Benarkah dunia PR hospitality seglamor yang terlihat di Instagram? Di Proxemics 032, Stef dari Praxis berbincang dengan Viana Igah — Founder Prefinite dan Askara Group — yang menegaskan bahwa kilau fine dining dan hotel bintang lima hanyalah ujung dari pekerjaan yang dibangun di atas ‘tangis di balik layar’ dan kedisiplinan setara standar bintang lima.
Kisahnya bergerak dari karier perhotelan — sebut saja Hotel Indonesia Kempinski, Raffles Jakarta, St. Regis Bali, Aman Group — hingga titik balik saat ia memilih keluarga dan mendirikan Prefinite. Pelajarannya: PR premium berarti jam kerja tak menentu dan ketelitian operasional tanpa henti.
Inti strateginya adalah Hybrid PR. Di lanskap media yang tersaturasi, kata Viana, relasi organik saja tak lagi cukup; brand harus diedukasi bahwa media dan kreator konten butuh investasi nyata, bukan sekadar barter, agar ekosistemnya tetap sehat. Barter semata, katanya, diam-diam menggerus jurnalis dan kreator yang justru diandalkan brand.
Lalu ia menyebut krisis talenta yang membentuk ulang setiap agensi: Conscious Unbossing — pekerja muda yang sengaja menolak promosi manajerial demi menjaga beban mental dan work-life balance — memaksa pemimpin mendefinisikan ulang budaya dan regenerasi. Ini bukan soal malas, melainkan hitung ulang tegas soal seberapa berharga sebuah karier. Ia menutup dengan ancaman AI serta ekspansi Askara Group ke TFL Paper dan Art Moments Jakarta.
Kalau Anda memimpin agensi atau bercita-cita punya satu, ini potret jujur di balik mitosnya. Tekan play.


YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.
Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.
Orang-orang PR kayaknya. Wow. Glam kita kan kalau posting-posting yang mah itu tangis kerja keras air mata b gitu kan. Nah itu yang klien pikir kita kan udah bayar el kenapa gua harus bayar lagi good gitu kan. Enggak semuanya harus organik gitu di tahun 2026 guys.
Exactly ya. I mean the industry is very saturated juga kan. Ditambah dengan technology AI dan lain-lain tuh makes it very competitive. bahwa ujung-ujungnya nanti kayak piramida terbalik. Akan banyak lebih orang-orang senior dan orang-orang di bawah not needed.
Karena in the day that added value sama aja sama yang lain itu betul. lah itu kan hubungannya next guest gua kenal udah lama dan sekarang itu ee enggak disangka juga we working in the same industry lah. Right? Kalau misalnya if you're into eh lifestyle, luxury, brand, right, yang kayak gitu-gitu, experience, it's a must watch or hear lah. Lu bakal belajar banyak banget.
Anyway, kita welcome dulu tamu kita kan. She has many titles yang nanti kita urail lah gak usah disebutin depan. Stay tune. E welcome to the program Viana Iga. Huh.
Welcome. Thank you. Thank you. Welcome. Thank you.
Aduh. Coba gua mundur dikit. Kalau kebanyakan at least karena gua mulainya dari agency itu jalurnya tuh beda. Lu di agency dulu. Iya.
Baru lu lompat corporate. Ya kan? Kalau lu kan kebalikannya. Gua kebalikan. Heeh.
Lu dari brand dulu baru lompat ee ke agency. Heeh. Lu ee kuliah kan perhotelan. Yes. Kan habis itu lu mulai magang kerja dan lain-lain.
Take me take me to the process deh. Gua penasaran sampai akhirnya lu bisa sampai e at least nyampai Prefinite dulu deh. So gua kan memang dulu ee dihig STP Bandung ya. Karena dulu Ci gua ngelihat tante gue. Tante gue tuh ee dulu tuh tante Dona Kairupan ya.
Dia masih ada sih gitu. Emm, dia juga di hotel zaman dulu ya. Wah, she traveled the world gitu kan. Gua bilang, "Oh, I want to be like her ya kan." Dan I found out di hotel gila lu jadi babu coy. Jadi mau sekolah di hotel coba pikir-pikir lagi dah gitu.
Eh, tunggu dulu. Tapi pada saat itu ini salah satu bidang tuh yang masih prestigious banget dulu. Dulu dulu pas zaman kita kuliah tuh per hotel tuh masih masuk lah. Yes. Hospitality industri beda gitu.
Itu juga that humbled me. Itu humbled me. H gitu. Itu yang it takes me through until today. You have to stay humble wherever whenever you go.
Nah, jadi ya dari situ gua masuk ke hotel, sekolah hotel terus gua dapat intern tuh di hotel. And then ini yang apa namanya? The power of kuasa ucapan. Hm. Terus waktu itu di bunderan HI gua ngelihat tuh Kempinski lagi ada holding naik tuh hotel Indonesia Kempinski akan dibangun.
Oke. Terus gua nyucap gua akan kerja di sini. Terus gua ketemu GMnya. It's not even an interview. Kalau hospitality kan mixer gitu ya gitu kan.
Terus ternyata gua ngobrol with one of the expart there gitu. Ternyata dia not knowing who is he gitu. He gua ngobrol gini gini gini giniini. Oh, bahasa Inggris lu bagus gitu dong. How did you get here?
Gini segala macam. Besoknya gua di dikirim over by Indonesia Campinsky to my work email. Karena gua kasih kartu nama kan. Iya. Anyway.
Heeh. Gua campinski itu 3 tahun. 3 tahun. Terus itu 2007. Oke.
Oke. Opening. Preopening lagi. Dari awal banget tuh ya. Preopening hotel itu if hoteliers knows itu the most difficult and challenging part untuk buka hotel.
Jadi gue dipercayakan preopening team untuk hotel Indonesia Campin ski 3 tahun 2010 tetangga Grand Hat. Grand Hat gua ingatnya. Kenapa gua ingat Grand Hat? Karena pas gua balik dari Amerika lu di Grand Hat lu baru balik tuh. Heeh.
Oke. He gitu di Grand Hat. It was so fun. I mean like I was enjoying my life gitu. Gue eh work and play, work and play all the time lah pokoknya gitu.
Jadi eh terus gue ditelepon lagi karena waktu itu gua sempat ngucap ya maksudnya aduh gua kayaknya pre opening udah dulu deh Cong gitu. Aduh lelah banget preopening gitu. He. Eh, terus Rels Jakarta nelepon gue Rels. Heeh.
Di Kuningan kan. Oke ya. Kita mau ini, ini, ini, ini segala macam. And then my friends convince me like you gonna be the right fit. Lu cobalah gini gini gini gini gini.
Akhirnya gua ke Ravels itu tahun 2014 ya sampai 2016. Oke. Oke. Jadi 4 tahun kemudian. Yes.
Kan 2010, 2014 sampai 2016. Nah, buat di hotel. Eh, what did you see? sampai lu take the le. Itu yang gua penasaran sih untuk gue keluar dari hotel.
