Episode 034 · Panel · 19 Jun 2026

Marketing di era AI: KYC, GEO, dan kenapa karakter lebih penting dari skill

76 min · Bahasa Indonesia · Proxemics Podcast

Ada yang menjual produk; Yosua Tanuwiria menjual kepercayaan — dan ia melakukannya di salah satu industri paling sulit dipercaya: fintech. Di Proxemics 034, marketing professional dengan 15 tahun pengalaman lintas hospitality dan financial services ini berargumen bahwa di era AI, karakter mengalahkan skill dan memahami pelanggan mengalahkan menguasai alat.

KYC versinya bukan soal compliance. Ini soal seberapa sungguh kamu paham siapa yang kamu ajak bicara — dan ia mengingatkan bahwa brand terlalu sering merilis sesuatu yang tak menjawab masalah siapa pun, kegagalan lintas divisi, bukan cuma tugas marketing.

Soal hiring, urutannya lugas: karakter, rasa kepemilikan, dan kemampuan untuk unlearn — skill jauh di bawah, karena ‘knowledge bisa diajarkan, karakter tidak bisa diubah.’ Soal AI, ia membingkai ulang kepanikannya: alat ini tidak menggantikan marketer, tapi memperkuatnya. Agensi yang menang memakai AI untuk jadi konsultan yang lebih baik, bukan memproduksi barang yang klien bisa bikin sendiri — sebab relasi dengan media dan regulator tak bisa di-prompt.

Kalimat paling tajamnya: AI bukan pemerataan, melainkan amplifier. Kalau kamu perform dan melek AI, kamu seperti ‘Barry Bonds on steroids’; kalau ketinggalan, jaraknya makin jauh.

Ia membuktikan tesis trust lewat glitch harga forex saat CEO-nya live dan membiarkan customer menikmati keuntungannya — meski kesalahannya ada di partner, bukan internal. Walk the talk, atau kehilangan kepercayaan selamanya. Tekan play.

Loncat ke

  1. 00:00 Teaser & bumper in
  2. 01:01 Intro: bisnis jualan trust
  3. 02:16 Era democratized virality
  4. 06:11 Realita Know Your Customer
  5. 19:23 Jebakan ilusi cepat kaya
  6. 28:59 The ability to unlearn
  7. 41:05 Adaptasi agensi era AI
  8. 53:13 Masterclass crisis management
  9. 58:07 Red flag: drama queen
  10. 01:00:48 Outro: closing statement

On the mic

Quick facts

FAQ

Kenapa karakter lebih penting dari skill di era AI?
Karena skill bisa diotomasi atau di-prompt, tapi relasi, trust, dan penilaian — serta tahu cara memakai AI dengan baik — tidak. Itulah pembeda yang sebenarnya.
Apakah AI itu pemerata besar?
Episode berargumen sebaliknya: ia amplifier yang melebarkan jurang antara yang sudah perform dan melek AI dengan yang tertinggal.

Listen & watch

YouTube is this exact episode; the Spotify and Apple embeds open the series.

Transcript

Tampilkan transkrip lengkap

Transkrip otomatis dari audio asli (Bahasa Indonesia) — belum disunting.

Drama [musik] queen. Drama queen. Queen queen. Oke. Buat gua kerja tuh enggak boleh baper.

Junior tim gua bisa ngomong kayak e iya tapi kan kan cuma tugasnya presentasi doang kan yang ngerjain [musik] dirty work-nya gue tapi kan 10 tahun yang lalu gue itu el. [tertawa] Untuk orang Indonesia general tuh FOMO pengin kaya cepat pengen kaya tapi enggak mau capek enggak mau susah. The mindset of investing tuh kayaknya belum e semature [musik] negara-negara lainlah. Nah, kok gua merasa malah bikin makin uneven buat orang-orang yang gokil, man, yang into it. Lip and bounce.

[musik] Tapi kalau lu gak ini, lu ketinggalan jauh, iya benar. [musik] [musik] Oke, gini geng ya kan. Some people itu sell products ya kan. Tapi our guest today itu dia jualannya trust. Asik ya kan?

Gimana caranya bisa bikin orang percaya, merasakan akan something itu in a single line, Bro. Ya kan? Itu tuh art kan. Nah, habis itu geser juga ada hospitality misalnya ya kan di situ gimana bisa bikin orang feel something the moment they walk in a room. Asik.

Nah, ini yang gokilnya. Sekarang he does both. H at the same time, right? Crazy. Ya kan?

yang dulu satu ini dua-duanya berbarengan lagi untuk salah satu ee platform fintech terbesar. Right. Sekarang dia itu ada di serve sebagai VP of Marketing at Peluang. Ladies and gentlemen, please help me welcome to the program. Yosua ya, Yos Tanuwiria.

Halo [tepuk tangan][bersorak] everyone. Hai Yos. Halo. Aduh, luar biasa. Eh, lu kan pengalaman panjang nih ya.

banyak cerita-cerita yang seru-seru gitu kan. Nah, kita ngomongin marketing in general ya kitaak perlu spesif lah to the tapi in general lah. Menurut lo sekarang nih ya kita di dunia kita sekarang ini apa sih the biggest challenge menurut lu? Jadi interestingly ya sebelum gue eh datang ke hari ini, gua enggak tahu kenapa di minggu ini gua ketemu satu bacaan itu ada istilah baru di marketnya namanya democratized reality gitu. Kenapa?

Kenapa Democratize Verality? Karena sekarang dengan platform yang kayak TikTok yang bisa menelurkan jutaan micro influencer yang dikit-dikit semua orang gampang kayak FYP, FYP, FYP. Dan ini kejadian benar-benar langsung salah satu di tim member gua di kantor gua sekarang followernya di TikTok tuh cuma 10.000, tapi guess how many engagements di akun itu? 2,8 juta dan dia itu langsung iklan di [tertawa] TikTok dan di Instagram dia open invitation for brands buat collaborate. Wow.

itu menurut gua sebuah changing of the social media and the whole communication landscape. Di saat kalau dulu kalau kita backtrack ke zaman dulu banget ya, brand mau communicate kan they really need to work with very proper media outlet, right? Gitu kan kayak papers, TV, radio and everything. Then kita moving on to 2.0 dan di situ baru mulai digital ecom apa.com dan lain-lain. Now it becomes even crazier.

Jadi kayak kalau kayak sekarang kita ngelihat kayak brand kita mau bikin communication itu enggak cukup cuma Tofu, Movu, Bovu. Sure, in between itu layernya tuh makin makin banyak gitu loh. Nah, di momen democratize e virality ini sawah consideration itu sama clutter apa kayak cutting through the clutters itu becomes very important. Karena di saat semua brand itu bisa jualan produk yang sama, bisa jualan proposition yang sama, bisa jual exactly the same item, then what matters adalah differentiation, gitu kan. Itu satu.

Dan yang kedua, the reason to use and reason to believe-nya itu. Nah, jadi menurut gue sekarang tuh kita udah mainnya di kolam itu gitu. Jadi kayak it's not enough for brand to just be known. Yes, benar. I'm not I'm not kayak apa ya?

I'm not belittling the effort. Kalau kayak marketer masih bilang kayak, "Oh, harus masih tetap kejar impression, tetap harus kejar healthy CPM dan segala macam." I'm not saying they're wrong. But what I'm trying to say adalah bagaimana eventually karena shareholder itu cuma tahunya revenue, unfortunately ya gitu. Jadi at mereka cuma tahunya reven. Jadi bagaimana kita sebagai marketer harus pintar bahwa creating that creating that very strong attribution yang memang kayak semuanya itu bisa translated finally into business dan itu benar-benar the game of consideration, the game of reason to believe, the reason to try, reason to nengok gitu.

