Episode 020 · Panel · 16 Dec 2025

Hukum 'paket hemat' di negara fiktif: bea cukai, ambang batas & sebuah krisis

70 min · Bahasa Indonesia · Proxemics Podcast

Kenapa kita lebih marah soal tumbler tertinggal di kereta ketimbang penanganan bencana yang kacau? Di Proxemics 020, para host Mercy, Awi, Sofyan, dan Steph menutup tahun dengan mengontraskan kemarahan yang salah sasaran dengan ujian nyata tentang empati publik.

Mereka membuka dengan bencana Sumatera — di Sumbar, Sumut, dan Aceh — dan komunikasi pejabat yang tone deaf, plus kebingungan informasi antara BNPB, pemerintah pusat, dan daerah. Pertanyaannya menohok: ke mana brand saat bencana menghantam?

Lalu saga viral tumbler Tuku melawan petugas KAI — studi kasus cancel culture yang kebablasan, dan bagaimana brand seperti Tuku semestinya bersikap di tengah kegaduhan yang tak diminta. Haruskah brand menunggangi ombak, atau silent is golden?

Suasana bergeser ke peluncuran kembali Bloomberg Businessweek dan kenapa media cetak masih relevan untuk audiens niche, premium, dan pemerintahan di era digital.

Segmen paling tajam adalah satir ‘Negara Fiktif’ — negara khayalan tempat keadilan datang dalam ‘paket-paket’ hemat — menyindir Bea Cukai dan bagaimana pajak serta hukum jadi alat pukul politik.

Benang merahnya adalah empati di tengah krisis: bagaimana pejabat berkomunikasi saat rakyat berduka, dan bagaimana penegakan hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas menggerus kepercayaan publik lebih cepat dari klip viral mana pun.

Mereka menutup dengan syukur: 14 tahun perjalanan agensi, dari kantor kecil hingga retainer besar. Penutup tahun yang padat dan jujur bagi pengamat komunikasi. Layak disimak.

Loncat ke

  1. 00:00 Bencana Sumatera & refleksi akhir tahun
  2. 02:48 Komunikasi krisis pejabat yang tone deaf
  3. 09:05 Di mana brand saat bencana?
  4. 14:33 Drama tumbler Tuku vs KAI
  5. 24:58 Haruskah brand ride the wave?
  6. 28:30 Bloomberg Businessweek & media cetak
  7. 33:33 Bea Cukai & mafia hukum
  8. 42:54 Satir ‘Negara Fiktif’
  9. 51:43 14 tahun perjalanan agensi
  10. 57:15 Teaser PR & Public Affairs

On the mic

Quick facts

FAQ

Episode ini tentang apa?
Tinjauan bahasa sederhana soal bea cukai dan aturan ambang batas impor, dibingkai lewat negara fiktif, dan kegagalan komunikasi yang mengubah kebijakan jadi masalah kepercayaan.

Listen & watch

YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.

Transcript

Tampilkan transkrip lengkap

Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.

Kalau orang udah meninggal 400, 500 orang ini harus ada yang tanggung jawab, man. Ngerti enggak loh? I some need to be held accountable. Iya, kalau enggak ada akuntabilitas ini terus kita ngulang-ngulang terus aja hal-hal kayak gini. Ininya kan selalu ada di rakyat.

Kalau misalnya ini bagus buat rakyat, lakukan men. Bubarinlah. Hello, Tuku. Lu ke mana aja, M? Masa lu enggak bisa datang membawa Tumblr yang baru?

Udah, jangan berantem. ini setelah 14 tahun tuh kita masih tetap bisa belajar, right? We can do things eh dengan cara yang berbeda. can continue to reinvent ourselves, come up with different products and services. Hey, welcome to another episode of Proxemics.

Eh, ini edisi hampir tutup tahun hampir hampir almost. Eh, tapi before we get started itu kita mau offer our condolences dulu all the victims of the natural disaster happening di all over Sumatera ya. Dari Aceh, Sumut, Sumbar kan semuanya kena. And it seems like eh the total number of casualties continue to grow. Nambah terus, cuy.

Nambah terakhir udah berapa? 100 plus enggak lebihlah. Di beberapa Sumatera itu utara kalau enggak salah 100-an. Kalau di berapa ada 40-an dan yang hilang itu kan bisa jadi assume assume i jadi kita we never know. E menurut gua kita doakan aja petugas-petugas yang lagi di sana ya.

Bahkan kemarin ada TNI ya tiga orang apa yang Iya. TNI juga kena longsor untuk kena longsor lanjutan terus sih. Heeh. Anyway, ee anything yang kalian observe dari event ini? Gua lihat kalau dari sisi institusi ya, H di saat banyak kita sudah mengalami banyak bencana alam ya, karena kita hidup di ring of fire anyway, pasti ada bencana lah yang dari tahun ke tahun kayak tsunami, terus beberapa gempa dan lain-lain kan kita lakukan itu.

Dan terakhir ini yang banjir ini bahwa kita enggak pernah mengalami apa namanya institutional collapse. Jadi baik apa pemerintah, pusat, daerah ee ada badan-badan BNPB, apa BPBD terus TNI, Polri dan jangan lupa juga elemen-elemen masyarakat itu bantu gitu dan apa ya mem ketika ini hebatnya Indonesia ya maksudnya ketika musibah itu kita sudah enggak bicara lagi SARA lagi, kita enggak bicara lagi agama, kita enggak bicara lagi ras, tapi kita bantulah ini ya. Eh, I mean it's really sad. Heeh. eh apa yang terjadi gitu kan.

Nah, ini gua tapi di balik semua ini banyak hal yang harus diapresiasi but at the same time kan yang dikritisi juga harus ada gitu. Nah, gua gua ngambil sebagian lah yang gua perhatikan itu eh the way all these different institutions apa namanya merespon. I right I kayak si A ngomong apa, si B ngomong apa, si J eh si C ngerti enggak loh? Jadinya gongnya kan yang Menteri Kehutanan ngomong bahwa ee kayu yang dibawa oleh banjir bandang ya itu adalah kayu-kayu yang ee sudah lama atau tumbang sendirinya secara alami. Muncullah memang menyela-nyela beliau secara fisik and so on and so forth.

Ee gue sepakat sih dengan apa yang akan Mercy katakan sebelum gua potong barusan. Jadi lanjut aja. Jadi apapun yang gua ngomong lu sepakat tuh ya. Enggak karena M ini orangnya ADHD jadi kalau udah potong dia lupa tuh biasanya. Biarin aja.

Sengaja gua sengaja gua melakukan itu. Kali ini gua ingat ada satu lagi. Nah, potong lagi dulu lagi kita tes yang soal itu loh. Kepala BNPB bencana cuma ada di sosmed yaitu itu very insensitif sih. Insensitif lah.

E wal despite bahwa itu statement ya bahwa semua organisasinya bergerak tapi itu very apa sangat disaingkan sih kayak contoh yang kurang baik aja kayak gitu. A gua berharap sih Mercy lupa apa yang sampai ke ya sampai ke poin bahwa ada di Instagram tuh ada ee ada template. Heeh. Yang intinya adalah apapun yang dibilang bahwa itu adalah di sosmed tuh enggak. Kita orang Sumatera tuh benar-benar udah udah benar-benar susah gitu.

