Bagaimana cara menang di pasar kecantikan dengan 7.500 brand yang bersaing? Di Proxemics 030, Tessi Fathia Adam — Senior Group Head, Global Technology Business Accelerator di Paragon Corp, rumah bagi Wardah dan Emina — berargumen bahwa jawaban lama, SEO, mulai kehabisan napas. Jawaban barunya: GEO, Generative Engine Optimization.
Argumennya berangkat dari pergeseran perilaku. Konsumen makin sering bertanya ke asisten AI seperti ChatGPT ‘pelembap mana yang sebaiknya saya beli?’ ketimbang menggulir halaman hasil — jadi pekerjaannya berubah dari meraih peringkat di Google menjadi produk yang direkomendasikan AI. Respons Paragon termasuk merilis Wardah GPT dan menata ulang informasi produk agar terbaca mesin, bukan sekadar ramah kata kunci.
Mesin di baliknya adalah prinsip yang Tessi sebut Ethical AI: manusia tetap jadi mastermind pengambil keputusan, sementara AI jadi eksekutor yang menambah skala tanpa mengorbankan akurasi. Filosofi itu mengalir ke strategi hyper-segmentation lintas 16 brand — masing-masing dipetakan ke ‘passion point’ konsumen yang spesifik agar portofolio tumbuh tanpa mengkanibal dirinya sendiri — dan mesin influencer, Paragon Creator Hub, yang mengorkestrasi 150.000+ afiliator berdampingan dengan mega-KOL untuk jangkauan.
Di tengah jalan ia memutar ulang pivot Paragon ke digital di era COVID dan layanan pelanggan lewat WhatsApp, lalu menutup dengan budaya yang membuatnya bekerja: iterasi cepat, agility, dan standar hiring yang sepadan.
Kalau Anda marketer yang menyaksikan AI melahap kotak pencarian, ini salah satu playbook paling jernih untuk tetap terlihat saat pencarian berubah jadi percakapan. Layak ditonton sampai habis.



YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
The fact bahwa Google is still king, but the crown is wobbling. Ada 7.500 brand yang udah terdaftar di Indonesia, beauty brand. Jadi segitu kompetitifnya. Bayangkan 16nya Paragon dicompare dengan 7.500. Jadi salah satunya kita bikin Wardah GPT.
Saat kita tahu ternyata orang sudah mulai pindah ke AION ini, kita make sure kita move dari SEO ke GEO. Paragon kita juga ada prinsip etical AI namanya. Salah satu pasalnya adalah kombinasi antara human dan AI. di mana human itu menjadi masterm, EA itu menjadi eksekutore. Hei, eh welcome back everybody.
Selamat datang lagi di Proxemix eh di mana kita bisa ngobrol-ngobrol eh PR marketing eh komunikasi, media landscape ya gitu-gitulah kurang lebih. Nah, jadi kalau zaman sekarang nih ya ini dia dari pandangan gua ya. Jadinya kalau kita ngomongin eh beauty, kecantikan gitu kan, apa sih yang kita kebayang ya kan pasti campaign yang visually estetic i kan ee influencer yang glamor-glamor ya kan itu itu ee peluncuran-peluncuran skinc lah pokoknya gitu-gitulah semuanya serba wow padahal di hari ini ini nih menurut keyakinan gua pertarungan itu beyond apa yang kita lihat itu ya ini ada di data AI right itu tuh itu ada perang besar di situlah dalam konteks beauty industry ya nah jadinya gimana caranya kita mengkomunikasikan ini how does it all play out itu kita kebetulan ada orang yang bukan paham tapi paham banget dia konsepnya ya kan she is the senior group head global technology business accelerator at Paragon Corp Anyway, everybody please help me welcome to the program Tessi Fathia Adam. Happy terima kasih sudah diundang. Luar biasa.
Welcome, welcome. TC gimana nih? Lagi apa sih? Lagi, lagi sibuknya ngapain nih hari-hari? Tentu e since Paragon brandnya banyak, jadi kita ada 16 brand dan variasinya tuh sangat banyak banget.
Jadi kita develop each of experience juga beda-beda ya. Nah, terus kemudian tadi title yang teknologi bisnis accelerator itu juga kita tuh baru sebenarnya baru kita really focusing on building the technology. Jadi tadinya aku tuh kalau boleh cerita aku tadinya di divisi digital transformation. Jadi digital transformation tuh awalnya juga bermula dari saat COVID. Jadi aku tuh join pas zaman COVID.
Oke. Nah, company melihat wah ini kayaknya butuh banget nih percepatan on digital transformation-nya. Heeh. So, aku masuk ke Paragon dan kita mulai deh tuh bikin berbagai macam teknologi digitalisasi. Contohnya misalnya customer care.
Tadinya itu kita enggak punya customer care. Jadi semuanya ya para beauty assistant yang offline di toko. Yes. Pas COVID kan semuanya tutup. Wah, gimana nih solusinya?
Sementara orang masih butuh banyak konsultasi. So, we generate. Kita develop lah customer care pertama lewat WhatsApp, lewat phone number. Selama ini tuh 40 30 tahun berdiri Pakon belum punya channel itu. Jadinya kita force karena COVID.
Yuk, kita perlu punya. Lalu kemudian kita establish e-commerce, we also establish the website ekosystem juga dan terutama juga digital content ekosistem. Nah, mulai dari situ tuh kita ngelihat oh ini kayak teknologinya perlu difokusin banget deh gitu. Jadi mulai tahun sejak tahun kemarin tuh kita bikin divisi baru si teknologi bisnis akselerator ini. Tujuannya ngapain sih teknologi bisnis akselerator ini tuh memang untuk em bagaimana kita bisa create atau adapt the latest technology yang untuk mempermudah kehidupan siapa?
kehidupan paragonian onlo kemudian customer jadi customer kita dan tentu juga customer jadi para mitra kita menyebutnya para mitra toko. Jadi kita lagi fokus banget ke tiga bagian itu. How can we create a latest technology buat serve tiga segmen tersebut. Itu deh aku sehari-hari sekarang kerjaannya. Oke.
Jadi enggak hanya eksternal, internal juga bahkan nomor satu paling penting paragoniannya. Paragon. Paragon. Kebayang kalau kita selama ini banyak kerjaan manual. yang sangat repetitif gimana ya teknologi bisa bantu mempermudah.
Kalau misalnya paragonianya jadi lebih mudah tentu ketemuernya mudah, customernya juga satisfied juga. Sad banget luar biasa ya. Tapi gua enggak pernah nyangka jujur bahwa eh beauty brand produk yang maksudnya you apply to yourself gitu butuh customer care outside from yang offline tadi loh. Betul. Betul.
maksudnya gua yakin buat orang-orang di Paragon juga enggak kebayang juga sebelum COVID kali kan. Tapi tapi emang COVID kan change the game lah. Change the game di mana kita tuh enggak bisa ke mana-mana ya kan. But you still need to ask questions ke mana nih. Nah karena beauty itu kan sebenarnya the most intimate kind of product buat seseorang karena dipakai di kulit masuk ke kulit gitu.
Jadi orang tuh decision prosesnya panjang sebenarnya. Enggak cuma kalau beli mobil iya beli beauty itu juga banyak consideration-nya loh gitu. Karena amanak ya buat kulit saya, jenis kulit saya kayak gimana, nanti kalau salah pakai produk, wah itu bisa macam-macam tuh impactnya. Nah, itu makanya butuh banget customer care dan beauty expert buat dia konsultasi dulu. Iya.
Butuh banyak konsultasi tentu sama orang yang memang mumpuni juga yang punya deep knowledge on that one. Heeh. Eh, just that proses apa namanya? Pas adaptasi ya, pas masa-masa itu yang akhirnya tuh bisa membawa kalian to this point tuh is crazy, man. Yes.
Biasanya kan kita kalau build sesuatu itu ada tiga pilar ya, people, proses, teknologi. Biasanya itu tiga aspek tuh saat bikin sesuatu. Begitu pula pas kita apply digital transformation ini on people yang perlu kita edukasi surely tadinya orang jualan offline yang ngomongnya bisa face to face, ngomong dengan nyantai, sekarang harus dilatih buat ngobrol via WhatsApp ya. Nah, back then tuh itu perlu edukasi banget. Kalau misalnya ada orang yang biasanya ngomong pakai WhatsApp pakai capslock, ada kan?
ada capslock mulu atau enggak kebanyakan emoticon tanda baca atau bahkan kayak pakai tanda seru mulu. Nah, itu perlu edukasi. Jadi, bagaimana sih education and capability people untuk interact via WhatsApp? Itu salah satu case yang perlu kita latih. Kemudian proses.
Prosesnya tuh juga bagaimana memindahkan knowledge yang tadinya ada di setiap orang kita jadi knowledge bank. Karena jadi satu orang kan bisa refer ke our knowledge bank. So, that's on the process. Yang ketiga, teknologi. What will be the easiest technology sih yang bisa kita utilisasi on create this customer care?
Kita ngelihat top aplikasi apa sih di Indonesia? Surely WhatsApp. Jadi itu become or channel WhatsApp. Tapi kita juga ngelihat e channel yang lain. Makanya kita bikin extend customer care ini via sosial media.
Kita juga buka di Instagram. Oke. Lalu ada lewat telepon ataupun lewat e ataupun lewat website. Oke. Kayaknya aku mau cerita contoh lain adalah oni teknologi buat menganalisa kondisi kulit ya.