I Heeh. What made you apa yang lu lihat sampai lu switch gitu? My son. Hmm. Interesting.
At the end of the day, Ci, gue dulu workkoholik gila. Gue tuh bisa di office hari Sabtu aja enggak usah ngantor lu. Gue dengan sukacita dan rela hati gue benar-benar kerja dan audience hospitality itu kan bukan 9 to 5 10 to gitu ya. Itu eight till knows when gitu. Maksudnya lu standby kadang jam .
gua harus standby welcoming VIPs atau gua ada tamu media atau apa gitu kan. Jadi, only God knows when deh pulangnya kapan. Tapi lu mau kerja sampai jam berapa pun, lu mau party sampai jam berapa pun, jam 8.00 pagi lu harus ada di situ morning briefing gitu kalau di hotel. Crazy. Nah, jadi e tapi a gila gua banget tuh.
Asik gua udah enggak kuat. Ih gila jam. Tapi memang salah satu salah satu yang membedakan hotel tuh very discipline kan. Yes. Kebetulan gua juga intern di hotel beberapa kali.
Oh yes. Right. Harus pakai stocking everyday. E rambut rambut harus rapi. Have to on your heels.
Terus zaman dulu tuh masih bagi-bagi brosure tahu enggak sih? Taruh di club. Yes. Every morning. Every morning.
And you have to anyway. Pokoknya. Yes. It takes a lot of discipline yang mungkin orang enggak pernah masuk ke lingkungan itu tuh tahu. Yes.
Dan kalau lu gak bisa work out with the discipline, el bakal burn out. Karena it's just like a switch. I tadi lu pulang malam, habis whatever New Year's Eve Party. Yes. Pagi-pagi balik lagi.
Yes. Depan kalau di marketing tim tuh kayak depan kantornya Dosem. Yes. Udah morning briefing e ngomongin soal kopi jam pagi kan. Yes.
It takes a lot of discipline. And I enjoyed that 10 plus years. Tapi puji Tuhan waktu gue divelsu tahun 2015 gue dipercayakan seorang anak. Hm. Gitu.
And it changed me like klik gitu. Sumpah gitunya ya dari gue yang luarkoholik gila gitu. He terus gue tiba-tiba klik aja kayak gua ngomong ke GM gue, I want to have more time with my son. Gua sebetulnya dikasih berapa bulan kayak ya udah lu mau kerja di rumah kek, lu mau datang jam berapa kek, terserah-tererah gitu. Cuma with a work like me, pikiran gue di rumah, badan gue di kantor.
Ya, badan gue di rumah, pikiran gua di kantor kantor gitu loh. Jadi gua bilang, "Aduh, sorry, it doesn't work ya gitu." Jadi I just had to get out. Jadi, gua sempatlah ada momen tuh yang memang gua udah pasrah, ah gua mau sekali-kaliah jadi ibu rumah tangga ya kan gitu maksudnya. Eh, gue juga I don't want to miss a thing. Eh, I have been praying for my son for so long gitu.
Masa gue tiba-tiba dikasih anak terus gue gitu aja gitu kan. And then I started divels lagi di tahun 2017 itu akhir tahun 2016 mereka udah contact gue. Ya udah deh lu balik tapi as a consultant. Hmm. Masuknya di situ tuh angle-nya.
Yes. Yo, that's pretty neat maksudnya. Eh, ada Stare. Nah, gue juga dulu kan lu bingung kan lu kok tiba-tiba agency, Vi gitu kan. Nah, kan gua bingung.
Jadi dulu gue waktu gua preoping hotel dan gua preoping hotel Kempinski sama eh Ravels gue itu kerja sama dengan PR agency. Hm. Nah, cuma memang gini waktu itu gua menemukan celah gini, "Ci, belum ada PR agency that understands hospitality." persis karena different angle man. I mean by now you have hospitality clients juga kan gitu tapi waktu itu enggak ada zaman gue gitu kayaknya kalaupun ada itu tuh dari ee luar Indonesia. Oke.
Which at the end of the day yang kenal sama media Indonesia kan agensi-agensi Jakarta. Betul gitu. Jadi di situ gua comecn gitu. Enak banget tuh. Terus e oke gua bilang oke sure as a consultant I can do it you know meeting seminggu e sekali seminggu gitu kan I can do it gitu kan gua kerja di rumah whatever gitu that year I got a second call oke from Aman Aman group we need a representative baru rap doang tuh ya yes heh itu know jadi eh to with partners jadi kalau ada gitu Heeh He eh luxury brand itu kan they don't need billboards, they don't need whatever do it that's not how you know mereka lebih pengin ada orang aja nih kalau ada yang nyari aman ada Viana gitu intinya.
Oke. Come third brand waktu itu St. Trigges Bali. Oke. Contact.
He we heard you're a freelance you can help us. Oh jadi the rumor circulating tuh you a capable freelancer. ya hotelier itu tuh. Oke. Oke.
Inter. And then the balls rolling sampai ini aja gue juga kayak eh how akhirnya gue pakai PT. Ada PT itu. He berpt, berpt. Karena ternyata at the end of the day setelah gue kerja dengan RELS tiba-tiba mereka bilang, "Eh, by the way sekarang kita harus bayarnya PT enggak bisa percokan lagi." Ya udah, the balls rolling from terus dari yang makanya gue bilang gue started literally dari gue karena yang waktu gue jadi consultant ravels itu gue di depan TV, di ruangan TV anak gue masih di krip sampai ya berdua tiba-tiba aduh kayaknya tiga klien lumayan gue kayaknya butuh bantuan nih gitu.
satu dua akhirnya team members nambah terus klien terus eh kita juga tiba-tiba dari Bali ada inquiries-inquiries sampai akhirnya I think we need run office in Bali ya gua penasaran sih kan tadi E udah mention ya switchnya tuh beda tuh biasanya kan orang dari agencies ke corporat kalau lu kan sebaliknya kan H what kind of challenge apa sih yang lu tuh enggak expect gitu pas lu switch that position aduh step duh itu challenge banget. Gua enggak ngerti, Men. Waktu gua mulai waktu gua mulai previn itu kayak gua benar-benar taking baby steps banget gitu loh. I just applied what I know, what I understand. Eh, satu-satu gitu gitu ya.
Maksudnya eh client services, client management dan gue pernah ada di posisi klien. I jadi gua understand what I expect. Yes. Exactly. Lu in sense lu udah tahu apa yang lu mau.
Jadinya anything lower than sekarang. Gua tuh selalu bilang gua tuh dulu klien gua tahu apa yang mereka butuh ya. He gitu ya. Memang sekarang secara scope of work udah tertulis lah dalam kontrak dalam agreement ya kan ya. I tapi you as a support system you have to give me give them more than what go the extra mila.
