, siapa gitu kan.
Seringkali fokusnya adalah di bagaimana membangun brand itu, bagaimana membangun reputasinya ya. Nah, yang seringkiali kesalahan terjadi adalah dia lupa untuk ngebangun mitigasi krisisnya ya. Jadi kayak lu bangun gedung tinggi, tapi lu juga mesti bangun ee tangga darurat kan. Lu mesti bangun juga lu taruh pemadam kebakaran di mana aja dong, alarm tuh gimana kan gitu. Ini yang seringkiali brand mikir loh gue fokus gua enggak belum ada krisis kok gitu.
Yang penting keren aja gedungnya ya. Tapi e the other functions yang bahkan critical suka enggak dipikirin. Iya. Karena sekarang paling parahnya lagi ada cancel culture kan. Asli itu.
Asli. Iya. I don't know if I pro atau kontra cancel culture, but that's what's happening in the street. Asik ya. Jadi kita juga sebagai communicator mesti paham itu.
Setuju enggak setuju. Kadang-kadang apaan sih? Enggak jelas banget kenapa kayak gini-gini mesti diibetin gitu. Iya. Dan dan yang lucu kadang-kadang kita gemesnya pas orangnya give up gitu.
Padahal dia enggak salah gitu. Itu kan gemes ya kayaknya. Hah? Kalau gua sih kagak gua iniin ya. I'm not going to do it that way gitu misalnya.
Tapi kadang-kadang tuh mungkin eh tendency orang Indonesia juga beda-beda gitu ya. Interestnya juga kadang-kadang tuh cancel carsernya tuh malah muntuk hal-hal yang kayaknya lu enggak harus cancel deh. Yang harusnya dia cancel malah dia overglorifying gitu. Iya. Jadi lucu juga sih try to understand the behavior of us itu tuh ya it's a it's a long study lah ya.
Tapi kadang-kadang kalau dari segi PR kita tuh mikir gitu, ih kok yang seharusnya di-cancel malah dioverglorify dan sebaliknya. Heeh. Heeh. Iya. Iya.
Tapi itu nanti ada ininya lagi ya eh ngomongin tentang like buzzers and stuff. Kadang-kadang tuh kok cepat banget ini tiba-tiba udah hilang. Tapi pas lu if really study the situation gitu kan apalagi sekarang kita punya tools and everything itu bisa kelihatan orang-orangnya yang tiba-tiba qu unquote mengampuni gitu. Ah udah enggak apa-apa kok gini-gini tuh. Hm.
Heeh. Heeh. Iya. Kemarin kita juga sempat ngobrol ya pada akhirnya kita sebagai yang mengkonsumsi media baik tradisional atau sosial media memang perlu critical thinking. Iya banget.
kan mempertanyakan apa yang kita lihat tuh lu enggak bisa terima bulet-bulet gitu. Iya. Iya. Dari mana datangnya? Siapa yang ngomong?
If there's another person behind it. Itu tuh kayak benar-benar harus diperiksa. Apakah ini apakah ini agenda untuk menutup isu yang lebih besar? Kadang-kadang gitu juga. Iya.
Iya. Ada satu buku ya yang bagus banget jelasin soal itu deh. Oke. Namanya Psychology of Jupidity. Itu buku itu bagus banget.
dia ee menggambarkan kenapa bangsanya kayak cancel culture orang nge-judge cepat orang being stupid. Itu sebabnya apa? Kita selalu berpikir ini masalah pendidikan. Hm. Ya, enggak selalu.
Heeh. Enggak selalu. Dan di buku itu dijelaskan bahwa seringkiali orang-orang yang berpendidikan, orang-orang yang pintar pun juga bing stupid dalam menganalisa sesuatu. Karena apa? Karena ada bias.
Jadi yang sebenarnya adalah gini, critical thinking itu bukan hanya soal kemampuan, tapi di buku itu jelas dibilangin nih soal lu mau apa enggak. H lu mau apa enggak untuk merasa bahwa gue mungkin aja salah nih, gitu. I. Jadi masalahnya orang-orang pintar dia ngerasa gua paling tahu. Pasti gua paling bener deh.