Udah enggak ada makanan, udah butuh bantuan. Yang lu lihat tuh benar gitu sampai ada that social movement. Jadi emang eh insensitivitas dan near empati orang-orang ini nih kayaknya benar-benar harus ini deh. Iya. soal apa penjarahan itu yang Indomaret sudah mulai dijarah apa tapi habis itu kan polisi jalan ya nangkap 16 orang terus ada video si pelaku penjarahan itu minta maaf bukan karena dipaksa polisi juga karena dia bilang bahwa di rumah gua nih udah enggak ada makanan gitu-gituah ya buat survive iya eh I just wish ya kalau kita kan selalu ya pada saat eh krisis terjadi itu kan kita selalu nyaranin klien apa dan sebagainya itu lu satu pintu i supaya apa yang keluar itu semuanya nya seragam gitu.

Ee ee menurut gua kemarin itu karena informasi semuanya merespon terhadap Iya. semuanya I jadinya a lot of confusions in a sense. Tunggu dulu, tunggu dulu. Ini kata si A gara-gara ini kok kata si B gara-gara itu, terus ini dan itu. Yang akhirnya ee ya banyak misinformation, orang-orang bingung.

Ee dari aspek itu aja ya gua ambilnya, I think baik mungkin ke depannya. Tapi lucu loh. Dulu tuh gua pernah media training sama BNPB kalau enggak salah eh zaman di agency sebelumnya kayaknya udah belasan tahun lalu deh masih ingat aja. Mungkin mungkin enggak diulang lagi. Mungkin enggak diulang lagi atau enggak dilakukan ya itu sayang aja harusnya tuh iya lebih inilah enggak dan pendekatannya enggak bisa parsial gitu juga.

Kemarin tuh gua ngobrol sama teman yang kemarin di PCO, terus balik lagi sekarang di Bakom, Bakom Badan Komunikasi Pemerintah kalau enggak salah ya. Gua ngomong begini, ini agak tricky ya, karena ee sumbernya pemerintah ini ketika bicara soal komunikasi ini sekarang aja ada tiga nih. Ada Kominfo, ada KSP, ada siapa namanya? Bakom yang baru. Kemarin kan PCO.

Nah, terus belum lagi ketika kita bicara jubir nih, ada kadang Mensesneg, jubir segala macam ni. Ni kalau enggak dikelola dengan baik nih secara institusi aja ada tiga gitu. Kalau message-nya enggak dan mereka semuanya at the top loh dan merasa bukan merasa sih dan dekat dengan memang dekat dengan istana harusnya dan ketika mereka bicara itu kan pasti representing eh istana gitu atau pemerintah atau whatever lah itu kalau dia enggak diselaraskan itu kayak master naratifnya atau who talk who what apa who talk what itu kayaknya agak the confusion will go on ya heeh itu yang yang yang kemarin gua gua kasih itu masukan untuk coba deh di selaras belum lagi kita bicara danantara kita bicara yang lain-lain gua. Iya itu tuh itu itu satu mungkin kalau yang lain mau take on kalau gua nambahin satu lagi. Eh yang satu lagi tuh brand di mana brand-brand ini?

Oh karena menurut gua bukannya kita nyari panggung ya tapi lu beneran bisa membawa barang-barang lo yang benar-benar bermanfaat buat korban gitu. Kok kok lu enggak ambil kesempatan untuk melakukan itu? Gua gua kayak menyayangkan aja sih. Heeh. Ee dulu tuh gua ingat pas banjir tuh kita ngasih power bank.

Power bank pada saat itu banjir di mana ya? Jakarta ya? Bukan bukan I think me wherever lah. Itu somewhere deh. You have to took a flight gitu.

Dan kita ada masalah logistik yang lu enggak bisa terbangin power bank sebanyak itu. Oke. Oh iya enggak boleh ya? Enggak boleh bawa baterai. Tapi tapi maksudnya lu pada saat itu listrik enggak ada apa dan lu, lu benar-benar perlu, men kayak power bank tuh lu buat bisa ngobrol sama saudara apa dan sebagainya to power your phones tuh ya.

It's not about nyolong start buat branding. It's not it. Tapi bantuan lu tuh, produk lu tuh benar-benar bisa bermanfaat banget lah buat orang itu. Itu another thing yang gua perhatikan. Kemarin sih gua enggak ngelihat ya, cuman gua ngelihat ee organisasi I Tzu Chi ya.

yang gua lihat yang mereka gak perlu ada di situ, tapi mereka ada di situ. Yang lainnya gua gak enggak terlalu perhati tapi dan Antam juga ada itu sih ngirim ngirim supply yang kebutuhan pokok lah. Iya, kayaknya DPR udah ini juga datang walaupun sebelumnya ngurusin yang lain-lain datang graduation apa oke. Iya. Anyway, Adwi eh gua enggak tahu ya sekarang tuh yang yang take lead untuk penanganan bencana ini ee Kementerian PU dan BNPB gitu kan atau siapa BNPB?

Biasanya BNPB. Nah, alatnya pinjam dari Kementerian PU biasanya begitu. Iya iya iya. Ee eh jadi yang takead itu BNPB. Nah, BNPB ini biasanya ada pintu enggak untuk misalnya tadi Mercy bilang brand-brand untuk masuk danantu ya.

Soalnya gini, ketika misalnya brand dari Semerata Indonesia memutuskan untuk memberikan bantuan, bantuannya masuk lewat mana? He i kan harus lembaga yang ee membantu, mengakomodir ya, mengakomodir, memfasilitasi, mengkoordinasikan bantuan-bantuan ini. Mungkin itu juga yang dihadapi oleh brand. Enggak tahu mau ke mana. Kalau mau langsung untuk langsung itu mereka kan perlu survei tempat ee di mana, siapa yang paling membutuhkan, apa yang yang dibutuhkan, bagian-bagian itunya gitu.

He. Eh ee gua rasa kalau misalnya ee pintu itu bisa dilaksanakan oleh BNPB mungkin, tapi tangan BNPB juga hanya dua gitu kan. Ee dia fokus untuk penanganan bencana. Nah, kayaknya enggak dua deh Wi banyak. Iya.

I maksudnya tapi tapi kemarin itu juga gua enggak lewat kementerian sih kayaknya gua lewat Yayasan Penanggulangan Bencana apa gitu gua lupa. Mereka kebetulan yang mengkoordinasikan bantuan-bantuan dari ee swasta. Kalau orang sudah meninggal 400, 500 orang ini harus ada yang tanggung jawab, man. Ngerti enggak loh? I sama need to be held accountable.

Iya. Kalau enggak ada akuntabilitas ini, terus kita ngulang-ngulang terus aja hal-hal kayak gini. Ini soal bencana nih. Bencana? Iya.

Iya. Ya, misalnya misalnya yang terjadi di Hongkong tuh kebakaran gedung. Oh, gedung itu gila sih langsung ditangkap cuy. Heeh. Tujuh sekarang sudah.

Heeh. Heeh. Ee ada yang ada yang dimintakan pertanggungjawaban lah ya. eh pembuktian nantilah di pengadilan kan. Tapi pada akhirnya sudah langsung ada accountability.

Heeh. Tapi ini kita bicara ee dalam konteks man-made pembalakan liar gitu-gitu kan. Tapi kalau yang namanya liar-liar kan bisa juga ya. Siapa yang tah kalau itu gua mau ngomong gimana ya? Ee ngomong aja udah.

Banjir itu di Vietnam juga kan banjir-banjir juga. ini juga ini kayaknya disaster lah maksud gua masih dalam kategori itu kalau apa melihat tetangga ya tapi kalau soal accountability itu gua setuju kalau misalnya kasusnya kayak yang kemarin tuh yang pesantren ambruk gitu misalnya itu sampai sekarang pun enggak ada. Iya. Nah, kalau mau onpar sama yang tadi itu gedung di Hongkong. Iya iya iya iya.