Nah, jadi I think it's also pioneir di dunia beauty sih untuk kita bisa deteksi kulit lewat handphone enggak perlu datang lagi untuk konsultasi ke dokter. It become an option lah gitu. Karena ya kita tahu akurasi deep knowledge surely ada di dokter kulit kan kita percaya itu. Tapi bagaimana kita bisa ngebantu at least untuk memberikan signal-signal gitu jadinya. Oh kalau aku mau tahuin tataran permukaan at least I get the understanding kondisi kulit aku seperti apa.
Bisa dengan mudah lewat skin analyzer yang kita build. So, itu juga menurut aku is a pioneer di dunia beauty memberikan kemudahan untuk orang discovery gitu dari sisi penkin seperti apa. Kemudian setelah itu mendapatkan rekomendasi produk eh yang sesuai. Yes. Karena kayak misalnya di dunia beauty aja di Paragon sendiri tuh bisa ada lebih dari 2.000 jenis produk.
Oh my God. Dan kulitnya cuma satu. Nah, jadi kan kita memilih kan mukanya satu, pilihan produknya ada 2.000. Nah, itu milihnya seperti apa tuh yang cocok dengan skin analyzer ini? bisa jadi lebih precise jadinya karena aku tahu misalnya kulit aku kering tapi kemudian sering di luar.
So, this is the right product regime for you. Itu tentu mempermudah buat konsumen jadinya. Oke. Dan itu eh mostly AI driven ya. Yap.
Yes. It combination of AI karena kita ngumpulin knowledge databank-nya kemudian dimatch dengan produk em option yang tersedia ditambah dengan AR technologi. Tapi gua jadi penasaran sih gimana caranya how do you make user tuh merasa lebih dekat gitu. Karena kan kalau ngomong sama beauty advisor kan it's a face to face interaction kan. Tapi when it become AI driven kayak gini yes it's easier scalable banyak banget yang bisa akses dan lebih mudah gitu quote on quode.
Tapi sebagai brand tuh how do you feel atau stay close to your customers? H aku kelihatnya salah satu prinsip paragon itu adalah hyper segmented consumers sehingga pertama kita cari tahu dulu segmentasi konsumen tuh ada apa aja. Kayak tadi Paragon tuh ada 16 brand. Tipe consumer itu beda-beda. Bahkan satu brand itu bisa punya banyak hyper segmented lagi yang kecil-kecil.
Nah, dari situ tuh implikasinya apa? Yang pertama adalah produk over yang kita berikan surely berbeda untuk masing-masing segmen. Cara kita ngobrol lewat konten juga totally beda. Kalau misalnya teman-teman tahu di sini konten di TikTok ada berapa juta sih per bulan? Itu tuh sampai 17 juta konten e yang beredar di TikTok setiap bulan.
Wow. Tunggu dulu. E gua penasaran. aja is that local data apa globally di Indonesia di Indonesia aja tuh ya 17 konten ya 17 juta konten oke dan itu salah satu pemain besarnya di dunia beauty juga jadi karena kita mengerti memang setiap kebutuhan orang kulit itu beda-beda, it needs different content for everyone right nah itu dialah yang gimana supaya merasa orang tetap dekat karena konten apa sih yang sesuai buat kebutuhan aku with my painp with my passion point juga interesting painp and passion point tapi gua penasaran juga sih di beauty ini kan sekarang competition is not just local, right? There's a lot of beauty brands especially mungkin 5 tahun terakhir atau 6 tahun terakhir itu benar-benar menjamur bangetlah beauty brand.
Heeh. Gimana caranya Paragon with all of your 16 brands tuh? Eh tadi kan connect with customer udah jawab ya, tapi dekat enggak sih sama community? How do you differentiate your brand? Like how do you stay close to via community?
Karena kan memang word of m penting banget ya untuk eh beauty especially tadi kan tes sudah mention soal it's one of the most intimate product sebenarnya yang going through a lot of decision process. Hm. Trivia kuiz dulu menebak ada berapa brand beauty di Indonesia sekarang? Wah 100 deh. 100.
100 step kayaknya gua close to 300. 300 John I think I think kalau brand itu mungkin bisa sampai 2000-an kali. Oke jawabannya ada 7.500. jauh banget asli kay gua gua 100 paling rendah lagi. Makanya 100 ada 7.500 brand yang udah terdaftar di Indonesia beauty brand.
Jadi segitu kompetitifnya. Bayangkan 16-nya Paragon dicompare dengan 7.500 yang lain yang lainnya. So surely we really need to be really sharp on that one. Dan benar yang tadi Mbak Stef bilang, we also strong with community. Jadi Paragon itu kan sudah 40 tahun brand pertama kita putri malah shampo bukan Wardah.
Jadi Wardah tuh brand kedua sudah 30 tahun dan komunitas yang kita bangun itu sangat berbagai segmen. Kayaknya aku akan banyak mengulang kata-kata hypersegmentation tapi karena itu menjadi core principle-nya memang komunitasnya tuh benar-benar kita detect berdasarkan orang passion point-nya dia tuh hobinya apa, e aspirational mereka apa. Itulah yang kita masuk sampai ke area level. Jadi in terms to area level pun kita beneran bergerak gerilia gitu jadinya. Oh komunitas di area ini yang strong apa aja ya dan kita really engage with them.
Engage-nya lewat apa ya? Lewat activation yang khusus dengan mereka tu area level. Ada specific promotion, ada specific education session untuk mereka. Termasuk juga sampai orcsrel pun juga sangat dibikin hypersegmented. Jadinya itu salah satu caranya.
Nah, untuk itu kita juga membikin komunitas sendiri. Jadi komunitas yang kita bawa ke online pun misalnya sekarang lagi grow affiliator kita tuh membikin sampai paragon creator hub karena kita tahu affiliator is really emerging itu menjadi apa ya source of income untuk em orang Indonesia bisa jadi celah income baru jadi kita melihat itu yuk kita nurture mereka jadi kita punya sekarang lebih dari 150.000 Rib orang afiliator di bawah naungan kita gitu di Paragon Creator Hub ini. Wah, ada enggak hal-hal yang carry over dari zaman COVID atau ada enggak yang mereka tinggalkan gitu? Jadi, it's only a COVID thing. Sejak itu mereka udah enggak melakukan itu lagi karena udah normal lagi.
Apa ada yang kebiasaan-kebiasaan tuh yang dibawa terus gitu enggak enggak pernah berubah karena COVID sampai sekarang pun masih dilakukan. I'm just curious. Betul. Aku tuh malah tadi pengin komentar animo tentang beauty growing. Beauty growing dulu.
Heeh. Eh, Mbak Steve tahu enggak tentang teori lipstick effect? Lipstipt lipstick effect itu adalah saat crisis biasanya penggunaan lipstik itu makin meningkat. Interesting. Jadi sebenarnya kalau ekonomi menurun biasanya penggunaan kosmetik makin meningkat.
Kenapa? Karena itu jadi ajang pelarian buat orang I can still feel a luxury tanpa aku perlu beli mobil, beli rumah. Lipstick is another form of flexery. Jadi itu sudah ada teorinya. Makanya kenapa kalau crisis kayaknya beauty malah hub gitu potensi sekarang penjualan lipstik seperti apa?
Oh surely bukan enggak tadi kenapa gua mention soal sor mongok bentar ngomongin soal customer behavior karena sekarang ini gua udah ngelihat nih at least orang-orang sekitar gue ya dulu tuh hanya memakai strictly high end product gitu nah sekarang tuh udah udah explore udah campur-campur misalnya tadinya cuma pakai tadi hanya strict foundation-nya harus e produk high end atau produk luar nah sekarang sudah pakai produk lokal tapi bedaknya masih high end jadi udah mulai behavior menurut gue juga helps contributing to the to the to the size of the industry. Yes. Jadi tadi karena orang pengin sesuatu yang luxury tapi in affordable way ya dia belilah make up. Kemudian variasi make upnya makin banyak. Enggak cuma dari luar tapi dalam dalam negeri pun juga kualitasnya sudah sangat bersaing.
Even better karena tadi lebih mengerti kondisi kulit Indonesia ya. Jadi tadi pengin cerita itu. Nah kembali pertanyaan yang terkait apa sih yang ditinggalkan dan yang masih stay. He menurut aku experi stay bahkan trafficnya makin besar. However, offline traffic juga kembali besar juga.
Jadi jadi maka malah aku ngelihat kolamnya makin besar karena ternyata online besar orang juga sudah kembali ke offline bisa lihat toko-toko kosmetik ramai banget. ya kalau misalnya kayak Guardi itu juga udah ngantri-antri orang jadinya kan mall selalu full setiap weekend jadi malah kita bisa generate both side gitu jadinya online dan offline. Iya. Ini berarti apakah traffic yang ke digital stay volume misalkan yang ngonakct lewat sosial media ataupun WhatsApp stay sama secara volume tapi offline-nya juga berkembang atau yang digital turun sedikit dia pindah ke offline semenjaknya it's nambah. Tapi kayaknya karena aku ngelihat adoption rate beauty itu juga makin besar.
Jadi sekarang orang pakai beauty tuh semakin muda. Jadi anak anak-anak pun sudah bisa-bisa pakai beauty produk kan. Dan kemudian segmennya pun dari yang premium sampai ke yang low class juga tersedia loh produk untuk mereka. Para pun juga meng-serve itu. Jadi ada yang premium brandnya, ada yang m segmen-nya, ada yang for teenager, ada yang is a very em apa ya advanced and mature person.