Dia enggak menyadari bahwa gua punya bias. Gua punya hal yang gua enggak tahu. Seperti gue orang kota ya. Gua berpikir secara perkotaan. Tapi mungkin orang di NTT sana di SOE beda gitu mikirnya.
Di kampung lo di Heeh. Ambon gitu gitu. Mungkin beda gitu cara berpikirnya. Itu kan bias yang gua enggak punya. Jadi bisa jadi gitu ya apa yang disampaikan walaupun gua enggak setuju saat ini bisa jadi itu benar.
Jadi di situlah critical thinking kita bermain kan. Kita mau apa enggak untuk merasa diri bahwa ini bisa jadi benar ya. Coba gua pikirin lebih lanjut ya. To challenge that ya. Jadi one more step gitu.
Enggak selalu merasa benar. Jadi seringkiali makanya waktu itu pernah ada penelitian mengenai penyebaran hoax dan yang menarik adalah penyebaran hoa itu banyak penyebar hoa adalah orang-orang yang berpendidikan. Hmm. Why? Karena hoa itu datang sesuai dengan belief-nya mereka.
Iya. Bahwa misalnya pemerintah ini enggak becus jalanin pemerintahan. H pemerintah ini corrupt. Hoa-nya itu sesuai dengan beliefs-nya. Heeh.
Eh, itu itu very common, right? Eh, yang terakhir itu spiral of silence. Jadinya pas kita di minority itu kita tend to shy lah dari communicating, saying something, sedangkan pas kita lagi mayoritas itu lebih berani. Satu. Yang kedua tadi eh tentang the bias itself lah.
Heeh. kayak karena emang udah ee seirama ya dia ready to accept whatever itu bulat-bulat aja gitu tanpa dikritisi right yang harusnya dichallenge ini ni dan sekarang nih kan di sosial media juga semakin vile makin rusuh man orang berdebat tuh everything gets super polarized lu kalau enggak di kiri banget lu di kanan banget gitu kayak it seems like there's no space untuk kita bisa hidup tuh ee di tengah-tengah gituah tengah cenderung untuk diam. Heeh. Dan yang di tengah pun kayaknya social pressure tadi ya kan maksudnya there is a certain expectation untuk take sight gitu. Mungkin tadi kalau seandainya gue ngambil kanan eh gua enggak ngambil kanan gua ngambil kiri gua di tengah-tengah entar gua dianggap gua enggak punya pendirian, gua enggak punya principle.
The social pressure creates this kayak malah jadi kayak apa ya? Like an illusion gitu. Iya. Dan ketika orang bersuara berbeda terus dibully ramai-ramai. Iya.
Sampai dan baru selesai dibully sampai kemudian dia harus minta maaf. Padahal gua melihat lu enggak perlu minta maaf sama ini. Gitu kan sebenarnya itu pendapat tuh negara demokrasi. Jadi seringkiali nih ya ini yang aneh ya netizen kita suka ya bukan netizen ya menurut gua bisa jadi itu bukan the real netizen juga ya. Perdebatannya tuh adalah begini ee mereka menjunjung tinggi demokrasi.
Masyarakat kita menjun demokrasi tapi tidak menghargai pendapat berbeda yang tidak sesuai dengan pendapat dia. Pendapat which is very undemocratic. Iya. Kalau lu beda pendapat berarti lu ini. Iya.
Terus lu dibully, terus lu di-cancel culture terus brand yang lu ee lu jadi endorsernya di-cancel. Iya. Rameai-rame. Iya. Itulah kita we need to develop critical thinking sih emang kuncinya nih sekarang ya develop and mau apa enggak itu dia.
Iya dan ditambah dengan akses informasi yang benar-benar sangat-sangat mudah sekarang tuh juga kalau enggak punya that level of critical thinking tuh gawat banget sih. Iya banget. Heeh. Iya. Eh in so many different ways kita melihat kegunaan internet ya.
Heeh. Tapi ini salah satu yang eh media people tuh eh menganggap very dangerous, right? Pada saat kita don't have enough education atau critical thinking power gitu as a society ya. I terus di kenain sama internet dan social media ini so dangerous man very dangerous gitu i ya kan karena banget ya itulah kayak eh misin information atau hoa or anything tuh bisa nyebar tuh gampang banget even to people yang educated orang pintar gitu intellectuals gitu kan even them yang kayak tadiah as long as it goes along with their belief or whatever udah nyebar aja tuh barang ya kan. Heeh.