Jadi kalau yang ini sawit-sawitan ini sawit-sawitan lu jangan terbelenggu dengan yang lain-lain. Lu harus lepas enggak enggak ada enggak enggak gini enggak ada kepentingan sor ya. Enggak gini sebelum sebelum lu lanjut nih maksud gue gua rasa lu menyamakan oke the region region the weather climate change dan lain-lain gua setuju tapi dengan kondisi banjir bandangnya itu kayaknya enggak bisa entirely bilang bahwa ini adalah natural disaster lah. Gua setuju itu. Ya, ditanya gimana?

Jadi kan udah banyak juga yang menyuarkan. Maksud gua gini loh, pasti ada kesalahan tata kelola. Kalau for sure udah pasti itu ada kesalahan tata kelola. Entah tata kelolanya misalnya seharusnya apa kan ada tuh bagian sungai yang enggak boleh ditempati bangunan gitu-gitu kan. Peraturan-peraturan kita kalau mau ngomong soal bangunan tuh sudah paling ketat lah maksudnya.

Tapi itu kan banyak dilanggar. terus alokasi misalnya lahan yang tadinya untuk serapan terus kemudian tiba-tiba jadi bangunan atau whatever lah yang gua juga enggak paham tuh soal teman-teman lingkungan juga kan sudah bicara WALHI sudah statement di situ bahwa ini karena A B C D misalnya eh pembalakan anyway iya pembalakan liar ada yang dilakukan secara institusional ada yang dilaku apa maksudnya perusahaan besar atau apa, ada yang pembalakan yang oleh masyarakat maskar sekiran itu juga harus dipilah-pilah segala macam tapi kita menurut gua ya gua setuju sepakat kita harus cari sebetulnya akar persoalan ini apa sih tapi nanti maksud gua setelah misalnya ini ini settle lah maksud gua semua yang kait terkait bencana ini jalan iya cuma pertanyaannya adalah gimana caranya supaya kita enggak lupa bahwa somebody needs to be accountable iya itu itu aja sih maksud gua kayak lesson yang enggak enggak enggak jadi apa-apa gitu masa kita ulang-ulang terus bro iya dan banyak yang ini Heeh. sebagai iya ee negara gitu ya dan nyawa men lu udah ee literally ratusan orang enggak enggak kebayang sih gua dengan mereka sekarang iya lu lu mau makan ini sampai terpaksa gua enggak tahu ya terpaksa menjarah misalnya that's that's wild man iya ee ngeri banget oke kita lanjut ke Tuku asik gimana nih e lu nangkap apa dari kejadian mungkin step bisa kasih play by play-nya dulu dulu nanti kita komen eh apa yang kita dapat dari hal ini. I find it very unnecessary, you know. H kayak this whole discussion of Tuku tuh I find it very unnecessary.

Betul. Tapi eh pada saat itu orangnya ini Tumblr apa nih? Gua juga punya Tumblr gua juga disebut di sini dan coincidently happen barengan sama bencana yang terjadi di Sumatera ya. Jadi just jadi makin absurd gitu. Absurd banget.

Jadi, DPR nih, I feel like ini tuh hal-hal yang lu harusnya focus on the bigger things lah ya. Kayak you need to get your priority straight. Simply put ini tuh ada netizen yang mungkin seperti biasa ya enggak mikir sebelum ngpost ya kan simply komplain aja gitu kayak orang tipe-tipe orang yang komplain ketika terjadi hal pada dia di internet. Eh, sori gua motong. Dia literally cuman komplain apa ada niat untuk viralin eh viralin nih gitu.

Kayaknya at this point ada call to actionnya gitu. I have to gua harus double check sih, cuma at this point kayaknya ketika orang semua ngonten itu kayaknya selalu ada intention untuk viral enggak sih supaya urusannya selesai gitu. Maksudnya to put pressure gitu kan untuk dapat gua bacanya gini kemarin tuh jadi ceritanya adalah ah kalau enggak salah ee ininya apa namanya? Tumblrnya ketinggalan ketinggalan Tuku Tuku Tuku sebutlah disebut Tumblr Tuku-nya itu ketinggalan di kereta Tuku itu apa? Enggak tahu gua kayaknya tuh copy something lah.

Tahu gitu dong. Jangan perah-pura enggak tahu gitu dong. Kalian dongin gua nama stasiun MRT. Jadi taruh di jadi dia taruh di cooler bag gitu. Jadi di dalamnya apa lah?

Gua enggak tahu ada apa, ada apa. Pokoknya ada Tumblr Tuku dalam cooler bag ketinggalan di rawa something lah. Station itu spesifik. KAI ya KAI dan difotoin itu. Jadi ditemukan si cooler bag-nya itu ketemu nih ya.

Cooler bag-nya ketemu difotoin sama si petugas KAI. Iya. Nah di katanya yang diviralin ini bukan petugas KAI menemukan kan dia lapor nerima yang nerima petugas keretanya. penting. Jadi gini, dia hilang, dia lapor bahwa dia kehilangan ini, ini.

Terus sama ee dia ketemulah itu sama petugasnya, tapi dalam cooler bag ya kan cooler bag-nya itu difotoin disimpanin sama petugas KAI-nya. Oke. Tapi ketika dia besok mau ngambil, udah janjian nih. Heeh. Wah, sama petugas lost and found yang sama ini kan.

Oh, beda lagi. Bukan. Nah, ya. dari petugas yang menemukan kemudian menitipkan ke petugas di stasiun. Si Argi itu adalah petugas di stasiun bukan yang nemuin.

Jadi dia yang dititipin he dia yang dititipin. Heeh. Tapi sebelum dititipin itu yang nemuin itu udah foto dan kirim ke si pemiliknya tapi dalamnya enggak kayaknya deh. Enggak difoto. Enggak dibuka.

Enggak dibuka. Enggak dibuka. Jadi bag-nya doang bukan sih? Ada enggak? di kelihatan ada Tumblrnya di dalam cooler bag-nya dia.

Oke. Dia ngeribetin. Heeh. Kok kemarin ada sekarang enggak ada gitu. Heeh.

Sofyan nih gitu kan tiba-tiba dia bilang kamu mengambil Tumblr saya. Terus terus ada si Si Argi itu. Argi itu terus ada suaminya juga drama. drama drama kumbara dia. Iya dram lah Tumblrnya enggak seberapa itu.

Terus kemudian enggak bukan dalam konteksnya dia sih gua sepakat bahwa bukan soal Tumblr yang enggak seberapa tapi di mana barangnya gitu kan. Kok bisa hilang ee ketika cooler bag-nya ditemukan itu masih ada kelihatan sampai batas itu it's ok tapi kalau menurut gua lakukanlah secara personal aja gitu. Iya, enggak perlu divideo-videoin dan segala macam segala macam. Kadang-kadang kan ih gila nih gua merasa gua ditindas nih gua viralin nih. Lu sering kan itu dia nih.

Enggak dong. Tapi yang gua baca itu ya dia gua lihat aja Instagram gua. Asik di sini ya gitu dong. Di sini ya yang ada di sini. Silakan gua lihat itu bahwa divideoin itu eh sori di foto itu enggak dibuka.

Terus si Argi bilang bahwa salah dia adalah enggak ngecek isinya Tumblr itu. Pas dia terima dia enggak buka lagi lagi ya bahwa ada Tumblr atau enggak gitu. Nah misalnya itu aja sih problemnya ya. Gua bukan apa ya, cuma iya tapi mungkin bisa jadi SOP. Iya.