Oke, ini ni ini menarik banget karena lagi-lagi ya kita tadi masih ngomongin tentang hyper segmentation ya menurut gua ini pengalaman gue ya when I talk to brands terutama yang multinational eh company companies pada saat mereka punya multiple brands mereka tuh enggak tahu cuy bedanya apa. I ngerti kan lu mereka punya ABC tapi mereka sendiri as a talent yang bekerja di perusahaan itu enggak ngerti siapa yang harusnya ke A, siapa yang ke B, siapa yang ke C gitu. Dan menurut gua itu bisa become problematic karena jadinya semua makan semua. H itu kan enggak ideal kanibal ya kan. Sedangkan gua yakin kalau misalnya di eh Paragon ini dengan hyper segmentation ini lu punya 16 group of people yang berbeda cuy ya kan.
Adalah sedikit eh irisan tapi bukan yang apa namanya kanibal gitu. Not to that point. Nah, itu makanya penting banget eh pada saat you have multiple brands, you need to understand, man, luar dalam behavior-nya, cara komunikasinya yang disukai, the community, ya kan? Itu tuh penting banget. Dan not not a lot of eh apa namanya?
Eh, pemain ya di di Indonesia itu memahami itu. Jadinya kalau lu enggak ngerti, lu ngomongnya enggak enggak nyambung, cuy. Ya kan? berikutnya itu yang tadi tentang teams, right? Ada social media regulation sekarang, ya kan?
Nah, ini nih kan baru banget eh pas pertama kali diintroduce I'm just wondering reaksi dari eh teman-teman ya kan di di brand gitu di di Paragon especially gimana dan apa ya moving forward how do we get to that market karena kan memang udah membentuk market tersendiri gitu kan jadinya pasti ada eh adjustment lah. Nah itu I'm just curious what you think about that. Mau aku mengkelompokkan itu jadi dua pertanyaan. Yang pertama adalah tadi kan Paragon ada 16 brand, sementara mungkin ada company lain yang dia tumpang tindih jadinya kan saling makan. Nah, aku mau cerita Paragon itu mission-nya kita pengin jadi life companion consumers.
Harapan tuh dari orang lahir sampai orang meninggal itu tuh sama Paragon produknya gitu. Nah, sehingga itulah mindset itu yang kita pakai saat mapping out product development. Kita mau bikin brand baru nih. Ini cocoknya stage yang mana ya? saat dia lahir sampai dia sebelum meninggal itu ada di mana tuh jadinya.
Nah, itu kan membuat jadi precise. Itu yang pertama. Yang kedua adalah e another fact-nya di TikTok itu setiap orang itu bisa diag sampai 200 personality atau 200 eh tagging. Wow. Jadi misalnya tesi, Tessi itu adalah tahu Tessi tagnya orang Bekasi misalnya gitu ya.
Terus Tessi itu suka masak, tes yang suka lari, tes yang whatever itu bisa sampai 2000 tagging setiap orang. Oke. Eh, sor 200 sampai 2000. Oke. Jadi ada 2000 tagging.
Nah, itu yang bisa membuat kita semakin precise tadi ngomongin tentang si hyper segmentation. Bahkan misalnya tadi ada em kita punya banyak brand serve untuk anak muda. Anak muda yang seperti apa? Ada 2000 pilihan loh gitu. 2000 pilihan anak muda yang dia suka ke blog M, anak muda yang dia belajar terus ya kan?
Itu pun sudah beda-beda sehingga produk approach-nya pun juga jadi beda. Joni ke blok M gua belajar. Nah, lu belajar ada main padel atau apa nih? Itu kan tagingannya akan ada banyak. Terus lupa pertanyaan kedua menarik.
Kita itu punya e brand teenager Emina dan juga Taffi yang dia first jobber dan juga teenager. Oke, dari awal kita bikin brand teenager, kita mau make sure it's a parent approve. Oke. Jadi bahkan dari sisi edukasi, dari sisi bahkan sampai pemilihan talent activity yang kita bikin, we ensure is a parent approve. Jadi komunikasi kita pun sebenarnya kedua arah, ke teenagernya juga ke parents-nya.
Contoh yang unik adalah 2 tahun lalu kita bikin event untuk Emina di Senayan, tapi bagaimana kita make itu par approve tidak ada rokok, tidak boleh ada rokok di situ. Padahal it's a konser. Oh ya, it's a konser with very much banyak banget excitement di situ. Tapi jadi enggak ada rokok, tidak ada minuman keras dan selesai jam 09.00. Oh, jadi karena parents approve dan I jadi bahkan e lucunya tuh pas jam 09.00 Kan banyak orang tua nungguin di gate.
Iya, di gate-nya tuh mereka orang tua udah nungguin tuh nungguin anak-anaknya pulang. So, it's a real example bahwa ya kita komunikasi produknya pun juga ke parents-nya juga kok. Dan kita ensure saat kita komunikasikan konten ke teenager, it's also safe. Jadi, kita at least me-make sure di situnya sih jadinya. Sori bentar ya.
So, you are communicating kedua segmen tuh, ke parents-nya sama ke target audience ya. Betul. Iya, benar. Heeh. Contohnya ke JXB ya kita ada buka boot Emina tapi ibu-ibunya yang beli buat anaknya.
That's on the activation on the media targeting juga bisa jadi seperti itu jadinya. Jadi jadi hybrid ya. Jadi enggak enggak target spesifik ke langsung ke usersnya. Jadi menjawab challenge tadi. He iya.
Karena kan ada juga namanya consumer ada user ada shopper. Siapa sih yang beli produk buat anaknya? Mungkin anaknya langsung atau ibunya kan juga bisa. Oke. Tapi semoga yang nelepon tadi tuh di customer care bukan kayak mbak ini konsernya beres jam berapa ya?
Saya mau jemput saya gitu. Tapi ngomong-ngomong soal consumer dan shopper ya em enggak tahu sih gua ada datanya atau enggak tapi when they make a purchase itu tuh beneran emotional karena udah research udah apal to the brand atau emang data driven ya? Kayaknya gua ngelihat nih teman-teman gua nih kulitnya yang kering-kering nih pakai ini bagus nih pakai ini kayaknya kurang cocok nih. Is there is there such data? Em, ada banyak datanya, tapi aku kalau misalnya mau conclude kayaknya ada dua beda kelompok on skinc dan dekoratif tuh make up.
Kalau skincare itu biasanya lebih banyak melakukan research tendensinya, lebih sensitif karena kan kondisi kulit kan soalnya. Sementara kalau dekoratif itu lebih playful yang penting warnanya cocok apa enggak ya. Nah, dan keduanya sekarang ditambah lagi dengan si data science. H kalau misalnya tadi yang skin tadi aku cerita udah ada skin analyer. Jadi kan udah ngelihatin kondisi kulitnya sampai precise banget.
Nah, begitu pula di make up. Kalau Mbak Steve aware ada namanya personal color analysis. Biasanya ini yang cewek-cewek nih. Jadi coba Bapak-bapak di sini aware enggak kalau kulit kita itu bisa dikelompokkan seperti kulit e musim. Jadi are you a winter or are you a summer?
Nah, itu jadiam fun fact. Nah, itu itu tuh ada tesnya berdasarkan data. Ya, itu mereflek apa sih? Jadi, setiap ada kelompok musim ini me-reflek cocoknya warna warna make upnya kayak gimana. Kayak misalnya karena aku adalah itu biasanya warnanya lebih dark, lebih bold.
Jadi kalau aku nanti pakai warna cerah malah kelihatan aneh ee auranya. Pantulan. Jadi ceritanya itu pantulan warna dari baju atau make up yang kita pakai tuh dengan cahaya mantul ke muka tuh mukanya menjadi lebih gelap malahan. Iya. kan waktu itu kan sempat yang untuk melakukan itu kan.
Wah, tahu pakai tahu ya kan. Jadi dia kayak pakai clot gitu lu dibuka every color. Tapi you can tell the difference gitu kan. Itu kelihatan. By the way jangan ke mana-mana nanti Joni akan melakukan color analisis langsung di sini ya.
Ditunggu aja. Oke. Terus another promo adalah buat cowok-cowok tambahan kita bahkan mentransform e personal coloris yang biasanya buat e wanita buat ke pria. Cowok. Oh, jadi kita tuh melakukan signature event itu yuk kalau cowok tuh juga bisa loh ternyata dimapping seperti itu tapi dengan tentu color grading-nya yang lebih rel sama cowok juga gitu enggak yang hasilnya jadi pastel-pastel enggak enggak gitu tapi tetap aja bisa dibagi jadi empat musim ini apps-nya apa tadi dicoba ya nanti bisa kemarin tuh ada bentuknya apa nama apps kita bikinnya tuh em bentuk event activation nah kalau yang personal color e analisis itu kita bentuknya sudah bentuk website jadi bisa diakses dan tadi menarik statement-nya adalah it's a pricey right itu tuh harga kalau pakai consultant beneran yang dari karena tuh ilmunya dari Korea dan Jepang tentu itu costly setiap jamnya yang Wardah mencoba untuk mendemocratize.