Heeh. Which is eh pretty crazy. Kita tuh eh a little bit fortunate karena kita udah develop our critical thinking dan lain-lain baru dapat social media, baru dapat ya internet in in a sense lah. Sedangkan kalau yang generasi yang baru-baru ini kasihan juga gitu karena mereka tumbuh. Heeh.
He justru pas pada saat mereka harusnya mempertajam mereka punya critical thinking itu mereka udah distracted dengan hal-hal yang mereka lihat di iya sosial media. Terus sekarang zaman sekarang as a parent gitu kan how do you control? Ada sih, you know, like mechanism parental parental control, but you know, itu kan work for specific content lah. Tapi buat ideas, everything yang enggak necessarily betul itu lu lu makan bulet-bulet, man. I now that the AI trend juga apalagi iya ditambah ini internet, second layernya social media.
Now that we enter the AI word ini nih a very a very easy life yet very challenging lah especially for those who growing up ya maksudnya tadi they cannot e they didn't have a chance to practice their critical thinking satu eh the way they see things juga everything is very instant he the never go through reading books go to the library ya kanya go through each of the apa chapter nyariin stabilo gitu highlights doang gitu kan. Gitu. Iya. Iya. Sekarang kan ada sebuah fenomena Daniel Krueger effect.
Oke. Daniel Kruer effect ini gini. Jadi ee dalam proses belajar seseorang ya orang yang baru belajar sesuatu itu tingkat kepercayaan dirinya naik nih kayak Bukit Tinggi. Betul gitu ya. Gue oh gue bisa mengerti hals ini dengan mudah.
gua langsung dapat. Terus mereka di zaman sekarang karena ada sosial media dan ada value ekonomi bahkan dari lo eh followers lo engagement lo. Akhirnya mereka bersuara menjadi si paling tahu h akan satu hal. Padahal landasan fondasi nulisnya belum tahu. Nah, di Daniel Kuger effect ini ketika kita belajar sesuatu emang kita akan jadi PD.
Oh, ternyata hal sulit ini gua mengerti dengan cepat. Tapi semakin lu belajar, semakin lu belajar, lu akan masuk ke valley eh valley. Jadi akan masuk ke lembah untuk kemudian lu enggak enggak terlalu confidence lagi. Karena apa? Lu baru tahu bahwa oh ternyata gua belum tahu banyak ya.
Ini begitu banyak yang harus dipelajarin. Lu belajar belajar belajar sama rukum. Nanti lu entar lama-lama bisa naik lagi untuk kemudian percaya diri. Nah, fenomena sekarang ini adalah expert ini dia melalui masa lembah ini untuk belajar untuk pelan-pelan bisa naik lagi. Tapi mereka-mereka yang baru belajar bentar dengan AI, dengan googling dan sebagainya, mereka udah paling merasa tahu mengenai satu hal dan mereka menjadi key opinion leader dan influencer yang dipercaya orang itu sekarang banyak banget ya frustasi gua kalau ngelihat begitu banyaknya itu yang menjadi si paling tahu itu ya menjadi si paling tahu lu enggak bisa maksudnya kayak misalnya ya ee gue jadi wartawan 15eng tahun gue nyebrang ke berbagai isu.
Tapi gua enggak bisa bilang gua tuh bisa komen mengenai ekonomi. Gua enggak bisa. Yap. Ya, walaupun gua udah mengalami bertahun-tahun itu karena memahami ekonomi makro aja tuh enggak mudah loh. Asli.
I people studied for years. Iya. Dan sekarang kita lihat betapa orang dari suatu hari dia bisa ngomongin mengenai ekonomi makro, suatu hari dia bisa ngomongin mengenai, suatu hari dia bisa mengenai utang, suatu hari dia bisa ngomong pertumbuhan ekonomi World Bank dengan BPS. Gua bilang, "Man, wow." Iya, itu everything are very surface level gitu. Dan di yang disayangkan adalah mereka tuh kadang-kadang enggak sadar gitu dengan influence yang mereka punya.