Itu siapapun ke depannya. Gua yakin si couple ini juga yang tadi lu bilang it's not about the product, tapi kok bisa i kan dari poin A ke poin B nih hilang Samar ini SOP-nya sense. Karena waktu gua ketinggalan apa sesuatu di bandara Hongkong waktu itu ya. W jauh ya. Lu kehilangan sesuatu di bandara.

Gua yakin banget sih enggak ada yang mau ngambil sih yang kuda laut itu ya. kuku kuku enggak gua gua gua beli sesuatu lah. Ada apalah, ada baju, ada apa cuma kayak apa begas itu loh, paper bag. Terus waduh ketinggalan gua nginp besoknya gua balik lagi ke bandara dong. Gua tanya ke Lost and Found.

Ada tu barang dia nanya dalamnya itu tas apa aja gua sebutin A B C D. Benar. Benar. Oh ya udah ini bawa ya. Benar.

Terima kasih. Tapi whatever this discussion and all of the detail to the situation. Menurut gue kita sebagai society hal-hal begini lu urusin gitu. Hal-hal yang come on man regardless of your Tumblr price Mercy itu yang ngangkat-ngangkat ini harusnya kita enggak perlu bahas juga isunya kemudian muncul si petugasnya dipecat oleh KAI. marah murkalah netizen.

Tapi tapi gua baca lagi KAI enggak pernah memecat enggak pernah memecat orang itu persis dengan pertanyaan yang mau gua gua meluangkan waktulah bangsa 3 4 menit untuk menelusuri siapa yang bilang si Argi ini dipecat karena KAI enggak klaim bahwa dia enggak memecat enggak pernah hasil investigasi lu apa, Wi? Arginya yang ngomong saya bisa dipecat something along those lines lah sih komunikasi ini adalah masalah komunikasi the exact reason why we are here eh boleh enggak coba lu cari dulu dia beneran dipecat apa enggak udah udah lu ngapain cari duluan dia udah udah ini 3 menit soalnya gua enggak percaya gua perlu 4 menit eh 3 menit itu ya Gemini, ChatGPT Oke. Karena karena gini, oke ee terlepas jadi jadi kurang ee dapat poinnya tapi ini nih sering terjadi gitu. This cancel culture, right? Iya.

Ini cancel culture ini menurut gua kadang-kadang mengganggu juga sih. Hm. Ee lu lu lu sebagai brand lu punya backbone lah. Ini benar atau salah? Heeh.

Kalau benar lu lakukan need, kalau salah ya lu juga lakukan apa yang perlu dilakukan gitu. Jangan cuma karena dikritik massa lu melakukan yang against your principle itu tuh gua enggak suka banget tuh lu. Lu lembek banget sih jadi perusahaan. Cuma gara-gara ini lu tahu padahal ya anak buah lu benar gitu tidak melakukan apa-apa tapi karena publik gini-gini lu melakukan sesuatu gitu ya. ini nih terlepas dari kasus yang ini ya di tempat-tempat lain lah seringkali malah loh kok lu jadi ngelempar pekerja lo your own people under the bus bukan lu belain kecuali salah salah lu tindak tapi jangan sampai lu lihat benar cuma karena orang pressure social pressure gitu terus lu lakukan yang enggak semestinya itu yang gua setuju nah makanya dalam konteks crisis communications itu selalu ada standby statement gitu kan kita belum dapat keseluruhan faktanya.

Siap. Sampaikan yang akan kita lakukan dalam jangka waktu singkat. Misalnya ee terima kasih kami sekarang sebagai institusi sedang menyelidiki kasus ini akan kita share kalau sudah ada temuan dan ee bekerja sama dengan pihak yang berwenang lah something along those lines lah. Tapi ee ee tanpa itu, nah kan tanpa itu ke mana-mana nih bola salju bergulir. H jadi dia enggak ke satu arah bola saljunya.

Taman mana dia? Pecah dia. Heeh, pecah. Okeoke. Terakhir terkait ini.

Hello Tuku. Lu ke mana aja, Man? I. Masa lu enggak bisa datang membawa Tumblr yang baru? Udah, jangan berantem.

Ini gua sediain selama dicari nih Tumblr yang lama. Ini Tumblr yang baru gua pinjamin atau gua kasih buat lu. Enggak, harga Tumblernya naik. Enggak, enggak. Lagi-lagi miss opportunity buat brand gitu untuk untuk eh okelah ini bisa terjadi nih ya untuk sementara lu bisa interject.

Tapi ini ada ini ada ini loh ada split opinion about this. Jadi di thread itu ada mbak-mbak yang ngpost soal eh Tuku lu ke mana? Persis exactly what you say. Hamb itu enggak pertama juga. Tapi tapi surprisingly banyak banget orang yang justru bilang lu sebagai brand lu enggak boleh ride on this moment.

It's not a classy PR. Justru dengan lu lakukan itu lu mengambil kesempatan yang seharusnya enggak ada gitu. And doesn't gak doesn't perceive classy. As a good PR harusnya ya udah lu stay away and then once the investigation is done barulah lu masuklah ke sana. Oke, itu kan kata orang-orang exactly what around the table.

Menurut lu gimana? Apakah harusnya Tuku? Aduh, ini apaan sih? Udahlah ribet-ribet apa lu lu jadi konsultan. Eh, misalnya eh gimana nih gua Tuku menurut lu gua perlu ini enggak jawabannya?

Apa? Kalau dari gua, gua akan datang sih. Gua akan rekomen lu untuk hei eh kita enggak terlibat secara langsung dengan isu ini, tapi dia sedang viral bukan untuk memanfaatkan situasi, tapi seenggaknya untuk meredakan apa yang sedang terjadi. Mungkin Mbak itu sangat butuh dengan Tumblrnya. Enggak tahu.

Eh, Mbak kita pinjam. Heeh. Kita pinjamin aja dulu gitu. Iya. I ee ee tapi kan by the way kalau dalam konteks ini kan enggak ada yang benar atau salah.

Enggak ada yang enggak hitam dan putih. Tapi apakah itu tepat untuk dilakukan di saat itu? Ya, Sofyan kalau lu gua datang ke lu gimana? Gua lihat datanya dulu. Oh my God.

Lu lihat data apa lagi? SBY lah. Gampang lu lihat aja conversationnya. Intinya ada ada kegaduhan kan. Gua datang ke lu, gua Tuku eh Sofyan lu sebagai konsultan gua menurut lu gua pinjamin enggak nih Tumblr?

Apa gua kasih aja Tumblr? Ya biar beres nih urusan jawabannya. Gua ikut Adwi sih. Jadi kalian semua sama kayak gua dong. Enggak dia enggak.

Stff enggak. Lu jangan ngomong gitu dong. Lu gua sebagai orang brand, gua tuh selalu sangat very cautious ketika gua mau ride on any trendy issues. He. Karena the flip between negative jadi positif and the other one tu very quick.

Jadi biasanya gua assess nih the effect kalau gua e ride atau enggak tuh lebih menguntungkan atau sebaliknya. Heeh. Ya kan? Jadi kayak ber seringlah kayak berapa kali dimention gitu Xiaomi inilah gua apa. Tapi beapa decision gua bilang jangan.

Just the risk of gua di hujat gitu sama the rest of the population. Ya, itu maksudnya gua pakai data tapi dia pragmatis aja ya aman. Jadi gua biasanya biasa gua si dulu. Jadi kalau isu-isu kayak Tuku ini kalau if I were to be in the brand mungkin gua enggak akan ride sih. H enggak ride ini kan sounds negative ya bro.