Nah, itu problem menurut gua terbesar. Oke, gitu. dan spanustomer kita makin lama makin pendek. Sorry to say ya. Maksudnya kayak oke kita berharap pakai satu influencer atau mega kol mungkin bikin ramai 1 minggu atau 3 hari after that.

Does that mean like your bottom funnel organic install will go up for the next two weeks for example? Apakah ada sustainable growth setelah itu? Not necessarily. Exactly gitu. Jadi I think that's this is the kind of I don't want to generalize things.

Tapi menurut gue ini yang kalau kita punya title marketing pasti kita doesn't matter mau di industrinya apa, mau di bisnisnya apa, mau di stage company-nya seperti apa, mau dia brand baru atau brand lama. I think we all grapple with this. Leading to that, right? Gua wondering deh. Tadi kan sempat dimention Yos ni udah di beberapa industri hospitality, now in fintech.

Tapi what is one marketing principle or marketing theory that works di hospitality and now in fintech. Do you think is there any one marketing principle that still works in all of those industry? KYC. Oke. Know your customer itu benar-benar penting banget ya.

Karena eh having spent 15 years in marketing yang gua merasa satu suka kejadian adalah eh brand atau company tuh suka bikin something yang sebenarnya tidak address anybody's problem. Yup. Oke. Jadi they're just creating something for the sake of noise. I for example atau mereka creating something for the sake of something.

Iya the sake of something. atau mungkin ada kebutuhan yang memang sebenarnya enggak enggak rot dari kebutuhan customer. Nah, setelah semua bandwid diarahkan, tim produk turun, tim ini turun, semua bikin kita spend millions of dollars, ternyata conversion-nya atau result-nya enggak bagus. Dan yang disalahin marketingnya dibilangnya kok marketingnya enggak bisa promosi, kok marketingnya enggak bisa [tertawa] enggak bisa do anything ya. Tapi sebenarnya kan to be to be honest pertanyaan pertamanya fundamentally kayak do my customers really need this at the first place gitu.

Memang selalu ada kayak e point of view lain. Kadang-kadang kalau if you guys have been in marketing for quite some time ada saying yang bilang begini kan kayak customers most of the time they don't know what they want. Yes, it's true to certain extent. Tapi zaman sekarang sor ya customer itu udah become way more dengan sekian banyak apa namanya availability barang dan services option getting kayak much more kayak lebih precise. Mereka mereka milih something yang benar-benar bisa oke gua maunya ini.

I know exactly what I want gitu atau mungkin kayak yes maybe at one point gua perlu compare ABC. Tapi ya kurang lebih udah ada kotaknya gitu loh. Enggak yang kayak orang blatantly just like kayak cuma searching around, browsing around gitu kan. Jadi, bagaimana caranya kita satu menginterject momen itu di mana di saat dia mulai discovery dan segala macam, kita either ada di situ becoming the answer or kita harus creating that curiosity atau istilahnya kalau bahasa alam sekarang creating that prompting kan even from that moment of prompting alone aja lu udah ada di situ. Their first of their first thoughts, their first wave of thoughts lu udah di situ gitu.

Jadi menurut gue itu ini game yang menurut gua sekarang sulit sekali sih dengan sekian banyak media touch point, dengan sekian banyak ee apa ya emin official channel ya, tapi kayak everybody all of this microinfluencers ada di situ dan sekarang TikTok aja jadi search engine kan gitu. [berdehem] Jadi kayak gim kayak we only have 24 hours a day man. H gitu. I mean, let's face it. Jadi kayak this is a game of eh scale and outsmarting the technology and outsmarting the competition.

Eh, gua pengen dig a bit deeper nih karena menarik banget menurut gua. E, by the way, buat yang dengerin di luar sana, KY ini bukan know your customer dalam arti life. This is about how marketers should actually know or brands lah ya, should actually know who they are talking to. Exactly. Kalau enggak enggak nyambung.

Betul. Nah, yang gu pengin tanya ni apakah itu menjadi tugas marketer untuk ng-define eh segmen atau siapa sih personanya gitu atau should be coming from a business perspective atau should actually coming from a product. Gua punya a bit of reason dari PR ini. Biasanya yang shape siapa yang ngdefine maksud gue? Menurut gue eh marketing enggak bisa kerja sendiri gitu.

Jadi marketing harus duduk bareng karena eh for example ya kalau misalnya company ini masih let's say founder L always better to have a sit down with the founders karena founders biasanya punya visi kan mereka punya vision very specific vision kayak kenapa mereka mendirikan perusahaan ini at the first place for example it's always better to to talk gitu nah kenapa karena kadang-kadang founder juga dapat informasi dari shareholder yang mungkin kayak kayak mereka lebih tahu makro kondisi makro situasi Nah, tapi di satu adalah kayak oke semua yang ngawang di atas sana bawa turun dong ke bumi ya. Karena at the end of the day speaking to the common people gitu. You have to really look at the data. You really need to see the trend. You really need to see what's happening gitu kan.

Jadi menurut gue proses ini tuh harus multipartment atau multidivisi gitu. Jadi kayak ada consumer insight atau em consumer survey, lalu mungkin ada revenue ops juga ada di situ, tim bisnis juga ada di situ, tim produk yang mungkin dia benchmarking juga mesti ada di situ. Then we create a war room. Then [berdehem] ya udah debat usir deh di situ sampai kita semua clear bahwa siapa yang mau kita tuju gitu. Dan unfortunately and probably fortunately kadang-kadang enggak cuma satu segmen ya.

Kadang-kadang kan company itu atau satu brand itu bisa kayak multiayer and I think it's fine gitu. itu. Jadi yang kadang-kadang mungkin em market terbaru juga suka kebelit di situ kayak mereka cuma percaya, oh brand itu cuma boleh punya satu persona customer gitu, enggak boleh yang lain. Karena kayak kalau satu produk misal contoh gua gak tahu lah misal kayak margarin ini otak gue kayak I mean I don't know ya kayak [tertawa] margarin kenapa di otak gua ada margarin batu margarin gitu cuma kayak gue yang misal kayak gue single enggak marit ee tapi gua ee kantoran gua pakai tapi ada mungkin nyokap gue rumah udah udah punya cucu dia juga pakai itu kan bukan artinya customer profile cuma guit Jadi kayak I think this kind of thing itu memang keeps on evolving and that's why we need to have more and more alignment every day karena m kayak marketing dan market condition ya keeps on changing on evolving karena enggak mungkin sebuah produk dibuat tanpa ada tujuan the problem that you will like to solve kan untuk siapa enggak mungkin kan at least not indeal situation maksudnya kalau lu bikin produk without you know trying to solve problems ya most likely kan lu gagal marketer supaya mereka tahu, oh orangnya siapa nih? So they can actually communicate in their language gitu kan.

Exactly. Exactly. Dan mungkin bisa jadi tugas marketer menstop sebelum things get too far. Y kan maksudnya kayak kadang a little bit juga jangan terlalu wild gitu ya. Exactly.

Kadang-kadang kan semua orang boleh punya tesis ya maksudnya semua orang boleh punya pemikiran, hipotesa dan segala macam tapi kan all of this need to be align with kayak heart facts kayak gitu-itu. Jadi kayak better better kita dicerca di meeting room kecil daripada udah ke sosial media jadi udah jadi produk habis kan kayak [tertawa] Heeh doesn't make sense. Gua gua penasaran. You've been doing it a long time right? I does it get easier KYC?

No. Oke. No. And yes. Jadi gimana ya bilangnya ya?

Yes in the sense kita makin sekarang makin banyak digital footprints. We get to understand people in multi layers. He. Tapi yang gua takutin adalah eh jadi kayak data junky ya. What we don't want marketer to become juga jadi data junky yang kayak just believe in whatever data you present tapi nuansenya tuh enggak ngerti gitu.