Iya. He. Mereka memberikan opini, memberikan statement. Ee ya mereka hanya sekedar berpikir bahwa ya udah gua ngomong aja opini gua gitu. Sedangkan yang mereka pengaruhi itu jutaan.
Iya. mengenai parenting anak, mengenai bagaimana mental health ya itu mental health itu bahaya banget loh. Maksudnya ada orang-orang yang tiba-tiba maksudnya dengan assesment sendiri di online mereka mengklaim dirinya mental health terus kemudian mereka sharing apa yang mereka lakukan buat mental health apa segala macam dan itu kontigous gitu bikin orang jadi kemudian ngerasa oh gua juga punya mental health juga gitu. Oh my God gua bingung banget. Tapi ya maksudnya di social media is really double double side sword benar-benar sih.
If we don't use it wisely is very dangerous. Ada satu kelompok anak-anak ya dia dibawa gua gua tahu anak-anak ini dia under church gitu ya. Terus mereka tuh e bikin satu WhatsApp grup sendiri untuk ngomongin soal mental health gitu di antara mereka dan mereka mengkonsumsi obat sendiri karena yang satu pernah dapat resep ini dan kemudian yang lain mengcopy. Oh no. Maksudnya gini loh, ketika lu menghadapi masalah lu stres, lo down itu wajar hadapin ya, bukan minum obat.
Not the solution ya. Enggak semuanya rasa stres dan down itu mental health kan. Iya. Heeh. Heeh.
Itu tuh ngeri banget loh sekarang tuh kalau ngomongin key opinion leader ya. So scary. Tapi I think I think we were raised in a different era juga sih. Maksudnya kemarin gua ngobrol sama one of the agencies lah di regional orang Singapura. Kita ngomongin soal talent.
He talent. Eh kita ngobrol intinya soal challenges lah. Apa nih challenges agency eh di Singapura and same di Indonesia. ngobrol ngobrolngobrol dari ngomongin soal bisnis, eh how the billing on average juga is not as good as three f years ago. Em terus ngomong soal talent lah ya kan ngomongin AI, ngomongin digital talent dan lain-lain.
Kita ngomongin soal inilah exactly the work life balance ngobrolngobrolng ngobrol dia tuh cerita soal dia tuh baru hire again Z ya kan a fresh grade lah. Oke. Iya. Terus eh pada saat interview tuh very impressive ngobrolng ngobrolng ngobrol. I wan to achieve this, I wanna achieve that, I wanna become this and that.
And my shortterm target, longterm target, everything was perfect lah. Checklah semuanya ya kan. Jadi kayak dia determin terus dia juga punya plan untuk hidupnya dan lain-lain. Terus baru masuk kerja about 2 3 minggu lah ya. Terus dia kasih account tuh megang account eh smartphone.
Nah, smartphone tuh kan very high pressure, terus the pace is very fast. Terus juga eh secara ekspektasi juga very high gitu kan. Terus dia ikut event pertama launch event. Long story short, setelah launch event dia langsung quit. Hm.
Kenapa? This is not the life that I imagine. Wow. I'm gna take a sabbatical year. Wow.
After one month working langsung sabbatical. Year ya? Iya. Year. Terus dia kayak, "Oh my God, Gen when I was interviewing you, jawaban lu semua tuh on point gitu that gua punya hope lah, you will become something lah one day." After one event, meaning after one pressure, langsung burst.
Iya, iya. Kayak their little bubble langsung dah. Heeh. Heeh. Iya.
Itu lagi-lagi kan berarti what they learn from social media itu different menurut mereka tuh hidup tuh like a certain way. Iya. Ah, I imagine ini nih bego-begoan ya. Kembali lagi ke your research ya, right. Oh, ya.
Perempuan tuh harusnya kayak gini. Kalau enggak kayak gini gua enggak happy gitu. I feel bad about myself, I'm not pretty and everything, right? Ini exactly. Sedangkan orang-orang ya terkait pekerjaan tuh gimana ya kalau setiap lu nonton eh lagi WFH dari ee Bali eh lagi ini gua lagi take a break sebentar dari kerjaan lagi di Tokyo.
It's not real man. Iya. Real people don't do that gitu. It's like illusion aja sih. Iya kan sebenarnya namanya kayak kita Instagram itu adalah ee kan ada riset ya negara paling bahagia di dunia ya.