Asli baby st kayak kemarin nih contoh ya tiba-tiba kita dari hotel hospitality terus kita dipercayakan oleh beauty brand h luxury pula waduh h gue bilang bisa enggak nih gue bilang bisa gitu kita ikutin aja klien arahinnya ke man ya puji tuhan ya lancar jalan tapi kalau lu tanya gua enggak punya template-nya ilmunya gua enggak punya ilmu gua hotel gua enggak ngerti agenc mungkin kayak youve work in agency for gitu ya. Terus ada yang pernah apalagi besar where you work before kan gitu kan. Wah siapa yang enggak tahu gitu ya. Itu udah lu buka file udah ada deh tuh gitu. Lu mau cari apa pasti ada tuh di driven kan database-nya udah ada.
Database-nya udah ada kalau mau ngambil ya which we did not obviously. Disclaimer ya. Disclaimer enggak ya sorry ya. Ya tapi you have that experience gitu. Iya.
Dan dan kalau mau bisa tuh lu lu you know the playbook lah. I kan kalau enggak secara fisik pun udah ada di sini. Iya udah ada di sini kok. Gua juga tinggal. Heeh.
Nah exactly. Kayak misalnya gini eh I started ee mungkin modal awal gue adalah kalau lo gitu ya sehubungan sama pertanyaan lo tadi Stef. Modal awal gue adalah relationship gue dengan media dan network ya. Network gitu. He itu modal awal gue.
Very relationship driven ya. Very very kayak misalnya media ini mungkin salah satu ya gue juga eh cerita gitu ya waktu eh gue preopening hotel gitu tiba-tiba gue dikasih tahu eh by the way lu you don't have any budget. Oh my god. Tapi in in hotel it happened. No.
Aduh gua kayak terima kasih nih gitu kan gitu dari hotel gue yang sebelumnya kayak per tahun you get this gitu kan. ada ini, ini, ini, ini. Nih nih nih. Oke. So, gua mulai muter otak tuh dari situ kan.
Gimana nih caranya nih gitu. Terus ee itu modal gue, networking, media relations ya, network dan relationship. Asli. Jadi memang and then you never know kayak sekarang. Makanya gue juga bilang ke tim, H teman lo sekarang nih jurnalis, nanti zaman berapa tahun mereka akan jadi editor inief.
Asli. Iya, asli. Lu, lu you never know. Jadi lu jangan lu anggap jurnalis. Anyway, it built my I'm not here.
I'm I can't be here without the support or without my experience in hotels. Ya, karena that's the biggest support that I get gitu untuk gua benar-benar bisa maintain relationship, build relationship with my media friends, with my networks itu because of my previous jobs ya gitu. Itu ABS. Jadi ya ya itu sih Stef I hope that answer your question. Yes.
Yes. E berarti sebenarnya preven itu positioning-nya is a hospitality PR right? Our a luxurious lifestyle PR. Sebetulnya posisi positioning kita itu adalah hospitality and lifestyle PR company. Oke.
Nah, kenapa sebetulnya kita enggak bilang luxury, tapi kita bilangnya memang premium. Kenapa? Karena kita tuh dipercayakan oleh dari awal tuh brand-brand premium. Premium. I gitu.
Dan pengalaman gua pun di brand brand premium. Heeh. Jadi mungkin e kalau sekarang tim gua udah banyak ya gitu ya. Tapi dulu gua sempat kayak misalnya FMCG gitu ada opportunity. I didn't take it.
Gua enggak ngerti jualannya. H as simple as that. Oke. Oke. Ya kan approach-nya beda, Ci.
Iya kan? Maksudnya gue juga enggak mau. Dan waktu itu kan gua juga bukan di posisi yang gua ada target. Jadi I had the luxury to decline clients that I can't work with. He that's professional lah.
Maksud profally gitu karena gua gak mau. Oh bisa bisa bisa bisa kan yang penting dapat duit bisa bisa bisa tadi reputation kita nanti malah jadi reputation matter gitu. Oke. Apa misconception, misperception terbesar buat orang-orang ee yang baru tentang dunia PR eh especially di hospitality ya sama lifestyle. Gua ngomongin yang umum dulu kali ya.
Ya orang ngelihat tuh kayak luxury, premium gitu kan. Wah, all glims and glits gitu kan, e lights gitu kayaknya kan. Wah, makan enak ya kan. H. Terus apalagi anak-anak gue nih sekarang menikmati travel dari hotel bintang lima ke hotel bentang 5 ya kan ada nih anak gue nih sekarang kan baru turun dari Jogja berangkat besoknya ke Bali nginp di hotel ini gitu kan.
Iya. kita kan babu-babu juga ya maksudnya kan itu eh umum I'm not complaining. I went through. Gua juga bilang sama dia, "Hey, I appreciate you. I know how tired you are." Gua tuh selalu bilang ke anak gue, "Gua tahu lu capek banget, Bo." gitu.
Gue tahu gua I appreciate you, gitu. H. Cuma ya memang orang kan ngelihatnya wih mewah kali lah hidup Anda nih. Yang kelihatan beda ya yang kelihatan. Jadi yang kelihatan dari ee mata sama yang kelihatan di Instagram beda ya?
Beda. Kita kan kalau posting-posting kan pasti yang bagus. Wih penceterraan ya. Jumrah. Ben jumrah mewah.
Mewah benar ya. Mewah gitu. Cuma itu ee tangis kerja keras dan air mata Bu gitu kan. I ya. Itu itu persepsi umum lah.
Iya itu tuh kurang akurat tuh ya. Oh. Tapi ya gitu kayak kayak ya mungkin kan bagi orang kayak wih makanya mungkin gue juga selalu bilang kalau misalnya kita ada interview apalagi ya gua sekarang mungkin udah enggak terlalu ke yang eh account eksekutif atau apa, tapi gua selalu nanya why do you wanna work here kalau misalnya gue itu gue karena gue mau manage their expectation nih gitu bahwa lu ees you're staying at a five star hotel enjoying apalagi nih klien kita juga banyak restoran enak terus enak mulu ya b apalagi media gue kalau dari clients I I hope they understand bahwa kita investing our relationship itu kan untuk agency it's a must gitu y cuma I hope clients also understands that the media is now also suffering l I betul so we also need to help Ya, ya. Itu itu itu probably something yang very important dan untung kebahas lah. Iya.
Karena kan gini ya, kita punya relationship-nya gitu kayak eh ya misalnya ya ee ya coba aku nyebut brand misalnya puji Tuhan ya Mbak Riungan Harpress Bazar misalnya who would take my call gitu atau would support us. Kalau misalnya Mbak event ini itu ada cuma kan kita juga harus give back gitu kan. Nah jadi itu client understands that now they also need to have a little investment of course gitu for the media. Heeh gitu to be able to support them juga gitu loh. It's an ecosystem.
It's an ecosystem. Kalau salah satunya hilang enggak jalan ini barang. So, kalau ada lebih ya mesti diinvest di yang kurang the rolling. To keep the ball rolling. Gua juga apa ya namanya?