Jadi bahkan kita sering bikin road show, kita panggillah para ahli-ahli personal color analisis ini kita support supaya orang bisa akses nyobain juga in the bukan yang full misalnya kalau yang real 1 jam itu dia bukan akurasi ya detail ngelihatnya tuh sampai 100% ya kita ada portion-nya gitu jadinya tapi at least you get a sense sebenarnya aku tuh masuk personal color yang mana ya so it's a proven di mana ternyata semuanya sudah data driven juga kok bahkan menentukan make up pun juga sudah pakai data analisa jadinya gua mendengarkan cerita dari tadi Sepertinya kalau di Paragon itu berarti masih banyak kombinasi antara teknologi dan human interactions gitu ya. Cuman you using the technology sama the data to find tune. Tapi nanti masih ada beberapa activation yang memang perlu offline ya offline. Heeh. So pertanyaan gua mungkin gini menurut lu apakah bisa teknologi menggantikan fully that experience atau apakah memang brand itu masih harus mengandalkan dua kombinasi ini gitu ya?
Solidernya tidak bisa menggantikan. Kenapa? Kalau kita di Paragon kita juga ada prinsip etical AI namanya. Jadi etical AI-nya tuh apa aja? Salah satu pasalnya adalah kombinasi antara human dan AI.
Di mana human itu menjadi mastermind, AI itu menjadi eksekutor dan membuat jadi lebih scalable. Contohnya skin analyzer itu enggak ujuk-ujuk pakai AI er tapi itu ada kombinasi human expert-nya. kita konsultasi dengan dokter, kita konsultasi dengan tim RnD, dan ada beauty expert. Bahkan kita konsultasi sama kayak beauty top KOL. Ini ramuan EA-nya benar enggak ya?
Kalau sudah benar algoritmanya baru kita deploy. Iya. Setelah dideploy gimana supaya kita bisa scale up? Oh, make sure itu bisa diakses dari handphone sehingga 200 juta orang bisa mengakses tersebut. Terutama tadi yang personal color analisis itu juga enggak kita purely langsung bikin AI, bikin mapping-nya ya, summer, winter apa enggak.
Kita bahkan minta belajar dulu ke Korea dan ke Jepang. Kita panggil ekspertnya langsung. Ajarin kita dong sebenarnya tuh ramuannya seperti apa sehingga kita bisa translate into AI. Yes. Jadi it surely always be a combination a partner between the mastermind dan executor.
Contoh lainnya adalah customer care. Jadi awalnya customer care itu is a purely human agent. Cuma kita ngelihat trafficnya tuh besar 24 jam. Kayaknya kasihan juga ya kalau human agent dia standby terus-terusan gitu kan. sehingga kita combine dengan AI agent juga.
Tapi kita berbagi jadinya untuk yang di bawah office hour kita gunakan AI agent tapi sudah difeeding sudah difeeding knowledge-nya from human. Begitu pula saat AI-nya dia membalas setiap minggu tuh kita ada champion yang me-review jawabannya benar apa halu ya gitu. Jadi entar kita benar oh ini kok ada jawaban dia di hari Sabtu kemarin halu gini sih enggak match kita benerin either responnya atau kita benerin knowledge bank-nya. So it's always hand in hand. He.
Jadi masih ada human interactions just to find tune lah ya itu I would say bahkan jadi ada mastermind sama dia ngecekin terus cara cara kerja AI-nya benar apa enggak ya jadi polisinya ya dia make sure benar jadi polisi sesua iya a lot of AI hallucinations kan zaman sekarang oke nah tapi ini nih menarik juga AI ini kan can do just like a knife atau api ya kan lu bisa buat masak daging atau bakar rumah semuanya ya kan ini kind eh to the extreme. Nah, sekarang itu kan ee at least gua gua enggak tahu eh di beauty ya, tapi di industri lain tuh a lot of AI generated content yang enggak enggak selalu akurat juga, you know. Eh, ada yang memang niatnya jualan, tapi ada yang juga gua enggak ngertiah what's the reasoning behind it, tapi gimana eh Paragon nih bertarung dengan inaccurate eh AI generated contents yang mungkin bisa merugikan atau memberikan informasi yang kurang akurat gitu. Pernah udah sering enggak bertabrakan dengan itu apa masih belum terlalu at this stage? Hm.
Yang pasti tadi principnya adalah diingatkan human as the mastermind. He. Jadi kalau kita banyak of itu dibikin dari human dulu gitu sebagai konseptor awalnya. Kalau misalnya at the end kita mau duplicate variation a lot of content using AI ya enggak apa-apa supaya tadi jadi scalable. Nah, another thing adalah kita tuh masih percaya konten itu dibikinnya talentnya surely pakai manusia.
Heeh. Jadi itu approach yang kita pilih manusianya tapi dipolis di ada tambahan dengan AI supaya tadi bisa diduplicate variation-nya ya itu enggak apa-apa tapi with consent dari si humannya dari si talentnya itu sendiri. Jadi itu itu yang satu yang kita make sure. Kemudian ngomongin tentang kayak misalnya di dunia digital banyak banget em sentimen-sentimen yang di engineer. Nah itu pun kita juga perlu make sure kita masih berpegang dengan etical AI.
We use human untuk bagaimana sih bisa menyebarkan again positivity bukan untuk menyerang atau create a black campaign misalnya to spread the negativity kita itu e a big no it's our core value. Kita role-nya adalah bikin impact atau bikin positive move. Oke. Paling enggak itu yang kita jaga sih jadinya. Tapi pernah lihat enggak?
I'm not saying kita enggak perlu tunjuk brandnya apa lah. Tapi pernah enggak sih brand-brand yang lain melakukan campaign yang kayak gitu gitu? I'm just curious sering ya. It's a lot of brand yang bermain di situ. Enggak cuma di dunia beauty sih, kayaknya itu any type of brand bisa saling nyerang-menyerang deh.
Jadi kayaknya bukan cuma by AI, tapi bahkan human to human enggak sih? Kayaknya ya ada human yang ya bilang negatif ke a nanti diserang balik. Tapi itu terus kita gimana ya standp-nya? Standpoint-nya kita tidak attack balik dengan negativity tapi kita memang spread our positivitynya apa sih? What will be your positive angles towards this black negativity war?
Gitu. Berarti bukannya gak bisa. It's an ethical a decision that you guys bahwa ini ethical AI policy di Paragon. Gua banget sih sebenarnya. Luar biasa biasa luar biasa luar biasa benar gua cocok nih kayak ini udah jadi afiliator tadi kan penasaran tanggung jangan-jangan dia punya brand lipstik nih gitu sebenarnya engak tahu khusus untuk laki-laki aku pakai brewok brewok nich banget hyper hyper segmentation banget it udah cocok banget tu enggak kelihatan di sini enggak kelihatan bahkan ya jadi cerita kulit ee kulit kulit pria itu pun bisa dibedah menjadi 16 personality.
Wow. Jadi kalau tahu MBTI kan ada 16 personality ya, tapi kulit juga ada. Jadi namanya ada teori bowman type juga bisa dikelompokin. Jadi dari enggak enggak cuma sekedar berminyak ee kering, tapi ada kombinasi sampai 16. Heeh.
Nah, jadi kalau mau bikin tadi tuh ya bikin brand coba mau 16 itu ya kita pilih kita bagi 16 semua ambil empat aja fokus. Tapi gua penasaran deh dengan 16 brand eh raksasa beauty ya Paragon. What kind of talent H that is hard to find hari sekarang nih? Hem talent yang hard to find. I would say e the one that really adaptive.
Oke, kayaknya tu karena pergerakannya kan cepat banget ya. Jadi, even from my own case aja gitu. Eh, di aku di Paragon jobnya berubah-rubah, hal baru yang dicoba pun berubah-rubah terus. Kalau misalnya enggak bisa de, eh kok kan gua baru ngerjain ini ya, ini aja belum beres kok udah bisa berubah lagi sih secepat itu. Jadi, adaptive and agal itu kayaknya e itu jadi mandatory mandatory skill set yang perlu dimilikin.
Adaptive and agile ya. Iya. Karena itu tadi kayak eh competition-nya sangat berubah dengan cepat, kemudian pemainnya juga banyak banget. Jadi manuver mereka aneka ragam. Kita bisa yang 2 minggu direction-nya ini ya.
Eh 2 minggu lagi ketemu enggak deh kayaknya stop dan berubah gitu. Kalau untuk some people akan yang are you sure kita baru mulai enggak dicoba dulu tapi emang oh we understand the urgency. We understand the manuver yang orang punya yang orang lain milikin. Oke let's try to manu as well gitu. Menarik.
Gua ada dengar dari Birds out there yang bilang bahwa memang sekarang itu kan ee entar gua mau go back ke pertanyaan K. Oke. E gara-gara lu mention talent. Eh banyak eh beauty produk itu kan memang menggunakan key opinion leaders lah ya. Eh basically untuk mungkin in your case nyebarin si positivity tadi.
Yes. Sama untuk kayak tell the story lah of the product. Brayan gue gini ee dengan banyak perubahan tadi apakah benar bahwa sekarang itu brand tuh udah mulai fokus ke orang-orang yang benar kayak real yang kayak the gua, the step and the mercy and the you gitu misalkan iya to spread the news instead of using kayak artis lah misalnya satu yang kedua adalah apakah benar berarti mereka tuh sekarang lagi banyak bergerak di kita bilangnya itu ee nano influencer lah ya gitu untuk nyebarin mungkin karena itu lebih dekat, lebih real gitu. Benar enggak sih? Karena katanya perubahannya jadi cepat banget gitu.