Lu lu kirim lu enggak usah PR you don't have to do anything. Itu beda. Cuman ya kalau dia mau say something say something. Tapi gua bukan I'm not in it. That's better.

That's different. Jadi kalau gua biasanya kayak misalnya handphone gua kebakar gitu, instead of gua koar-koar nge-defense whatever biasanya gua lewat belakang tuh gua kasih HP-nya lu yang nge-post, lu yang ngomong gua enggak akan ngomong as a brand. Iya kita enggak usah inilah. Itu biasanya gua ya kalau untuk kasus Tuku ini gua enggak akan masuk and interject into the situation. Enggak, gua enggak lakukan itu.

Hm. Tapi lebih kayak kalau gua ngasih Tumblr, ya udah, tapi ya terserah si mbak-mbak ini. Tapi gua enggak akan kayak outloud e sebagai brand, identitas brand masuk ke situasi ini. Very unnecessary lah menurut gua. Tapi technically kan isunya udah selesai kan si mbanya minta maaf, suaminya udah minta maaf, mereka udah ketemu.

Blown out of proportion yang penting tengah semua yang terjadi di dunia ini kayak what are we doing, man? I know, right? Kayak crazy. Oke, lanjut. Lu kemarin ke acara apa?

Gua ke peluncuran Bloomberg Businessweek. Gua sama Adwi. Aw dia datangnya telat, pulangnya cepat. Gua stay all through the event. Lu jangan Romy under the B gitu dong.

Hotman. Shout out buat Hotman. Darul Hotman. Gua lagi di luar kota, mohon maaf enggak bisa datang. Eh eh eh congratulations untuk Bloomberg Businessweek.

Walaupun gua ngomong sama mereka eh ini salah ini harusnya namanya Bloomberg bisnis month karena mereka bulanan bulanan ya. Ya mungkin rencananya weekly cuma lu jangan juga pelan-pelan pelan-pelan. Oke. Tapi tapi em em coba isinya bagus gua suka ee ee tulisan-tulisannya gua udah baca semuanya ya. Gua udah baca isinya seisi-isinya.

Luar biasa. Ini bagus nih. Belakang. Tapi nanti kita sebut belakangan. Ada iklan BCA di belakang.

Bagus, bagus. Gua suka ini. Asik. Oke. Ada Monchhichi.

Menarik beritanya. Gua perlu tahu. Oke ya. Bagus. Asik.

Ee ketemu siapa aja? Ee ramaah Pak Menteri datang. Eh, gua ada Pak Purba dong gua ketemu dan dan ngobrolnya sesuai yang kita bahas di edisi sebelumnya lah. Kobo baby. Iya bahasanya.

Dan dan kayak ketika dia harusnya dia keynote speech kan tapi dia kayak diskusi gitu dengan dengan apa bukan diskusilah kayak ngobrol gitu dengan ee dengan pemirsa gitu which I like it. Tapi terlepas dari itu ya Bloomberg Businessweek ini kan eh bukan pertama kali ada di Indonesia. dulu ee beberapa tahun yang lalu, banyak tahun yang lalu itu pernah ada Bloomberg Businessweek dikelola oleh penerbitan yang berbeda ya. Ee ee gua punya memori yang sangat ini unik nih soal Bloomberg kan tutup waktu itu gua kenal Pemred-nya Purjono. Heeh.

nya teman Sofyan Purjono. Salah satu jurnalisnya, gua enggak akan menyebutkan namanya itu pas ee ee penutupan medianya datang ke kantor. Sudah doktor dia sekarang. Oh iya. Heeh.

Datang ke kantor terus tiba-tiba ngobrol sama gua, "Wi mana kunci mobil? Lu tolong setirin mobil dong. Kita ke kantor Bloomberg Businessweek mau ngapain?" gua tanya. Itu masih ada laptop? Masih ada meja, masih ada TV kita bawa aja.

Bro, dong, lu ngajak gua menjarah kantor lu atau gimana nih? Enggak mauah gua mau. Orangnya sekarang sudah bergelar doktor dan jadi pejabat teras sebentar lagi. Jadi enggak bisa kita sebutkanlah nama-namanya namanya. Tapi kita tahu dia siapa.

Shoutout to I siapapun dia. Anything interesting from the event? Ramai. Eh, ada beberapa menteri yang sangat menarik dan apresiasi ya. eh yang muncul semua level menteri sesuai dengan agenda.

Eh di di zaman sekarang mungkin gak enggak banyak yang bisa dilakukan itu. So, it shows influence dari mereka. Terus juga sempat gua enggak sengaja sama ketemu ketemu sama eh directornya eh agency kompetitor diperkenalkan dengan Adwi. Hobinya sama mungkin ketemu di GBK selama ini. Shout out tuh Mbak Nia selalu ketemu enggak sengaja.

Bukanlah bukan kompetitor. Kita terbuka untuk kolaborasi. Berkolaborasi. Lu apa-apa lihat saingan susah perempuan emang enggak nyambung lu. Feisty argumennya feisty dia guys.

Pengalaman aja. Oke. Apalagi ya event apa enggak pertanyaan gua adalah apa kenapa kembali ke majalah? Oh gua bisa jawab itu. Nah gua juga dijelaskan kemarin lu enggak memperhatikan gua boleh dong nanya.

gua ngobrol dan genuinely gua ee sebelum ngobrol itu gua gua selama ini gua udah enggak kepikiran bahwa masihmasih kayak gitu ternyata. He. Jadi masih masih ada banyak ee industri dan lembaga-lembaga tuh memang masih butuh diprint. Hm. Oke.

Jadi dan dari segi brand, dari segi iklan, dari segi pemberitaan tuh masih banyak yang memang butuh tertulis dan jalur distribusinya juga memang di tempat-tempat yang ee tempat sasaran gitu kayak rumah sakit, hotel, airport lounge yang sejenisnya. It's not for everybody tapi for some people. Iya. Ruangruang tamu, lembaga negara gitu-gitu tu tetap butuh. Jalur distribusinya cukup jelas.

Jadi, I'm I'm very hopeful dengan e kemuncungan mereka kembali karena mereka melihatnya tuh benar-benar ee holistik gitu. Jadi enggak asal print just for the sake of printing, tapi memang ada eh target audience-nya, terus juga para pakai iklan juga jelas, kebutuhannya ada. Jadi, I feel like this could be a new start for printing. Jadinya lu ketemu Purbaya kan? Ketemu, ketemu.

Lu tanya enggak ini gimana, Pak? Bener enggak Bea Cukai mau dibubarin? Ah, itu dia 16.000 katanya. 16.000. lu enggak tanya?

Enggak sempat nanya ya? Belum kayaknya isunya belum keluar kayaknya. Udahlah gila lu udah di mana-mana enggak waktu gua ketemu waktu itu belum ya? Oh belum ya. Oh iya itu minggu lalu ya minggu hampir 2 minggu lalu.

Minggu lal gua kira gua cenayang. Heeh. Cuman kalau misalnya gua ketemu lagi entar gua tanya. Enggak enggak enggak enggak pendapat lu gua. He loyalty-nya kan selalu ada di rakyat.

Kalau misalnya ini bagus buat rakyat, lakukan man. Bubarinlah. Tunggu dulu. Heeh. Lu membantu yang Rp280 juta mengorbankan 16.000.

That's small price to pay. Model-modelannya Stalin juga sih. Iya. 16.000. Dulu dulu.

Stalin sama Hitler gitu loh, Bro. Iya. Ya. I iya 3 juta. Makanya mereka bisa sukses.