Itu yang gua takutin dari generasi sekarang juga ya. Karena kita mungkin kalau gue I mean I came from e generasi di mana kayak masih penting FGD. Sure gitu. I was I got I went through that phase gitu kan sebelum kita mau launching TVC. I remember at the time FGD ke 20 orang semua storyboard-nya dipasang and then kayak try to get e their feedback kay gitu.

Jadi kayak I went from a very traditional place tapi sekarang I become much much more digital. Nah, jadi kalau sekarang mungkin yes, kita lebih gampang research, kita lebih gampang dapat data, kita lebih gampang dapat a sense of things, tapi juga jangan sampai terperangkap thinking kayak that's the only truth, ya gitu. Karena with marketing, I think lu mesti selalu punya room for error, room for experimentation, room for what if, room for you know di luar di luar itulah. Eh, any eh maybe tips and tricks yang lu bisa share in terms of navigating gitu pas lu try to figure out customer journey gitu. Apa sih yang biasanya eh lu lakukan lah?

Ee sebenarnya ada dua ya menurut gue. Jadi kalau satu ini sekarang kita ngomongin from a rule of time perspective ya. Biasanya kan ada tiga attribution ya, first touch, last touch, atau multi touch. Nah, itu terserah. Enggak ada benar, enggak ada salah.

Itu cocok-cocokan aja. Ada orang yang percayanya kayak oke pokoknya channel terakhir yang disentuh itu berarti kayak the most valuable. Tapi heeh critical karena itu benar point of conversion gitu kan. Tapi ada juga yang percaya kayak oh kalau first touch itu yang benar dong karena kan itu berarti kemampuan channel itu untuk Noel. Iya berarti itu penting karena boro-boro dia mau convert dibikin Noel dulu dong gitu kan.

Nah, tapi ada juga yang percaya kayak enggak dong karena setiap channel punya bobotnya masing-masing. Itu kepercayaan dan keyakinan masing-masing menurut gua. Nah, itu menurut keyakinan masing-masing. Menurut keyakinan masing-masing. Nah, itu itu rule of time pertama.

Rule of time kedua menurut gue sering-sering ee cek sosial media dan ee menurut gue penting untuk ee aware eh apa yang customer tuh ngomong kayak give feedback to us. H gitu. Karena most of the time is genuine lah kayak gitu. I mean forget about buzzer dan maksudnya forget about competitors buzer [tertawa] army dan segala macam ya. I mean forget about it lah.

Kita kita bisa punya cara untuk distal itu kan. Cuma most of the time what consumers are shouting to us atau writing to us on social atau review platform kayak gitu most of the time it's true. H karena kita I mean kita berkaca sebagai kita aja sebagai customer ya. kita kalau mau capek-capek ngasih review ya kecuali kalau di restoran kan Anda suka dikasih komplimary dis ya mau ngomong apa ya gitu. Tapi kalau I mean in situation biasanya kita kalau mau capek-capek ngasih rating atau kita mau itu itu kan it comes from the heart it comes from your true.

Nah jadi secara brand menurut gua kita harus peka gitu. Kalau misalnya ada customer bilang kayak you have a shitty whatever then probably it's shitty. H gitu. Apalagi kalau multiple saying the same thing misalnya just validates. Exactly.

Validated. Heeh. This is still part of the KYC dong. Oh, I extremely. I extremely.

Malah kadang-kadang kan kepikiran dari situ jadi ada product improvement kan. Karena kalau misalnya enggak ada itu sama sekali, everybody will think kayak, "Oh, it's candy in the sky kayak everything is good." gitu. Masih ada toh berarti brand yang beneran dengerin customernya dari sosial media. kayak hospitality. Dulu gua di dunia hospitality kan itu kalau enggak dengar customer review tuh wah enggak mungkin sih definitely kayak even kayak e apa eh keempukan bantal aja tuh bisa dikomenin dan itu bisa jadi po iya misalnya when you have when you are paying like let's say 3 million gitu loh lu kan punya ekspektasi kayak gini gitu loh apa atau misal lu contoh kayak datang lu lagi mau ada family party atau birthday mesan makanan keracunan, food poisoning, gna be so piss gitu loh.

Jadi kayak dulu gue di hospitality yang kayak gitu tuh jadi point of improvement dan setiap weekly pasti dibahas sama eh tim manya hotel untuk mereka bisa kayak kasih improvement langsung benar-benar dikoreksi ya apakah keinginan customer itu change over a period of time atau they tend to stay the same gini maksudnya [berdehem] yes you do kyc is that like a one time job and that's it something that you have to kind of I Karena menurut gue itu evolving. Oke. Jadi kayak itu yes mungkin say ini kalau di framework of fintech lah ya gitu atau dunia gua investasi kan ya mungkin orang masuk pertama taruh Rp100.000 tapi setelah 1 tahun R.000 itu jadi R juta. Iya kan? Amin.

[tertawa] Like tadi amin amin amin amini aja gitu. Nah berarti kan kebutuhan orang yang taruh Rp100.000 sama R juta beda dong. Nah, tapi kan bukanya kita langsung juta000 jadi itolving. Jadi PR kita makin banyak gitu tapi jadi makin panjang gitu. Nanti begitu udah dari R.000 R jadi R miliar kebutuhannya beda lagi lagi.

Gua punya pertanyaan nih. Youve spent years lah ya ining eh how people perceive brands bisa di hospitality, di fintech dan lain-lain. For specific industry financial what is one belief yang orang Indonesia tuh udah merasa ah and we need to unlearn. Misalnya investasi hanya untuk orang kaya. H is there any menurut lu yang kayaknya they have to unlearn about money?

Oke ini lebih ke market ya. Indones in general lah menurut susah ya karena karena depend segmen ya different segmen mungkin dia punya different point of view tapi kayaknya untuk orang Indonesia yang general tuh FOMO pengin kaya cepat pengen kaya tapi enggak mau capek enggak mau susah itu kayaknya udah part of our Heeh of our maksudnya the mindset of investing tuh kayaknya belum eh semature negara-negara lain lah yang lebih financially literate misalnya. Iya. Misal contoh kayak orang kan kalau yang ngerti financing selalu eh sori investment selalu bilang begini kan kayak when there are bloods on the street that's when you buy. Hm.

Oh. Oh. Orang Indonesia tuh enggak ya [tertawa] di saat e ee gitu. Tapi kan memang sebenarnya ya benar juga kalau misalnya kan again ya marketing tuh nuansenya banyak. Mereka benar juga punya pola pikir kayak gitu.

Karena satu kita kan enggak ada yang bisa time the market gitu kan. Mereka belum tentu pakai investasinya pakai uang dingin. H. Nah, kalau dia taruh dijeburin di when the bloods on the street, nah kapan itu bloodnya bakal [tertawa] berubah jadi iya gitu problemnya. I benar kan itu nuans gitu.

Makanya jadi menurut gua tuh marketing tuh susah dan ngejelimet sebenarnya gitu. Karena tiap orang, tiap fakta atau tiap perspektif tuh ada nuansenya masing-masing. Tapi what we're trying to do adalah kita coba cari benang merah yang at least bisa menjawab sebagian besar of the problem lah kayak gitu. It's so hard. Gua pikir tadi dia ngasih kode buat yang dengerin di luar sana nanti pasti [tertawa] tayang nokamer dulu ya.

Iya iya iya iya iya. Nah, ini educat eh apalagi sekarang gitu kan. I think gua gua gak punya datanya sih. Maybe you have. He I'm pretty sure sejak COVID terutama right there's a lot of new investors right?

Nah, ya kan jadinya tuh eh apalagi ada juga yang sudah mulai beda generasi jen right. Eh, have you ever noticed something different regardless of socioeconomic status? Makudnya mungkin uangnya sama tapi are apa? Lah the market. E what's interesting karena kebetulan juga tempat gua kerja sekarang itu eh platformnya menawarkan multiaset ya.