Oh my god. Negara paling bahagia di dunia adalah Instagram. Negara Instagram. Karena semua kebahagiaan di sana. Tapi kan di sana kan enggak di enggak dilihatin bahwa lo nonton konser pakai pillater nyicil 12 bulan.
24 bulan 12 bulan. Iya kan? Enggak diceritain bahwa lu misalnya contohnya lu lagi liburan ke sini, ini lu ee misalnya ngirit apa untuk bisa libur ke sininya kan enggak diposting like a filtered reality aja sih. Like a filtered reality. Exactly.
Makanya kalau misalnya kalian melihat eh berita di sosial media kayaknya gimana? Eh man, lu enggak tahu bangunnya jam berapa dulu pas Metro ya kan. I lu acara pagi jam .00 lu bangunnya jam . Iya itu kayak ada. Heeh.
Enggak ada yang nunjukin. Tiba-tiba udah ih kok enak ya bisa ini, bisa ini. Hmm. Lu kagak tahu. Tapi again the social media sebagai kita yang mengkonsumsinya kalau enggak wise enough dan have that critical thinking layer jadi tools yang bisa mengganggu mental health tadi.
Iya. Karena you see everyone is doing great, everyone is doing good. Kok gua enggak ya? Padahal social media is where people bisa create whatever persona that they want to be, right? Jadi kayak tadi gua itu orang jadi mengcompare dirinya dia kepada sesuatu yang tidak real.
It's becoming very unrealistic juga. Jadi Iya. Kalau misalnya kayak kemarin kan kita ngobrol bertiga ya. Kita kita ngobrol bertiga tuh mengenai our journey bagaimana dulu kita dan bagaim bagaimana kita sampai ke sini. Lu cerita bagaimana lu dulu ngelapin ee meja Tacobel kan gitu kan?
Shoutout buat Tacobel kalau mau endor. Nah, jadi maksudnya kayak gua ngelihat lu Mercy sekarang gue gue melihat lo gua akan bisa compare diri gua sama lo dengan iya bagaimana lu bekerja keras dulu waktu di Amerika 10 tahun dan segala macam gitu. Lu sampai ke sana sampai ke sini gue bisa mengerti dengan semua perjuangan lo. Tapi kalau kemudian di sosial media kan semuanya bias. Ya, orang enggak ngelihat perjuangannya, enggak ngelihat bagaimana sampai ke sana.
Yang tadi gua bilang body itu bisa difilter, bisa diambil angle. Jadi, olahraganya enggak dikat, enggak dilihatin. Bagaimana dia nahan makan enggak dilihatin, tapi jadinya itu gitu. I ya. Enggak dilihatin juga orang tuanya kayak gimana.
Jadi kemudian badannya bisa se seipis itu tulangnya gitu. Mau udah gitu. Iya, kayak in a sense to creates toxic positivity ya kan kayak seolah-olah positif semua. Iya. Oh, gua gini-gini.
Tapi toxic in a sense karena lu cuman nunjukin results-nya, lu enggak ngikutin prosesnya, you know, it creates illusion tadi mereka illusion sih. Everything as a former journalist ya, eh pada saat crisis. Heeh. How do you manage relationships dengan teman-teman media gitu? Apakah ada aroach them eh karena pernah punya pengalaman on the other side?
Apa anything lah yang bisa di-share mungkin dari perspektif eh mantan jurnalis ya, gimana sih eh konsep media relations in a crisis situation? Iya, banyak yang orang juga salah ya berpikir bisa mengendalikan media hanya dengan pendekatan uang. Asli transactional. Transactionals gitu ya. ee salah.
Karena media itu ada yang ada bagian yang di mana part mereka jualan, tapi ada yang part di mana mereka ya jadi media gitu loh. Iya kan? Lu enggak bisa kemudian lu lo beli iklan di tempat dia terus lu mempengaruhi semua editorial redaksi inilah arahan apa redaksi. Iya memang belanja media ya perlu ya untuk membantu media juga tetap sehat. Tapi di sisi lain kita juga perlu membangun pengertian.
