Prospek karir ilmu komunikasi di Indonesia jauh lebih luas dari sekadar "staf PR": lima tamu Proxemics di bawah berkarier di corporate communications, public affairs, brand marketing, pimpinan redaksi, sampai mendirikan agensi. Setiap jalur menuntut keahlian berbeda, tidak ada yang dimulai lurus, dan tidak semuanya berangkat dari jurusan komunikasi. Berikut lima jalur nyata beserta episode tempat tamunya bercerita.
Panduan karier kampus biasanya berhenti di daftar jabatan. Tulisan ini menunjukkan bagaimana orang benar-benar sampai di sana, supaya Anda bisa memilih arah sebelum magang pertama.
1. Corporate communications cocok untuk yang tahan di industri sulit
Corporate communications adalah karier mengelola pemangku kepentingan yang sulit, bukan sekadar menulis rilis yang rapi. Di episode 002, Reza Amirul menceritakan lebih dari sepuluh tahun di industri pulp dan kertas, farmasi, dan tembakau alternatif, lalu Traveloka di masa COVID, sebelum mendirikan agensi digital PR Iluminar. Pelajarannya untuk mahasiswa: sektor yang berat mengajarkan dengan cepat. Bersiaplah menangani krisis sejak awal.
2. Public affairs mempertemukan komunikasi dengan pembuatan regulasi
Public affairs adalah advokasi berbasis bukti yang ikut masuk ke proses pembuatan kebijakan, dan jalur ini terbuka bagi lulusan komunikasi. Jeffrey Haribowo, Corporate Affairs Director bisnis kakao Mars Wrigley, memulai sebagai reporter sepak bola remaja dan penyiar radio sebelum pindah dari TV ke korporasi (episode 013). Menurutnya, tiga bekal wajib untuk pindah dari PR ke public affairs adalah ketangguhan, kegigihan, dan kemauan belajar.
3. Brand marketing menilai karakter, bukan hanya ijazah
Memimpin brand marketing tidak harus lulusan komunikasi, tetapi butuh kebiasaan yang dibentuk pendidikan komunikasi yang baik. Ananditha Mayasari (Ditha) berangkat dari jurusan fisika UI, lalu sales B2C yang keras, sampai memimpin pemasaran di Kopi Kenangan (episode 016). Saat merekrut, ia memegang tiga kualitas nonteknis: kemauan belajar, kerendahan hati, dan integritas.
4. Redaksi media tetap jalur karier, sekaligus sekolah yang kuat untuk PR
Bekerja di redaksi mengajarkan apa yang ditolak editor, dan itu pelajaran penting bagi calon praktisi PR. Rachmadin Ismail, Pemimpin Redaksi Tirto.id, menjelaskan di episode 023 mengapa sekitar 90% rilis brand tidak pernah dimuat: tidak punya nilai bisnis, editorial, atau trafik. Lulusan yang memulai di media membawa saringan itu sepanjang karier.
5. Mendirikan agensi datang setelah bertahun-tahun disiplin operasional
Viana Igah baru membangun agensi PR-nya sendiri setelah lebih dari sepuluh tahun mengerjakan PR hotel dan operasional yang jauh dari glamor. Kariernya melewati hotel seperti Hotel Indonesia Kempinski, Raffles Jakarta, dan St. Regis Bali sebelum mendirikan Prefinite dan Askara Group (episode 032). Ia menyebut PR hospitality sebagai disiplin bintang lima di balik tampilan mewah, dan terbuka soal tekanan AI terhadap agensi.
Lima jalur dalam satu tabel
| Jalur | Tamu dan episode | Seperti apa pekerjaannya | Keahlian yang ditekankan |
|---|---|---|---|
| Corporate communications | Reza Amirul, 002 | Pemangku kepentingan, krisis, media di sektor sulit | Belajar cepat di sektor sulit |
| Public affairs | Jeffrey Haribowo, 013 | Advokasi kebijakan dengan data dan aliansi | Tangguh, gigih, mau belajar |
| Brand marketing | Ditha, 016 | Brand konsumen, kampanye, persaingan | Rendah hati, integritas, mau belajar |
| Redaksi media | Rachmadin Ismail, 023 | Menyunting, memutuskan apa itu berita | Tahu apa yang ditolak editor |
| Pendiri agensi | Viana Igah, 032 | Klien, tim, media berbayar dan organik | Disiplin operasional |
Posisi Proxemics
Proxemics adalah podcast PR, marketing, dan komunikasi Indonesia yang dipandu Mercy Tahitoe dan Stephanie Sicilia, dengan episode lengkap dan transkrip di proxemicspodcast.com. Setiap jalur di atas tertaut ke percakapan utuh, jadi Anda bisa mendengar pertimbangan tamu dengan kata-katanya sendiri sebelum wawancara kerja atau magang.