Jadi semuanya ada di situ. Jadi ada crypto, ada emas, ada global stocks, Indonesian stocks dan lain-lain. Tiap aset tuh customer profile-nya beda-beda. Oke, gitu. Kalau crypto ya The Bros.

The Bros. Kalau US talks biasanya orang-orang yang lebih kayak more educated karena dia lebih kayak mau ngerti fundamentals [tertawa] dia lebih long terasa merasa merasa gitu kan. Kalau Indonesia Indonesian stocks pasti orang-orang yang memang kayak consuming all the news. Dia akan lebih kayak market commentary sensitif kayak gitu-gitu karena kan memang Indonesia kan e saham itu hidup dari berita gejolok-gejolok berita. I kalau emas biasanya orang yang lebih konservatif atau mungkin lebih banyak perempuan karena dia mungkin lebih kayak gua gak mau peduli, gua cuma pengin kayak pokoknya tiap bulan nabung R juta masukin contoh kayak gitu kan.

Jadi setiap itu tuh [berdehem] ada ada klasifikasinya tapi tidak menutup kemungkinan orang itu pada dasarnya kan penasaran curious. Nah, mereka itu kita ngelihat ada pattern-pattern mulai misalnya dari Crypto Bros dia jadi coba coba saham US misalnya iya coba gold kayak gitu. Jadi itu tidak menutup kemungkinan tapi memang menurut gua itu memang trajektory yang normal ya. Oke. Itu pasti normal lah.

Kita juga as a human being kan juga we go through that face in one way or another. Jadi menurut gua itu normal banget karena definisi cuannya sama. Hm. Saat aset itu bertambah. Benar.

I ada istilah flows. Nah, ini gua penasaran apakah berubah antar generasi tentang si risk appetite ini? I think people menurut gua yang mulai berubah itu and again ya this is my personal opinion ya. Eh kayaknya the minute you have family, you have children h itu tuh you you change. Iya.

Jadi misal lu akan lebih ee mulai mikirnya long term kan karena pocket lu suddenly jadi panjang. Jadi kalau sebelum lu gak punya anak, lu gak usah mikirin dana dana pendidikan, dana pensiun dan macam kalau udah punya anak kan kayak oh gua mesti make sure ni anak gua mau ke Harvard gitu kan yang kayak berubah set kelasnya aja berubah [tertawa] aset kelasnya benar ya benar tapi ya that changes a lot sih I think when you have itu sama orang yang mungkin enggak punya KPR sama punya KPR atau punya cicilan sama enggak punya cicilan itu kan sangat beda ya in terms of money managementnya what you're saying adalah bahwa tergantung dari life cyclenya mereka. That's when the behavior starting to change. Tapi apakah e balik ke pertanyaan Mersi tadi, tapi apakah eh you also saying dari dulu sampai sekarang tuh maksudnya appetite terhadap ini masih sama? Enggak karena enggak maksud gua begini eh to give you broader context kalau di dunia investasi itu kan market sebenarnya ng-dictate customer decision.

Misal contoh nih kayak sekarang. Yes. Maybe kayak e gue again ya gua pakai kacamata gua aja personally. Gue enggak punya anak, gua single. Gua single maksudnya kayak e gua punya income.

Tapi kalau sekarang misal saya marketnya lagi not so good, let's say gua juga akan lebih pruden untuk milih aset yang mana gitu kan. Jadi ee nuansenya tuh terlalu besar menurut gue. Makanya kadang-kadang penting ee orang tuh biasanya suka nyari signal kan ya. Iya. orang biasa suka nyari signal cuannya itu ada di mana gitu loh.

Mereka suka gitu. Jadi menurut gua ee ini pintar-pintarnya kita sebagai investor dan customer aja sih. Kita nyari again ya nyari peluang itu di mana gitu loh. Susah digeneralize sih. Luar biasa.

Luar biasa. Gua juga notice gitu e discussions with friends and stuff. kayak sekarang tuh financial literacy tuh kayak lebih eh diajarkan gitu to the younger generations, right? Jadinya harusnya eh kemudian hari ini kayak anak-anak lulus SMA, lulus kuliah tuh they already got a pretty good idea lah dibanding kayak kita-kita zaman dulu cuy kebanyakan belajar PMP. Apa itu PMP?

Karena memang data terakhir kan 2 tahun lalu tuh bahwa financial inclusivity sama literacy itu enggak in line kayak bukan priority gap between inclusivity sama literacy. Jadi ya mudah-mudahan ke depannya makin balance lah. Jadi orang-orang makin lebih paham dia tahu gitu kan how to invest your money. Terus dari lebih mudah kan lebih lebih mindsetnya tuh investing bukan lagi gamb investing is not a get apa get rich ski man. Gambling, gambling, gambling, gambling.

And a lot of a lot of the apa namanya? I would say like a stereotype that there still people things investing is some sort of gambling. Jadi remember ada kalanya tuh yang lu minjam untuk invest. Come on man, lu kejut lu gokil. Iya asli [tertawa] lu taruh nih karena besok katanya naik naik naik naik signal signal signal.

Aduh, bestion ini ever [tertawa] sih itu rusuh banget sih itu. Tapi ada loh mer orang yang beneran berhasil. Ada beberapa legenda dunia investasi Indonesia. Dia literally pinjam duit dari bank karena banget appeti-nya beda aja. We better not tell that story.

Karena all this kids yang dengerin kayak gini-gini tuh [terkesiap] ada ya. Oke. [tertawa] Apa sih be to the house punya orang tuanya enggak sih? [tertawa] Kayak yang orang suka lupa itu adalah yang akhirnya sukses itu berapa banyak research yang sudah dilakukan. Iya.

Kayak enggak mungkin juga kayak ya sama aja lu buang. Iya. Benar. Tapi ini I think menurut gua yang zaman sekarang tuh enaknya adalah if you don't have institution yang ngajarin lu tentang financial, eh honestly gua merasa tuh bahwa you need to give thanks to some influencer atau content creator yang actually give educations. Kayak syarat buat ee Ruby for example, I learn a lot gitu.

Cuman dari nonton kontennya aja gitu, baca bukunya gitu. Gua gua banyak belajar di sana di sekolah mah udah pasti enggak diajarin cuy. Tapi there is a flip juga sih in that story ya kan a lot a lot also influencer or influencers yang sell the idea of living easy via doing this gitu ya itu toxic lah jadi jadi there is a flip to this influencers cultur the ultimate crypto brow gitu kan eh lu ngapain kerja [tertawa] ngapain sekolah ngapain kerja itu yang balik kayak menurut gua we also need to be smart gitu loh untuk dengerin yang mana ya critical gitu karena everybody through any content di dial media gitu. Then you just need to know pick and choose yang mana yang lu mau dengar yang enggak. Yang bagus ya lu dengarlah.

Yang yang ini enggak lah. Nah, gua penasaran. Nowadays kalau lu eh if you need to pick people ya to be on your team gitu. Oh, this is interesting. Eh apa tiga trade?

They got to have it, man. Kalau mereka enggak punya ini sih gua kayaknya enggak bisa deh kerja sama mereka. Tiga ya dimintanya. Satu menurut gue ee knowledge bisa diajarin, karakter enggak bisa dirubah. Asli ya klip banget.

[tertawa][berdehem] Menurut gua itu kunci hidup banget ya. Kunci hidup. Karena gua banyak banget nemuin some people are very brilliant but they really you cannot just work with them ya gitu loh. Either dia memang toxic atau dia memang kayak egonya gede atau dia memang ee enggak bisa dikasih tahu. Contoh kayak gitu kan.