Jadi misalnya contohnya kalau dulu tuh gue kayak ada hal-hal yang kira-kira ada kebijakan yang nanti bisa jadi ee kontroversi. Nah, kontroversinya tuh kita petakan dulu nih kemungkinan salah pahamnya di mana. Oke. Terus kemudian kita biasanya bikin ee media briefing dulu. Jadi kita kumpulin media-media di situ kita bicara ee catam house rule.
Oke, jangan ada yang dinaikin gitu ya. Kita sampaikan bahwa nanti akan ada kebijakan ini. Kapannya nanti gua kita akan kasih tahu. Tapi latar belakangnya tuh ini ini situasi kita lagi gini gini gini. Mereka itu tuh benar-benar kayak ruangan yang panas karena mereka akan challenge.
Masa begini, masa begini, begini. Itu kita jelasin. Cuman kita sampaikan yang ini bisa dibuka yang ini jangan. Ya, lu tahu kan kalau misalnya yang ini dibuka nanti konsekuensinya begini begini begini. Bagaimanapun teman-teman media tuh punya idealisme kok.
Terus sempat actually tadi kita off the record ngomongin lu actually practice as a lawyer for two years gitu kan. Terus apa sih kayak what are the push that make you jump to the journalism? Apa tuh? Itu juga jadi gua tuh e 3 tahun dulu gue sempat praktik praktik lawyer tahun. dulu sih gara-garanya gini, gua baca satu buku namanya Permainan Cantik tulisannya Jefri Rahmat.
Wow. Oke, Jefah, gua baca buku buku itu. Nah, buku itu tuh ceritain mengenai gini apa ee bagaimana Tuhan tuh menciptakan kita tuh pasti ada tujuannya. Hm. Jadi, segala sesuatu yang ditaruh di dalam diri kita itu pasti ada tujuannya.
He. Jadi ketika lu mencari ee apa versi terbaik lu, apa rencana Tuhan dalam diri lo tuh lu jangan nyari di luar, nyari di dalam. Hm. Di dalam lo. Lu tuh punya apa sih di dalam diri lu?
Karena lu Tuhan tuh udah taruh itu di dalam diri lu. Keresahan lu, bisa jadi itu panggilan lu, terus bisa jadi itu talenta lu, apapun yang lu punya gitu. Itu lu lihatnya ke dalam. Nah, di situ terus kemudian gua mulai ngelihat gua tuh resah sama apa sih gitu ya. Gua tuh sebagai lawyer kan gua membela ee benar-benar kepentingan corporate ya gitu.
Ee di situ gua ada sebuah keresahan sama kok gua resah sama ee bangsa ini ya gua gitu. Nah, itu terus kemudian akhirnya guain, oke, gua coba jadi jurnalis mungkin 3 tahun lah gitu. Gua coba terusen kalau misalnya ternyata enggak gue gue balik. Tapi di buku itu dibilang ya ya lu temukan. Ketika menemukan tuh juga bagiannya adalah mencoba untuk melakukan juga.
Ketika kita melakukan kita and then we know, oh di sinilah emang keresahan gua. Di sinilah emang talentanya gua gitu. Jadi itu jawabannya gitu sih gara-gara gua baca buku. Luar biasa. Luar biasa.
Terpanggil ya. Terpanggil ya. It's a calling ya. Oke. Oke.
Oke. Oke. Nah, ini eh probably a couple more questions. Pas kemarin di eh kepresidenan itu, "Can you serve two presidents?" Apa bedanya? Jadi memang kita masing-masing tuh punya gaya komunikasinya dan gaya komunikasi ini ada ee kekuatannya tapi juga ada hal yang perlu diisi.
I diisi dalam arti ini adalah bagian yang kosong yang kita perlu isi. H gitu ya. Nah, contoh misalnya kalau Pak Jokowi ini amat sangat ee komunikasi nonverbalnya, cara dia berkomunikasi verbal itu sangat rakyat Bang. H sangat rakyat gitu. Dengan dia datang main sama orang tuh ya ya natural aja.
Dia datang ke sawah aja. Dia nongkrong di wartek makan soto ya natural aja gitu. Memang begitulah gitu ya. Itu kekuatannya. Iya ya.