Eh, sekarang makanya kalau kita I don't know mungkin praksis is also doing the same thing tapi kita we call it hybrid PR. Jadi ada paid and non paid kan gitu loh. Jadi kita selalu bilang gitu ini e enggak semuanya harus organik gitu di tahun 2026 guys. Exactly. Nah itu yang klien pikir kita kan udah bayar el praksis kenapa gua harus bayar lagi gitu kan.
Itu yang we educating our clients gitu itu juga goes to our influencers friend gitu bahwa we appreciate their work. mereka it's not easy to be them juga gitu ya. Apalagi kayak kita biasanya kita adalah travel and lifestyle influencers. Kelihatannya indah tapi gue ingat teman ada ya e Harumi. Hei hei Harumi gitu kan ya.
Harum shout out. Heeh. Eh malam-malam Mbak aku keluar malam-malam demi cahaya nih hotelnya biar cakep. Jam 11.00 malam aku keluar bawa-bawa fotografer karena fotoya bagusnya jam 11.00 malam itu ya gitu. demi banget gitu kan the effort that they put gitu gua appreciate dan mereka juga they they they invest loh to maintain their followers to engage with their followers gitu itu that I hope brands recognize ya recogniz understands gitu loh bahwa ya kalau misalnya memang bukannya apa nih gitu tapi ya memang kita harus ada investment a bit of investment lah so you seen the landscape change ya.
Dulu kan purely media gitu. Now that we move to influencers to KOL, eh how do you how do you see the shift? Gua tuh dulu pernah ikut seminar atau conference something. Terus udah gitu ada satu statement yang dari gue muda pun membuka mata gue. PR itu dinamis.
Oke. Asli. Jadi lu harus expect any of these changes. He. Dulu mungkin kayak eh social media was not our priority.
Ben with our social media is the priority. Yes. The only thing they care kadang-kadang ya. Their priority better than the media, the the conventional media gitu kan. Jadi ya memang kayak dulu dulu juga ada kalanya di Prefinite kayak saklek gitu kayak eh sorry we don't do social media gitu ya.
Memang karena menurut gue itu bukan forte ya. It's not our forte. Gue juga enggak mau disappoint you guys gitu kan maksudnya. Tapi jalannya ke sini ya memang pian tuh dinamis ya. Kita enggak tahu nih Stef 5 tahun 10 tahun kemudian ada break through apa lagi yang harus kita Iya kejar kan.
Misalnya si Ai ini kan AI inilah dari sosial media AI AI we don't know what's next gitu kan dan AI pun masih belum jelas exactly-nya gimana kan eh at least different industries belum semuanya impacted the same way lah I ya ya makanya memang it's good it's good to be in a community or it's good to talk to someone yang ini tuh to understand better gitu kan to anticipate sharing ngobrol gitu kan nah tapi ya memang ee ee sekarang ya memang perubahan-perubahan itu memang sudah diantisipati sudah diantisipasi setelah eh Mercy ngobrol dulu waktu dia started the podcast gitu. Eh VOT tahu enggak sih podcast itu sebetulnya adalah salah satu communication channel yang paling gede loh. Terus gua Indonesia ya cari ih bener dia men gitu. I mean we didn't know five years ago even when you started your business you didn't know gitu kan. He.
Jadi ya memang kita harus antisipatif dan memang sekarang kayak eh gue ingat banget gitu ya eh hello my influencers friends gitu yang helping me karena gue juga bantu turun untuk approach mereka satu-satu ya gitu make relationship with them gitu and understanding ternyata kerjaannya yang susah loh man ya susah kalau lu enggak tahu lagi-lagi ya orang-orang di luar sana teman-teman sekalian yang belum pernah misalnya hidup di Dunia ini when you see influencers itu kan all the glammors lah. I jadi output-nya tapi the proses kannya enggak kelihatan. Susah cuy. Dan dan gua itu juga gua tahu-tahu enggak tahu honestly waktu itu gua trip ke India itu cuy pas gua ke New Delhi itu sama Xiaomi ngantterin Xiaomi itu tuh gua aja sebagai yang kuat unquat kerja capek banget cuy. Ini lu habis event udah udah travel ya kan lu transit nyampai sana nyampai udah malam besok paginya acara itu siang sore mereka mau diajakin eh mau free and easy enggak enggak ada waktu cuy mereka ngedit sampai subuh hari sibuk konten ngedit foto konten gitu dan itu kayak benar-benar ya lagi-lagi ya buat yang enggak tahu-tah it's a lot of word it is it is bagi gue tuh di dunia ini kayaknya enggak Enggak ada kerjaan yang gampang kok.
Asli sebetulnya ya gitu. If you wanna to do it right gitu mungkin kelihatannya gampang. Kelihatannya gampang. But you don't know man. Di balik layarnya itu hal-hal yang lu lakukan, wah udahlah I don't even know where to begin ya kan yang lu enggak kelihatan.
Jadinya lu boleh nonton film-film ya kan seri-seri in the City ya kan. Orang-orang PR kayaknya. Wow. Glamor kan one phone call away ya kan. I lu enggak over glorifying aja kan maksudnya it's a series kalau kalau filmnya tentang kita nyampahnya kerjanya enggak ada yang mau nonton kali ya ngangkat-ngangkat kursi sampai pagi tapi sekarang kan gini ya kayak gua mau turun nih anak-anak gue yang udah udah udah Bu udah Bu udah Bu aduh padahal gua tuh masih padahal pengin ya pengin a ada kerinduan ya ada asik gua gua hot ee servicing people man gitu bagi gue ya I didn't feel I don't feel I'm too low to do such stuff y gitu bagi gu kalau gue bisa bantu ya udah gue paling nanya lu mau gua bantuin enggak gitu kalau lu mau gua bantuin gua bantuin nih gitu kayak kemarin nih kita ada event di Bali kan heeh ee gua mau ikut deh enggak usah capek naik turun tangga kat gitu ini media panas-panas lagi di Bali gitu aduh gua bilang ya akhirnya gua telepon sama partner gue yang di Bali gitu What do you think should I come or not?
Gitu. If you come because you need to do stuff by all means gitu loh. Tapi if you come because of this events, no need. Karena ya memang mungkin di posisi gue udah bukan di situ lagi gitu kan ya. Tapi ya itu again gue tuh memberikan ke space ya delegasi.
Gue juga enggak mau they got intimidated atau gimana sih lu? Lu udah percaya gua jadi account manager, lu udah percaya gua jadi director of account. gimana sih gitu kan. So I give them that space. Eh I think that's a pretty good insight ya.
Kadang-kadang including myself it's kind of hard eh untuk give trust right eh untuk menumbuhkan eh the talent that you have around you gitu ya. Just just because itulah perfectionist kayak gua gua penginnya eh very specific. Tapi memang kadang-kadang ada baiknya tuh eh menjauhkan diri dari situation. for me. Kalau gua pantengin terus enggak bisa cuy enggak ada habisnya.