Jadi kayak it's just hard lah every single day as if kayak dan gini sor em orang tuh suka berpikir kayak oh yang ditusuk jarum tuh most of the time cuma cuma the junior team doang. Kalau leader itu biasanya lebih tenang, lebih aman, lebih enggak merasa sakit atau lebih padahal dia enggak tahu ya headache leader kayak mimpin 15 orang itu kayak tiga orang acting up itu rasanya udah pengen [tertawa] bukan jarum masalahnya kap udah pengin secara kita dikejar-kejar sama si level dan segala macam kan gitu tanggung jawab kita besar banget jadi ee itu itu nomor satu nomor dua harus punya empat oke karena kalau orang enggak punya punya empat menurut gue dia enggak akan punya proactivity karena dia akan cuma merasa ini kerjaan gue engak kerjaan gua, kerjaan lu gitu kan. Ini bukan [berdehem] kerjaan gue, ini kerjaan lu gitu. Kenapa lu suruh gue gitu? Kenapa enggak nyuruh orang lain aja gitu?

Itu menurut gua nomor dua. Sana nomor tiga e gua mau kutip apa yang lu ngomong karena gua suka banget dan ini eh exactly apa yang head of grab marketing gua dulu pernah bilang sama gua, you have to have the ability to unlearn. Hum, lu tuh makin susah unlearn. Yes. Karena lu merasa semua yang lu udah akumulasi itu the best that you know how.

Karena kan lagi masih muda lu mungkin lu akumul lu akumulasi tapi lu mulai umur misal kayak gua I think I when I turn 30 atau 32 stacking puzzle-nya itu baru mulai jadi ya untuk semua yang gua belajar di umur 20-an. Over lu merasa itu udah package yang paling bagus. That's how it is lah. Ya udah. Tapi ternyata begitu lu diow in different situation in a different environment lu berasa bahwa oh [ __ ] kayak a lot of arcake knowledge juga ya gitu better other way gitu kan.

Exactly gitu. Misalnya kayak dulu lu 5 tahun yang lalu nge-handle Instagram lu jago banget gitu. sekarang dengan Instagram algoritma yang baru, lu merasa learn [ __ ] [tertawa] I learn [ __ ] every nih mungkin gua tanya dulu eh tips and tricks ya kan dari Yos. Kalau el sendiri how do you unlearn stuff? Ada something yang lu sengaja lakukan gitu untuk qu unquote mungkin in a sense untuk unlearn and then relearn stuff gitu?

Eh, gua enggak takut kelihatan bodoh. Jadi, most of the time kalau lagi meeting gede, gua suka nanya why. Pertanyaan pertama gua apa sih why dulu? Karena gua mesti ngerti pola pikirnya mereka. Kenapa mereka jadi jangan nge-judge dulu kayak setiap kali orang ngisi dia pasti kalau udah bertentangan udah pasti bilang salah.

Nger ngertiin dulu why, kenapa lu gitu. Dan yang kedua mungkin nanya how. Iya. Kalau misalnya lu gak ngerti gitu kayak most of the time misalnya contoh kayak gue lagi mau nganalisa something, my junior team helps me to create the deck atau analysis. Gua biasanya minta dia di sebelah gua and then run through the deck and then diat gue ada part yang di mana ini coba explain kayak how you get to this ya conclusion gitu loh.

Nanti kan dijelasin kan kayak gini-gini oh iya ya gua enggak kepikiran juga yang kayak gini ya kayak gitu. Jadi kayaknya willing to look stupid gitu. Tapi di satu sisi juga lu mesti mau capek ya. Of course gitu. Itu kayaknya yang nomor dua juga.

Kadang-kadang orang cuma mau enaknya doang ditanya cuma tinggal nanya how sama why. Tapi dia enggak mau do homework. Itu nyebelin sih menurut kadang-kadang orang yang di meeting-meeting itu kayak anjection. Punya selalu negatif gitu. Enggak bisa kayak tapi enggak solusi kayak just focus on the problem kan.

Like if you don't have a solution maybe you part of a problem. [tertawa] Benar. H benar. Eng. Tapi yang yang menarik buat ee kalau kita kerja pun sama orang berarti we need to be able to explain I dengan jelas.

Karena banyak orang yang menurut gua bawa ide dia enggak bisa ngejelasin cuy. Ditanya ee why? Terus dia kayak mulai itu mengarang bebas ya kita akan apalagi sekarang LLM. I mean sebuah case study ya like kalau kita nghire orang sekarang kasih case study we have to believe 99,9% bikinan clot sama CJPT sama exactly right. Jadi when you ask them to present their case as a lot of wise dari situ lu baru ketahuan colornya [tertawa] dia.

Bolornya dia. Kayak a few times we use a study case kan bagus banget gitu kan hasilnya kan. Terus pas hired jadi gitu kan kok kayak gini ya kayaknya salah deh gua rekrutmen proses gua harus gua rubah deh. Iya iya iya. Makanya at least kalau udah diprom dibaca sendiri dulu kali.

Benar [tertawa] dipaham cuy lu present something lu gak ngerti banyak orang stop di prompek udah jadi nih kirim [tertawa] aja dulu desain langsung jadi. Iya. Kita enggak against using AI every. Heeh. Tapi to be able to make sense, lu pernah bilang ini soalnya dulu pakai AI, tapi to be able to understand itu di mana ya lu juga harus punya knowledge dong ngerti dong.

Exactly. Ngacau gitu kalau kayak ya yang dihasilkan. Kalau problem bodoh jawabannya bodoh juga. Iya. Benar.

Ini nih juga sebenarnya kita sempat ngelihat pattern gitu di luar sana di mana e orang-orang itu over relying sama AI. gitu-gitu kan untuk bukan tu underestimate tapi menyamakan gitu. It's such a ada kayak lack of understanding of how AI works in a sense ya. Kalau lu merasa tugas orang ini yang sudah melakukannya selama whatever 10 15 years ya kan and then there's like a sense of artistry to it lu anggap AI bisa lakukan you're mistaken. Nah, tapi masih di topik AI eh apa menurut lo yang lu appreciate banget atau yang ada di workflow lu banget nih?

Eh, in terms of eh AI finding little mistakes. Hm. It AI ngebantu banget gitu kayak all the minut work. Misal contoh kayak vendor comparison itu kan aduh minta ampun di gitu kayak e [tertawa] ee apa eh analying kayak raw data itu kan painful banget ya. Dan kalau misalnya enggak kan either me doing itu, my team doing it, tapi kan kita butuh waktu panjang banget.

Kalau AI kan just like prom from prom 5 menit, 10 menit jadi gitu kan. Itu menurut gua sangat kebantu. Dan yang kedua adalah kayak menurut gua enhancing. H jadi gua enggak melihat AI to replace but to actually enhance gitu. karena dia ngebantu untuk asal lu promnya udah benar dan lu being very specific, tapi nanti misal let's say di prom lu ada satu kalimat yang kayak challenge me if my iya misal atau challenge my thoughts gitu atau misal kayak ada missing gap in my hypothesis dan tugasnya dia kan bukan cuma akan present you with the data, tapi dia juga kayak ngasih differing point of view gitu loh.

Jadi perlu perlu kecakapan tersendiri sih menurut gua untuk orang bisa pakai to harness the power of AI. Absolutely. No wonder sekarang kan ada yang kayak prompt engineering sekarang juga prompting company prompting company itu kita Heeh. baru ngebahas eh iya anak-anak ini kayak you make a company specifically untuk ngajarin orang nge-prom and you got 6.5 million dollar investment. God damn gil.

itu luar biasa, man. Shoutout buat [tertawa] Promting. Bikin kita bikin aja gimana bikin? Belum ada tuh di tuh. Belum ada.

[berdehem] Asli gokil banget. We do prom in bahasa Jawa. Jadi kalau mau those people can't do it, right? Do you know how many orang Jawa [tertawa] yang masih ngomong pakai bahasa Jawa? Tapi prompting bahasa Jawa.