Namun ketika kemudian misalnya harus bicara tegas itu yang sering dikritisi orang ah ini nih bagaimana sih gitu ya. Nah, ini yang kemudian nih perlu kita isi kan gitu. Perlu untuk kemudian kita perkuat image ketegasan seorang Presiden Jokowi pada saat itu. Oke. Mengenai sikap tegas, tapi gaya komunikasinya kan yang kita perlu untuk isi lebih lanjut gitu kan.
Nah, kalau Pak Prabowo juga berbeda. Pak Prabo ini kan karena berasal dari tentara ya gitu ya. Ketegasan, komando kita sebagai satu bangsa kita pergi ke sini, kita harus kasih makan gitu tuh tegas banget. Sesuatu yang mungkin waktu itu Pak Jokowi enggak punya terlalu kuat, sekarang kuat banget gitu. Namun kalau misalnya Pak Prabowo ini misalnya dia ee apa kita berharap dia nongkrong gitu ya se se semerakyat.
Heeh. Pak Jokowi mungkin kita akan melihat ada hal yang perlu diperkuat di sana ya gitu ya karena ya masing-masing punya ya punya kekuatan, punya gesture-nya sendiri. Cuman aku meyakini gini ya, bagaimanapun seorang pemimpin dengan gaya komunikasinya itu punya masanya. Hm. Jadi masanya jadi pada saat itu masanya gaya komunikasi Pak Jokowi memang itu pas banget.
H gitu. Nah, pada masa sekarang mungkin enggak ya komunikasinya Pak Pro yang pas banget gitu ya. Semua ada masanya sih ya. Itu itu sulit dijelaskan ya. Mungkin bagian dari rencana yang di atas semua punya masanya dengan gaya komunikasinya seperti kayak gaya komunikasi Trump banyak yang enggak suka ya tapi banyak juga yang suka kan.
Yes. Gitu kan dengan gayanya yang kayak gitu. Seperti kita melihat sekarang dulu gaya komunikasi Bu Sri Mulyani itu kita suka banget sebelumnya gitu ya dengan yang penuh kehati-hatian sedemikian rupa, calculated dan buat pasar itu adalah sebuah kepastian pasar gitu. Trustnya tinggi banget. Ya.
Tapi sekarang masuk dengan Pak Purbaya, orang dulu berpikir, "Wah, ini gaya koboya berbahaya." Ternyata dia ini aja gitu. Ternyata capturing ee hati banyak orang gitu ya. Nah, sekarang tinggal tinggal tapi masing-masing gaya komunikasi punya tantangannya gitu. Gaya komunikasi Pak Purbaya disukai nanti tantangannya adalah bagaimana dia membuktikan ucapannya gitu kan. Kalau Bu Sri Mulyani dia calculated betul kata-kata dan diksinya.
Karena dulu aku bersama dengan teman-teman Keminq juga untuk mengukur mana yang bisa achieve mana enggak. Kalkulasi betul gitu. Tapi akhirnya kata-katanya enggak populer. Kata-katanya enggak enggak enggak diperbincangkan publik. engak enggak seru, enggak apa gitu loh.
Jadi masing-masing komunikasi tuh selalu ada kekuatan dan selalu ada celahnya untuk kemudian diperkuat. Heeh. Oke ya. Very, very interesting. Three most important traits, right?
E untuk bisa sukses in crisis situation, misalnya crisis communication gitu. Eh, partially juga from your experience dari serving as an anchor, terus di presidence office, even lawyering zaman dahulu itu ya. Eh, apa sih tiga traits yang penting banget eh untuk orang bisa sukses terutama dalam konteks crisis communication in today's world? Iya. Nah, ini yang pertama penting banget itu adalah kita mesti punya peta yang tepat.
Oke, peta yang tepat menentukan strategi yang tepat. I see. Jadi, peta yang tepat itu enggak bisa cuman kita berlandaskan media monitoring. Cara kita melakukan media monitoringnya aja juga mesti tepat. Interesting.
Jadi, bukan hanya melihat satu diksi tertentu, tapi melihat dalam satu konteks yang tadi kayak gue cerita itu ya. Kita kita lihat ee simptom-simpton lain. Oke. Seperti dolar Singapura tadi gua cerita emas gitu. Simpton itu kan itu tuh caranya mesti mesti kayak gitu.