Em kalau kita sekarang di di beauty industry aku ngelihatnya masih combine mode. Jadi kita enggak bisa memilih salah satu. Masing-masing punya wareness punya role-nya masing-masing. Untuk yang the big kol still proven dia bisa nge-drive awareness dan high reach yang segitu besarnya. Iya, masih ada di situ.
Ternyata kita sudah coba kalau enggak pakai, oh ternyata susah loh buat ngegjot awareness-nya. Tetap masih butuh yang besar. Oke. Role Neno dan micro ada di mana? To build the relevancy.
Nah, karena it feels like I aku close dengan Jonte, aku close dengan Mbah Steve, kayak kok berasa orang gini, berasa orang biasa mohon maaf ya. Terus kayak jadi oh ternyata dia juga pakai loh gitu. Nah, itulah build relevancy lewat nano micro KL tersebut ya. Ditambah tadi dengan ada taggingan orang itu bisaing 2.000 berarti dia punya 2000 interest loh. 2000 interest.
Jadi mungkin aja aku akan interest dengan kol masak, dengan kol lari dengan kol apa? H rox. Jadi dan mungkin kol bukan kol tapi orang biasa. Aku ngelihat ada eh gua nemu ada orang mbak-mbak biasa HOX pakai lip Warda kok cakep banget ya. Kelihatannya dia bisa keringetan tetap stay full make up dan oke.
Sedangkan ceritanya orang itu juga workout gitu. Jadi lebih relevan. Tapi aku juga masak dan ada eh tah ya kalau masak pakai lipstik gitu misalnya kena dapur panas tetap stay ok kayaknya aku juga jadi relate makin firm lagi untuk aku beli produk itu. Betul. Jadi tetap kombinasi kedua-duanya sih.
Nah tambahan aku ngelihatnya juga move KOL yang besar-besar itu juga mulai mulai shifting jadi melihat seperti orang yang biasa kok. I mean they also show the vulnerable side of them. Kayak ya gue misalnya gue orang setaj melintir gue juga suka makan apa makan ayam pecelele kayak gitu loh. Jadi I'm also a real human. Kayaknya juga mereka ngelihatin other other setnya mereka.
Another party adalah top KL itu juga sudah belajar untuk build e banyak persona. Jadi kita pernah kedatangan salah satu eh top KL sharing session ke kantor dan dia cerita, "Aku tadinya dikenal sebagai e roll A, tapi I'm start to build another persona of me supaya aku bisa attract more segmentation. Oke. Jadi bahkan satu orang pun sudah boleh berstrategi bikin jadi lima personality gitu. Multiple disorder ya.
Jadi multiple personality disorder tuh namanya. Nah, positioningnya banyakingnya banyak. Iya, karena tadi kayaknya butuh dia butuh ng-build relevancy dengan banyak segmen surely brand jadi lebih potensial beragamnya lebih masuk. Itu juga another impact jadinya. I see.
So, for ini mungkin gimana ya? Eh, jawab general aja enggak apa-apa tapi for your e porsi budget ya. Bukanya porsi budget sama nano berapa gitu si A itu berapa sih? Enggak. Ee gue lebih panya ini apakah ee sekarang ee Paragon juga mem-manage kan brandnya banyak tuh ya, setiap brand pasti punya kayak representatifnya sendiri kan.
He. Jadi ada berapa banyak h affiliator atau kwel ataupun investor yang kalian manage sendiri gitu. It's really massive. Tapi tadi kalau misalnya affiliator itu yang kita manage sendiri ada lebih dari Rp150.000. Jadi kan ada kebagi afiliator dan ada kreator.
Kalau kreator kita belum memanage sendiri tapi kita berpartner dengan either langsung dengan kreatornya atau kita lewat bantuan agencies. Jadinya we have a lot of agencies yang bantu connect dengan kreator-creator tersebut. Wow. Gitu. Dan oh ya tambahan kita juga baru launching ekosistem namanya grow di mana tuh para kreator bisa submit kalau mau kerja sama.
Jadi bahkan kita istilnya pasti nangkap ikan kayak kita buka ada kolamnya gitu. Kalau orang yang tertarik daftar juga bisa daftar di platform tersebut. Dia can sign up tuh kalau mereka mau ini ya. Iya. Sign up untuk jadi creator partner kita.
Nanti setiap ada campaign yang relevan, kita kirimkan sampel. So you can do your own review and you get paid commission dari situ. I nice. Gua juga udah apply. Gua udah apply ya.
Lu pilihnya Wanda sih, pilihnya K dong personara tadi menarik karena sekarang jadi lu secara enggak langsung sudah memfilter orang-orang yang memang mungkin aspirasinya udah sama tuh ya. Oh, gua sukanya produk ini. Enggak mungkin kan kayak gua apply-nya misalkan Wardah, mungkin gua CF gitu kan karena gua pakai. I would say not filter tapi kategorisasi. Kalau filter kan kesannya tadi oh enggak lolos out kita.
Nah, contohnya kan kalau kita tuh percaya ya, everyone bisa pakai produknya Paragon, tapi kategori mana jadinya? Mana tinggal dicocokin aja ya tadi matching-nya sama yang seperti apa tuh si hyper segmennya. Beauty Carol tuh banyak banget sih, Bro. Banyak banget dan yang besar sih memang beberapa lah ya maksudnya masih bisa masih bisa dihitung jari gitu. 20 jari mungkin bisa dihitung.
Tapi how do you how do you pick? How do you filtered out? Yang ini kayaknya cocok nih buat brand Amina, buat cocok buat Warda. Like how as a brand how do you pick? Gua gua nambahin sedikit especially dalam konteks sekarang nih yang penuh dengan cancel culture misalnya.
Benar. Tapi tadi balik lagi ngomongin tentang si persona sama passion sama passion point mapping-nya. Itulah yang kita jadi consideration utama. Nah, kita tuh sekarang juga tapi kerja sama sama brandnya itu I would say bukan menjadi face utama. Oke.
Kalau lihat kita tuh kayak Warda emang f utamanya siapa? Enggak ada yang khusus dulu tuh gua ingat banget tuh Dewi Sandra ya. Yes. Itu mah everlasting nempel banget ine sebelumnya. Nah itu kita sudah enggak enggak banyak yang bermain seperti itu.
Tapi kita memang kayak project atau campaign by campaign jadinya. Iya. Jadi jadi ada campaign khusus. Oh ini yang bagus. Jadi face of that campaign siapa ya?
Yes. Jadi kalau face of the brand ya ada cuma is very selected banget. Tapi kalau misalnya tadi yang face of the campaign ya, kita ngelihatin the current condition of profile-nya seperti apa sih dia image yang dibagus, yang dibingin seperti apa, positif atau enggak. However, bahkan to the unique levelnya adalah kita bisa mengutilisasi satu kolat banyak brand di Paragon tapi story-nya berbeda. Jadi ya kayak misalnya kita pakai Tasya Farasha saat mempromosikan Wardah angl-nya beda.
Memprodosikan apa? Mempromosikan makeover beda lagi angl-nya. Iya. Karena tadi disesuaiin aja jadinya. Iya.
Itu secara brand enggak? Enggak tabrakan ya? Enggak. Kita ya janjian karena kita janjian dari awal kita sudah jelas oh Wardah stands for ini ya value-nya. Makeover stands for apa?
Misalnya makeover tuh perfection. Kalau Wardah tuh misalnya apa? Empowerment gitu. Jadi role ceritanya juga nanti beda. Heeh.
Tasya Farasya menjadi seorang yang perfect itu buat brand. Iya. Tasya Farasya yang gua pengin menjadi yang lebih baik. I want to empower others itu menjadi wardah. Heue, gua ada pertanyaan sedikit tchnikal boleh enggak?
Boleh dong. Untuk yang bekerja nih di sebuah brand kan tadi Tessi bilang bahwa ada 16 brand du. Asumsi gua setiap brand itu punya kayak brand manager sendiri. Benar kan? Iya.
Yes. Tapi yang lu pegang secara experience itu whole. Benar. Iya semuanya tuh. Benar.
Nah kalau yang tadi kan emang ada kepala-kepalanya tuh mereka bisa janjian karena gua pegang satu brand, gua tahu nih brand personality gua mau kayak gimana. T maners-nya gimana gitu. Sedangkan lu yang di tengah-tengah sebagai experience yang pegang 16 brand itu bedainnya itu gimana ya? Bedainnya karena kita sudah punya guide boot masing-masing untuk setiap brand. Oke.
Setiap ini harus ada udah ada clear guide eh brand preposition-nya seperti apa. Itulah yang kita pegang. Nah, dah. Kayak aku kan misalnya megang the whole digital ecosystem content and technology untuk 16 brand. ada PC yang megang untuk PR dia punya overview e terhadap oh karena dia sudah understand 16 brand ini personality seperti apa.
Jadi dia udah paham nih, oh kalau kita appoint Koland B nanti bawa arahnya kayak gini ya. Bahkan sudah tahu jangan minggu ini ya, minggu ini lagi dipakai brand A nih gitu. Jadi usah ada unify kolektif harus ada sutradaranya kayaknya. Iya karena kita jadi orkestrator benar konductor konduktornya konduktor kalau enggak dirigenabrak guys. Dan kuncinya adalah ngobrol.
kita tuh ada di within marketing busnis leader kita ada waktu ngobrol akan ngumpul di ada di lock one day eh semua orang harus bisa dipanggil untuk kita sharing kayak kita ada progress apa within your brand ada potential activity apa yang mungkin conflicting with each other brand yuk kita janjian jadinya production team-nya beda-beda. masing-masing brand punya prodim. Iya. Oke. Kalau enggak ada Iya.