Ya kan? If I'm sitting there, gua ngelihatin orang kerja tuh I can criticize anything. Iya. Enggak, tapi I learn that in a hard way juga gitu yang gua pernah cerita sama lu. Kan gua pernah di agency terus gua kecorporate kan.
Selama gua di corporate itu gua gonta-ganti agency sampai over 5 en kali karena I'm looking for a specific things that I want them to do. He. Terus setelah kelima gua mulai introversi diri. Kayaknya masalahnya kayaknya masalahnya di gua deh. I kan kayaknya gua enggak bisa deh kayak gini satu.
Tapi at the end of the day itu pertanyaan gua cuma is the client happy? Was the event success? Is the campaign success? Cuma itu aja pertanyaan gue tiga. Eh, ada orang yang bisa melakukan you know, they can keep the engine running gitu ya.
At a very high level continuously for decades misalnya. Hey, more power to you, man. Heeh. Tapi ya at least buat gua, buat Viana, Stef mungkin it's not always easy itu doang gitu, right? After a while of course ada ada bosennya, ada kejenuhan gitu-gitu.
Tapi kuncinya justru e bisa enggak lu nemuin sesuatu ya kan learning something new yang bisa bring value juga gitu to what you do. That's it. Mungkin ini gue juga ini ya em tadi menjawab pertanyaan lo yang pertama gitu kayak previn itu sekarang kita bukan hanya fokus ke domestic media, kita sekarang expanding to regional media. Jadi kita ada South East Asia, Singapore, Hong Kong, Malaysia and Thailand. Oke.
Kita juga expanding ke sana sama eh Australia. H. Jadi di situ gua masih ikut karena gua masih bimbing tim gue nih, yuk yuk let's go together gitu kan. Cuma kayak tahun depan gua juga udah bilang, "Ah, tahun depan lu sendiri aja ya, Bok." gitu ya. Maksudnya kalau tahun kemarin sama tahun ini gua masih ikut gitu.
Jadi itu ada ada something new gitu kan. Eh, tadi sori kemarin kita sempat ngobrol-ngobrol itu about taking advantage of the now itu right. Iya sih, ada yang aduh gua enggak ada ambisi gini gini gini, aduh gua slow living aja gitu-gitu right which is which is fine sih. Tapi it's only fine kalau lu mengerti ini. Heeh.
Jangan sampai lu berpikir bahwa dengan lu santai-santai lu nyampai juga ketemu juga di ujung. It's not going to happen. Enggak different part. Iya ya kan? Lu itu tuh halusinasi.
Itu yang harus dibenerin. Selama lu bisa menerima itu, that's fine. Ya, lah. Ada yang kayak gue tuh ngedengar kayak gini, gue sampai enggak habis pikir ya. Gue juga kayak kaget gitu di eh well my cousin.
Jadi dia enggak terlalu jauh umurnya dari gue gitu. Gue yoer younger. Youngerer. Gua resign gitu. Kenapa?
Soalnya gua mau dipromosi. Hah? Hmm. He. Hah?
Enggak kan soalnya kalau jadi manajer, Kak nanti kerjaannya tambah banyak. Asli itu yang disebut anak-anak zaman sekarang tuh katanya conscious unbosing. Jadi secara sadar dia enggak mau jadi bos gitu. More responsibilities ya kan. Less meime work life balance-nya terganggu.
Balance uangnya cuman gitu-gitu aja. Celot. Gimana gue coba ulang lagi ke gue? Gua bilang gitu. Maksud gua, gue dulu work hard man from promotion to promotion gitu kayak, "Oh, gue dari dulu e PR eksekutif, my next is PR assistant manager.
Gua dalam setahun atau dalam 2 tahun gua harus kejar itu ya kan. Jadi begitu I'm there kayak, "Oh, yeay gitu kan." Malah mau resign ini malah e aku resign, Kak, gitu. Karena aku mau dipromote jadi manajer gitu ya. Kerjaannya kan tambah banyak. Hah?
Oh, diin tapi gua mau nanya deh. Eh, gua boleh nanya kan? Lu kalau kayak generasi gue gitu kan, gue tuh gila-gila training tah enggak lo? Jadi gua tuh gila-gila mau dapat ilmu gitu. He ya.
Tapi kok anak sekali? Asli kalau kayak we cannot tell the story. Tapi nanti mungkin ya. Tapi off cam. Oh i ya iya.
Tapi maksud gue ee gue aja nih ci ya. Gue ini semoga bisa menjadi inspirasi banyak orang gitu ya. di usia gue yang hari Sabtu besok 48 tahun gua tuh mau sekolah lagi. Asli gitu. Karena gua tuh masih menurut gue ilmu kayak PR itu dinamis, ilmu juga nambah terus.
Kayak tadi kan Steve juga bilang kan gimana nih sekarang influencer-influencer sosial media gitu. We need to appreciate them loh. Gila kerjaan mereka itu enggak gampang. Makanya kalau misalnya malah klien gue yang nafsu we misalnya ini tawarlah segini. Gua bilang, "Lu tahu enggak susah banget tuh kerjaannya mereka ngumpulin itu follower terus creating itu apa segala macam ya kanationnya personality." Jadi gua kadang-kadang juga aduh ken-kelen kita nih gitu.
Tapi ya anyway he ya otodidak tadi yang tadi kan ya kayak gue vi lu dari hotel tiba-tiba jadi itu mata hati menurut gue kayak ya udah gue jalanin aja setapak demi setapak gitu tapi I want to know more karena at the end of the day I see eh Askara group ini not only eh visi gue itu ascara group itu akan berkembang dan jadi generation over generation gitu loh itu visi gua udah sampai situ gitu. Jadi gua bukan bukan hanya sekedar ya udah kita mikirin tahun ini dah gitu atau kita mikirin tahun depan atau 5 tahun gua mau jalan terus nih gitu mungkin maybe I will share my ownership atau apa, tapi bisa jalan terus nih karena lu tahu asara tuh e artinya tuh the light that leads life. Ih oh luar biasa. Gila gila gak gila gila gila gila gila banget. Ah, tapi gitulah ilmulah menurut gue gitu.