By the way, lagi ramai juga di sosial media yang tadi dia bilang sekarang kan kalau di cloud itu lu bisa setting kayak your e personal preference ya. Jadi lu masukin lu maunya chat lu sama si cloud itu nanti kayak gimana treatmentnya. Nah, lu bisa masukin kayak gitu tuh kayak ini not only pleasing me and all that. Jadi whatever new chat yang lu bikin sama mereka that rule of time akan selalu berlaku. Oke gitu.

Jadi it's a nice trick menurut gue. Iya ini masih lagi-lagi kita masih seputaran AI ya in terms of your marketing buat-buat ininya ya kan sekarang jadinya even kemarin gua enggak tahu kalian sempat nonton si Google IO. every year mereka you know eh kita kayak gini produk kita kayak gini whatever lah annual thingy e itu kan mereka even Google ya mereka udah semakin e bukan hanya recognize tapi mengakui bahwa kayaknya recognize sama mengakui sama deh whatever you know mereka jadi oh jadi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia [tertawa] bilingual bilingual bilingual jadi mereka ee mengakui bahwa udah semakin blending in jadinya what they going to do. Mereka juga akan blending si Google search ini sama AI. Right?

Jadinya lu keluarnya nih nanti udah hybrid, not entirely SEO, tapi enggak juga, but a mixture of both. Yes. Nah, eh dengan itu berarti kan brand discovery, eh pertimbangan, comparison itu kan pasti orang-orang sudah semakin menggunakan AI. Nah, eh kalau pandangan lu sendiri ya, how do you see this happening? Apakah ini a temporary state?

Apakah it's gna be a permanent change or whatever else in between lah. Eh, gua gak punya magic ball in a sense kayak to answer that. Tapi kalau more from my point of view, at least karena gua udah mulai terjun di dunia AO sama GEO itu since Q4 last year ya. Jadi gua udah udah di dipaksa berdasarkan kebutuhan dan kondisi gitu loh. Sekarang we have to grapple with the changes.

Menurut gua this thing will stay sih. Oke. It will only get more mungkin bukan hybrid ya, lebih seamless yang tadi lu bilang gitu. udah enggak ada lagi ee distinction,udah enggak ada lagi kayak gap di antara semua itu. Makanya jadi kayak honestly eh marketer zaman sekarang tuh pusingnya tuh pusing banget sih.

Jadi kayak imagine trying to explain your day today work to your 60 year old father. H ya I don't think like he would [tertawa] understand 20% of stuff that you're doing gitu loh. Jadi kayak benar-benar sekarang tuh kita dipart dan apalagi kalau misalnya kita maksudnya di marketer I mean general ya you have to play equally between your left brain sama right brain kan you have to understand all of this kind of like technical side numbers tapi juga lu kreatif at the same time gitu loh jadi kayak ya this is crazy [tertawa] this is crazy he I mean everything is crazy and we just you know trying to get by try to figure Yes. Tapi more and more fun menurut gue. Nah, ini nih tadi untung lu balikin.

Tadi kita ngomongin crunching data. Gua tuh suka crunching data. There's something wrong with me, but I like it. Tapi ternyata gua sukanya itu not the literal crunching tapi finding out. Nah, dengan AI gua senang ternyata gua pikir kan gua akan merasa hampa.

[tertawa] Gua penasaran banget ya kalau brand side itu pakai AI itu no brainer karena memang memang maksudnya kayak kita mau cut the cost, kita mau lebih lean, kita mau lebih efektif. Kalau agency pakai AI itu sejauh mana kalian udah pakai dan maksudnya kayak how how will that actually threaten your misalnya beginilah kayak agency yang udah lama yang misal dia terkenal memang kayak memang keahlian mereka ini ya dan sekarang kan AI itu kayak sebenarnya misal let's say beginilah kayak e simpelnya ee bikin brand deck gitu kalau sebelumnya mungkin brand harus bayar ratusan juta He sama agency. Tapi now dengan cloud gua langganan aja yang 200 sebulan gitu kan. Makanya kan Minzi PWC semua segala macam aja udah mulai threaten kan because of it. Nah I just wanna think w ask about kayak kalau service agency H yang kayak PR creative those kind of thing itu gimana ya maksudnya they grapple with this whole?

Eh, jadinya kalau buat kita itu sebenarnya waktu itu kita juga sempat ngobrol with another e guest itu mirip banget sama yang e at least gua fisik ya. Nomor satu, forget about serving the client. H empower yourself. H internally, workflow mana yang lu bisa improve dengan AI? Kalau lu enggak bisa melakukan itu, forget about using it for your clients.

Internally dulu. Jadinya ee buat kita di sini di praksis in general itu ya hampir salah mungkin a little bit earlier gitu ya. H ini lucu sih gua ngomongin AI ini actually very very early tapi pikiran gua itu bukan gimana caranya bikin report buat klien that's already wrong right tapi gimana caranya lu bisa pandai gimana caranya lu bisa get updated with rules and regulations OJK pas OJK ini AI ngasih tahu l eh ini recap-nya ini yang bisa lu lakukan mungkin klien impacted A B C D that's it ya tapi eh yang belum bisa tergantikan of relationship. Oh, I sama media, sama government, eh sama you know all this different academics, ya kan. All the stakeholders lu enggak bisa gantikan dan AI can't really help much lah with that.

Tapi upskilling lah ya, technically bisa upskilling bisa. Maksudnya gimana caranya lu bisa provide better consultation? Lu kan konsultan betul right? Jadi jangan lu kasih barangnya [tertawa] e yang diminta lain lu bikin pakai that's not it. Tapi gimana caranya lu?

elevate your understanding and then you produce and I think it will it will help us in terms of tadi ya in terms of empowering ourself to be a better consultant. Karena yang tadinya mungkin lu butuh waktu 3 jam gitu untuk research, now you can have it in 30 minutes. So you got more knowledge to be able to consult your client better. I think that's first. Terus berikutnya adalah jadi lu kadang-kadang di agency itu kan you have to brainstorm constantly, right?

Dan dengan AI itu I treated it like a my brainstorm partner. Iniuk kayak cara berpikir gua benak benak. Jadi mainly help in terms of day to day agency executional level ya. Cuma yang tadi bilang it's wrong when you start to produce things and then you give it to your clients. Karena mereka juga bisa lakukan itu men.

Just copy paste-nya itu everybody can do it ya kan. Justru how do you use AI for you to be able to be a better consultant. Ini ni tadi menarik. Let's go back real quick. Ya, tadi kan lu ngomong e ada sedikit tentang eh leveling the field, right?

Iya. Nah, kok gua merasa malah bikin makin uneven? Hm. Buat orang-orang yang gokil, man, yang into it. Lip and bounce.

Iya, benar. Tapi kalau lu enggak intuitin, aduh gua enggak tahu gua gaptek. Aduh, lu ketinggalan jauh, Men. Iya, benar, you know. Iya, benar.

Kalau lu yang sebelumnya di bawah, tapi lu into it, lu bisa kecap. He. Tapi kalau misalnya orang yang udah performing and into it, dude, itu kayak eh Berry Bonds on steroid, ya kan? [tertawa] The baseball player. It's crazy.

Hearing home runs pang pang. Crazy, right? Benar banget. Benar banget. Nah, itu itu eh I don't know what what do you think?

Gu, gua melihat itu gua enggak ini ada kemungkinan juga nih dia bisa itu bisa juga ini gitu. I'm 100% aline karena gua udah ngelihat buktinya langsung di kantor gua sekarang. Jadi ada satu leader, ada satu leader ee dia timnya cuma dua dan dia bisa bikin semua automation via cloud dan gua tuh yang kayak gila. Wow, kayak how can you do this gitu. Even kayak CRM aja tuh kayak automated kayak gitu-gitu.