Tapi gini ee kayak kita tuh punya aku tadi ngobrol sama Jonte sebelumnya kita punya agency in houseo sendiri. Oke. Yang mana ada satu kepalanya juga. Ada satu kepala. Jadi dia juga punya full overview terhadap oh ini si kempen Warda mau syuting B.
Eh nanti makeover besok syuting ini pakai ini ya. I oke. Jadi bisa janjian di situ. Pokoknya talentnya sama men. Lupa kali misalkan.
Nah ini yang mana gitu mistak ngobrol dan janjian. That's the key, right? Communication. Ben sih, kerjanya work from home lebih banyak atau office kita office. Oke.
Udah di encourage untuk ke kantor. Makanya those kind of communication itu ini it cannot be built online ya kan susah. Kayak kita juga di sini dulu one of the reasons kenapa kita balik ke kantor itu karena a lot of culture discussions ya kan. yang ee terut terutama anak-anak yang baru ini miss gitu kan. Karena kita ngomong ya kalau gue misalnya ngomong sama Stef lagi WFA ya gua nelepon dong everybody else don't get to hear ya kan kalau ngomong sama lu gitu kan ya lu WhatsApp atau apa.
Sedangkan dulu kalau di kantor kan gua ngomong di sini yang lain masih bisa dengar gitu so they absorb something gitu. Nah, itu waktu itu challenging banget, right? The the culture pas pandemi itu one of the things yang at least kita ya di grup ini eh tentang culture itu banyak yang we lost jadinya kita we have to rebuild gitu. Dan bahkan kayak ngobrol-ngobrol itu pun terjadi di luar meeting real kan tiba-tiba lagi enggak sengaja ketemu eh by the way gua mau bikin ini ini loh gitu itu bisa ketemu. Nah, however itu juga jadi potential loss karena potential loss adalah enggak ke formal ke update.
Betul. kayaknya gua pernah bilang loh pas kita ketemu di lif yang mana ya lif yang mana di yang mana yang kapan sehingga butuhlah sesi dedicated itu untuk saling update. How of how often it's a weekly oh it's a weekly thing. Wekly basis. Jadi ini banget ada memang dialokasikan yuk supaya regroup bersama baru nanti setelahnya kembali ke brand masing-masing.
Especially juga tadi lu bilang eer lu bilang bahwa untuk pertanyaan staff soal talent makanya lu butuh orang yang agile mindsetnya. Soalnya kalau enggak perubahan-perubahan yang tnya ada baru lagi gitu. Kalau dia enggak jal dia bingung kayak gimana nih. Bukan hanya itu, you can get easily frustrated, right? Kalau lu enggak terbiasa lu misalnya kerjanya yang perusahaan long game terus lah dan enggak berubah.
Mining sama cuy dari dulu sampai sekarang lu tetap iya kan lu menggali gitu kan. Sedangkan kalau ini kan a little bit different ya. lot of menarik tadi pas bilang long game kayak Paragonis selalu pengin menjadi long game karena kenapa tadi yang dibilang kan kita pengin membersama ya dari lahir sampai manfat gitu kan tapi iterasinya dilakukan ini juga menarik tadi kan specifically you mention adaptive sama agile itu kayak semboyannya tex start up man ya kan lu nomor the first two itu mereka selalu ngomong adaptive and agile itu udah udah pastilah ada agile test team whatever ini itu itu kan selalu ada. So that's very interesting. Nah, balik lagi ke situ itu kan yang lu cari.
Heeh. Yang menjadi pets. Yo, kalau orang kayak gini eh susah deh kayaknya to be on my team ya kan yang lu kurang suka gitu. The antithesis of what you're looking for ini apa misalnya two or three things malah yang aku hindari. Heeh.
Yes. Malah seseorang yang refle refle. Iya kan? Iya. I think kebalikannya surely orang yang rigid dan dan lama dan kayak rigid dan lama.
Iya kayak yang yuk. Oke, ada satu hal yang kalau my personal point of view adalah aku lebih suka beriterasi dibandingkan mencari perfection dulu. Kayaknya itu deh. Ada tipical orang yang em eh gua mau sampai perfect dulu deh baru di gua kasih tahu projectnya baru diluncurkan. Nah, sementara kalau aku experience di sini tuh yang penting you do the iteration.
Heeh. Coba ya, gua e upgrade sedikit, gua coba sedikit. Eh, enggak bisa ya salah. Ya udah mundur. Terus gua coba lagi besok ya ternyata benar.
Yuk, maju lagi selangkah-selangkah. Oke, kayaknya jadi itu sori jawabannya malah kontradik malah kebalik ya. Jadi malah aku mencari orang yang mau beriterasi dan menghindari orang yang really longing for perfection baru kemudian di launching. Oke. Itu jadi enggak dapat tuh long game dan estafetnya.
Oke, itu tadi rigid surely yang kalau ternyata enggak mau berubah, enggak mau adaptif dengan yang emang kita butuh berubah loh sekarang. arahannya dan itu yang menurut aku jadi susah sih. Jadi oke you you thinker as you go ya kan instead of nyari si V final V10 V11 V11 revisi insyaallah benar revisi final kayaknya lebih kayaknya lebih terbukti bisa ada maju progresnya kalau kayak gitu deh. Heeh. Karena nah karena gini kalau misalnya nungguin sampai perfection pas mau di launching trennya udah bukan itu.
Oi ternyata udah lewat udah 2 bulan lalu kita essence ya namanya ya. Nah exactly ngapain gitu nungguin padahal sebenarnya tiap hari ada sesuatu hal yang berubah dan you you should adapt on that. Very interesting. I suppose memang itu kadang-kadang perlu gini gini gini eh kalau lu orang yang perfectionist itu bukan berarti enggak ada tempatnya. you know gu gua percaya eh good leadership management itu pada akhirnya you're putting people in the right places ya kan ada orang yang lu mesti benar-benar saklek dan perfect gitu dan kalau lu taruh orang yang you know yang ee he yang penting ada enggak bisa enggak suable gitu ada ada posisi-posisi yang lu diperlukan highly analytical misalnya eh lu mesti e very iya very precise very critical itu diperlukan juga tapi mungkin ya enggak enggak di posisi-posisi ters eh tertentu aku ada contoh itu deh on e bagaimana kita me-manage konten ekosistem kita.
Oke, jadi konten itu sekarang kita tetap butuh ada the polish content yang aspirational yang cakep banget gitu jadinya. Nah, ada tim yang memang sangat ahli di situ. Kita tetap perlu itu. We can't neglect that brand butuh sesuatu yang aspirational that really look up tuh kok si video ini keren banget ya gitu. ada content yang penting sehari jadi jadi yang yang penting adalah memang ya udah kita butuh ada banyak orang promosiin our product yuk syuting dalam waktu 2 jam beres upload jadi it's a combination benar tadi yang dibilang ada yang butuh perfection type of output ada yang butuh fast and highly iterate content yang butuh bahkan ribuan konten bisa jadi cepat iya yang jadi masalah adalah when yang butuh tepat cepat itu adalah orang yang thinker.
Exactly. Jangan sampai ketuker. Iya, ketuk. Ada yang harusnya mikirin long game malah kayak berubah-berubah terus. Benar.
Oke, pertanyaan tambahan masih terkait talent. Eh, do you see any shift eh di sekarang kan makin muda ya. Eh, the people getting into the talent pool younger and younger from different generation. Sekarang ni di Jenzy maybe ya. Eh, do you see anything different dari mereka, right?
Talent wise atau habit atau the way they think eh yang not gu gua selalu ngomong it's not necessarily bad, right? It's just different. Nah, ada enggak yang e you notice, oh ya sekarang kayak gini ya gitu? Notice banget. Ini baru kejadian di aku juga.
Jadi kayak orang banyak bilang yang si Jen itu lebih enggak mau apa ya enggak mau dibilangin maunya sangat nyeruak-menyeruak gitu kanyerak iya kayaknya kayaknya enggak enggak bertahan kerjanya. Nah, malah aku really appreciate them in terms of adaptif-nya, adaptive towards technologi. Jadi, di tim aku ini di Teknologi Squad ini adalah ada tim beberapa bunch of eh anak-anak muda dari tim produk X Star Up yang mereka tuh sangat cepat banget mencoba teknologi terbaru. Jadi, aku biasanya pakai PowerPoint biasa atau Google Doc, dia bilang, "Mbak, coba deh pakai cloud, pakai cloue, pakai ee antropic." Iya. ini bikin deck-nya bisa cakep banget.