Jadi lu kalau dapat kesempatan untuk belajar, belajarlah. Tapi iya ini lagi-lagi oke. Apakah karena konten ini konsumsi kan selalu kita nebak-nebakannya gitu ya. Kayaknya one of these days we probably need to have like a focus group or something. Ei to to get down apa namanya?
beneran mengerti kenapa maksudnya kenapa lu enggak mau ee sukses gitu atau mungkin specific type of sukses yang mereka mau bukan yang ini nilim gitu kayak gini lim y tapi mereka tetap mau kaya tetap mau kaya gitu tetap gitu susahnya enggak mau gua nanya ee terus lu mau ngapain maksud gua gini oke lu enggak mau kerja jadi manajer terus gimana cara lu jadi kaya nih karena lu kan tetap fokus mau saya ya kan apa kisi-kisinya in their imagination or in gini kak eh mereka katanya ada bisnis ini ini ini gitu oke gua bilang oh ok good luck ya gua bilang gitu kalau misalnya bukan berarti lu enggak bisa sukses bisnis ya of course tapi tetap aja later you you learn bahwa di dalam bisnis lu kerja keras man i kan nah terus kan gue juga running this the bisnis based on my experience when I was Yes. Itu gue dapat dari situ loh gitu loh. Maksudnya itu gua bawa sampai detik ini loh gitu ya. It's a lot of the things that we always preach gitu kan ke anak-anak itu bahwa whatever you learn itu akan lu bawa buat lu ke mana pun lu pergi regardless lu ada di mana you will carry with you forever gitu kan. Iya kayak kalau lu enggak ambil ini sekarang itu kayak you're cheering to your future self man.
how how disappointed that person will be your future self kalau tahu apa yang ada di depan lu. Heeh. You let it slide gitu. That's that's horrible. Eh bukan berarti kita enggak kerja keras ya.
Yo, when we say work like we really work, man. We really work. Heeh. Lu, lu jangan dengar kata work itu as just a verb. Ini kayak lifestyle.
is a different generation lah maksudnya the definition of work among millenial yang awal-awal sama among now Genzy I think very different yeah nah itu juga menarik now that you're in your position right in a position where you have to manage a lot of people dari culture yang berbeda-beda, dari umur age groups yang berbeda-beda. What's the biggest challenge menurut lu? Gua tuh lagi tertarik dengan satu itu adalah corporate culture. Sampai at the point gue tuh benar-benar manggil speaker to talk about corporate culture in my leaders. Cuma ya memang corporate culture matters untuk tadi menghadapi challenge atau em perbedaan dan perubahan apalagi dalam sebuah corporate dalam sebuah company.
Corporate culture itu pondasi men ya. Ya, karena gua ngelihat, gua ngelihat beberapa bisnis yang gue lihat ya memang kalau lu untuk kepentingan pribadi atau membuat lu kaya sendiri doang mah you won't go that far. Jadi gini, kita makanya kalau ditanya gua sibuknya ini nyambung juga nih. Gua sekarang sibuknya tuh adalah misalnya company outing. Wah, gua peduli banget sama company outing gue.
H karena gua mau semua ee kolega gue itu ee outing, nyaman, menyenangkan, mereka happy gitu. itu bagi gua matters now. Eh, so it's business is not just about profit man. Itu yang gua belajar gitu. Ini not about money anymore.
They're finding happiness ya kanul. They're finding mental health. So, challenge-nya untuk menghadapi challenge itu kita build a strong corporate culture. What kind of culture? Positive environment.
He. Terus eh apa namanya? Eh, teamwork. Iya. Iya kan?
Terus ee memang apa namanya openness ya eh apa eh crystal clear gitu jadi enggak ada yang ditutup-tutupin gitu ya. Terus komunikasi so that kind of corporate culture that I think would answer some of corporate's issue or challenges in the human resource. Menurut lo, let's say the next three, f years, tantangan terbesar industri kita ini, you know, eh apa yang harus orang-orang lakukan baik kalau mereka kebetulan lagi di brand atau mereka lagi di agency, you know, or anywhere in between. Kalau gue tuh ada dua hal yang sekarang tuh I'm not talking about economy. Gua ngomongin mengenai industri pertama yang tadinya kita benar nich gitu adalah hospitality.
eh PR and lifestyle. H pasti sekarang competition makin besar ya. H ya itu kan challenge. Jawabannya adalah kita harus tetap differentiate and quality. Oke.
Kualitas delivery kita harus tetap paripurna. harus tetap gitu loh. I itu quality karena ya itu yang tadi gua bilang gua mau benar-benar e our agency itu eh because of its quality, not because of its popularity lah istilahnya gitu. Terus yang kedua menurut gue tantangannya adalah human resource. Oke.
Karena emm well I have to say perbedaan generasi ya eh etika dan budaya. Hm. So, human resources not as easy. Mungkin dulu kita terus terang ya, maaf nih ibu-ibu, bapak-bapak HR mungkin dulu gua nganggap kayak ah HRD apa sih HRD ya kan kayak enggak penting gitu ya nge-print gaji, klip gaji ya kan absen gitu. sekarang enggak, Men.
Karena gue juga udah mulai berkecimbung gua kan kita harus gimana caranya your colleagues or my colleagues and employees are keeping them happy ya. Em tetap apa tuh namanya? Tetap eh excited to be in that company. Itu sesuatu yang sekarang harus lu pikirin loh gitu. It's not just ok like aku tadi gua bilang ya udah kalau lu mau pergi silakan ada tempat yang baru.
Tapi kan at the end of the day apa namanya? eh employee retain rate itu is one thing loh gitu. How you train them ya, how you keep them itu adalah salah satu KPI loh ya. Ya, gua juga mau nanya kalau praksis gimana? eh challenge.
Yes. Eh nanti mungkin STF bisa nambahin, tapi sebenarnya kind of the same, right? Eh human resources itu sebenarnya eh kayaknya kalau kita dipraksis nih eh apa namanya? impact dari AI eh hubungan dengan AI baik internally, eksternally itu kayaknya lebih besar deh. Dan kita enggak tahu, beneran enggak tahu eh next-nya tuh apa ya.
because it gets smarter and smarter, right? Nah, kita ngomongin human resources. Heeh. Ini AI sudah mulai bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya dilakukan dua tiga orang, man. Betul.
We working on new stuff and everything. The way we eh monitor eh AI, right, buat brands and stuff like that. Eh, mikirin e banyak hal gitu. Tapi ya itu yang lu bilang tadi. Heeh.
satu yang pasti eh yang udah fix itu bahwa it's going to change. He right. Remember I talked about this like three f years ago, right? Bahwa ujung-ujungnya nanti kayak piramida terbalik, you know. Akan banyak lebih orang-orang senior dan orang-orang di bawah not needed.
That was before AI, man. I was talking about that. Karena kayaknya trennya seperti itu. Di mana orang-orang senior ada di atas. Heeh.
Terus di bawahnya ini ya cuma satu dua orang buat runner and everything. He. Right. Itu tuh jadinya eh again I think I don't know if it's gonna be the reality tapi eh it could be menurut gua. Jadinya buat anak-anak yang sekarang masih younger tuh your your competition is going to get a lot tougher man.
Sorb everything, hassle and do better than everyone else man. Ya. I mean the industry is very saturated juga kan. ditambah dengan technology AI dan lain-lain tuh it makes it very makes it very competitive ya kan. Terus I think as a agencies how do we make sure there's an added value for our clients ya enggak sih?
Jadi mungkin challenge-nya adalah itu karena marketnya saturated if we only fight istilahnya cuma perang harga ya it's not going to be sustainable ya enggak? Jadi yang baru yang beda yang dia mungkin gak bisa dapat tempat lain. I think that's the thing that we always challenge all of our consultant karena in the end of the day if you don't have that added value lu sama aja sama yang lain. Itu betul. Nah itu kan hubungannya sama competition.