Mati semua. Anjir. Enggak. Tapi ya maksudnya kita of course itu eh in a joking way ya. Tapi pada akhirnya memang gimana nih lu oke lu punya 1 tahun untuk memperbaiki he eh sistem orang-orangnya dan gua suka cara ee Purbaya menyampaikannya apa adanya aja.

Oke bro. Jadi lu setahun kalau enggak gua bubarin tapi kita bakal dibubarin. Tapi in seriousness tuh memang Bea Cukai tuh salah satu lembaga yang memang benar-benar rawan pungli banget sih. Mesti enggak ada standarisasinya dan enggak lalu itu kan terikat sama ketentuan. Eh lu kadang-kadang nih ya simpel aja ya, simple math aja ya.

Maksudnya gua enggak tahulah segala ketentuan dan peraturan yang lu mau sebutin nanti. Tapi lu sesimpel lu beli barang aja. Lu beli barang nih lu impor nilainya sama. Hari ini gua bisa tiba-tiba dimintain cukai sekian dan minggu depan barang yang harganya sama. He cukainya beda ya.

Itu kan ngarang jadinya enggak konsisten lu beli itu lu pengalaman lu Stef lu enggak tahu berapa banyak barang ilegal yang gua masukin ke Indonesia kan dan akhirnya gua enggak bayar akhirnya gua enggak decided untuk enggak usahlah lu bukan yang bayar di pos itu bukan sih? Iya, itu angkanya tuh ngarang semua, pernah enggak pernah enggak pernah konsisten, cuy. Gini, intinya kita enggak pernah ngelihat orang tuh share something good about the institution. I selalu something crazy gitu, shady aja gitu. Ada yang beli sepatu harga Rp10 juta, pajaknya Rp30 juta kan.

Dapat dapat PR package yang harusnya hadiah jadi harus dipajakin kayak gitu-gitu loh. Nah, itu kan kalau kalian kan rakyat jelata itu memang komplainnya kayak gitu. Tapi kalau untuk perusahaan-perusahaan itu banyak yang kecewanya dengan under-invoicing justru jadinya perusahaan A masukin barang harusnya bayar ke negara pajaknya Rp100 juta katakan main mata dengan orang main mata itu gimana gitu gituah tapi pung berarti kan memang rawan pungli banget iya si si ee cukainya yang katanya yang disinyalir under-invoicing menganggap bahwa in exchange untuk something. Iya. Yang tadinya si perusahaan mungkin harus bayar Rp100 juta pajak, dia tekan.

Jadi bayarnya ke negara Rp50 juta aja, Rp25 jutanya ke orang peror gitu kan. In total si perusahaan ini cuman perlu bayar Rp75 juta, which is make sense lah gitu kan. Katanya ini yang gua baca lah dari komen-komen eh oh iya cukai cukai kalau kalau gua sih cukai under-invoicing itu apa itu yang membuat kerugian negara dan dan jadi enggak adil buat semua pemainul gua yang mau lurus-lurus bayarnya 100 yang ini mencong-mencong 75 gitu loh ini gimana sih pas dicek kan kemarin sempat apa namanya inspeksi kan dia ngelihat apa sih ada muffler gitu berapa ini harganya masa segini cuma cuman harganya segini nih under-invoicing dia bilang gitu. Enggak itu dicek harganya sebetulnya murah biasalah warga net. Oh iya gua enggak tahulah tapi maksudnya kurang lebih kayak gitu.

Iya tapi enggak cuma di cukai bilang Kementerian Keuangan tuh sebetulnya ya kalau gua lihat udah lumayan ada dua kan soal pajak sama cukai kan. Itu dua institusi yang menurut gua perlu disorotiah ya. Kita lihat kayak beberapa tahun terakhir ya ada anak pegawai pejabat pajak yang macam-macam aja lah. Semenam pajak itu pajak pajak. Terus siapa namanya?

Mario Dandy. Oh iya iya Mario Dandy. Jadi jadi film itu kan yang dia nonjok nonjokin anak orang engaguk orang. Iya sampai terus kemudian koma. Iya terus macam-macamlah.

Ada yang dia yang seret-seret pacarnya bukan itu dia bukan itu juga dia nyeret orang itu yang dipukulin apa itu di itu sampai mati kan iya yang pacar itu sampai mati itu juga cukai enggak itu bedah enggak ada hubungannya terus itu mau ngomong apa enggak enggak kaitannya gini loh pajak itu bermasalah lah lu tahulah ini kita nyerempet-rempet ya e si Djarum Victor Hartono itu kan di dicekal Hanya karena ini gua baru baca tempo tadi siang terus dia bilang ini dicekal untuk perusahaan yang asetnya Rp800 triliun tapi bermasalah hanya 30 miliar pajak. Exactly. Itu really harus dipidana, Bro? Hah? L lu lagi-lagi Heeh.

Iya kan ngomong matematika Stalin nih. Enggak gua, gua bukan gini loh. Djarum itu buat apa ngentit 30 miliar, Bro? That's it. Iya kan?

Luulah intinya berapa juta sih yang sudah dipekerjakan gitu maksud gue dari rokoknya deh satu petani tembakaunya dari BCA. Dari BCA yang barusan jadi gua bukan belain ya. Cuma maksud gue enggak ini dua dari dua item itu aja itu dua perusahaan yang kalau lu utek-utik itu dampaknya strategis dan sistemik. Sistemik itu loh maksud gue i gitu loh. Gua bukan mau melindungi konglomrat bla bla bla.

Enggak lah. Enggak, man. Tapi 30 miliar, men. Yang benar aja. In the grand scheme of things enggak masuk.

Aduh. I. Terus gini dan di kita perusahaan home pajak lah ya. Ya, kita tahu bahwa kita kan model pajaknya adalah self assessment terus declare kan gitu kan. Nah, kalau kayak begitu tiba-tiba lu declare salah terus juga bidan.

Enggak juga dong. Kan ada mekanisme mekanisme proses dikoreksi diskusi di internal segala macam langsung dicekal. Cekal anjir 30 miliar itulah maksud gua. Terus orang lu berharap orang mau berusaha kalau enggak dekat sama kekuasaan di sini. Aduh gua kayak aneh aja sih.

Oke ya itu eh very eh interesting ya. Iya iya i eh cukai specifically. Benar atau enggaknya gua kalau hidup di Indonesia gua baca berita segala macam benar salah nih kayaknya relatif deh di Indonesia nih. Exactly. Lu enggak enggak enggak k soal Ira misalnya di root ASDP ya pure judgement business judgement rule.

Heeh. Maksud gue lu di root profesional A terus habis itu eh lu udah hire Deloitte lu udah hire siapa lagi? PwC lu udah hire BPKP lu udah minta pendampingan like everything prosedur yang yang you can think of menjamin bahwa setiap putusan bisnis lo itu prudent. pruden gitu. Hm.

Penjara, man. Penjara, Bro. Despite the, dia udah di penjara beberapa bulan terakhir ini, gitu. Maksud gue. Lu udah ngerasain lah di ditahan gitu.

Itu sakit hatinya. Ngerti enggak? Lu itu fakta sih. Lu lu berjuang untuk negara lu dikenal bersih dan lu memang bersih. Lu melakukan semuanya sesuai dengan by the book lah.

Iya. Enggak. Terus lu kena kayak gini tuh sakit hati, man. Ya gini gini ini nih yang jadi problem selama Kementerian BUMN yang kemarin-kemarin masih campur aduk sama birokrasi ya. H jangan nyamain bisnis itu dengan birokrasi ya.