Jadi langsung jadi, wow, I really amazed dengan kemampuan mereka belajar secepat itu on AI yang kayak baru kan bukannya baru launching seminggu lalu ya, tapi mereka sudah adap ini output-nya jadi dan jadi bagus banget kayak em kita selama ini butuh waktu lama banget bikin app prototype UIU tapi mereka jadi seminggu ini udah pakai platform ini Mbak udah langsung jadi nih tinggal kita deploy ke engineer gitu itu aku salut banget sama mereka itu topik menarik tuh agentic AI AI itu tuh crazy man eh especially kita yang di bidang komunikasi itu lagi-lagi ya balik lagi tuh tu content creation content production even our customer care we also useentic AI oke karena eh karena root-nya kan berbeda. Jadi nah again bukan dideploy within or team tapi kita pakai partner yang sudah mengapply dos agentic AI karena dia tuh root-nya ada yang beda. Saat orang ada datang, dia mendetect ini orang mau konsult, komplain apa mau beli. Ya, jadi agenti berbeda yang akan bekerja merespon. Kalau dia mau beli, oh berarti oke yang ini yang jawab belinya di di sini-sini.
Kalau dia komplain, agen TKA yang PCIC complain, agen TKA yang eh PCI consultation. Yes. Itu semua udah bisa diutomate. Secepat itu automate langsung responnya automate again. Tapi ada si polisi yang ngetin benar apa enggak nih gitu.
Oke. Eh, again, gua cum nanya pendapat karena gua enggak terlalu e terlalu paham ya kalau misalnya di beauty ya. Tapi di industri lain itu banyak orang yang udah e mengandalkan discovery of brands ya kan eh evaluations pakai AI. Dia nanya gitu ke AI, "Eh, gua punya budget R juta, gua perlu monitor ya kan buat coding misalnya yang mana nih?" Yes. They no longer go to websites or whatever.
Heeh. YouTube tuh langsung dibypass langsung masukin ke situ. At least first step-nya ya kan almost exactly a year ago itu kita udah mulai ngobrolin ini the fact bahwa eh Google is still king ya but the crown is wobbling ya kan karena orang-orang sudah mulai geser ke sini gitu. Do you see the same thing happening di dunia beauty atau kayaknya mungkin agak nanti deh belum saatnya gitu mempercayakan nanya ke AI gitu. Jadi sudah terjadi, sudah terjadi, sudah terjadi.
Jadi ee kita ngelihat juga traffic kayak misalnya kita juga ngelihat kayak orang banyak consult ke chat GPT atau Gini on AI consultation dan sehingga apa solusinya? We create our own GPT juga. Jadi salah satunya kita bikin Wardah GPT. Wardah karena kita tahu kita tahu oh traction orang sudah mulai ke situ. Jadi kita launch wardah GPT orang udah defeeding knowledya specific on beauty category.
Jadi so people can consult that. Implication-nya apa? Saat kita tahu ternyata orang sudah mulai pindah ke AI consultation ini kita make sure kita move dari SEO keo. SEO kan yang search engine, GEO tuh generative engine. Caranya gimana?
ya kita make sure produk e information di website, di sosial media semuanya tuh friendly supaya saat orang consult ke aneka GPT-GPT itu ya muncullah produk-produk kita jadinya become the recommendation. Heeh. So I guess it's already happening ya. Yes. Eh, sama harusnya ya, everybody needs to get on with this program di mana ya lu mesti gimana caranya brand-brand lu appear ya di eh apa namanya all this different e AI engine ya kan itu tuh penting banget unavoidable harus harus sudah shifting ke situ walaupun tapi kayaknya e social commerce juga masih top searching masih jadi orang tuh masih cari di TikTok masih di Instagram itu tuh ya masih mencari berarti hook e tulisan yang kita bikin di konten perlu searable social commce engine itu juga iya exactly jadinya satu you need to identify the prompts ya kan baru dari situ lu mesti ngecek hasilnya benar kalau misalnya lu enggak tahu brand lu muncul apa enggak how are you going to work ya kan betul gua sering kok ngetes itu gitu kan top produk oh belum keluar nih oke optimize nih udah keluar nih gitu e ya kan jadi kalau misalnya Kalau lu penasaran brand lu diomongin kayak gimana dulu lu belum ada, hubungi kita di Whiteboard Digital.
Gua sama Jon nanti bisa ya kan buat SOV itu kita bisa bikinin laporan nanyain nih. Oh brand lu diionnya nomor tig nomor empat. Kita bisa terus caranya gimana nih biar nomor satu? Ada juga itu apalagi ada 16 brand tadi kan. Wi 16 brand itu perlu dirack asung masuk.
Enggak, enggak cuman brandnya loh, Mer. I'm talking about the definition, e gitu. Itu message-nya memang bisa ditaruh di sana and up to SKU level. Karena kan kayak tadi WAR ada 2000 produk itu beda-beda kebutuhannya. Heeh.
Wah, itu benar-benar perlu master, engineer, whatever lah. Itu tu that's the future including including the specific keyword that you want to be associated with. itu gua bilang kayak untuk awal-awal gitu kan kita ngetrack misalnya 50 prom. Man, kalau lu if ser mulai ngracknya 1000 gitu kan 500 and then you need to figure out your ranking across itu kita bisa lakukan masuk ya kan sekali eh gua penasaran deh ngomongin soal agility ya kan harus adapt to the changes situation yangang cepat banget sekarang tapi internally siapa sih lebih susah-susah diconvince is it management is it your brand team is it your team ay rubah nih gua mau gini enggak gini how do mana yang orang-orang yang mana sih yang paling susah dikonvince. Tapi alhamdulillah tidak ada yang susah.
Aku tidak merasa susah sejujurnya. Kenapa? Karena semuanya tuh udah punya prinsip yang sama dan udah tahu cara mainnya kita. Oke. Jadi memang kita perlu secepat itu berubah as long as punya clear reason.
Oke kayaknya that's the key deh. Kenapa sih kita harus berubah lagi? Karena reasonnya AB C D itu yang kalau misalnya kita ngomong ke BOD level ke bawah pun juga is the same language jadinya. So, ya thankfully sih kayaknya aku tidak merasa itu a big challenge. Oke.
Karena semuanya sudah hulu ke hilir, atas ke bawah tuh sudah on the same page. Kita memang berubah itu ya udah udah udah paham gitu cara mainnya. That's interesting kalau itu enggak terjadi di Paragon karena it seems that based on my experience ya that is the biggest problem yang usually kayak you are in the fast space tapi selalu ada blockersnya nih entah udah kita udah rubah rubahubah ada aja sih entah direktur apalah kayak enggak bisa nih kayak gini coba relook nge-promnya beda hasilnya beda makanya jadi jadi ini maksudnya it's amazing that company that size tuh everyone hulu kohilir itu satu pemikiran itu itu hampir Enggak ada sih bah. Iya. Bahkan di BOD meeting tuh tuh juga sering banget ya gitu kayak eh sama kita perlu berubah kayak gimana lagi ya gitu.
Wih luar biasa kayak gitu malah men-challenge. Yuk berubah ini yuk kita coba ini gitu ya udah ayo. Dan bahkan kalau ternyata gagal juga enggak apa-apa. Kayak aku pun pernah cerita dulu aku mencoba propose ke BOD eh pengin adapt NFT zaman dulu. Oh bikin yuk campaign project NFT.
Eh ya udah emang kenapa kok perlu bikin ya? Soalnya udah mulai rising nih A B C D gitu. Ya udah coba bikin. Ternyata flop. Enggak enggak.
Eh, ternyata enggak ngangkat loh gitu. Ternyata memang adoption Indonesia kay belum ready deh untuk itu. Dan gak apa-apa sama BOD-nya pun juga, "Oh, ya udah it's a learning cost, learning, learning cost." Ya udah, nanti dicoba lagi another type of technology ya. Jadi, how do you guys hire people? yang yang gua perhatikan ya obviously kita di agency ini kan we work with a lot of different brands, a lot of different companies, local, internationals itu kan kita pernah kerja gitu dan selalu yang thriving itu selalu itulah salah satu apa namanya eh persyaratannya ya the alignment dari top sampai bawah ya kan everybody is on the same page gitu they're going after pengin mencapai tempat yang sama gitu jadinya mereka bergerak menuju menuju ke tempat tersebut.
Sedangkan ee di perusahaan-perusahaan yang lain gitu yang yang mungkin akhirnya enggak bisa setrive eh bisa drive seperti itu suka melenceng, cuy. Yang satu mau ke sini, satu mau ke sana. Ya elah, boro-boro the whole ini. Ya, lu tim PR sama tim marketing aja misalnya. Lu mau ke mana sih?
Exly. Kita kita yang nonton dari luar kita bingung itu ini ke mana ya konsepnya ya? Exactly. Jadi aku maaf motong, tapi aku jadi punya jawaban buat pertanyaan Jte tadi kerigger tadi. Kenapa sih kok bisa jadi ada alignment?
Nah, aku juga yang paragon unik itu adalah e banyak orang juga mulai tahu proses interview kita panjang. Jadi itu step-stepnya ada psik psikotes psikolog to make sure memang the same value. Itu satu keunikan yang pertama. Jadi orang bilang kok panjang banget sih proses interviewnya. Keunikan kedua adalah owner sampai sekarang masih menginterview semua kandidat.
Wow. Sampai ke MT level sampai ke MT level. Oh. Jadi kalau MT level eh yang core Iya core organization-nya mesti ketemu sampai sama family even though cuma sebentar karena mereka bisa sense do we have a same value kita punya mission yang sama enggak ya gitu. kayaknya itu deh aku menurut itu oh kayak itu jadi kunci yang beda.
Kenapa ya kok bisa tadi kayak kayaknya gak segitu complicatednya deh untuk koordinasi agity ini. Iya that's why. Makanya tadi gua nanya kepala siapa? Shout out to hands on banget hands on banget sampai ke family-nya tadi karena kan still a family company the komitmen untuk tetap turun itu iya itu aku jempol banget. Yes.