At the end of the day you are kita kan selalu peaching. Iya apa edited value-nya? Apa? What can you bring yang enggak ada di tempat lain ya? I.
Iya. Iya. Eh, jadinya itu eh lagi-lagi ya terkait eh development gitu. Jadi kita di praksis itu eh we challenge ada certain level. Nah, di atas itu tuh they need to come up with something new.
Oke. Right. Something new itu dalam konteks beyond PR. Oh. Oh, interesting tuh.
Lu, lu jangan lu udah ngerti. Iya, lu udah ngerti. What else? What else? Is it this?
Is it that? Is it AI? Is it SEO? GEO. It doesn't matter, man.
But something, right? Lu, lu mesti lu lihat meja ini kekosongannya di mana, fill in, right? Dibayarin kantor, you know. Jadinya again, eh I'm sure di luar sana juga ada program-program serupa. But take advantage, man, you know, go crazy.
G selama ee ada ada sambil kerja, sambil belajar, get to know people. Kayak tadi lu bilang, networking is very important, right? Orang-orang yang lu kenalan sekarang inilah tangan-tangan yang akan membantu lu. 10 tahun lagi lu sekarang 25, entar lu pas 35, 45, 55, dan 95. Asik, amin 95.
Eh ee kemarin kita sempat ngobrol sedikit tapi lu lagi sibuk ngapain nih? dari dulu di hotel ya kan terus Prefinite right? Nah terakhir tuh gua tahu Prefinite right? Tiba-tiba sekarang udah ada yang lain-lain. Tell me lu lagi sibuk ngapain aja nih recently?
Ye. Well, em first of all thank you so much for having me. It's a great pleasure to chat with you guys gitu. Untuk kecapnya itu sebetulnya most valuable for me. Yap.
Em kalau sibuk pasti sibuklah ya kita menyibukkan diri setiap hari ya kan. Jadi eh like I mention kayak I think few years ago we had lunch together. Kita juga update eh you with practice I have prevented communications. Itu yang memang fokusnya adalah hospitality and lifestyle PR agency. Correct.
But actually since 2019 kita itu under ask we acquired foodist media. Jadi food media and Prefinite is under one umbrella. Oke. Askara group. Oke.
Nah, kemudian tahun 2023 eh we launched TFL paper. Oke. On website. Jadi it's a travel and lifestyle media. Oke, tflpaper.id.
Oke. Pertama, pertama, ih gue heboh banget kan. Padahal gua bukan orang majalah bawa gitu, tapi gue ih gimana coba gua mau lihat layout layoutnya gimana? Gimana coba gua mau proof read proof read gitu. Jadi itu kan jadi gives me e seas of life gitu loh.
Jadi excitement lagi gitu. Mana mana mana gua lihat gitu. Oh ternyata terus gua pelajari oh ternyata kalau ini warnanya turun ya. Kalau kertasnya ini begini gitu kan. Jadi gue belajar sesuatu yang baru juga gitu kan.
tu. So, ee udah tiga tuh anaknya tahun lalu. Oke, puji Tuhan tiba-tiba gitu ya. Eh, kita juga ada Zilo Creative and Activations. Oke.
Zilo. Zilo. Oh, Zilo. Yes. With the Z.
Jadi, eh kita juga dipercayakan beberapa klien dan project. Jadi, itu juga jalan. So, right now aku udah enggak terlalu bukan enggak terlalu fokus aku bukan fokus di prevened communications tapi di asara group as a holding ya holding jadi kalau dulu handles eh clients spin notes of meeting event briefing documen sekarang financial report ya kan pajak gitu kan human resource ee bisnis development gitu jadi lebih ke corporate staff ya, lebih corporate ya. Tapi I'm sure banyak banget yang bisa dipelajarin gitu kan. Kadang-kadang kita juga from the outside looking in tuh it seems gampang-gampang aja gitu ya.
Padahal realitanya when you manage that many people, different business lines, different challenges, opportunities, eh orang-orang yang harus lu percayakan. It's not easy, man. Kayakin pusingnya beda gitu ya. Sama-sama pusing tapi kayaknya beda pusing. Pusing tapi beda pusing ya.
Terus scale-nya juga beda-beda ya. Dulu pas mulai mungkin scaleya lebih kecil yang dipusingin beda lagi. Now that has grown bigger. Beda lagi tuh pusingnya. I ya ya.
Semua by the grace of God ya. Karena I started literally with my own and my son the living room with my baby on the crib. It literally di depan gue TV. Terus sekarang mungkin all in allara group itu ada 30 something. Iya.
E team members, colleagues. Eh, challenge-nya pasti beda-beda ya. Ya. I also learn the art of managing people itu juga salah satu ya, not only managing clients but managing our colleagues kan ya. Jadi mungkin fokusnya kayak sekarang how eh Askara Group itu bisa e membawa kesejahteraan untuk semua koleganya.
Asli lebih begitu gitu ya. Not only Askara Grup itu jadi nomor satu, tapi bagaimana Askara Grup itu diberkati untuk membawa berkat. Asli. Jadi lebih ke situ ya. Itu my vision and mission literally.
H gitu. Gua ada satu lagi interesting, Ci, di hidup gue. Jadi, gue dipercayakan menjadi one of the board of directors of Art Moments Jakarta. E, I forget to ask about that. One of the art fair in Indonesia.
I ya. Ya, we always go. Klien-klien juga kita juga sering ada di situ. Iya kan? What do I know about art awalnya kan permisi banget gua kayak gitu cuma ya memang pertama ya udah deh gitu kan.
Baby steps. Baby steps ya gitu. Tapi ee bersyukur puji Tuhan. Thank you Pak Sandi Wijaya juga gitu ya yang benar-benar kayak ngajarin gue inside gitu. Nih art nih begini nih.
V this is how you sit gitu. Terus this is how you evaluated it gitu. This is where you start. This is when you start gitu. Jadi gue kayak oh oke gitu ya.
Gua pelajari gue lihat-lihat. new things Yes. H that's the right word. Eh, tapi balik lagi art moments ini jadinya what's your role di situ sama eh buat buat orang yang enggak terlalu familiar lah. What is it all about?
Ya kan ya. Nah, Art Moments Jakarta is coming actually tanggal 5 sampai tanggal 7 Juni besok itu di Agora Mall gitu. Nah, itu bersama dengan Bright Spot tuh. H. Jadi kalau lu mampir ke bright spot, mampir ke art barengan banget banget.
Wow. Satu tempat. Jadi itu it's gonna be pack sih. Cuma oke. But this is an opportunity for the young generations to crossover.
Learn and understand art. Heeh. Ini crossover nih. Lu datang lihat art juga. Yes.