Jadi kayak kayak that's just like buat gua crazy banget sih. Gua aja merasa I'm so behind on a lot of things. Tapi eh itu gua agree banget. Jadi orang-orang yang memang gua enggak tahu ya, either dia either mesti kayak memang mesti orang yang ngerti data atau dia memang demen ngulik atau dia memang very digital savvy yang memang I don't know ya that left part of the brain yang memang kayak jago banget gitu kayaknya. I agree with you sih dia bakal lip.

Iya. He itu bakal ya for sure. Imagine berapa banyak yang di-unlearn sama orang itu. Asli. Iya kan lu yang bisa yang flip gitu.

Hari ini lu percaya banget. Ei PR tuh gini-gini besoknya enggak usah pakai PR lah. [tertawa] Forget it. Let's do this. Oke.

Kay gua penasaran kadang orang kalau sering banget pakai itu IQ-nya turun enggak ya? Nah resar. Oh ada resar. I think ada Harvard Harvard research yang bilang bahwa your brain kind of shrink. He ngeri banget cuy.

Iya. Tapi nah itu gua gak percaya karena [tertawa] I gua gak mau dong brain gua sh tuh tungguh tuh. Ini research-nya gua e rada berpikir kebalikan soalnya karena researchnya itu berarti to everyone yang pakai kan. Em I assume [tertawa] so harusnya ya. Karena pasti banyak yang malas dan emang pakai supaya hasilnya cepat jadi doang.

Nah itu menurut gua iya banyak case yang tadi dia bilang menurut gua itu butuh brand juga men untuk ngulik untuk bisa nyambungin apalagi mainentic AI. Betul. Itu kan it's not simple prompting prompting lagi keluar kan karena lu harus cross check. The logic ya logicnya itu right lu the logic ini dari sini ke sini ke sini ke sini ke sini itu it's not a simple prompting ya makes sense enggak ya the flow right dan nah ini yang kan kita juga sekarang eh we're building engine and stuff like that right for this type of stuff. Nah itu juga eh not only the logic tapi the experience.

H lu akan bisa tahu hal-hal yang bahkan klien lu enggak ngerti. Iya karena lu pengalaman serving them. Betul. Mereka enggak akan kepikiran. Jadi gua selalu ngomong gini ini talking about the engine nanti one of these days kita introduce lah.

Tapi kalau misalnya eh apakah builder right the coder whatever lah the the engineer ni bikin bisa enggak? Sure. Yes. Tahu enggak perlunya apa? No way man.

No way man. H I've been doing this [ __ ] for 15 years, man. akan sama sama gua engine creating caption match what I know. Maksudnya ini gua ngomongin kalau misalnya lu backgroundnya bukan ini gitu. If you don't do what we do and try to do that, no way g m iya benar.

Right. Nah, itu jadinya penting bangetlah moving forward tuh gimana caranya eh bisa take advantage ya even antar agency ya an agency itu whoever gets there first he you're going to win a lot of clients gitu kalau lu bisa lakukan ya dan gua percaya ada satu no disrespects to whatever yang lainnya ya you need to build it locally oke he lu enggak bisa berharap oh ini kita bikinnya dari Amerika oh it's different man di sini butuhnya Beda. The game is different here. I nuance, regulations, whatever lah. Kalau lu cuman eh iya kita the first karena kita punya ini di Amerika udah bikin ini.

Really? Yeah. It's not going to work. H ya. Ya kan even kita aja yang locally building itu enggak selesai-selesai kan.

He kayak sekarang udah build 200 gitu. Gua ngerjain sesuatu udah 200 cuy ya kan belum sempurna. Karena everyday you see something twak twak. Lu lihat saya. Oh iya.

E man it's night. Jadi ya honestly enggak bakal selesai sih. Iya tinggal e it's about you know good enough or not aja tapi enggak bakal selesai. A continuous thing dan kalau bukan lu yang ngerjain di sini how are we going to improve ya suggestion gitu bro boleh enggak gua minta ini kirim email ke Amerika gitu mati aja lu. Kapan dikerjainnya yang Nigeria ngirim Singapura ke mana.

Terus yang ngerjain satu di Amerika enggak ngerti apa-apa gitu. [tertawa] Forget it man. Anyway, tapi gua gua percaya berarti tadi gara-gara research tadi berarti AI itu sebenarnya bisa double dong. Oke. Iya.

Nah, di tangan yang salah. Iya. Bahkan bisa bikin orang itu makin stupid, Mas Bro. I kan. Iya.

Kan ada ininya kan ada studi yang I mean completely different tapi orang yang sering consume short content they become dumber. Attention span lu juga makin pendek enggak sih? kayak gampang terdistraksi dan lain-lain. Jadi anak kayak ada res juga yang bilang bahwa anak certain age tuh not allow ya ada regulations juga kan sekarang yang dari lu anak kecil udah enggak beli lagi pakai media juga gitu Australia udah Austral udah implement iya eh I think ya udah mesti sih diomongin maksudnya bahwa media social media ya media aja dulu diulat kids needs to be protected from that type of content it's just misleading lah maksudnya Mereka itu belum punya the level of understanding criticism untuk absorb that content. Jadinya lu bisa belum bisa.

Baru-baru ini kita ngomongin tentang banyak yang gen sekarang slow living asik conscious unboxing. What's that? So it's a choice yang dibuat oleh para Gen ini untuk enggak mau jadi bos. Yes. Y enggak mau dipromote.

It's a choice because more responsibility meaning [tertawa] more things in my life. I more stress. Aduh, I don't need that. Gituance. Ceritanya kemarin one of our guest itu cousennya, cuy, ditawarin promotion quit.

[tertawa] Serius? Enggak mauah. Jadi entar kerjaan gua makin banyak. Kalau jadi manajer kan jadi nanti ada A, B, C yang harus dikerjain bla bla. Selama lu sadar bahwa ada konsekuensi di masa mendatang, we cool.

He, it's ok. Asal lu ngerti ya, iya. Jangan sampai lu bangun 20 tahun lagi. Ah, kok teman gua udah jadi ini. No [ __ ] man.

You spend the last 20 years slow living. You know what do you expect? Nah, ini tadi gua ngomong eh tentang unlearning. Heh, gua merasa sama gua mirip gitu. [berdehem] Eh, kadang-kadang I could be gone for a month misalnya, keliling-keliling ke mana jalan-jalan gitu.

In a sense, gua percaya bahwa itu part of the unlearning. I switching off. Heeh. Gua gua iniin gua gua mencari hal baru gitu. Things yang bisa eh inspire us, right?

Bisa you know, kayak oh ini bisa nih klien gua ini. Oh, oh, oh. Caranya gini tuh gini ya di negara ini. That's crazy. Kayaknya bisa deh buat itu whatever lah.

Tapi kayak kayak eh break away ya kan. Take time off, absorb new things. Itu bergudah banget sih. Old school. But it's proven.

Gimana dong? You know, eh rumor has it kalau Einstein itu pergi ke kantornya tiap hari pakai rutinya berbeda. Enggak pernah sama. Oh, that's interesting. Karena dia enggak mau boring ya.

It stimulate the mind. Interesting. Back to your point. I think itu salah satu metode yang boleh dicoba kali ya. Karena it triggers the brain, part of the brain karena beda kan.

Jadi itu jalan kayak robot. I jadi akan kayak harus nah di situ lu karena lu akan punya pengalaman baru. Experience different thing. Oh interesting. Mungkin gua punya satu terakhir ya.

Mungkin ini specifically buat di trust industry karena tadi lu bukan trust ya karena dia selling trust. Oke. Eh other than like know your customer. Karena itu kan basically eh work sebetulnya buat eh any brand menurut gua. He.