By the founder dan ketiga anaknya for every level of hiring, they always make sure they are getting people yang emang punya value yang sama gitu ya. Exactly. Itu kayaknya jadi tight. Yes. Yes.
Iya. He. Jadi cultur-nya aku lupa bahasanya CEO kita tuh memang ada istilahnya mungkin anak biologisnya foundernya cuma tiga tapi anak aku lupa lagi anak teorinya aku lupa istilahnya tapi kayak practical value-nya tuh ada banyak separagonian karena di-ensure on value-nya tadi. Jadi ada istilah itunya gitu banget. Amazing amazing.
I've known her dari zamannya Telco. Itu punya satu pertanyaan ini ya. Ini nih kita budur sedikit. Gimana kalian ketemu pertama di mana ya kan ngapain? di sebuah kantin telcah satu telco di Indolel I think mentioning brand kan di Exalaxi oke nah eh yang gua punya pertanyaan tuh gini menariknya adalah as far as I know dia tuh gede lama di Telco yang which is Very iya oh iya dan lagi tuh waktu gua mulai kenal dia tuh dia pegang lebih banyak di ada agency background sorry ada sedikit ya agency background ya copywriter media yes yes nah ee banyakan di telco itu bermain main dengan teknologi dan dia pegang media.
Media itu yang very number banget gitu. How can you actually shift dari Telco yang redomly technology into likey beauty? Jumpnya tuh gimana gitu. Em bahasa jawaban standarnya adalah memang pas opportunity-nya datang. Oke.
However, kenapa sih pengin banget jam ke situ? Aku cerita personal I'm ano fighter sepanjang hidup. He. Jadi selalu berjerawat tuh dari dari masa kecil sampai kayak sumur hidup lah gitu. Jadi pas learning tentang beauty produk oh ternyata itu bisa heal me ya bisa menyembuhkan physical dan emosional.
Oke. Jadi secara fisik memang jerawatnya membaik karena jadi understand tentang beauty. Emotional juga jadi lebih confident jadinya karena ya udah ya enggak enggak dijerawatan lagi gitu kan. I. Nah, jadi makin pengin join dan pengin semakin berkarya karena ada real example diri aku sendiri loh yang ternyata dengan understanding beauty produk lebih baik bisa heal ourself dan bahkan bisa empower diri kita dan buat orang lain.
So, it's a personal mission jadinya. I aku pengin bawa deh bahkan bukan cuma perempuan lain jadinya toh ada male grooming-nya juga. Semua manusia tuh bisa jadi lebih confident when you have a better healthier skin karena it's really proven diu. Itu yang pertama. Dan kedua pas masuk ke Paragon itu our CEO juga ingatin tentang rasa.
Jadi kalau misalnya di telco itu aku consider adalah it's more itu numbers. Ngomongin telco tuh ngomongin tentang speed connectivity. Lu coverage-nya seberapa pulaunya realable atau enggak sinyalnya gitu. Iya itu kan galak banget ya gitu kayak it's very numbers. I.
Tapi kalau di beauty tuh Pak E Pak kita tuh bikin rasa deh. Bikin rasa saat kamu ngobrol dengan ingat dijaga rasanya saat kamu ngomong dengan partner kita. So it's really struck in me gitu. Jadi enggak cuma ngomongin iya achieve revenue iya tapi bagaimana kita mmaintain rasa dengan paragonian dengan konsumen kita, dengan para partner-partner kita. Iya.
Kayaknya itu juga yang ngebikin kenapa kok para tuan toko partner Paragon tuh loyal gitu dan dekat karena memang ada rasa yang dijaga. Jadi beond bukan arbu aja nih. Bu lagi bukan just revenue number hit atau enggak tapi build the rasa sama si human sekitar kita. Deep ya di dalam banget dalam dalam walaupun masih bawa tag-nya karena lu kan dari tag. Nah, itu dia teknologinya pun juga kayak tadi skin analyzer personal color analysis tadi skin analyzer buat cowok make sure ada rasanya juga di situ.
Makanya kenapa pastiin ya konsultasi sama dokter benar enggak sih gitu ee rumus-rumus yang kamu bikin? He. Pastiin stepnya memang simpel. Enggak bikin orang merasa jadi fed up tapi dia merasa terpuaskan di situ gitu. Menjadi mendapat jawabannya jadi enggak bingung-bingung lagi.
Wow. Di on rasa onch development. Bahkan kan tadi eh Jonathan sempat eh sempat mention sedikit tentang agency background. H how important eh is it for you to have that? Walaupun mungkin enggak terlalu lama, tapi penting enggak sih pengalaman itu dan ada enggak wejangan-wejangan ya kan buat tua banget.
Heeh. buat adik-adik asik yang saat ini lagi di agency tuh yang adik pengin juga dong sama kayak kakaknya ya kan bisa sukses gitu ada enggak sih eh those two things lah pengalaman di agency sama apa nih yang mereka harus lakukan untuk bisa e do what you get to do kayaknya adaptive dan agility tuh aku malah belajar di agenc kenapa karena kliennya berganti-gant it's content speeching jadi bahkan belajar hal yang baru Tadinya akuing terus kemudian belajar jadi apa? Personal I learn agility dan adaptif dan yuk mau kerja iterasi itu malah di agency. Agency banget ya. Iya.
Really agency kan ngelihatin ini progres kerjaan kita begini ya kasih ke klien nanti balik lagi rombak lagi udah biasa revisi kesekian. So it's part of iteration. Kayaknya aku belajar di situ sehingga pesan aku juga bawalah itu ke mana pun everywhere you go. The the willingness untuk adapt dan willingness untuk iterasi terus-terusan. He sama kayak aku sih belajar emang basic tapi berani mencoba hal yang baru juga gitu karena even if stay in one company eh aku akan men-challenge my superior bahkan untungnya company memberikan hal baru apaagi yang bisa aku coba ya hal baru project baru apaagi nih yang bisa jadi mainan baru gitu toh di Paragon within my six year aja tuh ee berganti rol-nya sudah dua dan projectnya berbagai macam banget yang dicobain sebelumnya apa yang pertama sebenarnya that digital transformation terus kan sekarang pindah ke teknologi Oke.
Digital transformation ada focus on contentnya. Tapi dengan teknologi role ini malah focusing deep dive on building the technology capability tadi. Heeh. Jadi bahkan agak pivot jadi lebih tajam dan teknologi yang dibild kan bisa semakin beragam. Dan pas di Excel pun aku berganti-ganti.
Tadinya sempat ngurusin apps, Cansumer Journey, pindah ke media. Oke. Jadi juga pivot-pivot e knowledge-nya kan jadinya. Heeh. Luar biasa.
I eh agility dan adaptif. Iya, penting ada adaptif dihighlight aja perlu harus dan iteration kalau aku iya itu penting sih maksudnya eh and I think that's very cool to know eh the style of work yang lu lakukan di agency itu nanti bisa dicarry over ke tempat-tempat kerja yang berikutnya gitu. Bahkan I think you're very fortunate karena gua juga pernah dengar orang-orang yang lompat dari agency got bored right mereka enggak dapat kebebasannya. Iya. Terlalu fokus banget e rennya dan lama banget stuck di RLE tersebut itu kan pada akhirnya ya buat orang yang sudah biasa di agency lu mumet juga sih kayak enggak betah gitu.
He ini enggak ada yang lain gitu gua lagi ya real example tersinggung gua langsung ngomongin gua ngomongin gua depan gua deh gua depan gua deh did you have a good time really banget ngobrol-ngobrol oke that's good moga-moga one day kita bisa ngobrol-ngobrol lag kan kerja bareng bahkan tadi ya kerja bareng kan langsung bisa hubungi Jonathan Tenggara kita kondisikan sebelum kita pergi. Is there anything for di Paragon? Any products, events, anything yang upcoming yang ini kita mungkin tayang in a week or two ya kan mungkin sebulan ke depan yang bisa di that you would like to highlight promote em not very specific tapi di Paragon itu setiap bulan kita akan punya signature event setiap bulan nanti di Iya ditambahin ya bulan makanya nanti tuh akan ada upcoming dari Wardah dan juga dari Makeover tapi nanti tanggal precise-nya ditambahin aja entar di belakang ya nanti kita masuk tapi itu kita selalu punya signature event kenapa apa because we see the consumer experience online dan offline itu jadi sangat penting untuk jadi pembeda di consumer kita. Oke. Nah, itu biasanya 1 2 apa bisa 3 4 5 setiap bulannya per brand?
Karena e signature event tuh biasanya janjian satu atau dua brand per bulan. Tapi on area level itu banyak banget. Area tuh bisa sampai ratusan event karena kan kecil-kecil tapi banyak jadinya. Oke. Yang signature itu yang satu sama dua lah.
Jangan terlalu bikin jangan bikin pemet banget juga ya. Heeh. yang kerja bingung, Guys. Oke, dan jangan lupa kalau ada pertanyaan boleh telepon siapa tahu urusan ininya kan make up konsultasi boleh loh atau buka skin analyer Wardah. Coba promonya itu visit website Wardah.
Website Wardah ya. Anyway, eh Tes thank you banget. Thanks for coming. Was very good. Eh kita tepuk tangan sekali lagi dong buat T.
Thank you. Terima kasih.