Gitu. Jadi ee temanya itu adalah ee persembahan offerings. Offering gitu. Jadi dan kita ambil tema Nusantara. Nusantara meaning bukan hanya Indonesia, tapi Nusantara itu kan sebetulnya luas banget biger than Indonesia gitu.
So, kita ada I think over 75 galleries gitu dan not only Jakarta Indonesia dari Southeast Asia bahkan ada dari Eropa dan Amerika. Wow. Gitu. So, it's gonna be interesting. Eh, tanggal 5 sampai tanggal 7.
Sebetulnya tanggal 4, tapi tanggal 4 itu invitation only. Oke, ya, private viewing gitu. Ee, terus em ya itu ditunggu undangannya by the way. Oh, pasti pasti pasti. Gua mau pakai dasi kupu-kupu dulu kan mengevaluasi art ya kan.
Asik pakai pakai monokel. Asik. Nah, itu em apa namanya? Satu lagi. Oh, kita juga ada curatornya itu orang Korea.
Curatornya orang Korea namanya Jong Jong Ok John. Jadi lucunya gini, gua nanya, "Oh, Miss John." Emm, dia nanya, "Oh, Ibu Viana, where do you live?" gitu. Rawamangun. Oh, I know Rawamangun. Asik.
Gua bilang, "Oh, Skitrow dia." Sekitar Rawamangun. Sekitarun skitrow. Karena dia ngajar di UNJ. Oh, buset. nyin ngajar untuk divisi art and culture.
Wow, gitu. Gua enggak nyangka banget tuh. Dia tinggal di Bintaro. Oke, gitu. What?
Yeah. Jauh loh. Itu tuh passion, man. It's a calling. Kalau lu dari mana?
Bintaro ke UNJ. Bintaro ke UNJ Forever lu ngajar di situ gitu ya. SP years. Eight years itu calling. Yes.
Jadi dia e Miss John tuh eh dan orangnya tuh very detail. the way that gue juga belajar banyak dari dia. Jadi, gue pokoknya orang-orang art nih kalau gua ketemu gua ngobrol deh sama dia. Pasti ada yang bisa gua pelajari. Always.
Always. Jadi gua ngobrol gini-gini. Oh, gitu. Iya. Ini Ibu Viana the way IQ this begini begini.
Oh, terus kan iya lu pakai insting or whatever. But there's a science to it, right? Kayak gimana cara curate-nya? What works, what tuh maksudnya bukan sence like matematika tapi ada yang lu pelajarin in order to make it happen gitu. Kenapa harganya mahal?
Kenapa tingkat kesulitannya tinggi? Iya. Kalau lu enggak pernah melakukan lu enggak ngerti, cuy. Yes. Kalau lu cuman Iya.
Enggak. Jadi gue benar-benar kayak ngelihat Oh, gitu. Jadi art itu you you really have to understand deep apa yang enggak kelihatan di mata. Iya. Beyond ya kan sebetulnya Beyond Your Eyes itu yang artnya ya TFL paper ya guys.
Eh where can they find the printed version? You can find it on the nearest eh cafe hangouts, coffee shop, hotels, of course, restaurants, gitu. Jadi eh kita ada TFL paper eh bulan April kemarin first edition. We're going to have first edition itu printnya. Nah, kalau online kan tadi lu bilang dari 2003.
Terus kita akan ada nanti di bulan Juni eh second edition. Oke. Ee my bisnis partner Sandi kemarin baru pulang dari Butan. Idih. Gil.
Wah, itu dia nih ee sesuatu banget ya. Sandi. Hai Sandi. Hai. Bukan.
Jadi nih visinya kalau TFL Paper tuh awalnya H gua tuh sama Sandi mikir gini, kita tuh mau nyari market ya kayak gua ngobrol sama lu gitu, market-market kayak gue gitu gini, I would spend on hotels karena gue very particular on hotels, tapi gue naik budget airlines gitu. Ada ada ada smart travel kita bilangnya gitu. Heeh. I ada orang yang ada mungkin orang lain yang budget tapi gua mau makannya tuh Michelang Star restaurant semua gitu kan ada ada compromise gitu. Nah itu orang-orang kayak gitu atau misalnya ada juga yang gua udah enggak mau pergi ke mainstream destinations, tapi gua mau nyari sesuatu yang memang gua belum iya pernah gitu ya.
Jadi ya mungkin kayak sudahlah New York misalnya ya gitu tapi gue ya butan kemarin gitu kan orangnya ya sesuatu yang atau Indonesia nih karena menurut Sandi dan gue juga Indonesia aja banyak banget daerah yang belum dikupas gitu yang belum diplore explore gitu yang belum dihingar-bingarkan gitu loh absolutely gitu jadi itu that's what we're trying to say through the filosofinya itu ya okeah Nice. Eh, tapi ini gua pegang gitu and makud unique ya, unlike everyday magazine. Tapi e lagi-lagi eh partially lu inspired itu in your travel, right? Pas lu kemarin ke Sydney or ke Australia lah in general. Austral.
Eh, sama kayak lu kanci, kita tuh kalau jalan tuh kayak otak lu mikir terus, muter terus gitu. Jadi, gua lagi ngantri kopi nih, lagi beli kopi. Terus gua lihat e coffee shop pertama. Iya, ada tuh. Jadi dia e konsepnya kan Grab and Go.
So, you don't have to buy, but you can get them free magazines gitu. Free magazines. Kayaknya, "Ih, ada satu gua ke coffee shop lain, ih h ada lagi." Gue bilang, "Wah, kayaknya this is a thing nih," gitu. Jadi gua bawah gitu ya ke Jakarta, ke Sandi and he agrees with that gitu. Let's do it gitu kan.
Ya udah, let's do it. Kita juga eh start small, tapi kita available in Jakarta, Bali, eh Surabaya and Bandung. Oke, nice, nice. Eh, next-nya udah ada plan eh apa? Keep it for now.
Right now, keep there, tapi kita increasing eh. The exemplars. Oke. Karena eh puji Tuhan animonya bagus. A lot of people like eh really appreciated.
Pry dop travel and things in life. Yes. Asik. Yeah. Very, very catchy.
Terus gua ngelihat iklannya banyak juga. That's what important. That's what important. Heeh. Eh, this works everybody.
Ya kan buat pelataran dan lain-lain. Keep on doing it. Anyway, it's crazy to see apa namanya? just to hear apa yang lo udah capai, right? Especially in recent years, TFL, ada foodies, eh the group Aksara, right?
Preven asara, sorry Askara. Aksara tuh makanya ter dulu tuh bookstore. Iya, tapi apa juga untuk tunara ini askara askara group, right? E in general. E congratulations, super proud of you.
Luar biasa banget. Anyway, geng, e moga-moga one day lu balik lagi ke mana tuh? Ke sini dong. Oh, ke podcast. Gua kirain balik ke ke mana?
Iya dong. Iya kan kita ngobrol-ngobrol lagi ya lain kali. Anyway geng, tepuk tangan sekali lagi buat Viana Iga. Thank you. Thank you.
Thank you.