Birokrasi rugi lu salah ini ya lu di penjara lah lu salah spending kan gitu kira-kira. Brois bisnis itu salah spending tuh kayak ya emang terjadi man enggak you make decision tuh lu with knowing lu bener atau enggak benar kan maksud gua kita keep Sofyan around itu kesalahan. Bisnis ke depannya itulah fungsi dari dan tentara kan maunya begitu maunya begitu tapi kalau masih entangled dengan berapa persoalan birokratisnya yang belum diselesaiin sih kayaknya susah ya. Gue jujur agak khawatir sih sama penegakan hukum kek yang salah bisa benar, yang benar bisa salah terus itu tuh oke. Gua gua ngomong ee gua berteori aja ya kan.

Gua enggak ngomong ini benar atau salah. Heeh. Ini anggap aja ini kayak fiksi ya kan? Jadi di sebuah negara fiksi ini penegakan hukum jadinya alat-alat penegakan hukum itu kayak mainan cuy. Heeh.

Si A punya ee ini, si B punya itu, si C punya yang mana gitu. Nah, ini udah saling sandra-sandraan, tangkap-tangkapan di negara fiktif ini. Heeh. Dan menurut gua it's getting out of control gitu. Dan yang terakhir, pas sudah dijalankan, ee si presiden dari negara fiktif ini tinggal membalikkan telapak tangan.

Bebas, then what are we doing, man? Gua gua ngerti terlepas keputusannya tepat atau enggak, tapi menurut gua harusnya ee jangan jangan dengan cara itulah lu perbaiki sistemnya. Kan dari kemarin kita sempat sering ngobrol nih, sistem yang jelek akan bikin produk-produk yang enggak jelas lah. Apapun yang lu masukin ke dalam sistem yang jelek ya bakal jadi jelek juga ya. Lu lu lu gimana nih kita reform penegakan hukum ya kan peradilan apa dan sebagainya nih supaya lebih jelas.

Jadinya kita enggak enggak perlu lagi membalikkan tangan itu at the end of the eh sidang ya. Dan ini bukan yang pertama kali kan enggak ada Tom Lembong. Negara fiksi, Wi. Oh, negara fiksi. Iya.

Enggak, enggak. Tomi kalau di negara di negara yang benar ada kejadian internet universe. Gua gua ada teorinya itu waktu zaman gua kuliah lah. Jadi Indonesia itu pengin jadi rechtstaat negara hukum atau machtstaat negara kekuasaan. Itu udah lama-lama lah teori-teori tua itu loh.

He. Oh mikir ya jadinya kayak kita jadi negara kekuasaan gitu ya. Lebih seperti itu ya. Heeh. Dan yang jadi yang lebih berbahaya menurut gua adalah mereka bisa beli kekuasaannya, Men.

H di lu pemilu, lu tinggal bayar vote segala macam. Terus maksudnya lu tinggal nyogok dengan dengan banyak hal. Ada paket-paketnya lah. Ada paket-paket lu mau yang mana? Yang ini bisa, yang itu bisa.

Itu bahaya banget sih. Bahkan penegakan hukum juga ya kan di negara fiktif ini. Nah, negara fiktif. Kalau itu kita enggak ngomongin negara ini ya. negara fiktif ini lu mau lu mau matiin masalah lu dari level mana nih?

Ya, itu rahasia umum sih kan dari A, B, C apa di ujung nih di Z bisa cuy kan harganya paket-paketnya ada kompetitifik sekian. Kalau sini sekian maksud gua eh ayolah ee tapi nantilah coba coba kita mesti ini ada hubungannya juga dengan media di negara tersebut. Iya. Ya, mudah-mudahan ya maksudnya kenapa kita kita kan harus berkontribusi sama ekosistem demokrasinya ini juga maksudnya kita bikin juga medianya juga sehat gitu kira-kira kan itu yang kita mau. Kemarin gua ee ngelihat teman gua nge-post di sosial media Purbaya.

Kenapa kita ngomong Purbaya terus, cuy? Tapi ini ada hubungan Purbaya. Nah, gua tahu gua tahu jawabannya kenapa? Karena dia baru aja sih enggak karena ginilah karena dia tuh jelas gaya komunikasi unik kan jadi banyak banget yang dia katakan atau dilakukan tuh kayak hit close to heart gitu loh. H dulu tuh kayak orang-orang itu kan mereka elitis gitu ya jadi cara ngebicaranya segala macam.

Jadi kayak kita tuh enggak terekspos dan kita enggak merasa itu relevan, tapi the way he communicate, the way he carry himself tuh jadi ya hit close to heart aja lu bisa kayak ngebayangin eh ini I can be in that situation easily. Menurut gua sih sesimpel itu aja sih. But that's smart to stay relevant. He I anyway jadinya teman gua ni nge-post ng-repost dari media apa gitu ya kan dia dia jurnalis dia nge-post juga gitu. Ah jurnalis zaman sekarang udah kurang galak.

Asik. Iya, Pak, gimana mau galak Bapakri gitu kan. Jadinya ya knowing what happening behind the doorsnya ini gimana cuynalis apa eh media di Indonesia ini bisa independen kalau ada tekanan-tekanan yang secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan hal-hal tertentu ya forget man. Jadinya itu tuh juga ee penting banget untuk gimana caranya kita bisa bantu, saling membantu nih, gimana media bisa hidup tanpa harus bergantung sama ee kekuasaan or whatever lah ya kan. Jadi mereka tetap bisa melakukan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi.

Sofan asik interesting. Apalagi eh bulan lalu bulan lalu gua berenang di lautaman di udah tumbuh insang belum? Man gila sudah tumbuh insang belum? Ocean person ya? Berapa kilo?

10 kilo kan di segitu aja dulu. Kenapa lo enggak gua balik paling gua pas yang gua cek pertama kali keteknya eh ada insangnya enggak? Eh gila di insang ya jadi eh di ketek ya insangnya ini ngendus-ngendus gua gitu jadi takut takut banget. Enggak enggak itu just side note lah. Tapi gimana?

Bagus event aman. Iya. Seru serulah seru. Heeh. Gua suka, gua suka berenang.

Gua memang gua kan lahir dan besar di Kepulauan Riau ya. Jadi ya. Heeh. Kepri. Jadi biasa berenang di laut.

Jadi gua suka l e event-event kayak gini. Entar tahun depan ada Ocean Man, Bali. Iya. He. Ya.

Shoutout Saut. Ee siapa tahu gua bisa dapat. Lu ngelihat olahraga itu elitis enggak? Elitis. Gua mau nanya aja orang yang lari yang berenang-berenang gitu-gitu kayak lebih elitis golf menurut gua asik.

Oh tunggu dulu lu kemarin golf di mana? Lu ceritakan dongitu ceritakan. Heeh lu. Lu minta gua bukain pintu kan lu masuk. Kagak kagak silakan silakan tempat dan waktunya gua apa tuh presiden amrik.

Presiden amrik tuh kan ada tempatnya tu. Apa gua ke golf di Trump lah. Oke. Trump Lido Lido Lid Lido. Jadi itu dia sebetulnya belum dibuka untuk umum.

Tapi karena gua eksklusif dan L gila. Tapi karena gua manjat pagar dari belakang belum dibuka by invitation bisalah main di situ. Sebagus itu. Sebagus itu. Oke.

Sebag. Jadi dari sekian belas apa lapangan golf di Jabodetabek ya gua cuma misalnya cuma lima lah yang bagus gitu. Itu Trump salah satunya sih. H maksudnya ya good vibe. Cuacanya enak lapangan layout kok cuaca enggak ditentukan oleh ya cuaca.

