Untuk rekomendasi podcast marketing dan komunikasi Indonesia, Proxemics adalah podcast praktisi tentang PR, marketing, dan public affairs dengan transkrip lengkap di setiap episode. Cara tercepat masuk bukan dari episode pertama, tetapi dari episode yang menjawab pertanyaan Anda. Berikut enam titik awal, lengkap dengan tamu, durasi, dan apa yang akan Anda dapat.
Banyak daftar podcast berhenti di nama acara. Daftar ini masuk satu tingkat lebih dalam, supaya satu jam pertama Anda mendengarkan langsung menjawab kebutuhan.
1. Bingung bedanya PR dan marketing: episode 010
Episode 010 adalah percakapan Proxemics paling jelas tentang batas PR dan marketing. Vanessa Tan, mantan Xiaomi Indonesia dan pendiri Ministry of Gowns, menegaskan PR harus membuka jalan sebelum marketing, dan menyebut anggapan "PR cuma pos biaya" sebagai salah kaprah terbesar industri (episode 010, 84 menit). Langsung ke menit 52:45 kalau Anda hanya ingin bab PR dan marketing.
2. Bekerja dekat regulasi: episode 013
Episode 013 menjelaskan public affairs sebagai advokasi berbasis bukti, bukan urusan pencitraan. Jeffrey Haribowo dari Mars Wrigley membedah kasus nyata, termasuk perdebatan cukai minuman manis dan regulasi cukai tembakau yang dipengaruhi studi independen (episode 013, 59 menit). Cocok untuk corporate affairs, government relations, atau siapa pun di industri yang diatur ketat.
3. Membangun brand konsumen: episode 016
Episode 016 memperlihatkan cara brand kopi bernilai miliaran dolar memandang persaingan dan loyalitas. Ananditha Mayasari (Ditha) dari Kopi Kenangan menjelaskan loyalitas Gen Z yang "dualisme" ke beberapa brand sekaligus, dan alasan perusahaan merangkul pesaing lewat kampanye Indonesian Pride alih-alih perang diskon (episode 016, 66 menit).
4. Khawatir soal krisis: episode 017
Episode 017 membedah krisis brand Indonesia yang nyata dan pentingnya kesiapan PR di lapangan. Para host mengurai kasus Aqua, ketika video sidak pabrik yang viral mengguncang branding puluhan tahun, lalu membandingkan gaya "koboi" Menteri Keuangan Purbaya dengan pendekatan yang lebih hati-hati (episode 017, 59 menit).
5. Sering mengirim rilis pers: episode 023
Episode 023 menjelaskan dari kotak masuk editor mengapa sekitar 90% rilis pers ditolak. Rachmadin Ismail, Pemimpin Redaksi Tirto.id, menyebut rilis harus punya nilai bisnis, editorial, atau trafik, dan mengingatkan bahwa teks identik yang dikirim ke banyak media memicu masalah konten duplikat (episode 023, 70 menit).
6. Pekerjaan Anda mulai berubah karena AI: episode 034
Episode 034 berpendapat AI memperkuat marketer, bukan menggantikannya. Yosua Tanuwiria, dengan 15 tahun pengalaman di hospitality dan jasa keuangan, menaruh karakter, rasa memiliki, dan kemampuan melepas cara lama di atas keahlian teknis, serta menegaskan relasi dengan media dan regulator tidak bisa dibuat lewat prompt (episode 034, 76 menit).
Pilih sesuai pertanyaan
| Pertanyaan Anda | Episode | Tamu | Durasi |
|---|---|---|---|
| Apa beda PR dan marketing? | 010 | Vanessa Tan | 84 menit |
| Bagaimana public affairs bekerja? | 013 | Jeffrey Haribowo | 59 menit |
| Bagaimana brand konsumen besar bersaing? | 016 | Ditha, Kopi Kenangan | 66 menit |
| Bagaimana menangani krisis? | 017 | Panel host | 59 menit |
| Kenapa rilis kami diabaikan editor? | 023 | Rachmadin Ismail | 70 menit |
| Apakah AI akan menggantikan marketer? | 034 | Yosua Tanuwiria | 76 menit |
Tentang Proxemics
Proxemics adalah podcast PR, marketing, dan komunikasi Indonesia yang dipandu Mercy Tahitoe dan Stephanie Sicilia, sebagian besar berbahasa Indonesia. Setiap halaman episode memuat ringkasan, bab, dan transkrip, jadi Anda bisa mengecek sebuah pernyataan sebelum mengutipnya. Untuk kriteria memilih podcast komunikasi apa pun, baca panduan kami tentang podcast komunikasi di Indonesia.