Terus kemudian juga bagaimanapun cara monitoring dengan penelitian kualitatif kita ngobrol sama orang perspektif orang ini itu kan menjadi bagian dari peta ketika kita tahu petanya dari our target communications baru kemudian kita bisa bikin strategi yang tepat. Oke. Nah, seringki ada strategi-strategi yang oh ini strateginya optimis untuk sesuatu ini. Ini bakal selesai. Oke.
Tapi ternyata enggak. Hm. Isu turun. Iya. enggak diperbincangkan, tapi tadi bekas kebakarannya gimana gitu ya.
Jadi itu yang paling penting adalah kita harus punya peta yang tepat. Jangan malas bikin peta karena dari peta yang tepat strategi yang tepat. Itu yang pertama. Yang kedua adalah kita benar-benar harus berhitung. Oke, berhitung.
Mitigasi itu penting banget. He. Karena gini, jangan anggap remeh crisis communication pada saat ini. Ketika kita enggak lagi enggak punya crisis, kita enggak perlu punya crisis tools, enggak perlu gitu. Kayak tadi modelannya logikanya adalah ketika lu bangun satu gedung tinggi, lu pasti nyiapin kan keselamatan kan.
Karena sekarang ini cancel culture masyarakat opini itu cepat banget, crazy. Dan modelnya bisa macam-macam, bisa yang kayak contohnya di fake-nya Bu Sri Mulyani yang soal honor, guru adalah beban negara. Iya, si itu ada yang buat salah satu yang buat ini orang di satu daerah di Pulau Jawa gitu ya, daerah di sana yang bikin mereka ada intensi apa? Intensinya adalah ya pengin naikin engagement aja. Dan itu menjadi krisis yang sangat luar biasa.
Jadi di era saat ini krisis itu adalah sesuatu yang sangat bisa terjadi. Y tapi dan bisa pemicunya bisa dari siapa saja bahkan di luar mitigasi kita loh. I ya ada orang dari daerah itu cuman pengin cari engagement dia bikin defek dan bom bom langsung viral. Itu di luar mitigasi. Tapi karena sudah punya sedemikian rupa, bagaimana krisis ini akan di-handle cepat gitu kan.
Nah, itu itu yang ee yang ketiga adalah kita itu perlu sangat membangun eh critical thinking. Oke, critical thinking-nya seringkiali bukan hanya soal eh sebagai target audience lu harus punya critical thinking, dong. Enggak, kitanya juga punya critical thinking, ya. Jangan-jangan data yang kita punya salah nih. Betul.
Jangan-jangan barang yang kita punya salah nih. Jangan-jangan yang sebagai PR yang kita bungkus dengan kertas kado, bungkus bungkus kado cantik ini barang busuk nih. Gitu kan. Kita harus tahu gitu loh. Andai kata barang itu adalah barang busuk so we know bagaimana strateginya gitu ya.
Ketikaltin itu juga perlu di kitanya juga sih. Emang very interesting, very insightful. How can people find you? Eh, or is there anything eh yang lu mau promote atau let people know? Ya, jadi aku ada ya ada Instagram aku Pritaura eh.
Lulu gitu ya. Tapi aku lagi develop satu Instagram namanya communication strategies. I see. Iya. Itu ada di linknya aku juga.
Aku di sana. Iya. Aku di sana cita-citanya tuh pengin kasih gitu knowledge ya, knowledge-nedge mengenai komunikasi gitu seperti apa. Kebetulan gue tuh anaknya senang belajar jadi senang baca buku, senang baca research gitu ya apa yang bisa gue share di sana gitu ya. Cuman belum sempat aja tapi cita-citanya sih mau ke sana sih ya.
Semoga ya. Oke oke oke oke ya. Eh, jadi geng eh bisa langsung di mainkan Instagramnya, difollow, dilihatin. Eh, anyway Rita thank you banget for stopping by. Than you banget ya, Stefan.
Thank you banget ya. diajakin dengan ini. Anyway, everybody eh thank you sekali lagi. Eh, ada Stef di sini, gua Mercy, ada Brita sama di belakang sana Ronald Sitompul yang help us today. Anyway, that's about it.
I think Laura dong, semua di sini luar biasa. Ini beneran L