Oh kapan kapan dibuka untuk umum? Jadi enggak tahu. Oh we never know. Oke. Bisa jadi enggak akan dibuka untuk umum juga.

Invitation aja. Iya enggak membership friend bring friend kan. terus apa apa tapi kembali ke soal gua enggak mau bilang kalau golf itu sekarang sebetulnya udah turun banget lah maksudnya enggak kayak dulu lah maksudnya anak-anak sekarang anak-anak umur 20-an 25 top golf di mana-mana enggak lah kalau itu elitis maksudnya itu cuma framework padel boleh elitis lu bayangin ya main padelnya itu per jamnya itu bisa seperempatnya main golf berapa berapa Apa ada yang Rp250.000, Rp300.000 gitu yang yang bagus ya klub-klubnya ya. Nah, dia lebih elitis lagi. Orang kerjanya lari lari kagak pernah kerja.

Lu kalau bisa lari seminggu apa continuously itu udah jelas-jelas orang enggak kerja. Hm. Either owner ya kan kayak dari lahir. Iya. Enggak kayak dari lahir.

Kayak dari lahir. Lahir pakai kos. Nah, itu yang orang enggak enggak kurang paham. Ini soal time management. Eh, boleh.

Berapa waktu lu di kantor tiap hari? Lu bangun subuh, lu bisa lari, lu bisa berenang, lu bisa sepedahan, habis itu lu segar, lu datang kantor, tidur, tidur siang di bawah tangga, tidur siang, habis itu lu meeting ngedit-ngedit dikit baru fresh situ gitulah. Oke. Oke. I ya.

Ya, gitulah kira-kira. Kan kemarin ini eh last week of November kalau di Amerika ada Thanksgiving. Kita coba round the room. What are we thankful for di Thanksgiving kali ini? Gue ya.

H I feel like in the very eh challeng challenging situation konteksnya agency ya di secara umum lah cara ekonomi. We we have a problem juga lah. Tapi it's a good problem I always say karena kepercayaan dari semua stakeholder eh we managed to get a quite big account eh large retainer I would say. H eh so I'm very thankful now I have a problem to hire. Oke, but it's a good problem ya.

Eh, perlu diapresiasi buat semua yang ada di praksis grup. Eh, kembali ke poin lu tadi. I think this this this month of November tahun ini specifically, I'm very thankful for that. So, we can keep everyone around and even higher more. Alright, eh congrats by the way to the team baik yang terlibat langsung maupun tidak terlibat langsung.

Iya, it's a team effort. Iya, it's team effort. Gua ingat sekarang kita sudah 14 tahun ya kalau enggak salah bulan lalu kita apa namanya ulang tahun yang ke-14 terus kita kecil-kecilan lah makan-makan di suatu tempat lah. Dan reflecting on that gitu. Maksud gua dari dulu kita kantor kecil ya, we are nobody lah.

Siapa sih kenal Sofyan apalagi Adwi. Engak. Gua cukup terkenal orang orang kuncinya adalah cukup searnya di zaman itu pun masih ada orang yang mau mempertahan mempertaruhkan reputasi perusahaannya ke praksis. Sebuah agensi yang kecil. 2014 eh 2012 hanya karena ada gua di situ.

Itu itu gua good point good point ya. reflecting on that ya paling enggak tahun ini ya kita udah lumayan apa namanya nambahin ya bersyukur satu yang paling gua bersyukur adalah sebetulnya kita enggak mencatat orang lah karena karena masalah ekonomi atau apalah project ee apa kita sudah jalan jauh dari 14 tahun lalu tinggal reflecting aja kenapa kita ada di sini kan karena kita keep adapting kita terus menerus apa menyesuaikan diri sama apa namanya nya. Dan yang satu yang mungkin menurut gua penting ya, kita punya value lah, value yang kita terus uphold prinsip-prinsip yang itu sudah enggak bisa ditawarlah kira-kira gitu. Ee kalau gua apa ya refleksi tahun tahun ini cukup unik ya untuk industrinya. Kita ngelihat ada ee perusahaan-perusahaan komunikasi yang ee turun.

kita ngelihat ada perusahaan-perusahaan komunikasi yang ee bertahan ee tumbuh ee dan semuanya itu terjadi di dalam situasi yang apa challenge-nya tuh baru ada challenge AI. Apakah kita bisa beradaptasi dengan keberadaan AI? Gimana caranya kita bisa tetap punya value? He. Ee ee gua rasa kita menjalaninya cukup baik untuk tahun ini.

Nah, untuk tahun depan challenge-nya mungkin lebih kompleks lagi. Jadi, sebagai perusahaan challenge kita itu bukan cuman apakah kita akan punya klien tahun depan. Kita sudah lewatlah masa itu. Kita enggak khawatir kita bakal punya klien atau enggak. Eh, thankfully ya.

Tapi gimana caranya kita bisa tetap relevan ya di tahun depan? Eh eh eh dan adalah beberapa inisiatif-inisiatif ya yang akan kita lakukan. Entity apa? Perplexity. Perplexity.

Jadi poin gua Sofyan lu jangan motong-motong gituak enggak mempan. Abaikan abaikan aja. Eh eh look forward maksudnya look forward for what we are we have in store for the industry eh eh in the next episode. Iya. Jadinya saha ee habis ini tune in di episode berikutnya itu kita baru apa sih yang harus dilakukan di akhir tahun sama di awal tahun tuh nanti ada di eh kalau gua professionally eh I'm thankful for eh the people in this room ya kan I think eh kita makin dewasa eh we can do a lot more things nowadays tapi beyond that more importantly than the people in this room the people in this building lah right dari semuanya ya kan Agus shout out to Agus MJ dengan timnya ya kan Victory ee anak-anak di bawah konsultan-konsultan ee ruangan depan admin Jusma ini iya MJ ya kan dan dan apa namanya divisi-divisi Explicar, Iluminar, Prajna kan shout out to everybody eh sama it's just very exciting bahwa setelah 14 tahun tuh kita masih tetap bisa belajar, right?

We can do things eh dengan cara yang berbeda. We can continue to reinvent ourselves, come up with different products and services. I think that's pretty dope and I'm thankful for that lah basically. Ya. Anyway, those are some of the things yang kita thankful buat tahun ini.

Again, stay tune for the next episode. Itu not literally the next episode tapi our ini eh full house edition di mana kita akan share wisdom lah. Apa sih yang bisa dilakukan di akhir tahun, di awal tahun nanti kita spill ya kan ada hal-hal nih yang bisa dilakukan sama brands. Boleh spill dulu enggak sedikit soalnya itu besok preview karena kan waktu itu kita akan tayang itu itunya sudah terjadi. Heeh.

Jadi kita mau bikin public relation outlook ya ee apa kita mau share itu data buat teman-teman. Terus yang kedua ada public affairs Outlook. Kalau yang public affair Outlook mungkin eh kita selenggarakan kerja sama ya sama Public Affairs Forum Indonesia. PAFI ya. Iya.

Shoutout buat Al I yang Pak Ketum yang belum datang ke podcast ini. Coba kita kondisikan dulu diklik kita kirim ke orangnya. Coba Pak Ketum Agung Laksamana nanti mungkin pas melakukan pas menyebarkan Pak Ketum bisa di sini untuk membahas. Dong I bisa bisa mudah-mudahan. Oke anyway eh I think that's it from us.

Thank you for tuning in. Gua Mercy, seberang gua ada Adwi di situ ada Sofyan. Ada Stef di sini sama Chris the producer. and we're out.

Go deeper — Concepts & Ideas