Egak ada marketer yang harusnya enggak kenal sama. Tapi eh specifically untuk e kita yang bergelut di eh jualan trust, ada ini enggak specific recommendations from you kayak you need to master this thing gitu. Karena eh di dunia finansial itu trust is number one menurut gu. Heeh. Ada hal yang maksudnya you better know this thing enggak.

Jangan sampai ini ya the most important for a marketer ya. mungkin mesti berani bersih-bersih ya. Maksud maksudnya gini kayak I mean sebenarnya ini enggak fintech only lah ya. Semua brand juga emm pasti pernah namanya sori [berdehem] kesandung, pernah buat kesalahan, oke you screw up kayak gitu-gitu kan. Ada brand yang cuma berhentinya di level kayak oh public statement minta maaf.

Right. Tapi kalau di dunia fintech kadang-kadang we have to give more ya. Ya, mungkin kita pernah ada kejadian di mana eh I can't remember ini satu atau du tahun yang lalu em tiba-tiba harga forex tuker rupiah USD itu funky. Oh, kayak gitu. And then people em bought at a very wrong price.

Jadi they got it kayak very very kayak very very low dan very very good. Dan eh when itu screw itu kayak semacam technical screw up lah ya. glitch karena memang ada partner dan lain-lain. Ee tapi CEO kita hebat banget. dia berani dia e waktu ada salah satu influencer yang bikin itu viral di TikTok, dia suruh gua contact itu influencer dan langsung malam itu juga ada terjadi kayak live interview dan dia di di konten itu dia bilang pokoknya anything yang em any cuan atau istilahnya any discrepancy yang orang udah ambil sudah nikmatin dari sini dia enggak akan clobek nice gitu jadi basically dia mengakui ini miss-nya unfortunately dari sisi gue it's fine, it's fine.

Jadi menurut gue kalau fintech tuh kayaknya ee memang ini gua again ya, gua enggak bisa generalisasi karena yang kayak gini-gini kan kadang-kadang kan ada birokrasi, management, mungkin mereka punya decision beda-beda. Tapi ee ini bukti nyata yang gua ngelihat sendiri bahwa ternyata kalau di fintech kadang-kadang memang harus seperti itu ya. I gitu. A brand yang walk the talk itu exist gitu ya memang. Heeh.

Memang kadangnya memang harus begitu karena itu memang statusnya cara untuk menenangkan masa ya memang kayak gitu gitu maksudnya. Dan itu untuk memadamkan jadi supaya enggak usah ee jadi ke mana-mana terlalu lama. Bukan hanya what's required but you need to go above and beyond lah. Right untuk make sure lu retain the trust man. Karena that's simple thing.

E enggak bakal tahu, Ben. R itu dan itu kejadian itu bukan karena tim internal kita, karena partner kita loh malah yang kebetulan maksudnya we are somehow kayak connected gitu kan. Itu kan berarti kan go beyond the mild-nya itu even kayak bukan kesalahan kita gitu, bukan kesalahan. Jadi itu menurut gua set the tone dan ini eh mungkin ini juga one of the things kenapa gua lumayan sama the fintech space and I've been in the fintech space. Karena momen-momen kayak gini tuh itu menurut gua maturing.

H he buat gua as professional juga as a as a marketer gitu. Itu gives me a different perspective of looking at things gitu loh. Oke. Wow. Tapi ini jadi curcol sedikit.

Salah satu kesulitan kita di dunia komunikasi memang ini kadang-kadang ada pasti instruction yang totally on the opposite menurut gue. Iya. I ini bilang apa kek biar ini aja iniin aja gitu. It happens also in the airlines industry lah. Ada beberapa airlines yang regulation-nya tuh sama mungkin like a glitch in the system.

Tiba-tiba harga bisnis-bisnis class tiket tuh jadi berapa gitu kan. Uh, ada airlines yang ya udah aja karena luck gitu kan. H kayak itu membekas kan? Itu membekas right tadi the retain customer trust itu back on how the the the CEO make decision. I ya karena when you in branding in communications lu kan portray the brand correct portray the corporations.

Jangan sampai ngomong lu sama tindakan tindakan lu beda. Beda. Lu bilang ini tapi melakukan itu. Right? Itu itu e very dan not a lot of companies get second chances ya.

Iya. Eh, tadi kita ngomongin apa yang lu cari, sekarang yang lu redf. Oh, kalau satu aja tiga. Satu kalau kecuali lu punya lima [tertawa] semuanya. Tapi ini kalau orang ini ini forget itu.

Itu langsung off my list. Drama Queen. Drama queen. Queen queen. Oke.

Buat gua kerja tuh enggak boleh baper. Yes. Ya. E, gua pernah punya bos orang Medan dan di depan meeting itu dia pernah ngatain gua moncong kambing. [tertawa] Rusuh banget.

Jadi, makanya gua merasa kayaknya generasi kita itu udah tertempa dengan ya itu kan zaman dulu enggak ada politically correct. Nah, kayak kayak sekarang ya, everything is politically correct lah. Harus busy, right? Gitu kan. Kalau ini nanti gua sakit hati, gua pundung, unhappy, [tertawa] enggak self actualize gitu.

There's no such thing, man. Zaman dulu kita tuh enggak ada itu maksudnya you just give the best that you can yang you as human can possibly generate gitu kan. Jadi buat gua drama queen itu kayak have no place in my team. Oke, gitu. Karena karena buat gua kayak kesusahan lu, kesusahan gua.

Misal contoh kayak ada yang tim gua yang bilang kayak misal nih kalau misalnya ada gitu ini gua roleplay misalnya junior junior tim gua bisa ngomong kayak ee iya tapi kan e lu kan cuma tugasnya presentasi doang kan yang ngerjain dirty work-nya gue tapi kan 10 tahun yang lalu gue itu el. [tertawa] Iya. Emang gua lagi 10 tahun yang lalu itu gua bilang sama bos gua kayak, "Well, you just did the presentation. I'm doing all the shit." Gue lemburlembur bikin itu. Enggak kan?

Karena setiap orang ada porsinya. Iya. As you go through the the career path, you lead. Ya, maksudnya mungkin mereka cuma ngelihatnya gua kerjaannya cuma presentasi atau jualan ide ke si level. Tapi kalau misalnya projectnya enggak berhasil, menurut lu siapa yang dichat di select duluan sama si Level atau sama co-founder gue?

He ya pasti gue, tapi kan gue filter biar gak kena ke mereka gitu. Jadi kan tiap orang punya bebannya masing-masing gitu. Nah, jadi kalau memang mental itu udah drama queen, dia kan spin everything as if like playing victim kan. Kalau drama queen itu kan biasa most of the time they play victim. And when they do that itu udah reflect by.

Tapi I mean nowadays like Yos mention dulu tuh memang there's no such thing as politically correct. Cuy gua meeting bukan gua sih ditimpuk tapi gua lihat teman gua ditimpuk literally [tertawa] literally pakai botol Aqua Aqua sih gak botol kaca but those thing happen gitu kayak stupid kayak what gua kayak oke bukan gua tapi it's still ya anyway eh Yos thank you banget udah datang was it ok did you have a good time I kenapa suara gua serak asik [tertawa] ngobrol disuh disuruh ngobrol terus dia lagi recovering ee kita senang banget lu bisa datang. I think the discussion [musik] was pretty fun ya kan in sense tuh in one way or another try to do the same thing lah. Gimana caranya ini dan gimana caranya itu tuh lumayan mirip-mirip. So it was super useful.

[musik] Jadi moga-moga berguna juga buat yang dengerin, yang nonton ya kan. E hopefully be honor kalau misalnya lu bisa datang lagi next time right? Kapan-kapan ke sini lagi kita ngobrol-ngobrol lagi some more bisa. E ya. Anyway geng kita e tepuk tangan sekali lagi dong buat jos.

Thank you everybody. Thank you. Thank you. [musik] [musik] [musik] [musik]

Go deeper — Concepts & Ideas